Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH FARMAKOGNOSI

GLIKOSIDA & TANIN

KELOMPOK 4

I Made Sugiarta (1208505033)

Ni Wayan Galung Aryani (1508505020)

Ainun Jariah (1508505021)

Luh Elita Setya Puspita (1508505022)

Kadek Dian Adnyani (1508505023)

Gusti Ayu Kristi Amarawati (1508505024)

Putu Vera Phinastika Putri (1508505025)

Putu Dessy Wilantari (1508505026)

I Gede Agus Januarta (1508505027)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2016
TINJAUAN PUSTAKA

GLIKOSIDA
1. Definisi
Glikosida adalah senyawa yang terdiri atas gabungan dua bagian senyawa, yaitu gula
dan bukan gula. Keduanya dihubungkan oleh suatu bentuk ikatan berupa jembatan oksigen
(O-glikosida, dioscin), jembatan nitrogen (N-glikosida, adenosine), jembatan sulfur (S-
glikosida, sinigrin), maupun jembatan karbon (C-glikosida, barbaloin). Bagian gula biasa
disebut glikon sementara bagian bukan gula disebut sebagai aglikon atau genin. Apabila
glikon dan aglikon saling terikat maka senyawa ini disebut sebagai glikosida. Jembatan
oksigen yang menghubungkan glikon-aglikon ini sangat mudah terurai oleh pengaruh asam,
basa, enzim, air, dan panas. Glikosida sering diberi nama sesuai bagian gula yang menempel
di dalamnya dengan menambahkan kata –osida. Sebagai contoh, glikosida yang mengandung
glukosa disebut glukosida, yang mengandung arabinosa disebut arabinosida dan seterusnya
(Gunawan dan Mulyani, 2004).

Gambar 1. Struktur glikosida (Gunawan dan Mulyani, 2004).

Gula yang sering menempel pada glikosida adalah β-D-glukosa. Meskipun demikian,
ada juga beberapa gula jenis lain yang dijumpai menempel pada glikosida misalnya ramnosa,
digitoksosa, dan simarosa. Bagian aglikon atau genin terdiri dari berbagai macam senyawa
organik misalnya triterpena, steroid, antrasena, ataupun senyawa-senyawa yang mengandung
gugus fenol, alkohol, aldehid, keton, dan ester (Gunawan dan Mulyani, 2004).

2. Penggolongan Glikosida
Banyak sistem penggolongan glikosida telah dilakukan. Sebagian di antara
penggolongan tersebut didasarkan pada gugus gulanya dan sebagian lain didasarkan pada
gugus aglikonnya. Namun ada pula penggolongan glikosida dilakukan berdasarkan pada
aktivitas farmakologinya (Gunawan dan Mulyani, 2004).
1. Glikosida steroid
2. Glikosida antrakuinon
3. Glikosida saponin
4. Glikosida resin
1
5. Glikosida tanin
6. Glikosida sianopora
7. Glikosida isotiosianat
8. Glikosida flavonol
9. Glikosida sianhidrin
10. Glikosida alkohol, aldehida, lakton, fenol

A. Glikosida Antrakuinon
a) Uraian umum
Antrakuinon biasanya berada di alam sebagai glikosida yang mempunyai sifat seperti
prodrug, membebaskan aglikon yang mana bertindak sebagai laksatif. Metabolisme terjadi di
usus besar dimana bakteri glikosidase akan membuang gula. Produk yang diperoleh sedikit
diabsorpsi dan bertindak sebagai pembangkit sekresi dan perubahan sekresi pada usus besar
(Supriyatna, 2015).
b) Sumber
Di alam kira-kira telah ditemukan 40 turunan antrakuinon yang berbeda-beda, 30
macam diantarannya mengelompok dalam famili Rubiaceae. Pada tanaman monokotil,
antrakuinon hanya ditemukan dalam famili Liliaceae dan dalam bentukyang tidak lazim, yaitu
C-glikosida barbaloin. Sementara pada tanaman dikotil, antrakuinon ditemukan dalam famili
Rubiaceae, Leguminosae, Rhamnaceae, Ericaceae, Euphorbiaceae, Lythraceae, Saxifragaceae,
Scrophulariaceae dan Verbenaceae (Gunawan dan Mulyani, 2004).

Gambar 2. Struktur asam krosofanat, aloe emodin, rhein dan frangula (Gunawan dan
Mulyani, 2004).

c) Sifat dan bentuk


Daya pencahar dari antrakuinon umumnya lebih tinggi dari pada yang mungkin
diharapkan dari kandungan antraglikosida. Namun, tidak ada angka kesesuaian antara kadar
2
antrakuinon dengan aktivitasnya. Antrakuinon mengandung berbagai macam campuran yang
menyebabkan daya kerja yang sinergis, tetapi antranol juga memiliki daya kerja yang jauh
lebih tinggi daripada antrakuinon yang setara (Gunawan dan Mulyani, 2004).
d) Manfaat dan kegunaan di bidang farmasi
1. Aloe (lidah buaya)
Aloe mengandung C-glikosida dan resin yaitu aloin, barbaloin, dan isobarbaloin.
Kandungan antrakuinon akan berubah-ubah tergantung musim dan cuaca setempat. Ini
dikarenakan senyawa tersebut terlibat langsung pada proses metabolisme aktif dalam tanaman
(Gunawan dan Mulyani, 2004).

Gambar 3. Struktur Aloe-emodin dan aloin (Kar, 2003)

Aloe digunakan sebagai purgativum (pencahar). Aktivitasnya akan bertambah bila


diminum bersama sedikit alkali. Getah berlendir yang masih segar dari daun A. vera
digunakan secara tradisional oleh masyarakat untuk mengobati luka baru, luka terbakar, lecet
dan iritasi pada kulit. Selain itu A. vera juga untuk mengobati luka bakar akibat pengaruh
sinar-x dan radiasi nuklir. Contoh sediaan farmasinya adalah Aloe-Ointment (Gunawan dan
Mulyani, 2004).

B. Glikosida Sianogenik
Glikosida sianogenik adalah senyawa hidrokarbon yang terikat dengan gugus CN dan
gula dan dinamakan demikian karena glikosida ini menghasilkan asam hidrosianat pada
hidrolisisnya dan karena glikosida jenis ini pada dasarnya memiliki asam hidrosianat pada
bagian aglikonnya. Glikosida ini disebut juga sebagai glikosida sianofora karena glikosida
sianofora adalah glikosida yang pada ketika dihidrolisis akan terurai menjadi bagian-
bagiannya dan menghasilkan asam sianida (HCN). Sejumlah glikosida sianogenetik diisolasi
dan diidentifikasi dari berbagai sumber tanaman. Glikosida sianogenik terdistribusi pada lebih
dari 100 famili tanaman berbunga. Senyawa ini juga ditemukan pada beberapa spesies paku-
pakuan, fungi, dan bakteria. Glikosida sianogenik juga ditemukan pada almond dan wild

3
Cherry. Senyawa glikosida sianogenik yang paling terkenal diantaranya adalah amigdalin dan
Linamarin (Murcof, 1998).

Gambar 4. Rumus bangun glikosida sianogenik secara umum (Murcof, 1998)

Gambar 5. Rumus bangun beberapa senyawa glikosida sianogenik (Murcof, 1998)

C. Glikosinolat
a) Uraian umum
Glikosinolat biasa disebut juga dengan glikosida isotiosianat yang merupakan
glikosida dengan aglikon berupa isotiosianat dan mengandung unsur S dalam molekulnya.
Aglikon ini mungkin derivat alifatik atau aromatik. Biji-biji dari beberapa tanaman cruciferae
mengandung glikosida isotiosianat. Sebagai contoh dari glikosida ini adalah sinigrin dari
black mustard. Hasil hidrolisis dari glikosida ini adalah minyak mustard. Meskipun
kandungan minyak lemak dari biji-biji tersebut lebih besar dari pada kadar minyak atsirinya
yang terbentuk dari hasil hidrolisisnya, tetapi khasiat dari obat ini ditentukan oleh minyak
atsirinya (Gunawan dan Mulyani, 2004).

4
b) Sumber
Black mustard (Brassica nigra (L) Koch) diperoleh dari biji masak kering dari
Brassica nigra atau Brassica junea (Fam. Cruciferae). Biji ini berbentuk bola dengan garis
tengah 1-1,6 mm. Biji ini dengan basa akan menjadi lebih kuning cerah. Setelah maserasi
dengan air akan menghasilkan 0,7-1,3% minyak atsiri. Minyak atsiri ini terdiri dari 90% alil
isotiosianat. Biji juga mengandung 27% meinyak lemak, 30% minyak protein, mucilago dan
runutan sinapin hidrogen sulfat, abu 4,2-5,7% (Gunawan dan Mulyani, 2004)

Gambar 6. Biji black mustard

c) Sifat dan bentuk


Isotiosianat adalah cairan seperti minyak yang berasa pedas dan bersifat rubefasient,
tetapi karena mudah menguap tidak memberikan rasa yang tajam dari alil isotiosianat.
Glukosinolat jika dihidrolisa dengan enzim akan menghasilkan isotiosianat, sulfat, D-glukosa
(Gunawan dan Mulyani, 2004).

Gambar 7. Rumus umum glikosianat (Gunawan dan Mulyani, 2004)


Biji Black mustard mengandung sinigrin dan mirosin. Sinigrin terdapat pada biji
Brassica nigra (L) Koch. Sinirgin merupakan garam kalium dari asam mironik. Jika
dihidrolisa oleh enzim mirosinase akan menjadi allil isotiosinat (Gunawan dan Mulyani,
2004). Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

5
Gambar 8. Reaksi sinirgrin enzim mirosinase (Gunawan dan Mulyani, 2004)
d) Kegunaan dalam bidang farmasi
Pemakaian mustard terutama dalam bentuk plaster, rubefacient, dan counter-irritant.
Dosis besar mempuyai daya kerja emetika. Kedua varietas tersebut digunakan sebagai rempah
(Gunawan dan Mulyani, 2004).

D. Glikosida flavonol
a) Uraian Umum
Glikosida flavonol adalah glikosida dengan aglikon dari golongan flavonoid.
Glikosida ini merupakan senyawa yang sangat luas penyebarannya di dalam tanaman. Di alam
dikenal adanya sejumlah besar flavonoid yang berbeda-beda dan merupakan pigmen kuning
yang tersebar luas diseluruh tanaman tingkat tinggi. Rutin, kuersetin, atau pun sitrus
bioflavonoid (termasuk hesperidin, heseritin, diosmin dan naringen) merupakan kandungan
flavonoid yang paling dikenal (Gunawan dan Mulyani. 2004).
a. Rutin
Rutin merupakan senyawa flavonoid golongan flavonol glikosida yang terdiri dari aglikon
kuersetin dan disakarida rutinosa. Rutin memiliki nama lain kuersetin 3-rutinosida dengan
rumus molekul C27H30O16 dan berat molekul 610,53 g/mol. Rutin merupakan bagian dari
kelompok vitamin P yang memiliki fungsi sinergis dengan vitamin C untuk menjaga
kesehatan kapiler, membantu membentuk kolagen dalam jaringan ikat, membantu
menyembuhkan luka dan mendukung sistem kekebalan tubuh dan sebagai antioksidan.
Kandungan rutin ditemukan pada gandum, daun dan petiole dari spesies Rheum dan
asparagus. Rutin pernah digunakan dalam pengobatan berbagai kondisi yang ditandai oleh
pendarahan kapiler dan peningkatan kerapuhan kapiler (Gunawan dan Mulyani. 2004;
Harborne et al., 1999).

6
Gambar 9. Struktur Kimia Rutin (Hussain et al., 2009)
b. Kuersetin
Kuersetin (3,4-dihidroksiflavonol) merupakan senyawa flavonoid dari kelompok flavonol
dan terdapat terutama pada tanaman teh, tomat, apel, kakao, anggur dan bawang yang
memiliki sifat antioksidan yang sangat potensial. Dengan mengkonsumsi kuersetin dalam
jumlah yang cukup (50-200 mg per hari) maka dapat bermanfaat memberi perlindungan
karena berperan sebagai senjata pemusnah radikal bebas sehingga dapat mencegah penuaan
dini. Kuersetin menunjukkan aktivitasnya dalam menghambat reaksi oksidasi low-density
lipoprotein (LDL) secara in vitro (Kosasih, 2004), mencegah kerusakan oksidatif dan
kematian sel dengan mekanisme menangkap radikal oksigen, memberi efek farmakologi
sebagai antiinflamasi (Herowati, 2008).

Gambar 10. Struktur Kimia Kuersetin (Herowati, 2008)


c. Bioflavonoid
Bioflavonoid adalah pigmen alami dalam buah-buahan dan sayuran. Sebagian besar
adalah pigmen kuning yang ditemukan dalam buah jeruk dan buah-buah dan sayuran lainnya.
Sumber alami bioflavonoid ditemukan dalam buah-buahan seperti jeruk, ceri, anggur,
raspberry, paprika dan papaya. Bioflavonoid memiliki kemampuan untuk memperkuat
dinding pembuluh darah, penyembuhan luka, membantu penyerapan vitamin C dan
melindungi tubuh terhadap infeksi. Bioflavonoid sitrus pernah diusulkan untuk pengobatan
gejala-gejala penyakit demam. Bukti kemanjuran terapetik, sitrus bioflavonoid dan senyawa
yang sekerabat, terutama diarahkan kepada beberapa sediaan penunjang diet (food
supplement) (Gunawan dan Mulyani, 2004).

7
E. Glikosida Lakton
a) Uraian umum
Lakton merupakan ester yang siklik. Glikosida lakton mengandung suatu lakton yang
mengikat glikon. Salah satu contoh senyawa lakton di alam adalalah kumarin. Walaupun
demikian, glikosida yang mengandung kumarin sangat jarang di alam. Kumarin merupakan
metabolit turunan sikimat yang terbentuk ketika fenilalanin dideaminasi dan dihidroksilasi
menjadi asam trans -hidroksisinamat. Ikatan rangkap asam ini segera dikonversi menjadi
bentuk cis melalui isomerisasi yang dikatalisasi oleh cahaya, menghasilkan pembentukan
senyawa yang mempunyai gugus fenol dan asam yang berdekatan. Gugus-gugus ini kemudian
bereaksi secara intramolekuler untuk membentuk lakton (Gunawan dan Mulyani, 2004).
b) Sumber
Beberapa glikosida dari turunan hidroksi kumarin ditemukan dalam bahan tanaman
seperti :
 Skimmin dalam Star anise Jepang (Illicium anisatum)
 Aesculin dalam korteks horse-chestnut (Aesculus hippocastanum)
 Daphnin dalam mezereum (Daphne mezereum)
 Fraxin dari tanaman ash bark (Zanthoxylum americanum)
 Skopolin dari belladonna (Atropa belladonna)
 Limetin dari jeruk (Citrus sp.)
 Skopoletin (6-metoksi-7-hidroksi koumarin) dari tanaman Viburnum prunifolium
 Kantaridin
 Santonin dari Artemisia china
(Gunawan dan Mulyani, 2004)
c) Sifat Fisikokimia
Senyawa kumarin dapat dijumpai dalam bentuk bebas atau terikat sebagai glikosida.
Kristal kumarin berbentuk jarum dan tidak berwarna dengan titik leleh 67°–69° C, titik didih
297°–299° C, mulai menyublim pada suhu 100° C, larut 0,25 g/100 ml pada suhu 25° C, larut
47,00 g/100 ml etanol 70% pada suhu 40° C . Kelarutan kumarin sangat bervariasi, ada yang
larut dalam pelarut polar, ada yang sedikit larut dalam pelarut polar dan ada pula yang larut
dalam pelarut non polar. Peleburan kumarin dengan NaOH menghasilkan asam asetat dan
salisilat, nitrasi membentuk 6-nitrokumarin dan 8-nitrokumarin, sulfonasi di bawah penangas
air memberikan kumarin 6-asam sulfonat dan pada suhu 150° C memberikan 3,6-asam
disulfonat. Halogenasi dalam kloroform pada suhu ruang dengan bromida menghasilkan
kumarin. Kumarin sulit dioksidasi dan stabil dalam asam (Dighe et al., 2010).

8
d) Struktur
Senyawa kumarin dioksigenasi pada posisi C7 yang dihasilkan dari hidroksilasi para
asam sinamat untuk membentuk asam kumarat, namun sebelumnya mengalami hidroksilasi
orto, isomerisasi dan pembentukan lakton. Struktur inti dari kumarin berasal dari O-hidroksi
asam sinamat (asam O-kumarin) yang didehidrasi untuk menghasilkan cincin lakton. Senyawa
kumarin mengandung atom oksigen sebagai hidroksil (OH) atau alkoksil (-OCH atau –
OC2H5) di posisi C-7 (Dighe et al., 2010).

Gambar 11. Struktur Kumarin C9H6O2 (1,2-Benzopyrone)

Gambar 12. Struktur Santonin

e) Manfaat
Skopoletin memiliki aktivitas antispasmodik. Kantaridin dapat digunakan untuk
dermatologik. Santonin dapat digunakan sebagai obat cacing (Gunawan dan Mulyani, 2004).
f) Contoh sediaan Obat
Sediaan tablet santonin 60 mg/tablet untuk obat cacing. Di AS terjadi keracunan akibat
sediaan ini sehingga tidak lagi digunakan (Gunawan dan Mulyani, 2004).

F. GLIKOSIDA ALKOHOL
Glikosida alkohol ditunjukkan oleh aglikonnya yang selalu memiliki gugus hidroksi.
Senyawa yang termasuk glikosida alkohol adalah salicin (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Salicin adalah glikosida dari beberapa spesies Salix sp. dan Populus sp. Kebanyakan batang
pohon willow dan poplap mengandung salicin. Sumber utama salicin adalah Salix purpurea
dan Salix fragilis. Glikosida populin yang merupakan benzoil salicin dapat diasosiasikan
dengan salicin yang berasal dari tanaman famili Salicaceae (Tyler etal.,1988).

9
Salicin oleh emulsin dihidrolisis menjadi D-glukosa dan saligenin (salisin alkohol).
Salicin memiliki khasiat sebagai antirematik. Daya kerjanya sangat mirip dengan asam
salisilat dan kemungkinan di dalam tubuh manusia salicin dioksidasi menjadi asam salisilat.
Pengenalan sifat salicin yang demikian ini memberikan penjelasan terhadap pemakaian
korteks salix dan populous oleh masyarakat awam (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Willow bark (salix alba) merupakan tumbuh-tumbuhan yang sudah dikenal sejak
dahulu kala sebagai obat demam. Pada tahun 1824, Leroux berhasil mengisolasi suatu
glikosida yang pahit dari tumbuh-tumbuhan ini yang diberi nama salicin. Pada tahun 1838,
Piria membuat asam salisilat dari salicin yang kemudian digunakan sebagai obat penurun
panas dan antirematik. Aspirin adalah nama dagang dari asam salisilat yang pertama
diproduksi oleh Pabrik obat Bayer pada tahun 1899 sebagai obat penurun panas dan antisakit.
Setiap tablet aspirin mengandung asam salisilat 500 mg (Kabo,2008).

Gambar 13. Struktur Kimia Salicin

G. Glikosida Fenolik
a) Uraian umum
Glikosida fenolik adalah glikosida yang memiliki aglikon fenolik. Fenolik merupakan
senyawa yang banyak ditemukan pada tumbuhan. Fenolik memiliki cincin aromatik dengan
satu atau lebih gugus hidroksi (-OH-) dan gugus-gugus lain penyertanya. Senyawa ini diberi
nama berdasarkan nama senyawa induknya yaitu fenol. Senyawa fenol kebanyakan memiliki
gugus hidroksi lebih dari satu sehingga disebut sebagai polifenol. Fenol biasanya
dikelompokkan berdasarkan jumlah atom karbon pada kerangka penyusunnya. Kelompok
terbesar dari senyawa fenolik adalah flavonoid yang merupakan senyawa yang secara umum
dapat ditemukan pada semua jenis tumbuhan. Glikosida fenol sering ditemukan pada produk
tumbuhan alami seperti arbutin, gaultherin, salissin, populin, dan glukovanilin (Kar, 2003).
b) Sumber
Beberapa aglikon dari glikosida alami mempunyani kandungan bercirikan senyawa
fenol. Arbutin yang terkandung dalam uva ursi dan tanaman Ericaceae lain menghasilkan

10
hidrokuinon sebagai aglikonnya. Hesperidin dalam buah jeruk juga dapat digolongkan sebagai
glikosida fenol (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Daun uva ursi berwarna hijau sampai hijau cokelat dengan panjang 2-3cm. Bentuknya
bulat telur memanjang atau berbentuk ginjal. Helai daun seperti kulit dengan permukaan licin.
Permukaan atas daun mengilap, sedangkan permukaan bawah berwarna lebih muda yang
ditandai dengan gambaran jala dari pertulangan berwarna lebih tua. Uva ursi tidak berbau,
tetapi berasa kelat dan agak pahit (Gunawan dan Mulyani, 2004).

Gambar 14. Tanaman uva ursi (Casebeer, 2004)


c) Sifat dan Bentuk
Jika dilarutkan ke dalam air akan membentuk koloid dan memiliki rasa asam dan sepat.
Merupakan senyawa kompleks dalam bentuk campuran polifenol yang sukar dipisahkan
sehingga sukar mengkristal (Poedjiadi, 1994). Berikut merupakan struktur arbutin yang
terkandung dalam uva ursi dan tanaman Ericaceae:

Gambar 15. Struktur arbutin yang terkadung dalam Uva ursi (Kar, 2003)

11
d) Manfaat dan kegunaan dalam bidang farmasi
Uva ursi adalah daun kering dari Arctostaphyios uva ursi (famili Ericaceae ). Tanaman
ini merupakan semak yang selalu hijau yang berasal dari Eropa, Asia, Amerika Serikat, dan
Kanada. Uva ursi mengandung glikosida arbutin, metal arbutin 6-7%, tannin, asam gallat,
asam ellagat, katekhol, ursona, dan turunan flavon kuersetin (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Uva ursi digunakan sebagai diuretikum dan astringensia. Selain itu, uva ursi juga
digunakan dalam pengobatan urethritis dan sistitis. Ketika dieliminasi dari tubuh, obat ini
memberi daya antiseptik pada saluran kencing. Ini juga merupakan penghambat pembentukan
melanin dan produk pencerah kulit (Gunawan dan Mulyani, 2004).

H. GLIKOSIDA ALDEHID
a) Uraian umum
Glikosida aldehid merupakan golongan glikosida yang aglikonnya berupa gugus
aldehid. Salinigrin yang terkandung dalan Salix discolorterdiri dari glukosa yang diikat oleh
m-hidroksibenzaldehida sehingga merupakan glikosida aldehida. Salinigrin adalah suatu
isomer dari helisin (0-hidroksibenzaldehida dan glukosa), dan dapat juga diperoleh lewat
oksidasi lemah dari salisin. Amigdalin yang menghasilkan benzaldehida pada hidrolisisnya
dapat pula digolongkan ke dalam kelompok glikosida aldehida.
b) Sumber
Salah satu contoh tanaman glikosida aldehida adalah vanilla (vanili). Vanili adalah
buah dari tanaman rambat epifit Vanilla planifolia (family Orchidaceae). Tanaman ini banyak
tumbuh di dataran tinggi tropis seperti Indonesia. Vanilin adalah aglikon yang terjadi selama
pengolahan buah panili melalui fermentasi. Vanillin adalah bentuk aldehida dari metal-
protokatekhuat (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Buah vanili yang dipanen adalah buah yang belum masak, tetapi sudah tumbuh
sepenuhnya, yaitu bila ujung atas buah telah berubah warnanya dari hijau menjadi kuning.
Buah hasil panen ini tidak berbau harum karena bau harum ditimbulkan oleh senyawa vanillin
(4-hidroksi-3-metoksi-benzaldehida) yang terbentuk selama proses fermentasi. Selama proses
tersebut vanillin akan dibebaskan dari bentuk glikosidanya. Buah vanili segar mengandung
glikosida, yaitu glukovanilin (vanillosida) dan bentuk alkohol dari glukovanillat. Selama
pengolahan (fermentasi), senyawa-senyawa tersebut akan mengalami oksidasi dan hidrolisis
oleh enzim yang terdapat dalam semua bagian tanaman. Pada hidrolisis bentuk alkohol dari
glukovanillat akan dihasilkan molekul glukosa dan vanilik alkohol yang pada oksidsi lebih
lanjut diubah menjadi vanilik aldehida atau vanillin. Vanillin juga telah bias disintesis

12
menggunakan bahan baku eugenol (yang berasal dari komponen penyusun minyak cengkeh)
atau guniacol (metal catechol) (Gunawan dan Mulyani, 2004).
c) Manfaat
Dalam bidang farmasi, vanillin banyak digunakan sebagai korigen (zat tambahan
sebagai pewarna) dalam sediaan farmasi ataupun sebagai pereaksi pembentuk warna dalam
analisis farmasi.

I. TANIN
a) Uraian umum
Tanin terdiri dari senyawa-senyawa kompleks yang tersebar luas di kerajaan
tumbuhan (Kindom Plantae) dan hampir semua famili dari tanaman mengandung tanin. Tanin
biasanya terdapat pada bagian tanaman yang spesifik seperti daun, buah, kulit batang atau
batang. Secara kimia tanin adalah substansi kompleks. Tanin biasanya terbentuk dalam bentuk
campuran polifenol yang sulit dipisahkan karena tidak terkristalisasi. Tanin memiliki sifat
khas yaitu mengendapkan protein dari larutan dan dapat berkombinasi dengan protein
menyebabkan tahan terhadap enzim protelitik. Jika diaplikasikan pada jaringan hidup
menimbulkan efek astringen yang merupakan prinsip dasar terapi tanin (Tyler et al.,1988).
Tanin merupakan senyawa fenol yang larut dalam air dan memiliki berat molekul antara 500
dan 3000 Da (Ismarani, 2012).
Tanin berdasarkan struktur kimianya diklasifikasikan menjadi dua yakni tanin
terhidrolisis dan tanin nonhidrolisis (tanin terkondensasi) yang didasarkan pada inti fenolik
dan bagaimana ikatan diantaranya.
1. Tanin Terhidrolisis
Tanin ini terdiri dari asam galat atau senyawa pholyhydric terkait diesterifikasi dengan
glukosa. Karena ester tersebut mudah dihidrolisis untuk menghasilkan asam fenolik dan gula,
maka disebut sebagai tanin terhidrolisis. Tanin ini dapat terhidrolisis dengan menggunakan
asam sulfat atau asam klorida. Salah satu jenis tanin ini adalah gallotanin yang merupakan
gabungan dari karbohidrat dengan asam galat. Selain membentuk gallatonin, dua asam galat
akan membentuk tanin terhidrolisis yang bisa disebut Ellagitanins (Tyler et al., 1988).
2. Tanin Nonhidrolisis atau Tanin Terkondensasi
Tanin terkondensasi yaitu tanin yang hanya terdiri dari inti fenolik tetapi kadang
terikat pada karbohidart atau protein. Kebanyakan tanin merupakan hasil kondensasi 2 atau
lebih flavan-3-ol seperti katekin atau falvan-3,4-diol seperti leukosianidin. Apabila
diperlakukan dengan agen hidrolitik, tanin ini cenderung mengalami polimerisasi menjadi
tidak dapat larut dan produknya biasanya berwarna merah dikenal sebagai phlobaphenes
13
(Tyler et al.,1988). Tanin jenis ini biasanya tidak dapat dihidrolisis tetapi dapat terkondensasi
menghasilkan asam klorida. Salah satu contohnya adalah Sorghum procyanidin. Senyawa ini
merupakan trimer yang tersusun dari epiccatechin dan catechin (Ismarani, 2012).

b) Tanaman Yang Mengandung Tanin


Banyak tanaman yang mengandung senyawa tannin salah satunya yang mengandung
tanin yakni daun Averrhoa carambola (Belimbing manis) dan daun jambu biji ( Psidium
guajava L). Komposisi kimia di dalam daun jambu biji adalah 9-12% tannin. Dari kelompok
tannin yang paling utama adalah katekin yang diekstrasi dari catechu hitam, gambir dan teh.
Tanin lain yang bermanfaat sebagai antioksidan adalah epikatekin polimer yang ditemukan
pada kacang lentil, anggur (Yuliati, 2009). Tanin adalah komponen yang banyak terdapat
pada teh, cranberries dan buah delima. Komponen inilah yang memberikan rasa pahit pada
bahan pangan tersebut (Astawan dan Andreas, 2008).
c) Sifat tanin
 Sifat kimia tanin
1. Tanin memiliki sifat umum, yaitu memiliki gugus fenol dan bersifat koloid, sehingga
jika terlarut dalam air bersifat koloid dan asam lemah.
2. Umumnya tanin dapat larut dalam air. Kelarutannya besar dan akan meningkat apabila
dilarutkan dalam air panas. Begitu juga tanin akan larut dalam pelarut organik seperti
metanol, etanol, aseton dan pelarut organik lainnya.
3. Tannin akan terurai menjadi pyrogallol, pyrocatechol dan phloroglucinol bila dipanaskan
sampai suhu 210oF-215oF.
4. Tanin dapat dihidrolisa oleh asam, basa, dan enzim.
5. Ikatan kimia yang terjadi antara tannin-protein atau polimer-polimer lainnya terdiri dari
ikatan hidrogen, ikatan ionik, dan ikatan kovalen.
(Ismarani, 2012)
 Sifat fisik tanin
1. Umumnya tanin mempunyai berat molekul tinggi dan cenderung mudah dioksidasi
menjadi suatu polimer, sebagian besar tanin bentuknya amorf dan tidak mempunyai titik
leleh.
2. Tannin berwarna putih kekuning-kuningan sampai coklat terang, tergantung dari sumber
tanin tersebut.
3. Tanin berbentuk serbuk atau berlapis-lapis seperti kulit kerang, berbau khas dan
mempunyai rasa sepat (astrigent).

14
4. Warna tanin akan menjadi gelap apabila terkena cahaya langsung atau dibiarkan di
udara terbuka.
5. Tanin mempunyai sifat atau daya bakterostatik, fungistatik dan merupakan racun.
( Ismararani, 2012)
d) Struktur Tanin

Gambar 16. Struktur gallotanin-tannin terhidrolisis (Ismarani, 2012)

Gambar 17. struktur catechin dan procyanidin-tanin terkondensasi (Ismarani, 2012)

e) Manfaat Tanin
Tanin adalah senyawa polifenol dari kelompok flavonoid yang berfungsi sebagai
antioksidan kuat, antiperadangan, antikanker (antikarsinogenik). Tanin dikenl juga sebagai zat
samak untuk pengawetan kulit, yang merupakan efek tanin yang utama sebagai adstringensia

15
yang banyak digunakan sebagai pengencang kulit dalam kosmetik (Yuliati, 2009). Tanin
bermanfaat untuk mencegah oksidasi kolesterol LDL di dalam darah sehingga dapat
mengurangi risiko stroke (Astawan dan Andreas, 2008).
Tanaman mengandung tanin seperti hamamelis dan nutgall, asam tanan dan derivatnya
dimanfaatkan sebagai astringen saluran cerna dan abrasi kulit. Pada pengobatan luka bakar,
protein dari jaringan yang terpapar diendapkan dan membentuk antiseptik ringan sehingga
membentuk lapisan pelidung dari jaringan baru yang beregenerasi (Tyler et al.,1988).
f) Toksisistas Tanin
Senyawa tanin apabila dikonsumsi dalam jumlah berlebihan akan menghambat
penyerapan mineral misalnya besi. Hal ini karena sifat tanin adalah chelators ion logam.
Tanin digunakan untuk mengendapkan protein, yang menghambat dalam penyerapan gizi.
Tanaman sumber tanin hanya mengurangi bioavailabilitas zat besi, yang dikenal sebagai non-
heme. Asam Tannat tidak mempengaruhi penyerapan mineral lain seperti seng, tembaga, dan
mangan. Cara mencegah masalah ini, disarankan untuk minum teh dan kopi tidak saat waktu
makan. Makanan yang kaya vitamin C membantu menetralisir dampak tanin pada penyerapan
zat besi. Menambahkan jus lemon, teh akan mengurangi efek negatif dari tannin dalam
penyerapan zat besi juga. Pada individu yang sensitif, asupan besar tanin dapat menyebabkan
iritasi usus, iritasi ginjal, kerusakan hati, iritasi lambung dan sakit pencernaan. Penggunaan
bahan yang mengandung tannin konsentrasi tinggi tidak dianjurkan dalam jangka panjang
atau berlebihan (Ismarani, 2012).

16
DAFTAR PUSTAKA

Astawan M. dan Andreas L.K.2008. Khasiat Warna-Warni Makanan. Jakarta : PT Gramedia


Pustaka Utama. Hal.43.

Casebeer M. 2004. Discover California Shurbs, Sonora. California : Hooker pre.

Gunawan, Didik dan S. Mulyani. 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid 1. Jakarta :
Penebar Swadaya. Hal 66-103.

Harborne J.B. 1999. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisa Tumbuhan.
Penerjemah: Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Bandung: ITB.

Herowati R., E. K. Rahman, I. K. Ketut, H. Nuraini dan I. G. K Tutus. 2008. Aktivitas


Antiinflamasi Kuersetin-3-monoasetat. Hasil Asetilasi Selektif Kuersetin. Artocarpus.
8(2):60-67.

Ismarani. 2012. Potensi Senyawa Tannin Dalam Menunjang Produksi Ramah Lingkungan.
Jurnal Agribisnis dan Pengembangan Wilayah. Vol.3: 46-54.

Kabo P. 2008. Mengungkap Pengobatan Penyakit Jantung Koroner- Kesaksian seorang Ahli
Jantung dan Ahli Obat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kar A. 2003. Pharmacognosy and Pharmacobiotechnology. New Delhi : New Age


International Limited Publishers. Pp. 148.

Poedjiadi A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. UI-Press. Jakarta.

Supriyatna dkk. 2015. Fitoterapi Sistem Organ: Pandangan Dunia Barat terhadap Obat
Herbal Global. Yogyakarta : Deepublish. Hal.157, 167.

Tjay, T. Hoan dan Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting. Khasiat, Penggunaan dan Efek
Sampingnya. Jakarta : PT Elex Media Komputindo. Hal 304.

Tyler V. E., R. B. Lynn, E. R. James. 1988. Pharmacognosy.America : Lea & Febiger.


Pp.73,77-78.

Yuliati dan Nuherti. 2009. A to Z Food Supplement.Yogyakarta : CV Andi Offset. Hal.105.

17