Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

“EFEK ANESTETIKA LOKAL”

DOSEN : Dra. Refdanita, M.Si.

Disusun oleh:

YEMIMA CHINTIA MARISABETH (14334085)

KELAS M

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS FARMASI

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

JAKARTA

2016

BAB I
BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Obat bius lokal/anestesi lokal atau yang sering disebut pemati rasa adalah obat yang
menghambat hantaran saraf bila digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar
yang cukup. Obat bius lokal bekerja pada tiap bagian susunan saraf. Obat bius lokal bekerja
merintangi secara bolak-balik penerusan impuls-impuls saraf ke Susunan Saraf Pusat (SSP)
dan dengan demikian menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas atau
rasa dingin. Obat bius lokal mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf. Tempat
kerjanya terutama di selaput lendir. Disamping itu, anestesia lokal mengganggu fungsi semua
organ dimana terjadi konduksi/transmisi dari beberapa impuls. Artinya, anestesi lokal
mempunyai efek yang penting terhadap SSP, ganglia otonom, cabang-cabang neuromuskular
dan semua jaringan otot.

II. Tujuan Praktikum


1. mengenal berbagai teknik untuk menyebabkan anestesi local pada hewan coba
anestestika local.
2. Memahami faktor yang mempengaruhi potensi kerja anestesi local.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Anestesi local adalah obat yang dapat menghambat konduksi obat yang
menghambat konduksi saraf apabila dikenakan secara local pada jaringan saraf dengan
kadar cukup. Contoh anestesi local adalah kokain dan ester asam amino benzoate
(PABA) yaitu prokain dan lidokain.
Beberapa teknik untuk menyebabkan anestesi local pada hewan coba diantaranya:
1. Anestesi local metode permukaan
Efek anestesi ini tercapai ketika anestesi local ditempatkan didaerah yang ingin
dianestesi.

2. Anestesi local metode regnier


Mata normal apabila disentuh pada kornea akan memberikan respon reflex ocular
(mata berkedip). Jika diteteskan anestesi local, respon reflex ocular timbul setelah
beberapa kali kornea disentuh sebanding dengan kekuatan kerja anestetika dan besaran
sentuhan yang diberikan. tidak adanya respon reflex ocular setelah kornea disentuh 100x
dianggap sebagai tanda adanya anestetika local.

3. Anestetik local metode infiltrasi


Anestetika local yang disuntikkan kedalam jaringan akan mengakibatkan
kehilangan sensasi pada struktur sekitarnya.

4. Anestesi local metode konduksi


Respon anestesi local yang disuntikkan kedalam jaringan dilihat dari ada atau
tidaknya respon haffner. Respon haffner adalah reflex mencit yang apabila ekornya
dijepit, maka terjadi respon angkat ekor/mencit bersuara.
BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

1. Anestesi local metode permukaan

 Alat

- Gunting, Pipet tetes, Aplikator, Stopwatch, kotak kelinci

 Bahan

 Kelinci dewasa dan sehat

 Larutan Lidokain HCl 2%

 Prosedur Kerja

1. Siapkan kelinci. Gunting bulu mata kelinci, agar tidak mengganggu aplikator.

2. sebelum pemerian obat, cek ada atau tidaknya respon ocular mata ( mata berkedip)
dengan menggunakan aplikator pada kornea mata secara tegak lurus pada menit ke-0

CATATAN : Jangan terlalu keras menggunakan aplikator dan ritme harus diatur.

3. Teteskan kedalam kantong kunjungtiva larutan anastetika lokal lidokain 1-2 tetes pada
mata kanan dan mata kiri

4. Tutup masing masing kelopak mata selama 1 menit

5. Cek ada atau tidaknya respon reflex ocular mata (mata berkedip) dengan menggunakan
aplikator pada kornea mata secara tegak lurus pada menit ke- 5,-10, -15, -20, -25,- 30,-
35, -40, -45, -50, -55,-60.

6. Catat dan tabelkan pengamatan

7. Setelah percobaan diatas selesai, teteskan larutan fisiologis Nacl 0.9 % pada kedua
mata kelinci.
Hewan Mata Obat yang diteteskan Pengamatan pada menit ke..

0=

5=

10=

15=
Kanan Lidocain 2%
20=

30=

45=

60=
Kelinci
0=

5=

10=

15=
Kiri Lidokain 2%
20=

30=

45=

60=
2. Anestesi local metode regnier

Alat dan Bahan

 Alat

- Gunting, Pipet tetes, Aplikator, Stopwatch, kotak kelinci

 Bahan

 Kelinci dewasa dan sehat

 Larutan Lidokain HCl 2%

 Prosedur

1. Siapkan kelinci. Gunting bulu mata kelinci, agar tidak mengganggu aplikator.

2. sebelum pemerian obat, cek ada atau tidaknya respon ocular mata ( mata berkedip)
dengan menggunakan aplikator pada kornea mata secara tegak lurus pada menit ke-0

CATATAN : Jangan terlalu keras menggunakan aplikator dan ritme harus diatur.

3. Teteskan kedalam kantong kunjungtiva larutan anastetika lokal lidokain 1-2 tetes pada
mata kanan dan mata kiri

4. Tutup masing masing kelopak mata selama 1 menit

5. Cek ada atau tidaknya respon reflex ocular mata (mata berkedip) dengan menggunakan
aplikator pada kornea mata secara tegak lurus pada menit ke- 5,-10, -15, -20, -25,- 30,-
35, -40, -45, -50, -55,-60.

6. Ketentuan metode regnier :

a. Pada menit ke-8 :

-Jika pemberian aplikator sampai 100x tidak ada respon reflex okuler, maka
dicatat angka 100 sehingga respon negative.
b. Pada menit ke -15,20,25,30,40,50,60.

- Jika pemberian aplikator pada sentuhan terdapat respon reflex okuler, maka
dicatat angka 1 sebagai respon negative dan menit-menit yang tersisa juga diberi
angka1

c. Jumlah respon reflex okuler negative dimulai dari menit ke- 8 hingga menit ke-60.
Jumlah ini menunjukkan angka regnier dimana efek anestesi local dicapai pada angka
minimal 13 dan maximal 800.

7. Setelah percobaan di atas selesai, teteskan larutan fisiologis Nacl 0.9% pada mata
kanan dan kiri kelinci.
8. Catat dan tabelkan pengatan.

 Hasil Pengamatan dengan metode regnier

Obat Jumlah sentuhan memberi reflex berkedip pada mata di menit ke….
Hewan Mata yang di 0 8 15 20 25 30 40 50 60
berikan
Kanan Lidokain
2%
1-2 tetes
Kelinci
Kiri Lidokain
2%
1-2 tetes
3. Anestesi Lokal metode infiltrasi

 Alat

- Gunting, Pisau cukur, Spuit 1 ml, Spidol, Peniti

 Bahan

 Kelinci dewasa dan sehat

 Larutan lidocain HCL 1%

 Larutan lidokain HCL 1% dalam adrenalin (1 : 50.000) sebanyak 0.2 mL

 Prosedur Kerja

1. Siapkan kelinci. Gunting bulu punggung kelinci dan cukur hingga bersih kulitnya
(hindari terjadinnya luka ).

2. Gambar empat daerah penyuntikkan dengan jarak +/- 3cm

3. sebelum pemerian obat, cek ada atau tidaknya respon gerakan otot punggung kelinci
dengan menggunakan peniti sebanyak 6x sentuhan pada daerah penyuntikkan pada menit
ke - 0

a. CATATAN : Jangan terlalu keras menggunakan peniti dan ritme harus diatur.

4. Teteskan kedalam kantong kunjungtiva larutan anastetika lokal lidokain 1-2 tetes pada
mata kanan dan mata kiri

5. Tutup masing masing kelopak mata selama 1 menit

6. Cek ada atau tidaknya respon reflex ocular mata (mata berkedip) dengan menggunakan
aplikator pada kornea mata secara tegak lurus pada menit ke- 5,-10, -15, -20, -25,- 30,-
35, -40, -45, -50, -55,-60.

7. Catat dan tabelkan pengamatan.


 Hasil pengamatan metode konduksi

Getaran otot punggung kelinci


dengan 6sentuhan setiap kali
Bagian yang Obat yang Cara
Hewan dengan peniti pada
disuntiikan disuntikkan pemberian
waktu….menit setelah
pemberian obat

0=

5=

10=

15=

Lidocain 20=

Kelinci Punggung kanan + SC 25=

Adrenalin 30=

35 =

40 =

45 =

60 =
0=

5=

10=

15=

20=

Punggung kiri Lidokain SC 25=

30=

35 =

40 =

45 =

60 =

4. Anestesi local metode konduksi

 Alat

- Gunting, Pisau cukur, Spuit 1 ml, Spidol, kotak penahan kotak mencit, pinset.

 Bahan

 Kelinci dewasa dan sehat

 Larutan lidocain HCL 0.5 mg/kgBB manusia

 Larutan NaCl 0.9%

 Prosedur
1. Siapkan mencit. Sebelum pemerian obat , cek ada/tidaknya respon haffner pada
menit ke- 0.
2. Hitung dosis dan volume pemerian obat dengan tepat untuk masing-masing mencit.
3. Mencit pertama disuntik dengan lidokain HCL secara IV
4. Mencit kedua disuntik dengan larutan Nacl 0.9%
5. Cek ada atau tidaknya respon haffner (ekor mencit dijepit lalu terjadi respon
ekor/mencit bersuara) pada mencit ke-10,15, 20,25,30.
6. Catat dan tabelkan pengamatan.

 Hasil pengamatan metode induksi


Dosis Pemakaian pada mencit :
a. Mencit 1 (jantan BB= 34 g)
sebagai control (disuntik Nacl 0.9% 0.5ml)
b. Mencit 2 ( jantan BB= 27 g)
dosis
27𝑔
x 0.0026 x 175 mg = 0,6143 mg
20 𝑔

volume penyuntikkan =
0.614 𝑚𝑔
x 1 ml = 0.03ml
20 𝑚𝑔

Hewan Obat Cara Respon Haffner pada waktu t=


Pemberian menit
0 10 15 20 25 30
Mencit Lidokain
NaCl
0.9%
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. ANESTESI LOKAL METODE PERMUKAAN

Hewan Mata Obat yang diteteskan Pengamatan pada menit ke..

0 = Masih ada kedipan

5= Masih ada kedipan

10= Masih ada kedipan

15= Masih ada kedipan


Kanan Lidocain 2%
20= Masih ada kedipan

30= Masih ada kedipan

45= Masih ada kedipan

60= Masih ada kedipan


Kelinci
0 = Masih ada kedipan

5= Masih ada kedipan

10= Masih ada kedipan

15= Masih ada kedipan


Kiri Lidokain 2%
20= Masih ada kedipan

30= Masih ada kedipan

45= Masih ada kedipan

60= Masih ada kedipan

Anestetik lokal bekerja dengan cara menyebabkan blokade yang reversibel atas konduksi
sepanjang serat saraf. Obat-obat yang dipakai berbeda dalam hal potensi, toksisitas, lama kerja,
stabilitas, kelarutan dalam air, dan kemampuannya menembus membran mukosa. Keragaman
sifat ini menentukan kesesuaian obat dalam berbagai cara pemberian, misalnya topikal
(permukaan), infiltrasi, pleksus, epidural (ekstradural) atau blokade spinal. Anestetik lokal juga
digunakan untuk penghilang nyeri pasca bedah, sehingga mengurangi kebutuhan analgesik
seperti opioid.

Pada praktikum ini kami melakukan percobaan anastesi permukaan dengan menggunakan
obat anastetik lokal yaitu Lidocain dan kelinci sebagai hewan ujinya. Obat diteteskan kedalam
kantong kunjungtiva larutan anastetika lokal Lidokain 1-2 tetes pada mata kanan dan pada mata
kiri.

Pada hasil pengamatan, pada mata kanan dan kiri diteteskan lidocain mempunyai efek
anastetik lokal, tetapi pada menit ke -0 sampai menit ke -60 kelinci masih memberikan efek
respon, dan baru memberikan efek pada penit ke-70. Berdasarkan literature lidokain yang
diberikan melalui tetes mata akan di absorbsi 20 detik hingga 5 menit. Hal ini menunjukkan
bahwa absorbs lidokain berjalan lambat. Anestesi local pada mata dapat di absorbs melalui
kornea. Absorbsi dapat menyebabkan efek sistemik karena obat tidak dapat mengalami
metabolism di lintas pertama hati.

Kegagalan anestesi dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu usia, berat tubuh, kondisi
fisik, dan kondisi klinis pasien, derajat vaskularitas area yang akan diberi obat, dan lama
pemberian anestetik adalah faktor lain yang harus dipertimbangkan, atau bisa karena dosis obat
yang kurang atau resistensi terhadap anestesi lokal.

2. ANESTESI LOKAL METODE REGNIER

 Hasil Pengamatan dengan metode regnier

Obat Jumlah sentuhan memberi reflex berkedip pada mata di menit ke….
Hewan Mata yang di 0 8 15 20 25 30 40 50 60
berikan
Kanan Lidokain tidak ada 13 sentuh 5sentuh 7 sentuh 1 1 1 1 1
2% kedipan Tidak ada Tidak Tidak
1-2 tetes kedipan ada ada
kedipan kedipan

Kelinci Kiri Lidokain Tidak ada 15 3 5 3 1 1 1 1


2% kedipan sentuhan sentuhan sentuhan sentuhan
1-2 tetes Tidak ada Tidak Tidak Tidak
kedipan ada ada ada
kedipan kedipan kedipan
Pada praktikum ini kami melakukan percobaan anastesi permukaan dengan menggunakan
obat anastetik lokal yaitu Lidocain dan kelinci sebagai hewan ujinya. Obat diteteskan kedalam
kantong kunjungtiva larutan anastetika lokal Lidokain 1-2 tetes pada mata kanan dan pada mata
kiri.

Pada hasil pengamatan di menit ke-8 pada mata kanan dari 100x ketukan dengan
menggunakan aplikator 13 ketukan tidak ada kedipan, sedangkan pada mata kiri di menit ke-8
dari 100x ketukan 15 ketukan tidak ada effek kedipan. Lalu pada menit ke-15 pada mata kanan
menghasilkan 5 ketukan tidak ada kedipan, dan pada mata kiri 3 ketukan tidak ada effek.

Pada hasil pengamatan di atas terjadi perbedaan naik turunnya angka ketukan pada saat
praktikum ini bisa terjadi karena beberapa sebab yaitu

 tidak stabilnya ritme ketukan yang diberikan pada kelinci.


 Tiap ketukan seharusnya dilakukan oleh satu orang, tidak boleh secara bergantian
karena setiap pergantian orang pada ketukan akan memberikan ritme yang
berbeda-beda. Bisa saja pada saat A memberikan ketukan, dia memberikan ritme
ketukan yang kuat, lalu ketika berganti dengan B ritme ketukannya melemah.

Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan naik turunnya respon kedipan.

3. ANESTESI LOKAL METODE INFILTRASI

Getaran otot punggung kelinci


dengan 6sentuhan setiap kali
Bagian yang Obat yang Cara
Hewan dengan peniti pada
disuntiikan disuntikkan pemberian
waktu….menit setelah
pemberian obat

0= +

5= -
Lidocain
10= +
Kelinci Punggung kanan + SC
15= +
Adrenalin
20= +

25= +
30= +

35 = +

40 = +

45 = +

60 = +

0= +

5= -

10= -

15= -

20= -

Punggung kiri Lidokain SC 25= +

30= +

35 = +

40 = +

45 = +

60 = +

Keterangan :

-  ada respon

+  Tidak ada respon

Lidokain ialah obat anestesi lokal yang banyak digunakan dalam bidang kedokteran oleh
karena mempunyai awitan kerja yang lebih cepat dan bekerja lebih stabil dibandingkan dengan
obat – obat anestesi lokal lainnya. Obat ini mempunyai kemampuan untuk menghambat
konduksi di sepanjang serabut saraf secara reversibel, baik serabut saraf sensorik, motorik,
maupun otonom. Kerja obat tersebut dapat dipakai secara klinis untuk menyekat rasa sakit dari –
atau impuls vasokonstriktor menuju daerah tubuh tertentu. Lidokain mampu melewati sawar
darah otak dan diserap secara cepat dari tempat injeksi. Sehingga menimbulkan efek anastesi
pada kelinci coba. Pada percobaan kali ini obat diberikan secara subkutan pada punggung bagian
kanandisuntikkan lidokain, sedangkan punggung bagian kiri disuntikkan lidokain +adrenalin.
Berdasarkan hasil pengamatan punggung bagian kanan pada menit ke- 5 sampai menit ke- 20
masih memberikan respon pada saat di cek dengan aplikator dan baru memberikan efek pada
menit ke-25.

Sedangkan pada punggung kiri kelinci yang di suntikkan lidokain+adrenalim pada menit
ke-5 belum memberikan efek, dan memberikan efek pada menit ke-10. HHal ini sesuai teori
karena penambahan adrenalin pada larutan anestetika local akan memperpanjang, mempervepat
dan memperkuat anestesi local.

4. ANESTESI LOKAL METODE KONDUKSI

Hewan Obat Cara Respon Haffner pada waktu t=


Pemberian menit
0 10 15 20 25 30
Mencit Lidokain + + + + + +
NaCl + + + + + +
0.9%

Keterangan :

(+) : Menandakan masih adanya respon

(-) : Menandakan sudah tidak ada respon (Sudah teranastesi)

Pemilihan lidokain sebagai anastetika lokal pada percobaan kali ini adalahkarena lidokain
dengan nama dagang Xylocain yang merupakan derivate asetanilidaini termasuk golongan amida
dan merupakan obat pilihan utama untuk anastesiainfiltrasi maupun permukaan. Zat ini
digunakan pada selaput lendir dan kulit untuknyeri, perasaan terbakar dan gatal.
.Sifat kerja lidokain lebih cepat, lebih kuat, lebih lama dan lebih ekstensif.Anestesi topikal ini
akan diserap ke dalam sirkulasi darah sehingga dapatmenimbulkan efek samping yang toksik.
Oleh karena itu, sangat penting untuk memperhatikan jumlah maksimum yang boleh digunakan
pada suatu area yang akandi anestesi..
Efek samping Lidokain biasanya berkaitan dengan efeknya terhadap SSPmisalnya kantuk,
pusing, paraestesia, gangguan mental, koma, dan seizure; semuaefek SSP yang terutama timbul
pada overdose. Obat ini termasuk golongan aminoasilamid yang jarang menimbulkan
alergi.Lidokain memiliki onset dan durasi yang pendek
. Onset yaitu waktu dari saat pemberian obat sampai dengan muncul efek. Sedangkan, durasi
yaitu waktu dari saatmuncul efek sampai dengan efek hilang
Pada hasil pengamatan menit ke -0 sampai menit ke -60 mencit masih memberikan efek
respon.. Hal ini menunjukkan bahwa absorbs lidokain berjalan lambat. Absorbsi dapat
menyebabkan efek sistemik karena obat tidak dapat mengalami metabolism di lintas pertama
hati.

Kegagalan anestesi dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu usia, berat tubuh, kondisi
fisik, dan kondisi klinis pasien, derajat vaskularitas area yang akan diberi obat, dan lama
pemberian anestetik adalah faktor lain yang harus dipertimbangkan, atau bisa karena dosis obat
yang kurang atau resistensi terhadap anestesi lokal.
BAB V

KESIMPULAN

1. Pada dasarnya, anestesi terbagi dua menjadi anestesi lokal dan anestesi umum. Akan
tetapi, anestesi lokal lebih sering digunakan karena memiliki tingkat keselamatan yang lebih
tinggi daripada anestesi umum. Anestetik lokal ialah obat yang menghambat hantaran saraf bila
dikenakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup. Obat ini bekerja pada tiap
bagian susunan saraf.

2. Anestesi Infiltrasi bertujuan untuk menimbulkan anestesi ujung saraf melalui injeksi
pada atau sekitar jaringan yang akan dianestesi sehingga mengakibatkan hilangnya rasa di kulit
dan jaringan yang terletak lebih dalam, misalnya daerah kecil di kulit atau gusi (pada pencabutan
gigi).

3. Anestesi konduksi merupakan teknik anestetika lokal yang di suntikan di sekitar saraf
tertentu yang dituju dan hantaran rangsang pada tempat ini diputuskan. Terdapat bermacam-
macam obat anestesi yang dapat digunakan dengan teknik anestesi konduksi, dimana masing-
masing obat memiliki kekuatan kerja, toksisitas, kecepatan absorpsi yang berbeda-beda.
Lidocain adalah anastetik lokal yang kuat dan lebih cepat yang digunakan secara luas dengan
pemberian topikal dan suntik. Anestesi konduksi (penyaluran saraf) yaitu dengan penyuntikan di
suatu tempat dimana banyak saraf terkumpul, sehingga mencapai anestesia dari suatu daerah
yang luas, misal pada pergelangan tangan atau kaki, Juga untuk mengurangi nyeri yg hebat.
DAFTAR PUSTAKA

 Katzung BG & Miller RD. 2002. Anestetik Lokal. Di dalam : Katzung BG, editor.
Farmakologi Dasar dan Klinik. Ed. 8, vol.2. Jakarta; Salemba Medika. Hal.162-163
 Mutschler, Ernst.Dinamika Obat.ed V.Penerbit ITB.Bandung : 1999
 Departemen farmakologi dan terapeutik.Farmakologi dan Terapi.Ed.V.Balai Penerbit
FKUI.Jakarta :2009.
 Priyanto, 2008, Farmakologi Dasar Edisi II, Depok: Leskonfi