Anda di halaman 1dari 3

3 Cara Melihatnya

Teriknya matahari sangat menyengat kulitku. Namaku Melody Wijaya, siswi kelas XII
IPA 3 di salah satu SMA di kotaku. Biasa dipanggil Melody.

Siang hari ini sungguh panas. Bel pulang sekolah berbunyi, aku pulang dengan
berjalan kaki. Tapi, hari sangat panas dan aku memutuskan untuk mampir sebentar di
toko buku tua yang berada di ujung jalan itu. Toko buku tua itu peninggalan orang
Cina. Pemilik toko yang asli sudah lama meninggal, dan kini yang mewarisinya adalah
turunan ke-5, yang mempunyai wajah seperti orang Cina.

Di toko buku itu, aku bingung mau beli apa, banyak kumpulan buku dan novel yang
Bagus, tapi, entah mengapa aku tidak tertarik untuk membelinya. Sampai akhirnya aku
menghentikan langkah pelanku ke sebuah buku berwarna merah darah penuh debu di rak
buku paling atas. Cover buku itu berjudul “3 Cara Melihatnya” dan di bawah judul
tersebut ada tulisan “from K. G. Hostvi.”

Aku semakin penasaran dengan buku yang kuambil ini, apa maksud dengan judul itu?
Melihat apa? Ah, sudahlah. Untuk memuaskan rasa penasaranku, dengan sigap aku
langsung membayarnya ke kasir.

“Ko, saya beli buku ini.” Sambil kuacungkan buku itu ke penjual.

“iya, mana? Harganya 13.666,-.” dengan tatapan tajam tanpa tesenyum sedikit pun.

“Ini ko, adanya 14.000,- kembalinya nggak usah ko, terimakasih.” kataku sambil
tersenyum, tapi sedikit pun tidak dibalas, hanya terdiam dengan tatapan tajam.

Aku berlari keluar dari toko buku tua tersebut. Saat aku berjalan pulang, seperti
ada yang mengintaiku dari belakang, bulu kudukku berdiri semua dan aku benar-benar
merinding, kupercepat lagi jalanku agar sampai cepat rumah. Sesampainya di depan
rumah aku membuka gerbang rumahku dan kulihat ke belakang, tak ada seorangpun yang
kukira ada yang mengikutiku dari belakang.

Pagi menyambut kembali. Aku sudah sampai di sekolah. Kulirik jam tanganku, ternyata
masih jam 06.15 dan itu pun hanya aku dan lima temanku yang baru datang.

Aku pun duduk di bangku paling depan sambil membaca buku yang kubeli kemarin.
Ketika aku akan membuka plastiknya, aku dikagetkan dengan suara bangku jatuh di
belakang kelas. Aku pun berteriak kaget, ternyata itu hanya kucing yang melompat ke
jendela. Aku mulai berpikir aneh-aneh, karena mana ada yang berani duduk di bangku
itu. Sejak semester satu, tak pernah ada yang berani berada di situ, karena dulu
katanya jika ada yang duduk di situ hidupnya akan penuh dengan kesialan. Tidak
berhenti disitu, aku mendengar lagi suara ketukan tangan dari arah meja itu.
Kuberanikan diri untuk menengoknya, “Hwaa” aku teriak kaget histeris melihat sosok
perempuan berbaju putih, berambut panjang, dan tidak memiliki pupil di matanya, ia
menatapku dengan senyuman sinis. Aku pun tak kuat melihatnya, dan berlari keluar
kelas.

“Braakk” aku menabrak seseorang.

“Lo kenapa dy? Hey, tenang. Ada aku di sini.” tanyanya menenangkanku.

“A.. Ada seseorang di bangku pojok kelas. Gue takut, Ka. Dia menatapku dengan
sinis. Hiks hiks hiks.” jawabku terisak ketakutan.

“Mana? Nggak ada.” tanyanya penasaran.

“Dari tadi gue nggak liat apa-apa, Dy. Padahal gue di kelas.” kata seorang temanku.
Dan aku menatap bangku itu dengan ketakutan. Ternyata seseorang itu menghilang
seketika.

“Tapi, tadi benar-benar ada seseorang di bangku itu, Ka. Percayalah.” aku mencoba
membuat Raka percaya padaku.

“Udah lah, mungkin itu hanya halusinasimu saja, jangan nangis. Nanti cantiknya
ilang lhoo.”ujar Raka, mencoba menenangkanku.

Raka adalah teman kecilku, sejak aku kelas 3 SD sampai sekarang. Dia adalah
seseorang yang selalu hadir di sampingku apapun disituasinya. Tapi, kami tidak
hubungan apa-apa. Hanya sekedar sahabat, tapi teman-temanku menganggap kami
pacaran.

3 jam sudah kulewati dengan berbagai mata pelajaran. Dan aku mencoba melupakan
kejadian tadi pagi.

KRING… KRING… Bel istirahat berbunyi, aku berjalan sambil membawa buku tua itu
menuju kantin sekolah.

Aku langsung menuju meja makan di kantin yang sudah didatangi Liana, Andre, Talitha
dan kribo Gabriel. Mereka adalah sahabat-sahabatku selain Raka. “Markas” adalah
sebutan kami ke meja kantin yang sudah biasanya kita nongkrong di situ setiap waktu
istirahat. Mereka sedang menyantap bakso buatan Ibu kantin. Aku duduk di antara
Andre dan Talitha.

“Hem, maaf guys. Gue telat.” aku menyengir sambil mengangkat kedua jariku “Pish.”

“Eh Melody. Lo nggak apa kan?” tanya Liana.

“Gue baik-baik aja, kenapa?” jawabku polos, sepertinya mereka akan bertanya
kejadian tadi pagi.

“Nggak usah bohong dy, kita ini sahabat lo. Jangan ada main rahasia-rahasiaan di
antara kita.” ujar Talitha.

“Tadi gue liat.. Sesosok gadis berbaju putih di bangku pojok kelas itu. Dan…” aku
mencoba tuk terus terang dengan nada datar.

“Udah cukup, jangan tanyakan itu sekarang. Dia masih trauma dengan kejadian tadi.”
Andre menghentikan introgasinya.

“Mungkin lain kali aja ceritanya.” Ujarku.

“Eh, gue dapet buku baru yang misterius nich.” kugeser buku itu ke tengah meja
makan.

“Mana? Ih, Bagus banget.” Talitha fans buku horor dan sangat percaya tahayul dan
tempat-tempat angker.

Seusai pulang dari pemakaman Kribo. Di rumah aku membaca buku itu sampai akhir.
Ternyata cerita-ceritanya sama persis yang dialami Andre, Liana, Thalita dan Kribo.
Aku sangat merasa bersalah. Seakan-akan aku lah yang membunuh teman-temanku lewat
buku tua itu.

Dan ternyata di halaman terakhir maksud dari “K. G. Hostvil” adalah Keramat,
sedangkan Ghost dan evil adalah hantu atau setan. Mengetahui itu semua aku langsung
menuju toko buku itu. Dan anehnya, toko buku itu sudah tidak ada, karena pemiliknya
baru saja meninggal bersamaan dengan Kribo. Aku bingung harus bagaimana. Aku merasa
aku ini adalah pembunuh.

Aku teringat, aku masih memiliki sahabat kecilku, Raka. Tapi, hari demi hari aku
belum bertemu dengannya. Aku mencemaskan dirinya dan kata-katanya bahwa ia akan
selalu melindungiku. Tapi, sekarang ia malah menghilang tanpa jejak.

Dan pikiranku kosong saat itu, aku berjalan di lintasan rel yang tepat berada di
dekat toko buku itu. Tiba-tiba dari arah Selatan ada kereta api melaju kencang.
Kereta itu menghantam tubuhku. Aku meninggal dunia dengan tubuh tak berbentuk lagi.
Buku yang awalnya kupegang. Dan akhirnya buku itu terbakar sendiri.

Cerpen Karangan: Salsa Muafiroh

Facebook: Salsa Muafiroh

Hello, namaku Salsa Muafiroh. Just call me Salsa. This is my first story, happy
read and i hope u like with my word. Thank’s.

Anda mungkin juga menyukai