0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
285 tayangan22 halaman

Liposom dan Sistem Pembawa Obat

Liposom, niosom, transfersom, ethosom, virosom dan farmakosom merupakan sistem pembawa obat yang dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas dan mengurangi efek samping obat dengan mengarahkannya ke target yang spesifik. Liposom adalah vesikel berbentuk sferis yang terdiri atas lipid fosfolipid ganda yang dapat mengangkut obat hidrofilik maupun lipofilik, dan telah banyak diaplikasikan sebagai al

Diunggah oleh

Sarah Amelia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
285 tayangan22 halaman

Liposom dan Sistem Pembawa Obat

Liposom, niosom, transfersom, ethosom, virosom dan farmakosom merupakan sistem pembawa obat yang dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas dan mengurangi efek samping obat dengan mengarahkannya ke target yang spesifik. Liposom adalah vesikel berbentuk sferis yang terdiri atas lipid fosfolipid ganda yang dapat mengangkut obat hidrofilik maupun lipofilik, dan telah banyak diaplikasikan sebagai al

Diunggah oleh

Sarah Amelia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tugas

Biologi Farmasi

LIPOSOM, NIOSOM, TRANSFERSOM, ETHOSOM, VIROSOM dan


PHARMACOSOM

Dosen : Jessie Sofia Pamudji

Oleh:

Visi Anisa Lestari (10708026)


Ma'sum Al Asyhar (10708027)
Shirly (10708028)
Alyani Samhana P. (10708029)
Hernita Rianti (10708030)
Dwi Kirana Husin (10708031)
Yuda Prasetya Nugraha (10708032)
Agus Sarirahayu (10708033)
Ayunina Rizky Ferdina (10708034)

Sains dan Teknologi Farmasi

Sekolah Farmasi

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2011
LIPOSOM, NIOSOM, TRANSFERSOM, ETHOSOM, VIROSOM dan
PHARMACOSOM

Saat ini penelitian mengenai obat-obatan terus dilakukan sehingga diperoleh obat
dengan efikasi yang maksimal. Beberapa obat memiliki indeks terapi yang sempit dan
penggunaannya dibatasi karena memiliki efek samping. Oleh karena itu, formulasi obat
terus dikembangkan untuk mendapatkan efektivitas terapi yang diharapkan. Beberapa
teknik sedang dikembangkan agar obat dapat mencapai target di tempat yang spesifik tanpa
mempengaruhi jaringan lain sehingga dapat mencegah efek toksik (Biju et al, 2006).
Banyak senyawa aktif memiliki bioavaibilitas dan kelarutan dalam air yang rendah
sehingga diperlukan suatu sistem pembawa yang cocok untuk obat hidrofobik. Obat-obat
yang kelarutannya kecil dalam air merupakan suatu permasalahan dalam industri farmasi
karena pada umumnya obat diabsorbsi dari saluran cerna dengan mekanisme difusi pasif
sehingga kecepatan absorbsi obatakan menentukan bioavaibilitas. Salah satu pendekatan
untuk masalah ini adalah menggunakan vesikel yang sudah populer seperti liposom sebagai
penghantar obat. Dan pendekatan lain yaitu dengan menggunakan metode niosom,
transfersom, ethosom, virosom dan farmakosom.

LIPOSOM

I. Pengertian

Etiologi nama liposom berasal dari bahasa


Yunani yaitu “LIPO” yang berarti
lipid/lemak dan “SOMA” yang berarti
tubuh. Dengan demikian, posisi lipid berada
pada bagian badan dari liposom. Liposom
merupakan partikel berbentuk vesikel sferis
yang dindingnya tersusun atas molekul lipid
(konstituen utamanya fosfolipid) lapis ganda
yang membungkus kompartemen cairan didalamnya.

Fosfolipid merupakan senyawa yang ampifilik dan mempunyai struktur dasar gliserol,
terdiri dari bagian kepala yang polar (gugus fosfat) dan bagian hidrofobik (satu atau
dua molekul asam lemak). Senyawa ini bermuatan netral sampai sedikit negatif.
Fosfatidil kolin adalah salah satu fosfolipid yang paling banyak digunakan dalam
sistem liposom. Karena terbuat dari bahan alami membran yang terbentuk menyerupai
lipid membran sel dan bersifat biokompatibel (biodegradasi, nontoksik, dan tidak
memicu respon imun).

Liposom memiliki struktur lipid lapis ganda,


sedangkan lipid lapis tunggal disebut misel.
Lipid lapis ganda terbentuk karena sifat
termodinamika fosfolipid, terjadi karena
transisi struktur lipid lapis ganda dari fasa
padat menjadi fasa Kristal cair karena
pengaruh perubahan temperatur. Lipid lapis ganda terbentuk dengan stabil karena
mempunyai tingkat energi yang minimal. Hal tersebut disebabkan bagian hidrofil
fosfolipid menjauhi bagian lipofilik dan juga adanya interaksi van der Waals yang
kuat antar rantai asil.
Komponen yang paling sering digunakan dalam pembuatan liposom yaitu :
 Lipid bermuatan negatif, fosfolipid asam : dipalmitoil-fosfatifilgliserol
(DPPG) dan dipalmitoil-fosfatidilkolin (DPPC),
 Lipid bermuatan netral : sfingomielin dan fosfatidiletanolamin
 Umum (paling sering) : fosfatidilkolin
 Tambahan lain : kolesterol untuk meningkatkan stabilitas, menurunkan
porositas atau kebocoran melalui membran, dan mencegah agregasi dan fusi
liposom.
Liposom terbagi menjadi 3 jenis liposom, yaitu :
a. Vesikel Multi Lamelar (MLV)
Liposom MLV dapat dikatakan sebagai bentuk awal liposom. MLV
merupakan liposom multikompartemen dengan ukuran vesikel 100 nm sampai
dengan 1000 nm dan setiap vesikel biasanya terdiri atas lima atau lebih lamela
konsentris. Liposom MLV sangat cocok untuk proses enkapsulasi dari
berbagai substansi dan dapat dibuat berbagai macam komposisi lipid.
Keterbatasan MLV adalah mempunyai kapasitas enkapsulasi
b. Vesikel Unilamelar kecil (SUV)
SUV memiliki variasi ukuran terkecil. Ukuran SUV didasarkan pada kekuatan
ionisasi medium cair dan komposisi lemak pada membran, yaitu ukuran
vesikel ± 15 nm untuk liposom yang berasal dari lesitin telur murni pada salin
normal dan ± 25 nm untuk liposom DPC.
c. Vesikel Unilamelar besar (LUV)
LUV memiliki ukuran lebih besar dari SUV. Liposom ini memiliki ukuran
500-1000 nm. Vesikel ini dapat dibuat dengan metode injeksi eter dan fusi
liposom jenis SUV dengan diinduksi kalsium.
d. Vesikel Unilamelar intermediet (IUV)
Liposom ini berukuran 100-200 nm. IUV dapat bertahan lebih lama dalam
sirkulasi dan stabilitasnya baik sehingga sangat bermanfaan dalam
penghantaran obat.
Liposom dapat diisi dengan obat-obatan, dan digunakan untuk memberikan obat
untuk kanker dan penyakit lainnya. Kelebihan liposom yaitu :
 Bersifat biokompatibel (biodegradasi, nontoksik, dan tidak memicu respon
imun)
 Meningkatkan efektivitas kerja obat dan mengurangi toksisitas teurapeutik
 Melindungi jaringan sehat dari pengaruh obat toksik

Klasifikasi dari Liposom (pada gambar di bawah) :


A. Liposom konvensional dengan lipid lapis ganda dalam lingkungan berair
B. Imunoliposom yang memiliki target berupa antibody
C. Long-circulating liposome dengan polimer protektif seperti PEG yang melindungi
permukaan liposom dari interaksinya dengan protein opsonin
D. Long-circulating immunoliposome dengan polimer protektif dan antibody
E. Liposom generasi baru, dengan berbagai modifikasi seperti partikel magnetic,
polimer stimuli-sensitif, dll dengan tujuan untuk meningkatkan waktu edar yang
lebih lama, memperbaiki stabilitas, dan meningkatkan efek.

II. Mekanisme
a) Pemasukan obat ke dalam Liposom
Klasifikasi obat yang dapat dimasukkan ke dalam liposom dilakukan
berdasarkan koefisien partisi minyak/dapar dan oktanol.dapar yaitu :
 Senyawa hidrofilik (larut air) dengan harga Kp rendah untuk
minyak/dapar dan oktanol/dapar
 Senyawa ampifatik, yaitu Kp rendah untuk minya/dapar dan Kp
sedang sampai tinggi untuk Kp oktanol/dapar
 Senyawa lipofilik mempunyai Kp tinggi untuk minyak/dapar.

Metode pemasukan obat ke liposom dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu ;

 Masuk ke membran liposom


 Masuk ke fasa air dalam liposom
b) Pelepasan obat dari liposom
Terdapat beberapa proses pelepasan substansi materi dari liposom.
Pertama, melalui fusi sempurna membran lipid liposom dengan membran sel
target. Melalui cara ini, isi liposom akan terpapar langsung dengan
sitoplasma sel dan tetap diselubungi membran biologis.

Kedua, liposom melepas isinya ke ruang interstisial untuk selanjutnya


substansi secara aktif diambil oleh sel melalui transport paraseluler. Dengan
demikian, transpor para seluler substansi aktif dalam liposom dapat
berlangsung pada usus halus melalui dinding usus. Cara ini terjadi pada
liposom yang sensitive pada perubahan temperatur. Jadi, liposom akan pecah
sat terjadi perubahan suhu dan liposom akan melepaskan isinya ke ruang
ekstraseluler.
Untuk obat yang bersifat lipofilik, bentuk MLV merupakan pilihan utama,
karena jumlah iobat yang akan dibawa, yang terikat pada membran lebih
banyak. Untuk yang bersifat hidrofilik, besarnya vesikel yang umumnya
hanya terdiri dari satu lapis membran menentukan jumlah obat yang dibawa.

III. Aplikasi/Manfaat
Dewasa ini, penggunaan liposom dalam bidang medis sudah sangat luas diantaranya
sebagai diagnosis, kemoterapi, imunoterapi, dan terapi gen. liposom juga telah
digunakan sebagai alat pembelajaran untuk mempelajari transpor transmembran,
permeabilitas lipid lapis ganda, fusi membran, dan interaksi protein lipid. Selain itu,
liposom juga telah digunakan sebagai suatu pembawa obat, enzim, materi genetik, dan
bahan kosmetik.
Liposom sebagai pembawa obat memiliki beberapa kelebihan yaitu :
 Liposom dapat mengarahkan obat pada target tertentu, misalnya pada long-
circulating liposomes yang bekerja pada target selektif area patologis tertentu.
 Liposom sebagai reservoir obat yang melepaskan obat secara perlahan
sehingga akan meningkatkan efektivitas obat dan memperpanjang masa edar
obat dalam darah
 Liposom dapat melindungi obat dari degradasi sebelum mencapai target
 Liposom melindungi pasien dari efek samping langsung dari obat yang
terpapar
 Liposom dapat melarutkan obat lipofilik yang sulit diberikan secara intravena
sehingga pemberiannya di kemudian hari akan lebih mudah.

Contoh penggunaannya secara klinis yaitu :

 Penghantaran vaksin (Vaksin Hepatitis A)


 Obat anti kanker (Duanorubicin, Doxorubicin, Epirubicin, Methotrexate,
Cisplatin, Cytarabin)
 Terapi Gen (DNA material)  cDNA-CFTR
NIOSOM
I. Pengertian
Niosom adalah sistem vesikel yang mirip dengan liposom yang dapat
digunakan sebagai pembawa obat hidrofobik. Niosom dibentuk dari campuran
surfaktan non ionik sebagai pengganti fosfolipid. Beberapa rute pemberian
untuk niosom telah diteliti seperti intramuskular, intravena, subkutan, okular, oral dan
transdermal. Niosom memiliki struktur surfaktan multilamelar sehingga cocok untuk
obat hidrofobik (Blazek-Welsh and Rhodes, 2001). Niosom bersifat biodegradabel,
biokompatibel, dan non-imunogenik. Selain itu niosom bekerja meningkatkan efek
terapetik dengan cara menunda klirens dari sirkulasi, melindungi obat dari lingkungan
biologi, serta membatasi efek ke sel target (Biju et al, 2006).
Berdasarkan karakteristik dan ukurannya, niosom dapat dibedakan menjadi
 Multilamellar vesikel (MLV)
Vesikel jenis ini dapat meningkatkan volume penyimpanan dan distribusi cairan
di dalamnya. Metode yang biasa digunakan dalam pembuatannya yaitu dengan
metode hand shaking. MLV menunjukkan variasi dari komposisi lipid. MLV
mempunyai ukuran >0,05μm.
 Unilamellar vesikel (SUV)
SUV biasanya dihasilkan dengan metode sonikasi, ultrasonic electrocapillary,
dan emulsifikasi atau dilusi pelarut. SUV memiliki ukuran 0,025-0,05μm.
 Large Unilamellar vesikel (LUV)
Metode yang biasa digunakan dalam pembuatan LUV yaitu dengan melarutkan
lipid dalam pelarut organik dalam suasana buffer. Metode yang paling baik
dalam pembuatan niosom ini yaitu dengan reverse phase evaporation atau
dengan detergent solubisation. LUV memiliki ukuran >0,1μm.
II. Mekanisme

Berbagai metode untuk pembuatan niosom telah diteliti, tetapi metode ini
memiliki beberapa kelemahan yaitu preparasi yang rumit, waktu yang lama, dan alat-
alat khusus. Sekarang ini sedang diteliti pembuatan niosom dari hidrasi proniosom.
Metode ini lebih mudah dan tidak memerlukan alat khusus. Proniosom dibuat dengan
menyemprotkan surfaktan dalam pelarut organik keserbuk sorbitol kemudian
menguapkan pelarutnya, tetapi untuk melapisi partikel sorbitol ini sulit karena sorbitol
yang digunakan larut dalam pelarut organik sehingga partikel sorbitol dapat
terdegradasi dan menjadi sangat kental. Untuk mencegah hal ini, beberapa metode
pembuatan proniosom telah dicoba, salah satunya adalah mengganti sorbitol dengan
maltodekstrin (Blazek-Welsh and Rhodes, 2001).
Pada niosom, cairan akan dilingkupi lapisan bilayer yang tersusun dari
surfaktan non ionik, dengan atau tanpa kolesterol, dan bekerja menyerupai liposom
pada in vivo. Struktur vesikel bilayer tersusun dari bagian ekor yang bersifat
hidrofobik dari monomer surfaktan yang melindungi dari lingkungan cair dan bagian
kepala bersifat hidrofilik yang bersentuhan dengan lingkungan cair. Kolesterol dapat
membuat kaku lapisan bilayer sehingga dapat mengurangi kebocoran pada niosom.
Dicetylphosphat (DCP) juga diketahui dapat meningkatkan ukuran vesikel dan
menyebabkan muatan pada vesikel (Biju et al, 2006).
Niosom dapat dibuat dengan metode hidrasi lapisan lemak (reverse phase
evaporation) atau perubahan pH pada bagian permukaan hingga membentuk vesikel
multilamellar. Pemilihan metode pembuatan niosom dapat didasarkan pada tujuan
penggunaannya karena metode preparasi mempengaruhi jumlah lapisan ganda,
ukuran, distribusi ukuran, serta efisiensi penjeratan fasa cair dan permeabilitas
membran vesikel. Metode lain yang dapat dilakukan di antaranya :
 Metode injeksi eter
Campuran surfaktan-kolesterol, dilarutkan dalam dietil eter lalu diinjeksikan
perlahan-lahan ke fasa cair pada suhu 60`C. Setelah eter diuapkan akan
dihasilkan LUVs. Kekurangan metode ini adalah masih tersisanya sejumlah kecil
eter dalam suspensi vesikel dan sangat sulit dihilangkan.
 Metode film tipis
Campuran surfaktan-kolesterol, dilarutkan dalam dietil eter pada labu alas bulat
lalu diuapkan pada suhu kamar dengan tekanan rendah. Film surfaktan kering
dihidrasi dengan fasa cair pada suhu 50-60`C sambil digoyang perlahan-lahan.
 Metode sonikasi
Fasa cair ditambahkan dalam surfaktan-kolesterol pada gelas vial, lalu campiran
disonikasi dalam perioda wamtu tertentu. Vesikel yang dihasilkan adalah vesikel
unilamelar yang kecil. Dalam hal ini dihasilkan ukuran vesikel niosom yang lebih
besar daripada liposom dengan diameter >100 nm.
 Metode Handjani-Villa
Sejumlah ekuivalen lipida (atau campuran lipida) dan larutan cair zat aktif
dicampur untuk memperoleh fase lamelar homogen. Homogenasi dilakukan pada
suhu terkendali dengan alat gojok atau ultrasentrifugasi.
 Metode evaporasi fase balik
Surfaktan dilarutkan dalam dietileter atau kloroform dan 1/4 volume dapar fosfat.
Campuran disonikasi dalam waktu tertentu hingga terbentuk emulsi air dalam
minyak yang stabil. Setelah itu, pelarut diuapkan dengan vakum tekanan rendah
hingga terbentuk gel lalu dihidrasi. Penguapan dilannutkan hingga proses hidrasi
berlangsung sempurna.
Proniosom
Penemuan proniosom mampu menjawab kesulitan dari semua metode pembuatan
niosom. Proniosom merupakan formulasi kering dari surfaktan-lapisan pembawa yang
kadarnya dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan, dan direhidrasi dengan agitasi singkat
pada air panas. Proniosom biasanya dibuat denganmenyemprotkan surfaktan dalam
pelarut organik ke serbuk sorbitol dan kemudian menguapkan pelarutnya, tetapi
karena sorbitol bersifat larut dalam pelarut organik, maka diperlukan proses
pengulangan sampai konsentrasi surfaktan yangdiinginkan tercapai. Surfaktan yang
melapisi vesikel sangat tipis dan hidrasi darilapisan ini membuat vesikel multilamelar
menjadi bentuk yang terlarut. Pembuatan niosom dari metode ini menghasilkan
produk yang serupa seperti metode konvensional, bahkan ukuran partikelnya lebih
seragam (Blazek-Welshand Rhodes, 2001).
Pembuatan niosom dari proniosom ini tergolong mudah, tetapi cukup sulit
untuk melapisi partikel sorbitol karena sorbitol bersifat mudah larut dalam kloroform
dan pelarut organik lainnya. Jika pembuatan larutan surfaktan terlalu cepat
maka partikel sorbitol akan rusak dan larutan menjadi kental. Untuk mencegah
kerusakan tersebut, beberapa metode pembuatan proniosom telah dicoba, salah
satunya adalah mengganti sorbitol dengan maltodekstrin sebagai bahan pembuatan
niosom. (Blazek-Welsh and Rhodes, 2001)

TRANSFERSOM
I. Pengertian
Transfersom merupakan suatu vesikel fleksibel yang memiliki inti akuatik yang
dikelilingi oleh kompleks lipid bilayer. Transfersom dibuat dari fosfolipid dan suatu
aktivator. Aktivator biasanya merupakan surfaktan rantai tunggal dengan radius
lengkungan yang besar yang mendestabilisasi lapisan lipid bilayer dari vesikel dan
meningkatkan deformabilitas dari bilayer.
II. Mekanisme
Ukuran transfersom bervariasi, dari 200 hingga 300 nm. Karena sifat
deformabilitasnya, transfersom dapat berdilatasi hingga sepersepuluh ukuran awal
dan dapat melewati pori-pori kulit (20-30 nm).

Gradien osmotik yang terbentuk dari perbedaan antara permukaan kulit dengan
epidermis mendorong penetrasi transfersom ke dalam kulit. Transfersom dapat
meningkatkan penghantaran obat dengan ukuran molekul kecil atau besar ke dalam
kulit atau ke dalam sirkulasi darah melalui kulit. Yang menarik, penggunaan
transfersom ini sebagai sediaan topikal, regional atau sistemik bergantung pada
jumlah transfersom yang diaplikasikan per luas permukaan kulit. Ketika
diaplikasikan dalam jumlah yang kecil, transfersom hanya akan berpenetrasi ke
kedalaman yang terbatas sebelum terdegradasi di kulit. Namun, jika diaplikasikan
lebih banyak lagi, transfersom dapat berpenetrasi hingga ke lapisan yang lebih
dalam lagi seperti otot. Peningkatan jumlah yang diaplikasikan akan menjenuhkan
lapisan kulit, jaringan subkutan, dan pada akhirnya transfersom akan masuk ke
sirkulasi sistemik melalui pembuluh limfatik.
III. Aplikasi/ Manfaaat
Keuntungan dari penggunaan transfersom ini adalah sifatnya yang
biodegradabel dan biokompatibel dengan tubuh. Selain itu, transfersom memiliki
kapasitas penjerapan yang tinggi, terutama untuk obat yang lipofilik jumlahnya
mencapai 90%. Transfersom juga dapat mencegah obat terdegradasi dan berfungsi
sebagai depot yang melepaskan obatnya secara perlahan dan bertahap. Tujuan dari
penggunaannya dapat lokal atau sitemik. Terakhir, pembuatan transfersom ini
mudah di scale up karena prosedurnya yang sederhana.
Transfersom banyak digunakan sebagai pembawa protein dan peptida seperti
interferon dan insulin. Protein dan peptida merupakan molekul besar yang sangat
sulit masuk ke dalam tubuh, ketika diberikan secara oral, dapat terdegradasi
sempurna di saluran cerna. Aplikasi lain yang penting dari transfersom adalah
imunisasi transdermal.
ETHOSOM
I. Pengertian
Ethosome merupakan suatu sistem penghantaran obat baru yang digunakan
untuk menghantarkan obat dengan sifat penetrasi ke membrane biologi kulit yang
rendah. Ethosome merupakan vesicular lipid yang mengandung fosfolipid, alkohol
(etanol dan isopropyl alkohol) dengan konsentrasi yang cukup tinggi, dan air.
Ukuran ethosome bervariasi dari puluhan nanometer hingga ukuran micron.
Tingginya konsentrasi etanol dalam komposisi ethosome membuat ethosom
bersifat unik. Etanol pada ethosome menyebabkan disturbansi lipid bilayer pada
kulit, dan karena itu, saat digabungkan dengan membrane vesikel, alkohol dapat
meningkatkan kemampuan vesikel untuk berpenetrasi ke stratum korneum. Selain
itu juga, karena tingginya konsentrasi alkohol menyebabkan membrane lipid
terbungkus lebih rapat dibandingkan dengan vesikel konvensional, tetapi memiliki
stabilitas yang setara, membentuk struktur yang lebih lunak, dan meningkatkan
kemampuan distribusi obat di lipid stratum korneum.
Ethosome digunakan untuk penghantaran obat melalui rute trasdermal. Tidak
seperti liposom klasik, ethosome dapat meningkatkan permeasi ke barrier stratum
korneum. Ethosom dapat memerangkap molekul obat dengan sifat fisikokimia yang
bervariasi, seperti hidrofilisitas, lipofilisitas, dan ampifilisitas.

Struktur Ethosome
Metode penyiapan ethosome
Sistem ethosome dapat dibuat dengan dua metode, yaitu metode dingin dan panas.
Kedua metode tersebut mudah dan nyaman dilakukan, tidak memerlukan alat yang
mahal, dan mudah untuk dilakukan up scalling ke skala industri.
a. Metode dingin
Metode ini merupakan metode yang umum digunakan untuk membuat
ethosome. Pada metode ini, fosfolipid, obat, dan bahan lipid lainnya dilarutkan
dalam etanol di bejana pada suhu ruang dengan pengadukan kuat
menggunakan mixer. Propilen glikol atau poliol lain ditambahkan selama
pengadukan. Campuran ini dipanaskan hingga 300oC dalam water bath. Air
dipanaskan pada bejana lain hingga 300oC dan ditambahkan ke campuran
yang kemudian diaduk selama 5 menit dalam bejana tertutup. Ukuran vesikel
ethosome dapat dikurangi hingga ukuran yang diinginkan menggunakan
sonikasi atau metode extrusi. Kemudian, farmulasi tersebut disimpan dalam
lemari es.
b. Metode panas
Pada metode ini, fosfolipid didispersikan dalam air dan dipanaskan dalam
water bath 400oC hingga terbentuk larutan koloidal. Pada bejana lain, etanol
dan propilen glikol dicampurkan dan dipanaskan hingga 400oC. Saat kedua
campuran mencapai suhu 400oC, fase organic ditambahkan ke fase air. obat
kemudian dilarutkan di air atau etanol tergantung sifat
hidrofilisitas/hidrofobisitas dari obat tersebut. Ukuran vesikel ethosome dapat
dikurangi sesuai dengan keinginan menggunakan sonikasi atau metode extrusi.

II. Mekanisme
Lapisan lipid multilayer stratum korneum pada temperature fisiologi tubuh
sangat tebal. Ethosome yang mengandung etanol pada komposisinya, yang
berinteraksi dengan molekul lipid pada bagian polar, menyebabkan meningkatnya
fluiditas dari lipid stratum korneum. Proses ini bertanggung jawab pada
meningkatnya inter dan intraselular permeabilitas ethosom. Selain itu, etanol
berperan juga pada fleksibilitas dari membrane etosome yang memfasilitasi
permeasi. Vesikel etosom yang lunak dapat masuk ke sela-sela stratum korneum
dan melepaskan obat pada lapisan terdalam kulit. Absorpsi transdermal dari obat
dapat menyebabkan fusi antara vesikel ethosome dan lipid kulit sehingga dapat
menyebabkan pelepasan obat di beberapa titik pada jalur penetrasi ethosome.
Secara umum mekanisme penetrasi ethosome terjadi dalam dua fase, yaitu
fase etanol dan fase ethosom.
a. Fase etanol : etanol berperan sebagai penetrant enhancer pada kulit.
Mekanisme penetrasi dari etanol telah diketahui dengan jelas. Etanol
berpenetrasi ke lipid interselular dan meningkatkan fluiditas membrane sel
lipid, dan menurunkan densitas lipid multilayer di membrane sel.
b. Fase ethosome : meningkatnya fluiditas membrane sel lipid yang disebabkan
oleh etanol menyebabkan meningkatnya permeabilitas kulit. Dengan begitu,
ethosome dapat berpenetrasi dengan mudah ke dalam lapisan kulit dimana
etosom dapat berfusi dengan lipid kulit dan obat dapat lepas ke lapisan kulit.

Mekanisme Penetrasi Ethosome


III. Aplikasi/ Manfaat
a. NSAID (Diklofenak) : penghantaran selektif obat untuk membuat pelepasan
yang diperpanjang.
b. Acyclovir : meningkatkan permeasi kulit, meningkatkan aktivitas biologi
sebanyak 2-3 kali lipat, dan meningkatkan profil farmakodinamik.
c. Insulin : menurunkan kadar gula darah secara signifikan dan membuat
pelepasan terkendali.
d. Trihexyphenidyl hydrochloride : meningkatkan flux transdermal, membuat
pelepasan terkendali, meningkatkan kepatuhan pasien, dan aktif secara biologi
pada dosis yang lebih rendah dari dosis yang umumnya digunakan.
e. Antibiotik, Cannabinol, dan Eritromisin : meningkatkan deposisi kulit,
meningkatkan aktivitas biologi, membuat pelepasan diperpanjang.
f. Basitrasin : meningkatkan deposisi kulit, meningkatkan penghantaran
intraselular, meningkatkan bioavailabilitas.
g. Anti-HIV, Zidovudin, dan Lamivudine : meningkatkan flux transdermal,
meningkatkan aktivitas biologi 2-3 kali lipat, membuat pelepasan diperpanjang,
mengurangi toksisitas obat, mempengaruhi histology normal kulit.
h. Azelaic acid : membuat pelepasan diperpanjang
i. Ammonium glycyrrhizinate : meningkatkan deposisi kulit, membuat pelepasan
tertunda, dan meningkatkan aktivitas antiinflamasi.

Aplikasi lain :

- Targeting pilosebaseus
- Penghantaran transdermal hormone
- Penghantaran agen antiparkinson
- Penghantaran transselular
- Penghantaran topical DNA
- Penghantaran antiarthrritis
- Penghantaran antibiotic dan antivirus

Keuntungan penghantaran menggunakan ethosome dibandingkan sistem


panghantaran trasndermal lain adalah sebagai berikut :

a. Meningkatkan permeasi obat melalui kulit untuk penghantaran obat


transdermal.
b. Memungkinkan penghantaran molekul-molekul berukuran bersar (peptide,
molekul protein).
c. Mengandung bahan tidak toksik pada formulasinya.
d. Meningkatkan ketaatan pesien karena bentuk sediaan ethosome adalah
semisolid (gel atau krim).
e. Sistem ethosome bersifat pasif dan non-invasif.
f. Sistem penghantaran ethosome dapat digunakan secara luas pada bidang
farmasi, obat hewan, dan kosmetik.
g. Metodenya lebih praktis dibandingkan dengan iontophoresis dan
phonophoresis, dan metode rumit lainnya.

VIROSOM
I. Pengertian
Virosom merupakan obat atau mekanisme pemberian vaksin yang terdiri dari
vesikel fosfolipid bilayer unulamelar yang menggabungkan protein yang berasal
virus sehingga memungkinkan virosom menyatu dengan sel target. Virosom tidak
dapat bereplikasi tapi aktif dalam bentuk vesikel fusi murni. Virosom terdiri dari
bilayer phospholipids (liposom) yang mengandung protein permukaan virus yang
menempel pada lapisan bilayer.

Virosom adalah vesikel unilamellar bulat dengan diameter rata-rata sekitar


150 nm. Virus influenza adalah yang paling umum digunakan untuk produksi
virosome. Virosom tidak bisa bereplikasi tapi vesikel fusi murni aktif. Berbeda
dengan liposom, virosom mengandung glikoprotein amplop fungsional virus, yaitu
virus influenza hemagglutinin (HA) dan neuraminidase (NA) yang diselingi dalam
membran fosfolipid bilayer. Karakteristik lebih lanjut dari virosom tergantung pada
pilihan komponen bilayer.
Virosom dapat dioptimalkan untuk penggabungan obat yang maksimal, atau
untuk efek fisiologis yang terbaik dengan memodifikasi isi atau jenis lipid membran
yang digunakan. Hal ini bahkan memungkinkan untuk menghasilkan pembawa
untuk antisense oligonukleotida atau molekul genetik lainnya, tergantung pada
muatan fosfolipid (positif atau negatif) yang dimasukkan ke dalam membran.
Berbagai ligan, seperti sitokin, peptida, dan antibodi monoklonal (mAbs) dapat
dimasukkan ke dalam virosom dan ditampilkan pada permukaan virosomal. Bahkan
fragmen antibodi monoklonal tumor spesifik dapat dihubungkan dengan virosom
untuk mengarahkan carrier untuk sel tumor yang dipilih.

II. Mekanisme
Pendekatan Penghantaran Obat
Senyawa obat bioaktif dapat terperangkap dalam interior virosome berair atau
dalam membran lipid dari virosome yang difasilitasi senyawa ke dalam sel.
Virosom sangat berguna untuk memberikan asam nukleat atau gen. Senyawa ini
dihantarkan ke sitoplasma sel inang pada perpaduan dari virosome dengan
endosome atau membran plasma. Asam nukleat atau gen encoding protein alami
dapat diperkenalkan ke dalam sel inang dan dapat dinyatakan, asalkan ekspresi pita
berisi cis-acting yang tepat.
Obat atau asam nukleat dapat dimasukkan ke dalam virosome pada saat
pernyiapan virosome. Senyawa bioaktif biasanya ditambahkan ke larutan lipid yang
mengandung HA sebagai penghilangan nukleokapsid tersebut. Selain itu, senyawa
bioaktif pada awalnya dapat dimasukkan ke dalam liposom, yang kemudian
menyatu dengan virosome berisi dua hemagglutinins dengan batas pH yang berbeda
untuk membentuk hibrida virosome-liposom..
Administrasi Virosom
Umumnya, virosom tersuspensi dalam air garam buffer (135-150 mM NaCl).
Komposisi ini harus disterilkan dengan teknik sterilisasi konvensional liposomal,
seperti filtrasi membran. Formulasi juga umumnya mengandung zat tambahan
seperti zat yang diperlukan untuk mensimulasikan kondisi fisiologis, seperti
buffering agent dan pengatur isotonisitas (natrium asetat, natrium laktat, natrium
klorida, kalium klorida, kalsium klorida). Konsentrasi virosom digunakan berkisar
20-200 mg / mL. Konsentrasi tersebut bervariasi untuk mengoptimalkan pengobatan
dengan komponen virosome berbeda atau untuk tujuan tertentu.
Virosom yang diberikan dalam berbagai rute seperti, parenteral, intravena,
intramuskular, subkutan, intra-arteri, dan inhalable pengiriman. Selain itu, virosom
dapat diberikan secara topikal, oral, atau transdermal. Para virosom juga dapat
dimasukkan ke dalam perangkat implan untuk dirilis dalam jangka panjang.

III. Aplikasi/ Manfaat


Virosom mewakili suatu sistem pengiriman obat inovatif untuk berbagai
molekul biologis aktif, terutama asam nukleat atau gen dan untuk berbagai indikasi.
Permukaan virosom dapat dimodifikasi sesuai keperluan untuk memudahkan
pengiriman obat yang ditargetkan. Namun, kekomprehensifan dengan profil
farmakokinetik, bioavailabilitas, efek klinis, dan stabilitas harus dipelajari secara
menyeluruh untuk memastikan kualitas jangka panjang virosom sebagai sarana
yang aman, efektif, dan terjangkau untuk pengiriman obat dan penargetan.
Keuntungan dari Penghantaran Obat secara Virosomal
 Teknologi Virosomal disetujui oleh FDA untuk digunakan pada manusia, dan
memiliki profil keamanan yang tinggi
 Virosome bersifat biodegradable, biokompatibel, dan non-toxic
 tak ada risiko penularan penyakit
 tidak ada autoimunogenitas atau anafilaksis
 berlaku luas, hampir semua obat penting (obat antikanker, protein, peptida,
asam nukleat, antibiotik, fungisida)
 memungkinkan pengiriman obat ke dalam sitoplasma sel target
 mempromosikan kegiatan fusi di jalur endolysosomal
 melindungi obat terhadap degradasi.
 memungkinkan pengiriman target antigen yang spesifik dan amplifikasi dari
respon kekebalan.

PHARMACOSOM
I. Pengertian
Farmakosom adalah dispersi koloidal obat yang terikat pada lipid dan
berbentuk ultrafine vesicular, misellar, atau agregat heksagonal bergantung dari
struktur kimia kompleks obat-proteinnya. Farmakosom adalah kompleks ampifilik
fosfolipid dari obat yang hidrogen aktifnya berikatan dengan fosfolipid.
Farmakosom ini dapat meningkatkan bioavailabilitas dari suatu obat . Konsep
farmakosom ini telah diterapkan pada beberapa obat yaitu NSAID, protein,
kardiovaskular, dan antineoplastik. Perkembangan obat farmakosom ini
dimaksudkan untuk meningkatkan absorbsi dan meminimalkan toksisitas
gastrointestinal.
II. Mekanisme
Farmakosom dapat berinteraksi dengan bimembran yang memungkinkan
terjadinya transfer zat aktif yang lebih baik. Interaksi ini mengarah pada perubahan
suhu pada fase transisi bimembran, hal ini meningkatkan fluiditas membran dan
berperngaruh pada peningkatan permeasi dari obat.
Farmakosom sesuai untuk menginkorporasikan obat yang bersifat hidrofil
maupun lipofilik. Terjadi penjerapan obat pada pembawa dan terjadi konjugasi obat
dengan bentuk vesikel lipid. Pada farmakosom, Fluiditas membrane bergantung
pada suhu fase transisi dari kompleks obat-lipid yang terjadi, tetapi ini tidak
berpengaruh pada kecepatan pelepasan oabat dari ikatan. Obat dilepaskan dari
pembawa melalui proses hidrolisis (termasuk reaksi enzimatik). Stabilitas
fisikokimia dari farmakosom bergantung pada sifat fisikokimia kompleks obat-lipid
yang terjadi. Farmakosom ini dapat diberikan dalam bentuk oral, topical, maupun
intravascular.
Metode pembuatan farmakosom:
 Metode hand-shaking
Lapisan film tipis dari kompleks obat-lipid (dengan atau tanpa lesitin) di
depositkan ke dalam labu yang alasnya bulat dan lakukan hidrasi dengan
media air, lalu dengan cepat berikan suspense vesikel.
 Metode Injeksi ether
Larutan organic dari kompleks obat-lipid di injeksikan secara perlahan ke
dalam meda air yang hangat, lalu vesikel siap dibentuk.

III. Aplikasi/ Manfaat


 NSAID : penghantaran selektif obat untuk membuat pelepasan yang
diperpanjang.
 Antibiotik, Cannabinol, dan Eritromisin : meningkatkan deposisi kulit,
meningkatkan aktivitas biologi, membuat pelepasan diperpanjang.
 Obat-obatan kardiovaskular : meningkatkan kelarutan obat dan menurunkan
efek samping dari obat tersebut
 Obat-obatan antineoplastik

Daftar Pustaka
Biju, S.S., Talegaonkar, S., Mishra, P.R., Khar, R.K., 2006, Vesikular System : An
Overview, Indian Journal Of Pharmaceutical Science, 68(2): 141-153
Blazek-Welsh. A.I., Rhodes, D.G., 2001, Maltodekstrin Based Proniosomes, AAPS
Pharm. Sci. 3(1)
Lasic, D.D. Applications of Liposomes. California : Liposome Technology, Inc
Jufri, Mahdi. Arah dan Perkembangan Liposome Drugs Delivery System. Majalah Ilmu
Kefarmasian, Vol. I, No.2, Agustus 2004, 59 – 68.

Anda mungkin juga menyukai