Liposom dan Sistem Pembawa Obat
Liposom dan Sistem Pembawa Obat
Biologi Farmasi
Oleh:
Sekolah Farmasi
2011
LIPOSOM, NIOSOM, TRANSFERSOM, ETHOSOM, VIROSOM dan
PHARMACOSOM
Saat ini penelitian mengenai obat-obatan terus dilakukan sehingga diperoleh obat
dengan efikasi yang maksimal. Beberapa obat memiliki indeks terapi yang sempit dan
penggunaannya dibatasi karena memiliki efek samping. Oleh karena itu, formulasi obat
terus dikembangkan untuk mendapatkan efektivitas terapi yang diharapkan. Beberapa
teknik sedang dikembangkan agar obat dapat mencapai target di tempat yang spesifik tanpa
mempengaruhi jaringan lain sehingga dapat mencegah efek toksik (Biju et al, 2006).
Banyak senyawa aktif memiliki bioavaibilitas dan kelarutan dalam air yang rendah
sehingga diperlukan suatu sistem pembawa yang cocok untuk obat hidrofobik. Obat-obat
yang kelarutannya kecil dalam air merupakan suatu permasalahan dalam industri farmasi
karena pada umumnya obat diabsorbsi dari saluran cerna dengan mekanisme difusi pasif
sehingga kecepatan absorbsi obatakan menentukan bioavaibilitas. Salah satu pendekatan
untuk masalah ini adalah menggunakan vesikel yang sudah populer seperti liposom sebagai
penghantar obat. Dan pendekatan lain yaitu dengan menggunakan metode niosom,
transfersom, ethosom, virosom dan farmakosom.
LIPOSOM
I. Pengertian
Fosfolipid merupakan senyawa yang ampifilik dan mempunyai struktur dasar gliserol,
terdiri dari bagian kepala yang polar (gugus fosfat) dan bagian hidrofobik (satu atau
dua molekul asam lemak). Senyawa ini bermuatan netral sampai sedikit negatif.
Fosfatidil kolin adalah salah satu fosfolipid yang paling banyak digunakan dalam
sistem liposom. Karena terbuat dari bahan alami membran yang terbentuk menyerupai
lipid membran sel dan bersifat biokompatibel (biodegradasi, nontoksik, dan tidak
memicu respon imun).
II. Mekanisme
a) Pemasukan obat ke dalam Liposom
Klasifikasi obat yang dapat dimasukkan ke dalam liposom dilakukan
berdasarkan koefisien partisi minyak/dapar dan oktanol.dapar yaitu :
Senyawa hidrofilik (larut air) dengan harga Kp rendah untuk
minyak/dapar dan oktanol/dapar
Senyawa ampifatik, yaitu Kp rendah untuk minya/dapar dan Kp
sedang sampai tinggi untuk Kp oktanol/dapar
Senyawa lipofilik mempunyai Kp tinggi untuk minyak/dapar.
Metode pemasukan obat ke liposom dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu ;
III. Aplikasi/Manfaat
Dewasa ini, penggunaan liposom dalam bidang medis sudah sangat luas diantaranya
sebagai diagnosis, kemoterapi, imunoterapi, dan terapi gen. liposom juga telah
digunakan sebagai alat pembelajaran untuk mempelajari transpor transmembran,
permeabilitas lipid lapis ganda, fusi membran, dan interaksi protein lipid. Selain itu,
liposom juga telah digunakan sebagai suatu pembawa obat, enzim, materi genetik, dan
bahan kosmetik.
Liposom sebagai pembawa obat memiliki beberapa kelebihan yaitu :
Liposom dapat mengarahkan obat pada target tertentu, misalnya pada long-
circulating liposomes yang bekerja pada target selektif area patologis tertentu.
Liposom sebagai reservoir obat yang melepaskan obat secara perlahan
sehingga akan meningkatkan efektivitas obat dan memperpanjang masa edar
obat dalam darah
Liposom dapat melindungi obat dari degradasi sebelum mencapai target
Liposom melindungi pasien dari efek samping langsung dari obat yang
terpapar
Liposom dapat melarutkan obat lipofilik yang sulit diberikan secara intravena
sehingga pemberiannya di kemudian hari akan lebih mudah.
Berbagai metode untuk pembuatan niosom telah diteliti, tetapi metode ini
memiliki beberapa kelemahan yaitu preparasi yang rumit, waktu yang lama, dan alat-
alat khusus. Sekarang ini sedang diteliti pembuatan niosom dari hidrasi proniosom.
Metode ini lebih mudah dan tidak memerlukan alat khusus. Proniosom dibuat dengan
menyemprotkan surfaktan dalam pelarut organik keserbuk sorbitol kemudian
menguapkan pelarutnya, tetapi untuk melapisi partikel sorbitol ini sulit karena sorbitol
yang digunakan larut dalam pelarut organik sehingga partikel sorbitol dapat
terdegradasi dan menjadi sangat kental. Untuk mencegah hal ini, beberapa metode
pembuatan proniosom telah dicoba, salah satunya adalah mengganti sorbitol dengan
maltodekstrin (Blazek-Welsh and Rhodes, 2001).
Pada niosom, cairan akan dilingkupi lapisan bilayer yang tersusun dari
surfaktan non ionik, dengan atau tanpa kolesterol, dan bekerja menyerupai liposom
pada in vivo. Struktur vesikel bilayer tersusun dari bagian ekor yang bersifat
hidrofobik dari monomer surfaktan yang melindungi dari lingkungan cair dan bagian
kepala bersifat hidrofilik yang bersentuhan dengan lingkungan cair. Kolesterol dapat
membuat kaku lapisan bilayer sehingga dapat mengurangi kebocoran pada niosom.
Dicetylphosphat (DCP) juga diketahui dapat meningkatkan ukuran vesikel dan
menyebabkan muatan pada vesikel (Biju et al, 2006).
Niosom dapat dibuat dengan metode hidrasi lapisan lemak (reverse phase
evaporation) atau perubahan pH pada bagian permukaan hingga membentuk vesikel
multilamellar. Pemilihan metode pembuatan niosom dapat didasarkan pada tujuan
penggunaannya karena metode preparasi mempengaruhi jumlah lapisan ganda,
ukuran, distribusi ukuran, serta efisiensi penjeratan fasa cair dan permeabilitas
membran vesikel. Metode lain yang dapat dilakukan di antaranya :
Metode injeksi eter
Campuran surfaktan-kolesterol, dilarutkan dalam dietil eter lalu diinjeksikan
perlahan-lahan ke fasa cair pada suhu 60`C. Setelah eter diuapkan akan
dihasilkan LUVs. Kekurangan metode ini adalah masih tersisanya sejumlah kecil
eter dalam suspensi vesikel dan sangat sulit dihilangkan.
Metode film tipis
Campuran surfaktan-kolesterol, dilarutkan dalam dietil eter pada labu alas bulat
lalu diuapkan pada suhu kamar dengan tekanan rendah. Film surfaktan kering
dihidrasi dengan fasa cair pada suhu 50-60`C sambil digoyang perlahan-lahan.
Metode sonikasi
Fasa cair ditambahkan dalam surfaktan-kolesterol pada gelas vial, lalu campiran
disonikasi dalam perioda wamtu tertentu. Vesikel yang dihasilkan adalah vesikel
unilamelar yang kecil. Dalam hal ini dihasilkan ukuran vesikel niosom yang lebih
besar daripada liposom dengan diameter >100 nm.
Metode Handjani-Villa
Sejumlah ekuivalen lipida (atau campuran lipida) dan larutan cair zat aktif
dicampur untuk memperoleh fase lamelar homogen. Homogenasi dilakukan pada
suhu terkendali dengan alat gojok atau ultrasentrifugasi.
Metode evaporasi fase balik
Surfaktan dilarutkan dalam dietileter atau kloroform dan 1/4 volume dapar fosfat.
Campuran disonikasi dalam waktu tertentu hingga terbentuk emulsi air dalam
minyak yang stabil. Setelah itu, pelarut diuapkan dengan vakum tekanan rendah
hingga terbentuk gel lalu dihidrasi. Penguapan dilannutkan hingga proses hidrasi
berlangsung sempurna.
Proniosom
Penemuan proniosom mampu menjawab kesulitan dari semua metode pembuatan
niosom. Proniosom merupakan formulasi kering dari surfaktan-lapisan pembawa yang
kadarnya dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan, dan direhidrasi dengan agitasi singkat
pada air panas. Proniosom biasanya dibuat denganmenyemprotkan surfaktan dalam
pelarut organik ke serbuk sorbitol dan kemudian menguapkan pelarutnya, tetapi
karena sorbitol bersifat larut dalam pelarut organik, maka diperlukan proses
pengulangan sampai konsentrasi surfaktan yangdiinginkan tercapai. Surfaktan yang
melapisi vesikel sangat tipis dan hidrasi darilapisan ini membuat vesikel multilamelar
menjadi bentuk yang terlarut. Pembuatan niosom dari metode ini menghasilkan
produk yang serupa seperti metode konvensional, bahkan ukuran partikelnya lebih
seragam (Blazek-Welshand Rhodes, 2001).
Pembuatan niosom dari proniosom ini tergolong mudah, tetapi cukup sulit
untuk melapisi partikel sorbitol karena sorbitol bersifat mudah larut dalam kloroform
dan pelarut organik lainnya. Jika pembuatan larutan surfaktan terlalu cepat
maka partikel sorbitol akan rusak dan larutan menjadi kental. Untuk mencegah
kerusakan tersebut, beberapa metode pembuatan proniosom telah dicoba, salah
satunya adalah mengganti sorbitol dengan maltodekstrin sebagai bahan pembuatan
niosom. (Blazek-Welsh and Rhodes, 2001)
TRANSFERSOM
I. Pengertian
Transfersom merupakan suatu vesikel fleksibel yang memiliki inti akuatik yang
dikelilingi oleh kompleks lipid bilayer. Transfersom dibuat dari fosfolipid dan suatu
aktivator. Aktivator biasanya merupakan surfaktan rantai tunggal dengan radius
lengkungan yang besar yang mendestabilisasi lapisan lipid bilayer dari vesikel dan
meningkatkan deformabilitas dari bilayer.
II. Mekanisme
Ukuran transfersom bervariasi, dari 200 hingga 300 nm. Karena sifat
deformabilitasnya, transfersom dapat berdilatasi hingga sepersepuluh ukuran awal
dan dapat melewati pori-pori kulit (20-30 nm).
Gradien osmotik yang terbentuk dari perbedaan antara permukaan kulit dengan
epidermis mendorong penetrasi transfersom ke dalam kulit. Transfersom dapat
meningkatkan penghantaran obat dengan ukuran molekul kecil atau besar ke dalam
kulit atau ke dalam sirkulasi darah melalui kulit. Yang menarik, penggunaan
transfersom ini sebagai sediaan topikal, regional atau sistemik bergantung pada
jumlah transfersom yang diaplikasikan per luas permukaan kulit. Ketika
diaplikasikan dalam jumlah yang kecil, transfersom hanya akan berpenetrasi ke
kedalaman yang terbatas sebelum terdegradasi di kulit. Namun, jika diaplikasikan
lebih banyak lagi, transfersom dapat berpenetrasi hingga ke lapisan yang lebih
dalam lagi seperti otot. Peningkatan jumlah yang diaplikasikan akan menjenuhkan
lapisan kulit, jaringan subkutan, dan pada akhirnya transfersom akan masuk ke
sirkulasi sistemik melalui pembuluh limfatik.
III. Aplikasi/ Manfaaat
Keuntungan dari penggunaan transfersom ini adalah sifatnya yang
biodegradabel dan biokompatibel dengan tubuh. Selain itu, transfersom memiliki
kapasitas penjerapan yang tinggi, terutama untuk obat yang lipofilik jumlahnya
mencapai 90%. Transfersom juga dapat mencegah obat terdegradasi dan berfungsi
sebagai depot yang melepaskan obatnya secara perlahan dan bertahap. Tujuan dari
penggunaannya dapat lokal atau sitemik. Terakhir, pembuatan transfersom ini
mudah di scale up karena prosedurnya yang sederhana.
Transfersom banyak digunakan sebagai pembawa protein dan peptida seperti
interferon dan insulin. Protein dan peptida merupakan molekul besar yang sangat
sulit masuk ke dalam tubuh, ketika diberikan secara oral, dapat terdegradasi
sempurna di saluran cerna. Aplikasi lain yang penting dari transfersom adalah
imunisasi transdermal.
ETHOSOM
I. Pengertian
Ethosome merupakan suatu sistem penghantaran obat baru yang digunakan
untuk menghantarkan obat dengan sifat penetrasi ke membrane biologi kulit yang
rendah. Ethosome merupakan vesicular lipid yang mengandung fosfolipid, alkohol
(etanol dan isopropyl alkohol) dengan konsentrasi yang cukup tinggi, dan air.
Ukuran ethosome bervariasi dari puluhan nanometer hingga ukuran micron.
Tingginya konsentrasi etanol dalam komposisi ethosome membuat ethosom
bersifat unik. Etanol pada ethosome menyebabkan disturbansi lipid bilayer pada
kulit, dan karena itu, saat digabungkan dengan membrane vesikel, alkohol dapat
meningkatkan kemampuan vesikel untuk berpenetrasi ke stratum korneum. Selain
itu juga, karena tingginya konsentrasi alkohol menyebabkan membrane lipid
terbungkus lebih rapat dibandingkan dengan vesikel konvensional, tetapi memiliki
stabilitas yang setara, membentuk struktur yang lebih lunak, dan meningkatkan
kemampuan distribusi obat di lipid stratum korneum.
Ethosome digunakan untuk penghantaran obat melalui rute trasdermal. Tidak
seperti liposom klasik, ethosome dapat meningkatkan permeasi ke barrier stratum
korneum. Ethosom dapat memerangkap molekul obat dengan sifat fisikokimia yang
bervariasi, seperti hidrofilisitas, lipofilisitas, dan ampifilisitas.
Struktur Ethosome
Metode penyiapan ethosome
Sistem ethosome dapat dibuat dengan dua metode, yaitu metode dingin dan panas.
Kedua metode tersebut mudah dan nyaman dilakukan, tidak memerlukan alat yang
mahal, dan mudah untuk dilakukan up scalling ke skala industri.
a. Metode dingin
Metode ini merupakan metode yang umum digunakan untuk membuat
ethosome. Pada metode ini, fosfolipid, obat, dan bahan lipid lainnya dilarutkan
dalam etanol di bejana pada suhu ruang dengan pengadukan kuat
menggunakan mixer. Propilen glikol atau poliol lain ditambahkan selama
pengadukan. Campuran ini dipanaskan hingga 300oC dalam water bath. Air
dipanaskan pada bejana lain hingga 300oC dan ditambahkan ke campuran
yang kemudian diaduk selama 5 menit dalam bejana tertutup. Ukuran vesikel
ethosome dapat dikurangi hingga ukuran yang diinginkan menggunakan
sonikasi atau metode extrusi. Kemudian, farmulasi tersebut disimpan dalam
lemari es.
b. Metode panas
Pada metode ini, fosfolipid didispersikan dalam air dan dipanaskan dalam
water bath 400oC hingga terbentuk larutan koloidal. Pada bejana lain, etanol
dan propilen glikol dicampurkan dan dipanaskan hingga 400oC. Saat kedua
campuran mencapai suhu 400oC, fase organic ditambahkan ke fase air. obat
kemudian dilarutkan di air atau etanol tergantung sifat
hidrofilisitas/hidrofobisitas dari obat tersebut. Ukuran vesikel ethosome dapat
dikurangi sesuai dengan keinginan menggunakan sonikasi atau metode extrusi.
II. Mekanisme
Lapisan lipid multilayer stratum korneum pada temperature fisiologi tubuh
sangat tebal. Ethosome yang mengandung etanol pada komposisinya, yang
berinteraksi dengan molekul lipid pada bagian polar, menyebabkan meningkatnya
fluiditas dari lipid stratum korneum. Proses ini bertanggung jawab pada
meningkatnya inter dan intraselular permeabilitas ethosom. Selain itu, etanol
berperan juga pada fleksibilitas dari membrane etosome yang memfasilitasi
permeasi. Vesikel etosom yang lunak dapat masuk ke sela-sela stratum korneum
dan melepaskan obat pada lapisan terdalam kulit. Absorpsi transdermal dari obat
dapat menyebabkan fusi antara vesikel ethosome dan lipid kulit sehingga dapat
menyebabkan pelepasan obat di beberapa titik pada jalur penetrasi ethosome.
Secara umum mekanisme penetrasi ethosome terjadi dalam dua fase, yaitu
fase etanol dan fase ethosom.
a. Fase etanol : etanol berperan sebagai penetrant enhancer pada kulit.
Mekanisme penetrasi dari etanol telah diketahui dengan jelas. Etanol
berpenetrasi ke lipid interselular dan meningkatkan fluiditas membrane sel
lipid, dan menurunkan densitas lipid multilayer di membrane sel.
b. Fase ethosome : meningkatnya fluiditas membrane sel lipid yang disebabkan
oleh etanol menyebabkan meningkatnya permeabilitas kulit. Dengan begitu,
ethosome dapat berpenetrasi dengan mudah ke dalam lapisan kulit dimana
etosom dapat berfusi dengan lipid kulit dan obat dapat lepas ke lapisan kulit.
Aplikasi lain :
- Targeting pilosebaseus
- Penghantaran transdermal hormone
- Penghantaran agen antiparkinson
- Penghantaran transselular
- Penghantaran topical DNA
- Penghantaran antiarthrritis
- Penghantaran antibiotic dan antivirus
VIROSOM
I. Pengertian
Virosom merupakan obat atau mekanisme pemberian vaksin yang terdiri dari
vesikel fosfolipid bilayer unulamelar yang menggabungkan protein yang berasal
virus sehingga memungkinkan virosom menyatu dengan sel target. Virosom tidak
dapat bereplikasi tapi aktif dalam bentuk vesikel fusi murni. Virosom terdiri dari
bilayer phospholipids (liposom) yang mengandung protein permukaan virus yang
menempel pada lapisan bilayer.
II. Mekanisme
Pendekatan Penghantaran Obat
Senyawa obat bioaktif dapat terperangkap dalam interior virosome berair atau
dalam membran lipid dari virosome yang difasilitasi senyawa ke dalam sel.
Virosom sangat berguna untuk memberikan asam nukleat atau gen. Senyawa ini
dihantarkan ke sitoplasma sel inang pada perpaduan dari virosome dengan
endosome atau membran plasma. Asam nukleat atau gen encoding protein alami
dapat diperkenalkan ke dalam sel inang dan dapat dinyatakan, asalkan ekspresi pita
berisi cis-acting yang tepat.
Obat atau asam nukleat dapat dimasukkan ke dalam virosome pada saat
pernyiapan virosome. Senyawa bioaktif biasanya ditambahkan ke larutan lipid yang
mengandung HA sebagai penghilangan nukleokapsid tersebut. Selain itu, senyawa
bioaktif pada awalnya dapat dimasukkan ke dalam liposom, yang kemudian
menyatu dengan virosome berisi dua hemagglutinins dengan batas pH yang berbeda
untuk membentuk hibrida virosome-liposom..
Administrasi Virosom
Umumnya, virosom tersuspensi dalam air garam buffer (135-150 mM NaCl).
Komposisi ini harus disterilkan dengan teknik sterilisasi konvensional liposomal,
seperti filtrasi membran. Formulasi juga umumnya mengandung zat tambahan
seperti zat yang diperlukan untuk mensimulasikan kondisi fisiologis, seperti
buffering agent dan pengatur isotonisitas (natrium asetat, natrium laktat, natrium
klorida, kalium klorida, kalsium klorida). Konsentrasi virosom digunakan berkisar
20-200 mg / mL. Konsentrasi tersebut bervariasi untuk mengoptimalkan pengobatan
dengan komponen virosome berbeda atau untuk tujuan tertentu.
Virosom yang diberikan dalam berbagai rute seperti, parenteral, intravena,
intramuskular, subkutan, intra-arteri, dan inhalable pengiriman. Selain itu, virosom
dapat diberikan secara topikal, oral, atau transdermal. Para virosom juga dapat
dimasukkan ke dalam perangkat implan untuk dirilis dalam jangka panjang.
PHARMACOSOM
I. Pengertian
Farmakosom adalah dispersi koloidal obat yang terikat pada lipid dan
berbentuk ultrafine vesicular, misellar, atau agregat heksagonal bergantung dari
struktur kimia kompleks obat-proteinnya. Farmakosom adalah kompleks ampifilik
fosfolipid dari obat yang hidrogen aktifnya berikatan dengan fosfolipid.
Farmakosom ini dapat meningkatkan bioavailabilitas dari suatu obat . Konsep
farmakosom ini telah diterapkan pada beberapa obat yaitu NSAID, protein,
kardiovaskular, dan antineoplastik. Perkembangan obat farmakosom ini
dimaksudkan untuk meningkatkan absorbsi dan meminimalkan toksisitas
gastrointestinal.
II. Mekanisme
Farmakosom dapat berinteraksi dengan bimembran yang memungkinkan
terjadinya transfer zat aktif yang lebih baik. Interaksi ini mengarah pada perubahan
suhu pada fase transisi bimembran, hal ini meningkatkan fluiditas membran dan
berperngaruh pada peningkatan permeasi dari obat.
Farmakosom sesuai untuk menginkorporasikan obat yang bersifat hidrofil
maupun lipofilik. Terjadi penjerapan obat pada pembawa dan terjadi konjugasi obat
dengan bentuk vesikel lipid. Pada farmakosom, Fluiditas membrane bergantung
pada suhu fase transisi dari kompleks obat-lipid yang terjadi, tetapi ini tidak
berpengaruh pada kecepatan pelepasan oabat dari ikatan. Obat dilepaskan dari
pembawa melalui proses hidrolisis (termasuk reaksi enzimatik). Stabilitas
fisikokimia dari farmakosom bergantung pada sifat fisikokimia kompleks obat-lipid
yang terjadi. Farmakosom ini dapat diberikan dalam bentuk oral, topical, maupun
intravascular.
Metode pembuatan farmakosom:
Metode hand-shaking
Lapisan film tipis dari kompleks obat-lipid (dengan atau tanpa lesitin) di
depositkan ke dalam labu yang alasnya bulat dan lakukan hidrasi dengan
media air, lalu dengan cepat berikan suspense vesikel.
Metode Injeksi ether
Larutan organic dari kompleks obat-lipid di injeksikan secara perlahan ke
dalam meda air yang hangat, lalu vesikel siap dibentuk.
Daftar Pustaka
Biju, S.S., Talegaonkar, S., Mishra, P.R., Khar, R.K., 2006, Vesikular System : An
Overview, Indian Journal Of Pharmaceutical Science, 68(2): 141-153
Blazek-Welsh. A.I., Rhodes, D.G., 2001, Maltodekstrin Based Proniosomes, AAPS
Pharm. Sci. 3(1)
Lasic, D.D. Applications of Liposomes. California : Liposome Technology, Inc
Jufri, Mahdi. Arah dan Perkembangan Liposome Drugs Delivery System. Majalah Ilmu
Kefarmasian, Vol. I, No.2, Agustus 2004, 59 – 68.