Anda di halaman 1dari 18

A.

SKENARIO
MODUL 3
PERAN ODONTOLOGI FORENSIK DALAM IDENTIFIKASI KORBAN

Skenario 3
RECHARGE OUR SPIRIT

Ketika liburan akhir blok IX pepeng,mahasiswa PSPDG UNAND pulang ke


kampung halamanya di kota Nopan.Lelah rasanya setelah berjuang keras menghadapi
ujian blok IX yang dirasakan amat sulit.
Hujan lebat mengguyur sepanjang perjalanannya,dalam pikirannya terbayang
biasanya kalau begini sering terjadi longsor. Sesampainya di kampung langsung
tertidur pulas sesudah makan malam karena terlalu capek dalam perjalanan.
Menjelang fajar ia terjaga dari tidurnya karena mendengan bunyi gemuruh
yang keras, dari informasi radio komunikasi yang dibawa terdengar berita bahwa ada
tanah longsor di kampungnya dan menimbun beberapa rumah,korban belum dapat
diperkirakan.
Pepeng berpartisipasi membantu tim SAR yang terjun ke lapangan mencari
korban,ia diberi tugas menerima laporan masyarakat yang kehilangan anggota
keluarganya. Pepeng melihat ada anggota tim mewawancarai masyarakat yang
kehilangan keluarganya dan mengisi formulir data antemortem dan postmortem,
karena penasaran maka ia bertanya pada drg. Amitmundur yang bertugas dalam
tim,untuk apa semua data-data itu,dijelaskan bahwa ada prosedur tertentu yang harus
dilaksanakan dalam mengidentifikasi korban salah satunya adalah melengkapi data
antemortem agar dapat mengidentifikasi korban secara cepat dan akurat.
Drg.Bawor juga menjelaskan bahwa identifikasi gigi seseorang sangat penting
dan membantu sekali dalam mengidentifikasi korban seperti pengalamannya selama
ini dalam tim SAR.Sehingga disarankan agar bila nanti telah menjadi dokter gigi
yang kabarnya dari PSPDG UNAND mempunyai keunggulan dalam hal DVI harus
mengetahui dengan baik serta tahu peranannya sebagai dokter gigi dalam tim SAR.
Mendengar penjelasan drg Amit amit, semakin menggugah semangat pepeng
untuk rajin belajar dan segera menyelesaikan studinya agar dapat mendharmabaktikan
diri kepada negara dan sesama manusia.
Jelaskan pendapatmu tentang masalah ini !
B. LANGKAH SEVEN JUMPS
1. Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan hal-hal
yang dapat menimbulkan kesalahan interpretasi.
2. Menentukan masalah.
3. Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior
knowledge.
4. Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan dan
mencari korelasi dan interaksi agar masing-masing komponen untuk membuat
solusi secara terintegrasi.
5. Memformulasikan tujuan pembelajaran.
6. Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet ,dan lain-lain.
7. Sintesa dan uji informasi yang telah diperoleh.

C. DISKUSI
I. TERMINOLOGI
-
II. RUMUSAN MASALAH
1. Apa tindakan pertama yang dilakukan drg di TKP?
2. Apa info yang didapat pada data postmortem?
3. Apa info yang didapat pada data antemortem?
4. Apa saja prosedur dalam identifikasi korban?
5. Mengapa data antemortem sangat berpengaruh dalam identifikasi?
6. Apa saja macam-macam identifikasi?
7. Apa saja metode dalam identifikasi?
8. Bagaimana teknik identifikasi melalui gigi?
9. Apa keterbatasan odontologi forensik?
10. Apa saja ruang lingkup dari odontologi forensik?
11. Apa peran odontologi forensik dalam identifikasi?
12. Apa saja keunggulan odontologi forensik?
III. ANALISA MASALAH
1. Apa tindakan pertama yang dilakukan drg di TKP?
- membantu korban
- kerjasama dan koordinasi bersama tim penyidik
- pengumpulan barang bukti
- pemeriksaan ekstraoral
2. Apa info yang didapat pada data postmortem?
- gigi ada atau tidak
- atrisi
- gigi yang ditambal
- keadaan patologis dalam rongga mulut
- abrasi
- malposisi/rotasi
- foto gigi
- protesa
- karies
- anomaly mahkota
- pola tulang alveolar
- bentuk rahang atas an rahang bawah
3. Apa info yang didapat pada data antemortem?
- info dari keluarga
- rekam medic
- cetakan gigi
- sidik jari
- sempel darah
* jika tidak ada data antemortem maka dilakukan rekonstruksi
4. Apa saja prosedur dalam identifikasi korban?
- mengumpulkan data antemortem dan postmortem
- penelitian latar belakang
- tim SAR datang untuk identifikasi
- periksa mayat  dilakukan pengambilan sampel
- rekonstruksi pencocokan dan perbandingan
5. Mengapa data antemortem sangat berpengaruh dalam identifikasi?
Karena jika tidak ada data antemortem maka tidak ada pembanding
sehingga identifikasi tidak atau kurang akurat.
6. Apa saja macam-macam identifikasi?
- sistem terbuka : korban tidak dikenali dan data antemortem ada
- sistem tertutup : korban memiliki data antemortem
- sistem terbuka / tertutup : sebagian data korban diketahui dan
sebagiannya lagi tidak
7. Apa saja metode dalam identifikasi?
 Sederhana
 Visual
 Tubuh korban masih utuh
 Melihat pakaian yang dikenakan
 Ilmiah
 DNA,sidik jari,gigi
 Eksklusi
 Jika 9 dari 10 korban sudah dikenali,maka korban ke 10 tidak
perlu diidentifikasi lagi. Metode ini hanya bisa digunakan pada
kecelakaan atau bencana massal yang ada data
antemortemnya,seperti daftar nama penumpang.
 Superinposisi
 Membandingkan foto semasa hidup dengan tengkorak
8. Bagaimana teknik identifikasi melalui gigi?
 Manual
 Radiologi
 Bitemark
 Penentuan usia
 score and master
 gustaffson
 neonatal
 asam aspartat
 jenis kelamin
 ukuran mesiodistal : laki-laki 7mm,perempuan 6,7
 sel pada pulpa
 golongan darah
 saliva
 pulpa
9. Apa keterbatasan odontologi forensik?
- masih banyak orang-orang yang tidak punya data antemortem
- rugae palatal tidak bisa digunakan pada odontolous
- bitemark hanya bertahan 3 hari
10. Apa saja ruang lingkup odontologi forensik?
- identifikasi benda bukti: gigi
- penentuan umur: diperkirakan dari periode gigi
- penentuan jenis kelamin
- ras dan etnik
- analisis bite mark
11. Apa peran odontologi forensik dalam identifikasi?
- mengidentifikasi korban meninggal
- menentukan jenis kelamin, golongan darah
- gigi setiap orang berbeda
- menentukan umur
- gigi adalah struktur terkeras
12. Apa saja keunggulan odontologi forensik?
- gigi tahan pengaruh lingkungan ekstrim
- gigi tahan terhadap asam asam pekat
- gigi punya karakteristik tersendiri yang berbeda tiap orangnya
- data antemortem yang banyak
- dapat mengidentifikasi banyak hal; jenis kelamin, umur, ras, dll
IV. SKEMA

Pepeng

Bencana alam

Membantu tim SAR

Jenis,prosedur,metode Identifikasi korban

odontologi forensik

Peran dokter gigi Teknik identifikasi

V. Menentukan Tujuan Pembelajaran

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang jenis, prosedur, dan metode
identifikasi korban
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang peran dokter gigi dan
odontologi forensik dalam mengidentifikasi korban
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang apa saja teknik identifikasi
yang digunakan dalam odontologi forensik
VI. Mengumpulkan Informasi

VII. Sintesa dan Uji Informasi

1. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang


jenis,prosedur,dan metode identifikasi korban
 Identifikasi korban adalah identifikasi jenazah tidak dikenal,jenazah
rusak,membusuk,hangus terbakar pada kecelakaan,bencana alam,huru
hara yang mengakibatkan korban meninggal, serta potongan tubuh
manusia atau kerangka
 Identifikasi minimal harus menggunakan 2 cara dengan hasil positif.
Prinsipnya,membandingkan data tersangka korban dengan data dari
korban yang tidak dikenal.
 Identifikasi positif :
Minimal satu identitas primer,dengan atau tanpa identitas sekunder
atau minimal dua identitas sekunder bila tidak ada identitas primer
 Metode
 Primer : sidik jari,gigi,DNA
Sidik jari
Membandingkan sidik jari jenazah dengan data sidik jari ante
mortem. Pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang
diakui paling tinggi ketepatannya untuk menentukan identitas
seseorang.
Keuntungan dari metode ini mudah dilakukan secara massal
dan biaya yang murah. Metode ini membandingkan sidik jari
jenazah dengan data sidik jari antemortem. Sampai sekarang,
pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang diakui
paling tinggi ketepatannya untuk menetukan identitas
seseorang. Dengan demikian harus dilakukan penanganan yang
sebaik-baikbya terhadap jari tangan jenazah untuk pemeriksaan
sidik hari, misalnya dengan melakukan pembungkusan kedua
tangan jenazah dengan kantong plastik.
Odontologi
Suatu proses identifikasi dengan objeknya adalah gigi. Hal ini
dilakukan karena daya tahan gigi yang baik, sifatnya sangat
individual, informasi yang didapat (umur, ras, sex, golongan
darah, raut muka). Daya tahan panas gigi tingga hingga
mencapai abu bila pada suhu 538-649 derajat celcius dan 871
derajat celcius pada tambalan amalgam. Tanda adanya data
dental antemortem, data dental post mortem tidak berarti
karena tidak ada pembanding.
DNA
DNA adalah materi genetik yang membawa informasi yang
dapat diturunkan. Di dalam sel manusia DNA dapat ditemukan
di dalam inti sel dan di dalam mitokondria.
Hampir semua sampel biologis dapat dipakai untuk tes DNA,
seperti buccal swab (usapan mulut pada pipisebelah dalam),
darah, rambut beserta akarnya, walaupun lebih dipilih
penggunaan darah dalam tabung (sebanyak 2 ml) sebagai
sumber DNA.
Tes DNA dilakukan dengan berbagai alasan seperti persoalan
pribadi dan hukum antara lain ; tunjangan anak, perwalian
anak, adopsi, imigrasi, warisan dan masalah forensik (dalam
identifikasi korban bencana).
 Sekunder : rekam medik umum,data barang pribadi
korban,foto
 Sederhana : visual, property, foto, eksklusi
Visual
Cara visual dilakukan dengan memperlihatkan jenazah pada
keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Bermanfaat
bila kondisi mayat masih baik, mudah karena identitas dikenal
melalui penampakan luar berupa profil tubuh atau muka. Tidak
dapat diterapkan bila mayat telah busuk, terbakar, mutilasi
Dengan memperhatikan dengan cermat atas korban, terutama
wajahnya oleh pihak keluarga atau rekan dekatnya, maka jati
diri korban dapat diketahui. Walaupun metode ini sederhana,
untuk mendapatkan hasil yang diharapkan perlu diketahui
bahwa metode ini baru dapat dilakukan bila keadaan tubuh dan
terutama wajah korban dalam keadaan baik dan belum terjadi
pembusukan yang lanjut.
Selain itu perlu diperhatikan faktor psikologis, emosi, latar
belakang pendidikan; oleh karena faktor-faktor tersebut dapat
mempengaruhi hasil pemeriksaan.
Property
Melalui kepemilikan (property) identititas cukup dapat
dipercaya terutama bila kepemilikan tersebut berupa pakaian,
perhiasan yang masih melekat pada tubuh korban.
Eksklusi
Eksklusi digunakan pada kasus kecelakaan masal yang dapat
diketahui identitasnya, misalnya penumpang pesawat udara,
kapal laut dan sebagainya. Bila sebagian besar korban telah
dapat dipastikan identitasnya dengan menggunakan metode
indentifikasi yang lain, sedangkan identitas sisa korban tidak
dapat ditentukan dengan metode-metode tersebut diatas, maka
sisa korban diindentifikasi menurut daftar penumpang.
 Ilmiah : sidik jari,DNA,
odontologi,antropologi,serologi
 Ketika tidak ada yang dapat diidentifikasi, gigi dapat membantu untuk
membedakan usia seseorang, jenis kelamin,dan ras. Hal ini dapat
membantu untuk membatasi korban yang sedang dicari atau untuk
membenarkan/memperkuat identitas korban.
Penentuan Usia
Perkembangan gigi secara regular terjadi sampai usia 15 tahun.
Identifikasi melalui pertumbuhan gigi ini memberikan hasil yang yang
lebih baik daripada pemeriksaan antropologi lainnya pada masa
pertumbuhan. Pertumbuhan gigi desidua diawali pada minggu ke 6
intra uteri. Mineralisasi gigi dimulai saat 12 – 16 minggu dan berlanjut
setelah bayi lahir. Trauma pada bayi dapat merangsang stress
metabolik yang mempengaruhi pembentukan sel gigi. Kelainan sel ini
akan mengakibatkan garis tipis yang memisahkan enamel dan dentin
di sebut sebagai neonatal line. Neonatal line ini akan tetap ada
walaupun seluruh enamel dan dentin telah dibentuk. Ketika ditemukan
mayat bayi, dan ditemukan garis ini menunjukkan bahwa mayat sudah
pernah dilahirkan sebelumnya. Pembentukan enamel dan dentin ini
umumnya secara kasar berdasarkan teori dapat digunakan dengan
melihat ketebalan dari struktur di atas neonatal line. Pertumbuhan gigi
permanen diikuti dengan penyerapan kalsium, dimulai dari gigi molar
pertama dan dilanjutkan sampai akar dan gigi molar kedua yang
menjadi lengkap pada usia 14 – 16 tahun. Ini bukan referensi standar
yang dapat digunakan untuk menentukan umur, penentuan secara
klinis dan radiografi juga dapat digunakan untuk penentuan
perkembangan gigi.
Gambar 1
Gambar 1 memperlihatkan gambaran panoramic X ray pada anak-anak
(a) gambaran yang menunjukkan suatu pola pertumbuhan gigi dan
perkembangan pada usia 9 tahun (pada usia 6 tahun terjadi erupsi dari
akar gigi molar atau gigi 6 tapi belum tumbuh secara utuh).
Dibandingkan dengan diagram yang diambil dari Schour dan Massler
(b) menunjukkan pertumbuhan gigi pada anak usia 9 tahun.
Penentuan Jenis Kelamin
Ukuran dan bentuk gigi juga digunakan untuk penentuan jenis
kelamin. Gigi geligi menunjukkan jenis kelamin berdasarkan kaninus
mandibulanya. Anderson mencatat bahwa pada 75% kasus, mesio
distal pada wanita berdiameter kurang dari 6,7 mm, sedangkan pada
pria lebih dari 7 mm. Saat ini sering dilakukan pemeriksaan DNA dari
gigi untuk membedakan jenis kelamin.
Penentuan Ras
Gambaran gigi untuk ras mongoloid adalah sebagai berikut:
1. Insisivus berbentuk sekop. Insisivus pada maksila menunjukkan
nyata berbentuk sekop pada 85-99% ras mongoloid. 2 sampai 9 %
ras kaukasoid dan 12 % ras negroid memperlihatkan adanya
bentuk seperti sekop walaupun tidak terlalu jelas.
2. Dens evaginatus. Aksesoris berbentuk tuberkel pada permukaan
oklusal premolar bawah pada 1-4% ras mongoloid.
3. Akar distal tambahan pada molar 1 mandibula ditemukan pada
20% mongoloid.
4. Lengkungan palatum berbentuk elips.
5. Batas bagian bawah mandibula berbentuk lurus.

Gambar 2

Gambaran gigi untuk Ras kaukasoid adalah sebagai berikut:

1. Cusp carabelli, yakni berupa tonjolan pada molar


2. Pendataran daerah sisi bucco-lingual pada gigi premolar kedua dari
mandibula.
3. Maloklusi pada gigi anterior.
4. Palatum sempit, mengalami elongasi, berbentuk lengkungan
parabola.
5. Dagu menonjol.

Gambar 3

Gambaran gigi untuk ras negroid adalah sebagai berikut:


1. Pada gigi premolar 1 dari mandibula terdapat dua sampai tiga
tonjolan.
2. Sering terdapat open bite.
3. Palatum berbentuk lebar.
4. Protrusi bimaksila.

2. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang peran dokter


gigi dan odontologi forensik dalam mengidentifikasi korban

Salah satu metode dengan keakuratan cukup tinggi yang digunakan


dalam proses identifikasi terhadap korban dengan kerusakan tubuh yang parah
adalah dengan penerapan ilmu kedokteran gigi dalam bidang forensik atau
kedokteran gigi forensik. Hal ini dikarenakan gigi merupakan bagian dari
tubuh manusia yang paling kuat, biaya yang relatif murah dan tahan terhadap
kerusakan seperti kebakaran maupun pembusukan. 
Beberapa alasan dapat dikemukakan mengapa gigi dapat dipakai
sebagai sarana identifikasi:
 Pertama, gigi adalah bagian terkeras dari tubuh manusia yang
komposisi bahan organik dan airnya sedikit sekali dan sebagian besar
terdiri atas bahan anorganik sehingga tidak mudah rusak.
 Kedua, manusia memiliki 32 gigi dengan bentuk yang jelas dan
masing-masing mempunyai lima permukaan. Dengan demikian di
dalam rongga mulut terdapat 160 permukaan gigi dengan berbagai
variasi keadaan, yaitu baik, rusak, ditambal, dicabut, gigi tiruan,
implant dll. Di dunia ini menurut dokter gigi fornes menerangkan
bahwa kemungkinan terdapatnya dua orang dengan data gigi dan
mulut yang identik adalah satu berbanding dua milyar penduduk.
Melalui pengamatan gigi geligi, kita dapat memperoleh informasi
tentang umur, ras, jenis kelamin, golongan darah, ciri-ciri khas, dan
bentuk wajah atau raut muka korban. 
Saat ini di pengambilan data antemortem melalui pemeriksaan gigi
dilakukan dengan beberapa metoda, diantaranya charting (odontogram),
radiologi, dan cetakan gigi. Namun dalam pembuatan data antemortem
memerlukan biaya yang cukup besar sehingga sehingga metoda
charting(odontogram) merupakan metoda yang paling sederhana dan murah,
mudah dalam pembuatan dan penyimpanannya sehingga bisa dilaksanakan di
semua klinik dan praktek dokter gigi.
Kematian yang tidak wajar, tidak terduga, dalam kondisi bencana
massal, kerusakan fisik yang tidak direncanakan dan keterlambatan dalam
penemuan jenazah, bias mempersulit identifikasi. Dalam kondisi inilah peranan
kedokteran gigi forensik diperlukan walaupun tubuh korban sudah tidak
dikenali lagi.
Identifikasi dalam kematian penting dilakukan, karena menyangkut
masalah kemanusiaan dan hukum. Masalah kemanusian menyangkut hak bagi
yang meninggal, dan adanya kepentingan untuk menentukan pemakaman
berdasarkan agama dan permintaan keluarga. Mengenai masalah hukum,
seseorang yang tidak teridentifiksi karena hilang, tidak dipersoalkan lagi apabila
telah mencapai 7 tahun atau lebih. Dengan demikian surat wasiat, asuransi,
masalah pekerjaan dan hukum yang perlu diselesaikan, serta masalah status
pernikahan menjadi tidak berlaku lagi. Sebelum sebab kematian ditemukan atau
pemeriksa medis berhasil menentukan jenazah yang sulit diidentifikasi, harus
diingat bahwa kegagalan menemukan rekaman gigi dapat mengakibatkan
hambatan dalam identifikasi dan menghilangkan semua harapan keluarga,
sehingga sangat diperlukan rekaman gigi setiap orang sebelum dia meninggal.
Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah
tidak dikenal, jenazah yang rusak, membusuk, hangus terbakar dan kecelakaan
masal, bencana alam, huru hara yang mengakibatkan banyak korban meninggal, serta
potongan tubuh manusia atau kerangka. Selain itu identifikasi forensik juga
berperan dalam berbagai kasus lain seperti penculikan anak, bayitertukar, atau
diragukan orangtua nya.Identitas seseorang yang dipastikan bila paling sedikit
dua metode yang digunakan memberikan hasil positif.

3. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang apa saja teknik


identifikasi yang digunakan dalam odontologi forensik

A. Bitemark

a. Klasifikasi Pola gigitan (bitemark)


Pola gigitan mempunyai derajat perlukaan sesuai dengan
kerasnya gigitan, pada pola gigitan manusia terdapat 6 kelas yaitu:
o Kelas I : pola gigitan terdapat jarak dari gigi insisive dan
kaninus.
o Kelas II : pola gigitan kelas II seperti pola gigitan kelas I tetapi
terlihat pola gigitan cusp bukalis dan palatalis maupun cusp
bukalis dan cusp lingualis tetapi derajat pola gigitannya masih
sedikit.
o Kelas III: pola gigitan kelas III derajat luka lebih parah dari
kelas II yaitu permukaan gigit insisive telah menyatu akan
tetapi dalamnya luka gigitan mempunyai derajat lebih parah
dari pola gigitan kelas II.
o Kelas IV: pola gigitan kelas IV terdapat luka pada kulit dan
otot di bawah kulit yang sedikit terlepas atau rupture sehingga
terlihat pola gigitan irreguler.
o Kelas V: pola gigitan kelas V terlihat luka yang menyatu pola
gigitan insisive, kaninus dan premolar baik pada rahang atas
maupun bawah.
o Kelas VI: pola gigitan kelas VI memperlihatkan luka dari
seluruh gigitan dari rahang atas, rahang bawah, dan jaringan
kulit serta jaringan otot terlepas sesuai dengan kekerasan oklusi
dan pembukaan mulut.
b. Jenis-jenis pola gigitan pada manusia
Pola gigitan pada jaringan manusia sangatlah berbeda
tergantung organ tubuh mana yang terkena, apabial pola gigitan pelaku
seksual mempunyai lokasi tertentu, pada penyiksaan anak mempunyai
pola gigitan pada bagian tubuh tertentu pula akan tetapi pada gigitan
yang dikenal sebagai child abuse maka pola gigitannya hampir semua
bagian tubuh. Jenis pola gigitan pada manusia ada 4 macam yaitu: pola
gigitan heteroseksual, pola gigitan pada penyiksaan anak (child abuse),
pola gigitan hewan, pola gigitan homoseksual / lesbian, luka pada
tubuh korban yang menyerupai lluka pola gigitan
1. Pola gigitan heteroseksual
Pola gigitan pada pelaku-pelaku hubungan intim antar lawan jenis
dengan perkataan lain hubungan seksual antara pria dan wanita
terdapat penyimpangan yang sifatnya sedikit melakukan
penyiksaan yang menyebabkan lawan jenis sedikit kesakitan atau
menimbulkan rasa sakit.
o Pola gigitan dengan aksi lidah dan bibir: pola gigitan ini terjadi
pada waktu pelaksanaan birahi antara pria dan wanita.
o Pola gigitan pada organ genital: pola gigitan ini bila terjadi
pada pria biasanya dilakukan gigitan oleh orang yang dekat
dengannya misalnya istrinya atau teman selingkuhnyanya yang
mengalami cemburu buta.
o Pola gigitan pada sekitar organ genital: pola gigitan ini terjadi
akibat pelampiasan dari pasangannya atau istrinya akibat
cemburu buta yang dilakukan pada waktu suaminya tertidur
pulas setelah melakukan hubungan seksual.
o Pola gigitan pada organ genital: pola gigitan ini modus
operandinya yaitu pelampiasan emosional dari lawan jenis atau
istri karena cemburu buta. Biasanya hal itu terjadi pada waktu
korban tertidur lelap stelah melakukan hubungan intim.
o Pola gigitan pada mammae: pola gigitan ini terjadi pada waktu
pelaksanaan senggama atau berhubungan intim dengan lawan
jenis. Pola gigitan ini baik disekitar papilla mammae dan
lateral dari mammae. Oleh karena mammae merupakan suatu
organ tubuh setengah bulatan maka luka pola gigitan yang
dominan adalah gigitan kaninus. Sedangkan pola gigitan gigi
seri terlihat sedikit atau hanya memar saja.
2. Pola gigitan pada penyiksaan anak (child abuse)
Pola gigitan ini dapat terjadi pada seluruh lokasi atau di
sekeliling tubuh anak-anak atau balita yang dilakukan oleh ibunya
sendiri. Hal ini disebabkan oleh suatu aplikasi dari pelampiasan
gangguan psikis dari ibunya oleh karena kenakalan anaknya atau
kerewelan anaknya ataupun kebandelan dari anaknya. Pola
gigitan ini terjadi akibat faktor-faktor iri dan dengki dari teman
ibunya, atau ibu anak tetangganya oleh karena anak tersebut lebih
pandai, lebih lincah, lebih komunikatif dari anaknya sendiri maka
ia melakukan pelampiasan dengan menggunakan gigitannya dari
anak tersebut. Hal ini terjadi dengan rencana oleh karena ditunggu
pada waktu korban tersebut melewati pinggir atau depan rumahnya
dan kemudian setelah melakukan gigitan itu, ibu tersebut
melarikan diri. Lokasi pola gigitan pada bagian tubuh tertentu
yaitu daerah punggung, bahu atas, leher.
3. Pola gigitan hewan
Pola gigitan hewan umumnya terjadi sebagai akibat dari
penyerangan hewan peliharaan kepada korban yang tidak disukai
oleh hewan tersebut. Kejadian tersebut dapat terjadi tanpa instruksi
dari pemeliharanya atau dengan instruksi dari pemeliharanya.
Beberapa hewan yang menyerang korban karena instruksi dari
pemeliharanya biasanya berjenis herder atau Doberman yang
memang secara khusus dipelihara pawang anjing di jajaran
kepolisian untuk menangkap pelaku atau tersangka. Pola gigitan
hewan juga disebabkan sebagai mekanisme pertahanan diri
maupun sebagai pola penyerangan terhadap mangsanya
4. Pola gigitan homoseksual / lesbian
Pola gigitan ini terjadi sesama jenis pada waktu
pelampiasan birahinya. Biasanya pola gigitan ini di sekitar organ
genital yaitu paha, leher dan lain-lain.
5. Luka pada tubuh korban yang menyerupai luka pola gigitan.
Luka-luka ini terjadi pada mereka yang menderita depresi
berat sehingga ia secara nekat melakukan bunuh diri. Yang
sebelumnya ia mengkonsumsi alcohol dalam jumlah overdosis.
c. Klasifikasi Pola gigitan pada manusia
1. Kelas I
Polanya menyebar. Tidak ada tanda-tanda gigi individu
diidentifikasi. Mungkin ada tanda salah satu atau kedua
lengkung rahang. Mungkin ada sedikit atau tidak ada nilai
pembuktian untuk pencocokan pada tersangka. Bahkan,
mungkin gigitan kelas I tidak dapat diidentifikasi sebagai pola
gigitan manusia, hanya luka berbentuk bulat. Bagaimanapun,
yang mungkin menjadi nilai besar dalam hal ini yaitu seperti
saliva, DNA, bentuk lengkung, dan sebagainya.
2. Kelas II
Luka gigitan ini memiliki karakteristik kedua kelas dan
karakteristik individual. Lengkung rahang atas (maksila) dan
rahang bawah (mandibula) dapat diidentifikasi. Gigi yang
spesifik mungkin diidentifikasi. Gigitan kelas II mungkin lebih
digunakan untuk eksklusi daripada inklusi pada tersangka.
3. Kelas III
Gigitan ini akan memperlihatkan morfologi gigi yang
sangat baik paling sedikit pada satu rahang. Bentuk gigi
spesifik dan posisinya pada lengkung geligi dapat
diidentifikasi. Pola gigitan kelas ini dapat menghasilkan profil
geligi dari si penggigit dan akan digunakan baik pada inklusi
maupun eksklusi. Dimensi ketiga lekukan-lekukan ini mungkin
tampak dan dapat membantu memperkirakan waktu gigitan
diberikan dalam hubungannya dengan waktu kematian.
4. Kelas IV
Gigitan ini akan menjadi eksisi atau insisi pada
jaringan. Darah tampak pada permukaan dan DNA mungkin
terkontaminasi. Gigitan kelas ini sulit jika tidak
memungkinkan untuk mendapatkan profil gigi yang
menyebabkannya. Bagaimanapun, gigitan kelas IV akan
hampir selalu menghasilkan luka permanen atau cacat :
hilangnya jari atau telinga. Atau bekas luka permanen.
d. Langkah-langkah Identifikasi
1. Mendokumentasi luka bekas gigitan
2. Periksa luka beka gigitan, jika masih terdapat sisa saliva pelaku
maka dapat diambil sampelnya untuk pemeriksaan DNA. Caranya
yaitu :
o Teknik Pengumpulan DNA dari Saliva:
 Ambil foto dari luka bekas gigitan pada objek sebelum
melakukan langkah selanjutnya
 Gunakan sarung tangan steril untuk mencegah
kontaminasi silang dari DNA pemeriksa (rambut,saliva)
ke daerah bekas luka gigitan. Jangan sampai sampel
terkontaminasi silang.
 Teknik 4 sapuan (Four swab technique)
3. Jika tidak terdapat sisa saliva maka dapat dibuat cetakan gigi
pelaku melalui luka bekas gigitan tersebut. Dengan cara
menggunakan mangkuk cetak dari masker kain keras atau dengan
menggunakan kain kasa sepanjang diameter pencetakan dan
berlapis-lapis. Berikutnya diaduk bahan cetak yang flow system
ditempatkan dan ditekan dengan getaran pada sekitar pola gigitan
kemudian mangkuk cetak diisi setengah dari mangkuk oleh bahan
yang flow system kemudian dijadikan satu dengan bahan flow
system sekitar pola gigitan. Kemudian hasil cetakan dari pola
gigitan menghasilakan suatu model dari gips yang telah dicor dari
model negatif, kemudian dicekatkan pada okludatora atau
artikulator apabila gigitanaya tidak stabil. Hal ini dapat diketahui
terdapat pola gigitan rahang atas maupun pola gigitan rahang
bawah.
DAFTAR PUSTAKA

AW Larasati. 2018. Peran Pemeriksaan Odontologi Forensik dalam Mengidentifikasi


Identititas Korban Bencana Massal. Fakultas Kedokteran Universitas lampung: Lampung

Blau S. 2006. The Role of Forensic Anthropology in Disaster Victim Identification.


Bandung

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Pedoman Penatalaksanaan Identifikasi


Korban Mati pada Bencana Massal Cetakan Kedua. Departemen Kesehatan RI: Jakarta

Prawestiningtyas E. 2009. Identifikasi Forensik Berdasarkan Pemeriksaan Primer dan


Sekunder Sebagai Penentu Identititas Korban pada Dua Kasus Bencana Massal. Fakultas
kedokteran Universitas Brawijaya: Malang