Anda di halaman 1dari 4

Peranan Chlorophyta

1. Fotosintesis
Tanpa algae, makhluk hidup yang membutuhkan oksigen untukhidup,
seperti manusia, tidak akan berada di sini. Bahkan, ganggang bertanggung
jawab untuk menciptakan diperkirakan 70 hingga 80 persen dari oksigen
diatmosfer dunia melalui proses fotosintesis, dilakukan dengan cara yang
samaseperti dengan vegetasi yang ditemukan di darat.
Menurut BOLD & WYNNE dalam SHARMA (1992), salah satu manfaat
algae yang sangat penting adalah sebagai penghasil utama bahan organik
di dalam ekosistem
perairan. Dalam ekosistem perairan, keberadaan algae merupakan bagian
utama dari rantai makanan. Hal ini berkaitan dengan aktivitas fotosintesis
yang terjadi pada algae. Sebab aktivitas fotosintesis merupakan sumber
oksigen terhadap lingkungan perairan di sekitarnya, di mana akan
memberikan keuntungan secara langsung terhadap organisme lainnya yang
hidup dalam air.(Rasyid, 2004)
2. Makanan Manusia
a. Monostroma digunakan sebagai bahan makanan yang banyak
ditemukan di Jepang dengan nama "aonori"(SHARMA, 1992).
Monostroma juga diolah sebagai sup di Taiwan.
b. Ulva. Seperti halnya dengan Durvillea, Ulva yang telah melaui proses
pengeringan dan pengasinan yang kemudian dipasarkan dengan
sebutan "cachiyugo"(Rasyid, 2004). Selain itu, Ulva juga dijadikan
bahan baku pembuatan salad dan sup. Ulva mengandung zat Fe yang
sangat tinggi. Ulva banyak dikonsumsi sebagai bahan makanan di
China, Filipina, Chili dan Hindia Barat. Selain itu, Ulva juga
merupakan sumber vitamin C, protein, asam folat dan beberapa jenis
mineral, seperti : Ca, K, Mg, Na, Cu, Fe dan Zn.
c. Codium. Di Jepang dan Korea, Codium fragile dijadikan sebagai salad,
sup dan manisan. Codium fragile memiliki kandungan Fe yang tinggi
(CHAPMAN & CHAPMAN, 1980).
d. Chlorella dikenal dengan kandungan lipid dan protein nya yang tinggi.
Menurut PRESCOTT dalam SHARMA (1992), kandungan lipidnya
mencapai 8,5% dari berat kering. Protein Chlorella mengandung
semua asam amino esensial. Oleh karena itu Chlorella dapat
digunakan sebagai bahan makanan untuk penerbangan ruang angkasa.
Walaupun Chlorella dapat digunakan sebagai makanan pengganti di
saat krisis, biaya budidayanya sangat mahal. Menurut THACKER &
BABCOCK dalam SHARMA (1992), dari segi ekonomis produksi
Chlorella kurang menguntungkan.
3. Sumber Mineral
Algae diketahui jugamerupakan sumber mineral yang sangat penting.
Salah satu diantaranya adalah Ulva lactuca yang ekstraknya merupakan
salah satu bahan dari pembuatan Yodium.
4. Antibiotik
Sejumlah penelitian di USA dan Eropa menunjukkan bahwa Chlorella sp
juga dapat membantu tubuh terhadap gangguan logam berat seperti Hg, Cd
serta Pb dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Chlorella sp mulai
digunakan secara klinis sebagai detoksifikasi bagi orang yang keracunan
logam berat, insektisida, pestisida dan hidrokarbon dengan hasil cukup
baik. Adanya kemampuan Chlorella sp. Sebagai bioabsorpsi yang kuat
terhadap logam berat, maka Chlorella sp. digunakan sebagai bioremidiator
dalam menetralisir limbah industri maupun perairan yang tercemar
(Wenno, Purbosari, & Thenu, 2010).
5. Penelitian Biologi
Dalam penelitian biologi (khususnya fisiologi), pemanfaatan beberapa
jenis algae dalam kaitannya dengan proses fotosintesis. Jenis-jenis algae
yang secara luas digunakan adalah Chlorella (SHARMA, 1992). Clorella
sp. adalah mikroalga hijau uniselluler yang pertama kali digunakan dalam
penelitian (Wenno et al., 2010).
6. Penanggulangan Limbah
Hal ini merupakan masalah yang tidak mudah dilakukan. Sumber utama
limbah terutama berasal dari buangan rumah tangga dan industri. Limbah
banyak mengandung bahan-bahan organik dan anorganik, baik yang
terlarut maupun yang dalam bentuk padat.
Proses pengelolaan limbah terutama berlangsung dalam suatu proses
aerorik dan proses oksigenasi. Kedua proses ini dapat berlangsung secara
cepat dengan adanya algae jenis Chlorella Proses aerasi limbah sangat
esensial, terutama untuk limbah dalam jumlah sedikit atau di areal
pertambakan untuk menghindari bau yang tak sedap (SHARMA, 1992).
7. Biokatoda pada PMFC (Photosynthetis microbial fuel cell)
Microbial Fuel Cell (MFC) merupakan teknologi yang prospektif untuk
dikembangkan. MFC merupakan sistem yang dapat menghasilkan energi
listrik melalui metabolisme mikroorganisme. Tetapi dalam
penggunaannya, MFC memiliki
kelemahan pada kompartemen katoda yang masih menggunakan bahan
kimia yaitu kalium ferisianida. Sehingga perlu sebuah solusi agar
teknologi ini menjadi benar-benar organik. Seperti penelitian yang
dilakukan oleh Tanaka (1985) yaitu dengan menggunakan organisme
fotosintetik seperti Anabaena sebagai biokatoda. Biokatoda adalah
penggunaan makhluk hidup sebagai subtrat aseptor elektron pada
kompartemen katoda. Pengunaan organisme fotosintetik dalam MFC
disebut dengan istilah PMFC.
Alga yang hidup di air, dalam hal ini Chlorophyta, dapat menghasilkan
oksigen berupa gelembung udara yang diindikasi dapat digunakan sebagai
aseptor elektron untuk katoda pada PMFC (Rosyadi, Laily, Sitoresmi, &
Yushardi, 2017).
XRasyid, A. (2004). Berbagai Manfaat Algae. Oseana, XXIX(3), 9–15. Retrieved
from www.oseanografi.lipi.go.id%5Cn
Rosyadi, F. A., Laily, E. N., Sitoresmi, S., & Yushardi, Y. (2017). Pemanfaatan
Alga Hijau Sebagai Biokatoda Pada Pmfc (Photosynthetis Microbial Fuel
Cell). Jurnal Teknik Kimia, 12(1), 4–8.
https://doi.org/10.33005/tekkim.v12i1.837
SHARMA, OP. 1992. Text Book of Algae. Tata McGraw-Hill Publishing
Company Limited, New Delhi: 73 - 79.
Wenno, M. R., Purbosari, N., & Thenu, J. L. (2010). Ekstraksi Senyawa
Antibakteri dari Chlorella Sp . Extraction Antibakteri Compound from
Chlorella sp . 10(2), 131–137.