Anda di halaman 1dari 33

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Puji dan Syukur Kehadirat Allah SWT berkat rahmat dan
hidayahnya, sehingga makalah ini dapat selesai pada waktunya.

Tujuan Penulisan makalah ini antara lain menyelesaikan tugas mata kuliah
Biomedik (Anatomi & Fisiologi). Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian makalah ini.

Semoga makalah yang telah penulis susun ini dapat memberikan manfaat
dan wawasan para pembaca. Namun terlepas dari itu, penulis juga menyadari
sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu kami
mengharapkan saran serta masukan dari pembaca demi penyempurnaan
terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.

Kendari, November 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................3
A. LATAR BELAKANG..................................................................................3
B. RUMUSAN MASALAH..............................................................................4
C. TUJUAN.......................................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................5
A. PENGERTIAN SISTEM ENDOKRIN........................................................5
B. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM ENDOKRIN..........................................6
C. MACAM – MACAM SYSTEM KELENJAR ENDOKRIN........................6
D. FUNGSI SISTEM ENDOKRIN.................................................................15
E. SEL-SEL PENYUSUSN ORGAN ENDOKRIN.......................................15
F. MEKANISME KERJA SISTEM ENDOKRIN PADA MANUSIA..........16
G. PENYAKIT DAN GANGGUAN DARI SISTEM ENDOKRIN...............17
H. CARA PENGOBATAN ATAU PENCEGAHAN PENYAKIT PADA
SISTEM ENDOKRIN........................................................................................19
BAB III PENUTUP...............................................................................................30
A. KESIMPULAN...........................................................................................30
B. SARAN.......................................................................................................30
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................32

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran
(ductless) yang menghasilkan jormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran
darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai
“pembawa pesan” dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh,
yang selanjutnya akan menerjemahkan “pesan” tersebut menjadi suatu
tindakan. Sistem endokrin tidak memasukkan kelenjar eksokrin seperti
kelenjar ludah, kelenjar keringat, dan kelenjar-kelenjar lain dalam saluran
gastroinstestin (Manurung, 2014).

Kelenjar endokrin merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran,


yang menyalurkan sekresi hormonnya langsung ke dalam darah. Hormone
tersebut memberikan efeknya ke organ atau jaringan target. Beberapa hormon
seperti insulin dan tiroksin mempunyai banyak organ target. Hormon lain
seperti kalsitonin dan beberapa hormon kelenjar hipofisis, hanya memiliki
satu atau beberapa organ target (Manurung, 2014).

Sistem endokrin dalam kaitannya dengan sistem saraf, mengontrol dan


memadukan fungsi tubuh. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja untuk
mempertahankan himoestatis tubuh. Fungsi mereka satu sama lain saling
berhubungan, namun dapat dibedakan dengan karakteristik tertentu. Misalnya
medulla adrenal dan kelenjar hipofise posterior yang mempunyai asal dari
saraf (neural). Jika keduanya dihancurkan atau diangkat, maka fungsi dari
kelenjar ini sebagian diambil alih oleh sistem saraf. Bila sistem endokrin
umumnya bekerja melalui hormon, maka sistem saraf bekerja melalui
neurotransmitter yang dihasilkan oleh ujung-ujung saraf. (Manurung, 2014).

Kelenjar endokrin dalam tubuh terdiri dari kelenjar hipofisis, kelenjar


adrenal, kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid, kelenjar pineal, dan pulau
3
langerhas pada pancreas. Kelenjar tersebut memiliki struktur yang berbeda
satu sama lain. Selain struktur yang membedakan setiap kelenjar adalah
sekresi yang dihasilkan dan fungsinya.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi sistem endokrin?
2. Bagaimana anatomi fisiologi sistem endokrin?
3. Apa fungsi sistem endokrin?
4. Apa saja macam-macam system kelenjar endokrin?
5. Apa saja sel-sel penyususn organ endokrin?
6. Bagaimana mekanisme kerja sistem endokrin pada manusia?
7. Apa saja penyakit dan gangguan dari sistem endokrin?
8. Bagaimana cara pengobatan atau pencegahan penyakit pada sistem
endokrin?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui definisi sistem endokrin
2. Untuk mengetahui anatomi fisiologi sistem endokrin
3. Untuk mengetahui macam-macam kelenjar endokrin
4. Untuk mengetahui fungsi sistem endokrin
5. Untuk mengetahui sel-sel penyusun organ endokrin
6. Untuk mengetahui mekanisme kerja sistem endokrin pada manusia
7. Untuk mengetahui penyakit dan gangguan pada sistem endokrin
8. Untuk mengetahui cara pengobatan dan pencegahan sistem endokrin

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN SISTEM ENDOKRIN


Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran
(ductless) yang menghasilkan hormon yang tersikulasi di tubuh melalui aliran
darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai
“pembawa pesan” dan dibawah oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh,
yang selajutnya akan menerjemahkan “pesan” tersebut menjadi suatu
tindakan. Sistem endokrin memasukkan kelenjar endokrin seperti kelenjar
ludah, kelenjar keringat, dan kelenjar-kelenjar lain dalam saluran
gastroinstestin.

Kelenjar endokrin merupakan kelenjar yang tidak mempunyai


saluran, yang menyalurkan sekresi hormonnya langsung ke dalam darah.
Hormon tersebut memberikan efeknya ke organ atau jaringan target.
Beberapa hormon seperti insulin dan tiroksin mempunyai banyak organ
target. Hormon lain seperti kalsitonin dan beberapa hormon keenjar hipofisis,
hanya memiliki satu atau beberapa organ target.

Sistem endokrin, dalam kaitannya dengan sistem saraf, mengontrol


dan memadukan fungsi tubuh. Kedua sistem ini, bersama-sama bekerja untuk
mempertahankan homeostatis tubuh. Fungsi mereka satu sama lain saling
berhubungungan, namun dapat dibedakan dengan karakteristik tertentu.
Misalnya, medulla adrenal dan kelenjar hipofise posterior yang mempunyai
asal dari saraf (neural). Jika keduanya dihancurkan atau diangkat, maka
fungsi dari kedua kelenjar ini sebagian diambil alih oleh sistem saraf. Bila
sistem endokrin umumnya bekerja melakui hormone, maka sistem saraf
bekerja melalui neurotransmitter yang dihasilkan oleh ujung-ujung
saraf(Manurung, 2017).

5
B. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM ENDOKRIN
Kelenjar endokrin merupakan sekelompok susunan sel yang
mempunyai susunan mikroskopis sangat sederhana. Kelompok ini terdiri
dari deretan sel-sel, lempengan atau gumpalan sel disokong oleh jaringan ikat
halus yang banyak mengandung pembuluh kapiler.

Sistem endokrin, dalam kaitannya dengan sistem saraf, mengontrol dan


memadukan fungsi tubuh. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja untuk
mempertahankan homeostasis tubuh. Fungsi mereka satu sama lain saling
berhubungan, namun dapat dibedakan dengan karakteristik tertentu.
Misalnya, medulla adrenal dan kelenjar hipofise posterior yang mempunyai
asal dari saraf (neural). Jika keduanya dihancurkan atau diangkat, maka
fungsi dari kedua kelenjar ini sebagian diambil alih oleh sistem saraf.

Kelenjar endokrin tidak memiliki saluran, hasil sekresi dihantarkan tidak


melaui saluran, tapi dari se-lsel endokrin langsung masuk ke pmbuluh darah.
Selanjutnya hormon tersebut dibawa ke sel-sel target (responsive cells)
tempat terjadinya efek hormon. Sedangkan ekresi kelenjar eksokrin keluar
dari tubuh kita melalui saluran khusus, seperti uretra dan saluran kelenjar
ludah.

Tubuh kita memiliki beberapa kelenjar endokrin. Diantara kelenjar-


kelenjar tersebut, ada yang berfungsi sebagai organ endokrin murni artinya
hormon tersebut hanya menghasilkan hormon misalnya kelenjar pineal,
kelenjar hipofisis / pituitary, kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid, kelenjar
adrenal suprarenalis, dan kelenjar timus.(Septory, 2013)

C. MACAM – MACAM SYSTEM KELENJAR ENDOKRIN


a. Kelenjar Hipofise

6
Gambar 1. Kelenjar Hipofise
Suatu kelenjar endokrin yang terletak didasar tengkorak .yang
memegang peranan penting dalam sekresi hormon dari semua organ-
organ endokrin. Dapat dikatakan sebagai kelenjar pemimpin sebab
hornon-hormon yang dihasilkannya dapat mempengaruhi pekerjaan
kelenjar lainnya. Kelenjar hipofise terdiri dari 2 lobus.
Lobus anterior (adenohipofise). Menghasilkan sejumlah hormon
yang bekerja sebagai zat pengendali produksi :an semua organ endokrin
yang lain.
1. Hormon somatotropik, mengendalikan pertumbuhan tubuh.
2. Hormon tirotropik, mengendalikan kegiatan kelenjar tiroid dalam
menghasilkan hormon tiroksin.
3. Hormon adrenokortikotropik (ACTH), mengendalikan kelenjar
suprarenal dalam menghasilkan kortisol yang berasal dari korteks
keler jar suprarenal.
4. Hormon gonadotropik berasal dari Follicle Stimulating Hormone
(FSH) yang merangsang perkembangan folikel degraf dalam
ovarium dan pembentukan spermatozoa dalam testis.
5. Luteinizing Hormone (LH), mengendalikan sekresi estrogen dan
progesteron dalam ovarium dan testosteron dalam testis. Interstitial
Cell Stimulating Hormone (ICSH).
Lobus posterior disebut juga Neurohipofise. Mengeluarkan 2
jenis hormone antara lain :
1. Hormon anti diuretik (ADH), mengatur jumlah air yang keluar
melalui ginjal membuat kontraksi otot polos ADH disebut juga
hormon pituitrin.
7
2. Hormon oksitoksin merangsang dan menguatkan kontraksi uterus
sewaktu melahirkan dan mengeluarkan air susu sewaktu menyusui.
Kelenjar hipofise terletak di dasar tengkorak, di dalam foss hipofise
tulang spenoid.
b. Kejelenjar Tiroid

Gambar 2 . Kelenjar tiroid


Terdiri atas 2 buah lobus yang terletak disebelah kanan dari
trakea diikat bersama oleh jaringan tiroid dan yang melintasi trakea di
sebelah depan. Merupakan kelenjar yang terdapat di dalam leher bagian
depan bawah, melekat pada dinding Taring. Atas pengaruh hormon yang
dihasilkan oleh kelenjar hipofise lobus anterior, kelenjar tiroid ini dapat
memproduksi hormon tiroksin. Adapun fungsi dari hormon tiroksin;
mengatur pertukaran zat/metabolisme dalam tubuh dan mengatur
pertumbuhan jasmani dan rohani.
Struktur kelenjar tiroid terdiri atas sejumlah besar vesikel-vesikel
yang dibatasi oleh epitelium silinder, disatukan oleh jaringan ikat. Sel-
selnya mengeluarkan sera, cairan yang bersifat lekat yaitu; Koloidae
tiroid yang mengandung zat senyawa yodium dan dinamakan hormon
tiroksin. Sekret ini mengisi vesikel dan dari sini berjalan ke aliran darah
baik langsung maupun melalui saluran limfe. Fungsi kelenjar tiroid,
terdiri dari:
 Bekerja sebagai perangsang proses oksidasi.
 Mengatur penggunaan oksidasi.
 Mengatur pengeluaran karbondioksida.

8
 Metabolik dalam hal pengaturan susunan kimia dalam jaringan.
 Pada anak mempengaruhi perkembangan fisik dan mental.
Hipofungsi dapat menyebabkan penyakit kretinismus dan penyakit
miksedema. Hiperfungsi menyebabkan penyakit eksotalmikgoiter.
Sekresi tiroid diatur oleh sebuah hormon dari lobus anterior kelenjar
hipofise yaitu oleh hormon tirotropik.
Fungsi kelenjar tiroid sangat eras bertalian dengan kegiatan
metabolik dalam hal pengaturan susunan kimia dan jaringan bekerja
sebagai perangsang proses oksidasi, mengatur penggunaan oksigen dan
mengatur pengeluaran karbondioksid.
Hiposekresi hipotiroidisme. Bila kelenjar tiroid kurang
mengeluarkan sekret pada waktu bayi mengakibatkan suatu keadaan
yang dikenal sebagai kretinisme berupa hambatan pertumbuhan mental
dan fisik, pada orang dewasa kekurangan sekresi menyebabkan
miksedema proses metabolik mundur dan terdapat kecenderungan untuk,
bertambah berat, geraknya lambat, cara berfikir dan berbicara lamban,
kulit menjadi tebal dan keringat, rambut rontok, suhu-badan di bawah
normal dan denyut nadi perlahan.
Hipersekresi penambahan sekresi kelenjar tiroid disebut hipertiroid
dimana semua gejalanya merupakan kebalikan dari miksedema yaitu:
kecepatan metabolisme meningkat suhu tubuh tinggi, berat badan turun,
gelisah, mudah marah, denyut nadi naik.
Vaskuler mencakup fibrilasi atrium kegagalan jantung pada keadaan
yang dikenal sebagai penyakit trauma atau gondok eksoptalmus, mata
menonjol keluar, efek ini disebabkan terlampau aktifnya hormon tiroid,
ada kalanya tidak hilang dengan pengobatan.
c. Kelenjar Paratiroid

9
Gambar 3 . Kelenjar Paratiroid
Terletak disetiap sisi kelenjar tiroid yang terdapat di dalam leher,
kelenjar ini bedumlah 4 buah yang tersusun berpasangan yang
menghasilkan para hormon atau hormon para tiroksin. Kelenjar
paratiroid berjumlah 4 buah.
Masing-masing melekat pada bagian belakang kelenjar tiroid,
kelenjar paratiroid menghasilkan hormon yang berfungsi mengatur kadar
kalsium dan fosfor di dalam tubuh.
Terjadinya kekurangan kalsium di dalam darah atau hipokalsemia
mengakibatkan keadaan yang disebut tetani, dengan gejala khas kejang
khususnya pada tangan dan kaki disebut karpopedal spasmus, gejala-
gejala ini dapat diringankan dengan pemberian kalsium.
Biasanya ada sangkut pautnya dengan pembesaran (tumor)
kelenjar. Keseimbangan distribusi kalsium terganggu, kalsium
dikeluarkan kembali dari tulang dan dimasukkan kembali ke serum
darah. Akibatnya terjadi penyakit tulang dengan tanda-tanda khas
beberapa bagian kropos.
Disebut osteomielitis fibrosa sistika karena terbentuk kristal pada
tulang, kalsiumnya diedarkan di dalam ginjal dan dapat menyebabkan
batu ginjal dan kegagalan ginjal. Fungsi paratiroid;
 Mengatur metabolisme fospor.
 Mengatur kadar kalsium darah.
Hipofungsi, mengakibatkan penyakit tetani. Hiperfungsi,
mengakibatkan kelainan-kelainan seperti; Kelemahan pada otot-otot,
10
sakit pada tulang, kadar kalsium dalam darah meningkat begitu juga
dalam urin, dekolsifikasi dan deformitas, dapat juga terjadi patch tulang
spontan. Kelainan-kelainan di atas dapat juga terjadi pada tumor kelenjar
paratiroid
d. Kelenjar Timus

Gambar 4 . Kelenjar Timus

Terletak di dalarn mediastinum di belakang os sternum, kelenjar


timus hanya dijumpai pada anak-anak di bawah 18 tahun. Kelenjar timus
terletak di dalam toraks kira-kira setinggi bifurkasi trakea, warnanya
kemerah-merahan dan terdiri atas 2 lobus. Pada bayi baru lahir sangat
kecil danberatnya kira-kira 10grarn atau lebih sedikit. Ukurannya
bertambah pada masa remaja dari 30-40 gram kemudian berkerut lagi.
Adapun hormon yang dihasilkan kelenjar timus berfungsi sebagai
berikut;
 Mengaktifkan pertumbuhan badan.
 Mengurangi aktifitas kelenjar kelamin.
e. Kelenjar Suprarenalis / Adrenalin

Gambar 5 . Kelenjar Adrenal


11
Kelenjer suprarenal jumlahnya ada 2, terdapat pada bagian atas
dari ginjal kiri dan kanan. Ukurannya berbeda-beda, beratnya rata-rata 5-
9 gram. Kelenjar suprarenal ini terbagi atas 2 bagian yaitu:
1. Bagian luar yang berwarna kekuningan yang menghasilkan kortisol
yang disebut korteks.
2. Bagian medula yang menghasilkan adrenalin (epinefrin) dan nor
adrenalin (nor epinefrin).

Zat-zat tadi disekresikan dibawah pengendalian sistem persarafan


simpatis. Selcresinya bertambah dalam keadaan emosi seperti marah dan
takut Berta dalam keadaan asfiksia dan kelaparan. Pengeluaran yang
bertambah itu menaikkan tekanan darah guna melawan shok.

Noradrenalin menaikan tekanan darah dengan jalan meranigsang


serabut otot didalam dinding pembuluh darah untuk berkontraksi,
adrenalin membantu metabolisme kar-bohidrat dengan jalan menambah
pengeluaran glukosa dari hati.

Beberapa hormon terpenting yang disekresikan oleh korteks adrenal


adalah; Hidrokortison, aldosteron dan kortikosteron. Semuanya bertalian
eras dengan metabolisme, pertumbuhan fungsi ginjal dan kondisi otot.

Pada insufiesiensi adrenal (penyakit addison) pasien menjadi kurus


dan nampak sakit paling lemah, terutama karenatidak adanya hormon ini,
sedangkan ginjal gagal menyimpan natrium dalam jumlah terlampau
banyak, penyakit ini diobati dengan kortison. Fungsi kelenjar supra
renalis bagian korteks terdiri dari ;

 Mengatur keseimbangan air, elektrolit clan garamgaram.


 Mengatur/mempengaruhi metabolisme lemak, hidrat arang dan
protein.
 Mempengaruhi aktifitas jafingan limfoid.

12
Hipofungsi, menyebabkan penyakit addison. Hiperfungsi. Kelainan-
kelainan yang timbul akibat hiperfungsi mirip dengan tumor suprarenal
bagian korteks dengan gejala-gejala pada wanita biasa, terjadinya
gangguan pertumbuhan seks sekunder. Fungsi kelenjar suprarenalis
bagian medula terdiri dari :

1. Vaso konstriksi pembuluh darah perifer.


2. Relaksasi bronkus.

Kontraksi selaput lendir dan arteriole pada kulit sehingga berguna


untuk mengurangi perdarahan pada operasi kecil.

f. Kelenjar Pienalis (Epifise)


Kelenjar ini terdapat di dalam otak, di dalam ventrikel berbentuk
kecil merah seperti sebuah Gemara. Terletak dekat korpus.
Fungsinya belum diketahui dengan jelas, kelenjar ini
menghasilkan sekresi interns dalam membantu pankreas dan kelenjar
kelamin.
g. Kelenjar Pankreas

Gambar 6. Kelenjar Pankreas


Terdapat pada belakang lambung di depan vertebra lumbalis I dan
II terdiri dari sel-sel alpa dan beta. Sel alpa menghasilkan hormon
glukagon sedangkan sel-sel beta menghasilkan hormon insulin. Hormon
yang diberikan untuk pengobatan diabetes, insulin merupakan sebuah
protein yang dapat turut dicernakan oleh enzim-enzim pencernaan
protein.
13
1. Fungsi hormon insulin
Insulin mengendalikan kadar glukosa dan bila digunakan
sebagai pengobatan, memperbaiki kemampuan sel tubuh untuk
mengobservasi dan menggunakan glukosa dan lemak.
2. Pulau langerhans
Pulau-pulau langerhans berbentuk oval tersebar di seluruh
pankreas dan terbanyak pada bagian kedua pankreas. Dalam tubuh
manusia terdapat 1-2 juta pulau-pulau langerhans, sel dalam pulau
ini dapat dibedakan atas dasar granulasi dan pewarnaannya separuh
dari sel ini mensekresi insulin, yang lainnya menghasilkan
polipeptida dari pankreas diturunkan pada bagian eksokrin pankreas.
Fungsi kepulauan langerhans; Sebagai unit sekresi dalam
pengeluaran homeostatik nutrisi, rnenghambat sekresi insulin,
glikogen dan polipeptida pankreas serta mengnambat sekresi
glikogen.
h. Kelenjar Kelamin

Gambar 7 . Kelenjar Kelamin


Kelenjar testika. Terdapat pada pria terletak pada skrotum
menghasilkan hormon testosteron. Hormon testosteron. Menentukan sifat
kejantanan, misalnya adanya jenggot, kumis, jakun dan lain-lain,
menghasilkan sel mani (spermatozoid) serta mengontrol pekerjaan seks
sekunder pada laki-laki.

14
Kelenjar ovarika. Terdapat pada wanita, terletak pada ovarium di
samping kiri dan kanan uterus. Menghasilkan hormon progesteron clan
estrogen, hormon ini dapat mempengaruhi pekerjaan uterus serta
memberikan sifat kewanitaan, misalnya pinggul yang besar, bahu sempit
dan lain-lain (Hartina, 2015).

D. FUNGSI SISTEM ENDOKRIN


Sistem endokrin mempunyai lima fungsi umum :

1. Membedakan sistem saraf dan sistem reproduktif pada janin yang sedang
berkembang
2. Menstimulasi urutan perkembangan
3. Mengkoordinasi sistem reproduktif
4. Memelihara lingkungan internal optimal
5. Melakukan respons korektif dan adaptif ketika terjadi situasi darurat

E. SEL-SEL PENYUSUSN ORGAN ENDOKRIN


Sel-sel penyusun organ endokrin dapat dibedakan menjadi dua
yaitu :

1. Sel neusekretori adalah sel yang berbentuk seperti sel saraf tetapi
berfungsi sebagai penghasil hormon. Contoh sel neusekretori ialah sel
saraf pada hipotalamus. Sel tersebut memperhatikan fungsi endokrin
sehingga dapat menghasilkan sekret disebut sebagai sel sekretori. Oleh
karena itu, sel saraf seperti yang terdapat pada hipotalamus disebut
neusekretori.sel neurosektori seperti yang terdapat pada hipotalamus akan
melepaskan hormon yang dihasilkannya kesirkulasi darah, dan
selanjutnya dibawa kesel sasaran. Kadang-kadang hormon yang
dihasilkan oleh sel neurosekretori tidak langsung dilepaskan kedalam
darah, tetapi disimpan terlebih dahulu dalam sel atau organ neurohemal

15
untuk sementara waktu.Hormon tersebut akan dilepaskan kedalam darah
pada saat tubuh memerlukannya. Organ neurohemal ialah organ yang
berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara dan pelepasan hormon
(neurohormon) yang dihasilkan oleh sel neurosekretori.

Gambar 8. Sel Neurosekretori


2. Sel endokrin sejati, disebut juga sel endokrin kelasik yaitu sel endokrin
yang benar-benar berfungsi sebagai penghasil hormon, tidak memiliki
bentuk seperti sel saraf. Kelenjar endokrin sejati melepaskan hormon
yang dihasilkan secara langsung kedalam darah (cairan tubuh).

F. MEKANISME KERJA SISTEM ENDOKRIN PADA MANUSIA


a. Hormon endokrin dibaa oleh sistem sirkulasi kesel diseluruh
tubuhtermasuk sistem saraf pada beberapa kasus, tempat hormon tersebut
berjalan dengan reseptornya menginsisasi berbagai reaksi sel
memengaruhi jenis sel tubuh ; growt hormon memengaruhi jaringan target
spesifik ; ACTH
Sebegian besar hormon ditubuh berupa polipeptida dan protein, hormon-
hormon tersebut memiliki ukuran yang bervariasi.
b. Hormon protein dan peptida disintesis dibagian RE kasar diberbagai sel
endokrin sebagai protein besar (prohormon).
c. Protein besar (dipecah menjadi) prohormon yang lebih kecil diRE
d. Prohormon (ditransfer ke) aparatus golgi dan dikesmas (enzim-enzim
memecah prohormon, hormon berukuran lebih kecil yang sudah memiliki
aktivitas biologis dan fragmen-fragmen inaktif) kedalam vesikel sekretoris
16
disimpan dalam sitoplasma, terkait pada membran sel hingga hormon
tersebut dibutuhkan.
e. Sekresi hormon terjadi ketika vesikel sekretoris menyatu dengan
membran sel dan kandungan granulanya dikeluarkan ke dalam cairan
interseksial/ dengan eksotosis.
f. Rangsangan eksotosis = peningkatan konsentrasi kalsium sitosol
akibatdepolarisai membran plasma.
g. Rangsangan reseptor menimbulkan meningkatnya CAMP aktivasi protein
kinase sekresi hormon, hormon dibawa kejaringan target.

G. PENYAKIT DAN GANGGUAN DARI SISTEM ENDOKRIN


a. Hipotiroid
Hipotiroid merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh
gangguan pada salah satu tingkat dari aksis hypothalamus-hipofisis-tiroid
“end organ”, dengan akibat terjadinya defisiensi hormon tiroid
ataupun gangguan respon jaringan terhadap hormon tiroid.
Hipotiroid timbul akibat defisiensi produksi hromon tiroid.
Gangguan ini dapat bermanifestasi sangat dini. Jika gejala timbul
akibat suatu periode fungsi tiroid yang nyata normal, maka gangguan ini
benar-benar “didapat’ atau hanya tampak demikian, namun merupakan
salah satu variasi cacat kongenital dengan manifestasi defisiensi
tertunda(Faizi & EP, 2006).
b. Hipertiroid
Hipertiroid merupakan suatu keadaan Dimana
Didapatkankelebihan hormone toroid karena ini berhubungan dengan
suatu kompleks fisiologis dan biokomiawi yang ditemukan bila suatu
jaringan memberikan hormon tiroid yang berlebihan(Ismail, 2019)
c. Diabetes Mellitus
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit ganguan metabolik
menahun akibat pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau tubuh
tidak dapat mrnggunakan insulis yang diproduksi secara efektif. Terdapat

17
dua kategori utama diabetes mellitus yaitu diabetes tipe 1 dan tipe 2.
Diabetes tipe 1 dulu disebut insulin dependent ditandai dengan
kurangnya produksi insulin. Diabetes tipe 2 dulu disebut non-insulin-
depedent disebabkan penggunaan insulin yang kurang efektif oleh
tubuh(Kesehatan, 2013)
d. Diabetes Insipidus
Diabetes insipidus adalah suatu penyakit yang jarang ditemukan.
Penyakit ini diakibatkan oleh berbagai penyebab yang dapat menganggu
mekanisme neurohypophyseal-renal reflex sehingga mengakibatkan
kegagalan tubuh dalam mengkonvensi air. Gejala dari diabetes isipidus
adalah polyuria dan polidipsida hal ini disebabkan defisiasi ADH dan
tidak sensitifnya vasopressin pada ginjal(Firdausy, 2016).Diabetes
insipidus memiliki gejala yang mirip dengan gejala diabetes melitus, tapi
penyebab kedua jenis penyakit tersebut berbeda. Diabetes mellitus
disebabkan oleh masalah insulin dan kadar gula darah yang tinggi.
Sedangkan diabetes insipidus disebabkan oleh masalah dipengaruhi kerja
hormon dan ginjal terhadap urine.
e. Penyakit Addison
Penyakit Addison (Addisons disease) adalah kelainan yang
disebabkan oleh ketidakmampuan korteks adrenalis memproduksi
hormon kortisol dan aldosteron. Keadaan tersebut dapat disebabkan oleh
insufisiensi adrenal primer seperti autoimun, infeksi dan tumor adrenal
atau insufisiensi adrenal sekunder karena tumor atau infeksi, kurangnya
aliran darah ke kelenjar hipofisis, radiasi kelenjar hipofisis, atau
pengangkatan bagian hipotalamus atau kelenjar hipofisis. Penyakit
Addison ini sangat jarang terutama pada anak-anak. Penyakit Addison
dapat terjadi baik pada pria maupun wanita di semua usia. Frekuensi
penyakit Addison pada populasi manusia diperkirakan 1 dari 100.000.
(Sanjaya & Ayling, 2012)

18
f. Sindrom Cushing
Sindrom Cushing adalah kumpulan gejala yang muncul akibat
kadar hormon kortisol yang terlalu tinggi dalam tubuh. Kondisi ini dapat
terjadi seketika atau bertahap, dan bisa semakin memburuk jika tidak
ditangani. Hormon kortisol adalah hormon yang dihasilkan oleh kelenjar
adrenal, yaitu kelenjar yang berada di atas ginjal. Hormon kortisol
berfungsi mengontrol suasana hati dan rasa takut. Selain itu, hormon ini
juga berperan penting dalam sejumlah fungsi tubuh, di antaranya
mengatur tekanan darah, meningkatkan kadar gula darah, dan mengurangi
peradangan. Hormon kortisol juga dikenal sebagai hormon stres, karena
banyak diproduksi saat seseorang mengalami stres(Suastika, 2016).
g. Sindrom Adrenogenital
Gangguan adrenogenital adalah gangguan pada kelenjar adrenal
dan kelamin, seperti sindrom adrenogenital yang juga dikenal dengan
istilah hiperplasia adrenal kongenital (HAK). Kondisi ini merupakan
turunan, berarti gen tertentu diturunkan dari orang tua ke anak yang
memicu berkembangnya masalah ini. Namun, tidak berarti
adrenogenital langsung muncul dari saat si anak baru lahir. Bisa juga
terjadi saat usia kanak-kanak atau dewasa(Suastika, 2016)

H. CARA PENGOBATAN ATAU PENCEGAHAN PENYAKIT PADA


SISTEM ENDOKRIN
a. Hipotiroid
Penanganan standar untuk hipotiroid meliputi penggunaan hormon
tiroid buatan, levothyroxine. Pengobatan oral ini mengembalikan level
hormon yang cukup, memperbaiki gejala-gejala hipotiroid.Untuk
menentukan dosis yang tepat terhadap penggunaan levothyroxine, dokter
akan memeriksa kadar TSH setelah 2-3 bulan. Jumlah hormon yang
berlebih dapat menyebabkan efek samping, seperti: meningkatnya napsu
makan, insomnia, palpitasi jantung dan gemetar.
19
Obat-obatan, suplemen, dan beberapa makanan tertentu dapat
memengaruhi kemampuan menyerap levothyroxine. Bicarakan dengan
dokter apabila Anda mengonsumsi produk kedelai atau pola makan
berserat tinggi dalam jumlah besar, atau obat-obatan lain,
seperti:Suplemen zat besi atau multivitamin yang mengandung zat besi,
cholestyramine aluminum hydroxide yang ditemukan dalam beberapa
antacid dan suplemen kalsium
Untuk peningkatan TSH yang relatif ringan, Anda mungkin tidak
mendapatkan manfaat dari terapi hormon tiroid, justru perawatan dapat
berbahaya. Untuk kadar TSH yang lebih tinggi, hormon tiroid dapat
meningkatkan kadar kolestrol, kemampuan memompa jantung, dan level
tenaga.
b. Hipertiroid
Pengobatan hipertiroid bertujuan untuk mengembalikan kadar
normal hormon tiroid, sekaligus mengatasi penyebabnya. Jenis
pengobatan yang diberikan juga berdasarkan tingkat keparahan gejala,
serta usia dan kondisi penderita secara keseluruhan. Berikut ini beberapa
cara mengobati dan mengatasi hipertiroidisme:
1. Obat-obatan
Pemberian obat bertujuan untuk menghambat atau menghentikan
fungsi kelenjar tiroid dalam menghasilkan hormon berlebih dalam
tubuh. Jenis obat yang digunakan adalah  methimazole
dan propylthiouracil. Dokter juga akan memberikan obat yang dapat
menurunkan detak jantung untuk mengurangi gejala jantung berdebar.
Dokter akan menurunkan dosis obat apabila kadar hormon tiroid
dalam tubuh telah kembali normal, biasanya 1-2 bulan setelah mulai
kosumsi obat. Diskusikan dengan dokter endokrin mengenai lamanya
penggunaan obat.
2. Terapi iodium radioaktif
Terapi iodium radioaktif bertujuan untuk menyusutkan kelenjar
tiroid, sehingga mengurangi jumlah hormon tiroid yang dihasilkan.
20
Penderita akan diberikan cairan atau kapsul yang mengandung zat
radioaktif dan iodium dosis rendah, yang kemudian akan diserap oleh
kelenjar tiroid. Terapi iodium radioaktif berlangsung selama beberapa
minggu atau bulan.
Meski dosis yang diberikan rendah, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan penderita setelah menjalani pengobatan hipertiroid ini, di
antaranya:
 Hindari kontak dengan anak-anak dan ibu hamil selama beberapa
hari atau minggu untuk mencegah penyebaran radiasi.
 Tidak dianjurkan untuk hamil setidaknya selama enam bulan
setelah pengobatan.
3. Operasi
Operasi pengangkatan kelenjar tiroid atau tiroidektomi dilakukan
pada beberapa kondisi sebagai berikut:
 Pemberian obat dan terapi iodium radioaktif tidak efektif untuk
mengatasi hipertiroidisme.
 Pembengkakan yang terjadi pada kelenjar tiroid cukup parah.
 Kondisi penderita tidak memungkinkan untuk menjalani
pengobatan dengan obat-obatan atau terapi iodium radioaktif,
misalnya sedang hamil atau menyusui.
 Penderita mengalami gangguan penglihatan yang cukup parah.
Prosedur tiroidektomi dapat bersifat total atau sebagian, tergantung
kondisi penderita. Namun, sebagian besar tiroidektomi dilakukan
dengan mengangkat seluruh kelenjar tiroid untuk mencegah risiko
hipertiroidisme kambuh atau muncul kembali.Penderita yang
menjalani operasi pengangkatan kelenjar tiroid total dan terapi
radioaktif iodium dapat mengalami hipotiroidisme. Kondisi ini dapat
diatasi dengan mengonsumsi obat berisi hormon tiroid. Akan tetapi,
konsumsi obat ini mungkin perlu dilakukan seumur hidup.

21
c. diabetes mellitus
1. Obat diabetes tipe 1
Ketika Anda mengalami kondisi ini, sistem kekebalan tubuh
akan menyerang sel yang memproduksi insulin sehingga kadar insulin
yang dihasilkan tubuh berkurang. Maka dari itu, dokter biasanya akan
diberikan obat diabetes berupa insulin yang akan disuntikkan pada
tubuh pasien setiap hari.
Beberapa jenis insulin tersebut antara lain:
 Insulin dengan aksi cepat. Insulin ini biasanya akan diberikan saat
Anda hanya memiliki sedikit waktu untuk menyuntikkan insulin,
seperti saat kadar gula melebihi target.
 Insulin dengan aksi lambat. Kebalikan dari insulin dengan aksi
cepat, insulin dengan aksi lambat biasa digunakan saat Anda
memiliki waktu yang lebih lama dalam menyuntikkan insulin. Tapi
dibandingkan dengan insulin aksi cepat, insulin aksi lambat lebih
jarang digunakan.
 Insulin dengan aksi intermediate. Meskipun lama waktu
penyuntikkan insulin jenis ini relatif panjang, namun insulin aksi
intermediate biasanya dikombinasikan dengan aksi yang lebih cepat,
sehingga mampu memaksimalkan manfaat dari penyuntikkan.
2. Obat diabetes tipe 2
Orang yang mengalami penyakit kencing manis umumnya tidak
mampu menggunakan insulin yang ada sebagaimana mestinya. Tak
semua orang dengan penyakit kencing manis memerlukan obat. Dalam
beberapa kasus, dokter mungkin hanya meminta pasien
untuk mengubah gaya hidupnya agar menjadi lebih sehat, seperti rutin
olahraga dan menjalani diat khusus. 
Ketika kedua cara tersebut tidak cukup, barulah dokter akan
meresepkan sejumlah obat diabetes melitus untuk membantu
menurunkan gula darah. Beberapa obat diabetes melitus yang sering

22
diresepkan dokter adalah metformin, pioglitazone, sulfonilurea, agonis,
repaglinide, acarbose,   gliptin, dan nateglinide.
Namun, Anda harus waspada. Pasalnya, obat diabetes melitus dapat
menyebabkan sejumlah efek samping seperti kembung dan diare. Kabar
baiknya, efek samping ini tidak selalu muncul pada setiap orang.
Diskusikan dengan dokter Anda bila Anda mengalami efek samping
obat tersebut.
3. Pengobatan rumahan
 Menjaga pola makan dan asupan gizi
Makanan untuk orang dengan penyakit gula hampir sama
dengan orang yang sehat-sehat saja. Bedanya, makanan Anda lebih
diatur dari mereka. Dokter biasanya akan meminta Anda untuk
lebih banyak mengonsumsi makanan bergizi, rendah lemak dan
kalori sehingga bisa mengontrol kadar gula darahAnda.
Berikut makanan yang harus dikonsumsi:

 Makanan yang terbuat dari biji-bijian utuh atau karbohidrat


kompleks seperti nasi merah, kentang panggang, oatmeal, roti
dan sereal dari biji-bijian utuh.
 Ganti gula Anda dengan pemanis rendah kalori dan mengandung
kromium untuk meningkatkan fungsi insulin dalam tubuh,
sehingga bisa membantu mengontrol gula darah.
 Daging tanpa lemak yang dikukus, direbus, dipanggang, dan
dibakar.
 Sayur-sayuran yang diproses dengan cara direbus, dikukus,
dipanggang atau dikonsumsi mentah. Sayuran yang baik
dikonsumsi untuk penderita, seperti brokoli dan bayam.
 Buah-buahan segar. Jika Anda ingin menjadikannya jus,
sebaiknya jangan ditambah gula.
 Kacang-kacangan, termasuk kacang kedelai dalam bentuk tahu
yang dikukus, dimasak untuk sup dan ditumis.
23
 Produk olahan susu rendah lemak dan telur.
 Ikan seperti tuna, salmon, sarden dan makarel.

Jika Anda menerapkan pola makan yang sehat, maka berat badan
tetap ideal, kadar gula darah stabil, dan terhindar dari risiko penyakit
jantung. 

 Olahraga teratur

Manfaat olahraga teratur untuk diabetesi adalah membantu


menjaga berat badan turun, insulin bisa lebih mudah menurunkan
gula darah, membantu jantung dan paru-paru bekerja lebih baik dan
memberi Anda lebih banyak energi.

Olahraga dapat di mulai berjalan, berenang, bersepeda di


dekat rumah, beraktivitas membersihkan rumah, atau mulai hobi
berkebun.Berolahraga minimal tiga kali seminggu selama sekitar
30 sampai 45 menit. Jika kadar gula darah kurang dari 100-120,
makanlah apel atau segelas susu sebelum Anda berolahraga. Saat
sedang berolahraga, bawalah makanan ringan agar gula darah Anda
tidak turun.

 Rajin cek gula darah setiap hari

Alat yang dihunakan untuk mengukur tes gula darah


disebut glukometer. Dengan petunjuk pemakaian sebagai berikut:

 Pastikan tangan Anda telah dicuci, masukkan kertas test


strip ke alat ukur gula darah.
 Perlahan, tusuk ujung jari dengan jarum steril hingga darah
keluar
 Bila darah yang keluar sedikit, perlahan pijat jari hingga darah
keluar cukup

24
 Pegang dan tahan ujung test strip sampai darah menetes
pada test strip, dan tunggu hasilnya.
 Kadar glukosa darah Anda akan muncul di layar alat

Kadar glukosa umumnya berbeda saat sebelum dan setelah


Anda makan. Untuk tingkat gula darah normal sebelum makan,
kadarnya sekitar 70-130 mg/dL. Kemudian, tingkat gula darah dua
jam setelah makan seharusnya kurang dari 180 mg/dL dan
menjelang tidur berkisar 100-140 mg/dL.Jumlah kadar gula darah
dapat menggambarkan kondisi kesehatan. Kadar gula darah tinggi
dianggap sebagai pertanda bahwa kondisi tubuh Anda sedang tidak
sehat. Catat kadar gula darah setiap kali Anda memeriksa kadar
gula darah.

 Selalu minum obat atau suntik insulin


Keseimbangan kadar gula darah pada diabetesi terkadang
tidak bisa terjaga dengan baik hanya melalui penerapan pola makan
sehat dan olahraga teratur. Anda juga mungkin membutuhkan obat-
obatan untuk menanganinya.
Ada beberapa jenis obat (biasanya dalam bentuk tablet)
yang dapat digunakan untuk kondisi ini (obat hipoglikemik oral).
Anda juga mungkin diberikan kombinasi dari dua jenis obat atau
lebih untuk mengendalikan kadar gula darah Anda. Obat yang
biasa diberikan adalah metformin, sulfonilurea, pioglitazone,
gliptin, agonis, acarbose, nateglinide dan repaglinide. Dalam kasus
tertentu, obat-obatan dalam bentuk tablet mungkin akan kurang
efektif untuk mengobati penyakit gula atau kencing manis ini,
sehingga membutuhkan terapi insulin.
d. Diabetes Insipidus
Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi
diabetes insipidus sentral:
 Meningkatkan konsumsi cairan untuk mencegah dehidrasi.
25
 Pemberian desmopresin (hormon antidiuretik buatan), yang cara
kerjanya serupa dengan hormon antidiuretik tubuh, yaitu dengan
menghentikan produksi urine berlebih dari ginjal saat jumlah cairan
dalam tubuh rendah. Penggunaan desmopresin harus sesuai dengan
resep dokter.
Sedangkan cara untuk mengobati diabetes insipidus nefrogenik,
antara lain:
 Menjaga asupan cairan untuk mencegah dehidrasi.
 Menghentikan konsums
 i obat-obatan yang diduga menjadi penyebab diabetes insipidus dan
menggantinya dengan obat-obatan lain yang lebih aman tapi fungsinya
sama.
e. Penyakit Addison
Penyakit Addison dapat diatasi melalui terapi hormon untuk
menggantikan jumlah hormon steroid yang berkurang dan tidak bisa
diproduksi tubuh. Berikut ini adalah pilihan terapinya:
 Kortikosteroid tablet. Obat yang digunakan untuk menggantikan
kortisol adalah prednison atau hydrocortisone.
Sedangkan fludrocortisone digunakan untuk menggantikan aldosteron.
 Kortikosteroid suntik. Biasanya diberikan pada penderita penyakit
Addison yang mengalami gejala muntah, dan tidak bisa meminum
kortikosteroid tablet.
Umumnya pemberian obat pengganti hormon di atas tidak
menimbulkan efek samping, kecuali jika dosis pemberiannya terlalu tinggi.
Efek samping yang dapat muncul adalah osteoporosis, perubahan suasana
hati, dan insomnia. Sementara pada kasus krisis Addison, penanganan
yang akan dilakukan dokter adalah memberikan infus larutan melalui
pembuluh darah vena. Larutan yang diberikan antara lain adalah gula
(dextrose) dan garam (saline).

26
Selama masa pengobatan, penderita penyakit Addison perlu
memeriksakan diri secara rutin tiap 6 bulan atau 1 tahun agar dokter dapat
memantau perkembangan kondisinya, serta menyesuaikan dosis obat bila
diperlukan.(Willy, 2017)
f. Sindrom Cushing
Pengobatan sindrom Cushing bertujuan mengurangi kadar kortisol
dalam tubuh. Namun demikian, metode pengobatan yang dipilih
tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Beberapa metode
pengobatan untuk sindrom Cushing adalah:
1. Mengurangi penggunaan kortikosteroid.
Metode ini digunakan pada pasien yang menggunakan
kortikosteroid dalam jangka panjang. Dokter bisa mengurangi dosis
kortikosteroid secara bertahap dengan menggantinya dengan obat-
obatan lain. Perlu diingat, jangan lakukan ini tanpa petunjuk dokter.
2. Bedah.
Sindrom Cushing yang disebabkan oleh tumor, dokter akan
melakukan bedah pengangkatan tumor, baik di kelenjar hipofisis,
kelenjar adrenal, pankreas, atau paru-paru. Setelah bedah, pasien akan
membutuhkan obat pengganti hormon kortisol secara sementara.
3. Radioterapi
Jika tumor pada kelenjar hipofisis tidak bisa diangkat sepenuhnya,
dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani radioterapi atau terapi
radiasi.
4. Obat-obatan
Jika bedah dan radioterapi tidak berhasil, dokter akan
menggunakan obat-obatan untuk mengontrol kadar kortisol. Obat juga
bisa digunakan sebelum bedah dilakukan.
Untuk mengontrol kadar kortisol di kelenjar adrenal, jenis obat
yang umumnya digunakan adalah ketoconazole, mitotane, 
dan metyrapone. Sedangkan untuk penderita sindrom Cushing yang
memiliki diabetes, umumnya dokter akan menggunakan mifepristone.
27
Obat-obat tersebut dapat menimbulkan efek samping seperti mual,
muntah, sakit kepala, nyeri otot, serta hipertensi. Kadang juga muncul
efek samping yang lebih serius seperti gangguan fungsi hati.
Obat terbaru untuk menangani sindrom Cushing
adalah pasireotide, yang berfungsi menurunkan kadar ACTH akibat
tumor di kelenjar hipofisis. Obat ini diberikan melalui suntikan dua kali
sehari, dan disarankan untuk digunakan bila bedah tidak berhasil atau
tidak bisa dilakukan. Efek samping dari obat ini adalah diare, mual,
peningkatan gula darah, sakit kepala, tubuh mudah lelah, dan sakit
perut.
g. Sindrom Adrenogenital
Pengobatan dilakukan untuk mengurangi gejala yang dialami
pasien. Jika kondisi ini terdeteksi saat masa kanak-kanak, pasien perlu
dibawa ke dokter anak untuk diagnosa dan pengobatan. Di beberapa
negara, pemeriksaan HAK pada balita wajib dilakukan. Jika di negara
Anda tidak, dan Anda khawatir anak Anda mengalami kondisi ini,
Anda dapat meminta dokter melakukan pemeriksaan. Jika gangguan
adrenogenital baru muncul saat masa awal kedewasaan, pasien perlu
berkonsultasi pada dokter umum atau dokter anak. Jika dokter
mencurigai adanya HAK, pasien akan dirujuk ke spesialis lainnya
seperti dokter bedah plastik/rekonstruktif. Untuk mendiagnosa HAK,
serangkaian tes laboratorium akan dilakukan untuk memastikan dugaan
dokter. Tesnya akan mengukur kadar progesterone 17-OH, serum
DHEA sulfat, dan tingkat 17-ketosteroid pada air seni. Selain itu,
penurunan kadar aldosterone, kortisonal, dan 17-hidroksikortikosteroid
pada air seni. Jika kondisinya teridentifikasi saat masih bayi,
pembedahan semestinya dilakukan setelah anak berusia 1-3 bulan.
Tapi, pembedahan ini hanya akan membantu memperbaiki penampilan
yang abnormal pada kelamin. Terapi hormon juga dapat dilakukan
untuk memberikan hormon yang tidak dapat diproduksi kelenjar
adrenal. Kebanyakan pasien mendapatkan suntikan kortison dan
28
hidrokortison per hari. Tujuannya untuk menormalkan produksi hormon
androgen. Bayi dengan kondisi ini akan mendapatkan suntikan hingga
mencapai usia 18 bulan, setelah itu hormonnya dapat dikonsumsi.
Kebanyakan pasien HAK dapat hidup normal, selama pengobatan terus
dilakukan. Bayi yang tidak mendapatkan pengobatan biasanya tidak
dapat hidup lebih dari enam bulan. Perempuan penderita HAK
umumnya memiliki kondisi kesehatan normal, tapi tinggi badannya
lebih rendah daripada tinggi rata-rata, mengalami menstruasi tidak
teratur atau bahkan tidak mengalami menstruasi sama sekali, juga dapat
mengalami masalah psikologis jika tidak menjalani operasi plastik.
Selain itu, umumnya mereka mengidap darah tinggi yang sulit diobati.
Pasien dengan HAK perlu mengonsumsi obat sepanjang hidupnya. Jika
tidak, kondisi akan memburuk dan menyebabkan komplikasi yang
dapat mengancam keselamatan jiwa(Willy, 2017).

29
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless)


yang menghasilkan hormon yang tersikulasi di tubuh melalui aliran darah
untuk mempengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai
“pembawa pesan” dan dibawah oleh aliran darah ke berbagai sel dalam
tubuh, yang selajutnya akan menerjemahkan “pesan” tersebut menjadi
suatu tindakan.
2. Kelenjar endokrin merupakan sekelompok susunan sel yang
mempunyai susunan mikroskopis sangat sederhana. Kelompok ini terdiri
dari deretan sel-sel, lempengan atau gumpalan sel disokong oleh jaringan
ikat halus yang banyak mengandung pembuluh kapiler.
3. macam-macam system kelenjar endoktrin,yakni:kelenjar hipofise,kelenjar
tiroid,kelenjar para tiroid,kelenjar timus,kelenjar suprarenalis,kelenjar
pienalis,kelenjar pankreatika,dan kelenjar kelmin
4. Sistem endokrin mempunyai lima fungsi umum :Membedakan sistem saraf
dan sistem reproduktif pada janin yang sedang berkembang,Menstimulasi
urutan perkembangan,Mengkoordinasi sistem reproduktif,Memelihara
lingkungan internal .optimal,Melakukan respons korektif dan adaptif
ketika terjadi situasi darurat.
5. Sel-sel penyusun organ endokrin dapat dibedakan menjadi dua yaitu : Sel
neusekretori adalah sel yang berbentuk seperti sel saraf tetapi berfungsi
sebagai penghasil hormon.dan Sel endokrin sejati, disebut juga sel
endokrin kelasik yaitu sel endokrin yang benar-benar berfungsi sebagai
penghasil hormon, tidak memiliki bentuk seperti sel saraf.
6. Mekanisme system endokrin pada manusia terbagi atas:hormone
endoktrin, hormon protein dan petida,protein besar,prohormon,sekresi
hormonn,rangsangan eksotoosis dan rangsangan reseptor.
7. penyakit dan ganguan ada system nedoktrin terdiri
atas:hipotiroid,hipertiroid,diabetes militis,diabetes insipidus,penyakit
adnison,sindrom cushing,sindrom adrenoginital.

30
B. SARAN
Demikian yang dapat penulis paparkan mengenai materi yang
menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak
kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul
makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca dapat memberikan kritik
dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah
ini dan penulisan makalah di kesempatan–kesempatan berikutnya. Semoga
makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca.

31
DAFTAR PUSTAKA
Faizi, M., & EP, N. (2006). Penatalaksanaan Hipertiroid Pada Anak. Divisi
Endokrinologii Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unair RSU Dr. Soetomo
Surabaya, 1–13.

Firdausy, F. (2016, November). Diabetes Insipidus. Academia Edu, 1(1), 1–14.

Hartina, M. (2015). Makalah Fisiologi Sistem Endokrin. Retrieved November 5,


2019, from
https://www.academia.edu/12833486/makalah_fiiologi_sistem_endokrin

Ismail. (2019). Askep Klien Hipertiroidisme. Academia Edu, 53(9), 1689–1699.


https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Kesehatan, K. (2013, November). Situasi dan Analisis Diabetes. Pusat Data Dan
Informasi Kementerian Kesehatan RI, 161(5), 1058–1063.
https://doi.org/10.1002/ajmg.a.35913

Manurung, R. dkk. (2017). Asuhan Keperawatan Sistem Endokrin. Yogyakarta:


Deepublish.

Sanjaya, & Ayling. (2012). Penyakit Addison. Jurnal Ilmiah Kedokteran Wijaya
Kusuma, 1(1), 1–10.

Septory, E. (2013). Makalah Sistem Endokrin. Retrieved November 5, 2019, from


https://www.academia.edu/7337905/makalah-sistem-endokrin

Suastika, K. (2016, April). Bali Endocrine Update (BEU) XIII 2016 1.


Universitas Udayana, 1–19.

Willy, T. (2017, April). Sistem Endokrin. Alodokter, 1–4.

32
1