Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMAKOLOGI DASAR

PENGARUH INDEKS TERAPI OBAT TERHADAP HEWAN COBA

TINGKAT 1B

Disusun oleh:

Dita Suci Ramadhani (P17335119046)


Erika Rahmawati (P17335119047)
Nizella Syahla (P17335119057)
Reyhan Muhammad W (P17335119062)
Riska Yulianti (P17335119064)

Tanggal Pengumpulan Laporan : 16 Maret 2020

POLTEKKES KEMENSES BANDUNG

JURUSAN FARMASI

2020
I. NAMA PERCOBAAN
“Indeks Terapi Obat”

II. PENDAHULUAN
A. Tujuan Percobaan
1. Memperoleh nilai LD50 dari hasil percobaan
2. Memperoleh nilai ED50 dari hasil percobaan
3. Memahami indeks terapi
4. Mengetahui pengaruh dosis terhadap respon

B. Dasar Teori

Dalam farmakologi, dasar-dasar kerja obat diuraikan dalam dua fase yaitu fase
farmakokinetik dan fase farmakodinamik. Dalam terapi obat, obat yang masuk dalam tubuh
melalui berbagai cara pemberian umumnya mengalami absorpsi, distribusi, dan pengikatan untuk
sampai ke tempat kerja (reseptor) dan menimbulkan efek, kemudian dengan atau tanpa
biotransformasi (metabolisme) lalu di ekskresi kan dari tubuh. proses tersebut dinyatakan sebagai
proses farmakokinetik. Farmakodinamik, menguraikan mengenai interaksi obat dengan reseptor
obat; fase ini berperan dalam efek biologik obat pada tubuh (Adnan,2011).

Absorpsi
Jumlah obat yang dapat diabsorbsi oleh tubuh, dinyatakan dengan bioavailalabilitas obat.
Tingginya nilai bioavailabilitas obat tergantung pada banyak faktor, yang menentukan
bagaimana molekul obat melewati bariersaluran gastrointestinal dan berhasil memasuki
pembuluh darah dan diangkutsampai ke reseptornya. Faktor-faktor tersebut antara lain :

1. Cara preparasi dan bentuk sediaan


2. Ukuran molekul
3. Kelarutan molekul dalam lipid, yang lebih mudah larut dalam lipid, bioavailabilitasnya lebih
tinggi
4. Kelarutan dalam air dan lipid, yang larut dalam keduanya, bioavailabilitasnya sangat baik
sedangkan yang larut hanya dalam air, bioavailabilitasnya rendah karena molekul mudah
terdisosiasi.
5. Transport aktif
6. Interaksi dengan makanan
7. Stabilitas di dalam usus
8. Pengosongan lambung
9. Adanya metabolisme dalam usus dan di dalam hati
10. Factor individu pasien itu sendiri dan faktor keadaan patologik dari pasien (Adnan,2011).
Cara Pemberian Obat :
a. Per oral
Cara ini paling umum dilakukan karena mudah, aman dan murah. Namun untuk obat yang
diberikan melalui oral, ada tiga faktor yang mempengaruhi bioavailabilitas :
1. Faktor obatnya sendiri (larut dalam lipid, air atau keduanya.
2. Faktor penderita ( keadaan patologik organ-organ pencernaan dan metabolisme).
3. Interaksi dalam absorpsi di saluran cerna (interksi dengan makanan).
b. Cara pemberian obat melalui suntikan.
Keuntungan pemberian obat secara parenteral dibandingkan per oral, yaitu :
1. Efeknya timbul lebih cepat dan teratur
2. Dapat diberikan pada penderita yang tidak kooperatif, tidak sadar atau muntah-muntah.
3. Sangat berguna dalam keadaan darurat

Kelemahan cara pemberian obat melalui suntikan :

1. Dibutuhkan cara aseptis


2. Menyebabkan rasa nyeri
3. Kemungkinan terjadi penularan penyakit lewat suntikan
4. Tidak bisa dilakukan sendiri oleh penderita
5. Tidak ekonomis
c. Pemberian obat melalui paru-paru
Cara ini disebut cara inhalasi, hanya dilakukan untuk obat yang berbentuk gas atau cairan
yang mudah menguap, misalnya anestetik umum dan obat dalam bentuk aerosol. Absorpsi
melalui epitel paru dan mukosa saluran napas (Adnan,2011).

Distribusi

Distribusi obat terjadi melalui dua fase berdasarkan penyebaran-nya,yaitu:

1. Distribusi fase pertama, yaitu ke organ-organ yang perfusinya sangat baik ( jantung, hati,
ginjal dan otak ), terjadi segera setelah penyerapan, selanjutnya.
2. Distribusi fase kedua, yaitu ke organ-organ yang perfusinya tidak begitu baik (otot, visera,
kulit, dan jaringan lemak ) (Schmitz dkk, 2003).
Obat yang mudah larut dalam lemak akan melintasi membrane sel dan terdistribusi ke
dalam sel, obat yang tidak larut dalam lemak sulit menembus membrane sel sehingga
distribusinya terbatas terutama di cairan ekstrasel. Distribusi terbatasi oleh ikatan obat pada
protein plasma dan hanya obat bebas yang dapat berdifusi kedalam sel dan mencapai
keseimbangan (Schmitz dkk, 2003).

Farmakodinamik

Farmakodinamik merupakan cabang ilmu yang mempelajari efek biokimia dan fisiologi obat
sertamekanisme kerjanya disebut farmakodinamik. Mekanisme kerja obat yaitu :

1. Obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal (fisiologi) tubuh.


2. Obat tidak menimbulkan suatu fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah ada
(ini tidak berlaku bagi terapi gen).

Faktor - faktor yang mempengaruhi aksi obat

1. Berat badan
2. Umur
3. Jenis kelamin
4. Kondisi patologik pasien
5. Genetik ( Idiosinkrasi)
6. Cara pemberian obat
a) Yang memberikan efek sistemik : oral, sublingual, bukal, parenteral, implantasi
subkutan, dan rektal.
b) Yang memberikan efek lokal : inhalasi, topikal (pada kulit) antara lain salep, krim, dan
lotion, serta obat-obat pada mukosa antara lain tetes mata dan tetes telinga
(Adnan,2011).

Hipnotika & Sedatif

Sedatif adalah zat-zat yang dalam dosis terapi yang rendah dapat menekan
aktivitasmental, menurunkan respons terhadap rangsangan emosi sehingga menenangkan.
Hipnotik adalah zat-zat dalam dosis terapi diperuntukkan meningkatkan keinginan untuk tidur
dan mempermudah atau menyebabkan tidur. Hipnotik dan sedatif merupakan golongan obat
pendepresi susunan syaraf pusat(SSP). Efeknya bergantung kepada dosis, mulai dari yang ringan
yaitu menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan, hingga yang berat yaitu hilangnya
kesadaran, keadaan anestesia,koma dan mati (Katzung,2010).

Pada dosis terapi, obat sedatif menekan aktivitas mental, menurunkan respons terhadap
rangsangan emosi sehingga menenangkan. Obat hipnotik menyebabkan kantuk dan
mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai tidur fisiologis. Efek sedasi
juga merupakan efek samping beberapa golongan obat lain yang tidak termasuk obat golongan
depresan SSP. Walaupun obat tersebut memperkuat penekanan SSP, secara tersendiri obat
tersebut memperlihatkan efek yang lebih spesifik pada dosis yang jauhlebih kecil daripada dosis
yang dibutuhkan untuk mendepresi SSP secara umum.

Beberapa obat dalam golongan hipnotik dan sedatif, khususnya golongan benzodiazepin
diindikasikan juga sebagai pelemas otot, antiepilepsi, antiansietas (anticemas),dan sebagai
penginduksi anestesia.

Penggolongan obat hipnotik-sedatif, sebagai berikut :

1. Benzodiazepin: alprazopam, klordiazepoksid, klorazepat, diazepam, flurazepam,lorazepam


2. Barbiturat: amobarbital, pentobarbital, fenobarbital, sekobarbital, thiopental
3. Lain-lain: Propofol, Ketamin, Dekstromethorpan

Kafein

Kafein merupakan senyawa kimia alkaloid terkandung secara alami pada lebih dari 60
jenis tanaman terutama teh (1- 4,8 %), kopi (1-1,5 %), dan biji kola(2,7-3,6 %). Kafein
diproduksi secara komersial dengan cara ekstraksi dari tanaman tertentu serta diproduksi secara
sintetis. Kebanyakan produksi kafein bertujuan untuk memenuhi kebutuhan industri minuman.
Kafein juga digunakan sebagai penguat rasa atau bumbu pada berbagai industri makanan (Misra
dkk, 2008).
Kafein merupakan sejenis alkaloid heterosiklik dalam
golongan methylxanthine, yang menurut definisi berarti
senyawa organik yang mengandung nirogen dengan struktur
dua-cincin atau dual-siklik. Molekul ini secara alami terjadi
dalam banyak jenis tanaman sebagi metabolik sekunder. Fungsinya dalam tumbuhan adalah
sebagai pestisida alami yang melumpuhkan dan membunuh serangga yang memakan tumbuhan
tersebut. Zat ini dihasilkan secara eksklusif dalam daun, kacang-kacangan dan buah-buahan lebih
dari 60 tanaman, termasuk daun teh biasa (Camellia sinensis), kopi (Coffea arabica), kacang
koko (Theobroma cacao), kacang kola (Cola acuminata) dan berbagai macam berry (Reinhardt,
2009). \
Kafein dalam bentuk murni muncul sebagai bedak kristal putih yang pahit dan tidak
berbau (Brain, 2000). Rumus kimianya adalah C₈H₁₀N₄O₂ dan memiliki nama kimia 1,3,7-
trimethylxanthine. Nama IUPAC untuk kafein adalah 1,3,7- trimethyl-1H-purine-2,6(3H,7H)-
dione, 3,7-dihydro-1,3,7-trimethyl-1H-purine2,6-dione (Erowid, 2011).

Farmakokinetik Kafein
Absorbsi kafein dari saluran pencernaan ke aliran darah adalah sangat cepat dan
mencapai 99% pada manusia yaitu sekitar 45 menit setelah diingesti. Penyerapannya tidak
sempurna apabila diambil sebagai kopi dengan 90% kafein dalam secangkir kopi akan diabsorbsi
dalam waktu 20 menit setelah diminum, dengan efeknya bermula dalam satu jam dan bertahan
selama 3 hingga 4 jam. Kafein yang diabsorbsi akan didistribusi ke seluruh tubuh. Zat ini dapat
melewati sawar otak, plasenta ke cairan amnion dan fetus, dan ke susu ibu. Kafein juga pernah
dideteksi di dalam semen (Nawrot, dkk, 2001).
Konsentrasi plasma memuncak setelah 40 hingga 60 menit dengan waktu paruh kira-kira
6 jam ( 3 sampai 7 jam) pada dewasa sehat. Bagaimanapun, waktu paruhnya berkurang pada
individu yang merokok dan meningkat sehingga 2 kali lipat pada wanita hamil atau yang
menggunakan kontrasepsi oral dalam jangka waktu panjang (Nawrot dkk, 2001).
Hepar adalah situs utama dalam metabolisme kafein (Stavric and Gilbert 1990). Zat ini
dimetabolisir secara demethylation dan oxidation. Jalur metabolisme mayor akan menghasilkan
paraxanthine (1,7-dimethylxanthine), dan metabolit urin yang utama adalah lmethylxanthine, 1-
methyluric acid, dan aceylated uracyl derivative. Jalur degradasi yang minor melibatkan
pembentukan dan metabolime theophylline dan theobromine. Kadar eliminasi methylxanthine
bervariasi di antara individu karena pengaruh genetik dan lingkungan, sehingga perbedaan yang
mencapai empat kali lipat adalah tidak mengherankan. Metabolisme zat ini juga dipengaruhi oleh
agen lain atau penyakit khusus. Misalnya, merokok dan kontrasepsi oral menyebabkan
peningkatan yang kecil tapi nyata terhadap eliminasi methylxanthine. Waktu paruh theophylline
dapat meningkat dengan signifikan pada penderita sirosis hati, payah jantung, atau edema paru
akut, dengan nilai melebihi 60 jam pernah dilaporkan (Chawla, 2011).

Mekanisme Kerja Kafein


Efek fisiologis kafein yang beraneka ragam mungkin disebabkan oleh tiga mekanisme
kerjanya, (1) mobilisasi kalsium intrasellular, (2) peningkatan akumulasi nukleotida siklik karena
hambatan phosphodiesterase., dan (3) antagonisme reseptor adenosine (Nehlig, 2010).
Mobilisasi kalsium intasellular dan inhibisi phosphodiesterase khusus hanya berlaku pada
konsentrasi kafein yang sangat tinggi dan tidak fisiologis. Oleh sebab itu, mekanisme kerja yang
paling relevan adalah antagonisme reseptor adenosine. Adenosine berfungsi untuk
mengurangkan kadar ledakan neuron selain menghambat transimisi sinaptik dan pelepasan
meurotransmiter. Terdapat empat reseptor adenosine yang dikenal: A1, A2(A dan B) dan A3.
Reseptor A1 dan A2 merupakan subtipe utama yang terlibat dengan efek kafein karena dapat
berikatan dengan kafein pada dosis kecil, A2B pula berikatan pada dosis yang tinggi dan A3
tidak sensitif terhadap kafein.
Reseptor A1 banyak terdistribusi di seluruh otak dengan densitas yang tinggi di hipokampus,
korteks dan serebelum manakala A2 banyak terdapat di striatum, nukleus akumbens, tuberkulum
olfaktorius dan amygdala serta mempunyai ekspresi yang lemah di globus pallidus dan nukleus
traktus solitarius. Tidak seperti A1, reseptor A2 berpasangan dengan G protein stimulatorik dan
berhubungan dengan receptor D2 dopamin. Administrasi A2 agonis akan mengurangkan afinitas
ikatan dopamin di reseptor D2 yang terletak di membrane striatal (Chawla, 2011).
Selain memberi efek terhadap tidur dan kewaspadaan melalui aktivasi neuron kolinergik
mesopontin oleh antagonisme receptor A1 (Dixit, Vaney & Tandon, 2006), kafein juga
berinteraksi dengan sistem dopamin untuk memberikan efeknya terhadap perilaku. Hal ini
dicapai melalui penghambatan reseptor adenosine A2 sehingga kafein dapat mempotensiasi
neurotansmisi
dopamin, dengan demikian dapat memodulasi reward system. Selain itu, konsumsi kafein,
toleransi dan ketergantungan mempunyai komponen genetika berdasarkan beberapa penelitian
yang melaporkan adanya hubungan antara polimorfisme gen A2A dengan sensisitivitas terhadap
efek kafein (Temple dkk, 2010).
Antagonisme reseptor adenosin mungkin dapat mempengaruhi proses kognisi antara
lainnya dengan mengaktivasi reseptor D1 dan D2. Penelitian yang dilakukan pada monyet telah
membuktikan bahwa aktivasi reseptor D1 dan D2 dapat meningkatkan prestasi tugas yang
menggunakan memori kerja (Dixit, Vaney & Tandon, 2006).

Metode Penentuan LD50

Beberapa Metode Penentuan Letal Dosis Penentuan LD50 dapat dihitung dengan
menggunakan cara grafik maupun cara aljabar. Beberapa metode yang umum dipakai untuk
menentukan LD50 adalah sebagai berikut:

1. Metode Trevan.
Metode ini merupakan cara yang sederhana, tetapi memerlukan jumlah hewan yang besar
untuk memperoleh hasil yang lebih teliti. Mula-mula ditentukan beberapa tingkat dosis
yang dilakukan pada sekelompok hewan percobaan. Pengamatan dilakukan 24 jam
setelah perlakuan dan ditentukan persen kematian setiap kelompok. Antara logaritma
dosis dan persen kematian dihubungkan sehingga didapatkan grafik yang berbentuk
sigmoid (logaritmik). LD50 didapatkan dengan cara menarik garis dari angka 50% pada
sumbu Y dan diplotkan pada sumbu X. Titik potong pada absis merupakan LD50 yang
ditentukan.
2. Metode Perhitungan cara Grafik (Graphical Calculation) Miller dan Tainter. Metode ini
merupakan metoda yang paling umum dipakai dalam penghitungan efektif dosis. Namun
dibutuhkan kertas khusus berkoordinat yaitu kertas probit logaritma, dengan absis dalam
skala logaritma dan ordinat sebelah kiri dalam skala probit atau ordinat sebelah kanan
dibuat dalam skala persen yang setara dengan skala probit (skala ini non linier) atau nilai
persen dapat dilihat di dalam tabel probit. Kurva sigmoid dapat ditransformasi menjadi
garis lurus dengan memplotkan respon kuantal terhadap logaritma dosis. Dalam cara
perhitungan ini diperlukan Tabel Probit.
3. Metode Aritmatik Reed dan Muench. Metode ini menggunakan nilai-nilai kumulatif.
Asumsi yang dipakai adalah bahwa seekor hewan yang mati oleh dosis tertentu akan mati
juga oleh dosis yang lebih besar, sedangkan hewan bertahan hidup pada dosis tertentu
juga akan tetap bertahan hidup pada dosis yang lebih rendah. Kematian kumulatif
diperoleh dengan menambahkan secara suksesif ke bawah dan hidup kumulatif diperoleh
dengan menambahkan secara suksesif ke atas. Persen hidup dari dosis-dosis yang
berdekatan dengan LD50 dihitung.

4. Metode Karber.
Metode ini memakai interval rata-rata dari jumlah hewan percobaan yang mati pada tiap
kelompok hewan dan perbedaan antar dosis untuk interval yang sama. Hasil dosis yang
lebih besar dari dosis yang mematikan seluruh hewan dalam sekelompok dosis dan dosis
yang lebih rendah yang dapat ditolerir oleh seluruh hewan dalam suatu kelompok, tidak
digunakan dalam metode ini. Jumlah perkalian diperoleh dari hasil kali beda dosis
dengan rata-rata kematian pada interval yang sama. Lethal Dose 50, dosis terkecil yang
menyebabkan kematian seluruh hewan dalam satu kelompok, di kurangi dengan jumlah
perkalian dibagi jumlah hewan dalam tiap kelompok.
Apabila dijabarkan dalam bentuk rumus adalah seperti berikut:

5. Metode Perhitungan Secara Grafik Litchfield dan Wilcoxon.


Metode ini merupakan salah satu metode yang sering dipakai dalam penetuan dosis
efektif. Metode ini menggunakan tabel-tabel seperti tabel penghitungan ED50, tabel batas
kepercayaan 95%, tabel kemiringan garis respon, tabel dari simpangan dua buah garis
sejajar yang dibandingkan, dan lain-lain. Pengubahan logaritma dosis menjadi dosis dan
hubungan probit terhadap respon menjadi respon, dipakai tabel peluang logaritma
(logaritmic probability) dan beberapa monogram. Heterogenitas data ditentukan dengan
uji chi kuadrat. Untuk penghitungan LD50 dan batas kepercayaannya, metode ini sebaik
metode Miller dan Tainter (1994). Namun untuk nilai-nilai yang lain, metode ini
menghasilkan pendugaan yang lebih baik, relatif lebih sederhana, dan waktu yang
diperlukan relatif lebih singkat.
6. Metode Thomson and Weil.
Metode ini merupakan metode yang banyak dipergunakan karena tidak memerlukan
hewan percobaan yang terlalu banyak dan mempunyai tingkat kepercayaan atau
“confidence level” yang cukup tinggi.
Perhitungan LD50 dilakukankan berdasarkan rumus berikut:

LD50 dan ED50

Interaksi antara obat dan tempat ikatan pada reseptor tergantung pada terpenuhinya
kesesuaian antara kedua molekul tersebut. "makin erat kesesuaian dan makin banyak ikatan,
biasanya non kovalen, makin kuat gaya tarik di antara kedua molekul tersebut, dan makin tinggi
afinitas obat tersebut terhadap reseptor. Kemampuan suatu obat untuk berikatan dengan satu
jenis reseptor tertentu disebut spesifisitas. Tidak ada obat yang benar-benar spesifik, namun
banyak obat yang bekerja relatif selektif pada satu jenis reseptor. Obat-obat diresepkan untuk
menghasilkan efek terapeutik,namun seringkali menghasilkan efek yang tidak diharapkan, yang
bervariasi mulai dari efek yang tidak berarti, misalnya mual ringan sampai efek yang fatal,
misalnya anemiaaplastik (Neal dkk, 2006).

Untuk menyatakan toksisitas akut sesuatu obat, umumnya dipakai ukuran LD50 (medium
lethal dose 50) yaitu suatu dosis yang dapat membunuh 50% dari sekelompok binatang
percobaan. Demikian juga sebagai ukuran dosis efektif (dosis terapi) yang umum digunakan
sebagai ukuran ialah ED 50 (median effective dose), yaitu dosis yang memberikan efek tertentu
pada 50% dari sekelompok binatang percobaan (Neal dkk, 2006).

LD50 ditentukan dengan memberikan obat dalam dosis yang bervariasi (bertingkat)
kepada sekelompok binatang . Setiap binatang diberikan dosis tunggal. Setelah jangka waktu
tertentu (misalnya 24 jam) sebagian biantang percobaan ada yang mati, dan persentase ini
diterakan dalam grafik yang menyatakan hubungan dosis (pada absis) dan persentase binatang
yang mati (pada ordinat) (Neal dkk, 2006).

LD secara variable menyatakan bahwa dosis ini akan membunuh binatang-banatang


dengan sensitivitasnya rata-rata hamper sama. LD 50 merupakan suatu hasil dari pengujian
(assay) dan bukanlah pengukuran kuantitatif. LD 50 bukanlah merupakan nilai mutlak, dan akan
bervariasi dari satu laboratorium ke laboratorium lain, dan malahan pada laboratorium yang
sama akan berbeda hasilnya setiap kali dilakukan percobaan (Neal dkk, 2006).

Indeks Terapeutik
Indeks terapeutik adalah suatu ukuran keamanan obat karena nilai yamg besar
menunjukkan bahwa terdapat suatu batas yang luas / lebar di antara dosis – dosis yang efektif
dan dosis yang foksik. Indeks terapeutik ditentukan dengan mengukur frekuensi respon yang
diinginkan dan respon toksik pada berbagai dosis obat.

Indeks terapeutik suatu obat adalah rasio dari dosis yang menghasilkan tolensitas dengan dosis
yang menghasilkan suatu respon yang efektif.
𝐿𝐷50
Indeks terapeutik = (Mycek dkk, 2001)
𝐸𝐷50
Indeks terapi adalah rasio antara dosis toksik dan dosis efektif atau menggambarkan
keamanan relatif sebuah obat pada penggunaan biasa. Diperkirakan sebagai rasio LD50 (Dosis
Lethal pada 50% kosis) terhadap ED50 (Dosis efektif pada 50% kasus). Karena efek berbeda
mungkin perlu dosis berbeda.
Istilah LD50 sering dalam toksikologi yaitu dosis yang akan membunuh 50% dari
populasi experimental. Misal : untuk obat impromine, dosis oral 625 mg/kg diberi pada 100 tikus
akan mematikan 50 diantaranya. (Mycek dkk, 2001)
Indeks terapi suatu obat dinyatakan dalam pernyataan berikut :
Indeks terapi = TD50 atau CD50
ED50 ED50
Obat ideal menimbulkan efek terapi pada semua pasien tanpa menimbulkan efek toksik pada
seorang pun pasien, oleh karena itu
TD1 ≥ 1
ED99
Suatu ukuran obat, obat yang memiliki indeks terapi tinggi lebih aman dari pada obat
yang memiliki indek terapi lebih rendah. TD50 : Dosis yang toksik pada toksik 50% hewan
yang menerima dosis tersebut, kematiaan merupakan toksisitas terakhir (Jonet.L. Stringe, ).
Efek suatu senyawa obat tergantung pada jumlah pemberian dosisnya. Jika dosis yang
diberi dibawah titik ambang (subliminsal dosis), maka tidak akan didapatkan efek. Respon
tergantung pada efek alami yang diukur. Kenaikan dosis mungkin akan meningkatkan efek pada
intensitas tersebut. Seperti obat antipiretik atau hipotensi dapat ditentukan tingkat
penggunaannya, dalam arti bahwa luas (range) temperature badan dan tekanan darah dapat
diukur (Lullmann, 2000).
Hubungan dosis efek mungkin berbeda-beda tergantung pada sensitivitas indivdu yang
sedang menggunakan obat tersebut. Sebagai contoh untuk mendapatkan efek yang sama
kemungkina dibitihkan dosis yang berbeda pada individu yang berbeda. Variasi individu dalam
sensitifitas secara khusus mempunyai efek “semua atau tak satupun” sama (Lullmann, 2000).
Hubungan frekuensi dosis dihasilkan dari perbedaan sensitifitas pada individu sebagai
suatu rumusan yang ditunjukan pada suatu log distribusi normal. Jika frekuensi kumulatif (total
jumlah binatang yang memberikan respon pada dosis pemberian) diplotkan dalam logaritma
maka akan menjadi bentuk kurva sigmoid. Pembengkokan titik pada kurva berada pada keadaan
dosis satu-separuh kelompok dosis yang sudah memberikan respon. Range dosis meliputi
hubungan dosis-frekuensi memcerminkan variasi sensitivitas pada individi terhadap suatu obat
(Lullmann, 2000).
Evaluasi hubungan dosis efek di dalam sekelompok subyek manusia dapat ditemukan
karena terdapat perbedaan sensitivitas pada individu-individu yang berbeda. Untuk menentukan
variasi biologis, pengukauran telah membawa pada suatu sampel yang representative dan
didapatkan rata-ratanya. Ini akan memungkinkan dosis terapi akan menjadi sesuai pada
kebanyakan pasien (Lullmann, 2000).
Indeks teraupetik merupakan suatu ukuran keamanan obat karena nilai yang besar
menunjukkan bahwa terdapa suatu batas yang luas / lebar diantara dosis-dosis yang toksik.
Penentuan indeks terapeutik : Indeks teraupetik ditentukan dengan mengukur frekuensi respon
yang diinginkan dan respon toksik pada berbagai dosis obat.
Aspek kuantitatif eliminasi obat melalui ginjal
a) Rasio efektif : Penurunan konsentrasi obat dalam plasma dari darah arteri ke vena ginjal
b) Kecepatan ekskresi : Eliminasi dari suatu obat biasanya mengikuti kinetik firstorder dan
konsentrasi obat dalam plasma turun secara exponensia menurut waktu. Ini biasa digunakan
untuk menentukan waktu paruh obat (Mycek, dkk. 2001).

III. CARA KERJA


A. Alat dan Bahan
a. Alat
1. Spuit injeksi dan jarum no 30
2. Sarung tangan
3. Stopwatch
4. Platform
5. Tissue
6. Koran
b. Bahan
1. Kafein
2. Aqua pro injection
3. Alkohol
c. Hewan uji : Mencit

B. Cara Kerja
1. Alat dan Bahan disiapkan
2. Mencit diberi tanda setelah ditimbang
3. Obat diberikan secara intraperitoneal kepada setiap mencit dan dosis yang
diberikan meningkat
4. Diamati dan dicatat jumlah mencit yang kehilangan “righting refleks”
5. Digambarkan grafik dosis respon

IV. PENGAMATAN

Dilakukan konversi dosis untuk 5 mencit, masing masing dengan dosis kafein yang
berbeda dan 1 mencit digunakan sebagai kontrol. Volume pemberian dihitung dikonversi
berdasarkan bobot mencit
1. Mencit 1 = Kontrol
21
21gram → 20
× 0,5 = 0,52𝑚𝐿
0,2𝑚𝑔 0,4𝑚𝑔⁄
2. Mencit 2 = Kafein ⁄20𝑔𝑟𝑎𝑚 ( 𝑚𝐿)

24
24gram → 20
× 0,2 = 0,24𝑚𝑔
0,24
0,4
= 0,6𝑚𝐿

1,5𝑚𝑔 3𝑚𝑔⁄
3. Mencit 3 = Kafein ⁄20𝑔𝑟𝑎𝑚 ( 𝑚𝐿)

23
23gram → × 1,5 = 1,725𝑚𝑔
20
1,725
= 0,57𝑚𝐿
3

6,75𝑚𝑔 13,5𝑚𝑔⁄
4. Mencit 4 = Kafein ⁄20𝑔𝑟𝑎𝑚 ( 𝑚𝐿)

22
22gram → 20
× 6,75 = 7,425𝑚𝑔
7,425
= 0,55𝑚𝐿
13,5

7,2𝑚𝑔 14,4𝑚𝑔⁄
5. Mencit 5 = Kafein ⁄20𝑔𝑟𝑎𝑚 ( 𝑚𝐿)

25
25gram → × 7,2 = 9𝑚𝑔
20
9
14,4
= 0,63𝑚𝐿

Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh data pengamatan selama 90 menit terhadap 5


mencit dengan pemberian dosis kafein yang berbeda beda, serta 1 mencit sebagai kontrol sebagai
berikut.

Tabel Gerakan Bolak Balik dan Gerakan Menengok Mencit

Waktu Kontrol Mencit 2 Mencit 3 Mencit 4 Mencit 5


Pengamatan GBB GM GBB GM GBB GM GBB GM GBB GM
5' 2 21 0 10 3 1 6 5 0 1
10' 9 54 3 18 0 2 14 5 0 0
15' 6 46 1 13 0 5 9 3 0 0
20' 6 15 3 65 0 2 18 2 0 0
25' 6 15 0 3 0 7 10 2 0 0
30' 2 5 0 4 0 1 5 0 0 0
35' 0 6 0 2 0 3 9 1 0 0
40' 2 17 0 5 0 0 10 3 0 0
45' 3 19 0 2 0 0 16 2 0 0
50' 4 19 0 1 0 1 4 0 0 0
55' 5 21 1 3 0 3 3 0 0 0
60' 2 20 3 18 0 6 2 0 0 0
65' 1 8 0 16 0 0 7 1 0 0
70' 0 19 0 25 0 3 7 0 0 0
75' 2 9 2 13 0 3 6 0 0 0
80' 0 7 1 26 0 2 3 0 0 0
85' 1 4 0 17 0 2 9 1 0 0
90' 0 0 0 43 0 2 3 0 0 0
Keterangan:

GBB : Gerakan Bolak Balik

GM : Gerakan Menengok
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama 90menit terhadap 5 mencit dengan
pemberian dosis obat dan dilakukan penghimpunan data pengamatan 8 kelompok, diperoleh rata
rata rekapitulasi gerakan bolak balik mencit dari setiap kelompok yang diberi dosis yang sama
sebagai berikut

Tabel Rata-Rata Rekapitulasi Gerakan Bolak Balik Mencit

Rekapitulasi Gerakan Bolak Balik

Waktu Kontrol Mencit 2 Mencit 3 Mencit 4 Mencit 5


Pengamatan
4 10 4 5 2
5'
8 9 5 2 1
10'
6 6 4 1 1
15'
6 9 4 1 0
20'
6 4 3 0 0
25'
6 5 3 0 0
30'
5 4 2 0 0
35'
4 4 3 1 1
40'
5 3 3 0 0
45'
5 4 2 0 0
50'
5 4 4 0 0
55'
4 2 3 0 0
60'
2 2 3 0 0
65'
1 1 2 0 0
70'
1 2 2 0 0
75'
2 2 3 0 0
80'
2 1 1 0 0
85'
0 1 3 0 0
90’
Dari data pengamatan yang diperoleh, dibuat kurva antara rata rata rekapitulasi gerakan bolak
balik mencit terhadap waktu untuk setiap dosis.

KURVA ANTARA RATA RATA REKAPITULASI GERAKAN BOLAK


BALIK MENCIT TERHADAP WAKTU UNTUK SETIAP DOSIS
12
Rekapitulasi Gerakan Bolak Balik

10

Kontrol
6 Mencit 2
Mencit 3

4 Mencit 4
Mencit 5

0
5' 10' 15' 20' 25' 30' 35' 40' 45' 50' 55' 60' 65' 70' 75' 80' 85' 90’
Waktu Pengamatan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama 90menit terhadap 5 mencit dengan


pemberian dosis obat dan dilakukan penghimpunan data pengamatan 8 kelompok, diperoleh rata
rata rekapitulasi gerakan menengok mencit dari setiap kelompok yang diberi dosis yang sama
sebagai berikut

Tabel Rata-Rata Rekapitulasi Gerakan Menengok Mencit

Rekapitulasi Gerakan Menengok

Waktu Kontrol Mencit 2 Mencit 3 Mencit 4 Mencit 5


Pengamatan
17 10 11 7 3
5'
26 15 11 3 1
10'
26 17 13 1 1
15'
24 23 8 3 1
20'
16 9 4 2 1
25'
14 6 3 1 0
30'
14 5 4 2 1
35'
13 4 4 2 0
40'
18 3 5 2 1
45'
18 6 6 1 0
50'
20 6 6 1 0
55'
17 8 4 1 0
60'
17 6 6 1 0
65'
11 10 6 1 0
70'
7 5 6 1 0
75'
7 6 8 0 0
80'
7 5 5 1 0
85'
4 8 11 1 0
90’
Dari data pengamatan yang diperoleh, dibuat kurva antara rata rata rekapitulasi gerakan bolak
balik mencit terhadap waktu untuk setiap dosis.

KURVA ANTARA RATA RATA REKAPITULASI GERAKAN


MENENGOK MENCIT TERHADAP WAKTU UNTUK SETIAP DOSIS.
30
Rekapitulasi Gerakan menengok

25

20
Kontrol
15 Mencit 2
Mencit 3
10 Mencit 4
Mencit 5
5

0
5' 10' 15' 20' 25' 30' 35' 40' 45' 50' 55' 60' 65' 70' 75' 80' 85' 90’
Waktu Pengamatan

Ukuran dosis efektif (dosis terapi) yang umum digunakan sebagai ukuran ialah ED 50
(median effective dose), yaitu dosis yang memberikan efek tertentu pada 50% dari sekelompok
binatang percobaan. Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh akumulasi respon dan tidak respon
mencit, serta persentase efektif dose untuk setiap rentang dosis.

Dosis (mg) Respon Akumulasi Tidak Akumulasi Total % Efek


respon Respon tidak respon (ED)
0 0 0 8 51 51 0
0,2 4 4 4 43 47 8,51
0,42 4 8 4 39 47 17,02
0,8 1 9 7 35 46 19,56
1,5 2 11 6 28 39 28,21
1,68 0 11 8 22 33 33,33
3,36 1 12 7 14 26 46,15
5,04 1 13 7 7 20 65
6,75 8 21 0 0 21 100
7,2 8 29 0 0 29 100
Untuk menyatakan toksisitas akut sesuatu obat, umumnya dipakai ukuran LD50 (medium
lethal dose 50) yaitu suatu dosis yang dapat membunuh 50% dari sekelompok binatang
percobaan. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh akumulasi mencit hidup dan mati, serta
persentase letal dose untuk setiap rentang dosis.

Dosis (mg) Mati Hidup Akumulasi Akumulasi Total % Kematian


mati hidup (LD)
0 0 8 0 62 62 0
0,2 0 8 0 54 54 0
0,42 0 8 0 46 46 0
0,8 0 8 0 38 38 0
1,5 0 8 0 30 30 0
1,68 0 8 0 22 22 0
3,36 1 7 1 14 15 6,67
5,04 1 7 2 7 9 22,2
6,75 8 0 10 0 10 100
7,2 8 0 18 0 18 100

Kurva antara %ED50 dan LD50 terhadap dosis


120

100
%ED50 dan LD50

80

60
ED 50

40 LD 50

20

0
0 0.2 0.42 0.8 1.5 1.68 3.36 5.04 6.75 7.2
DOSIS
V. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian penentuan indeks terapi obat. Obat yang
digunakan pada praktikum kali ini adalah kafein. Hewan coba yang digunakan adalah mencit.
Kafein diberikan dengan dosis yang berbeda beda pada setiap mencit, dan satu mencit sebagai
kontrol. Dosis yang diberikan per 20gram bobot mencit anatara lain 0,2mg, 0,42mg, 0,84mg,
1,5mg, 1,68mg, 3,36mg, 5,04mg, 6,75mg, dan 7,02mg. Kafein diberikan melalui rute
intraperitoria. Cara pemberian secara intraperitonial yaitu mencit disuntik di bagian abdomen
bawah sebelah garis midsagital dengan posisi abdomen lebih tinggi dari pada kepala, dan
kemiringan jarum suntik 10°. Pemberian secara intraperitonial dimaksudkan agar absorbsi pada
lambung, usus dan proses bioinaktivasi dapat dihindarkan, sehingga didapatkan kadarobat yang
utuh dalam darah karena sifatnya yang sistemik.
Pengamatan dilakuakan selama 90 menit terhadap gerakan bolak balik mencit dan
gerakan menengok mencit, dengan rentang waktu setiap 5 menit dihitung rekapitulasi gerakan
bolak balik dan gerakan menengok mencit.
Dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan hasil jumlah mencit yang mati dari
berbagai dosis, dosis 3,36mg/20gram 1 ekor, dosisi 5,04mg/20gram 1 ekor, dosis
6,75mg/20gram 8 ekor, dan dosis 7,2mg/20gram 8 ekor. Pada pemberian obat sedatif hipnotik
dosis tinggi akan semakin memberikan efek sedatif hipnotik yang besar pula. hal tersebut
nampak ketika dosis semakin naik menyebabkan efek toksisitas obat. Bila dosis methylxanthine
ditinggikan, akan menyebabkan gugup, gelisah, insomnia, tremor, hiperestesia, kejang fokal atau
kejang umum (Syarif, 2009), sehingga pada beberapa mencit yang mati, sebelum mati
mengelami kejang terlebih dahulu karena dosis kafein atau methylxantine yang diberikan pada
mencit tersebut tinggi. dosis methylxanthine yang lebih tinggi hanya menyebabkan timbulnya
sinus takikardia dan peningkatan curah jantung (Katzung, 2004).
Efek fisiologis kafein yang beraneka ragam mungkin disebabkan oleh tiga mekanisme
kerjanya, (1) mobilisasi kalsium intrasellular, (2) peningkatan akumulasi nukleotida siklik karena
hambatan phosphodiesterase, dan (3) antagonisme reseptor adenosine (Nehlig, 2010). Pada dosis
tertinggi, ekor mencit menjadi kaku/hampir berdiri. Hal tersebut menunjukkan besarnya
perangsangan dari caffein terhadap sistem saraf pusat pada mencit.
Metode yang digunakan untuk menentukan letal dosis adalah metode Trevan. Metode ini
merupakan cara yang sederhana, tetapi memerlukan jumlah hewan yang besar untuk memperoleh
hasil yang lebih teliti. Mula-mula ditentukan beberapa tingkat dosis yang dilakukan pada
sekelompok hewan percobaan. Pengamatan dilakukan 24 jam setelah perlakuan dan ditentukan
persen kematian setiap kelompok. Antara logaritma dosis dan persen kematian dihubungkan
sehingga didapatkan grafik yang berbentuk sigmoid (logaritmik). LD50 didapatkan dengan cara
menarik garis dari angka 50% pada sumbu Y dan diplotkan pada sumbu X. Titik potong pada
absis merupakan LD50 yang ditentukan.
Hubungan dosis-respon sangatlah penting dalam hasil terapi dan percobaan farmakologi.
Data dosis-respon digambarkan dengan grafik atau kurva, dimana ukuran respon berada pada
posisi ordinat (y) dan log dosis pada posisi absis (x). Pada kurva tersebut digambarkan
konsentrasi obat untuk dapat menghasilkan efek maksimum, potensi obat, efikasi, dan keamanan
obat. Keamanan suatu obat dapat terlihat dari indeks terapinya. Semakin curam kurva maka obat
tersebut semakin tidak baik.

VI. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa


1. Nilai LD50 dari hasil percobaan ini adalah 0mg = 0%; 0,2mg = 0%; 0,42mg = 0%; 0,8mg =
0%; 1,5mg = 0%; 1,68mg = 0%; 3,36mg = 66,67%; 5,04mg = 77,78%; 6,75mg = 100%;
7,2mg = 100%.
2. Nilai ED50 dari hasil percobasn ini adalah 0mg = 0%; 0,2mg = 8,51%; 0,42mg = 17,02%;
0,8mg = 19,56%; 1,5mg = 28,21%; 1,68mg = 33,33%; 3,36mg = 46,15%; 5,04mg = 65%;
6,75mg = 100%; 7,2mg = 100%
3. Indeks terapi adalah perbandingan antara ED50 dengan LD50, yang merupakan suatu ukuran
keamanan obat. Semakin besar indeks terapi maka semakin aman penggunaan obat tersebut.
4. Semakin tinggi dosis maka semakin tinggi respon yang diberikan dan semakin tinggi toksik
DAFTAR PUSTAKA

Adnan.2011.Farmakologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC


Chawla, J., Suleman, A., 2011. “Neurologic Effects of Caffeine. Medscape Reference”.
Available from: http://emedicine.medscape.com/article/1182710
Dixit A, Vaney N, Tandon OP., 2006, “Effect of caffeine on central auditory pathways”. An
evoked potential study, Hear Res.
Erowid, 2011. “Caffeine Chemistry”. The Vaults of Erowid. Available from:
http://www.erowid.org/chemicals/caffeine/caffeine_chemistry.shtml.
Katzung, Bertram G. 2010. Farmakologi Dasar dan Klinik . Jakarta: EGC
Kee, Joyce L dan Evelyn R. Hayes. 1994. Farmakologi, Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta
: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Lullmann H, Mohr K, Ziegler A, Bieger D. 2000. Color Atlas of Pharmacology. 2 nd ed. New
York : Thieme.
Martindale, William. 1996. Martindale: The Extra Pharmacopoeia.UK :Royal Pharmaceutical
Society/
Misra H, D. Mehta, B.K. Mehta, M. Soni, D.C. Jain. 2008. “Study of Extraction and HPTLC –
UV Method for Estimation of Caffeine in Marketed Tea (Camellia sinensis) Granules”.
International Journal of Green Pharmacy.
Mycek, M. J, Harvey, R.A. dan Champe, P.C., 2001, Farmakologi Ulasan Bergambar 2nd ed. H.
Hartanto, ed., Jakarta, Widya Medika.
Olson, James, 2000, Belajar Mudah Farmakologi, Jakarta : ECG
Nawrot, P. et al., 2001. Effect of Caffeine on Human Health. Food Addictive and Contaminants.
Neal, M.J. 2006. At a Glance Farmakologi Medis Edisi Kelima. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Nehlig, A. 2010. Is Caffeine a Cognitive Enhancer. Journal of Alzheimer’s Disease
Reinhardt, D., 2009. Caffeine Chemistry and Caffeine Effects. Available from:
http://suite101.com/article/caffeine-chemistry-and-caffeine-effects-a130352.
Schmitz, Gary Hans Lepper dan Michael Heidrich. 2003. Farmakologi danToksikologi. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Stavric B and Gilbert SG (1990). “Caffeine metabolism: a problem in extrapolating results from
animal studies to humans”. Acta Pharmaceutica Jugoslavica
Temple, Jean S. dan Johnson, Joyce Y. (2010). Buku saku prosedur klinis keperawatan. Alih
bahasa: Esty Wahyuningsih, dan Devi Yulianti. Edisi 5. Jakarta: EGC