Anda di halaman 1dari 19

BAB I

Hadits dalam masa kelima , Masa mentashihkan hadits dan penyusunan


Qaedah-Qaedahnya

A. Masa membukukan hadits semata-mata (hadits dalam abad ketiga).

Para ahli abad kedua –sebagai yang telah diterangkan –tidak


mengasingkan hadits dari fatwa –fatwa sahabat dan tabi’in.keadaan ini diperbaiki
oleh ahli abad yang ketiga.Ahli abad ketiga ketika mereka bangkit mengumpulkan
hadits ,mereka mengasingkan hadits dari fatwa-fatwa itu.mereka bukukan hadits
saja dalam buku-buku hadits.akan tetapi satu kekurangan pula yang harus kita
akui,ialah: mereka tidak memisahkan hadits-hadits.yakni mereka mencampur
adukan hadits sahih dengan hadits hasan dan dengan hadits dla’if.segala hadits
yang mereka teriam ,mereka dewankan dengan tidak menerangkan
keshahihannya,atau kedlaifannya.Lantaran itu tak dapatlah orang yang kurang ahli
mengambil hadits-hadits yang terbuku di dalamnya.
Dapat kita katakan bahwa besar kemungkinan ,shahifah abu bakar ibn hazm
membukukan hadits saja mengingat perkataan umar kepadanya
“Jangan anda terima melainkan hadits Rasul SAW.”(HR.Muslim)
Maka yang mula-mula mengumpulkan hadits yang hanya mengenai suatu sebab
saja ,ialah Assya’bi. Beliau telah mengumpulkan hadits-hadits yang mengenai
talak .Beliau adalah seseorang imam yang terkemuka dalam permulaan abad
kedua hijrah. Dan mereka menyusun itu secara musnad. Yang mula-mula
menyusun secara musnad ini ,ialah :

1. Abdullah ibn musa Al’abasy al Kufy


2. Musaddad ibn Musarhad Al Bashry
3. Asad ibn musa Al Amawy
4. Nu’aim ibn Hammad Al’khuzay
5. Ahmad ibn Hanbal
6. Ishaq ibn rahawaih
7. Utsman ibn abi syaibah

B. Bertambah meluas lawatan ,penyusunan kaidah dan pentashihan hadits

Dalam abad ketiga Hijrah ini memuncaklah usaha pembukuan hadits


Sesudah kitab-kitab ibn juraij,Muwattha’malik tersebar dalam masyarakat serta
disambut dengan gembira,hidupalh kemauan menghafal haadits,mengumpul dan
membukukannya ,dan mulailah ahli-ahli ilmu berpindah dari suatu tempat ke
suatu tempat.dari sebuah negeri ke negeri lain untuk mencari hadits.Hal ini kian
hari kian bertambah maju.

Mula –mula kebanyakan ulama islam mengumpulkan hadits-hadits yang


terdapat di kota mereka masing-masing . Sebagian kecil saja diantara mereka yang
pergi ke kota lain untuk kepentingan hadits. Keadaan ini dipecahkan oleh Al
Bukhari.beliau lah yang mula-mula meluas di daerah-daerah yang dikunjungi
untuk mencari hadits. Beliau ke Maru, Naisabur, Rei, Basyrah, kufah, Makkah,
Mesir, Damsyik, Qaisariah, atsqalan dan himmash. Ringkasnya,beliau membuat
langkah mengumpulkan hadits-hadits yang tersebar di berbagai daerah 16 tahun
lamanya terus-menerus Al Bukhari menjelajah untuk menyiapkan kitab sahihnya.
Pada mula-mula dahulu ulama-ulama islam menerima hadits dari para perawi lalu
menulis kedalam bukunya, dengan tidak mengadakan syarat-syarat menerimanya
dan tidak memperhatikan sahih tidaknya.
Musuh yang berkedok dan berselimut islam melihat kegiatan-kegiatan
ulama hadits dalam mengumpulkan hadits. Maka mereka pun menambah
kegiatannya untuk mengacau balaukan hadits, yaitu dengan menambah-nambah
hadits lafalnya, atau membuat hadits maudlu. Menambah kesungguhan musuh-
musuh islam dan mengisafi akibat-akibat perbuatan mereka, bersungguh-sungguh
para ulama-ulama hadits:
a. Membahas keadaan perawi-perawi dari berbagai-bagai segi:
- keadilan
-Tempat kediaman
-Masa dan lain-lain.
b. memisahkan hadits-hadits yang sahih dari yang dla’if, yakni mentashihkan
hadits.
Pembahasan mengenai diri pribadi perawi mengujudkan :
1-qaedah-qaedah tahdits
2- “illat-illat hadits
3- tarjamah prawi-prawi hadits.
Ringkasnya, lahirlah tunas ilmu dirayah (ilmu dirayatil hadits) yang
banyak macamnya disamping ilmu riwayah (ilmu riwayatil hadits).
Pentashihan dan penyaringan hadits, atau memisahkan yang sahih dari yang dla’if
dengan mempergunakan syarat-syarat pentashihan, baik mengenai perawi-perawi
riwayat, thammul dan ada’ melahirkan ;
1. Kitab-kitab sahih
2. Kitab-kitab sunan

C. Imam yang mula-mula membukukan hadits yang dipandang sahih saja.

Sekiranya kekeruhan itu terus menurus berlaku, tentulah kita tak dapat
meminum airnya dan tak dapat mengamalkan isinya. Apalagi bila diingay pada
masa itu telah banyak muncul orang zindik dan yahudi yang membuat hadis-hadis
palsu dengan jalan sangat licik dan suka untuk diketahui kepalsuannya.
Untuk menyaring hadis-hadis itu serta membedakan hadis-hadis yang shahih dari
yang palsu dan dari yang lemah bangunlah seorang ilmu hadis yang besar, Ishak
Ibnu Rohawai, memulai usaha memimasahkan hadis-hadis yang shahih dan yang
tidak.

Pekerjaan yang mulia ini kemudian disempurnakan oleh Al-Imam Al


Bukhari. Dan menyusun kitab yang terkenal dengan nama Al Jami’ Ussahih. di
dalamnya hanya dibukukan hadis-hadis yang shahih saja. Kemudian usaha Al
Bukhari diikuti oleh muridnya yang bernama Al Imam Muslim. Maka dengan
jerih payah kedua ulama besar ini terdapatlah oleh kita sumber hadis yang bersih.
Sesudah shahih Al Bukhary dan shahih muslim tersususn ,bangun pula beberapa
orang imam yang lain menuruti jejak kedua pujangga di atas.Diantaranya : Abu
daud ,At Turmudzy dan An nasaiy.
kitab-kitab beliau yang lima ini yakni:

1. Shahih Al Bukhary
2. Shahih Muslim
3. Sunan Abu Daud
4. Sunan at Turmudzy
5. Sunan An Nasa-y
Itulah yang kemudian terkenal dalam kalangan masyarakat ulama dengan kitab-
kitab pokok yang lima ( Al Ushulul Khamsah ) Untuk mentashihkan hadits
dibutuhkan pengetahuan yang luas tentang tarikh rijalil Hadits,tanggal lahir dan
wafat para perawi ,bagaimana nilai kebenaran dan kepercayaan perawi itu ,nilai-
nilai hafalan mereka ,siapa yang benar dapat dipercayai ,siapa yang terrutup
keadaannya,siapa yang dusta,dan siapa yang lalai. Al Bukhory mempunyai dua
keistemawaan :

1. hafalan yang sungguh kuat yang jarang kita temukan bandingnya.


2. keahlian dalan meneliti keadaan perawi -perawi yang nampak kita lihat dalam
kitab tarikhnya yang disususn untuk menerangkan keadaan perawi hadits.
Al Bukhori dan Al Muslim mensyaratkan dalam mentashih hadis :

• Sanad yang Muttasil .

• Perawi yang muslim, yang bersifat benar, tak suka bertadlis dan tidak berubah
akal, adil, kuat hapalan, tak ragu-ragu dan baik pula iktikad nya.
Mengenai orang-orang yang bukan tokoh, maka baik Al Bukhori maupun
muslim menerima riwayatnya asalkan perawi itu kepercayaan, adil, tidak
banyak khilaf atau keliru.

D. Langkah-langkah yang diambil untuk memelihara hadis

Telah di jelaskan bahwa para ulama membukukan hadits dan memisahkan


hadits dari fatwa-fatwa sahabat dan tabi’in atau memisahkan yang shahih dari
yang dla’if, beliau-beliau itu memberikan pula kesungguhannya yang
mengagumkan untuk menyusun kaidah-kaidah hadits, usul-usulnya, syarat-syarat
menerima riwayat, syarat-syarat menolaknya, syarat-syarat shahih dan dla’if, serta
kaidah-kaidah yang dipegangi dalam menentukan hadits-hadits maudlu.
Semua itu mereka lakukan untuk memelihara sunah Rasul dan untuk menetapkan
garis pemisah antar yang shahih dengan yang dla’if.
Langkah-langkah para ulama dalam usaha mengkritik jalan-jalan menerima hadits
sehingga dapatlah mereka melepaskan sunnah dari tipu daya para pendaya dan
membersihkannya dari segala lumpur yang mengotorinya, ialahh :

• Mengisnadkan Hadits, memeriksa benar tidaknya hadits yang diterrima kepada


para ahli,

• Mengeritik para Perawi, membuat ketentuan-ketentuan umun untuk


menentukan derajad-derajad hadits, menyusun kaidah-kaidah untuk menentukan
kaidah-kaidah maudlu’.

Para ulama membagi hadits kepada beberapa derajad. Bagi masing-


masingnya ditetapkan kaidah-kaidah tertentu, sebagaimana mereka membuat
kaidah-kaidah untuk membedakan derajad dengan derajad yang lain.
Mereka membagi hadits kepada shahih dan dla’if, dengan kata lain perkataan
mereka melahirkan ilmu musthaal hadits, yaitu :ilmu yang menetapkan kaidah-
kaidah ilmmiah untuk menshahihkan khabar dan kaidah-kaidah ilmiah untuk
mengeritik, mengoreksi khabar dan riwayat.

Di antara tokoh-tokoh hadits yang lahir dalam masa ini ialah:

1. Ali Ibnul Madany


2. Abu Hatim Ar razy
3. Muhammad Ibnul Jarir At Thabary
4. Muhammad Ibnu Sa’ad
5. Akhmad Hidayat
Macam-macam kitab hadits yang tersusun pada abad ketiga ini adalah :
1. Kitab-kitab shahih
2. Kitab-kitab sunan
3. Kitab-kitab musnad

∗ Kitab-kitab shahih ialah : kitab-kitab yang penyusunannya tiada pemasukan


kedalamnya, selain dari hadits-hadits yang shahih saja

∗ Kitab-kitab sunat (kecuali sunad Ibnu Mazah) : kitab-kitab oleh pengarangnya


tidak dimasukkan kedalamnya hadits-hadits yang munkar dan yang sepertinya

∗ Kitab-kitab musnad: kitab-kitab yang penyusunannya dimasukkan


kedalamnya segala rupa hadits-hadits yang diterima, dan tidak menerangkan
derajad-derajadnya
Ulama-ulama Mutaakhirin sependapat menetapkan, bahwa kitab pokok, lima
buah, yaitu :

1. Shahih Al bukhary
2. Shahih Muslim
3. Sunan Abu Daud
4. Sunan An nasa-y
5. Sunan At Turmudji
Kitab yang lima tersebut di atas mereka namai ’’Al Ushulu’l-Khamsah.”
Atau “Al Kutubu ‘l Khamsah. Sebagian ulama mutaakhirin yaitu, Abul Fadli,
Thahir, menggolongkan pula ke dalamnya sebuah kitab pokok lagi, sehingga
terkenalah dalam masyarakat “Al Kutubu ‘l-Sittah” (kitab enam), beliau
memasukkan Sunan Ibnu Mazah menjadi kitab pokok yang keenam.
Nilai dan keadaan kitab :

1. Shahi Al Bukhary

Shahi Al Bukhary, adalah kitab yang mula-mula yang membukukan


hadits-hadits Shahi. Para ulama hadits menetapkan bahwa Shahi Al Bukhary
adalah sesahih-sahih kitab sesudah Al Qur’an. Beliau menamainya dengan “Al
Jami’u ‘sh-Shahih al Musnadu min hadisi Rasul s.a.w Isinya berjumlah 9082 buah
hadits Mar’fu dan sejumlah hadits Mauquf dan ma’tu. Ada 4 buah kitab syarah
Bukhary yang terpandang tinggi dari segala jurusan :

a. At Tanqih, karangan Badruddin Az Zarkasyy


b. At Tawsyih, karangan Jalaluddin As Sayuthy
c. Umdatul Qari, karangan Badruddin Al ‘Ainy
d. Fat-hul Bari, karangan Syihabuddin Al ‘Asqalany
Fat-hul Barilah, yang merupakan kitab yang terbaik di antara keempat
kitab di atas, sehingga digelarkan : “raja Syarah Bukhary”.

2. Shahih Muslim

Shahih Muslim ini kitab yang kedua, pokok yang kedua dari kitab hadits
yang menjadi pegangan sesudah Shahi Bukhary, Shahi Muslimlah yang dijadikan
pegangan.
Shahih Muslim lebih baik susunannya dari pada shahi Al Bukhary karena itu lebih
mudah kia mencari hadits didalamnya daripada mencari didalam Shahi Al
Bukhary.
Kitab-kitab sharahnya banyak juga, ada lima belas buah. Yang amat terkenal
adalah :

a. Al Mu ‘lim bi Fawa-idi Muslim, karangan Al Mazary (536 H)


b. Ak Ikmal, karangan Al Qadli ‘Iyadl (544 H)
c. Minhaju ‘I-Muhadditsin, karangan An Nawawy (676 H)
d. Ikmalul Ikmal, karangan Az Zawawy (744 H)
e. Ikmalul Ikmali Mu ‘lim, karangan Abu Abdillah Muhammad Al Abiyy Al
Maliky (927 H)

Sebagian dari Mukhtasarnya, ialah Mukhtasa Al Mundziry.

3. Sunan An Nasa-y
Sunan ini bernama : Al mujtabal mina ‘I-sunan (sunan-sunan pilihan),
karena pada mula-mualnya An Nasa-y menusun susunannya yang besar lalu
memberikannya kepada seoarang amir di Ar Ramlah. Bila dikatakan orang :
“Hadits riwayat An nasa-y”, maka yang dimaksud ialah “riwayat yang di dalam al
Mujtaba’ itu”.

Di antara para sarjana yang menyerahkannya, ialah : As Sayuthy dan As


Sindy. Kitab ini yang paling kurang mendapat syarahan dari para ahli sebagai
yang diterangkan oleh As Sayuthy. Al Mujtaba dipandang pokok yang ketiga.
Zawaidnya atas Al Bukhary/Muslim, abu daud, at turmudzy, telah disyarahkan
oleh Ibnul Mulaqqim.

4. Sunan Abu daud

Sunan Abu daud berisi hadits hokum, sedikit saja yang berhubunagn
dengan urusan-urusan lain. Sebagus-bagusnya mukhtasarnya ialah : Al Mujtaba’
susunan Al Mundiry yang telah ‘ disyarahkan oleh as sayuthy, Al Mujtaba’ itu
telah disaring oleh Ibnul Qaiyim Al Jauziyah. Dan saringan itu dinamai :
“Tahdzibu ‘s_Sunan”. Sunan Abu Daud ini dipandang pokok yang keempat.
Zawaidnya atas Al Bukhary/Muslim telah disyarahkan oleh Ibnu Mulaqqim.

5. Sunan At Tarmudzy

Beliau menulis hadits dengan menerangkan yang shahih dan yang tercatat
serta sebab-sebabnya sebagaimana beliau menerangkan pula mana-mana yang
diamalkan dan mana-mana yang ditinggalkan. Sunan At Turmudzy ini dipandang
sebagai pokok yang kelima. Zawaidnya atas Shahihain dan Abu Daut telah
syarahkan oleh Ibnul Mulaqqim.

6. Sunan Ibnu Majah

Yang mula- mula menjadikan sunan ini kitab yang keenam, ialah : Ibnu
Thahir Al Maqdisy, kemudian dituruti oleh Al Hafidh Abdul Ghany Al Maqdisy
dalam kitab Al Ikmal. Mereka mendahulukan sunan ini atas Al Muwaththa’,
karena banyak zawaidnya atas kitab lain. Sebagian dari syarah Sunan Ibnu Majah,
ialah : Mishbahu ‘z-Zujajah, karangan As-Sayuthy dan Syarah As-Sindy.
Hadits yang hanya diriwayatkan sendiri oleh Ibnu Majah kebanyakannya dla’if.
Hal ini dapat diketahui dengan penerangan syarah-syarahnya.
Zawaid-zawaidnya atas kitab lima telah disyarahkan oleh Ibnul Mulaqqim. Syarah
ini dinamai : ma tanussu ilaihi’l hajal ‘ala sunani Ibnu Majah.

7. Sunan Ad Darimy

Sunan Ad darimy lebih banyak mengandung hadits yang Shahih jika


disbanding dengan Sunan Ibnu Majah dan sepertinya. Cuma sedikit saja hadits
yang tidahk shahih terdapat di dalamnya.

Sunan ini lebih tinggi dari pada Sunan Ibnu Majah. Karena itulah sebagian
ulama hhadits menjadikan Sunan Ad Darimy, pokok yang keenam.
Al Hafidh Al Asqalany memuji kitab ini dan menyatakan lebih baik dari pada
susunan Ibnu Majah.

8. Al Muntaqa ( Muntaqa Ibnu’l Jarud)

Kitab ini sebuah kitab yang dipandang baik oleh para ahli hadits.
Menurut Ahmad Muhammad Syakir, bahwa Al Muntaqa ini lebih patut dijadikan
kitab yyang keenam.

9. Musnad Ahmad

Musnad ahmad adalah sebuah kitab hadits yang besar kadarnya, tinggi
derajadnya, dalam pandangan ahli hadits.Penyusunnya, ialah ; Ahmad, seorang
imam empat. Musnad ini dipandang pokok juga (pokok yang ketujuh). Isinya
berjumlah 40.000 buah hadits. 10.000 di antaranya berulang-ulang.
Sekiranya Musnad ini tetap ini tetap tinggal sebanyak yang disusun Ahmad
sendiri, maka tak adalah di dalamnya hadits yang tak dapat dipakai sama sekali.
10. Muwaththa ‘ Malik
Muwaththa’ Malik, kitab yang paling tua yang sampai ketangan kita. Kitab
ini ditulis oleh Imam Malik Ibnu Anas Al Ashbahy atas permintaan Al manshur.
Hadits-hadits Al Muwaththa’ dipandang shahih oleh malik. Berdasarkan atas
permintaan Ashbahy atas permintaan Al manshur. Hadits-hadits Al Muwaththa’
dipandang shahih oleh Malik, berdasarkan pendapatnya memegangi hadits-hadits
mursal dan munqathi’. Kitab Al Muwaththa telah dicetak dengan typografi yang
baik dengan diberikan ta’liq yang ringkas serta diterangi ahli-ahli hadits-hadits
yang turut meriwayatkan hadits Al Muwaththa’ itu, oleh Al Ustadz Muhammad
Fuad Abdul Baqi.Di antara Mukhtasarnya, ialah : Mukhtasar Al Khaththaby (388
H) dan Mukhtasar Abdul Walid Al Bajy (774 H).
BAB II

Periwayat Hadits

Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim

1. Shahih Bukhari, disusun oleh Bukhari (194-256 H)

2. Shahih Muslim, disusun oleh Muslim (204-262 H)

3. Sunan Abu Dawud, disusun oleh Abu Dawud (202-275 H)

4. Sunan at-Turmudzi, disusun oleh At-Turmudzi (209-279 H)

5. Sunan an-Nasa'i, disusun oleh an-Nasa'i (215-303 H)

6. Sunan Ibnu Majah, disusun oleh Ibnu Majah (209-273).

7. Musnad Ahmad, disusun oleh Imam Ahmad bin Hambal

8. Muwatta Malik, disusun oleh Imam Malik

9. Sunan Darimi, Ad-Darimi

Periwayat Hadits yang diterima oleh Syi'ah

Muslim Syi'ah hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh


keturunan Muhammad saw, melalui Fatimah az-Zahra, atau oleh pemeluk Islam
awal yang memihak Ali bin Abi Thalib. Syi'ah tidak menggunakan hadits yang
berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut kaum Syi'ah diklaim
memusuhi Ali, seperti Aisyah, istri Muhammad saw, yang melawan Ali pada
Perang Jamal.

Ada beberapa sekte dalam Syi'ah, tetapi sebagian besar menggunakan:

• Ushul al-Kafi

• Al-Istibshar
• Al-Tahdzib

• Man La Yahduruhu al-Faqih

Pembentukan dan Sejarahnya

Hadits sebagai kitab berisi berita tentang sabda, perbuatan dan sikap Nabi
Muhammad sebagai Rasul. Berita tersebut didapat dari para sahabat pada saat
bergaul dengan Nabi. Berita itu selanjutnya disampaikan kepada sahabat lain yang
tidak mengetahui berita itu, atau disampaikan kepada murid-muridnya dan
diteruskan kepada murid-murid berikutnya lagi hingga sampai kepada pembuku
Hadits. Itulah pembentukan Hadits.

Masa Pembentukan Al Hadist

Masa pembentukan Hadits tiada lain masa kerasulan Nabi Muhammad itu
sendiri, ialah lebih kurang 23 tahun. Pada masa ini Al Hadits belum ditulis, dan
hanya berada dalam benak atau hafalan para sahabat saja.

Masa Penggalian

Masa ini adalah masa pada sahabat besar dan tabi'in, dimulai sejak
wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 11 H atau 632 M. Pada masa ini Al Hadits
belum ditulis ataupun dibukukan. Seiring dengan perkembangan dakwah,
mulailah bermunculan persoalan baru umat Islam yang mendorong para sahabat
saling bertukar Al Hadits dan menggali dari sumber-sumber utamanya.

Masa Penghimpunan

Masa ini ditandai dengan sikap para sahabat dan tabi'in yang mulai
menolak menerima Al Hadits baru, seiring terjadinya tragedi perebutan
kedudukan kekhalifahan yang bergeser ke bidang syari'at dan 'aqidah dengan
munculnya Al Hadits palsu. Para sahabat dan tabi'in ini sangat mengenal betul
pihak-pihak yang melibatkan diri dan yang terlibat dalam permusuhan tersebut,
sehingga jika ada Al Hadits baru yang belum pernah dimiliki sebelumnya diteliti
secermat-cermatnya siapa-siapa yang menjadi sumber dan pembawa Al Hadits itu.
Maka pada masa pemerintahan Khalifah 'Umar bin 'Abdul 'Aziz sekaligus sebagai
salah seorang tabi'in memerintahkan penghimpunan Al Hadits. Masa ini terjadi
pada abad 2 H, dan Al Hadits yang terhimpun belum dipisahkan mana yang
merupakan Al Hadits marfu' dan mana yang mauquf dan mana yang maqthu'.

Masa Pendiwanan dan Penyusunan

Abad 3 H merupakan masa pendiwanan (pembukuan) dan penyusunan Al


Hadits. Guna menghindari salah pengertian bagi umat Islam dalam memahami
Hadits sebagai prilaku Nabi Muhammad, maka para ulama mulai
mengelompokkan Hadits dan memisahkan kumpulan Hadits yang termasuk marfu'
(yang berisi perilaku Nabi Muhammad), mana yang mauquf (berisi prilaku
sahabat) dan mana yang maqthu' (berisi prilaku tabi'in). Usaha pembukuan Al
Hadits pada masa ini selain telah dikelompokkan (sebagaimana dimaksud diatas)
juga dilakukan penelitian Sanad dan Rawi-rawi pembawa beritanya sebagai wujud
tash-hih (koreksi/verifikasi) atas Al Hadits yang ada maupun yang dihafal.
Selanjutnya pada abad 4 H, usaha pembukuan Hadits terus dilanjutkan hingga
dinyatakannya bahwa pada masa ini telah selesai melakukan pembinaan maghligai
Al Hadits. Sedangkan abad 5 hijriyah dan seterusnya adalah masa memperbaiki
susunan kitab Al Hadits seperti menghimpun yang terserakan atau menghimpun
untuk memudahkan mempelajarinya dengan sumber utamanya kitab-kitab Al
Hadits abad 4 H.

Kitab-kitab Hadits

Berdasarkan masa penghimpunan Al Hadits

Abad ke 2 H

Beberapa kitab yang terkenal :

1. Al Muwaththa oleh Malik bin Anas


2. Al Musnad oleh [Ahmad bin Hambal]] (tahun 150 - 204 H / 767 - 820 M)

3. Mukhtaliful Hadist oleh As Syafi'i

4. Al Jami' oleh Abdurrazzaq Ash Shan'ani

5. Mushannaf Syu'bah oleh Syu'bah bin Hajjaj (tahun 82 - 160 H / 701 - 776
M)

6. Mushannaf Sufyan oleh Sufyan bin Uyainah (tahun 107 - 190 H / 725 -
814 M)

7. Mushannaf Al Laist oleh Al Laist bin Sa'ad (tahun 94 - 175 / 713 - 792 M)

8. As Sunan Al Auza'i oleh Al Auza'i (tahun 88 - 157 / 707 - 773 M)

9. As Sunan Al Humaidi (wafat tahun 219 H / 834 M)

Dari kesembilan kitab tersebut yang sangat mendapat perhatian para 'lama
hanya tiga, yaitu Al Muwaththa', Al Musnad dan Mukhtaliful Hadist.
Sedangkan selebihnya kurang mendapat perhatian akhirnya hilang ditelan
zaman.

Abad ke 3 H

• Musnadul Kabir oleh Ahmad bin Hambal dan 3 macam lainnya yaitu
Kitab Shahih, Kitab Sunan dan Kitab Musnad yang selengkapnya :

1. Al Jami'ush Shahih Bukhari oleh Bukhari (194-256 H / 810-870 M)

2. Al Jami'ush Shahih Muslim oleh Muslim (204-261 H / 820-875 M)

3. As Sunan Ibnu Majah oleh Ibnu Majah (207-273 H / 824-887 M)

4. As Sunan Abu Dawud oleh Abu Dawud (202-275 H / 817-889 M)

5. As Sunan At Tirmidzi oleh At Tirmidzi (209-279 H / 825-892 M)

6. As Sunan Nasai oleh An Nasai (225-303 H / 839-915 M)


7. As Sunan Darimi oleh Darimi (181-255 H / 797-869 M)

Imam Malik imam Ahmad

Abad ke 4 H

1. Al Mu'jamul Kabir oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)

2. Al Mu'jamul Ausath oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)

3. Al Mu'jamush Shaghir oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)

4. Al Mustadrak oleh Al Hakim (321-405 H / 933-1014 M)

5. Ash Shahih oleh Ibnu Khuzaimah (233-311 H / 838-924 M)

6. At Taqasim wal Anwa' oleh Abu Awwanah (wafat 316 H / 928 M)

7. As Shahih oleh Abu Hatim bin Hibban (wafat 354 H/ 965 M)

8. Al Muntaqa oleh Ibnu Sakan (wafat 353 H / 964 M)

9. As Sunan oleh Ad Daruquthni (306-385 H / 919-995 M)

10. Al Mushannaf oleh Ath Thahawi (239-321 H / 853-933 M)

11. Al Musnad oleh Ibnu Nashar Ar Razi (wafat 301 H / 913 M)

Abad ke 5 H dan selanjutnya

• Hasil penghimpunan

• Bersumber dari kutubus sittah saja

1. Jami'ul Ushul oleh Ibnu Atsir Al Jazari (556-630 H / 1160-1233


M)

2. Tashiful Wushul oleh Al Fairuz Zabadi (? - ? H / ? - 1084 M)

• Bersumber dari kkutubus sittah dan kitab lainnya, yaitu Jami'ul


Masanid oleh Ibnu Katsir (706-774 H / 1302-1373 M)
• Bersumber dari selain kutubus sittah, yaitu Jami'ush Shaghir oleh
As Sayuthi (849-911 H / 1445-1505 M)

• Hasil pembidangan (mengelompokkan ke dalam bidang-bidang)

• Kitab Al Hadits Hukum, diantaranya :

1. Sunan oleh Ad Daruquthni (306-385 H / 919-995 M)

2. As Sunannul Kubra oleh Al Baihaqi (384-458 H / 994-1066 M)

3. Al Imam oleh Ibnul Daqiqil 'Id (625-702 H / 1228-1302 M)

4. Muntaqal Akhbar oleh Majduddin Al Hirani (? - 652 H / ? - 1254


M)

5. Bulughul Maram oleh Ibnu Hajar Al Asqalani (773-852 H / 1371-


1448 M)

6. 'Umdatul Ahkam oleh 'Abdul Ghani Al Maqdisi (541-600 H /


1146-1203 M)

7. Al Muharrar oleh Ibnu Qadamah Al Maqdisi (675-744 H / 1276-


1343 M)

• Kitab Al Hadits Akhlaq

1. At Targhib wat Tarhib oleh Al Mundziri (581-656 H / 1185-1258


M)

2. Riyadhus Shalihin oleh Imam Nawawi (631-676 H / 1233-1277 M)

• Syarah (semacam tafsir untuk Al Hadist)

1. Untuk Shahih Bukhari terdapat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar


Asqalani (773-852 H / 1371-1448 M)

2. Untuk Shahih Muslim terdapat Minhajul Muhadditsin oleh Imam


Nawawi (631-676 H / 1233-1277 M)
3. Untuk Shahih Muslim terdapat Al Mu'allim oleh Al Maziri (wafat
536 H / 1142 M)

4. Untuk Muntaqal Akhbar terdapat Nailul Authar oleh As Syaukani


(wafat 1250 H / 1834 M)

5. Untuk Bulughul Maram terdapat Subulussalam oleh Ash Shan'ani


(wafat 1099 H / 1687 M)

• Mukhtashar (ringkasan)

1. Untuk Shahih Bukhari diantaranya Tajridush Shahih oleh Al


Husain bin Mubarrak (546-631 H / 1152-1233 M)

2. Untuk Shahih Muslim diantaranya Mukhtashar oleh Al Mundziri


(581-656 H / 1185-1258 M)

• Lain-lain

1. Kitab Al Kalimuth Thayyib oleh Ibnu Taimiyah (661-728 H /


1263-1328 M) berisi hadits-hadits tentang doa.

2. Kitab Al Mustadrak oleh Al Hakim (321-405 H / 933-1014 M)


berisi Al Hadits yang dipandang shahih menurut syarat Bukhari
atau Muslim dan menurut dirinya sendiri.

Beberapa istilah dalam ilmu hadits

Berdasarkan siapa yang meriwayatkan, terdapat beberapa istilah yang dijumpai


pada ilmu hadits antara lain:

• Muttafaq Alaih (disepakati atasnya) yaitu hadits yang diriwayatkan oleh


Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama, dikenal
dengan Hadits Bukhari dan Muslim

• As Sab'ah berarti tujuh perawi yaitu: Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam
Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Nasa'i dan Imam Ibnu
Majah

• As Sittah maksudnya enam perawi yakni mereka yang tersebut diatas


selain Ahmad bin Hambal(Imam Ibnu Majah)

• Al Khamsah maksudnya lima perawi yaitu mereka yang tersebut diatas


selain Imam Bukhari dan Imam Muslim

• Al Arba'ah maksudnya empat perawi yaitu mereka yang tersebut di atas


selain Ahmad, Imam Bukhari dan Imam Muslim

• Ats Tsalatsah maksudnya tiga perawi yaitu mereka yang tersebut di atas
selain Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim dan Ibnu Majah.
Catatan kaki

1. "Hadith," Encyclopedia of Islam.

2. Lisan al-Arab, by Ibn Manthour, vol. 2, pg. 350; Dar al-Hadith edition.

3. al-Kuliyat by Abu al-Baqa’ al-Kafawi, pg. 370; Al-Resalah Publishers.


This last phrase is quoted by al-Qasimi in Qawaid al-Tahdith, pg. 61; Dar
al-Nafais.

Referensi

• The Classification of Hadeeth by Shaikh Suhaib Hassan

• Pengetahuan Dasar tentang Pokok-pokok Ajaran Islam (A/B) oleh Mh.


Amin Jaiz

• Metodologi Kritik Matan Hadis oleh Dr. Salahudin ibn Ahmad al-Adlabi,
terjamahan, ISBN 979-578-047-6