Anda di halaman 1dari 19

LEMBAR PENGESAHAN

PRAKTIKUM KIMIA DASAR I


PERCOBAAN KE-5
LAJU REAKSI

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 6
FAKULTAS TEKNIK, JURUSAN S.1 TEKNIK SIPIL
ABDUL SALAM NIM. 08090150
HASBYULLAH AS NIM. 0809015030
JERRY FEBRIAN NIM. 08090150
LISA MOLIDA NIM. 0809015046
MIRSA BAYU NIM. 08090150
MISNAWATI MEGASARI NIM. 08090150

Samarinda, 13 Desember 2008


Dosen Pembimbing Asisten Praktikum

Winni Setiawan Aryo


NIP. 132 283 227 NIM. 04.44952.01381.08
Mengetahui,
Kepala Laboratorium Kimia Analitik-Fisik

Drs. Teguh Wirawan, M.Si


NIP. 132 090 591
DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan……………………………………………………... i
Daftar isi………………………………………………………………… ii
BAB. 1 Pendahuluan............................................................................... 1
1.1 Latar belakang............................................................................ 1
1.2 Tujuan percobaan...................................................................... 2
BAB. 2 Tinjauan Pustaka....................................................................... 3
BAB. 3 Metodologi Percobaan............................................................... 9
3.1 Alat dan bahan........................................................................... 9
3.2 Prosedur percobaan................................................................... 9
BAB. 4 Hasil dan Pembahasan.............................................................. 11
4.1 Hasil pengamatan....................................................................... 11
4.2 Reaksi dan Perhitungan............................................................... 11
4.3 Pembahasan................................................................................. 12
BAB. 5 Penutup....................................................................................... 15
5.1 Kesimpulan................................................................................. 15
5.2 Saran............................................................................................ 15
Daftar Pustaka........................................................................................... 16
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses industri yang melibatkan adanya reaksi kimia memerlukan
peranan ilmu kimia yang memberi dasar untuk mengatur agar suatu proses
industri dapat menghasilkan bahan industri sebanyak-banyaknya dalam waktu
sesingkat-singkatnya. Disisi lain, terdapat reaksi kimia yang dikehendaki berjalan
lambat, misalnya bagaimana agar buah tidak cepat membusuk, memperlambat
proses pembusukan makanan dan bagaimana memperlambat perkaratan logam.
Masalah diatas adalah permasalahan bagaimana mempercepat suatu
reaksi berlangsung dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Dalam ilmu kimia
dikenal dengan nama laju reaksi yaitu cepat lambatnya suatu reaksi itu
berlangsung atau perubahan konsentrasi pereaksi persatuan waktu. Untuk
mempercepat laju reaksi, dalam ilmu kimia dikenal dengan adanya teori
tumbukan yaitu mengenai percepatan tumbukan antar molekul, konsentrasi yaitu
banyaknya kandungan zat. Luas permukaan yaitu berupa serbuk dengan
penampang luas yang dapat mempercepat berlangsungnya reaksi, suhu yaitu
semakin tinggi suhu maka semakin cepat pula reaksi berlangsung dan yang
terakhir adalah katalisator yaitu zat yang dapat mempercepat suatu reaksi tanpa
mengalami perubahan yang berarti dan tidak kekal.
Percobaan kali ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi laju reaksi dalam perubahan laju reaksi. Sebagai contoh perubahan
suhu dalam laju reaksi. Pada percobaan ini diselidiki apakah dengan
bertambahnya suhu laju reaksi suatu campuran akan ikut meningkat atau
sebaliknya begitu pula dengan bertambahnya konsentrasi.
1.2 Tujuan Percobaan
− Mengetahui seberapa besar pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi
− Mengetahui seberapa besar pengaruh suhu terhadap laju suatu reaksi
− Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Cepat lambatnya suatui reaksi berlangsung disebut laju reaksi. Laju reaksi
dapat dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi persatuan
waktu. Konsentrasi biasanya dinyatakan dalam mol perliter, tetapi untuk reaksi fase
gas satuan konsentrasi dapat diganti dengan satuan tekanan, seperti Atmosfer (atm),
millimeter merkorium (mmHg) atau pascal (Pa). satuan waktu dapat detik, menit,
jam, hari, bulan bahkan tahun bergantung pada reaksi itu berjalan cepat atau lambat.
Dapat dirumuskan sebagai berikut.
perubahan konsentrasi
Laju reaksi =
satuan waktu
Untuk mengukur laju reaksi, perlu menganalisis secara langsung maupun tak
langsung banyaknya produk yang terbentuk atau banyaknya pereaksi yang tersisa
setelah penggal-penggal waktu tertentu.
Reaksi kimia menyangkut perubahan dari suatu pereaksi (reaktan) menjadi
hasil reaksi (produk), yang dinyatakan dalam persamaan reaksi:
Pereaksi (reaktan) hasil reaksi (produk)
Seperi halnya contoh diatas, maka laju reaksi dapat dinyatakan sebagai berkurangnya
jumlah pereksi untuk setiap satuan waktu atau bertambahnya jumlah hasil reaksi
untuk setiap satuan waktu.
Ukuran jumlah zat dalam reaksi kimia umumnya dinyatakan sebagai
konsentrasi molar atau molaritas (M). Dengan demikian maka laju reaksi menyatakan
berkurangnya konsentrasi pereaksi atau bertambahnya konsentrasi zat hasil reaksi
setiap satuan waktu. Satuan laju reaksi umumnya dinyatakan dalam satuan mol.dm -
3
.det-1 atau mol/Liter detik. Satuan mol dm-3 atau molaritas, merupakan satuan
konsentrasi larutan.
Penentuan laju reaksi dapat dilakukan dengan cara fisika atau kimia.
Dengan cara fisika, penentuan konsentrasinya dilakukan secara tidak langsung yaitu
berdasarkan sifat-sifat fisis campuran yang dipengaruhi oleh konsentrasi campuran,
misalnya daya hantar listrik, tekanan (untuk reaksi gas). Adsorpsi cahaya dan lainnya.
Penentuan secara kimia dilakukan dengan menghentikan reaksi secara tiba-tiba
(reaksi dibekukan). Setelah selang waktu tertentu, kemudian konsentrasinya
ditentukan dngan metode analisis kimia.
Dalam laju reaksi dikenal juga laju reaksi sesat, yaitu laju reaksi rata-rata
yang dihitung dalam selang waktu yang berbeda-beda dan diperlukan perhitungan
laju reaksi yang berlaku dalam setiap saat. Lajureaksi juga dapat ditentukan melalui
cara grafik. Laju reaksi sesaat merupkan gradient dari kurva antara waktu dengan
perubahan konsentrasi pada selang waktu tertentu. Oleh karena itu, terdapat suatu
bilangan tetap yang merupakan angka faktor perkalian terhadap konsentrasi yang
disebut sebagai tetapan laju reaksi (K). dengan demikian, laju reaksi sesaat secara
umum dapat dinyatakan sebagai :
Laju reaksi ≈ K [Konsentrasi Zat]

FAKTOR –FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU REAKSI


1. Teori Tumbukan
Suatu zat dapat bereaksi denganz at lain apabila partikel-partikelnya
saling bertumbukan. Tumbukan yang terjadi tersebut akan menghasilkan energi
untuk memulai terjadinya reaksi. Terjadinya tumbukan antar partikel disebabkan
oleh karena partikel-partikel (molekul-molekul) zat selalu bergerak dengan arah
yang tidak teratur. Tumbukan antar partikel yang bereaksi tidak selalu
menghasilkan energi yang cukup dapat menghasilkan reaksi.
Energi yang diperlukan untuk menghasilkan suatu rreaksi disebut energi
pengaktifan. Energi pengaktifan merupakan energi minimum agar suatu reaksi
dapat berlangsung.
2. Konsentrasi
Secara umum konsentrasi pereaksi akan mempengaruhi laju reaksi.
Pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi adalah khas untuk setiap reaksi.
Semakin tinggi konsentrasi berarti makin banyak molekul-molekul dalam setiap
satuan luas ruangan, dengan demikian tumbukan antar molekul makin sering
terjadi. Semakin banyak tumbukan yang terjadi berarti kemungkinan untuk
menghasilkan tumbukan efektif semakin besar dan reaksi berlangsung lebih
cepat. Untuk beberapa reaksi, laju reaksi dapat dinyatakan dalam persamaan
matematik yang dikenal dengan hukum laju reaksi atau persamaan laju reaksi.
Pangkat-pangkat dalam persamaan laju reaksi dinamakan orde reaksi.
Menentukan orde reaksi dari suatu reaksi kimia pda prinsipnya menentukan
seberapa besar pengaruh konsentrasi pereaksi terhadap laju reaksinya.
3. Luas Permukaan
Reaksi yang berlangsung dalam system homogen sangat berbeda dengan
reaksi yang berlangsung dalam system heterogen. Pada reaksi yang homogen,
campuran zatnya bercampur seluruhnya. Hal ini dapat mempercepat
berlangsungnya reaksi kimia karena molekul-molekul ini dapat bersentuhan satu
sama lainnya. Dalam system heterogen, reaksi hanya berlangsung pada bidang-
bidang perbatasan dan pada bidang-bidang yang bersentuhan dari kedua fase.
Reaksi kimia dapat berlangsung jika molekul-molekul, atom-atom atau
ion-ion dari zat-zat yang bereaksi terlebih dahulu bertumbukan. Makin halus
suatu zat maka makin luas permukaannya sehingga makin besar kemungkinan
bereaksi dan makin cepat reaksi itu berlangsung. Sebagai contoh reaksi heterogen
adalah logam zink dengan larutan asam klorida. Laju reaksi selain dipengaruhi
oleh konsentrasi asam klorida juga dipengaruhi oleh kondisi logam zink. Dalam
jumlah (massa) yang sama butiran logam zink akan bereaksi lebih lambat dari
pada serbuk zink. Reaksi terjadi antara molekul-molekul asam klorida dalam
larutan dengan atom-atom zink yang bersentuhan langsung dengan asam klorida.
Pada butiran zink, atom-atom zink yang bersentuhan langsung dengan asam
klorida lebih sedikit dari pada serbuk zink, sebab atom-atom zink yang
bersentuhan hanya atom zink yang berada dipermukaan butiran. Akan tetapi bila
butiran zink dipisah menjadi butiran-butiran yang lebih kecil atau menjadi serbuk,
maka atom-atom zink yang semula didalam akan berada dipermukaan dan
terdapat lebih banyak atom zink yang secara bersamaan bereaksi dengan larutan
asam klorida. Dengan menggunakan teori tumbukan dapat dijelaskan bahwa
semakin luas permukaan zat padat semakin banyak tempat terjadinya tumbukan
antar partikel zat yang bereaksi.
4. Temperatur
Harga tetapan laju reaksi (K) akan berubah bila suhunya berubah. Laju
reaksi meningkat dengan naiknya suhu. Biasanya kenaikkan suhu sebesar 100C
akan menyebabkan kenaikan laju reaksi dua atau tiga kali. Kenaikkan laju reaksi
ini disebabkan dengan kenaikkan suhu akan menyebabkan makin cepatnya
molekul-molekul pereaksi bergerak, sehingga memperbesar kemungkinan
terjadinya tabrakan antar molekul. Energi yang diperlukan untuk menghasilkan
tabrakan yang efektif atau untuk menghasilkan suatu reaksi disebut energi
pengaktifan kinetik.
5. Katalisator
Beberapa reaksi kimia yang berlangsung lambat dapat dipercepat dengan
menambahkan suatu zat kedalamnya, tetapi zat tersebut setelah reaksi selesai
ternyata tidak berubah. Misalnya pada peruraian kalium klorat untuk
menghasilkan gas oksigen.
2KClO3 (s) 2KCl(s) + 3O2

Reaksi berlangsung pada suhu tinggi dan berjalan lambat, tetapi dengan
penambahan kristal MnO2 kedalamnya ternyata reaksi akan dapat berlangsung
dengan lebih cepat pada suhu yang lebih rendah. Setelah semua KClO3 terurai
ternyata MnO2 masih tetap ada (tidak berubah). Dalam reaksi tersebut MnO2
disebut sebagai katalisator.
Katalisator adalah suatu zat yang dapat mempercepat laju reaksi, tanpa
dirinya mengalami perubahan yang kekal. Suatu katalisator mungkin akan terlibat
dalam proses reaksi atau mengalami perubahan selama reaksi berlangsung, tetapi
setelah reaksi itu selesai maka katalisator akan diperoleh kembali dalam jumlah
yang sama. Katalisator mempercepat reaksi dengan cara mengubah jalannya
reaksi. Jalur reaksi yang ditempuh tersebut mempunyai energi aktivasi yang lebih
rendah dari pada jalur reaksi yang biasa ditempuh. Jadi dapat dikatakan bahwa
katalisator berperan dalam menurunkan energi aktivasi. Ada dua cara yang
dilakukan katalisator dalam mempercepat reaksi kimia :

A. Pembentukan senyawa antara


Umumnya reaksi berjalan lambat bila energi aktivasi suatu reaksi
terlalu tinggi. Agar reaksi dapat berlangsung cepat, maka dapat dilakukan
dengan cara menurunkan energi aktivasi. Utnuk menurunkan energi aktivasi
dapat dilakukan dengan cara mencari senyawa antara lain yang berenergi
lebih rendah. Fungsi katalis dalam hal ini mengubah jalannya reaksi sehingga
diperoleh senyawa antara yang energinya relative rendah. Katalisator
homogen adalah katalisator yang mempunyai fase yang sama dengan zat
pereaksi yang dikatalis.
B. Adsorpsi
Proses katalisasi dengan cara adsorpsi umumnya dilakukan oleh
katalisator homogen, yaitu katalisator yang fasenya tidak sama dengan fase
zat yang dikatalis. Pada proses adsorpsi, molekul-molekul pereaksi akan
teradsorpsi pada permukaan katalisator, dengan terserapnya pereaksi di
permukaan katalisator mengakibatkan zat-zat pereaksi terkonsentrasi
dipermukaan katalisator dan ini akan mempercepat reaksi. Kemungkinan yang
lain, karena pereaksi-pereaksi teradsorpsi di permukaan katalisator akan dapat
menimbulkan gaya tarik antar molekul yang bereaksi, dan ini menyebabkan
molekul-molekul tersebut menjadi reaktif.
Agar katalisator tersebut berlangsung efektif, katalisator tidak boleh
mengadsorpsi zat hasil reaksi dan dengan demikian permukaan logam akan
segera ditempati oleh molekul baru. Bila zat pereaksi atau pengotor
teradsorpsi dengan kuat oleh katalisator menyebabkan permukaan katalis
menjadi ridak aktif. Dalam keadaan demikian, katalisator dikatakan teracuni
dan ini akan menghambat reaksi. Contoh katali adsorpsi adalah nikel pada
pembuatan margarin.
HUKUM LAJU REAKSI
Dari percobaan penentuan laju reaksi menunjukkan bahwa laju reaksi akan
menurun dengan bertambahnya waktu. Hal itu berari ada hubungan antara konsentrasi
zat yang tersisa saat itu dengan laju reaksi. Umumnya laju reaksi tergantung pada
konsentrasi awal dari zat-zat pereaksi. Pernyataan ini dikenal sebagai hukum laju
reaksi atau persamaan laju reaksi .
Secara umum untuk reaksi pA + qB rC
V = K[A]m[B]n
dengan, V = Laju reaksi (mol dm-3 det-1)
K = tetapan laju reaksi
m = tingkat reaksi (orde reaksi) terhadap A
n = tingkat reaksi (orde reaksi) terhadap B
[A] = Konsentrasi awal A (mol dm-3)
[B] = Konsentrasi awal B (mol dm-3)
Tingkat reaksi total adalah jumlah total dari tingkat reaksi semua pereaksi. Tingkat
reaksi nol (0) berarti laju reaksi tersebut tidak terpengaruh oleh konsentrasi pereaksi,
tetapi hanya tergantung pada harga tetapan laju reaksi (K). harga K tergantung pada
suhu, jika suhunya tetap harga K juag tetap. Satuan harga K dapat berubah tergantung
pada tingkat (orde) reaksi totalnya.
BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
− Gelas kimia
− Gelas ukur
− Stopwatch
− Hot Plate
− Termometer
− Pipet
− Tisu
3.1.2 Bahan
− Larutan Na2S2O3 0,25 M
− Larutan HCl 0,5 M
− Larutan HCl 1 M
− Larutan HCl 1,5 M

3.2 Prosedur Percobaan


1.Pengaruh konsentrasi pada laju reaksi
- Disiapkan 3 gelas kimia dan diisi masing-masing 100 ml larutan Na2S2O3 0,25
M.
- Diambil 1 gelas kimia dan diletakkan diatas kertas putih yang telah diberi
tanda silang.
- Dimasukkan 10 ml larutan HCl 0,5 M kedalam gelas kimia tersebut dan
dicatat waktu yang diperlukan sejak penambahan HCl hingga tanda silang
tidak terlihat lagi dari atas gelas.
- Diulangi langkah yang sama untuk konsentrasi larutan HCl 1 M dan 1,5 M.

2. Pengaruh suhu pada laju reaksi


- Disiapkan 1 gelas kimia dan diisi dengan 100 ml larutan Na2S2O3 0,25 M.
- Dipanaskan larutan tersebut pada penangas air hingga suhunya 400C
kemudian letakkan diatas karats putih yang telah diberi tanda silang.
- Dimasukkan 10ml larutan HCl 1,5 M kedalam gelas kimia tersebut dan dicatat
waktu yang diperlukan sejak penambahan larutan HCl hingga tanda silang
tidak terlihat lagi dari atas gelas.
- Dibandingkan data ini dengn hasil jika tanpa pemanasan.
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Pengamatan
1. Pengaruh konsentrasi
No Kosentrasi larutan HCl Waktu (sekon)
1. 0,5M 21
2. 1M 20,27
3. 1,5 M 19,53

2. Pengaruh suhu
No Suhu Waktu
1. 400C 10,43
2. 290C 19,65

4.2 Perhitungan
1. Pengaruh konsentrasi
Na2S2O3 + 2HcL
Jadi nilai K = 2,67 mol-1 dm-3 det-3
V = 0,008
2. Pengaruh suhu
NO Na2S2O3 HCl t(s) V
1. 0,003 0,005 34 0,03
2. 0,003 0,010 25 0,04
3. 0,003 0,015 20 0,05
V1 k1 [Na2S2O3]m[HCl]n V2 k2 [Na2S2O3]m[HCl]n
= =
V2 k2 [Na2S2O3]m[HCl]n V3 k3 [Na2S2O3]m[HCl]n

0,03 k1 [0,003]m[0,005]n 0,04 k2 [0,003]m[0,005]0


= =
0,04 k2 [0,003]m[0,010]n 0,05 k3 [0,003]m[0,005]0
0,03 [0,005]n 0,04 [0,003]m
= =
0,04 [0,010]n 0,05 [0,003]m
3/4 = (1/2)n 4/5 = (1)m
Log ¾ = n. Log ½ m=0
(Log 3 – Log 4) = n (log 1 – log 2) V = K [HCl]n
-0,13 = -0,30n 0,03 = K [0,005]0,4
n = 0,4 K = 0,08
a. Orde reaksinya n = 0,4 ; m = 0
b. nilai K = 0,08

4.3 Pembahasan
Pada prinsipnya laju reaksi dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi
pereaksi atau hasil reaksi persatuan waktu.
Dari hasil percobaan dapat kita lihat bahwa semakin besar konsentrasi
suatu zat, maka semakin cepat pula reaksi kimia yang berlangsung. Hal ini dapat
dilihat pada saat konsentrasi 0,5 M maka waktu yang diperlukan adalah 21 detik.
Sedangkan pada konsentrasi 1 M dan 1,5 M waktu yang diperlukan adalah 20,27
detik dan 19,53 detik.
Dari hasil percobaan dapat kita lihat bahwa semakin besar suhu suatu zat
maka semakin cepat pula reaksi kimia berlangsung. Hal ini dapat dilihat pada suhu
400C , maka waktu yang diperlukan adalah 10,53 detik. Sedangkan pada suhu 290C
waktu yang diperlukan adalah 19,65 detik. Kenaikan suhu akan menyebabkan makin
cepatnya molekul-molekul pereaksi bergerak sehingga memperbesar kemungkinan
terjadi tumbukan sehingga mengakibatkan reaksi kimia dapat berlangsung.
Faktor – faktor yang mempengaruhi laju reaksi :
1. Luas Permukaan sentuh.
Dalam reaksi

Laju reaksi merupakan cepat lambatnya suatu reaksi berlangsung atau


sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi persatuan waktu.
Konsentrasinya biasa dinyatakan dalam mol perliter. Orde reaksi adalah pangkat-
pangkat dalam persamaan laju reaksi. Menentukan orde reaksi dari suatu rekais
kimia pada prinsipnya menentukan sebarapa besar pengaruh perubahan
konsentrasi pereaksi terhadap laju reaksinya. Katalisator adalah suatu zat yang
dapat mempercepat suatu reaksi, tanpa dirinya mengalami perubahan yang kekal.
Indicator adalah suatu zat atau bahan yang digunakan untuk mendeteksi keadaan
zat lain. Contoh katalisator adalan HCl dan MnO2, sedangkan contoh indicator
adalah kertas lakmus dan Fenolftalein (pp).
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi seperti teori tumbukan,
konsentrasi, luas permukaan sentuhan, suhu/temperatur dan katalisator.
Pemanasan sebesar 400C dirasa cukup untuk mempercepat laju reaksinya sebab
bila lebih akan terjadi penggelembungan yang berbahaya.
Pada percobaan laju reaksi, semakin besar konsentrasi larutan maka
semakin cepat laju reaksinya dan waktu untuk mencapai laju reaksi pun semakin
kecil. Jika dibuat grafik maka akan bergerak dari kanan bwah kekiri atas,
menandakan waktu yang diperlukan semakin sedikti. Jika suhu larutan diperbesar,
maka laju reaksi pun akan berjalan sangat cepat, jika dalam grafik akan terlihat
bagaimana arahnya. Dengan suhu yang tinggi dan konsentrasi yang besar akan
mengarahkan titik pertemuannya semakin mendekati nol. Gambar grafiknya
adalah sebagai berikut :
1. Grafik Pengaruh suhu

50
3M 2M 1M
40
Suhu (0C)

30

20

10

10 20 30 40
waktu (s)

2. Grafik Pengaruh konsentrasi


3M

konsentrasi
2M

1M

10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120


waktu (s)

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Laju reaksi dapat ditentukan dengan membandingkan antara laju reaksi
suatu percobaan. Nilai laju reaksi pada percobaan ini adalah :
A. Pengaruh konsentrasi
Konsentrasi V
1M 0,008
2M 0,0086
3M 0,0106

B. Pengaruh suhu (400C)


Konsentrasi V
1M 0,003
2M 0,04
3M 0,05
2. Semakin besar konsentrasi suatu zat maka laju reaksinya semakin besar
pula dan begitu pula sebaliknya, semakin kecil konsentrasi suatu zat maka
laju reaksinya semakin kecil.
3. Semakin besar suhu yang diberiklan pada larutan tertentu maka laju
rekasinya semakin besar. Hal ini disebabkan makin cepatnya molekul-
molekul pereaksi bergerak sehingga memperbesar kemungkinan
terjadinya tabrakan antar molekul.
5.2 Saran
Dalam praktikum laju reaksi selanjutnya diharapkan para praktikan
memperkecil kesalahan penggunaan alat seperti penggunaan termometer dan
stopwatch. Serta gunakan katalisator yang paling cepat mereaksikan.

DAFTAR PUSTAKA
Keenan, Kleinfeller, Wood. 1984. Kimia Untuk Universitas. Erlangga : Jakarta.
Sukardjo. 1989. Kimia Fisika. PT. Bineka Cipta : Jakarta.
Wood Charles. 1996. Ilmu Kimia Untuk Universitas. Erlangga : Jakarta.