Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH PENANGANAN PENYAKIT DAERAH TROPIS

“KASUS TYPHOID ABDOMINALIS”

Kelompok 10
Anita Fitri Wulandari (P07220119057)
Aprilia Dellta Dinanda (P07220119058)
Ardi Kurniawan (P07220119059)
Ardy Wiratama (P07220119060)
Arif Hendra Nurhidayat (P07220119061)
Aulia Ambar (P07220119062)

Politekhnik Kesehatan Kementrian Kesehatan Kalimantan Timur


Program Studi D-III Keperawatan Samarinda
KATA PENGANTAR

Dengan ini kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah
memberi rahmat dan hidayahnya sehingga tugas makalah kami ini yang
berjudul”Kasus Typhoid Abdominalis” bisa terselesaikan dengan tepat waktu.

Adapun maksud penyusunan makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah
Komunikasi Penyusun telah berusaha semaksimal mungkin dalam penyusunan
makalah ini dengan memberikan gambaran secara deskriptif agar mudah di pahami.

Namun penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari


kesempurnaan, maka dari pada itu penyusun memohon saran dan arahan yang
sifatnya membangun guna kesempurnaan makalah ini di masa akan datang dan
penyusun berharap makalah ini bermanfaat bagi semua pihak.

Samarinda, 10 Mei 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................1
A. Latar Belakang....................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...............................................................................................2
C. Tujuan.................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN...............................................................................................3
A. Penyebab dan Gejala Penyakit Demam Typhoid...............................................3
B. Epidemiologi Penyakit Demam Typhoid...........................................................3
C. Patogenesis dan Patofisiologi Demam Typhoid.................................................4
D. Cara Penularan Demam Typhoid.......................................................................5
E. Penatalaksanaan Demam Typhoid......................................................................7
F. Cara Pencegahan Demam Typhoid....................................................................9
BAB III PENUTUP.....................................................................................................11
A. Kesimpulan.......................................................................................................11
A. Saran.................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................12

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit menular masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama di
negara berkembang. Salah satu penyakit menular tersebut adalah Tifus Abdominalis
atau biasa dikenal demam tifoid. Secara global, diperkirakan 17 juta orang mengidap
penyakit ini tiap tahunnya. Di indonesia diperkirakan insiden demam tifoid adalah
300- 810 kasus per 100.000 penduduk pertahun, dengan angka kematian 2%. Demam
tifoid merupakan penyakit infeksi terbanyak keempat yang dilaporkan dari seluruh
24 kabupaten. Di Sulawesi Selatan melaporkan demam typhoid melebihi
2500/100.000 penduduk. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang disebabkan
Salmonella typhi. Demam tifoid (thypoid fever atau tifus abdominalis) banyak
ditemukan dalam kehidupan masyarakat kita, baik diperkotaan maupun dipedesaan.
Penyakit ini erat kaitannya dengan sanitasi lingkungan yang kurang, hygiene pribadi
serta perilaku masyarakat yang tidak mendukung untuk hidup.

Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan penting di negara


berkembang. Diagnosis penyakit ini masih menjadi tantangan para kliniisi karena
gambaran klinis yang tidak khas sehingga pengenalan gejala dan tanda klinis menjadi
sangat penting untuk membantu diagnosis. Penularan dapat terjadi dimana saja, kapan
saja, sejak usia seseorang mulai dapat mengkonsumsi makanan dari luar, apabila
makanan atau minuman yang dikonsumsi kurang bersih.

Kecenderungan terjadinya angka kejadian demam typhoid di Indonesia terjadi


karena banyak faktor, antara lain: Urbanisasi, sanitasi yang buruk, karier yang tidak
terdeteksi, dan keterlambatan diagnosis. Dengan melihat data tersebut diatas, baik
inseiden maupun angka kematiannya, maka pengetahuan dini mengenai demam tifoid
perlu segera dipaparkan. Oleh karena itu memahami penyebab, gejala, cara

1
penularan, penatalaksanaan dan pencegahan masalah demam tifoid perlu diungkap
dan dijelaskan untuk mengurangi insiden dan angka kematian secara tidak langsung.

B. Rumusan Masalah
1. Apa penyebab penyakit Tifus Abdominalis atau Demam Tifoid?
2. Bagaimana gejala penyakit Tifus Abdominalis atau Demam Tifoid?
3. Bagaimana cara penularan Tifus Abdominalis atau Demam Tifoid?
4. Bagaimana penatalaksanaan penyakit Tifus Abdominalis atau Demam Tifoid?
5. Bagaimana usaha pencegahan Tifus Abdominalis atau Demam Tifoid?

C. Tujuan
1. Mengetahui penyebab penyakit Tifus Abdominalis atau Demam Tifoid
2. Memahami gejala penyakit Tifus Abdominalis atau Demam Tifoid
3. Mengetahui cara penularan penyakit Tifus Abdominalis atau Demam Tifoid
4. Memahami penatalaksanaan penyakit Tifus Abdominalis atau Demam Tifoid
5. Memahami cara pencegahan penyakit Tifus Abdominalis atau Demam Tifoid

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Penyebab dan Gejala Penyakit Demam Typhoid


Demam typhoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terjadi dalam saluran
pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran
pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran. (Brusch, 2013).

Demam typhoid disebabkan oleh jenis salmonella tertentu yaitu Salmonella


typhosa, Salmonella paratyphi A, dan Salmonella paratyphi B dan kadang-kadang
jenis salmonella yang lain. Demam yang disebabkan oleh Salmonella typhosa
cenderung untuk menjadi lebih berat dari pada bentuk infeksi salmonella yang lain
(Ashkenazi et.al, 2002).

Penyakit pada anak biasanya tidak seberat pada orang dewasa. Biasanya dimulai
berangsur- angsur dengan naiknya panas dari hari ke hari, sering mencapai 40oC
(140oF) pada akhir minggu pertama. Sakit kepala, batuk, konstipasi, perdarahan
hidung, dan meningismus sering kali muncul. Pada minggu kedua penyakit, tinggi
suhu menetap dan kulit menjadi panas dan kering. Anak tampak sangat sakit dan
berbaring dengan tenang. Perut seringkali bengkak. Diare dapat terjadi dengan tinja
cair, berwarna kehijauan dan berlendir. Limpa akan membesar, walaupun barangkali
sudah terjadi karena malaria. Bercak Rose ( rose spots, rata, bercak merah dengan
diameter 2-5 mm) dapat tampak, terutama diperut dan dada, dan pada anak- anak
dengan kulit yang kering. Pemeriksaan dada sering menunjukan gejala bronkhitis
atau pneumonia. ( Irianto, 2014).

B. Epidemiologi Penyakit Demam Typhoid


Demam typhoid merupakan salah satu penyakit infeksi endemik di Asia, Afrika,
Amerika Latin Karibia dan Oceania, termasuk Indonesia. Penyakit ini tergolong

3
penyakit menular yang dapat menyerang banyak orang melalui makanan dan
minuman yang terkontaminasi. Insiden demam typhoid di seluruh dunia menurut data
pada tahun 3002 sekitar 16 juta per tahun, 600.000 di antaranya menyebabkan
kematian. Di Indonesia prevalensi 91% kasus demam typhoid terjadi pada umur 3-19
tahun, kejadian meningkat setelah umur 5 tahun. Ada dua sumber penularan
Salmonella typhosa : pasien yang menderita demam typhoid dan yang lebih sering
dari carrier yaitu orang yang telah sembuh dari demam typhoid namun masih
mengeksresikan Salmonella typhosa dalam tinja selama lebih dari satu tahun.
(Brusch, 2013).

C. Patogenesis dan Patofisiologi Demam Typhoid


Bakteri Salmonella typhosa masuk ke tubuh manusia melalui mulut dengan
makanan dan minuman yang tercemar. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam
lambung. Sebagian lagi masuk usus halus dan mencapai jaringan limfoid plaque
peyer di ileum terminalis yang mengalami hipertrofi. Ditempat ini komplikasi
perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi. Bakteri Salmonella typhosa
kemudian menembus ke lamina propia, masuk aliran limfe dan mencapai kelenjar
limfe mesenterial, yang juga mengalami hipertrofi. Setelah mengalami kelenjar-
kelenjar limfe ini Salmonella typhosa masuk ke aliran darah melalui ductus
thoracicus. Bakteri bakteri Salmonella typhosa lainnya mencapai hati melalui
sirkulasi portal dari usus. Salmonella typhosa bersarang di plaque peyer, limpa, hati,
dan bagian-bagian lain sistem retikuloendotelial. Semula disangka demam dan gejala-
gejala toksemia pada demam typhoid disebabkan oleh endotoksin. Tapi kemudian
berdasarkan penelitianeksperimental disimpulkan bahwa endotoksin bukan penyebab
utama demam dan gejala-gejala toksemia pada demam typhoid. Endotoksin
Salmonella typhosa berperan pada patogenesis demam typhoid, karena membantu
terjadinya proses inflamasi lokal pada jaringan tempat Salmonella typhosa
berkembang biak. Demam pada typhoid disebabkan karena Salmonella typhosa dan

4
endotoksinnya merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada
jaringan yang meradang ( Juwono, 2006).

D. Cara Penularan Demam Typhoid


Demam typhoid ditularkan melalui fecal-oral antara lain makanan atau minuman
yang terkontaminasi oleh kuman Salmonella typhosa. ( Juwono, 2006)

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan demam tifoid diantaranya adalah


pola makan, hygiene sanitasi, dan tingkat pengetahuan kebersihan.

1. Pola makan

Pola makan adalah kebiasaan makan yang dikonsumsi seharihari. Pola makan dan
intensitas yang benar adalah kebiasaan makan tiga kali sehari dengan gizi seimbang
diterjemahkan sebagai upaya untuk mengatur tubuh kita agar tediri dari sepertiga
makanan, sepertiga cairan, sepertiga udara. Apabila pola makan dan intensitas tidak
dilakukan dengan benar dapat menyebabkan asam lambung meningkat dan dinding
lambung mengalami iritasi, dalam keadaan tersebut kuman Salmonella typhosa dapat
dengan mudah menginfeksi melalui dinding lambung (Siswono, 2002).

Menurut Fathonah (2005) pola makan dipengaruhi oleh sosial budaya, segi
psikologi, kepercayaan terhadap makanan.

2. Kebersihan diri

Kebersihan diri adalah sikap perilaku bersih pada seseorang agar badan terbebas
dari kuman. Beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain pemeriksaan kesehatan,
perilaku cuci tangan, kesehatan rambut, kebersihan hidung, mulut, gigi, telinga, dan
kebersihan pakaian (Rohim et.al, 2002).

Kebersihan diri terutama dalam hal perilaku mencuci tangan setiap makan,
merupakan sesuatu yg baik. Dimana sebagian besar Salmonella typhosa ditularkan

5
melalui jalur fecal oral. Teknik dasar yang paling penting dalam pencegahan dan
pengontrolan penularan infeksi adalah mencuci tangan. Mencuci tangan adalah
menggosok dengan sabun secara bersama seluruh kulit permukaan tangan dengan
kuat dan ringkas yang kemudian dibilas untuk membuang air. Tujuannya adalah
untuk membuang kotoran dan organisme yang menempel di tangan dan untuk
mengurangi jumlah mikroba total pada saat itu. Tangan yang terkontaminasi
merupakan penyebab utama perpindahan infeksi. Kebiasaan yang berhubungan
dengan kebersihan adalah bagian penting dalam penularan kuman Salmonella typhosa
(Rohim et.al, 2002).

Kebersihan diri sangat penting mengingat Salmonella typhosa mampu bertahan


beberapa minggu didalam air, es, debu, sampah kering dan pakaian, mampu bertahan
di sampah mentah selama satu minggu dan dapat bertahan serta berkembang biak
dalam susu, daging, telur, tanpa merubah warna atau bentuknya (Rohim et.al, 2002).

3. Pengetahuan

Pengetahuan tentang suatu hal akan mempengaruhi seseorang dalam berperilaku.


Perilaku seseorang sangat berhubungan erat dengan pengetahuan tentang kesehatan
serta tindakan yang berhubungan dengan kesehatan, yang salah satunya adalah
pengetahuan tentang demam typhoid (Notoatmodjo, 2005).

Determinan perilaku adalah faktor-faktor yang membedakan respon terhadap


stimulus yang berbeda. Determinan perilaku dibedakan menjadi dua, yakni :

1) Faktor internal, yakni karakteristik orang yang bersangkutan, yang bersifat


bawaan, misalnya tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan
sebagainya.

6
2) Faktor eksternal, yakni lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial, budaya,
ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering merupakan
faktor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2005).

4. Hygiene sanitasi

Hygiene adalah suatu usaha kesehatan masyarakat yang mempelajari pengaruh


kondisi lingkungan terhadap kesehatan manusia, upaya mencegah timbulnya penyakit
karena pengaruh lingkungan kesehatan serta membuat kondisi lingkungan sedemikian
rupa, sehingga terjamin pemeliharaan kesehatan. Termasuk upaya melindungi,
memelihara, dan mempertinggi derajat kesehatan manusia (perorangan ataupun
masyarakat), sedemikian rupa sehingga berbagai faktor lingkungan yang
menguntungkan tersebut tidak sampai menimbulkan gangguan kesehatan (Azwar,
1990).

Sanitasi adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitik beratkan pada


pengawasan terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi atau mungkin
mempengaruhi derajat kesehatan manusia, lebih mengutamakan usaha pencegahan
terhadap berbagai faktor lingkungan sedemikian rupa sehingga munculnya penyakit
dapat terhindar (Azwar, 1990).

E. Penatalaksanaan Demam Typhoid


Prinsip penatalaksanaan demam tifoid masih mengikuti trilogi penatalaksanaan
yang meliputi istirahat dan perawatan, diet dan terapi penunjang ( baik simptomik
maupun suportif), serta pemberian antimikroba. Selain itu diperlukan pula tata
laksana komplikasi demam tifoid yang meliputi komplikasi internal maupun
eksternal.

1. Istirahat dan Perawatan

7
Bertujuan untuk mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Tirah
baring dengan perawatan dilakukan sepenuhnya ditempat seperti makan, minum,
mandi dan BAK/ BAB. Posisi pasien diawasi untuk mencegah dukubitus dan
pneumonia orthostatik serta higiene perorangan tetap perlu diperhatikan dan
dijaga.

2. Diet dan Terapi Penunjang

Mempertahankan asupan kalori dan cairan yang adekuat misalnya:

a. Memberikan diet bebas yang rendah serat pada penderita tanpa gejala
meteorismus,, dan diet bubur saring pada penderita yang meteorismus. Hal
ini dilakukan untuk menghindari komplikasi perdarahan saluran cerna dan
perforasi usus. Gizi penderita juga diperhatikan agar meningkatkan
keadaan umum dan mempercepat proses penyembuhan.
b. Cairan yang adekuat untuk mencegah dehidrasi akibat muntah dan diare.
c. Primperan (metoclopramide) diberikan untuk mengurangi gejala mual
muntah dengan dosis 3x 5 ml setiap sebelum makan dan dapat dihentikan
kepan saja penderita sudah tidak mengalami mual lagi.
3. Pemberian Antimikroba

Obat- obat anti mikroba yang sering digunakan dalam melakukan tatalaksana
demam tifoid adalah:

a. Chloramphenicol, diberikan dengan dosis 4 x 500 mg per hari dapat


diberikan secara oral maupun intravena, diberikan sampai dengan 7 hari
bebas panas. Chloramphenicol bekerja dengan mengikat unit ribosom dari
bakteri Salmonella, menghambat pertumbuhannya dan menghambat
sintesis protein. Efek samping penggunaan cholramphenicol adalah terjadi
agranulositosis. Kerugian menggunakan choramphenicol adalah angka
kekambuhan yang tinggi mencapai 5-7% penggunaan jangka panjang (14
hari) dan seringkali menyebabkan timbulnya karier.

8
b. Tiamfenikol, diberikan dengan dosis 4 x 500 mg per hari dan demam
turun rata- rata pada hari ke- 5 sampai ke- 6. Komplikasi hematologi
seperti kemungkinan terjadinya anemia aplastik lebih rendah
dibandingkan chloramphenicol.
c. Ampicilin dan Amoksisilin, kemampuan menurunkan demam lebih rendah
dibandingkan chloramphenicol diberikan dengan dosis 50- 150 mg/ kgBB
selama 2 minggu.
d. Trimetroprim – sulfamethoxazole (TMP- SMZ), dapat digunakan secara
oral atau intravena pada dewasa dosis 160 mg TMP ditambah 800 mg
SMZ dua kali tiap hari pada dewasa.
e. Sefalosforin, yaitu ceftrixon dengan dosis 3-4 gram dalam dekstrosa 100
cc diberikan selama ½ jam perinfus sekali sehari, diberikan selama 3-5
hari.
f. Flurokuinolon, secara relatif obat ini tidak mahal, dapat ditoleransi dengan
baik, dan lebih efektif dibandingkan obat- obatan lini pertama.
Flurokuinolon memiliki kemampuan untuk menembus jaringan yang baik,
sehingga mampu membunuh Salmonella thypi yang berada pada stadium
statis. Obat ini mampu memberikan respon terapeutik yang cepat, seperti
menurunkan keluhan panas dan gejala lain dalam 3-5 hari. Menggunakan
obat ini juga mampu menurunkan kemungkinan karier pasca pengobatan.

F. Cara Pencegahan Demam Typhoid


Bakteri tifoid atau Salmonella thypi dikeluarkan melalui tinja dan urine
penderita yang sakit dan dalam sedikit kasus, melalui pembawa penyakit (carrier)
yang sehat. Penderita tertular lewat air minum, susu, dan makanan terkontaminani.
Penyebaran paling penting terjadi lewat tangan yang kotor, lalat dan akibat
pembuangan tinja dan urine pada penampungan air ( kolam) desa. Karena itu
pencegahan terpenting terhadap tifoid adalah dengan memasak air minum dan susu,

9
membangun dan menggunakan jamban dengan lubang yang dalam, mencuci tangan
sebelum dan sesudah makan, dan mengusir lalat dari lingkungan rumah.

Penderita yang tersangka atau sudah terbukti menderita tifoid, jika mungkin harus
diisolasi pada kamar yang terpisa. Mereka dapat dirawat pada bangsal yang terbuka,
bila dimaksudkan mencegah penyebaran penyakit. Jika lalat banyak dijumpai, kawat
nyamuk harus digunakan. Keluarga, dokter dan perawat harus selalu mencuci tangan
setiap selesai mengunjungi penderita. Tinja dan urien penderita harus direndam
selama 2-3 jam dalam larutan 1:20 asam karbonat, pada penampungnya di tempat
tidur, sebelum dibuang ke saluran air,, kloset atau jamban. Pakaian dan sprei harus
disterilkan dalam larutan asam karbonat 1:20 sebelum dicuci. Anak- anak yang
kontak langsung dengan penderita tifoid harus diberitahu untuk dilaporkan ke rumah
sakit, bila mereka menunjukan gejala- gejala demam atau gejala sakit lainnya.

Suntikan intramuskular atau intradermal dari bakteri Salmonella thypi yang mati
(TAB) dapat digunakan, tetapi hanya memberi kekebalan yang tidak sempurna
dalam jangka waktu pendek. Suntikan ini juga menimbulkan berbagai reaksi berat,
seperti demam dan tangan yang sakit, dan booster tahunan juga diperlukan. Suntikan
ini tidak dianjurkan diberikan secara rutin pada anak- anak di daerah tropis, walaupun
mungkin berguna bila terjadi wabah dan pada anak dan pada keadaan bencana alam.
(Irianto, 2014).

10
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Penyebab penyakit Typhoid Abdominalis adalah karena adanya infeksi
tubuh oleh bakteri Salmonella typhosa , Salmonella paratyphi A,
Salmonella paratyphi B.
2. Gejala penyakit Typhoid Abdominalis adalah demam yang lebih dari 7
hari, gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan
kesadaran.
3. Cara Penularan penyakit Typhoid Abdominalis bisa melalui pola makan,
kebersihan diri, pengetahuan, dan hygiene sanitasi.
4. Penatalaksanaan demam Typhoid dapat dilakukan dengan istirahat dan
perawatan, diet dan terapi penunjang, pemberian Antimikroba.

11
5. Cara Pencegahan demam Typhoid dapat dilakukan dengan cara 4 M,
yaitu memasak air minum dan susu, membangun dan menggunakan
jamban dengan lubang yang dalam, mencuci tangan sebelum dan sesudah
makan, dan mengusir lalat dari lingkungan rumah

A. Saran
1. Dengan adanya makalah ini, diharapkan dapat membantu pembaca dalam
memahami penyakit Typhoid Abdominalis.
2. Perlu diadakan penelitian dan penulisan lebih lanjut mengenai kajian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Brush, Jl. 2013. Typhoid Fever: Deferential Diagnoses and Work Up. Accessed
at;http://emedicine. medscape.com/article/231135-diagnosis.

Juwono, R. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi III. Jakarta: Balai
Penerbit FK-UI Jakarta.

Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan Edisi Revisi. Jakarta:


Rineka Cipta.

Irianto, Koes. 2014. Epidemiologi Penyakit Menular dan Tidak Menular Panduan
Klinis. Bandung: Alfabeta

12