Anda di halaman 1dari 1

13.

SYEKH ALI AR-RAMITANI

Beliau dilahirkan di desa Ramitan, dua batu dari Bukhara. Dia dikenali dan terkenal
dengan nama Azizan, sebuah kata dalam bahasa Parsi yang digunakan untuk salah satu stesen
ditinggikan.
Berikut adalah beberapa dari sekian banyak kata-kata kerohaniannya:
• Jangan dan jangan menghitung Akuilah kekurangan anda dan terus bekerja."
• Capailah Kehadirat Illahiah, terutama saat kau makan dan berbicara.”
• Allah berfiman, “Wahai orang yang Beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan tulus.”
Ayat ini membawa kabar baik. Karena Allah meminta taubat, artinya Dia akan
menerimanya, karena kalau Dia tidak menerima tentu Dia tidak akan menyuruhmu untuk
bertaubat.
• Nabi bersabda, „Allah melihat hati Yang Beriman setiap malam dan siang sebanyak 360
kali.‟ Artinya hati memiliki 360 pintu. Dan setiap organ memiliki 360 akar, semuanya
terhubung dengan hati. Sehingga jika hati, dibawah pengaruh zikrullah, maka akan
terbimbing pada tingkat Pandangan Allah, semua ini akan membawa semua organ tubuh
ke Pandangan Allah, akibatnya, semua organ akan patuh kepada Allah dan dari cahaya
kepatuhan itu, semua organ akan terhubung dengan keberkahanNya. Hal inilah yang
menarik Pandangan Ampunan Allah kepada hati Orang yang mengingat.”
Mawlana Sayfuddin Fidda, seorang ulama besar dimasanya, bertanya kepadanya,
“Kenapa kau bersuara saat berzikir ?” Sheikh Ali (q) menjawab:
“Wahai saudaraku, ulama Muslim berabad-abad, dari masa Tabi‟in (generasi setelah para
Sahabat) sampai sekarang, telah mengijinkan zikir bersuara di saat-saat terakhir hidup
mereka. Saat itu, mereka yang berdekatan dengan yang akan wafat mendorongnya untuk
mengulang pernyataan kepercayaan. Nabi bersabda, laqqina mawtakum shahadatan LA
ILAHA ILLALLAH (“Ajarkan yang akan meninggal mengucap : Tidak ada tuhan selain
Allah”).
Didalam Ilmu Sufisme, para ulama telah menekankan bahwa setiap waktu bisa jadi
yang terakhir buatmu. Hal ini menyimpulkan bahwa kalian harus mengucap LA ILAHA
ILLALLAH dengan suara keras disetiap saat hidup kalian.
Syaikh Ali meninggal dunia pada hari Isnin, 18 Dhul Qa'idah pada tahun 715 H / 1315
atau 721 H/1321 M, pada usia 130 tahun. Dia mempunyai dua putra yang sangat terkenal
dalam mengikuti jejak ayah mereka. Namun, ia tidak lulus rahsia kepada mereka. Sebaliknya
ia melewati ke Syaikh Muhammad Baba as-Samasi Makam beliau berada diatas bukit,
bersama kedua puteranya dan dikelilingi oleh makam ribuan muridnya. Pemandangan ini
menggugah rasa, membuat airmata deras membasahi pipi, sungguh merupakan impian dapat
tinggal di peristirahatan terakhir bersama-sama dengan sang guru dan sahabat-sahabat
tercinta.