Anda di halaman 1dari 5

JAWABAN UAS

MATA KULIAH

FILSAFAT HUKUM
Dosen:
Dr. H M. Ghufron AZ, SH., MHum 

Oleh :

RIFAN HADI NURHASYIM


19074000081

PROGRAM PASCA SARJANA


MAGISTER ILMU HUKUM
UNIVERSITAS MERDEKA MALANG
2019
1

1. Perbedaan antara Pengetahuan dan Ilmu pengetahuan/science

Mengenai ilmu, ada dua hal yang biasanya tertukar satu dengan yang lain
yaitu pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan (science)
berbeda dengan pengetahuan (knowledge atau biasa disebut common sense).
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sehari-hari seperti rasa lapar
dapat dihilangkan dengan makan, rasa haus dapat dihilangkan dengan
minum, jika hujan terus menerus akan berpotensi banjir dan lain
sebagainya. Pengetahuan tidak menyelidiki obyeknya secara menyeluruh, tak
bermetoide dan tak bersistem. Sebaliknya, ilmu pengetahuan mementingkan
sebab-sebab, mencari rumusan sebaik- baiknya, menyelidiki obyeknya
secara menyeluruh dan mendalam, bermetode dan bersistem.
Secara rinci perbedaan pengetahuan dengan ilmu pengetahuan adalah:
a. Dalam pengetahuan informasi tentang suatu fakta jarang disertai
penjelasan tentang mengapa dan bagaimana. Pengetahuan tidak
melakukan pengujian kritis hubungan sebab- akibat antara fakta yang satu
dengan yang lain. sedangkan dalam ilmu pengetahuan, di samping
diperlukan uraian yang sistematik, juga dapat dikontrol dengan sejumlah
fakta sehingga dapat dilakukan pengorganisasian dan pengklarifikasian
berdasarkan prinsip- prinsip atau dalil-dalil yang berlaku
b. Pengetahuan tidak memberikan penjelasan yang sistematis dari
berbagai fakta. Pengetahuan juga mengumpulkan data secara
subjektif. Sedangkan ilmu pengetahuan berpedoman pada teori-teori
yang dihasilkan dalam penelitian-penelitian terdahulu.
c. Kebenaran yang diakui oleh pengetahuan bersifat tetap, sedangkan
kebenaran dalam ilmu pengetahuan selalu dilakukan pengujian kritis.
Kebenaran dalam ilmu pengetahuanselalu dihadapkan pada pengujian
melalui observasi maupun eksperimen dan sewaktu-waktu dapat
diperbaharui atau diganti.
d. Pengetahuan biasanya mengandung pengertian ganda atau samar,
sedangkan ilmu pengetahuan merupakan konsep-konsep yang dapat
diverifikasi secara empirik
e. Pengetahuan didapat hanya melalui pengamatan panca indera
sedangkan ilmu pengetahuan berdasar pada metode ilmiah.

2. Tiga (3) Obyek kajian filsafat ilmu

a. Ontologi
Ontologi berasal dari perkataan Yunani yaitu ontos yang berarti
being, dan logos yang berarti ilmu. Jadi ontologi adalah the theory of
being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan). Atau bisa
juga disebut ontologi sebagai ilmu tentang “yang ada”. Yang dimaksud
“ada” adalah dari dan akan ke mana ada itu. Menurut istilah, ontologi ialah
ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate
reality baik yang berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak. Dua
pengertian ini merambah ke dunia hakikat sebuah ilmu. Ontologi
2

membahas masalah ada dan tiada. Ilmu itu ada, tentu ada asal-muasalnya.
Ilmu itu ada yang nampak dan ada yang tidak nampak. Dengan berfikir
ontologi, manusia akan memahami tentang eksistensi sebuah ilmu

b. Epistemologi
Epistemologi derivasinya dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu
pengetahuan. Epistemologi merupakan gabungan dua kata, episteme yang
berarti pengetahuan dan logos, theory. Epistemologi adalah cabang filsafat
yang membicarakan tentang teori ilmu pengetahuan. Cabang ini berusaha
menemukan jawaban atas pertanyaan bagaimana ada itu berada. Proses
ada itu dari sisi ilmu pengetahuan tentu mengkuti prinsip-prinsip teoritik
yang jelas.
Dengan kata lain epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti
asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat dan bagaimana memperoleh
pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model
filsafat. Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan
karakter pengetahuan, bahkan menentukan ”kebenaran” macam apa yang
dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak.
Dengan demikian, definisi epistemologi adalah suatu cabang filsafat
yang mengkaji dan membahas tentang batasan, dasar dan fondasi, alat,
tolok ukur, keabsahan, validitas dan kebenaran ilmu, makrifat, dan
pengetahuan manusia

c. Aksiologi
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani yaitu axios
yang berarti nilai, sesuai atau wajar, dan logos yang berarti ilmu.
Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Dalam lingkup kajian filsafat nilai
merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, sosial dan
agama. Sistem mempunyai rancangan bagaimana tatanan, rancangan dan
aturan sebagai satu bentuk pengendalian terhadap institusi terwujud.
Nilai sebuah ilmu berkaitan dengan kegunaan. Guna suatu ilmu bagi
kehidupan manusia akan mengantarkan hidup semakin tahu tentang resep-
resep kehidupan. Pengetahuan itu diharapkan memiliki aspek tepat guna
bagi pemiliknya. Aksiologi memberikan jawaban untuk apa pengetahuan
yang berupa ilmu itu dipergunakan. Bagaimana kaitan antara cara
penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah nilai. Bagaimana penentuan
obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan nilai. Bagaimana kaitan
antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah
dengan norma-norma nilai.
Aksiologi ini penting karena pada kenyataannya tidak semua orang
yang memiliki penalaran tinggi selalu diikuti dengan perilaku yang baik.
Bahkan sebaliknya, semakin tinggi penalaran orang, kadang semakin
tinggi pula kemampuannya untuk membenarkan yang salah dan
menyalahkan yang benar.
3

3. ciri-ciri ilmu pengetahuan


- Empiris, artinya pengetahuan diperoleh berdasarkan pengamatan dan
percobaan;
- Sistematis, artinya berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai
kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan yang teratur
- Objektif, artinya ilmu pengetahuan itu bebas dari prasangka
perseorangan dan kesukaan pribadi;
- Analitis, artinya pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan
pokok soalnya dan peranan dari bagian-bagian itu
- Verifikatif, artinya dapat diperiksa kebenarannya oleh siapapun

4. Penalaran Induktif dan deduktif dalam kajian ilmu hokum


Penalaran Induktif merupakan cara berpikir di mana ditarik
kesimpulan umum dari berbagai kasus yang bersifat individual, selain itu
metode induksi ialah cara penanganan terhadap suatu objek tertentu dengn
jalan menarik kesimpulan yang bersifat umum atau bersifat lebih umum
berdasarkan atas pemahaman atau pengamatan terhadap sejumlah hal yang
bersifat khusus. Logika induktif merupakan suatu ragam logika yang
mempelajari asas-asas penalaran yang betul dari sejumlah hal khusus
sampai pada suatu kesimpulan umum yang bersifat boleh jadi. Kesimpulan
yang bersifat  umum ini penting artinya sebab mempunyai dua
keuntungan. Keuntungan yang pertama ialah bahwa pernyataan yang
bersifat umum ini bersifat ekonomis.
Kehidupan yang beranekaragam dengan berbagai corak dan segi dapat
direduksikan menjadi beberapa pernyataan. Pengetahuan yang
dikumpulkan manusia bukanlah merupakan koleksi dari berbagai fakta
melainkan esensi dan fakta-fakta tersebut. Demikian juga dalam
pernyataan mengenai fakta yang dipaparkan, pengetahuan tidak
bermaksud membuat reproduksi dari obyek tertentu, melainkan
menekankan kepada struktur dasar yang menyangga wujud fakta tersebut.
pernyataan bagaimanapun lengkap dan cermatnya tidak bisa
Penalaran Induktif adalah cara berpikir dimana dari pernyataan yang
bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus, selain itu metode
deduksi ialah cara penanganan terhadap sesuatu objek tertentu dengan
jalan menarik kesimpulan mengenai hal-hal yang bersifat umum.
Logika deduktif adalah suatu ragam logika yang mempelajari asas-asas
penalaran yang bersifat deduktif, yakni suatu penalaran yang menurunkan
suatu kesimpulan sebagai kemestian dari pangkal pikirnya sehingga
bersifat betul menurut bentuk saja. Penarikan kesimpulan secara deduktif
biasanya mempergunakan pola pikir yang dinamakan silogismus.
Pernyataan yang mendukung silogismus ini disebut premis yang kemudian
dapat dibedakan sebagai permis mayor dan permis minor. Kesimpulan
merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan
kedua permis tersebut. Logika deduktif membicarakan cara-cara untuk
mencapai kesimpulan-kesimpulan bila lebih dahulu telah diajukan
pertanyaan-pertanyaan mengenai semua atau sejumlah ini di antara suatu
4

kelompok barang sesuatu. Kesimpulan yang sah pada suatu penalaran


deduktif selalu merupakan akibat yang bersifat keharusan dari pertnyaan-
pertanyaan yang lebih dahulu diajukan. Pembahasan mengenai logika
deduktif itu sangat luas dan meliputi salah satu di antara persoalan-
persoalan yang menarik.

5. Pendekatan Non ilmiah dan pendekatan ilmiah


Metode non ilmiah merupakan suatu cara yang digunakan untuk
memecahkan masalah. Namun dalam pemecahan masalah tersebut hanya
berdasarkan pada  pendapat atau anggapan dari para ahli pikir atau dari
para penguasa yang dianggap benar. Padahal anggapan itu belum tentu
dapat dibuktikan kebenarannya. Ada beberapa pendekatan metode non
ilmiah yang banyak digunakan, yaitu; pendapat otoritas, pengalaman,
penemuan secara kebetulan dan coba-coba (Trial and Error), metode a
priori dan sebagainya.
Pendekatan ilmiah adalah pendekatan disipliner dan pendekatan ilmu
pengetahuan yang fungsional terhadap masalah tertentu. (Kamus Besar
Bahasa Indonesia; PN Balai Pustaka, 1989). Pendekatan ilmiah wujudnya
adalah metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam
mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu merupakan
pengetahuan yang didapat lewat metode ilmiah.

Perbedaan Pendekatan Ilmiah dengan Pendekatan Non Ilmiah


Pendekatan Ilmiah :
a. Perumusan masalah jelas dan spesifik.
b. Masalah merupakan hal yang dapat diamati dan diukur secara empiri
c. Jawaban permasalahan didasarkan pada data
d. Proses pengumpulan dan analisis data, serta pengambilan keputusan
berdasarkan logika yang benar.
e. Kesimpulan yang didapat siap/terbuka untuk diuji oleh orang lain.
Pendekatan Non Ilmiah :
a. Perumusan masalah yang kabur atau abstrak.
b. Masalah tidak selalu diukur secara empiris dan dapat bersifat
supranatural/dogmatis.
c. Jawaban tidak diperoleh dari hasil pengamatan data di lapangan.
d. Keputusan tidak didasarkan pada hasil pengumpulan data dan analisis
data secara logis.
e. Kesimpulan tidak dibuat untuk diuji ulang oleh orang lain.