Anda di halaman 1dari 6

PENGEMBANGAN PENILAIAN KETERAMPILAN PROSES SAINS

BERBASIS KELAS PADA PEMBELAJARAN KIMIA

Nahadi1, Wiwi Siswaningsih2, dan Entin Watiningsih3


1, 2
Dosen Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA, Universitas Pendidikan Indonesia
3
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia Universitas Pendidikan Indonesia

ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “Pengembangan Penilaian Keterampilan Proses Sains Berbasis Kelas pada
Pembelajaran Kimia”. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh instrumen penilaian berbasis
kelas yang dapat mengukur keterampilan proses yang dimiliki oleh peserta didik dalam pembelajaran
kimia serta memperoleh tes tertulis yang memenuhi kriteria penilaian yang baik melalui uji
reliabilitas, uji validitas, analisis taraf kesukaran, dan daya pembeda. Metode penelitian yang
digunakan adalah penelitian dan pengembangan dengan desain penelitian adalah pre-experimental
designs one-shot case study. Penelitian dilakukan di salah satu SMA Negeri di kota Bogor dengan
sampel penelitian kelas XI IPA 2 sebanyak 36 peserta didik. Instrumen yang digunakan adalah berupa
tes keterampilan proses (tertulis), Lembar Kerja Siswa (LKS), dan lembar observasi siswa serta
pedoman wawancara dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tes keterampilan proses yang
dikembangkan telah memenuhi kriteria tes yang baik berdasarkan validitas, reliabilitas, tingkat
kesukaran, dan daya pembeda. Namun, Proporsi tingkat kesukarannya tidak tersebar secara normal
karena tidak adanya soal tes yang sukar. Soal-soal dalam Lembar Kerja Siswa (LKS) yang
dikembangkan belum semuanya memiliki validitas yang baik. Berdasarkan respon peserta didik,
penilaian yang dikembangkan memenuhi prinsip-prinsip penilaian berbasis kelas yaitu valid,
mendidik, berkesinambungan, dan menyeluruh.
Kata Kunci: pengembangan penilaian, penilaian berbasis kelas, keterampilan proses sains,

ABSTRACT
This research’s title is "Pengembangan Penilaian Keterampilan Proses Sains Berbasis Kelas pada
Pembelajaran Kimia". The purpose of this research is to acquire instrument of classroom-based
assessment which can measure process skill’s students in study of chemistry, and procures the written
test which complies assessment criterion by reliability test, validity test, difficulty index, and
discriminating index. This research’s method is research and development with research design is pre-
experimental designs one-shot case study. This Research was done at one of a high school in Bogor
with the research’s sample of class XI IPA 2 with 36 students. Instrument was used as process skill
test (written), worksheet, observation sheet of student, and guidance of interview and questionnaire.
The result of this research indicated that the process skill test’s developed has fulfilled good test
criterion which based on validity, reliability, level of difficulty, and discriminating index. But, its
proportion level of the difficulty index didn’t spread over normally because inexistence of tickler.
Worksheet what developed altogether hasn’t good validity. Based on students response, the
assessment’s developed has complied classroom-based assessment principles that is valid, educates,
continual, and totally.
Keyword: assessment development, classroom assessment, process skill of science test

PENDAHULUAN hasil belajar kimia harus memperhatikan


karakteristik IPA sebagai proses dan produk.
Sesuai dengan karakteristik IPA yang
Selain itu, pembelajaran kimia juga
berupa penguasaan pengetahuan dan juga
menekankan pada pemberian pengalaman
proses penemuan, maka terdapat dua hal yang
belajar secara langsung melalui penggunaan
berkaitan dengan kimia, yaitu kimia sebagai
dan pengembangan keterampilan proses dan
produk (pengetahuan kimia yang berupa
sikap ilmiah. [BSNP, 2006]
fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori) dan
kimia sebagai proses (kerja ilmiah). Oleh Keterampilan proses dalam pembelajaran
sebab itu, pembelajaran kimia dan penilaian harus ditumbuhkan dalam diri peserta didik
116
Nahadi, Wiwi Siswaningsih, Entin Watiningsih, Pengembangan Penilaian Keterampilan Proses Sains Berbasis Kelas pada
Pembelajaran Kimia 117

sesuai dengan taraf perkembangan memperoleh data dan informasi secara utuh
pemikirannya. Keterampilan-keterampilan ini serta gambaran prestasi dan kemajuan belajar
akan menjadi roda penggerak penemuan dan peserta didik, juga untuk memberikan
pengembangan fakta dan konsep serta penghargaan dan keadilan terhadap semua
penumbuhan dan pengembangan sikap, kegiatan peserta didik [Arifin, Z., 2009].
wawasan, dan nilai dari peserta didik.
Noriska dan Hadiansyah [Hadiansyah, E.
[Depdiknas, 2006]
P., 2009, Noriska, E. N., 2009] telah
Pada saat ini masih banyak guru yang mengembangkan tes keterampilan proses
belum melaksanakan proses belajar mengajar pada materi larutan penyangga dan
dengan mengembangkan keterampilan proses. hidrokarbon serta Sahin dan Karsli [Karsli, F.
Keterampilan proses baru dikenal secara dan Sahin, C., 2009] juga telah
harfiah. Hal ini karena adanya pendapat mengembangkan lembar kerja siswa pada
bahwa dengan menguasai konsep-konsep materi faktor-faktor yang berpengaruh pada
IPA, semua selesai. Keterampilan proses kelarutan. Berdasarkan Kurikulum Tingkat
tidak dirasa perlu untuk dikembangkan dalam satuan Pendidikan (KTSP) terdapat
pembelajaran IPA di lapangan. Sehingga soal- kompetensi dasar “4.6 memprediksi
soal ulangan dan UN hampir tidak pernah terbentuknya endapan dari suatu reaksi
memunculkan soal-soal yang mengukur berdasarkan prinsip kelarutan dan hasil kali
keterampilan proses.[Rustaman, N., 2007] kelarutan”. Dalam rumusan tersebut nampak
ada keterampilan proses sains (memprediksi
Di luar negeri telah dilakukan penelitian
dan menafsirkan), sehingga diperlukan
mengenai pengembangan alat ukur
penilaian keterampilan proses sains pada
keterampilan proses, diantaranya berupa tes
materi ini.
[Monica, K. M. M., 2005] dan lembar kerja
siswa [Karsli, F. dan Sahin, C., 2009]. Di Indonesia belum ada penelitian
Sedangkan di Indonesia sendiri telah mengenai pengembangan penilaian
dilakukan penelitian dan pengembangan tes keterampilan proses pada materi kelarutan
keterampilan proses sains yang dilakukan dan hasil kali kelarutan. Oleh karena itu,
Noriska [Noriska, E. N., 2009] dan diperlukan suatu penelitian mengenai
Hadiansyah [Hadiansyah, E. P., 2009], pengembangan penilaian berbasis kelas untuk
keterampilan proses yang diukur adalah mengukur keterampilan proses yang dimiliki
keterampilan proses yang terdiri dari enam peserta didik pada pembelajaran kelarutan
sub keterampilan proses, yaitu mengamati, dan hasil kali kelarutan.
menafsirkan, meramalkan, menerapkan
konsep, merencanakan penelitian, dan
mengkomunikasikan [Firman, H., 2000]. METODE
Namun, pengembangan instrumen penilaian Penelitian ini berupa penelitian dan
tersebut baru sampai pada pengembangan tes pengembangan dengan menggunakan metode
saja, seharusnya penilaian pendidikan evaluatif karena uji coba hanya dilakukan
mencoba mengungkap potensi siswa bukan pada sampel yang terbatas (belum diterapkan
hanya melalui hasil belajar, melainkan juga dalam lingkup lembaga pendidikan yang
melalui proses pembelajaran [Rustaman, N., luas). Sehingga desain yang digunakan adalah
2007]. Bentuk penilaian pendidikan dapat pre-experimental designs one-shot case study.
berupa tes ataupun non tes, maka agar proses Paradigma dalam penelitian ini dapat
penilaian memberikan keseimbangan pada digambarkan sebagai berikut:
pengukuran ranah kognitif, afektif, maupun
psikomotor dari peserta didik digunakanlah Ket.:
penilaian berbasis kelas. X = perlakuan yang diberikan
X O
Penilaian berbasis kelas ini O = observasi
menggunakan berbagai bentuk dan model
penilaian yang dilakukan secara sistematis Paradigma ini dapat dibaca sebagai
dan sistemik, menyeluruh, dan berkelanjutan. barikut: terdapat kelompok yang diberi
Diharapkan penilaian ini bermanfaat untuk perlakuan lalu diobservasi hasilnya
118 Jurnal Pengajaran MIPA, Volume 17, Nomor 1, April 2012, hlm. 116-121

[Sugiyono, 2010]. Tujuan yang diharapkan


dari penelitian ini yaitu untuk memperoleh
instrumen penilaian berbasis kelas yang dapat
mengukur keterampilan proses yang dimiliki
oleh peserta didik dalam pembelajaran
kelarutan dan hasil kali kelarutan serta
memperoleh tes tertulis yang memenuhi
kriteria penilaian yang baik melalui uji
reliabilitas, uji validitas, analisis taraf Gambar 2 Grafik Tingkat Kesukaran Tiap
Butir Soal
kesukaran, dan daya pembeda.
Untuk menghitung daya pembeda butir
Subjek penelitian pada penelitian ini soal, digunakan cara perhitungan selisih
adalah siswa kelas XI semester 2 di SMA tingkat kesukaran kelompok tinggi dan
Negeri 1 Bogor yang akan memperoleh rendah [Surapranata, S., 2004]. Dengan data
materi kelarutan dan hasil kali kelarutan. yang diperoleh sebagai berikut:
Jumlah peserta didik yang dijadikan subjek
penelitian adalah satu kelas atau 36 orang
siswa.
Instrumen dalam penelitian ini
menggunakan tes tertulis, lembar kerja siswa
(LKS), lembar observasi siswa, dan pedoman
wawancara dan angket.

Gambar 3 Grafik Hasil Perhitungan Daya


HASIL DAN PEMBAHASAN Pembeda Tiap Butir Soal
Secara keseluruhan tingkat penguasaan
Tes keterampilan proses yang
dikembangkan memenuhi kriteria alat ukur sub-sub keterampilan proses pada aspek
yang baik, berdasarkan hasil validasi maupun kognitif, afektif, dan psikomotor untuk tes
perhitungan reliabilitas dengan data sebagai keterampilan proses, pengerjaan LKS, dan
lembar observasi telah cukup baik. Berikut
berikut:
datanya:

Gambar 1 Grafik Validitas Tiap Butir Soal


pada Tes Keterampilan Proses Gambar 4 Grafik Pencapaian Sub-sub
Keterampilan Proses Berdasarkan Tes
Berdasarkan perhitungan secara statistik Keterampilan Proses
dengan rumus alpha, reliabilitas yang
diperoleh sebesar 0,79 dengan kriteria
penafsiran tinggi.
Perhitungan yang digunakan untuk
menentukan tingkat kesukaran yaitu dengan
persamaan proporsi menjawab benar
[Surapranata, S., 2004] dan diperoleh data
tingkat kesukaran setiap butir soal sebagai Gambar 5 Grafik Pencapaian Sub-sub
berikut: Keterampilan Proses Berdasarkan LKS
Nahadi, Wiwi Siswaningsih, Entin Watiningsih, Pengembangan Penilaian Keterampilan Proses Sains Berbasis Kelas pada
Pembelajaran Kimia 119

Secara keseluruhan tingkat pencapaian


penguasaan aspek afektif dan psikomotor
berdasarkan lembar observasi, masing-masing
adalah lebih dari 63 % dan 68 %.
Berdasarkan angket dan wawancara
diperoleh data sebagai berikut:
Gambar 10 Diagram Pilihan Subjek Terhadap
Penilaian yang Tidak Hanya dari Ulangan Saja

Pembahasan akan dibagi menjadi


beberapa bagian berdasarkan hasil penelitian
di atas, yaitu:
1. Tes keterampilan proses yang
dikembangkan telah memenuhi kriteria
alat ukur yang baik, berdasarkan hasil
validasi maupun perhitungan reliabilitas
yang tafsirannya tinggi.
Gambar 6 Grafik Respon Subjek Terhadap Berdasarkan hasil validasi, seluruh soal
Jenis Tes yang Diujikan dalam tes keterampilan proses yang
dikembangkan menunjukkan hasil yang
valid. Ini berarti tes yang dikembangkan
dapat mengukur apa yang hendak diukur.
suatu alat evaluasi disebut valid jika ia
dapat mengevaluasi dengan tepat sesuatu
yang dievaluasi itu, namun alat evaluasi
yang valid untuk suatu tujuan tertentu
belum tentu valid untuk tujuan lain
Gambar 7 Diagram Pilihan Subjek Terhadap [Erman, S., 2003]. Oleh karena tujuan dari
Keterukuran Keterampilan Proses yang penelitian ini untuk menghasilkan
Dimilikinya penilaian yang dapat mengukur
keterampilan proses yang dimiliki peserta
didik, maka tes keterampilan ini sudah
dapat mengukur keterampilan proses
peserta didik.
Dalam pengujian reliabilitasnya, diperoleh
bahwa tes ini reliabel. Hal ini dibuktikan
dengan tafsiran reliabilitas yang tinggi. Ini
berarti tes yang dikembangkan akan
Gambar 8 Diagram Pilihan Subjek Terhadap memberikan hasil yang sama atau relatif
Peningkatan Motivasi Belajar setelah sama bila diujikan pada kelompok yang
Mengerjakan Tes Keterampilan Proses
sama pada waktu atau kesempatan yang
berbeda. Sehingga, tes ini dapat
memberikan gambaran yang benar-benar
dapat dipercaya mengenai kemampuan
peserta didik, khususnya dalam
keterampilan proses.
2. Kualitas tes telah memenuhi kriteria pokok
\
uji yang cukup baik berdasarkan analisis
Gambar 9 Diagram Pilihan Subjek Terhadap kualitas tes yang berupa tingkat kesukaran
Penilaian Semua Aktivitas Subjek dalam dan daya pembeda pada tes keterampilan
Proses Pembelajaran proses, namun proporsi tingkat
kesukarannya tidak tersebar secara merata.
120 Jurnal Pengajaran MIPA, Volume 17, Nomor 1, April 2012, hlm. 116-121

Selain pengujian validitas dan reliabilitas, 4. Sebanyak 42 % subjek menyukai tes


dilakukan juga analisis pokok uji yang keterampilan proses dibandingkan dengan
berupa tingkat kesukaran dan daya tes ulangan biasa.
pembeda. Pada pengujian tingkat Jenis tes keterampilan proses ini disukai
kesukaran diperoleh hasil yang sedang, ini oleh peserta didik karena memberikan
berarti soal tersebut baik, karena suatu soal pengalaman baru pada mereka mengenai
tes yang baik hendaknya tidak terlalu bentuk tes yang menantang dan menarik.
sukar maupun tidak terlalu mudah. Namun ada juga yang lebih menyukai tes
Namun, untuk menggambarkan prestasi biasa karena mereka lebih terbiasa untuk
belajar yang baik dari peserta didik, mengerjakannya.
sebaiknya proporsi antara tingkat
kesukaran soal harus tersebar secara 5. Sebanyak 17 % subjek sangat setuju dan
merata[Arifin, Z., 2010]. Sehingga secara 47 % setuju jika tes yang diujikan dapat
utuh, tes ini belum memenuhi proporsi mengukur keterampilan proses yang
tersebut dan belum dapat menggambarkan mereka miliki.
prestasi belajar peserta didik dengan baik. Hal ini sangat berhubungan dengan
Untuk daya pembeda, tes yang validitas tes yang cukup baik, peserta didik
dikembangkan telah memiliki daya pun merespon bahwa tes ini dapat
pembeda yang cukup baik, sehingga dapat mengukur keterampilan proses yang
membedakan kemampuan kelompok mereka miliki.
tinggi dan rendah. 6. Sebanyak 17 % sangat setuju dan 42 %
Pada analisis ini, menurut asumsi Galton subjek setuju jika tes keterampilan proses
[Erman, S., 2003] bahwa suatu perangkat dapat memotivasi untuk belajar lebih baik.
alat tes yang baik harus dapat Berdasarkan BSNP [Arifin, Z., 2010]
membedakan antara peserta didik yang mengemukakan bahwa salah satu prinsip
berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah. umum dari penilaian hasil belajar adalah
sehingga hasil penilaiannya tidak mendidik, artinya proses penilaian hasil
semuanya baik atau buruk. Juga tidak belajar harus memberikan sumbangan
sebagian besar baik atau tidak sebagian positif pada peningkatan pencapaian hasil
besar buruk, tetapi harus berdistribusi belajar peserta didik. Hasil penilaian harus
normal. Ini berarti peserta didik yang dapat memberikan umpan balik dan
mendapatkan nilai baik dan peserta didik motivasi kepada peserta didik untuk lebih
yang mendapatkan nilai buruk ada giat belajar. Sehingga tes ini telah
meskipun sedikit, serta sebagian besar memenuhi prinsip umum penilaian hasil
berada pada hasil yang cukup. belajar.
3. Secara keseluruhan tingkat penguasaan 7. Sebanyak 22 % sangat setuju dan 44 %
sub-sub keterampilan proses pada aspek subjek setuju jika penilaian dilakukan pada
kognitif, afektif, dan psikomotor untuk tes seluruh aktivitas pembelajaran.
keterampilan proses, pengerjaan LKS, dan
lembar observasi telah cukup baik. Ini berarti penilaian berbasis kelas ini telah
memenuhi prinsip-prinsip penilaian
Penilaian berbasis kelas ini diharapkan berbasis kelas menurut Pusat Kurikulum
mampu memberikan keadilan pada peserta Balitbang Depdiknas [Arifin, Z., 2010]
didik disetiap aktivitas pembelajaran. yaitu berkesinambungan. Karena penilaian
Sehingga baik dalam proses pembelajaran berbasis kelas ini tidak hanya dilakukan
ataupun sesudahnya, segala aktivitas dari pada akhir kegiatan pembelajaran saja
peserta didik harus mendapatkan tetapi dimulai dari awal, sampai akhir
penilaian. pembelajaran, terencana, dan bertahap.
Untuk afektif, aspek-aspek yang dinilai 8. Sebanyak 44 % sangat setuju dan 42 %
cenderung pada sub keterampilan subjek setuju jika penilaian tidak hanya
mengkomunikasikan, sedangkan pada bersumber dari ulangan harian saja.
psikomotor cenderung pada sub
keterampilan mengamati. Ini karena Ini berarti penilaian berbasis kelas ini telah
kesesuaian dengan tujuan pembelajaran memenuhi prinsip-prinsip penilaian
yang telah dirumuskan. berbasis kelas menurut Pusat Kurikulum
Nahadi, Wiwi Siswaningsih, Entin Watiningsih, Pengembangan Penilaian Keterampilan Proses Sains Berbasis Kelas pada
Pembelajaran Kimia 121

Balitbang Depdiknas [Arifin, Z., 2010] Erman, S. (2003). Evaluasi Pembelajaran


yaitu menyeluruh, baik yang berkenaan Matematika. Bandung: Jurusan
dengan aspek kognitif, afektif, dan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI.
psikomotor. Firman, H. (2000). Penilaian Hasil Belajar
dalam Pengajaran Kimia. Bandung:
KESIMPULAN Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA
UPI.
Berdasarkan data hasil penelitian, pengolahan
data, analisis dan pembahasan maka dapat Hadiansyah, E. P. (2009). Pengembangan dan
diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Validasi Tes Keterampilan Proses
Siswa SMA Kelas X pada Materi Pokok
1. Penilaian keterampilan proses berbasis Hidrokarbon. Skripsi Jurusan
kelas pada pembelajaran kelarutan dan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI.
hasil kali kelarutan yang telah Bandung: tidak diterbitkan.
dikembangkan dapat mengukur
keterampilan proses yang dimiliki oleh Karsli, F. dan Sahin, C. (2009). Developing
peserta didik berdasarkan validitas isi dan worksheet based on science process
validitas empiriknya. skills: Factors affecting solubility.
Dalam Asia-Pacific Forum on Science
2. Tes keterampilan proses yang Learning and Teaching, Volume 10,
dikembangkan telah memenuhi kriteria Issue 1, Article 15, p.1.
pokok uji yang baik berdasarkan
validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, Monica, K. M. M. (2005). Development and
dan daya pembedanya. Namun, proporsi Validation of a Test of Basic Process
tingkat kesukarannya tidak tersebar Skill. Disertasi program Ph.D
secara normal karena tidak terdapatnya pendidikan Sains University of Pretoria
soal yang sukar. Untuk LKS yang South Africa. Pretoria, tidak
dikembangkan secara keseluruhan belum diterbitkan.
memenuhi validitas yang baik. Noriska, E. N. (2009). Pengembangan dan
3. Berdasarkan hasil respon peserta didik Validasi Tes Keterampilan Proses
penilaian yang dikembangkan telah Siswa SMA Kelas XI pada Materi
memenuhi prinsip-prinsip penilaian Pokok Larutan Penyangga. Skripsi
berbasis kelas yaitu valid, mendidik, Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA
berkesinambungan, dan menyeluruh. UPI. Bandung: tidak diterbitkan.
Rustaman, N. (2007). Keterampilan Proses
sains. [Online]. Tersedia:
DAFTAR PUSTAKA http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/J
Arifin, Z. (2010). Strategi Pengembangan UR._PEND._BIOLOGI/195012311979
Penilaian berbasis Kelas (Classroom- 032-
Based Assessment). Bandung: Jurusan NURYANI_RUSTAMAN/KPS_vs_K
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan G.pdf [1 Juli 2011]
FIP UPI. Rustaman, N. (2007). Penilaian Berbasis
Arifin, Z. (2009). Evaluasi Pembelajaran: Kelas. [Online]. Tersedia:
Prinsip Teknik Prosedur. Bandung: PT http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/J
Remaja Rosdakarya. UR._PEND._BIOLOGI/195012311979
032-NURYANI_RUSTAMAN/
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). PENILAIAN_BERBASIS_KELAS.pdf
(2006). Panduan Penyusunan [1 Juli 2011]
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Jenjang Pendidikan Dasar dan Sugiyono. (2010). Metode Penelitian
Menengah. Jakarta : BSNP. Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Depdiknas. (2006). Pedoman Khusus Alfabeta.
Pengembangan Silabus dan Penilaian
Mata Pelajaran Kimia. Jakarta : Surapranata, S. (2004). Interpretasi Hasil
Departemen Pendidikan Nasional. Tes: Implementasi Kurikulum 2004.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.