Anda di halaman 1dari 22

DAFTAR GAMBAR

Gambar 6. Hubungan Presipitasi dan Vegetasi............................................40


Gambar 7. Keterkaitan Garis Lintang dan Vegetasi....................................43

v
KEGIATAN BELAJAR 2
KONDISI GEOLOGIS INDONESIA DAN PENGARUHNYA TERHADAP
KEHIDUPAN FLORA DAN FAUNA

A. PENDAHULUAN
Dalam modul 5 KB 2 ini, anda akan diajak untuk berpikir secara kritis
terkait pemahaman tentang konsep kondisi geologis Indonesia dan pengaruhnya
terhadap kehidupan manusia, flora dan fauna. Berbagai materi dan ilustrasi yang
disajikan menjadi sumber inspirasi serta semakin menguatkan motivasi anda
untuk menjadi guru IPS yang profesional.
Kegiatan Pembelajaran ini akan membahas konsep kondisi geologis
Indonesia dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia, flora dan fauna.
Materi ini akan memberikan bekal bagi peserta tantang kondisi geologis
Indonesia, kondisi geologis Indonesia pengaruhnya terhadap kehidupan
manusia, dan kondisi geologis Indonesia pengaruhnya terhadap kehidupan flora
dan fauna di Indonesia.
Sebelum anda mempelajari KB 2 ini, ada beberapa hal yang harus anda
lakukan untuk mempermudah pemahaman anda tentang isi KB 2 ini. Beberapa
langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut;
1. Pahamilah terlebih dahulu mengenai berbagai kegiatan dan tahapan penting
dalam diklat mulai tahap awal sampai akhir.
2. Lakukan kajian permulaan terhadap tema interaksi antar wilayah dan
pengaruhnya terhadap perdagangan dan mobilitas penduduk dengan mencari
beberapa referensi yang relevan.
3. Pelajari terlebih dahulu langkah dan tahapan KB 2 pada modul 5 untuk
memudahkan dalam memahami isi KB 2.
4. Keberhasilan proses pembelajaran anda dalam mata diklat ini sangat
tergantung kepada kesungguhan anda dalam mengerjakan tes formatif.
Untuk itu, berlatihlah secara mandiri atau berkelompok dengan teman
sejawat, berkaitan dengan latihan soal yang telah disediakan pada KB 2 ini.
5. Bila Anda menemui kesulitan, silakan berdiskusi dengan sejawat, atau
bertanya kepada instruktur atau fasilitator yang mengajar mata diklat ini.
Selamat belajar dan beraktivitas dalam mata kegiatan ini, semoga seluruh
capaian pembelajaran dalam kegiatan ini dapat Saudara pahami secara
maksimal, sehingga dapat menjadi bekal untuk bertugas menjadi guru yang
profesional.

B. CAPAIAN PEMBELAJARAN
Setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran ini, diharapkan mampu
menguasai menguasai konsep kondisi geologis Indonesia dan pengaruhnya
terhadap kehidupan manusia, flora dan fauna.

C. SUB CAPAIAN PEMBELAJARAN


Indikator keberhasilan akan dicapai apabila peserta telah memiliki
kemampuan berikut;
1. Menjelaskan kondisi geologis Indonesia
2. Menjelaskan kondisi geologis Indonesia pengaruhnya terhadap kehidupan
manusia
3. Menjelaskan kondisi geologis Indonesia pengaruhnya terhadap kehidupan
flora dan fauna di Indonesia

D. URAIAN MATERI
Indonesia merupakan negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia,
dengan ribuan pulau dan spesies flora dan fauna. Indonesia merupakan negara
yang dianugrahi sumber daya alam dan juga sumber daya manusia yang
berlimpah rupiah. untuk lebih jelasnya, mari kita pelajari dan analisis video
berikut ini yang menunjukkan tentang kondisi umum negara Indonesia.

31
Video 3. Focus on Indonesia! Country Profile and Geographical Info
Sumber: https://youtu.be/nkvGZBqfPIs, diunduh tanggal 7 September 2019 pukul
12.34 WIB.

1. Kondisi Geologis Indonesia


Letak Geologis merupakan salah satu cara untuk mengetahui posisi suatu
tempat atau negara pada permukaan bumi. Biasanya para ahli menggunakan
aspek geologis tempat itu sendiri, seperti kondisi lempeng lapisan bumi yang
berada di suatu negara. Letak geologis ini juga dapat dilihat berdasarkan
keadaan bebatuan yang berada di lapisan tanah negara itu sendiri. Dengan
mengetahui letak suatu negara secara geologis, maka orang-orang dapat
memperkirakan kejadian alamiah pada negara tersebut. Lalu bagaimana
dengan letak Geologis Indonesia?
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Indonesia dikenal sebagai negara
yang memiliki jumlah gunung api terbanyak. Bahkan diantara gunung-
gunung tersebut ada yang masih aktif hingga sekarang. Keberadaan gunung
itu juga telah memberikan pengaruh dari kondisi bebatuan pada lapisan bumi
Indonesia. Berdasarkan aspek geologis tersebut, Indonesia terletak pada dua
titik pertemuan sirkum pegunungan, meliputi sirkum Mediterania dan sirkum
Pasifik. Sirkum Mediterania terdapat di wilayah barat Indonesia, sementara
sirkum Pasifik terdapat di wilayah bagian tengah.
Letak geologis Indonesia yang menyebabkan banyaknya gunung api
aktif, membuat Indonesia kaya akan berbagai macam flora dan fauna dan juga
barang tambang. Untuk lebih jelasnya silakan Anda pelajari materi berikut ini.
Setelah itu Anda analisis video tentang kondisi geologis negara indonesia.

Video 4. Letak Geologis Indonesia


Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=uhApimToWBY diunduh tanggal 15
April 2018 pukul 14.16 WIB

Selanjutnya, letak Geologis Indonesia juga berhasil mengungkap sebuah


fakta bahwa Negara ini terletak diantara tiga lempeng utama dunia. Masing-
masing lempeng itu ialah Lempeng Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng
Pasifik. Secara teoritis, keberadaan lempeng tersebut akan menimbulkan
kejadian alamiah berupa gempa bumi. Hal ini dikarenakan adanya pergerakan
dari masing-masing lempeng tersebut, sehingga menimbulkan gesekan.
Dengan posisi Indonesia yang terletak di antara 3 lempeng tersebut,
maka Indonesia sering kali mengalami gempa bumi. Bahkan beberapa wilayah
di Indonesia tergolong sebagai kawasan yang sangat rawan terjadi gempa bumi.
Selain itu, berdasarkan aspek geologis pula ilmuan juga mengetahui bahwa
Indonesia berada diantara dua Dangkalan besar. Dangkalan itu sendiri dapat di
artikan sebagai wilayah laut yang menghubungkan wilayah daratan yang sangat
besar, misalnya berupa benua.
Terkait dengan hal ini, jika dilihat dari sisi barat Indonesia, maka negara
ini berhadapan langsung dengan Dangkalan Sunda. Dangkalan tersebut yang
juga menghubungkan Indonesia dengan Benua Asia. Sementara di wilayah
timur, Indonesia berhadapan dengan Dangkalan Sahul yang menghubungkan
Indonesia dengan Benua Australia.
Letak Geologis Indonesia juga memberikan pengaruh terhadap fenomena
alam di Indonesia. Sebagai mana dijelaskan semula, bahwa salah satu pengaruh
tersebut ialah fenomena gempa bumi. Beberapa kali tercatat Indonesia
mengalami guncangan hebat akibat gempa bumi tersebut.

2. Kondisi Geologis Indonesia Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Manusia


Peristiwa tektonik yang cukup aktif selain berpotensi menimbulkan
bencana alam, juga menguntungkan bagi Indonesia dengan banyak terbentuknya
Sedimentary Basin (cekungan sedimen). Cekungan ini menampung sedimen
yang selanjutnya menjadi batuan induk maupun batuan reservoir hydrocarbon
yang menyimpan kandungan minyak bumi di dalamnya.
Pengaruh letak geologis Indonesia terhadap kondisi tanah dan
penampakan alam adalah sebagai berikut:
a. Kepulauan Indonesia memiliki banyak gunung api yang aktif. terutama di
wilayah barat. Hal ini disebabkan oleh wilayah barat dilalui oleh rangkaian
sirkum pegunungan mediterania. Sirkum mediterania terdiri dari rangkaian
pegunungan api yang masih muda, sehingga lebih berpotensi untuk aktif.
b. Laut di Indonesia bagian barat merupakan laut dalam. Sedangkan wilayah
tengah dan timur terdiri dari lautan yang dangkal. Hal ini dipengaruhi oleh
kondisi geologis Indonesia yang dilalui oleh dangkalan Sunda dan
Dangkalan Sahul. Selain itu juga terdapat wilayah di Indonesia yang terletak
diantara dua dangkalan tersebut (Australia-Asiatis).
c. Wilayah Indonesia menyimpan banyak tambang dan mineral seperti emas,
perak dan besi. Hal ini dikarenakan banyak terdapat cekungan sedimen
(sedimentary basin) yang disebabkan aktifitas tektonik di wilayah Indonesia.
Cekungan sedimen mengakomodasikan sedimen yang dapat berubah
menjadi batuan lain. Hal ini menyebabkan terjadinya endapan mineral.
d. Wilayah Indonesia termasuk daerah “rawan bencana”. Di Indonesia sering
terjadi gempa bumi tektonik ataupun gempa bumi vulkanik yang disebabkan
aktivitas geologis.
e. Pegunungan di Indonesia merupakan rangkaian dari pegunungan muda
sirkum mediterania (wilayah barat) dan sirkum pasifik di wilayah timur.
f. Di Indonesia terdapat banyak jenis tanah untuk pertanian dan perkebunan.
Hal ini juga disebabkan oleh aktivitas gunung merapi yang menghasilkan
tanah vulkanik. Tanah vulkanik mengandung banyak unsur hara yang
menjadi indikator kesuburan tanah.
g. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, baik flora maupun
faunanya. Bahkan di Indonesia juga terdapat banyak flora dan fauna
endemik yang menjadi flora dan fauna ynag dilindungi. Hal ini salah satunya
dipengaruhi oleh dua dangkalan yang melalui wilayah Indonesia.
h. Sering muncul gunung api di tengah laut. Terutama di wilayah barat
Indonesia yang dilalui sirkum Mediterania. Gunung api muda yang masih
aktif ini juga terdapat di tengah laut dan terus “berkembang”.
Jadi dapat disimpulkan bahwa letak geologis suatu wilayah sangat
berpengaruh terhadap sumber daya yang terdapat di wilayah tersebut. Baik
sumber daya alam hayati maupun sumber daya mineral. Indonesia sebagai
negara kepulauan sebenarnya punya letak geologis yang sangat menguntungkan.
Meskipun juga terdapat dampak negatif dari hal itu.

3. Kondisi Geologis Indonesia Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Flora


dan Fauna di Indonesia
Letak geologis ialah letak suatu daerah atau negara berdasarkan struktur
batubatuan yang ada pada kulit buminya. Letak geologis Indonesia dapat
terlihatdari beberapa sudut, yaitu dari sudut formasi geologinya, keadaan
batuannya, dan jalur-jalur pegunungannya. Dataran Indonesia Timur atau
Paparan Sahul memiliki jenis batuan yang sama dengan jenis batuan di Benua
Australia. Daerah peralihan antara keduadataran tersebut disebut daerah
Wallacea. Dilihat dari jalur-jalur pegunungannya, Indonesia terletak pada
pertemuan dua rangkaian pegunungan muda, yakni rangkaian Sirkum Pasifik
dan rangkaian Sirkum Mediterania. Sumber daya alam (biasa disingkat SDA)
adalah segala sesuatu yang muncul secara alami yang dapat digunakan untuk
pemenuhan kebutuhan manusia pada umumnya. Yang tergolong di dalamnya
tidak hanya komponen biotik, seperti hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme,
tetapi juga komponen abiotik, seperti minyak bumi, gas alam, berbagai jenis
logam, air, dan tanah. Inovasiteknologi,
kemajuan peradaban dan populasi manusia, serta revolusi industri
telahmembawa manusia pada era eksploitasi sumber daya alam sehingga
persediaanya terus berkurang secara signifikan, terutama pada satu abad
belakangan ini.
Letak geologis inilah yang menyebabkan wilayah Indonesia banyak
dijumpai gunung berapi, sehingga banyak wilayah di Indonesia yang
kesuburannya cukup tinggi. Namun perlu disadari pula bahwa letak geologis
yang demikian itu menyebabkan wilayah Indonesia rawan dengan bencana alam
seperti gunung meletus dan gempa bumi.
Curah hujan yang cukup tinggi di daerah tropis mengakibatkan suburnya
berbagai jenis tanaman. Oleh karena itu, daerah tropis dikenal sebagai kawasan
hutan belukar yang bukan saja menyimpan berbagai potensi kekayaan alam,
melainkan juga berperan sebagai paru-paru dunia. 1. Persebaran flora di
Indonesia Indonesia memiliki beraneka ragam jenis tumbuhan. Iklim memiliki
pengaruh yang sangat besar, terutama curah hujan dan suhu udara. Pengaruh
suhu udara terhadap habitat tumbuhan di Indonesia telah dikenal dengan
klasifikasi Junghuhn, seorang ahli botani asal Jerman yang membagi jenis
tumbuhan berdasarkan ketinggian tempat. 2. Persebaran fauna di Indonesia
Persebaran fauna di Indonesia berkaitan dengan sejarah geologis Kepulauan
Indonesia. Menurut Alfred Russel Wallace, terdapat perbedaan sebaran binatang
di Indonesia. Klasifikasi persebaran fauna di Indonesia dikenal dengan sebutan
kralsifikasi garis Wallace. Menurut klasifikasi ini Indonesia memiliki dua
sebaran hewan, yaitu: a) di bagian barat merupakan daerah dengan jenis hewan
berasal dari Benua Asia; dan b) bagian timur adalah daerah dengan jenis hewan
dari Benua Australia. Namun dalam klasifikasi ini dibagi lagi oleh Wallace
menjadi tiga tipe fauna, yaitu: tipe Asiatis, Asiatis Australis (Peralihan), dan
Australis. Pada perkembangannya Garis Wallace disempurnakan lagi oleh
Weber menjadi lebih detil. Ahli binatang lain ialah Lydekker, yang menentukan
batas barat fauna Australia dengan menggunakan garis kontur kedalaman laut
antara 180-200 meter sekitar Paparan Sahul dan Paparan Sunda.
Keadaan bentang alam atau morfologi suatu daerah menyebabkan suatu
daerah ditinggali oleh tumbuhan atau hewan tertentu, di daerah lain dihuni oeh
tumbuhan dan hewan tertentu pula. Contohnya seperti di Pulau Flores, dengan
keadaan alam yang berupa stepa, maka di sana banyak terdapat kuda. Tentunya
keadaan bentang alam suatu wilayah dipengaruhi oleh keadaan geologi dan letak
astronomi daerah tersebut. Silakan anda pelajari dan analisis video berikut,
kemudian diskusikan dengan teman sejawat Anda.

Video 5. The Invisible Line in the Indian Ocean


Sumber: https://youtu.be/6vcMQboy2Jg, diunduh tanggal 7 September
2019 pukul 13.02 WIB
Perhatikan alam sekitar kita. Kita dapat melihat tumbuhan dari pohon
yang sangat besar sampai rerumputan yang kecil. Kita dapat melihat hewan dari
yang dipelihara sampai hewan-hewan liar dengan berbagai ukuran. Kita juga
dapat melihat manusia dengan berbagai usia dan kegiatannya. Tumbuhan,
hewan, dan manusia adalah makhluk hidup atau lazim disebut organisme.
Coba pikirkan, bagaimana organisme itu dapat hidup? Organisme itu
dapat hidup karena ada tempat untuk hidup yang menyediakan semua kebutuhan
untuk melangsungkan kehidupan. Tempat untuk hidup itulah yang disebut
biosfer (berasal dari kata bio = hidup dan sphaira = tempat/lapisan). Di gurun
pasir yang gersang, di kutub yang sangat dingin, dan di dalam laut ternyata
masih dijumpai kehidupan. Berarti, gurun yang gersang, daratan kutub yang
dingin, dan dalam laut merupakan biosfer.
Tidak hanya di permukaan Bumi, di dalam tanah dan di udara pun ada
kehidupan. Pada kedalaman tertentu di dalam tanah, kamu dapat menjumpai
berbagai macam organisme. Di udara pada ketinggian tertentu, kamu dapat
melihat burung-burung dan berbagai makhluk terbang mencari makan. Berarti,
tanah pada
kedalaman tertentu dan udara pada ketinggian tertentu juga merupakan biosfer.
Dari uraian di depan, kamu dapat menarik kesimpulan bahwa biosfer adalah
bagian dari Bumi dan atmosfernya di mana organisme dapat hidup dan
melangsungkan kehidupannya. Dengan kata lain, hanya di biosferlah sistem
kehidupan dapat ditemukan. Secara lebih terperinci, jenjang kehidupan atau
tingkatan organisasi makhluk hidup adalah sebagai berikut.
a. Individu
Individu merupakan organisme tunggal yang termasuk dalam spesies
tertentu. Contoh, seekor ayam, seekor kucing, sebatang pohon pisang, sebatang
pohon kelapa, dan seorang manusia. Untuk mempertahankan hidupnya, satu
jenis organisme dihadapkan pada masalah-masalah yang cukup rumit. Seperti
untuk mempertahankan diri dari musuh atau untuk mendapatkan makanan.
b. Populasi
Populasi adalah kumpulan individu sejenis yang berkumpul dan hidup
pada suatu daerah dan waktu tertentu. Contoh, populasi ayam di Desa Jati
Makmur pada tahun 2000 berjumlah 5.555 ekor. Ukuran populasi dapat berubah
sepanjang waktu. Perubahan ukuran dalam populasi tersebut disebut dinamika
populasi.
c. Komunitas
Komunitas adalah suatu kumpulan dari berbagai populasi pada suatu
kawasan tertentu yang saling berinteraksi dan memengaruhi satu sama lain.
Komunitas memiliki komponen yang lebih kompleks jika dibandingkan dengan
individu dan populasi. Dalam komunitas, semua komponen saling berinteraksi
dengan pola yang beraneka macam.
d. Ekosistem
Ekosistem merupakan suatu kumpulan dari komunitas yang berbeda
yang memiliki ciri khas yang berbeda dan memiliki hubungan yang saling
memengaruhi. Komponen penyusun ekosistem adalah produsen (tumbuhan
hijau), konsumen (herbivora, karnivora, dan omnivora), dan
dekomposer/pengurai (mikroorganisme).
e. Biom
Beberapa ekosistem yang terdapat pada suatu wilayah geografis dengan
iklim dan kondisi yang sama disebut biom. Semua biom di Bumi dengan
berbagai macam dan ragamnya membentuk tingkatan tertinggi pendukung
kehidupan yang disebut biosfer.

4. Faktor yang Mempengaruhi Sebaran Flora dan Fauna


Beberapa faktor yang memengaruhi persebaran flora dan fauna, sebagai
berikut:
a. Faktor Klimatik
Kondisi iklim merupakan salah satu faktor dominan yang mempengaruhi
pola persebaran flora dan fauna. Wilayah-wilayah dengan pola iklim yang
ekstrim, seperti daerah kutub yang senantiasa tertutup salju dan lapisan es abadi,
atau gurun yang gersang, sudah tentu sangat menyulitkan bagi kehidupan suatu
organisme. Oleh karena itu, persebaran flora dan fauna pada kedua wilayah ini
sangat minim baik dari jumlah maupun jenisnya. Sebaliknya, daerah tropis
merupakan wilayah yang optimal bagi kehidupan flora dan fauna.
Faktor-faktor iklim yang berpengaruh terhadap persebaran makhluk
hidup di permukaan bumi ini, antara lain suhu, kelembaban udara, angin, dan
tingkat curah hujan.
1) Suhu
Permukaan bumi mendapatkan energi panas dari radiasi matahari dengan
intensitas penyinaran yang berbeda-beda di setiap wilayah. Daerah-daerah yang
berada pada zona lintang iklim tropis, menerima penyinaran matahari setiap
tahunnya relatif lebih banyak jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah
lainnya.
Selain posisi lintang, faktor kondisi geografis lainnya yang memengaruhi
tingkat intensitas penyinaran matahari antara lain kemiringan sudut datang sinar
matahari, ketinggian tempat, jarak suatu wilayah dari permukaan laut, kerapatan
penutupan lahan dengan tumbuhan, dan kedalaman laut. Perbedaan intensitas
penyinaran matahari menyebabkan variasi suhu udara di muka bumi.
Gambar 6. Hubungan Presipitasi dan Vegetasi
Sumber: https://docplayer.info/72907662-Bab-1-flora-dan-fauna-a-fenomena-
biosfer-b-persebaran-flora-dan-fauna-dunia-c-persebaran-flora-dan-fauna-di-
indonesia.html, diunduh tanggal 9 September 2019 pukul 07.37 WIB

Kondisi suhu udara sangat berpengaruh terhadap kehidupan hewan dan


tumbuhan, karena berbagai jenis spesies memiliki persyaratan suhu lingkungan
hidup ideal atau optimal, serta tingkat toleransi yang berbeda-beda di antara satu
dan lainnya. Misalnya, flora dan fauna yang hidup di kawasan kutub memiliki
tingkat ketahanan dan toleransi yang lebih tinggi terhadap perbedaan suhu yang
tajam antara siang dan malam jika dibandingkan dengan flora dan fauna tropis.
Pada wilayah-wilayah yang memiliki suhu udara tidak terlalu dingin atau
panas merupakan habitat yang sangat baik atau optimal bagi sebagian besar
kehidupan organisme, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Hal ini
disebabkan suhu yang terlalu panas atau dingin merupakan salah satu kendala
bagi makhluk hidup. Khusus dalam dunia tumbuhan, kondisi suhu udara adalah
salah satu faktor pengontrol persebaran vegetasi sesuai dengan posisi lintang,
ketinggian tempat, dan kondisi topografinya. Oleh karena itu, sistem penamaan
habitat flora seringkali sama dengan kondisi iklimnya, seperti vegetasi hutan
tropis, vegetasi lintang sedang, vegetasi gurun, dan vegetasi pegunungan tinggi.

40
2) Kelembaban Udara
Selain suhu, faktor lain yang berpengaruh terhadap persebaran makhluk
hidup di muka bumi adalah kelembapan. Kelembapan udara yaitu banyaknya
uap air yang terkandung dalam massa udara. Tingkat kelembapan udara
berpengaruh langsung terhadap pola persebaran tumbuhan di muka bumi.
Beberapa jenis tumbuhan sangat cocok hidup di wilayah yang kering,
sebaliknya terdapat jenis tumbuhan yang hanya dapat bertahan hidup di atas
lahan dengan kadar air yang tinggi.
Berdasarkan tingkat kelembapannya, berbagai jenis tumbuhan dapat
diklasifikasikan ke dalam empat kelompok utama, yaitu sebagai berikut.
a) Xerophyta, yaitu jenis tumbuhan yang sangat tahan terhadap lingkungan
hidup yang kering atau gersang (kelembapan udara sangat rendah), seperti
kaktus dan beberapa jenis rumput gurun.
b) Mesophyta, yaitu jenis tumbuhan yang sangat cocok hidup di lingkungan
yang lembap, seperti anggrek dan jamur (cendawan).
c) Hygrophyta, yaitu jenis tumbuhan yang sangat cocok hidup di lingkungan
yang basah, seperti eceng gondok, selada air, dan teratai.
d) Tropophyta, yaitu jenis tumbuhan yang mampu beradaptasi terhadap
perubahan musim kemarau dan penghujan. Tropophyta merupakan flora
khas di daerah iklim muson tropis, seperti pohon jati.
3) Angin
Di dalam siklus hidrologi, angin berfungsi sebagai alat transportasi yang
dapat memindahkan uap air atau awan dari suatu tempat ke tempat lain. Gejala
alam ini meng untungkan bagi kehidupan makhluk di bumi, karena terjadi
distribusi uap air di atmosfer ke berbagai wilayah. Akibatnya, secara alamiah
kebutuhan organisme akan air dapat terpenuhi. Gerakan angin juga membantu
memindahkan benih dan membantu proses penyerbukan beberapa jenis tanaman
tertentu.
4) Curah Hujan
Air merupakan salah satu kebutuhan vital bagi makhluk hidup. Tanpa
sumber daya air, tidak mungkin akan terdapat bentuk-bentuk kehidupan di muka
bumi. Bagi makhluk hidup yang menempati biocycle daratan, sumber air utama
untuk memenuhi kebutuhan hidup berasal dari curah hujan. Melalui curah hujan,
proses pendistribusian air di muka bumi akan berlangsung secara berkelanjutan.
Titik-titik air hujan yang jatuh ke bumi dapat meresap pada lapisan-lapisan
tanah dan menjadi persediaan air tanah, atau bergerak sebagai air larian
permukaan, kemudian mengisi badan-badan air, seperti danau atau sungai.
Begitu pentingnya air bagi kehidupan mengakibatkan pola penyebaran
dan kerapatan makhluk hidup antarwilayah pada umumnya bergantung dari
tinggi- rendahnya curah hujan. Wilayah-wilayah yang memiliki curah hujan
tinggi pada umumnya merupakan kawasan yang dihuni oleh aneka spesies
dengan jumlah dan jenis jauh lebih banyak dibandingkan dengan wilayah yang
relatif lebih kering.
Sebagai contoh daerah tropis ekuatorial dengan curah hujan tinggi
merupakan wilayah yang secara alamiah tertutup oleh kawasan hutan hujan
tropis (belantara tropis) dengan aneka jenis flora dan fauna dan tingkat
kerapatan yang tinggi. Tingkat intensitas curah hujan pada suatu wilayah akan
membentuk karakteristik yang khas bagi formasi-formasi vegetasi (tumbuhan)
di muka bumi.
Karakter vegetasi yang menutupi hutan hujan tropis sangat jauh berbeda
dengan vegetasi yang menutupi kawasan muson, stepa, atau gurun. Karakter
vegetasi di wilayah muson didominasi oleh tumbuhan gugur daun untuk
menjaga kelembaban saat musim kemarau. Wilayah gurun didominasi oleh jenis
tumbuhan yang sangat tahan terhadap kekeringan. Kekhasan pola dan
karakteristik vegetasi ini tentunya mengakibatkan adanya hewan-hewan yang
khas pada lingkungan vegetasi tertentu. Pada dasarnya tumbuhan merupakan
salah satu sumber bahan makanan (produsen) bagi hewan.
b. Faktor Edafik
Faktor kedua yang memengaruhi persebaran bentuk-bentuk kehidupan di
muka bumi terutama tumbuhan adalah kondisi tanah atau faktor edafik. Tanah
merupakan media tumbuh dan berkembangnya tanaman. Kondisi tanah yang
secara langsung berpengaruh terhadap tanaman adalah kesuburan. Adapun yang
menjadi parameter kesuburan tanah antara lain kandungan humus atau bahan
organik, unsur hara, tekstur dan struktur tanah, serta ketersediaan air dalam pori-

42
pori tanah. Tanah-

43
tanah yang subur, seperti jenis tanah vulkanis dan andosol merupakan media
optimal bagi pertumbuhan tanaman.
c. Faktor Fisiografi
Faktor fisiografi yang berkaitan dengan persebaran makhluk hidup
adalah ketinggian tempat dan bentuk wilayah. Anda tentu masih ingat gejala
gradien thermometrik, di mana suhu udara akan mengalami penurunan sekitar
0,5oC–0,6oC setiap wilayah naik 100 meter dari permukaan laut.
Adanya penurunan suhu ini sangat berpengaruh terhadap pola persebaran
jenis tumbuhan dan hewan, sebab organisme memiliki keterbatasan daya
adaptasi terhadap suhu lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu, jenis
tumbuhan yang hidup di wilayah pantai akan berbeda dengan yang hidup pada
wilayah dataran tinggi atau pegunungan.

Gambar 7. Keterkaitan Garis Lintang dan Vegetasi


Sumber: http://blognyaemanuelhartanta.blogspot.com/2018/07/flora-danfauna-
apa-manfaatbagiku.html, diunduh tanggal 9 September 2019 pukul 07.42
WIB.

d. Faktor Biotik
Manusia adalah komponen biotik yang berperan sentral terhadap
keberadaan flora dan fauna di suatu wilayah, baik yang sifatnya menjaga
kelestarian maupun mengubah tatanan kehidupan flora dan fauna. Dalam rangka
memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, manusia berusaha mengolah dan
memanfaat kan lingkungan hidup di sekitarnya semaksimal mungkin, walaupun
terkadang dapat merusak kelestarian alam. Misalnya, dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, dalam waktu yang relatif singkat manusia mampu
mengubah kawasan hutan menjadi daerah permukiman dan areal pertanian.
Perubahan fungsi lahan
tersebut berakibat terhadap kestabilan ekosistem yang secara alamiah telah
terjalin dalam periode jangka waktu yang lama.

5. Persebaran Flora dan Fauna Indonesia


Karakter dan pola persebaran flora dan fauna Indonesia tidak terlepas
dari sejarah perkembangan Kepulauan Indonesia. Anda tentu masih ingat bahwa
secara geologis dan geomorfologis wilayah Indonesia bagian barat termasuk ke
dalam landas kontinen Asia (Paparan Sunda), sedangkan wilayah Indonesia
bagian timur termasuk ke dalam landas kontinen Australia (Paparan Sahul).
Dalam sejarah perkembangan Bumi pada zaman glasial di mana massa
es menutupi sebagian bumi, wilayah Indonesia bagian barat pernah menjadi satu
daratan dengan Asia dan wilayah timur bersatu dengan Australia. Kemudian,
terjadi pencairan massa es secara besar-besaran pada akhir zaman glasial
sehingga terjadi kenaikan muka air laut hingga 200 meter. Akibatnya, beberapa
daerah bagian muka bumi yang rendah dan cekung tertutup oleh air laut
termasuk wilayah-wilayah Paparan Sunda dan Sahul, yang sekarang dikenal
dengan Laut Natuna, Laut Jawa, Selat Malaka, dan Laut Arafuru.
Kondisi ini tentunya membawa pengaruh terhadap karakter flora dan
fauna pada wilayah nusantara. Secara umum tipe flora dan fauna Indonesia
bagian barat memiliki corak yang hampir sama dengan yang terdapat di Benua
Asia, sedangkan di bagian timur bercorak Australia. Adapun kondisi flora dan
fauna wilayah Kepulauan Indonesia bagian tengah merupakan peralihan antara
kedua wilayah tersebut sering disebut sebagai flora dan fauna asli Indonesia atau
dikenal dengan istilah flora dan fauna Kepulauan Wallacea. Batas antara
wilayah flora dan fauna Indonesia bagian barat dan tengah adalah Garis
Wallace, sedangkan antara bagian tengah dan timur adalah Garis Weber.
a. Persebaran Flora Indonesia
Secara umum persebaran flora Indonesia terdiri atas tiga kawasan utama,
yaitu flora subregion Indonesia-Malaysia di bagian barat, Kepulauan Wallacea
(Sulawesi, Nusa Tenggara, Timor, dan Maluku) di bagian tengah, dan subregion
Australia di bagian timur. Jika diperinci, ketiga kawasan tumbuhan tersebut
dapat terbagi menjadi empat wilayah, yaitu flora Sumatra-Kalimantan, flora
Jawa-Bali,
flora Kepulauan Wallacea, dan flora Papua. Jenis-jenis vegetasi yang tersebar di
keempat kawasan tersebut terdiri atas vegetasi hutan hujan tropis, hutan musim,
hutan pegunungan, sabana tropik, stepa tropik, dan hutan bakau (mangrove).
1) Flora Sumatra-Kalimantan
Sebagian besar wilayah Sumatra dan Kalimantan merupakan iklim hujan
tropis (tropis basah) atau tipe Af menurut sistem klasifi kasi Iklim Koppen,
dengan tingkat kelembapan udara dan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun.
Selain itu rata-rata suhu udara tahunan senantiasa tinggi. Pada bulan
terdinginpun suhu udara masih di atas 18°C. Oleh karena itu, tipe vegetasi yang
mendominasi wilayah ini, yaitu hutan hujan tropis dengan variasi spesies
(heterogen) dan tingkat kerapatan yang tinggi. Beberapa jenis flora khas daerah
Sumatra-Kalimantan ialah kayu meranti (Dipterocarpus), damar, dan berbagai
jenis anggrek. Hutan tropis memiliki tingkat kelembapan sangat tinggi, banyak
dijumpai jenis lumut, cendawan (jamur), dan paku-pakuan.
Di wilayah pantai Kalimantan dan Sumatra umumnya ditemui areal
hutan bakau (mangrove) yang merupakan vegetasi khas pantai tropis. Hutan
mangrove perlu dijaga kelestariannya karena sangat bermanfaat dalam menjaga
kelestarian lingkungan pantai dari pengaruh erosi air laut (abrasi), serta menjaga
kestabilan ekosistem pantai.
2) Flora Jawa-Bali
Kondisi iklim kawasan Pulau Jawa dan Bali bervariasi. Curah hujan dan
tingkat kelembapan udara di wilayah ini semakin berkurang ke arah timur.
Wilayah Jawa Barat didominasi oleh tipe iklim hutan hujan tropis (Af) dan
iklim muson tropis (Am). Semakin ke timur, tipe iklim bergeser ke iklim yang
lebih rendah curah hujannya. Akhirnya kita temui beberapa wilayah iklim
sabana tropis (Aw), terutama di Pulau Bali.
Vegetasi alam Pulau Jawa dan Bali dapat diklasifikasikan menjadi hutan
hujan tropis, hutan muson tropis, sabana tropis, dan hutan bakau. Sebagian besar
kawasan hutan hujan tropis tersebar di Jawa Barat, seperti di Ujung Kulon,
Cibodas (Bogor), dan Pananjung (Pangandaran). Adapun wilayah utara Pulau
Jawa yang memanjang mulai dari Jawa Barat bagian utara, Jawa Tengah sampai
Jawa Timur,
merupakan kawasan hutan muson tropis (hutan decidous) yang meranggas atau
menggugurkan daunnya pada periode musim kemarau panjang. Jenis flora khas
hutan muson tropis antara lain pohon Jati.
Jenis vegetasi yang mendominasi wilayah Jawa Timur bagian timur dan
Pulau Bali adalah sabana tropis. Wilayah-wilayah pegunungan yang cukup
tinggi di Jawa maupun Bali ditutupi jenis vegetasi pegunungan, seperti pinus
mercussi dan cemara. Sebagai-mana wilayah-wilayah pantai tropis lainnya,
daerah pantai Pulau Jawa dan Bali umumnya ditutupi oleh vegetasi hutan bakau.
3) Flora Kepulauan Wallacea
Wilayah Kepulauan Wallacea meliputi pulau-pulau di wilayah Indonesia
bagian tengah yang terdiri atas Pulau Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara,
Pulau Timor, dan Kepulauan Maluku. Wilayah-wilayah Indonesia bagian tengah
memiliki sifat iklim yang lebih kering dengan kelembapan udara lebih rendah
dibandingkan dengan wilayah Indonesia lainnya, kecuali di sekitar Kepulauan
Maluku.
Corak vegetasi yang tersebar di Kepulauan Wallacea antara lain:
a) vegetasi sabana dan stepa tropis di wilayah Nusa Tenggara;
b) vegetasi hutan pegunungan di sekitar Sulawesi; dan
c) vegetasi hutan campuran di wilayah Maluku dengan jenis rempah-rempah,
seperti pala, cengkeh, kayu manis, kenari, kayu ebony, dan lontar.
4) Flora Papua
Sebagian besar kondisi iklim di wilayah Papua didominasi oleh tipe
iklim hujan tropis (Af) sehingga jenis vegetasi yang menutupi kawasan ini
adalah hutan hujan tropis. Berbeda dengan wilayah Indonesia bagian barat,
vegetasi Papua memiliki corak Australia Utara, dengan flora khas, yaitu
eucaliptus. Wilayah pegunungan Jayawijaya ditumbuhi oleh jenis vegetasi
pegunungan tinggi, sedangkan di daerah pantai banyak dijumpai vegetasi bakau.
b. Persebaran Fauna Indonesia
Pola persebaran fauna Indonesia tidak jauh berbeda dengan pola
persebaran tumbuhan, yaitu terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu bagian barat,
tengah, dan timur. Sebagian besar corak fauna bagian barat sama dengan corak
fauna oriental,
sedangkan bagian Timur (Maluku dan Papua) sama dengan corak fauna
Australia. Jenis fauna Indonesia bagian tengah sering disebut sebagai fauna khas
Indonesia (fauna Kepulauan Wallacea).
1) Wilayah Fauna Indonesia Barat
Wilayah fauna Indonesia bagian barat meliputi Pulau Sumatra, Jawa,
Bali, Kalimantan, serta pulau-pulau kecil di sekitarnya. Region fauna ini sering
disebut wilayah fauna Tanah Sunda. Fauna wilayah Indonesia bagian barat
antara lain sebagai berikut.
a) Mamalia, terdiri atas gajah, badak bercula satu, tapir, rusa, banteng, kerbau,
monyet, orang utan, macan, tikus, bajing, kijang, kelelawar, landak, babi
hutan, kancil, dan kukang.
b) Reptil, terdiri atas buaya, kura-kura, kadal, ular, tokek, biawak, dan bunglon.
c) Burung, terdiri atas burung hantu, elang, jalak, merak, kutilang, serta
berbagai macam unggas.
d) Berbagai macam serangga.
e) Berbagai macam ikan air tawar dan pesut (lumba-lumba Sungai Mahakam).
2) Wilayah Fauna Indonesia Tengah
Wilayah ini disebut fauna Kepulauan Wallacea. Region ini terdiri atas
Pulau Sulawesi dan kepulauan di sekitarnya. Kepulauan Nusa Tenggara, Pulau
Timor, dan Kepulauan Maluku. Di kawasan ini terdapat hewan khas yang hanya
dapat dijumpai di Indonesia, yaitu anoa, babi rusa, dan biawak komodo.
Fauna Kepulauan Wallacea, antara lain sebagai berikut.
a) Mamalia, terdiri atas anoa, babi rusa, ikan duyung, kuskus, monyet hitam,
tarsius, monyet seba, kuda, dan sapi.
b) Reptil, terdiri atas biawak, komodo, kura-kura, buaya, ular, dan soa soa.
c) Amfibi, terdiri atas katak pohon, katak terbang, dan katak air.
d) Burung, terdiri atas burung dewata, maleo, mandar, raja udang, burung
pemakan lebah, rangkong, kakatua, nuri, merpati, dan angsa.
3) Wilayah Fauna Indonesia Timur
Wilayah fauna Indonesia Timur atau fauna Tanah Sahul meliputi Papua
dan pulau-pulau di sekitarnya. Jenis-jenis hewan yang terdapat di wilayah tanah
sahul antara lain sebagai berikut.
a) Mamalia, terdiri atas kanguru, wallaby, nokdiak (landak Papua), opposum
layang (pemanjat berkantung), kuskus (kanguru pohon), dan kelelawar.
b) Reptil, terdiri atas buaya, biawak, ular, kadal, dan kura-kura.
c) Amfibi, terdiri atas katak pohon, katak terbang, dan katak air.
d) Burung, terdiri atas nuri, raja udang, cendrawasih, kasuari, dan namundur.
e) Berbagai jenis ikan.
f) Berbagai macam serangga (insecta).
Adanya keanekaragaman jenis fauna di Indonesia menjadi kekayaan
alam yang harus dilindungi dan dilestarikan keberadaaanya. Terkadang ulah
tangan manusia dalam memburu fauna Indonesia menimbulkan kepunahan bagi
satwa tersebut. Diperlukan perlindungan dari pihak yang terkait dalam
mewujudkan upaya konservasi dan perlindungan bagi jenis satwa khas
Indonesia.
Adanya upaya konservasi dan perlindungan terhadap jenis flora dan
fauna yang langka pada umumnya dilakukan kawasan konservasi. Kawasan
tersebut dapat berupa cagar alam, suaka margasatwa, hutan lindung, Taman
Hutan Raya, Hutan Lindung, dan Taman Nasional. Bentuk perlindungan
tersebut dapat menjadi upaya bagi penangkaran dan pelestarian flora dan fauna
Indonesia. Kekayaan flora dan fauna menjadi potensi wilayah pada masa yang
akan datang.

E. RANGKUMAN
Letak geologis Indonesia yang menyebabkan banyaknya gunung api
aktif, membuat Indonesia kaya akan berbagai macam flora dan fauna dan juga
barang tambang. Keadaan bentang alam atau morfologi suatu daerah
menyebabkan suatu daerah ditinggali oleh tumbuhan atau hewan tertentu, di
daerah lain dihuni oeh tumbuhan dan hewan tertentu pula.