Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN

PRAKTIKUM PENGAMATAN CACING

PADA FESES TERNAK, PENGURAIAN

FESES KELINCI DENGAN UREA, DAN

PENGAMATAN INSTALASI BIOGAS

MATA KULIAH PENGOLAHAN

LIMBAH TERNAK

Dosen Pengampu : Ir. Sumaryanto, MM.

Oleh : Kelompok I

i
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN YOGYAKARTA –

MAGELANG JURUSAN PETERNAKAN

2020

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur mari kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah
memberikan nikmat serta hidayah – Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan yang berjudul “ Praktikum pengamatan Cacing
Pada Feses Ternak, Penguraian Feses Kelinci Dengan Urea, Dan
Pengamatan Instalasi Biogas”. Kemudian shalawat serta salam mari kita
curah limpahkan kepada nabi besar kita Muhammad SAW yang telah
memberikan pedoman hidup yakni Al-Qur’an dan sunnah untuk
keselamatan umat dunia.

Laporan ini merupakan salah satu tugas pada mata kuliah


pengelolaan Limbah Peternakan di program studi penyuluhan Peternakan
dan Kesejahteraan Hewan di PolIteknik Pembangunan Pertanian
Yogyakkarta – Magelang. Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih
yang sebesar – besarnya kepada dosen pembimbing mata kuliah
pengolahan limbah peternakan, dan kepada segenap pihak yang telah
memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan laporan ini.

Penulis menyadari bahwa masih sangat banyak terdapat


kekurangan – kekurangan dalam penulisan laporan ini, oleh karena itu
penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para
pembaca demi kesempurnaan laporan ini.

Magelang, Januari 2020

ii
Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................. i

KATA PENGANTAR.......................................................................... ii

DAFTAR ISI....................................................................................... iii

I. PENDAHULUAN......................................................................... 1
A. Latar Belakang....................................................................... 1
B. Tujuan ................................................................................... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................. 3
A. Jenis – Jenis Cacing.............................................................. 3
B. Pemanfaatan Feses Kelinci................................................... 4
C. Biogas ................................................................................... 6
III. METODEOLOGI......................................................................... 8
A. Praktikum Pengamatan Cacing Dalam Feses Ternak........... 8
B. Penguraian Feses kelinci Dengan Urea................................. 9
C. Pengamatan Biogas............................................................... 10
IV HASIL DAN PEMBAHASAN......................................................... 12
A. Praktikum Pengamatan Cacing Dalam Feses Ternak........... 12
B. Penguraian Feses Kelinci Dengan Urea................................ 12
C. Pengamatan Biogas............................................................... 13
IV. PENUTUP................................................................................... 16
A. Kesimpulan............................................................................ 16
B. Saran..................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................... 17

iii
LAMPIRAN........................................................................................ 18

iv
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Limbah secara definisi merupakan bahan buangan yang dihasilkan


dari suatu proses atau aktifitas yang sudah tidak digunakan lagi pada
proses tertentu yang memiliki nilai ekonomis yang relatif kecil atau bahkan
sulit untuk dimanfaatkan dan cenderung merugikan. Pengelolaan adalah
suatu proses pengendalian suatu hal. Pengelolaan adalah mengusahakan
sesuatu agar mengahsilkan hasil yang lebih. Peternakan adalah suatu
kegiatan mengembangbiakan dan membudidayakan hewan ternak untuk
mendapatkan manfaat dan hasil dari hewan ternak tersebut.

Dalam usaha peternakan pasti memiliki hasil buangan dari proses


usaha tersebut. Seperti halnya feses dan yang lainnya yang mana bila
limbah tersebut tidak diolah atau dimanfaatkan lebih lanjut maka akan
merugikan baik bagi lingkungan maupun ekonomis. Selama ini banyak
keluhan masyarakat akan dampak buruk dari kegiatan usaha peternakan
karena sebagian besar peternak mengabaikan penanganan limbah dari
usahanya, bahkan ada yang membuang limbah usahanya kesungai,
sehingga terjadi pencemaran lingkungan.

Limbah peternakan yang dihasilkan seperti feses, urine, sisa pakan,


serta air dari pembersihan ternak dan kandang menimbulkan pencemaran
yang memicu protes warga sekitar lingkungan kandang. Berkenaan
dengan hal tersebut, maka upaya mengatasi limbah ternak yang selama
ini dianggap mengganggu karena menjadi sumber pencemaran
lingkungan perlu ditangani dengan cara yang tepat sehingga dapat
memberi manfaat lain berupa keuntungan ekonomis dari penanganan
tersebut. Penanganan limbah peternakan ini diperlukan bukan saja karena
tuntutan akan lingkungan yang nyaman tetapi juga karena pengembangan
peternakan mutlak memperhatikan kualitas lingkungan, sehingga
keberadaannya tidak menjadi masalah bagi masyarakat.

1
B. Tujuan

Tujuan dari dilaksanakan praktikum adalah sebagai berikut

1. Mengetahui berbagai pemanfaatan limbah dari kegiatan usaha


peternakan.
2. Mahasiswa mampu mengetahui fungsi Biogas.
3. Mahasiswa mampu mengidentifikasi kuantitas biogas yang terbentuk
dari volume/berat kotoran sapi pada jumlah tertentu.

2
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. JENIS – JENIS CACING

Menurut morfologinya cacing parasitik pada sapi dibagi menjadi tiga


kelas, yaitu trematoda (cacing hati), cestoda (cacing pita), dan nematoda
(cacing gilig) yang perkembangan dan siklus hidupnya berbeda (Jumriah,
2011).

1. Kelas Trematoda

Kelas trematoda termasuk dalam filum plathyhelminthes dengan ciri-


ciri:

- tubuh tidak bersegmen


- umumnya hermaprodit
- reproduksi ovipar (berbiak dalam larva)
- infeksi terutama pada stadium larva yang masuk lewat mulut sampai
usus
- Semua organ dikelilingi oleh sel-sel parenkim
- badan tak berongga
- mempunyai mulut penghisap atau sucker.

Spesies cacing dari kelas trematoda yang menyerang ternak adalah


Paramphistomum sp. (cacing parang), Schistosoma sp. yang menyerang
sistem peredaran darah, Fasciola hepatica (cacing hati), Fasciola
gigantica yang berwarna merah muda kekuningkuningan sampai abu-abu
kehijau-hijauan, (Nezar, 2014).

2. Kelas Cestoda

Sapi dapat bertindak sebagai inang antara maupun inang definitif


cestoda. Taksonomi dan klasifikasi cacing cestoda yang banyak
ditemukan pada sapi adalah Kingdom Animalia, Filum Platyhelminthes,
Kelas Eucestoda, dan Ordo Anoplocephalidea dengan Famili

3
Anoplocephalidae, Genus Moniezia, dan spesies Moniezia expansa serta
Moniezia benedeni.

Tubuh pada cacing dewasa terdiri dari kepala (skoleks), leher, dan
rantai segmen (strobila). Skoleks berbentuk globular, dilengkapi dengan
empat buah batil hisap (sucker) atau rostellum yang kadang-kadang
dilengkapi dengan baris kait.

3. Kelas Nematoda

Secara umum nematoda berbentuk panjang, silindris, dan kedua


bagian ujungnya meruncing. Tubuhnya tidak bersegmen dan diselaputi
oleh kutikula yang biasanya relatif tebal. Lapisan kutikula ini juga terdapat
pada rongga mulut, esofagus, rektum, dan bagian distal saluran genital.

Nematodiasis adalah penyakit akibat infeksi cacing nematoda dalam


tubuh. Cacing nematoda atau disebut juga cacing gilig termasuk kelompok
cacing yang hidup di dalam saluran pencernaan yang akan mengisap sari
makanan, darah, cairan tubuh atau memakan jaringan tubuh. Dalam
jumlah banyak dapat menyebabkan sumbatan usus atau menyebabkan
terjadinya berbagai macam reaksi tubuh akibat dari toksin yang dihasilkan
oleh cacing ini. Infeksi dari cacing ini menyebabkan penurunan produksi
ternak berupa turunnya bobot badan, terhambatnya pertumbuhan,
turunnya produksi susu pada ternak yang menyusui dan turunnya daya
tahan tubuh terhadap serangan penyakit.

B. PEMANFAATAN FESES KELINCI

Feses mengandung bahan organik yang berpotensi menimbulkan


cemaran terhadap lingkungan. Upaya menghindari dampak negatif yang
ditimbulkan oleh feses tersebut dilakukan pengolahan, salah satu cara
pengolahan feses yaitu dengan metode pengomposan. Kelinci
(Oryctolaguscuniculus) merupakan salah satu ternak pseudoruminansia
yang cukup baik dalam produktivitasnya. Umumnya ternak kelinci dalam

4
satu tahun mampu melahirkan lima kali (dapat mencapai 10--11 kali)
dengan jumlah anak perkelahiran (litter size) 5--6 ekor, memiliki bobot
hidup mencapai 2,0 --2,2 kg pada umur empat bulan (untuk kelinci
pedaging) atau 2,5--3,0 kg pada umur enam bulan (untuk kelinci penghasil
kulit-bulu) dan 4--6 kg untuk jenis kelinci besar (Murtisari, 2010).

Satu ekor kelinci yang berusia dua bulan atau yang beratnya sudah
mencapai 1 kg akan menghasilkan 28,0 g kotoran lunak (urine dan feses)
per hari dan mengandung 3 g protein serta 0,35 g nitrogen. Di dalam
kotoran lunak kelinci yang berjumlah sedikit tersebut terdapat nilai unsur
hara Nitrogen, Posfor dan Kalium yang lebih baik dibandingkan dengan
kotoran ternak lainnya yaitu 2,72 % Nitrogen, 1,10 % Posfor dan 0,50 %

Pupuk Urea adalah pupuk kimia mengandung Nitrogen (N) berkadar


tinggi. Unsur Nitrogen merupakan zat hara yang sangat diperlukan
tanaman. Pupuk urea berbentuk butir-butir kristal berwarna putih. Pupuk
urea dengan rumus kimia NH2 CONH2 merupakan pupu yang mudah
larut dalam air dan sifatnya sangat mudah menghisap air (higroskopis),
karena itu sebaiknya disimpan di tempat yang kering dan tertutup rapat.
Pupuk urea mengandung unsur hara N sebesar 46% dengan pengertian
setiap 100kg mengandung 46 Kg Nitrogen, Moisture 0,5%, Kadar Biuret
1%, ukuran 1-3,35MM 90% Min serta berbentuk Prill. Ciri-ciri pupuk Urea:

- Mengandung Nitrogen (N) berkadar tinggi.


- Berbentuk butir-butir Kristal berwarna putih.
- Memiliki rumus kimia NH2 CONH2.
- Mudah larut dalam air dan sifatnya sangat mudah menghisap air
(higroskopis).
- Mengandung unsur hara N sebesar 46%.

Feses yang ditambahkan pupuk urea bertujuan untuk melepaskan


kandungan gas amoniak yang terdapat didalam feses dan mempercepat
penguraian feses menjadi pupuk sehingga feses lebih mudah dan aman

5
untuk digunakan untuk memupuk tanaman (Kharim,2020). Pelepasan
ikatan amoniak yang terdapat didalam feses akan lebih cepat jiga dibantu
dengan penambahan senyawa nitrogen serta dapat mempercepat
pelepasan ikatan sehingga mempercepat proses pelapukan.
C. BIOGAS

1. Pengertian Biogas

Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan-

bahan organik oleh mikroorganisme pada kondisi langka oksigen

(anaerob). Komponen biogas antara lain sebagai berikut : ± 60 % CH4

(metana), ± 38 % CO2 (karbon dioksida) dan ± 2 % N2, O2, H2, & H2S.

Biogas dapat dibakar seperti elpiji, dalam skala besar biogas dapat

digunakan sebagai pembangkit energi listrik, sehingga dapat dijadikan

sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan terbarukan. Sumber

energi Biogas yang utama yaitu kotoran ternak Sapi, Kerbau, Babi dan

Kuda. Tabel Komposisi Biogas

Jenis gas Kotoran Kotoran Sapi +


biogas Sapi Sisa Pertanian
Metan 65,7 54-70
(CH4)
Karbon dioksida 27,0 45-57
(CO2)
Nitrogen (N2) 2,3 0,5-3,0

Karbon monoksida 0 0,1


(CO)
Oksigen 0,1 6,0
(O2)
Propena 0,7 -
(C3H8)
Hidrogen sulfida - Sedikit
(H2S)

6
Nilai kalor 6513 4800-6700
(kkal/m2)
2. Manfaat Biogas

Manfaat energi biogas adalah sebagai pengganti bahan bakar


khususnya minyak tanah dan dipergunakan untuk memasak kemudian
sebagai bahan pengganti bahan bakar minyak (bensin, solar). Dalam skala
besar, biogas dapat digunakan sebagai pembangkit energi listrik. Di
samping itu, dari proses produksi biogas akan dihasilkan sisa kotoran
ternak yang dapat langsung dipergunakan sebagai pupuk organik pada
tanaman / budidaya pertanian.

7
III. METODEOLOGI

A. PRAKTIKUM PENGAMATAN CACING DALAM FESES TERNAK


1. Waktu Dan Tempat
Kegiatan praktikum penanganan dan pengolahan limbah ternak
dilaksanakan pada :
- Penggempuran feses kelinci dilaksanakan pada hari Selasa 17
Desember 2019 di Kandang domba Politeknik Pembangunan
Pertanian Yogyakarta – Magelang.
- Pengamatan cacing pada feses kambing dan sapi dilaksanakan
pada hari Senin 13 Januari 2020 di Laboratorium kesehatan hewan
Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta – Magelang.

2.Alat Dan Bahan

 Penggempuran feses
1. Pot
2. Feses kelinci
3. Plastik
4. Urea
5. Air
6. Lakban
 Pengamatan cacing pada feses

1. Feses kambing
2. Feses sapi
3. Mikroskop
4. Baki
5. Pipet
6. Akuades
7. Gelas ukur

8
8. Mortar dan pestle
9. Objec glass
10. Cover glass
2. Langkah Kerja
- Penggempuran feses
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Mengambil feses kelinci
- Pengamatan cacing pada feses
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Mengeringkan feses kambing dan sapi di atas baki
3. Menghancurkan sample dengan menambahkan akuades agar
sampel lebih mudah di hancurkan
4. Meletakan sampel diatas objek glass menggunakan pipet
kemudian menutup objek menggunakan cover glass
5. Melakukan pengamatan menggunakan mikroskop pada sampe
yang telah di hancurkan
B. PENGURAIAN FESES KELINCI DENGAN UREA
1. Waktu Dan Tempat

Kegiatan praktikum ini dilakukan pada hari Rabu tanggal 18


Desember 2019 bertempat di Kelas terbuka kampus POLBANGTAN
Yogyakarta-Magelang Jurusan Peternakan.

2. Alat Dan Bahan

Alat
- Ember
- Sekop
- Gayung
- Plastik
- Labban
- Botol bekas
Bahan
- Feses Kelinci
- Urea
- Air

9
3.Langkah Kerja

1. menyiapkan alat dan bahan


2. memasukkan feses kedalam 3 ember untuk dijadikan sampel. Sampel
yang digunakan berupa feses kering, basah dan setengah basah
3. memcampur urea dan air untuk dicampurkan kedalam sampel feses
4. mencampurkan feses dengan campuran air urea
5. menutup ember sampel dengan plastik kemudian dilakban dengan
rapat
6. menyimpan sampel ditempat yang aman.

C. PENGAMATAN BIOGAS
1. Waktu dan tempat
Praktikum pengamatan instalasi biogas dilaksanakan pada
hari selasa 21 januari 2020 pada pukul 09.30-selesai, bertempat di
kandang ternak ruminansia POLBANGTAN Magelang.

2. Alat dan Bahan

 Alat:

 Buku catatan

 Alat tulis

 Kertas HVS

 Penggaris

 Meteran

 Bahan

 Feses sapi/kambing

 Air

3. Langkah Kerja

10
1. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.

2. Siapkan alat tulis untuk mencatat data yang berhubungan dengan

biogas.

3. Amati biogas yang akan di analisis

4. Catat data penting mengenai biogas, meliputi : Kapasitas

tampungan, Nama-nama bagian biogas, fungsi, manfaat dll.

5. Siapkan Kertas HVS yang sudah ada

6. Gambar Instalasi Biogas pada kertas HVS beserta kasih keterangan

nama bagiannya.

7. Melakukan uji coba proses terbentuknya Gas pada Biogas.

8. Campurkan fases dengan air sampai menjadi bentuk adonan.

9. Masukan fases yang sudah menjadi adonan ke dalam Digester.

10. Lalu fases akan menuju Tabung penampungan

11. Disitulah akan mengalami proses fermentasi yang nantinya akan

terbentuk gas metan.

12. Gas siap disalurkan ke kompor yang tersedia.

11
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. PRAKTIKUM PENGAMATAN CACING DALAM FESES TERNAK

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan yaitu


mengamati feses kambing dan sapi dapat diketahui bahwa feses
yang diamati tidak terlihat adanya cacing maupun telur cacing yang
terkandung didalamnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor,
diantaranya :

 Ternak sehat
Faktor pertama yaitu ternak dalam kondisi sehat, sehingga didalam
feses tidak terdapat cacing atau telur cacing
 Kesalahan dalam pengamatan
Kesalahan dalam pengamatan terjadi karena feses yang diamati sudah
dalam kondisi dikeringkan sehingga menyebabkan cacing dan telur
cacing yang terkandung dalam feses sudah mati akibat panas dari
proses pengeringan

Pengujian feses untuk mengamati cacing dan telur cacing


yang terkandung didalamnya dapat dilakukan pada feses yang
dalam kondisi basah atau baru dikeluarkan oleh ternak. Feses yang
basah akan mudah teramati dan dapat memberikan hasil yang
maksimal pada pengamatan ini.

B. PENGURAIAN FESES KELINCI DENGAN UREA


1. Hasil

Sempel Feses Perubahan secara fisik Perubahan secara biologi


Kering Tidak ada Tidak ada
Setengah kering Mudah hancur saat Sedikit belatung
digenggam, tekstur
kering
Basah Mudah hancur saat Banyak belatung

12
digenggam, tekstur
basah

2. Pembahasan

Berdasarkan hasil praktikum dengan perlakuan fermentasi


dimana sebelum dilakukan fermentasi, feses sudah dicampurkan
dengan air dan urea. Sempel feses setengah kering tidak terjadi
perubahan secara fisik dan biologi. Untuk sempel feses setengah
kering dan feses basah mengalami perubahan secara fisik dan
biologi hanya saja perbedaannya sempel setengah kering memiliki
tekstur yang lebih kering dan sedikit belatung dari pada sempel
feses basah. Dapat disimpulkan bahwa sempel feses setengah
basah memiliki perubahan yang yang signifikan sehingga
menunjukkan sempel feses tersebut matang dan baik untuk
dijadikan pupuk. Hal tersebut sesuai dengan Anonim 2018 yang
menyatakan bahwa feses yang matang memiliki ciri-ciri wujud telah
berubah dari aslinya, suhu yang dihasilkan berubah menjadi dingin,
bau yang dihasilkan telah berkurang dan tidak menyengat, dan
memiliki tekstur kering dan mudah remuk jika digengam.

C. PENGAMATAN BIOGAS
Biogas yang ada di Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-

Magelang Jurusan Peternakan Magelang memiliki kapasitas yang mampu

menampung kotoran sebanyak 4 m³, dan untuk kubah penampung gas

hanya mampu menampung 1 m³ saja. Jadi total kapasitas

penampungannya yaitu 5 m³.

Untuk bagian-bagian instalasi biogas yang ada di POLBANGTAN

magelang meliputi, pencerna (digester), lubang pemasukan bahan baku

dan pengeluaran lumpur sisa hasil pencernaan (slurry), dan pipa

13
penyaluran biogas yang terbentuk. Di dalam digester ini terdapat bakteri

methan yang mengolah limbah bio atau biomassa dan menghasilkan

biogas. Dengan pipa yang didesain sedemikian rupa, gas tersebut dapat

dialirkan ke kompor yang terletak di dapur. Gas tersebut dapat digunakan

untuk keperluan memasak dan lain-lain .

Pada prinsipnya, teknologi biogas adalah teknologi yang

memanfaatkan proses fermentasi (pembusukan) dari sampah organik

secara anaerobik (tanpa udara) oleh bakteri methan sehingga dihasilkan

gas methan. Gas methan adalah gas yang mengandung satu atom C dan

4 atom H yang memiliki sifat mudah terbakar. Gas methan yang dihasilkan

kemudian dapat dibakar sehingga dihasilkan energi panas. Bahan organik

yang bisa digunakan sebagai bahan baku industri ini adalah sampah

organik, limbah yang sebagian besar terdiri dari kotoran, dan potongan-

potongan kecil sisa-sisa tanaman, seperti jerami dan sebagainya, serta air

yang cukup banyak.

Prinsip pembangkit biogas, yaitu menciptakan alat yang kedap udara

dengan bagian-bagian pokok terdiri atas pencerna (digester), lubang

pemasukan bahan baku dan pengeluaran lumpur sisa hasil pencernaan

(slurry), dan pipa penyaluran biogas yang terbentuk. Di dalam digester ini

terdapat bakteri methan yang mengolah limbah bio atau biomassa dan

menghasilkan biogas. Dengan pipa yang didesain sedemikian rupa, gas

tersebut dapat dialirkan ke kompor yang terletak di dapur. Gas tersebut

dapat digunakan untuk keperluan memasak dan lain-lain . Energi yang

14
terkandung dalam biogas tergantung dari konsentrasi metana (CH4).

Semakin tinggi kandungan metana maka semakin besar kandungan

energi (nilai kalor) pada biogas, dan sebaliknya semakin kecil kandungan

metana semakin kecil nilai kalor.

Kualitas biogas dapat ditingkatkan dengan memperlakukan beberapa

parameter yaitu : Menghilangkan hidrogen sulphur, kandungan air dan

karbon dioksida (CO2). Hidrogen sulphur mengandung racun dan zat yang

menyebabkan korosi, bila biogas mengandung senyawa ini maka akan

menyebabkan gas yang berbahaya sehingga konsentrasi yang di ijinkan

maksimal 5 ppm. Bila gas dibakar maka hidrogen sulphur akan lebih

berbahaya karena akan membentuk senyawa baru bersama-sama

oksigen, yaitu sulphur dioksida /sulphur trioksida (SO2 / SO3). senyawa ini

lebih beracun. Pada saat yang sama akan membentuk Sulphur acid

(H2SO3) suatu senyawa yang lebih korosif. Parameter yang kedua adalah

menghilangkan kandungan karbon dioksida yang memiliki tujuan untuk

meningkatkan kualitas, sehingga gas dapat digunakan untuk bahan bakar

kendaraan. Kandungan air dalam biogas akan menurunkan titik penyalaan

biogas serta dapat menimbukan korosif.

15
V. PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang sudah dilakukan bisa disimpulkan bahwa
penambahan urea dalam feses kelinci tidak menunjukkan hasil yang
signifikan. Atau bisa dikatakan bahwa tidak ada pengaruh dari feses yang
dicampur dengan urea. Dan dari praktikum pengamatan biogas dapat
disimpulkan bahwa kegiatan praktik pengamatan instalasi bertujuan agar
mahasiswa dapat memahami bagian-bagian instalasi biogas beserta
fungsinya, sehingga diharapkan mahasiswa paham betul proses kerja
Biogas yang berawal dari limbah peternakan berupa fases sapi sampai
menjadi Gas metan yang siap pakai.

B. SARAN
Dalam kegiatan praktik pengamatan cacing yang terdapat didalam

feses ternak, pencampuran urea dengan feses ternak kelinci dan

pengamatan instalasi Biogas ini sebaiknya dilakukan dengan benar dan

serius, sehingga mahasiswa benar-benar memahami apa yang sudah

menjadi tugasnya, sehingga tujuan pembelajaran dapat terwujud.

16
DAFTAR PUSTAKA

Jumriah Syam. Ilmu Penyakit dan Kesehatan Ternak. Makassar: Alauddin


Press, 2011.
Nezar Muhammad Rofiq. “Jenis Cacing Pada Feses Sapi di TPA
Jatibarang dan KTT Sidomulyo Desa Nongkosawit Semarang”.
Skripsi. Semarang: Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Negeri Semarang, 2014.
Noble Elmer Ray. Noble Athur Glenn. Schad Gerhard A. Austin JJ.
Parasitology: The Biology of Animal Parasites. Philadelpia: Lea
and Febiger, 1989.
Murtisari, T. 2010. Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan untuk
menunjang agribisnis kelinci. lokakarya nasional potensi dan
peluang pengembangan usaha kelinci. BalaiPenelitian Ternak.
Ciawi, Bogor
Jaya. 2005. Tentang Pupuk Urea. https://faedahjaya.com/distributor-
pupuk/tentang-pupuk-urea

17
LAMPIRAN

Feses Kelinci Kering

Feses Kelinci Basah

18
Pencampuran Feses Dengan Urea

Feses Ternak Sapi Dan Domba Yang Telah Di keringkan

19