Anda di halaman 1dari 29

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pati Sagu
Sagu (Metroxylon Sagu Rottb) merupakan tanaman asli asia tenggara.
penyebarannya meliputi melanesia barat sampai india timur dan dari
Mindanao Utara sampai Pulau Jawa dan Nusa Tenggara bagian selatan. Sekitar
50% tanaman sagu dunia atau 1.128 juta ha tumbuh di Indonesia (Flach, 1983
dalam Limbongan 2007), dan 90% dari jumlah tersebut atau 1.015 juta ha
berkembang di Provinsi Papua dan Maluku (Lakuy, 2003 dalam Limbongan
2007). Produk ini digunakan untuk pengolahan makanan, pakan, kosmetika,
industri kimia dan pengolahan kayu (Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan
Industri Sumatera Barat, 2001). Salah satu hasil perkebunan yang banyak terdapat
di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) adalah sagu. Batang sagu merupakan
gudang penyimpanan pati atau karbohidrat, yang lingkup pemanfaatannya dalam
industri sangat luas, seperti industri pangan, pakan, alkohol, dan bermacam-
macam industri kimia lainnya (Haryanto dan Pangloli, 1992).
Komposisi komponen yang terkandung didalam pati sagu secara
mikroskopis struktur batang sagu dari arah luar terdiri dari lapisan sisa-sisa
pelepah daun, lapisan kulit luar yang tipis dan berwarna kemerah-merahan,
lapisan kulit dalam yang keras dan padat berwarna coklat kehitam-hitaman,
kemudian lapisan serat dan akhirnya empelur yang mengandung pati dan serat-
serat (Haryanto dan Pangloli, 1992). Sifat atau kualitas pati sagu dipengaruhi oleh
faktor genetik serta proses ekstraksinya, seperti peralatan dan air yang digunakan,
cara penyimpanan potongan batang sagu dan penyaringan (Flach, 1983 dalam
Limbongan 2007). Pati sagu umumnya berwarna putih. Menurut Purwani dkk
(2006), derajat putih pati sagu bervariasi dan dapat berubah selama penyimpanan.
Menurut Knight (1986) suhu gelatinasi pati sagu sekitar 60-72 ⁰C, tetapi
menurut Wirakartakusumah (1986) sekitar 72-90 ⁰C (Hasibuan, 2009). Pati sagu
atau yang biasa disebut tepung sagu oleh masyarakat, selama ini hanya
digunakan

5
6

sebagai bahan makanan sumber energi dan belum diketahui manfaat lainnya.
Konsentrasi pati terhadap air akan mempengaruhi kekentalan larutan pembentuk
lapisan plastik dan ketebalan dari film yang terbentuk. Semakin kental larutan pati
semakin tebal lapisan film yang terbentuk. Semakin tebal lapisan yang terbentuk
menghasilkan lebih banyak gugus hidrofilik yang sangat mudah untuk
berinteraksi dengan air. Dalam aplikasinya didalam plastik biodegradable, pati
dicampurkan dengan butiran alaminya yang dijaga tetap utuh, atau dilelehkan dan
dicampur didalam sebuah level molekular dengan polimer yang sesuai. Sehingga
penelitian ini difokuskan untuk membuat atau mencari sifat lain dari pati sagu
tersebut, selain sebagai sumber energi. Komposisi kimia pati sagu tertera pada
Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Komposisi Kimia Pati Sagu Dalam 100 g Bahan


Komponen Satuan Jumlah
Protein G 0.7
Lemak G 0.2
Karbohidrat G 84.7
Air G 14
Fosfor Mg 13
Kalsium Mg 11
Besi Mg 1.5
Kalori Kal 353
Sumber: Direktorat Gizi, Dep. Kes. RI (1979)
Pati sagu mengandung 27% amilosa dan 73% amilopektin
(Wirakartakusumah. 1986). Butiran pati dapat disertakan sebagai pengisi
biodegradable ke dalam polimer sintetik non-biodegradable. Secara prinsip pati
sesuai untuk proses sebagai termoplastik. Sifat pati tidak larut dalam air namun
bila suspensi pati dipanaskan akan terjadi gelatinasi setelah mencapai suhu
tertentu (suhu gelatinasi). Hal ini disebabkan oleh pemanasan energi kinetik
molekul-molekul air yang menjadi lebih kuat daripada daya tarik menarik antara
molekul pati dalam granula, sehingga air dapat masuk kedalam pati tersebut dan
7

pati akan membengkak. Granula pati dapat membengkak dan pecah sehingga
tidak dapat kembali pada kondisi semula. Perubahan sifat inilah yang disebut
gelatinasi. Untuk lebih meningkatkan nilai ekonomi dari batang sagu, pati sagu
dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan plastik biodegradable.

2.1.1 Pati Polimer Biodegradable Alami


Polimer biodegradable adalah bidang yang masih baru. Sejumlah polimer
biodegradable telah disintesa baru-baru ini beberapa mikroorganisme dan enzim
yang mampu untuk menguraikannya telah diidentifikasi. Biopolimer adalah
polimer yang terbentuk didalam alam selama lingkaran pertumbuhan semua
organisme, sehingga disebut dengan polimer alami. Sintesanya melibatkan
katalisa enzim, reaksi pertumbuhan rantai polimerisasi dari monomer aktif, yang
biasanya terbentuk didalam sel oleh proses metabolik kompleks. Untuk aplikasi
bahan, perhatian sering ditujukan terhadap polisakarida yaitu selulosa dan pati.
Konsentrasi pati terhadap air akan mempengaruhi kekentalan larutan pembentuk
lapisan plastik dan ketebalan dari film yang terbentuk. Semakin kental larutan pati
semakin tebal lapisan film yang terbentuk. Semakin tebal lapisan yang terbentuk
menghasilkan lebih banyak gugus hidrofilik yang sangat mudah untuk
berinteraksi dengan air. Gambar 2.1 merupakan gambar struktur beberapa
polisakarida (R Chandra and R. Rustgi, 1998).

Gambar 2.1 Gambar Struktur Beberapa Polisakarida


8

Selulosa dan pati terbentuk dari ratusan ribu unit berulang d-


glucopyranoside. Unit-unit ini dihubungkan bersama-sama oleh ikatan asetal
yang terbentuk antara karbon atom hemiasetal, C1 dari struktur siklik glukosa
dalam satu unit dan sebuah gugus hidroksil pada atom C 3 (untuk selulosa dan
amilase) atau C6 (untuk unit cabang pada amilopektin) pada unit yang
berdekatan. Jenis struktur ini terjadi karena didalam larutan aqeous. Glukosa
dapat hadir baik didalam bentuk aldehid asiklik maupun hemisetal siklik, dimana
bentuk yang terakhir adalah struktur yang dimasukkan kedalam polisakarida.
Bentuk siklik juga dapat hadir sebagai satu dari dua isomer, isomer-a dengan
gugus OH aksial pada cincin atau isomer-b dengan gugus OH equatorial. Pada
pati, cincin glucopyranoside hadir dalam bentuk a sementara didalam selulosa
unit berulang hadir dalam bentuk b. Karena perbedaan ini, enzim yang
mengkatalis reaksi hidrolisa setal selama biodegradasi dari masing-masing kedua
sakarida ini adalah berbeda dan tidak dapat dipertukarkan.

2.1.2 Pati sebagai Biofilm


Pati telah digunakan sebagai bahan baku pembuatan film dikarenakan harga
yang meningkat dan penurunan tersedianya resin pembentukan film konvensional.
Film dari pati memiliki permeabilitas yang rendah sehingga menarik digunakan
sebagai pengemas makanan. Meskipun pati adalah polimer, kestabilannya
dibawah tekanan tidak tinggi.
Dalam aplikasinya didalam plastik biodegradable, pati dicampurkan dengan
butiran alaminya yang dijaga tetap utuh, atau dilelehkan dan dicampur didalam
sebuah level molekular dengan polimer yang sesuai. Didalam kedua bentuk
tersebut, fraksi pati didalam campuran yang dapat diakses oleh enzim, dapat
didegradasi dengan amilase atau glukosidasae. Molekul pati mempunyai dua
gugus fungsional penting, gugus OH yang mudah mengalami reaksi-reaksi
pengganti dan ikatan C-O-C yang mudah mengalami rantai terpecah. Gugus
hidroksil dari glukosa mempunyai karakter nukleofilik. Dengan reaksi gugus OH
nya, modifikasi dari beberapa sifat dapat diperoleh.
9

Pati acetilated mempunyai beberapa keuntungan sebagai fiber struktural


atau polimer pembentukan film dibandingkan dengan pati alami. Asetilasi pati
adalah reaksi yang sangat dikenal dan sangat mudah disintesa. Pati asetat lebih
hidrophobic daripada pati dan telah ditunjukkan mempunyai tahanan terhadap
sifat tensile yang lebih baik didalam keadaan aqueous. Keuntungan yang lain
adalah pati asetat mempunyai solubilitas yang lebih baik dibandingkan dengan
pati dan sangat mudah untuk dicetak menjadi film dari solven yang sederhana.
Pati asetat disiapkan dengan asetilasi pati dengan piridin/asetat anhidrida dan
dicetak menjadi film dari larutan 90% asam format. Film ini dapat digunakan
untuk membran didalam bioreaktor yang kemudian dapat didegradasi dengan
penambahan enzim kedalam sistem.
Pati telah digunakan selama bertahun-tahun sebagai aditif untuk plastik
dengan berbagai macam tujuan. Pati ditambahkan sebagai filler kepada berbagai
macam sistem resin untuk membuat film yang kedap air tetapi tidak kedap uap air.
Pati sebagai filler biodegradable didalam LDPE telah dicoba. Polyetilen film yang
diisi dengan pati menjadi berpori setelah ekstraksi pati. Film yang berpori ini
dapat langsung diserbu oleh mikroorganisme dan dengan cepat jenuh dengan
oksigen, sehingga meningkatkan degradasi polimer dengan cara biologi dan
oksidasi.
Kemungkinan mengkombinasikan pati secara kimia atau produk turunan
pati dengan resin komersial dimana pati akan bertindak sebagai filler dan agen
cross linking mungkin memberikan pendekatan yang layak untuk menggabungkan
pati kedalam plastik. Dikarenakan isosianat sangatlah reaktif dengan gugus
hidroksil, isosianat dapat digunakan untuk mempersiapkan sejumlah resin reaktif
yang akan ber cross link dengan pati. Penambahan pati kepada resin isosianat
akan mengurangi biaya dan meningkatkan tahanan pelarut dan memperbaiki sifat-
sifatnya. Pati dapat dimodifikasi dengan gugus non polar, seperti asam lemak
ester, sebelum reaksi isosianat untuk meningkatkan derajat kereaktifitasnya.
Sebuah metode dikembangkan untuk memasukkan pati sebagai filler dan agen
cross link didalam poliester termodifikasi diisosianat untuk menghasilkan
elastomer. Disamping itu pati dapat ditambahkan kedalam sistem uretan untuk
10

menghasilkan foam penyerap. Metode-metode itu menunjukkan bahwa produk


pati menyebabkan foam menjadi lebih tahan api dan mudah diserang oleh
mikroorganisme tanah (R Chandra and R. Rustgi, 1998).

2.2 Komposit
Komposit adalah bahan hibrida yang terbuat dari resin polimer diperkuat
dengan serat yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan bahan-bahan
pembentuknya. Bahan komposit pada umumnya terdiri dari dua unsur, yaitu serat
(fiber) sebagai pengisi dan bahan pengikat serat yang disebut matrik. Didalam
komposit unsur utamanya serat, sedangkan bahan pengikatnya polimer yang
mudah dibentuk. Penggunaan serat sendiri yang utama adalah menentukan
karakteristik bahan komposit, seperti kekakuan, kekuatan serta sifat mekanik
lainnya. Sebagai bahan pengisi, serat digunakan untuk menahan gaya yang
bekerja pada bahan komposit, matrik berfungsi melindungi dan mengikat serat
agar dapat bekerja dengan baik terhadap gaya-gaya yang terjadi. Oleh karena itu
untuk bahan serat digunakan bahan yang kuat, kaku dan getas, sedangkan bahan
matrik dipilih bahan-bahan yang lunak dan tahan terhadap perlakuan kimia.
Kata komposit (composite) merupakan kata sifat yang berarti susunan atau
gabungan. komposit ini berasal dari kata kerja to compose yang berarti menyusun
atau menggabungkan. Jadi definisi komposit dalam lingkup ilmu material adalah
gabungan dua buah material atau lebih yang digabung pada skala makroskopis
untuk membentuk material baru yang lebih bermanfaat, ini berbeda dengan alloy
atau paduan yang digabung secara mikroskopis. Pada material komposit sifat
unsur pendukungnya masih terlihat dengan jelas, sedangkan pada alloy atau
/paduan sudah tidak kelihatan lagi unsur-unsur pendukungya. Sebagai contoh
baja, baja adalah alloy atau paduan antara Fe dengan C serta sedikit unsur lainnya.
Pada baja sudah tidak terlihat mana Fe maupun mana yang C (karbon). Tetapi ini
tidak berlaku pada komposit, pada material ini penyusunnya akan terlihat jelas
baik itu serat maupun matriknya (Gibson, 1994).
11

Keunggulan dari material ini adalah penggabungan unsur-unsur yang


unggul dari masing-masing unsur pembentuknya tersebut. Penggabungan material
ini adalah dalam rangka untuk menemukan sifat antara (intermediate) material
penyusunnya. Sifat material hasil penggabungan ini diharapkan saling melengkapi
kelemahan-kelemahan yang ada pada material penyusunnya (Gibson, 1994)
Ada tiga faktor yang sangat menentukan sifat-sifat komposit, yaitu (Gibson,
1994):
a. Material pembentuk
Sifat-sifat yang dimilki oleh material pembentuk memegang peranan yang
sangat penting karena sangat besar pengaruhnya dalam menentukan sifat
kompositnya. Sifat dari komposit itu merupakan gabungan dari sifat-sifat
komponennya.
b. Bentuk dan susunan komponen
Karateristik struktur dan geometri komponen juga memberikan pengaruh
yang besar bagi sifat komponen. Bentuk dan ukuran tiap komponen dan
distribusi serta jumlah relative masing - masing merupakan factor yang
sangat penting yang memberikan kontribusi dalam penampilan komposit
secara keseluruhan
c. Hubungan antar komponen
Komposit merupakan campuran atau kombinasi bahan-bahan yang berbeda,
baik dalam hal sifat bahan maupun bentuk bahan, maka sifat kombinasi
yang diperoleh pasti akan berbeda. Prinsip yang mendasari perancangan,
pengembangan dan penggunaan dari komposit adalah pemakaian komponen
yang sesuai dengan aplikasinya.
Material komposit tersusun atas dua tipe material penyusun yakni matriks
dan fiber (reinforcement). Keduanya memiliki fungsi yang berbeda, fiber
berfungsi sebagai material rangka yang menyusun komposit, sedangkan matriks
berfungsi untuk merekatkan fiber dan menjaganya agar tidak berubah posisi.
Campuran keduanya akan menghasilkan material yang keras, kuat, namun ringan.
Gambar 2.2 merupakan material komposit.
12

Gambar 2.2 Material komposit


Komposit adalah suatu material yang terbentuk dari kombinasi dua atau
lebih material sehingga dihasilkan material komposit yang mempunyai sifat
mekanik dan karakteristik yang berbeda dari material pembentuknya. Komposit
memiliki sifat mekanik yang lebih bagus dari logam, kekakuan jenis (modulus
Young/density) dan kekuatan jenisnya lebih tinggi dari logam. Beberapa lamina
komposit dapat ditumpuk dengan arah orientasi serat yang berbeda, gabungan
lamina ini disebut sebagai laminat.
Material komposit pada umumnya terdiri dari dua unsur, yaitu material
pengisi (filler) dan material pengikat yang disebut matrik. Didalam komposit
unsur utamanya adalah material pengisi sedangkan material pengikatnya
menggunakan suatu material yang mudah dibentuk dan mempunyai daya
pengikat yang tinggi. Fungsi dari material pengisi yaitu untuk menahan sebagian
besar gaya yang bekerja pada material komposit, matrik sendiri mempunyai
fungsi melindungi dan mengikat serat agar dapat bekerja dengan baik terhadap
gaya-gaya yang terjadi.
Salah satu keunggulan dari material komposit bila dibandingkan dengan
material lainnya adalah penggabungan unsur-unsur yang unggul dari masing
masing unsur pembentuknya tersebut. Sehingga hasil penggabungan ini
diharapkan dapat saling melengkapi kelemahan-kelemahan yang ada pada
masing-masing material penyusunnya. Sifat-sifat yang mungkin dapat
diperbaharui contohnya, kekuatan, kekakuan, ketahanan korosi, ketahanan gesek,
densitas, ketahanan lelah, konduktifitas panas dan lain-lain. Secara alami
kemampuan tersebut diatas tidak ada semua pada waktu yang bersamaan (Jones,
1975).
13

Secara prinsip, komposit dapat tersusun dari berbagai kombinasi dua atau
lebih material, baik material logam, material organik, maupun material non
organik. Namun demikian bentuk dari unsur-unsur pokok material komposit
adalah fibers, particles, leminae, flakes dan matrix. Secara garis besar komposit
diklasifikasikan menjadi tiga macam yaitu, material komposit serat (Fibers
Composites), material komposit partikel (Particulate Composites) dan material
komposit lapis (Laminates Composites). Dalam penelitian ini jenis komposit
yang dibuat yaitu material komposit serat.

2.2.1 Komposit Serat


Unsur utama komposit adalah serat yang mempunyai banyak keunggulan,
oleh karena itu bahan komposit serat yang paling banyak dipakai. Bahan komposit
serat terdiri dari serat-serat yang terikat oleh matrik yang saling berhubungan.
Bahan komposit serat ini terdiri dari dua macam, yaitu serat panjang (continous
fiber) dan serat pendek (short fiber dan whisker). Penggunaan bahan komposit
serat sangan efisien dalam menerima beban dan gaya. Karena itu bahan komposit
serat sangan kuat dan kaku bila dibebani searah serat, sebaliknya sangat lemah
bila dibebani dalam arah tegak lurus serat.
Komposit serat dalam dunia industri mulai dikembangkan dari pada
menggunakan bahan partikel. Bahan komposit serat mempunyai keunggulan yang
utama yaitu strong (kuat), stiff (tangguh), dan lebih tahan terhadap panas pada saat
didalam matrik (Schwarts, 1984). Dalam pengembangan teknologi pengolahan
serat, membuat serat sekarang semakin diunggulkan dibandingkan material-
material yang digunakan. Cara yang digunakan untuk mengkombinasi serat
berkekuatan tarik tinggi dan bermodulus elastisitas tinggi dengan matrik yang
bermassa ringan, berkekuatan tarik rendah, serta bermodulus elastisitas rendah
makin banyak dikembangkan guna memperoleh hasil yang maksimal. Komposit
pada umumnya menggunakan bahan plastik yang merupakan material yang paling
sering digunakan sebagai bahan pengikat seratnya selain itu plastik mudah didapat
dan mudah perlakuannya, dari pada bahan dari logam yang membutuhhkan bahan
sendiri. Pada Tabel 2.2 merupakan sifat mekanis yang terdapat pada serat alam.
14

Tabel 2.2 Serat Alam dan Sifat Mekanisnya


Serat Diameter Ultimate tensil stress Modulus Berat Jenis
Wood 15-20 160 23 1,5
Bamboo 15-30 550 36 0,8
Jute 10-50 580 22 2,5
Cotton 15-40 540 28 1,5
Wool 75 170 5,9 1,32
Sumber: Vasiliev & Morozov (2001)

1. Tipe Komposit Serat


Secara alami serat yang panjang mempunyai kekuatan yang lebih
dibanding serat yang berbentuk curah (bulk). Serat panjang mempunyai struktur
yang lebih sempurna karena struktur kristal tersusun sepanjang sumbu serat dan
cacat internal pada serat lebih sedikit daripada material dalam bentuk curah.
Untuk memperoleh komposit yang kuat harus dapat menempatkan serat dengan
benar, Kebutuhan akan penempatan serat dan arah serat yang berbeda menjadikan
komposit diperkuat serat dibedakan lagi menjadi beberapa bagian diantaranya
(Gibson, 1994) :
a. Continuous Fiber Composite (komposit diperkuat dengan serat kontinyu)
Continuous atau uni-directional, mempunyai serat panjang dan lurus,
membentuk laminna diantara matriknya. Jenis komposit ini paling sering
digunakan. Tipe ini mempunyai kelemahan pada pemisahan antar lapisan.
Hal ini dikarenakan kekuatan antar lapisan dipengaruhi oleh matriknya.
Gambar 2.3 Continuous Fiber Composite

Gambar 2.3 Continuous Fiber Composite (Gibson, 1994)


15

b. Woven Fiber Composite (komposit diperkuat serat anyaman)


Komposit ini tidak mudah dipengaruhi pemisahan antar lapisan karena
susunan seratnya juga mengikat serta antar lapisan. Akan tetapi susunan
serat memanjangnya yang tidak begitu lurus mengakibatkan kekauatan dan
kekakuan akan melemah. Gambar 2.4 Woven Fiber Composite

Gambar 2.4 Woven Fiber Composite (Gibson, 1994)


c. Chopped fiber composite
Chopped fiber composite adalah tipe (komposit diperkuat serat

pendek/acak).
Gambar 2.5 Chopped fiber composite
Gambar 2.5 Chopped fiber composite (Gibson, 1994)

2.2.2 Matrik
Matrik adalah fasa dalam komposit yang mempunyai bagian atau fraksi
volume terbesar (dominan). Matrik mempunyai fungsi untuk mentransfer
tegangan ke serat secara merata, melindungi serat dari gesekan mekanik,
memegang dan mempertahankan serat pada posisinya, melindungi dari
lingkungan yang merugikan, tetap stabil setelah proses manufaktur.
Sifat-sifat matrik:
1. Sifat mekanis yang baik.
16

2. Kekuatan ikatan yang baik.


3. Ketangguhan yang baik.
4. Tahan terhadap temperatur.
Matrik yang digunakan dalam penelitian pembuatan komposit ini adalah
recycled polypropylene (RPP). Matrik dalam struktur komposit dapat dibedakan
menjadi:
1. Komposit Matrik Polimer (Polymer Matrix Composite-PMC)
Bahan ini merupakan bahan komposit yang sering digunakan, biasa disebut
polimer berpenguat serat (FRP-Fibre Reinforced Polymers or Plastics). Bahan ini
menggunakan suatu polimer berbahan resin sebagai matriknya, dan suatu jenis
serat seperti kaca, karbon dan aramid sebagai penguatannya.
Komposit ini bersifat:
a. Biaya pembuatan lebih rendah.
b. Dapat dibuat dengan produksi massal.
c. Ketangguhan baik.
d. Tahan simpan.
e. Siklus pabrikasi dapat dipersingkat.
f. Kemampuan mengikuti bentuk.
g. Lebih ringan.

Jenis polimer yang sering digunakan:


a. Thermoplastic
Thermoplastic adalah plastik yang dapat dilunakkan berulang kali (recycle)
dengan menggunakan panas. Thermoplastic merupakan polimer yang akan
menjadi keras apabila didinginkan. Thermoplastic akan meleleh pada suhu
tertentu, melekat mengikuti perubahan suhu dan mempunyai sifat dapat balik
(reversibel) kepada sifat aslinya, yaitu kembali mengeras bila didinginkan. Contoh
dari thermoplastic yaitu Poliester, nylon 66, PP, PTFE, PET, Polieter sulfon, PES,
dan Polieter eterketon (PEEK).
b. Thermoset
17

Thermoset tidak dapat mengikuti perubahan suhu (irreversibel), bila sekali


pengerasan telah terjadi maka bahan tidak dapat dilunakkan kembali. Pemanasan
yang tinggi tidak akan melunakkan thermoset melainkan akan membentuk arang
dan terurai karena sifatnya yang demikian sering digunakan sebagai tutup ketel,
seperti jenis-jenis melamin. Plastik jenis thermoset tidak begitu menarik dalam
proses daur ulang karena selain sulit penanganannya juga volumenya jauh lebih
sedikit (sekitar 10%) dari volume jenis plastik yang bersifat thermoplastic.
Contoh dari thermoset yaitu Epoksida, Bismaleimida (BMI), dan Poli-imida (PI).
2. Komposit Matrik Logam (Metal Matrix Composite-MMC)
Bahan ini menggunakan suatu logam seperti aluminium sebagai matrik dan
penguatnya dengan serat seperti silikon karbida. Kelebihan MMC dibandingkan
dengan PMC adalah transfer tegangan dan regangan yang baik, ketahanan
terhadap temperature tinggi, tidak menyerapa kelembapan, tidak mudah terbakar,
kekuatan tekan dan geser yang baik serta ketahanan aus dan muai termal yang
lebih baik sedangkan kekurangan MMC biayanya mahal dan standarisasi material
dan proses yang sedikit. Contohnya Almunium beserta paduannya, titanium
beserta paduannya, magnesium beserta paduannya. MMC sering digunakan pada
komponen automotif (blok silinder mesin, dll), Aircraft (rak listrik pada pesawat
terbang) dan peralatan elektronik.
3. Komposit Matrik Keramik (Ceramic Matrix Composite-CMC)
Bahan ini menggunakan keramik sebagai matrik dan diperkuat dengan serat
pendek, atau serabut-serabut (whiskers) dimana terbuat dari silikon karbida atau
boron nitride. Matrik yang sering digunakan pada CMC adaah gelas anorganik,
keramik gelas, alumina dan silikon nitrida. Keuntungan dari CMC diantaranya
dimensinya stabil bahkan lebih stabil dari pada logam, sangat tanggung bahkan
hampir sama dengan ketangguhan dari cast iron, mempunyai karakteristik
permukaan yang tahan aus, unsur kimianya lebih stabil pada temperature tinggi,
tahan pada temperatur tinggi, kekuatan dan ketangguhan tinggi serta ketahanan
pada korosi. Kerugian dari CMC adalah sulit untuk diproduksi dalam jumlah
besar, relatif mahal hanya untuk aplikasi tertentu. CMC biasanya digunakan pada
proses kimia yaitu filter, membran seals, liners, piping, hangers. Power
18

generation yaitu combustorrs, vanrs, nozzles, recuperators, heat exchanger tubes,


liner. Wate inineration yaitu furnace part, burners, heat pipes, filters, sensors.
Kombinasi dalam rekayasa wisker SiC/alumina polikristalin untuk perkakas
potong. Serat grafit/gelas boron silikat untuk alas cermin laser. Grafit/keramik
gelas untuk bantalan, perapat dan lem. SiC/litium aluminosilikat (LAS) untuk
calon material mesin panas.

2.3 Biokomposit
Komposit terdiri dari dua penyusun utama yaitu reinforcement dan matriks.
Biokomposit adalah material komposit dengan salah satu penyusunnya bersifat
natural, misalnya menggunnakan reinforcement serat alam atau matriks alam.
Komposit dari serat alam merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk tetap
menjaga kelestarian lingkungan hidup. Komposit serat alam diharapkan menjadi
suatu material yang bersifat dapat diperbaharui sehingga mengurangi dan
mencegah dampak kerusakan lingkungan dari bahan polimer seperti plastik yang
tidak dapat diperbaharui. Disamping itu, komposit dari serat alam juga bertujuan
untuk memanfaatkan limbah dari bahan serat alam seperti serat dari serbuk kayu.
Material biokomposit tentu memiliki beberapa keunggulan apabila
dibandingkan dengan material dasar seperti logam, keramik dan polimer atau
material komposit lainnnya. Keunggulan tersebut antara lain:
1. Mengurangi berat.
2. Dapat didaur ulang.
3. Merupakan material yang berfungsi sebagai langkah untuk bumi hijau
(green movement).
4. Biaya produksi yang lebih kompetitif.
5. Sifat material yang lebih baik.
6. Mudah dibentuk.
7. Konsumsi energi pembuatan yang rendah.
8. Terbuat dari bahan yang dapat diperbarui.
Oleh karena biokomposit memiliki banyak keunggulan dibandingkan
dengan material lainnya, maka pada saat ini penggunaan material biokomposit
19

sudah sangat banyak digunakan, contohnya seperti interior-interior pada bidang


otomotif, peralatan rumah tangga dan sebagainya.

2.4 Serat Rami


Tanaman rami adalah tanaman tahunan berumpun yang menghasilkan
serat dari kulit kayunya. Tanaman yang diduga berasal dari Cina ini secara botanis
dikenal dengan nama Boehmeria nivea (L). Di Jawa Barat dikenal dengan nama
haramay. Di Sumatera Barat disebut kelu dan di Sulawesi dikenal gambe. Dalam
perdagangan internasional tanaman ini dikenal dengan sebutan ramie. Serat alam
rami memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai media penguatan pada resin
polimer. Semua serat alam dari tanaman memiliki sifat hidrophilik yang sangat
berlawanan dengan sifat hidrophobik polimer. Pada penelitian ini perlakuan alkali
seperti penggunaan NaOH dimaksudkan untuk mengurangi sifat hidrophilik serat
alam yang diharapkan akan memiliki kompatibilitas dengan bahan-bahan
hidrophobik polimer.

2.4.1 Struktur Molekul Rami


Rami merupakan serat tumbuh-tumbuhan mempunyai rumus (C6H10
O5)n, dimana “n” merupakan derajat polimerisasinya dan sebagian besar serat
rami (68,6 % - 76,2 %) terdiri dari selulosa. seperti ditunjukkan pada Gambar 2.6.

Gambar 2.6 Struktur Molekul Serat Selulosa

2.4.2 Susunan Kimia Rami


20

Analisa kimia memperlihatkan bahwa selulosa merupakan komponen


utama dari serat rami. Komposisi kimia serat rami dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Sifat fisik dan kimia serat rami
Karakter Nilai
Selulosa (% berat) 68,6 – 76,2
Lignin (% berat) 0,6 – 0,7
Hemiselulosa (% berat) 13,1 – 16,7
Pektin (% berat) 1,9
Lilin (% berat) 0,3
Sudut mikrofibril ( 0 ) 7,5
Kadar air (% berat) 8,0
Kerapatan (mg/m3) 1,5
Sumber : Purwati, D.R (2012)

2.4.3 Bentuk Serat Rami


Bentuk serat rami terdiri dari membujur dan melintang, jika membujur
bentuk memanjang seperti silinder dengan permukaan bergaris – garis dan
berkerut-kerut membentuk benjolan-benjolan kecil dan jika melintang bentuk
lonjong memanjang dengan dinding sel yang tebal dan lumen yang pipih. Ujung
sel tumpul dan tidak berlumen. Gambar serat rami membujur dan melintang dapat
dilihat pada Gambar 2.7 dan Gambar 2.8 berikut.
21

Gambar 2.7 Bentuk Serat Rami Membujur

Gambar 2.8 Bentuk Serat Rami Melintang

2.5 Polypropylene (PP)


Polipropilena pertama kali dipolimerisasikan oleh Dr. Karl Rehn di
Hoechst AG, Jerman, pada 1951, yang tidak menyadari pentingnya penemuan itu.
Ditemukan kembali pada 11 maret 1954 oleh Giulio Natta, Polipropilena pada
awalnya diyakini lebih murah daripada polietilena. Polimer adisi yang terbuat dari
propilena monomer, permukaannya tidak rata serta memiliki sifat resisten yang
tidak biasa terhadap kebanyakan pelarut kimia, basa dan asam. Polipropena
biasanya didaur ulang, dan symbol daur ulangnya adalah nomor “5”.
Polipropilena merupakan polimer hidrokarbon yang termasuk ke dalam
polimer termoplastik yang dapat diolah pada suhu tinggi. Polipropilena berasal
dari monomer propilena yang diperoleh dari pemurnian minyak bumi. Struktur
molekul propilena CH2=CH-CH3.
Polipropilena merupakan jenis bahan baku plastik ringan, densitasi 0,90-
0,92 kg/m2, memiliki kekerasan dan kerapuhan yang tinggi dan bersifat kurang
stabil terhadap panas dikarenakan adanya hydrogen tersier. Penggunaan bahan
pengisi dan penguat memungkinkan polipropilena memiliki mutu kimia yang baik
sebagai bahan polimer dan tahan terhadap pemecahan karena tekanan (stress-
cracking) walaupun pada temperature tinggi. Kerapuhan polipropilena dibawah
22

0°C dapat dihilangkan dengan penggunaan bahan pengisi dengan bantuan pengisi
dan penguat akan terdapat adhesi yang baik.
Polimer yang memiliki konduktivitas panas rendah seperti polipropilena
(konduktivitas = 0,12 W/m) kristalinitasnya sangat rentan terhadap laju
pendinginan. Misalnya dalam suatu proses pencetakan termoplastik membentuk
barang jadi yang tebal dan luas, bagian tengah akan menjadi dingin lebih lambat
daripada bagian luar yang bersentuhan langsung dengan cetakan. Akibatnya akan
terjadi perbedaan derajat kristalinitas pada permukaan dengan bagian tengahnya.
Polipropilena mempunyai tegangan (tensile) yang rendah, kekuatan benturan
(impact strength) yang tinggi dan ketahanan yang tinggi terhadap pelarut organik.
Polipropilena juga mempunyai sifat isolator yang baik mudah diproses dan sangat
tahan terhadap air karena sedikit menyerap air dan sifat kekakuan yang tinggi.
Seperti polyolefin lain, polipropilena juga mempunyai ketahanan yang sangat baik
terhadap bahan kimia anorganik non pengoksidasi, deterjen, alkohol dan
sebagainya. Tetapi polipropilena dapat terdegradasi oleh zat pengoksidasi seperti
asam nitrat dan hidrogen peroksida.

2.6 Termoplastik
Termoplastik membutuhkan panas untuk membuatnya menjadi dapat
terbentuk dan setelah pendinginan akan berubah kembali kepada bentuk semula.
Bahan-bahan ini dapat dipanaskan ulang dan membentuk bentuk baru beberapa
kali tanpa adanya perubahan yang berarti pada sifatnya. Perilaku ini adalah akibat
ketidakhadiran crosslink kimia pada polimer ini, bahkan setelah dilelehkan. Film
didefinisikan sebagai lembaran yang fleksibel yang tidak megandung bahan
metalik, dengan ketebalan tidak lebih dari 0.01 inchi atau 250 mikron. Film
terbuat dari turunan selulosa dan sejumlah resin termoplastik, terdapat dalam
bentuk gulungan lembaran dan tabung yang dapat digunakan sebagai
pembungkus, kantong, tas dan sampul (Wiwik dkk, 2012). Film dari campuran
pati dan plasticizer dapat digunakan sebagai kemasan, namun harus memenuhi
standar sifat mekanik tertentu. Sifat fisik dan mekanik dari beberapa jenis plastik
berdasarkan ASTM D638 diperlihatkan pada Tabel 2.4.
23

Tabel 2.4 Sifat Fisik dan Mekanik dari Beberapa Jenis Plastik

Film Pati Kulit Film Pati


Sifat Mekanik LDPE HDPE Singkong Sorgum

Tensile strength (MPa) 10 10-40 0.406 6.9711


Elongation (%) 620 500 1.27 16.48
Sumber: Dayanti, 2009

2.6.1 Pengembangan Teknologi Plastik Termoplastik


Upaya pengembangan teknologi kemasan plastik biodegradable dewasa ini
berkembang sangat pesat. Berbagai riset telah dilakukan di negara maju (Jerman,
Prancis, Jepang, Korea, Amerika Serikat, Inggris dan Swiss) ditujukan untuk
menggali berbagai potensi bahan baku biopolimer. Aktivitas penelitian lain yang
dilakukan adalah bagaimana mendapatkan kemasan termoplastik degradable yang
mempunyai masa pakai yang relatif lebih lama dengan harga yang lebih murah
serta perbaikan sifat-sifat fisik dan penggunaan bahan pemlastis. Kemasan plastik
biodegradable ini penggunaannya masih terbatas pada produk farmasi dan
kosmetik. Masalah yang seringkali muncul pada plastik jenis ini terutama untuk
kemasan makanan adalah biaya produksi yang mahal dan sifat mekanik/fisik
serta sifat barrier yang lebih rendah dibandingkan dengan polimer sintetik. Oleh
sebab itu sampai saat ini masih dipakai polimer sintetis (PP, PE, PS dan PVS)
(Wiwik dkk, 2012).
Campuran film transparan dari PU berbahan dasar minyak jarak (castor oil)
dan p-phenylene diamine soy protein (PDSP) telah disiapkan oleh Liu et al 2008.
Miscibility, morfologi dan sifat dari film campuran diuji dengan FTIR, DSC,
DMA, SEM, adsorbsi kelembaban, degradasi termal dan uji tensil. Kedua
komponen tersebut sesuai untuk sejumlah besar rasio sebagai hasil dari ikatan
hydrogen kuat atau cross-link kimia yang terjadi antara PU dan PDSP. Elongasi,
stabilitas termal, dan daya tahan air dari film PU/PDSP meningkat dengan
penambahan PU (Liu et al, 2008). Lu et al, 2005 mengembangkan PU dari poliol
yang berbasis minyak lobak, dan kemudian menggunakannya untuk memodifikasi
pati gliserol terplastisasi (glycerol plasticized starch/PS) untuk mengatasi
24

kelemahan dari bahan pati yaitu sifat mekanis yang buruk dan sensitifitas terhadap
air. Hasil penelitian menunjukkan pati gliserol terplastisasi dapat dicampur
dengan PU berbasis minyak lobak pada kandungan PU dibawah 20% dan terjadi
pemisahan fasa ketika kandungan PU meningkat. Penambahan PU kedalam
matrik pati juga meningkatkan resistensi film terhadap air (Lu et al, 2005).
Wu et al, 2008 mensintesa TPS termodifikasi menggunakan pati jagung
dengan PU yang dibuat dari Difenilmetana Diisosianat dan Poliol yang berasal
dari minyak jarak. Modifikasi ini menghasilkan bahan pengisi yang membentuk
mikropartikel sehingga diperoleh bahan mirokomposit pati jagung. Proses yang
dilakukan oleh Wu adalah memperkuat termoplastik pati jagung dengan
menggunakan PU yang berikatan dengan matrik pati melalui ikatan uretan. PU
dicampurkan kedalam matrik pati sebagai pengisi dan pada keadaan tersintesa
secara terpisah (Wu et al, 2008). Pembuatan kemasan makanan dari polimer
nanokomposit berbasis polimer termoplastik (Polietilen, PE dan Polipropilen, PP)
dengan filler CaCO dan tapioka berukuran nanopartikel dengan penambahan
plasticizer dan aditif telah dilakukan. Pembuatan kemasan berupa kantong plastik
dilakukan dengan metoda ekstrusi blow molding. Hasil analisa yang meliputi uji
sifat fisik/mekanik, sifat barrier, biodegradabilitas dan keamanan pangan
menunjukkan polimer yang dihasilkan telah memenuhi syarat (Wiwik dkk, 2012).

2.7 Perlakuan Serat


Serat memiliki sifat alami yaitu hydrophilic, artinya suka terhadap air.
Sedangkan polimer bersifat hydrophobic. Penelitian efek perlakuan alkali
terhadap morfologi permukaan serat alam selulosa menunjukkan bahwa
kandungan optimum air mampu direduksi sehingga sifat alami hydrophilic serat
dapat memberikan ikatan interfacial dengan matriks secara optimal (Hartanto,
2009). Sifat mekanis komposit sangat dipengaruhi oleh perikatan antara matriks
dan serat. Penelitian lain juga memberi perlakuan kimia pada serat dengan
menggunakan NaOH. Perlakuan dengan NaOH memiliki efek tertinggi pada
kekuatan tarik dan modulus tarik, menghasilkan komposit dengan sifat tarik
terbaik.
25

NaOH merupakan larutan basa yang tergolong mudah larut dalam air dan
termasuk basa kuat yang dapat terionisasi dengan sempurna. Basa adalah zat yang
dalam air menghasilkan ion OH negatif dan ion positif. Larutan basa memiliki
sifat rasa pahit, dan jika mengenai tangan terasa licin (seperti sabun). Sifat licin
terhadap kulit itu disebut sifat kaustik basa.
Perlakuan alkali yang biasa dikenal dengan nama merserisasi merupakan
salah satu perlakuan kimia yang banyak digunakan pada serat alam apabila serat
akan digunakan sebagai penguat pada matriks, baik matriks termoplastik maupun
thermoset. Modifikasi perlakuan alkali akan membuka ikatan hidrogen sehingga
akan membuat permukaan serat menjadi lebih kasar. Adanya perlakuan alkali
pada serat akan menghilangkan sejumlah lignin, lilin, maupun kotoran-kotoran
lainnya yang terdapat pada permukaan serat, sehingga terjadi depolimerisasi pada
selulosa dan membuat rantai selulosa pada serat menjadi lebih pendek. Dalam hal
ini penambahan NaOH akan membuat ionisasi gugus OH pada serat sehingga
akan menjadi alkalisasi. Dalam komposit polimer, metode perlakuan alkali pada
serat selulosa merupakan modifikasi kimia yang telah dilakukan untuk
meningkatkan adhesi antara permukaan serat selulosa dan matriks polimer karena
menghasilkan ikatan yang baik.
Perlakuan alkali pada serat akan memberikan dua efek terhadap serat yaitu:
1. Meningkatkan kekasaran permukaan serat sehingga akan menghasilkan
interlocking yang lebih baik.
2. Meningkatkan jumlah selulosa yang terlepas
Perlakuan NaOH ini bertujuan untuk melarutkan lapisan yang menyerupai
lilin di permukaan serat, lignin, dan kotoran lainnya. Dengan hilangnya lapisan
lilin ini maka ikatan antara serat dan matriks menjadi lebih kuat, sehingga
kekuatan tarik komposit menjadi lebih tinggi. Namun demikian, perlakuan NaOH
yang lebih lama dapat menyebabkan kerusakan pada unsur selulosa. Padahal,
selulosa itu sendiri sebagai unsur utama pendukung kekuatan serat. Akibatnya,
serat yang dikenal perlakuan alkali terlalu lama mengalami degradasi kekuatan
yang signifikan. Sebagai akibatnya, komposit yang diperkuat serat dengan
perlakuan alkali yang lebih lama memiliki kekuatan yang lebih rendah.
26

2.8 Mekanisme Perikatan Serat Matriks


Perikatan antara serat dengan matriks memiliki efek pada sifat mekanik
komposit diperkuat serat. Secara khusus, kekuatan tarik komposit dipengaruhi
oleh efisiensi transfer beban dari matriks ke serat melalui geser pada antarmuka.
Oleh karena itu, sejumlah tes mekanik telah dikembangkan untuk mengukur
kapasitas antarmuka untuk mentransfer tegangan dari matriks ke serat dalam
komposit. Beberapa metode pengujian yang telah digunakan untuk mengevaluasi
kemampuan perikatan antara serat dengan matriks antara lain: pull out,
microtension, microcompression, dan fragmentasi. Perikatan antarmuka
(interfacial) serat dengan matriks terdiri dari beberapa model perikatan yaitu:
1. Ikatan kimia merupakan ikatan antar elektron donor dan elektron penerima.
Ikatan kimia terdiri dari ikatan ion, ikatan kovalen dan Van der Waals. Serat
yang diberi perlakuan permukaan dengan cara pelapisan (sizing) dengan
coupling agent akan mengalami interaksi dengan matriks akan melalui
mekanisme ikatan kimia ini.
2. Ikatan interdifusi merupakan ikatan interaksi antara molekul-molekul matrik
polimer yang membentuk rantai-rantai molekul yang bersifat mampu saling
tukar. Hal ini terjadi bila polimer bertemperatur di atas temperatur transisi
gelas dan kompatibel.
3. Ikatan mekanis atau interlocking terjadi antara permukaan serat dengan
matriks yang memiliki morpologi tidak teratur atau tidak rata.
Ketidakteraturan atau ketidakrataan permukaan serat akan menghasilkan
kemampuan rekat serat-matriks yang dikenal perilaku lock and key.

2.9 Plasticizer
Plasticizer merupakan jenis bahan organik yang memiliki berat molekul
yang rendah. Plasticizer biasa dikenal dengan bahan pemlastis yang digunakan
untuk meningkatkan elastisitas dan fleksibilitas suatu polimer. Plasticizer bersifat
tidak menguap akan tetapi hanya menjaga fleksibilitas dan daya rekat dari selulosa
film dari pernis atau fleksibilitas lembar plastik dan film. Plasticizer berfungsi
27

pada polimer polar untuk mengurangi ikatan hidrogen. Plasticizer yang sering
digunakan yaitu gliserol dan sorbitol. Pada penelitian ini menggunakan gliserol
sebagai plasticizernya (David, 1982)

2.9.1 Gliserol
Salah satu alkil trihidrat yang penting adalah gliserol (propa- 1,2,3 -triol)
CH2OHCHOHCH2OH. Senyawa ini kebanyakan ditemui hampir semua lemak
hewani dan minyak nabati sebagai ester gliserin dari asam palmitat dan oleat
(Austin, 1985). Gliserin atau juga sering dikenal sebagai gliserol, merupakan
unsur kimiawi yang bersifat organik. Gliserin dapat larut sempurna dalam air dan
alkohol, tetapi tidak dalam minyak. Sebaliknya, banyak zat dapat lebih mudah
larut dalam gliserol dibanding dalam air maupun alkohol. Oleh karena itu gliserin
merupakan jenis pelarut yang baik (Yusmarlela, 2009).
Gliserol efektif digunakan sebagai plasticizer pada film hidrofilik, seperti
film berbahan dasar pati, gelatin, pektin, dan karbohidrat lainnya termasuk
kitosan. Penambahan gliserol akan menghasilkan film yang lebih fleksibel dan
halus. Gliserol adalah molekul hidrofilik yang relatif kecil dan dapat dengan
mudah disisipkan di antara rantai protein dan membentuk ikatan hidrogen dengan
amida. Gliserol dapat meningkatkan pengikatan air pada edible film. Gliserol
merupakan cairan yang memiliki kelarutan tinggi, yaitu 71/ 100 g air pada suhu
25°C. Biasanya digunakan untuk mengatur kandungan air dalam makanan dan
mencegah kekeringan pada makanan.
Gliserol merupakan plasticizer yang bersifat hidrofilik dan dapat
meningkatkan penyerapan molekul polar seperti air. Peran gliserol sebagai
plasticizer dan konsentrasinya dapat meningkatkan fleksibilitas film (Austin, 1985
dalam Ginting, 2012). Bertambahnya jumlah gliserol dalam campuran pati-air
mengurangi nilai tegangan dan perpanjangan (elongation). Kandungan gliserol
yang rendah juga mengurangi kuat tarik film (Larotonda, et., all. 2004).

2.10 Polyurethane
28

Polyurethane dihasilkan dengan mereaksikan poliol dan isosianat dengan


kehadiran blowing agent dan aditif. Isocianate yang umum digunakan adalah
Diphenylmethylene Diisocyanates (MDI) dan Toluene Diisocyanates (TDI).
Sekarang ini, sumber penghasil poliol adalah bahan berasas minyak bumi. Dengan
menurunnya cadangan minyak bumi, sangatlah penting untuk mencari bahan yang
dapat diperbaharui untuk menghasilkan poliol dengan karakteristik yang dapat
dibandingkan dengan karakteristik poliol berasas minyak bumi. Struktur dan
karakteristik polyurethane yang unik umumnya disebabkan karena tiga reaksi
penting dari isosianat dengan poliol, isosianat dengan air dan isosianat dengan
amina. Pada Gambar 2.9 merupakan reaksi pembentukan polyurethane.

Gambar 2.9 Reaksi pembentukan Polyurethane

Reaksi tersebut adalah reaksi dasar untuk pembentukan kelompok uretan


dan dapat dikatakan sebagai reaksi propogasi rantai. Reaksi kedua adalah
pembentukan uretan polimer. Isosianat bereaksi dengan air untuk membentuk
asam karbamik yang tidak stabil yang akan terdekomposisi menjadi amina dan
karbon dioksida. Karbon dioksida yang dihasilkan dijebak didalam jaringan
polimer yang menghasilkan pembentukan gelembung-gelembung pada sel, yang
akan memberikan busa poliurethane.

2.10.1 Sintesa Poliol


29

Poliol dapat dihasilkan dari minyak-minyak nabati, yaitu dari minyak


kelapa sawit, minyak kedelai, minyak bunga matahari, minyak kelapa, minyak
jarak, dll. Dengan kandungan trigliserida dan asam lemak tidak jenuh, minyak
jarak dapat diubah menjadi poliol melalui proses-proses epoksidasi dan
hidroksilasi.  Poliol adalah senyawa organik yang mengandung banyak
gugus hidroksil. Istilah "poliol" dapat memiliki arti yang sedikit berbeda
dalam ilmu pangan dan kimia polimer. Molekul dengan lebih dari dua gugus
hidroksil adalah poliol, dengan tiga – triol, dan dengan empat – tetrol. Oleh
konvensi, poliol tidak merujuk pada senyawa yang mengandung gugus fungsi
lain. Rumusnya adalah (CHOH)nH2.

2.10.2 Methylene Diphenyl Diisocyanate (MDI)


Isosianat yang digunakan untuk menghasilkan polyurethane harus memiliki
dua atau lebih gugus isosianat pada masing-masing molekulnya. Isosianat yang
umum digunakan adalah aromatic Tiisocyantes Toluene Diisocyanate (TDI) dan
Methylene Diphenyl Diisocyanate (MDI). TDI and MDI lebih murah dan lebih
reaktif dibandingkan isosianat yang lain. TDI and MDI dengan grade industri
adalah campuran isomer dan MDI sering mengandung bahan polimerik. TDI dan
MDI digunakan untuk membuat busa fleksibel (untuk membuat busa slabstock
untukk kasur atau busa untuk kursi mobil), busa rigid (untuk busa insulasi untuk
lemari pendingin/refrigerator), elastomer (untuk tapak sepatu), dan lain-lain.
Isosianat dapat dimodifikasi dengan meraksikannya sebagian dengan poliol atau
mencampurkan dengan beberapa bahan lain untuk mengurangi volatilitas
polyurethane (meningkatkan toksisitasnya), mengurangi poin freezing untuk
membuat penanganannya lebih mudah atau untuk meningkatkan sifat akhir
polimer. Struktur dari isosianat dapat dilihat pada Gambar 2.10.
30

Gambar 2.10 Struktur MDI

Formula molekular MDI adalah C15H10N2O2, berbentuk padatan berwarna


putih atau kuning pucat. MDI mempunyai densitas 1.230 g/cm 3, mempunyai titik
leleh pada suhu 30 oC dan titik didih pada suhu 314 oC. MDI kurang berbahaya
dibandingkan dengan golongan isosianat yang lainnya. Tekanan uapnya yang
sangat rendah mengurangi bahayanya selama penanganan dibandingkan dengan
TDI dan HDI. Tetapi sebagaimana layaknya isosianat yang lain, MDI adalah
pemicu alergi dan sensitif.
2.11 Penelitian Sebelumnya
Adapun beberapa hasil penelitian sebelumnya dapat di lihat pada Tabel 2.5
berikut ini.
Tabel 2.5 Review Penelitian Terdahulu
No Referensi Judul Variablel Hasil
.
1. Dewi Mechanical And Adapun Nilai kuat tarik
Rozanna, dkk, Biodegradabilit variabel bebas tertinggi sebesar
(2018) y Properties Of yang digunakan 10,98 Mpa di
Bio Composite dalam peroleh pada fraksi
From Sago pelaksanaan volume pengisi
Starch And penelitian ini 40% terhadap
Straw Filler adalah sebagai Tepung sagu
berikut: Termoplastik
1. Serbuk jerami = (TPS) dan
20%, 30%, 40% perbandingan TPS:
2. Polipropilen: Polypropylene (PP)
Termoplastk= 1 adalah 1:1.5 untuk
: 0.5, 1 : 1, 1 : elongasi nilai
1.5 elongasi tertinggi
sebesar 15.41%
juga didapatkan
pada elongasi 40%.
filler tetapi dengan
rasio TPS: PP 1: 1.
Untuk uji
biodegradabilitas
dilakukan
penurunan berat
31

biokomposit
dipengaruhi oleh
komposisi filler
yang dimasukkan,
semakin tinggi
konsentrasinya
filler maka tingkat
biodegradabilitas
yang lebih baik
diperoleh. Tingkat
biodegradabilitas
tertinggi 88,57%
selama 30 hari
penguburan
diperoleh 40%
filler dengan
perbandingan TPS:
PP 1: 0,5.

2. Rudianto r., Biokomposit Sampel uji Fraksi volume 40%


(2014) pati sagu sebanyak 1 dan 50% di
dengan variasi buah dengan dapatkan nilai
fraksi volume fraksi serat tegangan bending
serat rami 10%, 20%, yang tertinggi
30%, 40%, dan sebesar 6 MPa.
50 % untuk uji
bending
3. Ardi Juniarto, pemanfaatan 1. perbandingan pengujian sifat
(2018) limbah plastik fraksi berat mekanik terbaik
polipropilen polipropilen pada perbandingan
sebagai material (PP) dan serbuk komposisi fraksi
komposit plastik ampas aren berat 90%: 10%
biodegradable yang dipakai dengan perlakuan
dengan adalah direndam air
penambahan 90%:10%; masing-masing
serbuk ampas 80%:20%; selama 0, 1,7, 14
aren 70%:30%. hari didapatkan
pengujian tegangan tarik
serapan air sebesar 21,36 MPa,
selama 1, 7, dan 20,87 MPa, 19,26
14 hari MPa, 19,20 MPa.
Komposit plastik
biodegradable
dengan
perbandingan 90%:
32

10% memiliki
karakteristik yang
sesuai dengan
plastik komersial
dan dapat
didegradasi lebih
mudah.
4. Tumpal Analisis Fraksi2. 1. perbandingan1. kekuatan tarik yang
Ojahan dkk, Volume Serat berat 100:1 paling optimal
(2017) Pelepah Batang Resin polyester terdapat pada
Pisang dengan katalis. volume fraksi 28%
Bermatriks 2. Fraksi fiber : 72% matriks
Unsaturated Volume Serat dengan gaya
Resin Polyester Pelepah Batang maksimum 2327,9
(UPR) Terhadap Pisang 10%, N, tegangan tarik
Kekuatan Tarik 16%, 22%, 67,2065 N/mm2 ,
dan SEM 28%, 34% regangan 2,7477%
serta modulus
elastisitas 3441,82
N/mm2 . Pada
pengamatan SEM
fraksi volume 28%
filler : 72% matriks
paling optimal
karena adanya
ikatan matriks dan
serat menyatu
dengan sempurna.
5. Izaak,dkk, Analisis Sifat Fraksi volume 1. Untuk pengujian
(2013) Mekanik Dan epoksi yang tarik didapatkan
Daya Serap Air digunakan nilai maksimal
Material adalah: 10, yaitu 197,505
Komposit Serat 20,30,40, 50, N/mm². pada fraksi
Rotan 60, 70, 80 dan volume 30 %
90% dan epoxy : 70 % serat
volume serat terhadap tegangan
rotan adalah (σ), regangan (ε),
70% dan modulus
elastisitas (E)
artinya dari hasil
penelitian diatas
maka dapat
disimpulkan bahwa
nilai kekuatan tarik
komposit
berpenguat serat
33

rotan dengan
matriks epoxy
lebih tinggi dari
standart BKI yaitu
10 N/mm².
2. Untuk pengujian
daya serap air
Komposit serat
rotan epoxy
didapatkan nilai
maksimal 2,71
gram pada fraksi
volume 90% epoxy
: 10% serat dalam
pengujian daya
serap air. Yang
artinya komposit
tersebut lebih
sedikit dalam
menyerap air.