Anda di halaman 1dari 10

departemen manajemen

fakultas ekonomi dan bisnis

A021181010 | essay word count: 1848 (excluding references)


Analisis adoption level dan implementasi TQM pada PT. Unilever Indonesia.

1. Introduction
Salah satu aspek terpenting dalam sebuah perusahaan adalah mengenai kinerja,
yang dimana dari hasil penilaian kinerjanya menjadi penentu baik buruknya sebuah
perusahaan. Penilaian kinerja perlu dilakukan agar dapat diketahui seberapa baik
individu, tim dan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Dalam (Bacal, 2012: 85).
Kinerja (performance) adalah hasil pekerjaan yang dapat dicapai oleh seseorang
berdasarkan persyaratan-persyaratan pekerjaan (job requirement).
Meningkatkan kinerja dan kualitas perusahaan dapat dilaksanakan dengan
menerapkan berbagai program sebagai upaya perusahaan dalam meningkatkan
mutu dari produk dan jasa yang dihasilkannya. Total Quality Management (TQM)
merupakan salah satu alat yang telah banyak digunakan dalam dunia bisnis untuk
meningkatkan, profitabilitas, produktiviyas, dan kualitas.
Tidak dapat di pungkiri dalam era perdagangan bebas serta kondisi dunia yang
sedang dilanda wabah Covid-19, menuntut masyarakat untuk menjadi konsumen
yang lebih selektif dalam memilih produk yang baik namun tetap dengan yang
harga terjangkau di masyarakat,
Sehingga dengan kondisi seperti ini mendorong perusahaan untuk selalu
menemukan inovasi-inovasi baru pada hasil produksinya untuk terus memilliki
mutu yang maksimal. Perusahaan harus mencari upaya-upaya perbaikan yang harus
dilakukan untuk bertahan dalam persaingan dunia perindustrian. Salah satu yang
memiliki peran penting dalam upaya perbaikan mutu ini yaitu sumber daya manusia
atau karyawan dari perusahaan itu sendiri, dengan dilakukannya perbaikan pada
sumber daya manusianya diharapkan dapat membantu perusahaan dalam
mengoptimalkan kinerja perusahaan dan yang pada akhirnya berpengaruh kepada
kepuasan konsumen dan keberlangsunagan hidup perusahaan.
Perusahaan Unilever merupakan salah satu perusahaan besar yang ada di
Indonesia yang bergerak dalam bidang manufaktur, pemasaran dan distribusi
barang konsumsi yang dibutuhkan oleh para konsumen yang ada di Indonesia.
Unilever memiliki lebih dari 400 merek dagang, dengan 14 merek diantaranya
memiliki total penjualan lebih dari £1 milliar dan terbagi menjadi empat devisi
utama yakni, Makanan, Minuman dan Eskrim, Perawatan Rumah tangga dan
Perawatan Tubuh.

2. Literature Review
Menurut Krajweski dan Ritzman (2006), Total Quality Management (TQM)
merupakan sebuah paragdima baru dan dapat digunakan untuk menjalankan bisnis,
bisnis tersebut bertujuan untuk melibatkan seluruh karyawan dan terus
meningkatkan untuk mencapai daya saing perusahaan dengan menitikberatkan pada
kepuasan pelanggan, kualitas, produk, layanan, orang, proses, dan lingkungan
organisasi. Total quality management adalah metode operasi bisnis yang bertujuan
untuk memaksimalkan daya saing perusahaan dengan terus meningkatkan kualitas
produk, layanan, personel, proses dan lingkungan (Goetsch dan Davis, 2002: 4).
Tidak dapat dipungkiri bahwa penerapan TQM di suatu perusahaan saat ini
merupakan salah satu alat untuk memperoleh keunggulan bersaing, selain sebagai
sistem manajemen mutu, TQM juga dapat meningkatkan kinerja mutu sebagai alat
untuk mencapai kinerja bisnis yang prima.
Perusahaan yang dapat menyediakan produk dan layanan berkualitas dapat
membuat pelanggan merasa tertarik sehingga menjadi pemenang dalam persaingan.
Kualitas produksi perusahaan juga merupakan nilai yang diberikan kepada
pelanggan untuk meningkatkan kualitas hidupnya, semakin tinggi nilai yang
diberikan maka kepuasan pelanggan akan semakin tinggi. McKinsey and Company
(1989), melaporkan survei CEO di 500 perusahaan teratas Eropa sehubungan
dengan persyaratan utama untuk sukses di TQM, menemukan hal berikut:
• Perhatian manajemen puncak 95 persen setuju
• Pengembangan masyarakat 85 persen setuju
• Semangat tim perusahaan 82 persen setuju
• Kualitas informasi kinerja 73 persen setuju
• Kesepakatan 70 persen pengembangan kemampuan manajemen puncak
• Rasa urgensi 60 persen setuju

Manajemen senior memiliki peran dan tanggung jawab yang besar dalam
jalannya TQM di perusahaan yaitu mereka yang mengambil keputusan seperti apa
dan bagaiamana TQM tersebut akan di jalankan dalam perusahaannya atau dengan
kata lain mereka yang merencanakan, menentukan dan mengevaluasi kebijakan-
kebijakan yang akan dilakukan dalam rangka menerapkan TQM dalam perusahaan.
Lescelles dan Dale (1990), mengatakan dalam salah satu penelitian mereka,
CEO merupakan agen perubahan internal dalam peningkatan kualitas mereka,
sehingga mereka memiliki dua peran kunci yaitu membenttuk nilai-nilai yang ada
dalam perusahaan dan peran kedua yaitu membangun infrastuktur manajerial untuk
membawa perubahan yang nyata.
Selain itu, manajemen senior juga dituntut untuk bisa mencurahkan waktu untuk
mempelajari subjek dan menunjukkan komitmen dan kepercayaan yang kuat dalam
pengenalan dan pengembangan TQM serta manajer senior mampu memimpin dan
mengajar dengan memberikan contoh kepada karyawannya, agar mereka mampu
ikut mengembangkan rasa dan tujuan mengenai alasan dari dilakukannya tqm dan
perbaikan berkelanjutan.
Menurut B. G. Dale and D. M. Lascelles, terdapat 6 (enam) tingkatan dalam
penerapan TQM pada perushaan yaitu :
1) Uncommitted
2) Drifters
3) Tool-pushers
4) Improvers
5) Award-winners
6) World-class

Perusahaan pada Level 1 adalah mereka yang belum memulai proses formal
peningkatan kualitas dan dalam beberapa kasus, bahkan mereka dianggap
mengabaikan TQM. Perusahaan Level 1 disebut 'The Uncommitted' karena mereka
tidak memiliki rencana jangka panjang untuk perbaikan berkelanjutan dan tidak
yakin akan manfaatnya.
Perusahaan pada level 2 tidak memiliki garis dasar yang jelas mereka hanya
berpindah dari satu program ke program lainnya, dengan konsep ide dan insiatid
yang dilahirkan kembali dan diluncurkan kembalik dalam berbagai samaran.
Namun, disatu sisi mereka tidak menempatkan kualitas dalam kerangka strategi
bisnis mereka dan tidak memiliki hasil jangka panjang yang diinginkan.
Perusahaan level 3 atau dikenal dengan nama “Tool-Pushers” biasanya telah
memiliki sistem manajemen kualitas yang berkembang dengan baik dan cenderung
terkonsentrasi ada sektor manufaktur. Dimana level 3 hanya beralih ke alat atau
teknik lain dalam konteks pendekatan keseluruhan yang sama.
Perusahaan pada Level 4 yaitu perusahaan yang sedang bergerak ke arah yang
benar dan telah membuat kemajuan nyata, tetapi masih harus menempuh beberapa
cara. Di perusahaan level ini TQM tidak diinternalisasikan ke seluruh perusahaan
dan proses perbaikan tidak mandiri, dengan perusahaan masih rentan terhadap
tekanan jangka pendek dan kesulitan yang tidak terduga. Dimana juga Hasil proyek
perbaikan tidak semuanya dimanfaatkan secara efektif untuk perbaikan dan inisiatif
semacam itu sangat bergantung pada individu yang mendorongnya.
Perusahaan pada level Award-winners Tidak semua perusahaan yang mencapai
tingkat ini benar-benar memenangkan penghargaan kualitas internasional tetapi
mereka telah mencapai titik di mana peningkatan berkelanjutan telah menjadi sifat
total. Pencapaian status Level 5 menandai berakhirnya pemagangan TQM
perusahaan dan menandakan bahwa perusahaan tersebut memiliki kapabilitas dan
potensi untuk membuat dampak di tingkat tertinggi, di seluruh dunia.
TQM level World-class Tingkat ini ditandai dengan integrasi total peningkatan
berkelanjutan dan strategi bisnis untuk menyenangkan pelanggan. Mencapai status
Tingkat 6 bukanlah akhir, karena tidak ada tingkat yang dijelaskan di sini yang
mewakili 'kondisi mapan'. Indikasi kinerja kualitas kelas dunia adalah bahwa
perusahaan dapat mengajukan Japan Quality Medal lima tahun atau lebih setelah
menerima Deming Application Prize. Meskipun ini merupakan indikator yang jelas
darik ematangan TQM, penghargaan ini bukan satu-satunya kualifikasi untuk status
Level 6.

3. Case Study: PT Unilever


Unilever merupakan salah satu perusahaan multinasional terbesar di Indonesia
yang bergerak di bidang manufaktur, pemasaran dan distribusi produk konsumen
yang dibutuhkan oleh konsumen Indonesia. Unilever memiliki lebih dari 400 merek
dagang, 14 di antaranya memiliki total penjualan lebih dari £ 1 miliar, terbagi
dalam empat sektor utama: makanan, minuman dan es krim, perawatan rumah dan
perawatan tubuh.
Sebagai salah satu perusahaan multinasional terbesar di Indonesia, hal ini tidak
dapat menyelamatkan PT Unilever dari segala macam kesulitan. Salah satu kendala
yang dihadapi PT Unilever adalah pertumbuhan pendapatan PT Unilever menurun
dalam 9 bulan pertama tahun 2017, sedangkan pada periode yang sama tahun 2016
(per kuartal ketiga 2016), pendapatan perusahaan sejauh ini hanya meningkat
hingga sekitar 3,7% Pertumbuhan tahun lalu mencapai 9,25%. Ini terlihat dari
penjualan produk perumahan Unilever yang hanya meningkat namun tidak
meningkat secara signifikan yaitu meningkat dari 20,6 triliun rupiah menjadi 21,1
triliun rupee atau meningkat 2,1% sedangkan penjualan makanan dan ritel rata-rata
meningkat. dari 9 5 triliun rupiah meningkat menjadi 10,1 triliun rupiah, meningkat
7,1%.
Menurut Direktur keuangan Unilever Indonesia pada saat itu, Tevilyan
Yudhistira Rusli, penurunan ini disebabkan karena adanya peralihan atau shifting
pasar konsumen, pada segmen menengah ke bawah, karena adanya hal ini
menyebabkan produk yang biasanya di beli oleh segmen menengah bergeser ke
produk segmen yang lebih bawah.
Dalam mengatasi permasalahan mengenai perubahan perilakau konsumsi
masyarakat ini, pada tahun 2018 mereka berencana untuk mengeluarkan 40 hingga
50 produk varian baru yang lebih dekat dan diharapkan mampu menarik perhatian
konsumennya. Selain itu juga, melalui Sekretaris Perusahaan Unilever Indonesia,
Sancoyo Antarikso mengatakan mereka tidak hanya berfokus pada harga, kualitas
dan layanan, mereka juga melakukan upaya dalam mengantisipasi dan memberikan
saranan untuk mendengarakan keluhan konsumen dengan harapan mereka mampu
memberikan produk dan layanana yang sesuai dengan keinginan dari para
konsumennya.
Dari analisis studi kasus di atas, Unilever melakukan beberapa perubahan yang
akan membawanya kepada level tertinggi adopsi TQM yaitu Word-Class. Tingkatan
ini ditandai dengan integrasi total yang kontinyu perbaikan terutama pada sumber
daya manusia dan strategi bisnis untuk menyenangkan pelanggan

4. Discussion
Unilever Indonesia didirikan pada tanggal 5 Desember 1933. Tujuannya adalah
untuk membantu orang Indonesia tampil lebih menarik, merasa lebih baik, dan
mendapatkan lebih banyak hal dalam hidup melalui rangkaian produk dengan
merek ternama dunia. Sasaran bisnis Unilever sangat ambisius dan ingin terus
ditingkatkan melalui berbagai inovasi yang menjadi DNA Unilever. Unilever
berkomitmen untuk terus beroperasi dengan mengedepankan transparansi dan
selalu menjaga integritas dalam menghormati hak asasi dan tanggung jawab. Pergi
ke masyarakat dan lingkungan tempat mereka beroperasi.
PT Unilever sendiri juga sangat memperhatikan pengembangan profesionalisme,
unilever memiliki learning programme untuk mendorong perkembangan learning
culture didalam perusahaan dan mendorong setiap karyawannya untuk terus belajar
di berbagai kesempatan, selain itu Untuk mendorong work-lifebalance, Unilever
menyediakan berbagai sarana seperti fasilitas gym, klub olahraga untuk karyawan,
nurseryroom, daycarecentre menjelang Lebaran, aktivitas rohani dan social, dan
lain-lain.
Rencana pelatihan mencakup empat rencana pelatihan, yaitu pelatihan umum,
pelatihan kepemimpinan, pelatihan profesional, dan kursus bersama. Di antara
berbagai program yang telah dilaksanakan, terdapat beberapa program yang lebih
spesifik yang dapat digunakan untuk mengajarkan karyawan meningkatkan
keterampilan dan memotivasi karyawan dalam bekerja.Perusahaan juga memiliki
berbagai media sosial seperti Facebook, Twitter dan Safety Portal. Intranet
perusahaan Unilever Indonesia sangat berguna untuk menjalin dialog dua arah, dan
juga dapat digunakan sebagai forum atau alat umpan balik untuk membahas
berbagai masalah terkait kesehatan dan keselamatan kerja. Hal ini dilakukan PT
Unilever untuk menjaga keselamatan dan kesehatan karyawannya yang dianggap
paling penting.
Selain itu, Unilever merilis paket BESAFE (Behavior-Based Safety) pada tahun
2013, yang berfokus pada bagaimana menanamkan perilaku aman atau perilaku
aman pada karyawan, mengharuskan semua karyawan memahami risiko kerja yang
mereka hadapi dan menghindarinya.
Salah satu prestasi yang diraih oleh Unilever sebagai perusahaan yang
menganggap Sumber Daya Manusia sebagai asset yang terpenting dalam
perusahaan adalah diraihnya penghargaan dari Japanese Institute of Productive
Maintenance yaitu untuk pelaksanaan TPM (Total Productive Maintenance), dan
juga Unileber meraih penilaian oleh dunia usaha sebagai salah satu dari 20
perusahaan terbaik dunia
Jadi, dengan melihat kebijakan-kebijakan yang telah diuraikan diatas, Unilever
sangat berfokus bagaimana meningkatkan kinerja karyawan dengan memberikan
berbagai pelatihan dan fasilitas pengembangan diri, dan menjadikan itu sebagai
salah satu strategi bisnis mereka dalam meningkatkan kualitas output dan
kepuasaan pelanggan. Selain itu dengan melihat banyaknya bauran dari produk
menunjukkan bahwa mereka berfokus pada pemenuhan kebutuhan konsumen
secara berkelanjutan, sehingga dapat dikatakan PT unilever masuk kedalam level
adoption TQM tertinggi yaitu World-Class

5. Conclusion
Total Quality Management telah menjadi salah satu strategi yang telah
digunakan dalam PT Unilever Indonesia yang berfokus kepada perbaikan dan
peningkatan mutu berkelanjutan dengan terus menciptakan inovasi-inovasi baru dan
menciptakan kebijakan yang berfokus pada mendidik dan mengembangkan sumber
daya manusianya baik itu dengan memberikan berbagai pelatihan ataupun
pemberian insentif, agar SDM yang handal dan berkualitas, yang berperan utama
dalam pengembangan bisnis dan pemenuhan kebutuhan konsumen secara
berkelanjutan sehingga dapat dikatakan PT unilever masuk kedalam level adoption
TQM tertinggi yaitu World-Class.

6. References
Dale, barrie g., ton van der wiele, david bamford. 2016. Managing quality: an
essential guide and resource gateway, 6th edition, usa: john wiley & sons, ltd
Octriz orista amelia yunant (2016) pengaruh total quality management terhadap
kinerja karyawan pada pt pos indonesia (persero) klas ii makassar.skirpsi.
Laporan Keberlanjutan PT Unilever Indonesia Tbk (2018), Transformasi Untuk
Masa Depan Berkelanjutan.
Penjualan Melambat Unilever Konsumen Pilih Produk yang Lebih Murah (2017,
November 01). Diakses pada April 5, 2021 dari artikel ilmiah:
https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-3709259/