Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt., karena atas limpahan rahmat dan
karunia – Nya lah sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Sejarah ini sesuai waktunya
Kami mencoba berusaha menyusun makalah ini sedemikian rupa dengan harapan dapat
membantu pembaca dalam memahami pelajaran Sejarah. Disamping itu, kami berharap
bahwa Makalah Sejarah yang berjudul “Terbentuknya Jaringan Nusantara Melalui Perdagangan
& Akulturasi Kebudayaan Nusantara dan Hindu-Buddha” ini dapat dijadikan bekal pengetahuan
untuk melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi.

Kami menyadari bahwa didalam pembuatan Makalah Sejarah ini masih ada kekurangan
sehingga kami berharap saran dan kritik dari pembaca sekalian khususnya dari guru mata
pelajaran sejarah indonesia agar dapat meningkatkan mutu dalam penyajian berikutnya.
Akhir kata saya ucapkan terima kasih.

Samarinda, 15 oktober 2013

Penyusun

1
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ……………….……………………………….…………………………………i

Daftar Isi …………………………………………………………………………………………ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ………………………………………………………………………………..3

B. Tujuan Penulisan …………………...…………..……………………………………………..3

BAB II PEMBAHASAN

A. Terbentuknya Jaringan Nusantara Melalui Perdagangan ……………………………………..4

1. Peran Laut Masa Hindu-Buddha dan Masa Kini ………………………………………...6

B. Akulturasi Kebudayaan Nusantara dan Hindu-Buddha …………………………...…………7

1. Contoh Wujud Akulturasi Budaya Hindu-Buddha………….………………….……….11

BAB III PENUTUP

Kesimpulan ………………………………………………………………………………….…..13

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Masa Hindu-Buddha berlangsung selama kurang lebih 12 abad. Pembabakan masa Hindu-
Buddha terbagi menjadi 3, yaitu periode tumbuhan, perkembangan dan keturunan. Pada abad
ke-16 agama Islam mengakomodasi peninggalan Hindu-Buddha, tentunya dengan melakukan
modifikasi agar tetap berselang beberapa abad, wujud peradaban Hindu-Buddha masih dapat
disaksikan hingga sekarang, misalnya dalam perwujudan sastra dan arsitektur. Awal masuknya
unsur-unsur budaya India di Kepulauan Indonesia disebut dengan masa klasik. Pada tahapan ini
banyak kemajuan yang dicapai dalam pemikiran dan hasil-hasil budaya baik dalam bentuk
benda, maupun budaya tak benda. Masa klasik juga diartikan sebagai pertimbangan banyaknya
capaian budaya pada masa Hindu-Budhha itu yang masih tetap dihargai dan ditafsirkan ulang
hingga saat ini meskipun pengaruh budaya Hindu-Budhha sudah mulai memudar dan digantikan
oleh budaya lain.

B. TUJUAN PENULISAN

Untuk mengetahui bagaimana proses terbentuknya jaringan nusantara melalui perdagangan ?

Untuk mengetahui apa itu akulturasi kebudayaan nusantara dan Hindu-Buddha ?

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Terbentuknya Jaringan Nusantara Melalui Perdagangan

Nusantara merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan


yang membentang dari Sumatera sampai Papua. Pusat-pusat integrasi Nusantara berlangsung
melalui penguasaan laut. Pusat-pusat integrasi itu berkembang menjadi pertumbuhan jalur
perdagangan yang melewati lokasi-lokasi strategis di pinggir pantai, dan kemampuan
mengendalikan (kontrol) politik dan militer para penguasa tradisional (raja-raja) dalam
menguasai jalur utama dan pusat-pusat perdagangan di Nusantara. Nusantara merupakan salah
satu pusat dan jalur perdagangan yang memiliki peran penting, terutama Selat Malaka yang
merupakan jalur penting dalam pelayaran dan perdagangan. Jalur ini merupakan pintu gerbang
pelayaran yang dikenal dengan nama Jalur Sutra. Dinamakan Jalur Sutra karena komoditas kain
sutra yang dibawa dari Cina untuk diperdagangkan ke berbagai wilayah lain.

Jika pada masa praaksara hegemoni budaya dominan datang dari pendukung budaya
Austronesia di Asia Tenggara Dartan. Pada masa perkembangan Hindu-Buddha di Nusantara
terdapat dua kekuatan peradaban besar, yaitu Cina di utara dan India di bagian barat daya.
Keduanya merupakan dua kekuatan yang mempunyai pengaruh amat besar terhadap penduduk di
Kepulauan Indonesia. Peralihan rute perdagangan dunia ini telah membawa berkah tersendiri
bagi masyarakat dan suku bangsa di nusantara.

Selat Malaka menjadi penting sebagai pintu gerbang yang menghubungkan antara
pedagang-pedagang Cina dan pedagang-pedagang India. Selat itu merupakan jalan laut yang
menghubungkan Arab dan India di sebelah barat laut Nusantara, dan dengan Cina di sebelah
timur laut Nusantara. Ramainya rute pelayaran ini mendorong timbulnya bandar-bandar penting
di sekitar jalur, antara lain Samudra Pasai, Malaka, dan Kota Cina (Sumatra Utara sekarang).

Kehidupan penduduk di sepanjang Selat Malaka menjadi lebih sejahtera oleh proses
integrasi perdagangan dunia. Mereka menjadi lebih terbuka secara sosial ekonomi untuk
menjalin hubungan niaga dengan pedagang-pedagang asing yang melewati jalur itu. Kebudayaan
India dan Cina ketika itu jelas sangat berpengaruh terhadap masyarakat di sekitar Selat Malaka.
Bahkan sampai saat ini pengaruh budaya terutama India masih dapat kita jumpai pada
masyarakat sekitar Selat Malaka. selama masa Hindu-Buddha kepulauan Indonesia juga
berkembang pesat terutama karena terhubung oleh jaringan Laut Jawa hingga Kepulauan
Maluku. Mereka secara tidak langsung juga terintegrasikan dengan jaringan ekonomi dunia yang
berpusat di sekitar Selat Malaka, dan sebagian di pantai barat Sumatra seperti Barus. Komoditas

4
penting yang menjadi barang perdagangan pada saat itu adalah rempah-rempah, seperti kayu
manis, cengkih, dan pala.

Pertumbuhan jaringan dagang internasional dan antarpulau telah melahirkan kekuatan


politik baru di Nusantara. Peta politik di Jawa dan Sumatra abad ke-7, seperti ditunjukkan oleh
D.G.E. Hall, bersumber dari catatan pengunjung Cina yang datang ke Sumatra. Dua negara di
Sumatra disebutkan, Mo-lo-yeu (Melayu) di pantai timur, tepatnya di Jambi sekarang di muara
Sungai Batanghari. Agak ke selatan dari itu terdapat Che-li-fo-che, pengucapan cara Cina untuk
kata bahasa sanskerta, Sriwijaya. Di Jawa terdapat tiga kerajaan utama, yaitu di ujung barat
Jawa, terdapat Tarumanegara, dengan rajanya yang terkemuka Purnawarman, di Jawa bagian
tengah ada Ho-ling (Kalingga), dan di Jawa bagian timur ada Singhasari dan Majapahit.

Selama periode Hindhu-Buddha, kekuatan besar Nusantara yang memiliki kekuatan


integrasi secara politik, sejauh ini dihubungkan dengan kebesaran Kerajaan Sriwijaya,
Singhasari, dan Majapahit. Kekuatan integrasi secara politik di sini maksudnya adalah
kemampuan kerajaan-kerajaan tradisional tersebut dalam menguasai wilayah-wilayah yang luas
di Nusantara di bawah kontrol politik secara longgar dan menempatkan wilayah kekuasaannya
itu sebagai kesatuan-kesatuan politik di bawah pengawasan dari kerajaan-kerajaan tersebut.
Dengan demikian pengintegrasian antarpulau secara lambat laun mulai terbentuk.

Kekuasaan mereka mampu mengontrol sejumlah wilayah Nusantara melalui berbagai


bentuk media. Selain dengan kekuatan dagang, politik, juga kekuatan budayanya, termasuk
bahasa. Interelasi antara aspek-aspek kekuatan tersebut yang membuat mereka berhasil
mengintegrasikan Nusantara dalam pelukan kekuasaannya. Kerajaan-kerajaan tersebut
berkembang menjadi kerajaan besar yang menjadi representasi pusat-pusat kekuasaan yang kuat
dan mengontrol kerajaan-kerajaan yang lebih kecil di Nusantara.

Hubungan pusat dan daerah hanya dapat berlangsung dalam bentuk hubungan hak dan
kewajiban yang saling menguntungkan (mutual benefit). Keuntungan yang diperoleh dari pusat
kekuasaan antara lain, berupa pengakuan simbolik seperti kesetiaan dan pembayaran upeti
berupa barang-barang yang digunakan untuk kepentingan kerajaan, serta barang-barang yang
dapat diperdagangkan dalam jaringan perdagangan internasional. Sebaliknya kerajaan-kerajaan
kecil memperoleh perlindungan dan rasa aman, sekaligus kebanggaan atas hubungan tersebut.

Jika pusat kekuasaan sudah tidak memiliki kemampuan dalam mengontrol dan
melindungi daerah bawahannya, maka sering terjadi pembangkangan dan sejak itu kerajaan besar
terancam disintegrasi. Kerajaan-kerajaan kecil lalu melepaskan diri dari ikatan politik dengan
kerajaan-kerajaan besar lama dan beralih loyalitasnya dengan kerajaan lain yang memiliki
kemampuan mengontrol dan lebih bisa melindungi kepentingan mereka. Secara keseluruhan
proses integrasi yang lambat laun itu kian mantap dan kuat, sehingga kian mengukuhkan
Nusantara sebagai negeri kepulauan yang dipersatukan oleh kekuatan politik dan perdagangan.

5
Kekuatan besar Nusantara yang memiliki kekuatan integrasi secara politik selalu
dihubungkan dengan kebesaran Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Kekuatan integrasi secara
politik di sini maksudnya adalah kemampuan kerajaan-kerajaan tersebut dalam menguasai
wilayah-wilayah yang luas di Nusantara di bawah kontrol publik di bawah pengawasan dari
kerajaan-kerajaan tersebut. Dengan demikian, pengintegrasian antar pulau secara lambat laun
mulai terbentuk.

Komoditas apa yang menarik bagi kaum pedagang untuk mendatangi pelabuhan yang ada
di Kepulauan Indonesia? Bandingkan dengan perdagangan saat ini, komoditas apakah yang
diminati dalam perdagangan internasional? Komoditas penting yang menarik bagi kaum
pedagang ialah rempah-rempah, seperti kayu manis, cengkih dan pala. Hal ini yang membuat
kaum pedagang berdatangan ke pelabuhan-pelabuhan yang ada di Kepulauan Indonesia.
Sedangkan pada masa kini, komoditas yang menarik bagi para pedagang dari luar negeri untuk
mendatangi pelabuhan di Indonesia ialah komoditas kelapa sawit yang ada dan dibududayakan di
Pekanbaru, Riau. Selain kelapa sawit, yang menjadi komoditas penting bagi Indonesia ialah
kakao.

Carilah pelabuhan yang terdekat dengan kota yang ada di sekitar daerah tempat
tinggalmu. Bagaimanakah menurut pendapatmu tentang pelabuhan itu? Pelabuhan Ketapang
(Banyuwangi), pelabuhan ini menghubungkan antara Pulau Jawa dan Pulau Bali. Akses melalui
pelabuhan ini merupakan jalan utama untuk menuju Pulau Bali. Pelabuhan ini sangat ramai
terutama pada hari-hari besar, seperti hari-hari menjelang Lebaran. Selain terdapat kapal yang
mengangkut orang sebagai transportasi penghubung Pulau Jawa - Bali, di pelabuhan ini juga
terdapat kapal tongkang yang digunakan untuk mengangkut komoditas minyak bumi dari Pulau
Jawa ke Pulau Bali.

1 .Peran Laut Masa Hindu-Budha dan Masa Kini

Pada pembahasan ini kita telah membahas tentang peran laut pada masa Hindu-Buddha.
Laut berperan sebagai media transportasi utama perdagangan dunia pada masa Hindu-Buddha,
masyarakat di zaman Hindu-Budha tidak hanya berdagang, namun juga menyebarkan agama
Hindu dan Buddha di Indonesia. Laut berfungsi sebagai jalur lalu lintas pelayaran dan
perdagangan antar wilayah di Indonesia pada zaman tersebut dan negara-negara lain di dunia
seperti India, Cina (Tiongkok) dan lain-lain. Peran laut bagi Negara Indonesia pada masa kini,
antara lain sebagai berikut:

1. Sarana Transportasi. Laut bagi bangsa Indonesia bukanlah sebagai pemisah melainkan sebagai
pemersatu bangsa. Melalui jalur lautlah, bangsa Indonesia bertransportasi ke luar pulau. Melalui
jalur laut juga, sebagian besar keperluan bangsa Indonesia diangkut. Oleh karena itu, laut benar-
benar menjadi sarana transportasi bagi Negara Indonesia.

2. Peranan laut sebagai pengontrol iklim bumi. Laut memiliki peranan yang sangat penting
dalam mengontrol iklim di Bumi. Karena laut memindahkan panas dari daerah ekuator menuju

6
ke kutub. Tanpa peranan laut, maka hampir keseluruhan planet Bumi akan menjadi terlalu dingin
bagi manusia untuk hidup.

3. Peran laut bagi pertahanan dan keamanan. Keberadaan laut di sebuah negara juga menjadi
perlambang kekuatan sebuah negara. Indonesia dengan jumlah kawasan laut yang cukup luas
sejatinya menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara maritim yang tangguh, tentunya
dengan dibarengi kekuatan sistem pertahanan dalam negeri yang baik. Laut Indonesia selain luas
juga memiliki kekayaan yang luar biasa.

4. Sumber Pangan. Laut Indonesia juga berfungsi sebagai sumber pangan terutama protein
hewani dalam bentuk ikan dan hasil laut lainnya. Bangsa Indonesia mampu mengekspor ikan dan
hasil-hasil laut lainnya ke mancanegara. Indonesia juga berhasil dalam mengembangkan usaha
perikanan, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun untuk tujuan ekspor.

5. Pertambangan. Laut juga termasuk wilayah pertambangan yang sangat potensional bagi
bangsa Indonesia. Salah satu hasil tambang terpenting yang dihasilkan dari laut Indonesia ialah
minyak bumi dan gas bumi yang sudah diekspor ke mancanegara.

6. Rekreasi dan Pariwisata. Sebagai sebuah negara tropis, panorama laut Indonesia sangat luar
biasa indah dan dapat dijadikan pusat wisata bahari sehingga dapat menambah devisa negara.
Contohnya saja Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara dan Wakatobi di Sulawesi Tengah.

7. Bahan Baku Obat-Obatan. Laut juga sangat terkenal dengan kekayaan alam nabati maupun
hewani yang dapat digunakan untuk bahan baku pembuatan obat-obatan herbal. Ekstrak dari
berbagai jenis tumbuhan dan hewan itu sangat bermanfaat bagi tubuh manusia, baik untuk
mengobati maupun mencegah berbagai macam penyakit.

B. Akulturasi Kebudayaan Nusantara dan Hindu-Buddha

Akulturasi kebudayaan yaitu suatu proses pencampuran antara unsur-unsur kebudayaan


yang satu dengan kebudayaan yang lain , sehingga membentuk kebudayaan baru . Kebudayaan
baru yang merupakan hasil pencampuran itu masing-masing tidak kehilangan kepribadian/ciri
khasnya . Oleh karena itu , untuk dapat berakulturasi , masing-masing kebudayaan harus
seimbang .

Begitu juga untuk kebudayaan Hindu-Budha dari India dengan kebudayaan Indonesia asli
. Masuknya budaya Hindu-Budha di Indonesia menyebabkan munculnya Akulturasi. Akulturasi
merupakan perpaduan 2 budaya dimana kedua unsur kebudayaan bertemu dapat hidup
berdampingan dan saling mengisi serta tidak menghilangkan unsur-unsur asli dari kedua
kebudayaan tersebut. Kebudayaan Hindu-Budha yang masuk di Indonesia tidak diterima begitu
saja melainkan melalui proses pengolahan dan penyesuaian dengan kondisi kehidupan
masyarakat Indonesia tanpa menghilangkan unsur-unsur asli. Hal ini disebabkan karena:

7
1. Masyarakat Indonesia telah memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukup tinggi sehingga
masuknya kebudayaan asing ke Indonesia menambah perbendaharaan kebudayaan Indonesia.

2. Kecakapan istimewa yang dimiliki bangsa Indonesia atau local genius merupakan kecakapan
suatu bangsa untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing dan mengolah unsur-unsur tersebut
sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Pengaruh kebudayaan Hindu hanya bersifat melengkapi kebudayaan yang telah ada di
Indonesia. Perpaduan budaya Hindu-Budha melahirkan akulturasi yang masih terpelihara sampai
sekarang. Akulturasi tersebut merupakan hasil dari proses pengolahan kebudayaan asing sesuai
dengan kebudayaan Indonesia.

1. Seni Bangunan

Bentuk-bentuk bangunan di Indonesia pada umumnya merupakan bentuk akulturasi antara unsur-
unsur budaya Hindu-Budha dengan unsur budaya Indonesia asli. Bangunan yang megah ,
patung-patung perwujudan dewa atau Budha , serta bagian-bagian candid an stupa adalah unsur-
unsur dari India. Bentuk candi-candi di Indonesia pada hakikatnya adalah punden berundak yang
merupakan unsur Indonesia asli.

a.Candi

Candi merupakan sebuah bangunan yang berasal dari zaman kekuasaan kerajaan –
kerajaan Hindu-Budha di Indonesia . Kata candi berasal dari kata candika yaitu salah satu nama
dewi Durga . Candi juga berasal dari kata cinandi yang berarti makam . Pada umumnya candi
terdiri atas tiga bagian yaitu :

1.Bhurloka adalah bawah candi yang melambangkan kehidupan dunia fana.

2.Bhurvaloka adalah bagian candi yang melambangkan tahap pembersihan dan pemurnian jiwa.

3.Svarloka adalah melambangkan tempat para dewa atau jiwa yang telah disucikan.

b. Stupa

Bangunan stupa pada masa India Kuno digunakan sebagai makam atau tempat
penyimpanan abu kalangan bangsawan/tokoh tertentu. Stupa memiliki tiga bagian dari bangunan
nya :

1.Andah , melambangkan dunia bawah tempat manusia yang masih dikuasai hawa nafsu.

2.Yanthra, merupakan suatu benda untuk memusatkan pikiran saat bermeditasi.

3.Cakra, melambangkan nirwana tempat para dewa.

8
2. Seni Rupa dan Seni Ukir

Masuknya pengaruh India juga membawa perkembangan dalam bidang seni rupa , seni pahat ,
dan seni ukir . Hal ini dapat dilihat pada relief atau seni ukir yang dipahat pada bagian dinding-
dinding candi. Misalnya, relief yang dipahat pada dinding-dinding pagar langkan di Candi
Borobudur yang berupa pahatan riwayat Sang Budha. Di sekitar Sang Budha terdapat lingkungan
alam Indonesia seperti rumah panggung dan burung merpati .

Pada relief kala makara pada candi dibuat sangat indah. Hiasan relief kala makara,
dasarnya adalah motif bintang dan tumbuh-tumbuhan. Hal semacam ini sudah dikenal sejak
masa sebelum Hindu. Binatang-binatang itu dipandang suci, maka sering diabadikan dengan cara
di lukis.

a. Relief

Relief dipahatkan pada kaki candi atau tubuh candi. Relief ini merupakan hasil seni pahat
sebagai pengisi bidang pada dinding candi yang melukiskan suatu cerita atau kisah .

Relief kala makara pada candi dibuat sangat indah. Dasar hiasan relief kala makara yaitu
motif binatang dan tumbuh-tumbuhan. Hal tersebut sudah dikenal sejak masa sebelum Hindu .
Binatang-binatang tersebut dipandang suci,sehingga sering diabadikan dengan cara ditulis .

b. Arca

Tujuan pembuatan arca/patung adalah untuk mengabadikan tokoh tertentu . Patung/arca


merupakan batu yang dipahat sedemikian rupa, sehingga membentuk makhluk tertentu
( biasanya berupa patung atau binatang ).

3. Seni Pertunjukan

Menurut JLA Brandes , gambelan merupakan satu diantara seni pertunjukan asli yang
dimiliki oleh bangsa Indonesia sebelum masuknya unsur-unsur budaya India. Selama waktu
berabad-abad gambelan juga mengalami perkemangan dengan masuknya unsur-unsur budaya
baru baik dalam bentuk maupun kualitasnya. Gambaran mengenai bentuk gambelan Jawa Kuno
masa Majapahit dapat dilihat pada beberapa sumber, antara lain prasasti dan kitab kesusastraan .
Macam-macam gambelan dapat dikelompokkan dalam Chordaphones, aerophones,
membranophones, tidophones, dan xylophones

4. Seni Sastra dan Aksara

Pengaruh India membawa perkembangan seni sastra di Indonesia . Seni sastra waktu itu
ada yang berbentuk prosa dan ada yang berbentuk tembang ( puisi ). Berdasakan isinya,
kesusastraan dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu tutur (pitutur kitab keagamaan), kitab
hukum, dan wiracerita ( kepahlawanan ). Bentuk wiracerita ternyata sangat terkenal di Indonesia,
terutama kitab Ramayana dan Mahabarata. Kemudia timbul wiracerita hasil gubahan dari
9
pujangga indonesia. Misalnya, Barat ayuda yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh.
Juga munculnya cerita-cerita Carangan.

Berkembangnya karya sastra terutama yang bersumber dari Mahabrata dan Ramayana,
melahirkan seni pertunjukan wayang kulit ( wayang purwa ). Pertunjukan wayang kulit di
indonesia, khususnya di Jawa sudah begitu mendarah daging. Isi dan cerita pertunjukan wayang
banyak mengandung nilai-nilai yang bersifat edukatif (pendidikan). Cerita dalam pertunjukan
wayang berasal dari India , tetapi wayangnya asli dari Indonesia. Seni pahat dan ragam luas yang
ada pada wayang disesuaikan dengan seni di Indonesia .

Disamping bentuk dan ragam ias wayang, muncul pula tokoh-tokoh pewayangan yang
khas Indonesia. Misalnya tokoh-tokoh punakawan seperti Semar, Gareng, dan Petruk. Tokoh-
tokoh tidk ditemukan di India. Perkembngan seni sastra yang sangat cepat didukung oleh
penggunaan huruf pallawa, misalnya dalam karya-karya sastra Jawa Kuno. Pada prasasti-prasasti
yang ditemukan terdapat unsur India dengan budaya Indonesia. Misalnya, ada prasasti dengan
huruf Nagari ( India ) dan huruf Bali Kuno ( indonesia).

5. Sistem Kepercayaan

Sejak masa praaksara, orang-orang di Kepulauan Indonesia sudah mengenal simbol-


simbol yang bermakna filosofis. Sebagai contoh, kalau ada orang meninggal, didalam
kuburannya disertakan benda-benda. Di antara benda-benda itu ada orang naik perahu, ini
memberikan makna bahwa orang yang sudah meninggal tersebut rohnya akan melanjutkan
perjalanan ke tempat tujuan yang membahagiakan yaitu alam baka. Masyarakat waktu itu sudah
percaya adanya kehidupan sesudah mati, yakni sebagai roh halus. Oleh karena itu, nenek moyang
dipuja oleh orang yang masih hidup(animisme).

Setelah masuknya pengaruh India kepercayaan terhadap roh halus tidak punah . Misalnya
dapat dilihat pada fungsi candi. Fungsi candi atau kuil di India adalah sebagai tempat
pemujaan.Diindonesia, di samping sebagai tempat pemujaan, candi juga sebagai makam raja atau
untuk menyimpan abu jenazah raja yang telah meninggal. Itulah sebabnya peripihtempat
penyimpanan au jenazah didirikan patung raja dalam bentik mirip dewa yang dipujanya. Ini jelas
merupakan perpaduan antara fungsi candi di India dengan tradisi pemakaman dan pemujaan roh
nenek moyang di Indonesia.

Bentuk bangunan lingga dan yoni juga merupakan tempat pemujaan terutama bagi orang-
orang Hindu penganut Syiwaisme. Lingga adalah lambing Dewa Syiwa. Secara filosofis lingga
dan yoni adalah lambang kesuburan dan lambang kemakmuran. Lingga lambang laki-laki dan
yoni lambang perempuan

6. Sistem Pemerintahan

10
Setelah datangnya pengaruh India di Kepulauan Indonesia, dikenal adanya sistem
pemerintahan secara sederhana, Pemerintahan yang dimaksud adalah semacam pemerintahan di
suatu desa atau semacam kepala suku. Orang yang dipilih sebagai pemimpin biasanya orang
yang sudah tua(senior), arif, dapat memimbing, memiliki kelebihan-kelebihan tertentu termasuk
dibidang ekonomi, berwibawa, serta memiliki semacam kekuatan gaib(kesaktian). Setelah
pengaruh India masuk, maka pemimpin tadi diubah menjadi raja dan wilayahnya disebut
kerajaan. Hal ini secara jelas terjadi di Kutai .

Salah satu bukti akulturasi dalam bidang pemerintahan, misalnya seorang raha harus
berwibawa dan dipandang masa sebelum Hindu-Budha. Karena raja memiliki kekuatan gaib,
maka oleh rakyat raja dipandang dekat dengan dewa. Raja kemudian disembah dan kalau sudah
meninggal dipuja-puja.

7. Asitektur

Dalam segi arsitektur yang ada semacam penyempurnaan bangunan setelah masuknya
budaya Hindu-Budha. Pada awalnya masyarakat Indonesia sebelum masuknya budaya Hindu-
Budha sudah mengenal tentang sistem arsitektur atau bangunan. Ini dapat dilihat dari adanya
punden berundak yang sering dikaitkan dengan budaya Animisme dan Dinamisme atau
pemujaan terhadap leluhur mereka. Namun seiring dengan adanya budaya Hindu-Budha yang
masuk ke wilayah Nusantara, budaya nenek moyang itu mengalami perkembangan yang
signifikan.

Perkembangan itu dapat dilihat dari Candi Borobudur ataupun juga bangunan di akhir masa
Majapahit (abad 14 candi-candi di lereng Penanggungan, Arjuna, Lawu) dibangun dengan
mengambil bentuk pundek berundak meskipun Majapahit merupakan kerajaan bercorak
Budha.Ini dapat membuktikan adanya suatu bentuk akulturasi antara budaya asli nenek moyang
dengan pengaruh Hindu-Budha.

Contoh Wujud Akulturasi Budaya Hindu-Buddha di Indonesia

Ada tiga hal mencolok yang dapat kita lihat sebagai wujud akultusai antara nilai
kebudayaan Hindu Budha dan nilai-nilai kebudayaan Indonesia asli yaitu seni bangunan,
kepercayaan dan juga sistem pemerintahan.

Munculnya budaya Hindu-Buddha (India) di Indonesia sangat besar pengaruhnya


terhadap seni bangunan, terutama pada bangunan candi. Candi Hindu dan Buddha yang
ditemukan di Indonesia pada dasarnya merupakan wujud akulturasi. Dasar bangunan candi itu
merupakan hasil pembangunan bangsa Indonesia dari zaman Megalitikum, yaitu dari bangunan
punden berundak-undak. Punden berundak-undak ini mendapat pengaruh Hindu-Buddha,
sehingga menjadi wujud sebuah candi. Seni Rupa/ Seni Lukis Unsur seni rupa atau seni lukis
India telah masuk ke Indonesia. Hal ini terbukti dengan ditemukannya patung Budhha
berlanggam Gandara di kota Bangun, Kutai. Juga patung Buddha berlanggam Amarawati

11
ditemukan di Sikadeng (Sulawesi Selatan). Pada Candi Borobudur tampak adanya seni rupa
India, dengan ditemukannya relief-relief ceritasang Buddha Gautama. Relief pada Candi
Borobudur umumnya menunjukkan suasana alam Indonesia, terlihat dengan adanya lukisan
rumah panggung dan hiasan burung merpati.

Masuk dan berkembangnya pengaruh Hindu-Buddha ke Indonesia mengakibatkan


terjadinya percampuran antara kedua kepercayaan itu, namun tidak meninggalkan kepercayaan
asli Indonesia, terutama dilihat dari segi pemujaan terhadap roh nenek moyang dan pemujaan
terhadap dewa-dewa alam. Sosial Dalam bidang sosial, terjadi bentuk perubahan dalam tata
kehidupan sosial masyarakat. Misalnya, dalam masyarakat Hindu diperkenalkan adanya sistem
kasta . Ekonomi Dalam bidang ekonomi, tidak begitu besar pengaruhnya dan tidak begitu banyak
terjadi perubahan, karena masyarakat Indonesia telah mengenal aktivitas perekonomian melalui
pelayaran dan perdagangan jauh sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha. Pemerintahan
Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha ke Indonesia, bangsa Indonesia telah mengenal
sistem pemerintahan seorang kepala suku.

Sistem pemerintahan seorang kepala suku berlangsung secara demokratis, dimana salah
seorang kepala suku merupakan pimpinan yang dipilih dari kelompok sukunya, karena memiliki
kelebihan dari anggota suku lain. Akan tetapi, setelah masuknya pengaruh Hindu-Buddha, tata
pemerintahan disesuaikan dengan sistem pemerintahan yang berkembang di India. Seorang
kepala suku, melainkan seorang raja yang memerintah atas wilayah kerajaannya secara turun
temurun. Bukan lagi ditentukan oleh kemampuan, melainkan keturunan.

12
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN:

Interaksi antara budaya Nusantara dengan budaya dominan Hindu-Buddha waktu itu,
menunjukkan budaya Indonesia bukanlah penerima yang pasif, melainkan aktif. Jadi, terjadi
upaya seleksi tanpa perlu merendahkan, apalagi mengucilkan budaya asli nenek moyang yang
sebelumnya. Proses inilah yang dinamakan proses ‘akulturasi budaya’. Bangsa Indonesia juga
melahirkan modifikasi-modifikasi lokal genius, yaitu semacam kritik dan mempertanyakan
budaya yang lama sambil memperbarui dan memperkuatnya sehingga mampu menghasilkan
peradaban tinggi hasil modifikasi dari interaksi budaya asli Kepulauan Indonesia dengan budaya
Hindu-Buddha.

13