Anda di halaman 1dari 2

Pasal 1317

Dapat pula diadakan perjanjian untuk kepentingan orang ketiga, bila suatu perjanjian yang dibuat untuk
diri sendiri, atau suatu pemberian kepada orang lain, mengandung syarat semacam itu. Siapa pun yang
telah menentukan suatu syarat, tidak boleh menariknya kembali, jika pihak ketiga telah menyatakan
akan mempergunakan syarat itu.

Pasal 1340

Persetujuan hanya berlaku antara pihak-pihak yang membuatnya. Persetujuan tidak dapat merugikan
pihak ketiga; persetujuan tidak dapat memberi keuntungan kepada pihak ketiga selain dalam hal yang
ditentukan dalam pasal 1317.

Pasal 1341

Meskipun demikian, kreditur boleh mengajukan tidak berlakunya segala tindakan yang tidak diwajibkan
yang dilakukan oleh debitur, dengan nama apa pun juga yang merugikan kreditur; asal dibuktikan bahwa
ketika tindakan tersebut dilakukan, debitur dan orang yang dengannya atau untuknya debitur itu
bertindak, mengetahui bahwa tindakan itu mengakibatkan kerugian bagi para kreditur.

Hak-hak yang diperoleh pihak ketiga dengan itikad baik atas barang-barang yang menjadi obyek dan
tindakan yang tidak sah, harus dihormati. Untuk mengajukan batalnya tindakan yang dengan cuma-
cuma dilakukan debitur, cukuplah kreditur menunjukkan bahwa pada waktu melakukan tindakan itu
debitur mengetahui bahwa dengan cara demikian dia merugikan para kreditur, tak peduli apakah orang
yang diuntungkan juga mengetahui hal itu atau tidak.

 Contoh kasus 1: Sebuah perusahaan supplier dengan nama PT Kenanga Mulia memberikan
pinjaman kepada PT Sinar Sentosa senilai Rp100.000.000 di mana para pihak sepakat untuk
menandatangani perjanjian hutang. Atas pinjaman tersebut, PT Sinar Sentosa sepakat akan
melunasi utang tersebut paling lambat 3 bulan setelah pinjaman diberikan.  Namun, hingga
tanggal jatuh tempo, PT Sinar Sentosa tidak melakukan pembayaran sesuai kesepakatan.
Masalah di atas merupakan salah satu ruang lingkup hukum bisnis, yakni pinjam meminjam
uang di mana aturannya mengacu pada salah satu sumber hukum bisnis yaitu KUHPerdata.

 Contoh kasus 2: Adi membeli rumah kepada Budi dengan kesepakatan harga awal yaitu Rp545
juta dan Ia pun sudah membayar DP Rp 5 juta. Kemudian Budi secara sepihak menaikkan harga
jual menjadi Rp575 juta . Adi pun memutuskan untuk membatalkan membeli rumah tersebut,
namun Budi tetap tidak ingin mengembalikan ke harga awal.
Meskipun dibuat tidak tertulis perjanjian tersebut adalah perjanjian yang sah di mata
hukum. Hal ini berdasarkan Pasal 1338 KUHPerdata. Pada prinsipnya bahwa jual beli seharusnya
kembali pada harga awal yang diperjanjikan dan dianggap telah terjadi antara kedua belah
pihak, sebagaimana diatur oleh Pasal 1457 KUHPer dan 1458 KUHPerdata.