Kelompok 8 Balanced Scorecard
Kelompok 8 Balanced Scorecard
“BALANCED SCORECARD”
DOSEN PENGAMPUH : AHMAD DZUL ILMI SYARIFUDDIN, M.M.
Page | i
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahiim...
Puji syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat allah SWT karena atas
limpahan rahmat dan hidayah-Nya semata, kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “BALANCED SCORECARD”. Selawat serta salam semogah tetap tercurah
kepada baginda Rasulullah SAW, para keluarga, sahabat-sahabat dan pengikut-
pengikutnya sampai hari penghabisan.
Atas bimbingan dari dosen mata kuliah Sistem Pengendalian Manajemen dan
saran dari teman-teman maka disusunlah makalah ini, semogah dengan tersusunnya
makalah ini dapat berguna bagi kami semua dan semogah segala yang tertuang
dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun bagi pembaca.
Kami sadar dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan
dan belum sempurna. Untuk itu kami berharap akan kritik dan saran yang bersifat
membangun kepada para pembaca guna perbaikan langkah-langkah berikutnya.
Penyusun
Page | ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................................ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................... iii
BAB I .......................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
A. Tujuan Pembelajaran .................................................................................... 1
BAB II ......................................................................................................................... 2
PEMBAHASAN .......................................................................................................... 2
A. Pengertian Balanced Scorecard.................................................................... 2
B. Perspektif Keuangan dan Pelanggan ............................................................ 3
C. Perspektif Proses Bisnis Internal ................................................................... 5
D. Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan .................................................. 6
E. Penerapan Balanced Scorecard pada Perusahaan RAS .............................. 8
F. Faktor-faktor Kegagalan Balanced Scorecard ............................................. 10
BAB III ...................................................................................................................... 12
PENUTUP ................................................................................................................ 12
A. Rangkuman ................................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 15
Page | iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Tujuan Pembelajaran
Tujuan dari pembelajaran ini adalah untuk mengetahui balanced scorecard,
yang dijabarkan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui definisi balanced scorecard
2. Untuk mengetahui perspektif keuangan dan pelanggan
3. Untuk mengetahui perspektif proses bisnis internal
4. Untuk mengetahui perspektif pembelajaran dan pertumbuhan
5. Untuk mengetahui penerapan balanced scorecard pada perusahaan
RAS
6. Untuk mengetahui factor-faktor kegagalan balanced scorecard
Page | 1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Balanced Scorecard
Menurut Kaplan dan Norton (1996), Balanced Scorecard merupakan alat
pengukur kinerja eksekutif yang memerlukan ukuran komprehensif dengan empat
perspektif, yaitu perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif bisnis internal,
dan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. Sementara itu Anthony, Banker,
Kaplan, dan Young (1997) mendefinisikan Balanced Scorecard sebagai: “a
measurement and management system that views a business unit’s performance from
four perspectives: financial, customer, internal business process, and learning and
growth.” 1
Dengan demikian, Balanced Scorecard merupakan suatu alat pengukur kinerja
perusahaan yang mengukur kinerja perusahaan secara keseluruhan, baik secara
keuangan maupun nonkeuangan dengan menggunakan empat perspektif yaitu,
perspektif keuangan,perspektif pelanggan, perspektif bisnis internal, dan perspektif
pertumbuhan dan pembelajaran. Pendekatan Balance Scorecard dimaksudkan untuk
menjawab pertanyaan pokok, yaitu (Kaplan dan Norton, 1996):
1. Bagaimana penampilan perusahaan dimata para pemegang saham?
(perspektif keuangan)
2. Bagaimana pandangan para pelanggan terhadap perusahaan? (perspektif
pelanggan)
3. Apa yang menjadi keunggulan perusahaan? (perspektif bisnis internal)
4. Apa perusahaan harus terus menerus melakukan perbaikan dan menciptakan
nilai secara berkesinambungan? (perspektif pertumbuhan dan pembelajaran)
1
Kaplan, R. S. dan David P. Norton, Balance Scorecard: Menerapkan Strategi Menjadi
Aksi, Terjemahan: Pasla Yosi Peter R. (Jakarta: Erlangga, 2000).
Page | 2
dan akan datang, dan bagaimana perusahaan tersebut harus meningkatkan
kemampuan internalnya termasuk investasi pada manusia, sistem, dan prosedur yang
dibutuhkan untuk memperoleh kinerja yang lebih baik di masa mendatang. Melalui
Balanced Scorecard diharapkan bahwa pengukuran kinerja keuangan dan dapat
menjadi bagian dari sistem informasi bagi seluruh pegawai dan tingkatan dalam
organisasi. Saat ini Balance Scorecard tidak lagi dianggap sebagai pengukur kinerja,
namun telah menjadi sebuah rerangka berpikir dalam pengembangan strategi.
Page | 3
tolak ukur, yaitu memaksimumkan arus kas masuk dan pengurangan modal
kerja.
2. Perspektif Pelanggan
Filosofi manajemen terkini telah menunjukkan peningkatan pengakuan atas
pentingnya konsumen focus dan konsumen satisfaction. Perspektif ini merupakan
leading indicator. Jadi, jika pelanggan tidak puas maka mereka akan mencari
produsen lain yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Kinerja yang buruk dari
perspektif ini akan menurunkan jumlah pelanggan di masa depan meskipun saat ini
kinerja keuangan terlihat baik. Oleh Kaplan dan Norton (2001) perspektif pelanggan
dibagi menjadi dua kelompok pengukuran, yaitu: customer core measurement dan
customer value prepositions. Customer Core Measurement memiliki beberapa
komponen pengukuran, yaitu:
a) Market Share (pangsa pasar); Pengukuran ini mencerminkan bagian yang
dikuasai perusahaan atas keseluruhan pasar yang ada, yang meliputi: jumlah
pelanggan, jumlah penjualan, dan volume unit penjualan.
b) Customer Retention (retensi pelanggan); Mengukur tingkat di mana
perusahaan dapat mempertahankan hubungan dengan konsumen.
c) Customer Acquisition (akuisisi pelanggan); mengukur tingkat di mana suatu
unit bisnis mampu menarik pelanggan baru atau memenangkan bisnis baru.
d) Customer Satisfaction (kepuasan pelanggan); Menaksir tingkat kepuasan
pelanggan terkait dengan kriteria kinerja spesifik dalam value proposition.
e) Customer Profitability (profitabilitas pelanggan); mengukur keuntungan yang
diperoleh perusahaan dari penjualan produk/jasa kepada konsumen.
b) Konsumen relationship
Menyangkut perasaan pelanggan terhadap proses pembelian produk yang
ditawarkan perusahaan. Perasaan konsumen ini sangat dipengaruhi oleh
responsivitas dan komitmen perusahaan terhadap pelanggan berkaitan dengan
masalah waktu penyampaian. Waktu merupakan komponen yang penting
dalam persaingan perusahaan. Konsumen biasanya menganggap
penyelesaian order yang cepat dan tepat waktu sebagai faktor yang penting
bagi kepuasan mereka.
Page | 4
c) Image and reputasi
Menggambarkan faktor-faktor intangible yang menarik seorang konsumen
untuk berhubungan dengan perusahaan. Membangun image dan reputasi
dapat dilakukan melalui iklan dan menjaga kualitas seperti yang dijanjikan. 2
2
Ibid.
3
Gista ratna, “apa yang dimaksud dengan perspektif proses bisnis internal pada balanced scorecard”,
diakses dari https://www.ditio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-perspektif-proses-bisnis-internal-pada-
balanced-scorecard/9078, pada tanggal 18 Mei 2021 pukul 10.27.
Page | 5
besar dalam lingkup strategi. Perusahaan mungkin mengembangkan teknologi, bakat,
atau bisnis baru.
2) Proses operasi
Proses operasi adalah tempat dimana produk dan jasa diproduksi dan
disampaikan kepada pelanggan. Proses ini secara historis telah menjadi focus
sebagian besar sistem pengukuran kinerja perusahaan. Contohnya, pelaksanaan
operasi yang baik, penghematan biaya dalam berbagai proses manufaktur dan
layanan jasa tetap merupakan tujuan yang penting. Akan tetapi,keunggulan
operasional bukanlah komponen yang paling menentukan dari upaya perusahaan
dalam mencapai tujuan financial dan pelanggan. Komponen lainnya yang
menentukan adalah layanan yang diberikan kepada pelanggan setelah produksi
selesai dijalankan dan produk telah diterima oleh pelanggan.
4
Samahitawiritama, “perspektif proses bisnis internal”, diakses dari
http://samahitawirotama.com/perspektif - proses - bisnis - internal - pada - balanced - scorecard/,
pada tanggal 18 Mei 2021 pukul 10.27.
Page | 6
perspektif balanced scorecard lainnya. Dan merupakan pendorong untuk mencapai
hasil yang baik sekaligus mendorong perusahaan menjadi learning organization dan
memicu pertumbuhannya.5
5
Wardana, “balance scorecard perspekstif pembalajaran dan pertumbuha”, diakses dari
https://journal.uny.ac.id/index.php/jpakun/article/view/854, pada tanggal 18 Mei 2021 pukul 10.27.
6
Samahitawiritama, “perspektif pembelajaran dan pertumbuhan pada balanced scorecard”, diakses
dari https://samahitawirotama.com/perspektif-pembelajaran-dan-pertumbuhan-pada-balanced-
scorecard, pada tanggal 18 Mei 2021 pukul 10.27.
Page | 7
E. Penerapan Balanced Scorecard pada Perusahaan RAS
Pengukuran kinerja perusahaan menjadi sangat penting untuk mengetahui
apakah strategi yang ditetapkan oleh perusahaan berjalan dengan baik atau tidak.
Sehingga dapat diketahui pula apakah tujuan perusahaan dapat tercapai. Pengukuran
kinerja yang sering digunakan oleh banyak perusahaan adalah berdasarkan
pendekatan tradisional yaitu memandang dan menilai kinerja dari sudut keuangan,
padahal dengan semakin kompetitifnya lingkungan bisnis juga menuntut suatu
pengukuran kinerja dengan melihat aspek non keuangan perusahaan. 7 Apabila
manajer/karyawan dapat memperoleh keuntungan finansial yang tinggi maka akan
dianggap baik, dan dirasa cukup bagi manajer/karyawan untuk mendapat imbalan dari
perusahaan. Penilaian kinerja perusahaan yang hanya menitikberatkan pada sisi
keuangan bisa tidak mampu menjelaskan kondisi aktual perusahaan, karena tidak
mempertimbangkan aspek penting selain aspek keuangan. Agar semua itu dapat
tercapai, maka diperlukan prestasi atau kinerja yang baik dari manajer/karyawan.
Selain itu, cara untuk menilai prestasi atau kinerja manajer/karyawan adalah dengan
menggunakan Balanced Scorecard (BSC). Apabila para manajer/karyawan bekerja
dengan kinerja yang tinggi, maka perusahaan akan dapat mencapai tujuannya secara
optimal.
7
Hansen dan Mowen, Manajemen Keuangan, (Jakarta: Salemba Empat, 2005), hlm. 99.
8
Nafarin, Akuntansi Manajemen Edisi 3, (Jakarta: Salemba Empat, 2007), hlm. 101.
9
Azhar Susanto, Sistem Informasi Akuntansi, (Jakarta: Gramedia, 2008), hlm. 77.
Page | 8
daya alam menjadi wilayah utama operasi perusahaan, dengan pengembangan
layanan ke pulau-pulau lainnya seperti Sumatra dan Jawa. Bekerja sama dengan
perusahaan-perusahaan terkemuka, perusahaan turut serta mengembangkan dunia
perindustrian Indonesia. Dalam melaksanakan aktivitas operasi, perusahaan terus
berupaya untuk meningkatkan kinerja. Sebagai upaya untuk mempertahankan kinerja
yang telah dicapai dan untuk menghadapi tantangan di tahun mendatang, perusahaan
menetapkan serangkaian strategi. Strategi tersebut yaitu berfokus pada peningkatan
efisiensi operasional sehingga dapat mengoptimalkan nilai perusahaan. Hal itu
membuat pengukuran kinerja menjadi aspek yang sangat penting bagi perusahaan
dalam upaya mencapai tujuannya.
10
Penerapan Balanced Scorecard sebagai Tolok Ukur Pengukuran kinerja (Studi Kasus Pada RSUD
Tugurejo Semarang) Aurora, N. 2010.
Page | 9
Dalam perspektif pelanggan didapatkan kesimpulan yaitu tolak ukur Customer
Profitability menunjukkan kinerja perusahaan menurun, karena keuntungan yang
berhasil dicapai PT Cahaya Sakti Gemilang dari pendapatan penjualan yang 22
ditawarkan kepada pelanggan mengalami penurunan. Sales Growth menunjukkan
kinerja perusahaan sudah cukup baik karena di tahun 2015 dan 2016 sudah
menunjukkan tren positif dibanding periode sebelumnya. Kemudian perspektif proses
bisnis internal dan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran menunjukan kinerja
perusahaan PT Cahaya Sakti Gemilang sudah cukup baik dalam beroperasi dan
melatih karyawannya dalam memenuhi pengembangan sistem informasi perusahaan.
Jadi PT CSG dilihat dari empat perspektif BSC memperlihatkan adanya peningkatkan
dari operasinya yang membuat perusahaan bertumbuh dan belajar untuk
meningkatkan asset perusahaan. PT CSG dapat maju dan berkembang melalui
inovasi-inovasi perusahaan yang mampu membuat kinerja keuangan pun setiap
tahunnya semakin meningkat untuk pencapaian visi dan misi perusahaan.
Page | 10
Tidak adanya sistem deployment yang terintegrasi dari level top - down dan sub
process level dimana sebenarnya actual improvement activities terjadi.
Tidak adanya metode dan sistem improvement yang baku dalam penerapan BSC.
Tidak adanya dan tidak mampunya membuat quantitative linkage antara non
keuangan dan keuangan.
Page | 11
BAB III
PENUTUP
A. Rangkuman
1. Pengertian Balanced Scorecard
Menurut Kaplan dan Norton (1996), Balanced Scorecard merupakan
alat pengukur kinerja eksekutif yang memerlukan ukuran komprehensif dengan
empat perspektif, yaitu perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif
bisnis internal, dan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. Sementara itu
Anthony, Banker, Kaplan, dan Young (1997) mendefinisikan Balanced
Scorecard sebagai: “a measurement and management system that views a
business unit’s performance from four perspectives: financial, customer,
internal business process, and learning and growth.”
Page | 12
Exploiting strategic advantages
Developing new capabilities
Creating revolutionary change
2) Proses operasi
3) Proses pengaturan dan sosial
Page | 13
Ringkas dan mudah dipahami.
Dapat didokumentasikan, konsisten, bertahap, dan dijabarkan
secara operasional.
Sesuai dan accessible bagi operator dan user.
Terhubung dengan sistem data yang dapat menjelaskan sebab
dan akibat.
Memiliki proses formal untuk review dan modifikasi.
Terjadi “negosiasi” dalam penentuan improvement goal dan tidak
berdasarkan stakeholder requirement, fundamental process limits dan
improvement process capabilities.
Tidak adanya sistem deployment yang terintegrasi dari level top - down
dan sub process level dimana sebenarnya actual improvement activities
terjadi.
Tidak adanya metode dan sistem improvement yang baku dalam
penerapan BSC.
Tidak adanya dan tidak mampunya membuat quantitative linkage antara
non keuangan dan keuangan.
Page | 14
DAFTAR PUSTAKA
1
Kaplan, R. S. dan David P. Norton, Balance Scorecard: Menerapkan Strategi
Menjadi Aksi, Terjemahan: Pasla Yosi Peter R. (Jakarta: Erlangga, 2000).
2
Ibid.
3
Gista ratna, “apa yang dimaksud dengan perspektif proses bisnis internal pada
balanced scorecard”, diakses dari https://www.ditio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-
perspektif-proses-bisnis-internal-pada-balanced-scorecard/9078, pada tanggal 18
Mei 2021 pukul 10.27.
4
Samahitawiritama, “perspektif proses bisnis internal”, diakses dari
http://samahitawirotama.com/perspektif-proses-bisnis-internal-pada-balanced-
scorecard/, pada tanggal 18 Mei 2021 pukul 10.27.
5
Wardana, “balance scorecard perspekstif pembalajaran dan pertumbuha”, diakses
dari https://journal.uny.ac.id/index.php/jpakun/article/view/854, pada tanggal 18 Mei
2021 pukul 10.27.
6
Samahitawiritama, “perspektif pembelajaran dan pertumbuhan pada balanced
scorecard”, diakses dari https://samahitawirotama.com/perspektif-pembelajaran-dan-
pertumbuhan-pada-balanced-scorecard, pada tanggal 18 Mei 2021 pukul 10.27.
7
Hansen dan Mowen, Manajemen Keuangan, (Jakarta: Salemba Empat, 2005), hlm.
99.
8
Nafarin, Akuntansi Manajemen Edisi 3, (Jakarta: Salemba Empat, 2007), hlm. 101.
9
Azhar Susanto, Sistem Informasi Akuntansi, (Jakarta: Gramedia, 2008), hlm. 77.
10
Penerapan Balanced Scorecard sebagai Tolok Ukur Pengukuran kinerja (Studi
Kasus Pada RSUD Tugurejo Semarang) Aurora, N. 2010.
Page | 15