Askep TBC
Askep TBC
TB PARU
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran KMB I dosen
Disusun Oleh :
Eka MustikaSari
Faddila Apriliyanti
Florentina Lenni Simanjorang
Retno Herdianti
Silvi Ariesta Junaedi
Warsudin
KATA PENGANTAR
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum 2
2. Tujuan Khusus 3
C. Manfaat Penulisan
1. Bagi Instansi Pendidikan 3
2. Bagi Mahasiswa Keperawatan 3
A. Definisi TBC 4
B. Etiologi TBC 4
C. Manifestasi Klinis TBC 5
D. Klasifikasi TBC 7
E. Pathway TBC 8
F. Pemeriksaan Diagnostik TBC 10
G. Komplikasi TBC 12
H. Penatalaksanaan Klinis TBC 13
I. Pengkajian Keperawatan 17
J. Analisa Data 26
K. Diagnosa Keperawatan 32
L. Perencanaan Keperawatan 33
M. Implementasi 45
N. Evaluasi 45
iii
A. Pengkajian 47
B. Analisa Data 50
C. Diagnosa Keperawatan 52
D. Perencanaan 53
BAB IV PEMBAHASAN
A. Pengkajian Keperawatan 60
B. Diagnosa keperawatan 61
C. Intervensi Keperawatan 63
A. Simpulan 66
B. Saran 66
Daftar Pustaka
Lampiran - Lampiran
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit Tuberculosis Paru (TBC) merupakan penyakit yang
masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat terutama di negara
berkembang. Dengan masuknya kuman Tuberculosis Paru maka akan
menginfeksi saluran nafas bawah dan dapat menimbulkan terjadinya batuk
produktif dan darah (Pribadi, 2018). Diperkirakan 95% kasus TB dan 98%
kematian akibat TB di dunia. Sedangkan 75% kasus kematian dan
kesakitan di masyarakat diderita oleh orang – orang pada umur produktif
dari usia 15 – 54 tahun (Lanus, Suyani, & dkk, 2014). Penyakit ini bila
tidak diobati atau pengobatannya tidak tuntas dapat menimbulkan
komplikasi berbahaya hingga menyebabkan kematian. Komplikasi
tuberkulosis seperti halnya emfisema, efusi pleura pada komplikasi dini
dan Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis (SPOT), sindrom gagal nafas
dewasa pada komplikasi lanjut (Pratikanya, 2017).
Laporan WHO pada tahun 2015 dalam jurnal Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas menyebutkan terdapat 9,6 juta kasus TB Paru di dunia
dan 55% kasus terjadi di daerah Asia Tenggara dan Afrika. Tiga negara
dengan insidensi kasus terbanyak tahun 2015 yaitu India (23%), Indonesia
(10%), dan china (10%).
Indonesia sekarang berada pada rangking kedua negara dengan
beban TB tertinggi di dunia. Pada tahun 2014 ditemukan jumlah kasus
baru BTA positif sebanyak 176,677 kasus, menurun bila dibandingkan
kasus BTA positif yang ditemukan tahun 2013 sebanyak 193.310 kasus.
Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 272 per 100.000
penduduk dengan estimasi 2 berjumlah 183 per 100.000 penduduk. Jumlah
kematian akibat TB diperkirakan 25 per 100.000 kematian (Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia, 2014).
2
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Memahami konsep dasar teori dan asuhan keperawatan pada pasien
TB paru.
3
2. Tujuan Khusus
a. Mampu mengidentifikasi pengkajian keperawatan pasien dengan
TB Paru.
b. Mampu menentukan diagnosa keperawatan dengan masalah TB
Paru.
c. Mampu mendeskripsikan rencana asuhan keperawatan pada pasien
dengan TB Paru.
d. Mampu melakukan tindakan keperawatan pada pasien dengan
masalah TB Paru.
e. Mampu melakukan evaluasi tindakan keperawatan pada pasien
dengan masalah TB Paru.
C. Manfaat Penulisan
1. Bagi Instansi Pendidikan
Asuhan keperawatan medikal bedah dapat menjadi bahan
pertimbangan dalam proses pembelajaran dan perkembangan ilmu
keperawatan khususnya pada pasien TB Paru.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Definisi TBC
B. Etiologi TBC
1. Demam
2. Batuk
3. Sesak Nafas
4. Nyeri Dada
5. Malaise
D. Klasifikasi TBC
1. Tuberkulosis paru
Tuberculosis Paru adalah kuman mikrobakterium tuberkuloso yang
menyerang jaringan paru-paru. Tuberculosis paru dibedakan menjadi
dua macam yaitu:
a. Tuberculosis paru BTA posistif (sangat menular).
1) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 pemeriksaan dahak, memberikan
hasil yang positif.
2) Satu periksaan dahak memberikan hasil yang positif dan foto
rontgen dada menunjukan Tuberkulosis aktif.
E. Pathway TBC
Individu terinfeksi melalui droplet nuclei dari pasien TB paru
ketika pasien batuk, bersin, tertawa. Droplet nuclei ini mengandung basil
TB dan ukurannya kurang dari 5 mikron dan akan melayang-layang di
udara. Droplet nuclei ini mengandung basil TB. Saat Mikobakterium
tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segera akan
tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular. Biasanya melalui
serangkaian reaksi imunologis bakteri TB paru ini akan berusaha dihambat
melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru.
Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya
menjadi jaringan parut dan bakteri TB paru akan menjadi dormant
(istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai
tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen. Sistem imun tubuh berespon
dengan melakukan reaksi inflamasi.
Fagosit (neutrofil dan makrofag) menelan banyak bakteri;
limpospesifik-tubercolosis melisis (menghancurkan) basil dan jaringan
normal. Reaksi jaringan ini mengakibatkan penumpukan eksudat dalam
alveoli, menyebabkan bronkopneumonia dan infeksi awal terjadi dalam 2-
10 minggu setelah pemajanan. Massa jaringan paru yang disebut
granulomas merupakan gumpalan basil yang masih hidup. Granulomas
diubah menjadi massa jaringan jaringan fibrosa, bagian sentral dari massa
fibrosa ini disebut tuberkel ghon dan menajdi nekrotik membentuk massa
seperti keju. Massa ini dapat mengalami klasifikasi, membentuk skar
kolagenosa. Bakteri menjadi dorman, tanpa perkembangan penyakit aktif.
Setelah pemajanan dan infeksi awal, individu dapat mengalami penyakit
aktif karena gangguan atau respon yang inadekuat dari respon sistem
imun. Penyakit dapat juga aktif dengan infeksi ulang dan aktivasi bakteri
dorman. Dalam kasus ini, tuberkel ghon memecah melepaskan bahan
seperti keju dalam bronki. Bakteri kemudian menjadi tersebar di udara,
mengakibatkan penyebaran penyakit lebih jauh. Tuberkel yang menyerah
menyembuh membentuk jaringan parut. Paru yang terinfeksi menjadi lebih
9
4. Rontgen : Foto PA
Pada sebagian besar TB paru, diagnosis terutama
ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak
memerlukan foto toraks. Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan
foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut :
a. Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Pada
kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk
mendukung diagnosis TB paru BTA positif.
b. Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen
dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif
dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non
OAT(non fluoroquinolon).
c. Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat
yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak,
pleuritis eksudativa, efusi perikarditis atau efusi pleural) dan
pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan
bronkiektasis atau aspergiloma) (Werdhani, 2002)
d. Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Pada
kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk
mendukung diagnosis TB paru BTA positif.
e. Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen
dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif
dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non
OAT(non fluoroquinolon).
f. Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat
yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak,
pleuritis eksudativa, efusi perikarditis atau efusi pleural) dan
pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan
bronkiektasis atau aspergiloma) (Werdhani, 2002)
12
G. Komplikasi TBC
Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut (Abd.Wahit &
Suprapto, 2013) dan (Manurung, 2013) :
paru.
6. Mal nutrisi.
7. Efusi pleura.
c. Pengobatan tuberculosis.
Terbagi menjadi 2 fase:fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan 4
atau 7 bulan. Jenis obat anti tuberculosis :
1) Jenis obat utama yang digunakan adalah :
a) Rifampisin
b) INH
c) Pirazinamid
d) Steptomisin
e) Etambutol
2) Kombinasi dosis tetap
Kombinasi dosis tetap ini terdiri dari 4 obat antituberkulosis
yaitu rifamsinin, INH, pirazinamid dan etambutol dan 3 obat
antituberkulosis, yaitu rifampisin, INH dan pirazinamid.
3) Jenis obat tambahan lainnya.
a) Kanamisin
b) Kuinolon
c) Obat lain masih dalam penelitian : makrolid, amaksilin,
asam klavulanat
d) Deviyat rimfampisin dan INH
2. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Penerapan batuk efektif dan fisioterapi dada pada pasien TB paru
yang mengalami ketidakefektifan bersihan jalan nafas mampu
meningkatkan pengeluaran sekret. Disarankan untuk menerapkan
latihan batuk efektif dan fisioterapi dada bagi pasien TB Paru
dengan masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas
sebagai tindakan mandiri keperawatan(Sitorus, Lubis, & dkk,
2018).
15
I. Pengkajian Keperawatan
1. Identitas
Penyakit tuberculosis dapat menyerang manusia mulai dari usia
anak sampai dewasa dengan perbandingan yang hampir sama antara
laki-laki dan perempuan. Penyakit ini biasanya banyak ditemukan pada
pasien yang tinggal di daerah dengan tingkat kepadatan tinggi,
sehingga masuknya cahaya matahari ke dalam rumah sangat minim
(Wahid & Suprapto, 2013).
2. Keluhan Utama
Tuberkulosis dijuluki the great imitator, suatu penyakit
yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang
juga memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. Pada
sejumlah pasien yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan
kadang-kadang asimptomatik (Muttaqin, 2008)
Keluhan yang sering menyebabkan pasien dengan TB paru
meminta pertolongan dari tim kesehatan dapat dibagi menjadi dua
golongan, yaitu (Muttaqin, 2008):
a. Keluhan Respiratori, meliputi :
1) Batuk
Keluhan batuk, timbul paling awal dan merupakan
gangguan yang paling sering dikeluhkan. Perawat harus
menanyakan apakah keluhan batuk bersifat
nonproduktif/produktif atau sputum bercampur darah
(Muttaqin, 2008).
2) Batuk Darah
Keluhan batuk darah pada klien dengan TB paru selalu
menjadi alasan utama klien untuk meminta pertolongan
kesehatan. Hal ini disebabkan rasa takut klien pada darah
yang keluar dari jalan napas. Perawat harus menanyakan
seberapa banyak darah yang keluar atau hanya berupa
18
b. Pemeriksaan Fisik
1) Head To Toe
a) Kepala
Kaji kulit kepala bersih atau tidak, ada benjolan atau tidak,
simetris atau tidak. (Muttaqin, 2008).
b) Rambut
Kaji pertumbuhan rata/tidak, rontok, warna rambut
(Muttaqin, 2008).
c) Wajah
Kaji warna kulit, struktur wajah simetris/tidak (Muttaqin,
2008).
d) Sistem Penglihatan
Kaji kesimetrisan mata, conjungtiva anemis/tidak, sclera
ikterik/tidak (Muttaqin, 2008).
e) Wicara dan THT
- Wicara
Kaji fungsi wicara, perubahan suara, afasia, dysfonia
- THT
Inspeksi hidung : Kaji adanya obtruksi/tidak,
simetris/tidak, ada secret/tidak.
Telinga : Kaji telinga luar bersih/tidak,
membran tympani, ada secret/tidak
Palpasi : Kaji THT ada/tidak nyeri tekan lokasi
dan penjalaran.
23
2) Persistem
a) Sistem Pernafasan B1 (Breathing)
Pemeriksaan fisik pada pasien TB paru merupakan
pemeriksaan fokus yang terdiri atas inspeksi, palpasi,
perkusi, auskultasi (Muttaqin, 2008) :
- Palpasi
Palpasi trakea. Adanya pergeseran trakea
menunjukkan- meskipuntetapi tidak spesifik-penyakit
dari lobus atas paru. Pada Tb paru disertai adanya efusi
pleura masif dan pneumothoraks akan mendorong
posisi trakea ke arah berlawanan dari sisi sakit.
Gerakan dinding thorak anterior/ekskrusi
pernapasan. TB paru tanpa komplikasi pada saat
dilakukan palpasi, gerakan dada saat bernapas biasanya
normal dan seimbang antara bagian kanan dan kiri.
Adanya penurunan gerakan dinding pernapasan
biasanya ditemukan pada klien TB paru dengan
kerusakan parenkim paru yang luas.
Gertaran suara (fremitus vokal). Getaran yang terasa
ketika perawat meletakkan tangannya di dada pasien
saat pasien berbicara adalah bunyi yang dibangkitkan
oleh penjalaran dalam laring arah distal sepanjang
pohon bronkial untuk membuat dinding dada dalam
gerakan resonan, terutama pada bunyi konsonan.
Kapasitas untuk merasakan bunyi pada dinding dada
disebut taktil fremitus. Adanya penurunan taktil
fremitus pada pasien dengan TB paru biasanya
ditemukan pada pasien yang disertai komplikasi efusi
pleura masif, sehingga hantaran suara menurun karena
transmisi getaran suara harus melewati cairan yang
berakumulasi di rongga pleura (Muttaqin, 2008).
24
- Perkusi
Pada pasien dengan TB paru minimal tanpa
komplikasi, biasanya akan didapatkan bunyi resonan
atau sonor pada seluruh lapang paru. Pada pasien
dengan TB paru yang disertai komplikasi seperti efusi
pleura akan di dapatkan bunyi redup sampai pekak
pada sisi yang sakit sesuai banyaknya akumulasi cairan
dirongga pleura. Apabila disertai pneumothoraks, maka
di dapatkan bunyi hiperresonan terutama jika
pneumothoraks ventil yang mendorong posisi paru ke
sisi yang sehat (Muttaqin, 2008).
- Auskultasi
Pada pasiien dengan TB paru didapatkan bunyi
napas tambahan (ronchi) pada sisi yang sakit. Penting
bagi perawat pemeriksa untuk mendokumentasikan
hasil auskultasi di daerah mana di dapatkan bunyi
ronchi. Bunyi yang terdengar melalaui stetoskop ketika
klien berbicara disebut sebagai resonan vokal. Pasien
dengan TB paru yang disertai komplikasi seperti efusi
pleura dan pneumothoraks akan didapatkan penurunan
resonan vokal pada sisi yang sakit (Muttaqin, 2008).
b) Sistem Kardiovaskular B2 (Blood)
Pada pasien dengan TB paru pengkajian yang didapat
meliputi:
- Inspeksi : Inspeksi adanya parut dan kelemahan fisik.
- Palpasi : Denyut nadi perifer melemah.
- Perkusi : Batas jantung mengalami pergeseran pada
TB paru dengan efusi pleura massif mendorong ke sisi
sehat.
25
- Inspeksi
Kaji warna kulit, edema/tidak, eritmea.
- Palpasi
Kaji CRT normal/tidak, perubahan akral, turgor kulit,
nyeri tekan, clubbing finger.
g) Sistem Endokrin
Kaji terjadinya pembesaran kelenjar thyroid, palpitasi,
exopthalmmus, neuropati, retinopati (Muttaqin, 2008).
J. Analisa Data
Sesak napas
- Sariawan
- Serum albumin
turun
- Rambut Rontok
Berlebihan
- Diare
4. Ds : Mycrobacterium Hipertermi
Do : Tuberculosis
- Suhu Tubuh
diatas nilai Droplet
Normal
- Terlihat kulit Menetap di udara
merah
- Takikardi Terhirup
- Takipnea
- Kulit terasa Menempel di jalan napas
hangat
Inflamasi
Merangsang hipotalamus
sehingga suhu tubuh
meningkat
hipertermi
Tidur Terganggu
K. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan adalah keputusan klinis mengenai
seseorang, keluarga, atau, masyarakat sebagai akibat dari masalah
kesehatan atau proses kehidupan yang aktual atau potensial. Diagnosa
keperawatan merupakan dasar dalam penyusunan rencana tindakan asuhan
keperawatan. Diagnosis keperawatan sejalan dengan diagnosa medis sebab
dalam mengumpulkan data –data saat melakukan pengkajian keperawatan
yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosa keperawatan ditinjau dari
keadaan penyakit dalam diagnosa medis.
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, diagnosa yang termuat
dalam standar ini diurutkan sesuai dengan kategori dan subkategori
diagnosis keperawatan. Diagnosis-diagnosis keperawatan yang berada
dalam satu subkategori diurutkan secara alfabetis untuk memudahkan
pencarian diagnosis keperawatan dalam satu subkategori yang akan
dirujuk. Terdapat 5 Kategori dan 14 Subkategori Diagnosis Keperawatan,
Fisiologis, Psikologis, Prilaku, Relasional, Lingkungan.
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi
jalan napas (D.0149)
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas
(mis. Nyeri saat bernafas, kelemahan otot pernafasan). (D.0005)
3. Defisit nutrisi berhubungan dengan Kurangnya Peningkatan
kebutuhan metabolisme. (D.0019)
4. Hipertemi berhubungan dengan proses penyakit (mis. Infesi, kanker)
ditandai dengan suhu tubuh diatas nilai normal. (D.0130)
5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan imobilitas. (D.0056)
6. Gangguan Pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan
(misalnya lingkungan / Tindakan). ( D. 0055)
33
L. Perencanaan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan TUJUAN Intervensi
No
(SDKI) (SLKI) (SIKI)
1. Bersihan jalan nafas tidak Setelah dilakukan intervensi selama ....x, Latihan batuk efektif
efektif berhubungan dengan maka bersihan jalan napas meningkat Tindakan :
hipersekresi nafas Dengan kriteria hasil : 1. Observasi :
Batuk efektif meningkat(5) - Identifikasi kemampuan batuk.
Produksi sputum menurun (5) - Monitor adanya retensi sputum.
Mengi menurun (5) - Monitor tanda dan gejala.
Wheezing menurun (5) - infeksi saluran nafas.
Dispnea menurun (5) - Monitor input dan aoutput
Ortopnea menurun (5) cairan, (mis. Jumlah dan
Sulit bicara menurun (5) karakteristik).
Sianosis menurun (5) 2. Terapeutik
Gelisah menurun (5) - Atur posisi semi fowler atau
Frekuensi nafas membaik(5) fowler.
Pola nafas membaik (5) - Pasang perlak dan bengkok di
pangkuan pasien.
34
2. Pola nafas tidak efektif Setelah dilakukan intervensi selama ....x, Manajemen jalan napas
berhubungan dengan maka pola napas membaik Dengan 1. Observasi :
hambatan upaya nafas (mis. kriteria hasil : - Monitor pola napas (frekuensi,
Nyeri saat bernafas, Ventilasi semenit meningkat (5) kedalaman, usaha napas)
kelemahan otot pernafasan) Kapasitas vital meningkat (5) - Monitor bunyi napas tambahan
(D.0005) Diameter thoraks anterior-posterior (mis. Gurgling, mengi, wheezing,
meningkat (5) ronkhi, kering)
Tekanan ekspirasi meningkat (5) - Monitor sputum (jumlah, warna,
Tekaranan inspirasi memingkat (5) aroma).
Dispnea menurun (5) 2. Terapeutik :
Penggunaan otot bantu napas - Pertahankan kepatenan jalan napas
menurun (5) dengan head-titt dan chin-lift (jaw-
Pemanjangan fase ekspirasi menurun trust jika curiga trauma servikal)
(5) - Posisikan semi fowler
Ortopnea menurun (5) - Berikan minum hangat
Pernapasan persed-lip menurun (5) - Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
Pernapasan cuping hidung menurun - Lakukan penghisapan lendir
(5) kurang dari 15 detik.
Frekuensi napas membaik (5) - Lakukan hiperoksigenasi sebelum
36
3. Edukasi
- Jelaskan pentingnya waktu tidur
selama sakit.
- Anjurkan menetapi kebiasaan
waktu tidur.
- Anjurkan menghindari makanan
atau minuman yang mengganggu
waktu tidur.
- Anjurkan penggunaan obat tidur
yang tidak mengandung supressor
terhadap tidur REM.
- Ajarkan faktor-faktor yang
berkontribusi terhadap gangguan
pola tidur (mis. Psikologis, gaya
hidup, sering berubah shift
bekerja)
- Ajarkan relaksasi otot autogenik
atau cara nonfarmakologi lainnya.
45
M. Implementasi
Implementasi adalah pelaksanaan dari rencana keperawatan untuk
mencapai tujuan yang spesifik. Tahap implementasi dimulai setelah
rencana keperawatan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk
membantu pasien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu,
rencana keperawatan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan pasien. Tujuan dari
implementasi adalah membantu pasien dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit,
pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping. Perencanaan keperawatan
lain dapat dilaksanakan dengan baik jika pasien mempunyai keinginan
untuk berpartisispasi dalam implementasi keperawatan (Nursalam, 2009).
N. Evaluasi
Evaluasi merupakan suatu proses kontinu yang terjadi saat anda
melakukan kontak dengan pasien. Setelah melaksanakan intervensi,
kumpulkan data subjektif dan objektif dari pasien, keluarga, dan anggota
tim kesehatan. Selain itu, anda juga meninjau ulang pengetahuan tentang
status terbaru dari kondisi, terapi, sumber daya pemulihan, dan hasil yang
diharapkan. Anda dapat mengevaluasi pasien secara lebih baik. Jika hasil
telah dipenuhi, berarti tujuan untuk pasien juga telah terpenuhi.
Bandingkan perilaku dan respon pasien sebelum dan setelah dilakukan
asuhan keperawatan. Bisa disimpulkan bahwa langkah- langkah evaluasi
sebagai berikut:
1. Daftar tujuan pasien.
2. Lakukan pengkajian apakah pasien dapat melakukan sesuatu.
3. Bandingkan antara tujuan dan kemampuan pasien.
4. Diskusikan dengan pasien atau keluarga, apakah tujuan dapat tercapai
atau tidak.
46
BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
1. Identitas Pasien
- Nama pasien : Tn. L
- Umur : 54 tahun
- Jenis Kelamin : Laki-Laki
2. Riwayat Kesehatan
a. Alasan masuk rumah sakit
Pasien sehari sebelumnya sedang melakukan aktivitas di
sore hari, tiba-tiba pasien merasakan sesak nafas seperti tidak biasa
bernafas seperti ada dahak yang menghalangi jalan nafasnya. Pada
malam harinya pasien mengalami demam tinggi dan membeli obat
warung untuk menurunkan panasnya. Karena makin sesak pasien
dibawa ke PKM, dan PKM tidak memiliki alat pemeriksaan
akhirnya di rujuk ke RS.
b. Keluhan Utama
Sesak
3. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
- Penampilan : Pasien tampak sesak
- Kesehatan : Composmetis
- GCS : 15, E = 4 , V=5, M=6
c. Sistem Pernafasan
Bentuk hidung proposional, lubang hidung simetris,
terdapat pernafasan cuping hidung (+), retraksi intercostal (+),
pasien terpasang WSD di dada sebelah kanan yaitu bagian basal
paru posteolateral intercosta 8-9, nafas dangkal, traktil fremitus
kanan dan kiri tidak sama, hipersonal.
d. Sistem Pencernaan
Penurunan nafsu makan (+)
e. Sistem Kardiovaskuler
Akral terasa dingin , CRT >3 detik, TD 130/80 mmhg , N : 68
x/menit.
49
f. Sistem Integumen
Turgor kulit jelek
g. Sistem Perkemihan
Tidak ada keluhan
h. Sistem Muskuloskeletal
Pergerakan Terbatas (+)
4. Data Penunjang
a. Data Penunjang Lab
No Nama Test Hasil Unit Nilai Nomal
1. Hematologi
- Hemoglobin 12,7 g/dl 13.0~16.0
- Leucosit 10.710 /mm3 4,000~10,000
- LED 1 Jam 20 mm/jam 0~15
- LED 2 Jam 55 mm/jam 0~15
2. BTA Positif Negative
Bakteri
(+)
B. Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
1. Ds : Mycrobacterium Pola napas tidak
tubercylosis efektif
Pasien mengeluh sesak
Droplet
Do : Menetap di udara
- Terdapat Terhirup
pernafasan cuping
Menempel di jalan
hidung (+) napas
- Retraksi Intercostal
Iritasi pada pleura
(+)
Cairan dalam pleura
- Pasien terpasang
WSD di dada Menekan paru-paru
Suplai O2 kejaringan
Do :
menurun
- Sesak
Kelelahan
- Terpasang wsd
51
Impuls
Ditransfer ke
medula spinalis
melalui radik
dorsalis
Thalamus
Kortek serebri
Persepsi nyeri
Merangsang RAS
Tidur Terganggu
Gangguan Istirahat
Tidur
C. Diagnosa Keperawatan
1. Pola Nafas Tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas.
2. Risiko intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan pernafasan.
3. Gangguan Pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan
(misalnya lingkungan / Tindakan).
53
D. Perencanaan
Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi
No
(SDKI) (SLKI) (SIKI)
1. Pola nafas tidak efektif Setelah dilakukan intervensi selama 3 Manajemen jalan napas
berhubungan dengan hambatan x 24 Jam, maka pola napas membaik 1. Observasi :
upaya nafas (mis. Nyeri saat Dengan kriteria hasil : - Monitor pola napas (frekuensi,
bernafas, kelemahan otot Ventilasi semenit meningkat (5) kedalaman, usaha napas)
pernafasan) Kapasitas vital meningkat (5) - Monitor bunyi napas tambahan (mis.
(D.0005) Diameter thoraks anterior- Gurgling, mengi, wheezing, ronkhi,
posterior meningkat (5) kering)
Tekanan ekspirasi meningkat (5) - Monitor sputum (jumlah, warna,
Tekaranan inspirasi memingkat aroma).
(5) 2. Terapeutik :
Dispnea menurun (5) - Pertahankan kepatenan jalan napas
Penggunaan otot bantu napas dengan head-titt dan chin-lift (jaw-
menurun (5) trust jika curiga trauma servikal)
Pemanjangan fase ekspirasi - Posisikan semi fowler
menurun (5) - Berikan minum hangat
Ortopnea menurun (5) - Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
54
3. Edukasi
- Anjurkan tirah baring.
- Anjurkan melakukan aktifitas
secara bertahap.
- Anjurkan menghubungi perawat
jika tanda dan gejala kelelahan
tidak berkurang.
- Ajarkan strategi koping untuk
mengurangi kelelahan
4. Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli gizi tentang
cara meningkatkan asupan makanan.
3. Gangguan Pola tidur Setelah dilakukan intervensi selama 3 Dukungan Tidur
berhubungan dengan hambatan x 24 jam, maka gangguan pola tidur Tindakan
lingkungan (misalnya dapat meningkat, Dengan kriteria 1. Observasi
lingkungan / Tindakan) hasil : - Identifikasi pola aktivitas dan
(D.0055) Keluhan sulit tidur menurun tidur.
(1) - Identifikasi faktor penggangu
Keluhan sering Terjaga tidur (Fisik/Psikologis).
57
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Pengkajian Keperawatan
Pada tahap pengkajian penulis mengacu pada format yang telah
disediakan tidak jauh berbeda dengan format yang ada ditinjauan teoritis.
Dalam pengumpulan data, penulis melakukan pengkajian secara
komperehensif yang mengacu pada tinjauan teoritis dan melihat dari kondisi
pasien. Data hasil pengkajian penulis mendapatkan dari kasus yang ada,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, status kesehatan pasien yang
dipaparkan dalam contoh kasus.
Dari hasil pengkajian yang diperoleh penyebab pasien menderita TB
Paru dari Mycobacterium Tuberculosis hal ini dibuktikan dengan adanya
pasien mengalami batuk produktif sudah ± 2 bulan, hasil pemeriksaan
labolatorium, leukocyte pasien 10,710 ditandai adanya infeksi, dan hasil BTA
positip adanya bakteri. Dimana faktor usia juga pasien merupakan kelompok
lansia yang rentan secara imun sehingga mudah terkena infeksi. Data ini telah
mendukung untuk ditegakkan diagnose TB Paru. Hal ini ini dijelaskan, bahwa
61
salah satu penyebab klien menderita penyakit TB Paru adalah batuk produktif
yang dialami klien selama ± 2 bulan.
Manifestasi klinis yang ditemukan pada pasien diantaranya adalah batuk
produktif. Batuk produkrif ± 2 bulan, mengalami demam dimalam hari,
adanya penurunan nafsu makan juga bisa terjadi karena produksi sekret yang
banyak. Pada pengkajian pasien tidak ditemukan demam, secara
berkelanjutan dikarenakan TB merupakan jenis infeksi kronis sehingga
adanya sesak, demam tidak terjadi secara terus menerus.
Hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang didapatkan data
objektif : tekanan darah 130/80mmHg. Nadi 68x/menit, RR 28x/mnt, S
36,70c, pernafasan cuping hidung(+), retraksi intercostal(+), pasien terpasang
WSD di dada sebelah kanan yaitu bagian basal paru postero lateral interkosta
ke 8-9, nafas dangkal, taktil fremitus kanan dan kiri tidak sama, hipersonan,
capillary rime>3detik, turgor kulit jelek, akral teraba dingin, penurunan nafsu
makan(+), pergerakan terbatas karena sesak nafas. Pada pemeriksaan
penunjang Pada pemeriksaan penunjang didapatkan data leukosit klien
10.710 mm3, HB 12,7g/dl, LED 1 jam 20 mm/jam, LED 2 jam 55 mm/jam,
pada pemeriksaan BTA positif adanya bacteri.
B. Diagnosa keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien
dengan TBC Paru sebagai berikut :
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi jalan
napas (D.0149).
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas (mis.
Nyeri saat bernafas, kelemahan otot pernafasan). (D.0005).
3. Defisit nutrisi berhubungan dengan Kurangnya Peningkatan kebutuhan
metabolisme. (D.0019).
4. Hipertemi berhubungan dengan proses penyakit (mis. Infesi, kanker)
ditandai dengan suhu tubuh diatas nilai normal. (D.0130).
5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan imobilitas. (D.0056).
62
C. Intervensi Keperawatan
Tahap ini penulis menyusun rencana tindakan sesuai dengan
permasalahan yang muncul pada pasien. Adapun intervensi tersebut dapat
dipaparkan sebagai berikut :
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas (mis.
Nyeri saat bernafas, kelemahan otot pernafasan). (D.0005) :
Manajemen jalan napas
a. Observasi :
- Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas).
- Monitor bunyi napas tambahan (mis. Gurgling, mengi,
wheezing, ronkhi, kering).
- Monitor sputum (jumlah, warna, aroma).
b. Terapeutik :
- Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-titt dan chin-
lift (jaw-trust jika curiga trauma servikal).
- Posisikan semi fowler.
- Berikan minum hangat.
- Lakukan fisioterapi dada, jika perlu.
- Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik.
- Lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan endotrakeal.
- Keluarkan sumbatan benda padat dengan forcep McGill.
- Berika oksigen, jika perlu.
c. Edukasi
- Anjurkan asupan cairan 2000ml/hari, jika tidak
kontraindikasi.
- Ajarkan teknik batuk efektif.
d. Kolaborasi
Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika
perlu.
64
b. Teurapetik
- Modifikasi lingkungan (MLS pencahayaan, bising, suhu,
matras, tempat tidur).
- Batasi waktu siang jika perlu.
- Fasilitas menghilangkan stress sebelum tidur.
- Tetapkan jadwal tidur rutin.
- Lakukan prosedur untuk melakukan kenyamanan (Pijat,
pengaturan posisi, terapi akunputur).
- Sesuaikan jadwal pemberian obat atau menunjang siklus tidur
terjaga.
c. Edukasi
- Jelaskan pentingnya waktu tidur selama sakit.
- Anjurkan menetapi kebiasaan waktu tidur.
- Anjurkan menghindari makanan atau minuman yang
mengganggu waktu tidur.
- Anjurkan penggunaan obat tidur yang tidak mengandung
supressor terhadap tidur REM.
- Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan
pola tidur (mis. Psikologis, gaya hidup, sering berubah shift
bekerja).
- Ajarkan relaksasi otot autogenik atau cara nonfarmakologi
lainnya.
66
BAB V
A. Simpulan
Asuhan keperawatan pada pasien dengan sistem pernapasan : TB
Paru (TBC) melalui proses pengkajian dengan menggunakan format
pengkajian, pemeriksaan fisik, observasi, dan wawancara dilakukan
kepada klien dan keluarga.
Dari pengkajian pada pasien dengan gangguan sistem pernafasan:
Tuberkulosis Paru (TBC) dilakukan secara bio, psiko, sosio, spiritual, pada
laporan kasus pasien dengan TB Paru perlu dikaji riwayat kesehatan
keluarga, riwayat kesehatan masa lalu, pola kebiasaan sehari-hari dan
dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik klien secara menyeluruh. Dari kasus
yang ada pengkajian didapatkan data bahwa pasien mengalami TB Paru
yang dibuktikan dengan adanya pemeriksaan BTA positif adanya bakteri.
Gejala yang muncul pada penderita diantaranya adalah batuk seperti ada
yang menghalangin jalan napas, yang disertai dengan pernafasan cuping
hidung serta dari hasil observasi tercacat RR 28x/mnt. Dalam membuat
laporan kasus ini penulis mengalami kendala untuk menentukan diagnosa
dan perencanaan yang sangat mendekati dengan kondisi pasien, karena
disisi lain pada kasus yang muncul terdapat kondisi pasien terpasang
WSD, yang kelompok kami anggap sebagai komplikasi TB Paru ke efusi
pleura.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan dari seluruh proses asuhan keperawatan
seperti yang tertera diatas, maka penulis ingin menyampaikan saran-saran
untuk memperbaiki serta meningkatkan mutu pelayanan asuhan
67
Smeltzer& Bare. (2016). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth. Edisi 12.Alih bahasa: Yulianti, D. Kimin, A. Jakarta:EGC
Somantri, Irman. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan
Sistem Pernapasan. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika
Zulkifli, Amin & Asril Bahar. (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5.
Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta