Anda di halaman 1dari 73

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

TB PARU
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran KMB I dosen

Ibu Kiki Rizki A, M. Kep

Disusun Oleh :

Cecep Yanyan Herdiana

Eka MustikaSari
Faddila Apriliyanti
Florentina Lenni Simanjorang
Retno Herdianti
Silvi Ariesta Junaedi
Warsudin

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS TAHAP SARJANA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BUDI LUHUR
CIMAHI
2020
i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala


limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga kami
dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk
maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman
bagi pembaca dalam administrasi pendidikan dalam profesi
keperawatan.
Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah
pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami
dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena
pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami
harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-
masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah
ini.

Bandung, 22 Oktober 2020

Penyusun
ii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum 2
2. Tujuan Khusus 3
C. Manfaat Penulisan
1. Bagi Instansi Pendidikan 3
2. Bagi Mahasiswa Keperawatan 3

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi TBC 4
B. Etiologi TBC 4
C. Manifestasi Klinis TBC 5
D. Klasifikasi TBC 7
E. Pathway TBC 8
F. Pemeriksaan Diagnostik TBC 10
G. Komplikasi TBC 12
H. Penatalaksanaan Klinis TBC 13
I. Pengkajian Keperawatan 17
J. Analisa Data 26
K. Diagnosa Keperawatan 32
L. Perencanaan Keperawatan 33
M. Implementasi 45
N. Evaluasi 45
iii

BAB III TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian 47
B. Analisa Data 50
C. Diagnosa Keperawatan 52
D. Perencanaan 53

BAB IV PEMBAHASAN

A. Pengkajian Keperawatan 60
B. Diagnosa keperawatan 61
C. Intervensi Keperawatan 63

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan 66
B. Saran 66

Daftar Pustaka

Lampiran - Lampiran
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit Tuberculosis Paru (TBC) merupakan penyakit yang
masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat terutama di negara
berkembang. Dengan masuknya kuman Tuberculosis Paru maka akan
menginfeksi saluran nafas bawah dan dapat menimbulkan terjadinya batuk
produktif dan darah (Pribadi, 2018). Diperkirakan 95% kasus TB dan 98%
kematian akibat TB di dunia. Sedangkan 75% kasus kematian dan
kesakitan di masyarakat diderita oleh orang – orang pada umur produktif
dari usia 15 – 54 tahun (Lanus, Suyani, & dkk, 2014). Penyakit ini bila
tidak diobati atau pengobatannya tidak tuntas dapat menimbulkan
komplikasi berbahaya hingga menyebabkan kematian. Komplikasi
tuberkulosis seperti halnya emfisema, efusi pleura pada komplikasi dini
dan Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis (SPOT), sindrom gagal nafas
dewasa pada komplikasi lanjut (Pratikanya, 2017).
Laporan WHO pada tahun 2015 dalam jurnal Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas menyebutkan terdapat 9,6 juta kasus TB Paru di dunia
dan 55% kasus terjadi di daerah Asia Tenggara dan Afrika. Tiga negara
dengan insidensi kasus terbanyak tahun 2015 yaitu India (23%), Indonesia
(10%), dan china (10%).
Indonesia sekarang berada pada rangking kedua negara dengan
beban TB tertinggi di dunia. Pada tahun 2014 ditemukan jumlah kasus
baru BTA positif sebanyak 176,677 kasus, menurun bila dibandingkan
kasus BTA positif yang ditemukan tahun 2013 sebanyak 193.310 kasus.
Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 272 per 100.000
penduduk dengan estimasi 2 berjumlah 183 per 100.000 penduduk. Jumlah
kematian akibat TB diperkirakan 25 per 100.000 kematian (Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia, 2014).
2

Tuberculosis disebabkan oleh myobacterium Tuberculosis.


Mekanisme penularan TB Paru dimulai dengan penderita TB Paru BTA
(+) mengeluarkan dahak yang mengandung kuman TB ke lingkungan
udara sebagai aerosol (parikel yang sangat kecil). Partikel aerosol ini
terhirup melalui saluran pernapasan mulai dari hidung menuju paru-paru
tepatnya di alveoli paru. Pada alveoli kuman TB paru mengalami
pertumbuhan dan perkembangbiakan yang akan mengakibatkan terjadinya
destruksi paru.
Bagian paru yang telah rusak atau dihancurkan ini kan berupa jaringan/sel-
sel mati yang oleh karenanya akan diupayakan oleh paru untuk
dikeluarkan dengan reflek batuk. Oleh karena itu pada umumnya batuk
karena TB adalah produktif, artinya berdahak (Danusantoso,2000).
Pada penderita TB paru bila penggunaannya kurang baik, maka
penderita TB Paru akan mengalami komplikasi seperti
hemoptisis(pendarahan dari saluran napas bawah, kolaps dari lobus akibat
teraksi bronchial, bronkiektaksis (peleburan bronkus setempat),
pneumotorax, penyebab infeksi ke organ lain(Rahim, 2008).
Penatalaksaan TB dibagi menjadi 3 bagian, yaitu pencegahan, pengobatan
dan penemuan penderita (active case finding). Intervensi keperawatan
untuk pasien Tuberkulosis dengan masalah ketidakefektifan bersihan jalan
nafas dengan mengatur posisi tidur semi atau high fowler mengajarkan
teknik batuk efektif (Nic,2015).

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Memahami konsep dasar teori dan asuhan keperawatan pada pasien
TB paru.
3

2. Tujuan Khusus
a. Mampu mengidentifikasi pengkajian keperawatan pasien dengan
TB Paru.
b. Mampu menentukan diagnosa keperawatan dengan masalah TB
Paru.
c. Mampu mendeskripsikan rencana asuhan keperawatan pada pasien
dengan TB Paru.
d. Mampu melakukan tindakan keperawatan pada pasien dengan
masalah TB Paru.
e. Mampu melakukan evaluasi tindakan keperawatan pada pasien
dengan masalah TB Paru.

C. Manfaat Penulisan
1. Bagi Instansi Pendidikan
Asuhan keperawatan medikal bedah dapat menjadi bahan
pertimbangan dalam proses pembelajaran dan perkembangan ilmu
keperawatan khususnya pada pasien TB Paru.

2. Bagi Mahasiswa Keperawatan


Diharapkan dapat memberikan Asuhan Keperawatan pada pasien
dengan TB Paru.
4

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi TBC

Tuberculosis adalah suatu penyakit infeksi menular yang dapat

menyerang berbagai organ, terutama perenkim paru-paru yang disebabkan

oleh kuman yaitu Mycobacterium tuberkulosis dengan gejala yang

bervariasi. (Majampoh, Boki, & dkk, 2013).Tuberculosis Paru (TB)

merupakan contoh lain infeksi saluran nafas bawah. Penyakit ini

disebabkan oleh mikroorganisme Mycobacterium tuberkulosis yang

biasanya ditularkan melalui inhalasi percikan ludah (droplet) dari suatu

individu ke individu lainnya.

Tuberkulosis sebagai infeksi bakteri kronik yang disebabkan oleh


Mycobacterium tuberculosis dan ditandai oleh pembentukan granuloma
pada jaringan yang terinfeksi dan oleh hipersensitivitas yang diperantarai-
sel (cell mediated hypersensitivity). Penyakit Tuberkulosis ini biasanya
terletak di paru, tetapi dapat mengenai organ lain (Isselbacher, 2015).

B. Etiologi TBC

Tuberculosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh


kuman dari kelompok Mycobacterium yaitu Mycobacteriumtuberculosis.
Terdapat beberapa spesies Mycobacterium antara lain :M tuberculosis, M
africanum, M. bovis, M. leprea dsb. Yang juga dikenal sebagi Bakteri
Tahan Asam (BTA).

Kelompok bakteri Mycobacterium tuberculosis yang bias


menimbulkan gangguan pada saluran napas dikenal sebagai MOTT
5

(Mycobacterium Other Than Tuberculosis) yang terkadang bisa


mengganggu penegakan diagnosis yang pengobatan TB.

Untuk itu pemeriksann bakteriologis yang mampu melakukan


identifikasi terhadap Mycobacterium tuberculosis menjadi sarana
diagnosis ideal untuk TB Secara umum sifat kuman TB. (Subuh &
Priohutomo, 2014). Merupakan jenis kuman berbentuk batang berukurang
panjangg 1-4 mm dengan tebal 0,3-0,6 mm. Sebagian besar komponen
M.tubercolosis adalah berupa lemak/ lipid sehingga kuman mampu tahan
terhadap asam serta sangat tahan terhadap zat kimia dan faktor fisik.
Mikroorganisme ini adalah bersifat aerob yakni menyukai daerah apeks
paru-paru yang kandungan oksigennya tinggi. Daerah tersebut menjadi
tempat yang kondusif untuk penyakit tuberculosis. Basil TB sangat rentang
terhadap sinar matahari sehingga dalam beberapa menit saja akan mati.
Ternyata kerentanan ini terutama terhadap gelombang cahaya ultra-violet.
Basil TB juga rentang terhadap panas-basah, sehingga dalam 2 menit saja
basil TB yang berada dalam lingkungan basah sudah akan mati bila terkena
air bersuhu 100ºC. Basil TB juga akan terbunuh dalam beberapa menit bila
terkena alkohol 70%, atau lisol 5% (Imam, 2008).

C. Manifestasi Klinis TBC

Keluhan yang dirasakan pasien tuberkulosis dapat bermacam- macam


atau malah banyak pasien TB paru tanpa keluhan sama sekali dalam
pemeriksaan kesehatan. Keluhan yang terbanyak adalah :

1. Demam

Biasanya subfebris menyerupai demam influenza. Tetapi


kadang- kadang pana dapat mencapai 40-41ºC. Serangan demam
pertama dapat sembuh sebentar, tetapi kemudian dapat timbul
kembali. Begitlah seterusnya hilang timbulnya demam influenza
ini, sehingga pasien merasa tidak pernah terbebas dari serangan
6

demam influenza. Keadaan ini dapat dipengaruhi oleh daya tahan


tubuh pasien dan berat ringannya infeksi kuman tuberkulosis yang
masuk.

2. Batuk

Gejala ini banyak ditemukan, batuk terjadi karena adanya


iritasi bronkus. Batuk ini deperlukan untuk mebuang produk-
produk radang keluar. Karena terlibatnya brongkus pada setiap
penyakit tidak sama, mungkin saja batuk baru dan setelah penyakit
berkembang dalam jariang paru yakni setelah berminggu-minggu
atau berbulan-bulan peradangan bermula. Sifat batuk dimulai dari
batuk kering (non-produktoif) kemudian setalah timbul peradangan
menjadi produktif (menghasilkan sputum). Keadaan yang lanjut
adalah berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang
pecah. Kebanyakan batuk darah pada tuberkulosis terjadi pada
kavitas, tetapi terdapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus.

3. Sesak Nafas

Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) sebelum


dirasakan sesak napas. Sesak napas akan ditemukan pada penyakit
yang sudah lanjut, yang infiltrasinya sudah meliputi setengah
bagian paru-paru.

4. Nyeri Dada

Gejala ini agak jarang ditemukan, nyeri dada timbul bila


infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis.
Terjadi gesekan kedua pleura sewaktu pasien menarik/melepaskan
napasnya.

5. Malaise

Penyakit tuberkulosis bersifat radang yang menahun. Gejala


malaise sering ditemukan berupan anoreksia tidak nafsu makan,
7

berat badan menurun, sakit kepela, meriang, nyeri otot, keringat


malam dll. Gejala malaise ini makin lama semakin berat dan terjadi
hilang timbul secara tidak teratur (Bahar & Amin, 2007).

D. Klasifikasi TBC
1. Tuberkulosis paru
Tuberculosis Paru adalah kuman mikrobakterium tuberkuloso yang
menyerang jaringan paru-paru. Tuberculosis paru dibedakan menjadi
dua macam yaitu:
a. Tuberculosis paru BTA posistif (sangat menular).
1) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 pemeriksaan dahak, memberikan
hasil yang positif.
2) Satu periksaan dahak memberikan hasil yang positif dan foto
rontgen dada menunjukan Tuberkulosis aktif.

b. Tuberculosis Paru BTA negative


Pemeriksaan dahak positif negative/ foto rontgen dada
menunjukan Tuberkulosis aktif. Positif negative yang dimaksudkan
disini adalah “hasilnya meragukan”, jumlah kuman yang
ditemukan pada waktu pemeriksaan belum memenuhi syarat
positif.

c. Tuberculosis ekstra paru


Tuberculosis ekstara paru adalah kuman mikrobakterium
tuberkulosa yang menyerang organ tubuh lain selain paru-paru,
misal selaput paru, selaput otak, selaput jantung, kelenjar getah
bening, tulang, persendian kulit, usus, ginjal, saluran kencing dan
lain-lain (Laban, 2008).
8

E. Pathway TBC
Individu terinfeksi melalui droplet nuclei dari pasien TB paru
ketika pasien batuk, bersin, tertawa. Droplet nuclei ini mengandung basil
TB dan ukurannya kurang dari 5 mikron dan akan melayang-layang di
udara. Droplet nuclei ini mengandung basil TB. Saat Mikobakterium
tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segera akan
tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular. Biasanya melalui
serangkaian reaksi imunologis bakteri TB paru ini akan berusaha dihambat
melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru.
Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya
menjadi jaringan parut dan bakteri TB paru akan menjadi dormant
(istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai
tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen. Sistem imun tubuh berespon
dengan melakukan reaksi inflamasi.
Fagosit (neutrofil dan makrofag) menelan banyak bakteri;
limpospesifik-tubercolosis melisis (menghancurkan) basil dan jaringan
normal. Reaksi jaringan ini mengakibatkan penumpukan eksudat dalam
alveoli, menyebabkan bronkopneumonia dan infeksi awal terjadi dalam 2-
10 minggu setelah pemajanan. Massa jaringan paru yang disebut
granulomas merupakan gumpalan basil yang masih hidup. Granulomas
diubah menjadi massa jaringan jaringan fibrosa, bagian sentral dari massa
fibrosa ini disebut tuberkel ghon dan menajdi nekrotik membentuk massa
seperti keju. Massa ini dapat mengalami klasifikasi, membentuk skar
kolagenosa. Bakteri menjadi dorman, tanpa perkembangan penyakit aktif.
Setelah pemajanan dan infeksi awal, individu dapat mengalami penyakit
aktif karena gangguan atau respon yang inadekuat dari respon sistem
imun. Penyakit dapat juga aktif dengan infeksi ulang dan aktivasi bakteri
dorman. Dalam kasus ini, tuberkel ghon memecah melepaskan bahan
seperti keju dalam bronki. Bakteri kemudian menjadi tersebar di udara,
mengakibatkan penyebaran penyakit lebih jauh. Tuberkel yang menyerah
menyembuh membentuk jaringan parut. Paru yang terinfeksi menjadi lebih
9

membengkak, menyebabkan terjadinya bronkopneumonia lebih lanjut


(Darliana, 2011).
10

F. Pemeriksaan Diagnostik TBC


Menurut (Padila, Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam, 2013)
pemeriksaan yang menunjang untuk mengetahui seseorang dikatakan
posistif penderita TB paru yaitu:
1. Darah
a. Leukosit sedikit meningkat
b. LED meningkat
2. Sputum : BTA
Pada BTA (+) ditemukan sekurang-kurangnya 3 batang
kuman pada satu sedian dengan kata lain 5.000 kuman dalam 1 ml
sputum. Untuk mengetahui secara pasti seseorang penderita
penyakit TBC, maka dilakukan pemeriksan dahak/sputumnya.
Pemeriksaan dahak dilakukan sebanyak 3 kali dalam 2 hari yang
dikenal dengan istilah SPS (sewaktu, pagi, sewaktu).
a. Sewaktu (Hari pertama)
Dahak penderita diperiksa di laboratorium sewaktu penderita
datang pertama kali.
b. Pagi (Hari kedua)
Sehabis bangun tidur keesokan harinya, dahak penderita
ditampung dalam wadah/ pot kecil yang diberikan oleh petugas
laboratorium, ditutup rapat, dan dibawah ke laboratorium untuk
diperiksa.
c. Sewaktu (Hari kedua)
Dahak penederita dikeluarkan lagi di laboratorium (penderita
datang ke laboratorium) untuk diperiksa. Jika hasil posistif,
maka orang tersebut dapat dipastikan menderita TB paru.

3. Tes tuberculin : Mantoux Tes


11

4. Rontgen : Foto PA
Pada sebagian besar TB paru, diagnosis terutama
ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak
memerlukan foto toraks. Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan
foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut :
a. Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Pada
kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk
mendukung diagnosis TB paru BTA positif.
b. Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen
dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif
dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non
OAT(non fluoroquinolon).
c. Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat
yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak,
pleuritis eksudativa, efusi perikarditis atau efusi pleural) dan
pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan
bronkiektasis atau aspergiloma) (Werdhani, 2002)
d. Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Pada
kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk
mendukung diagnosis TB paru BTA positif.
e. Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen
dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif
dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non
OAT(non fluoroquinolon).
f. Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat
yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak,
pleuritis eksudativa, efusi perikarditis atau efusi pleural) dan
pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan
bronkiektasis atau aspergiloma) (Werdhani, 2002)
12

G. Komplikasi TBC
Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut (Abd.Wahit &
Suprapto, 2013) dan (Manurung, 2013) :

1. Hemomtisis berat (pendarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat

mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau

tersumbatnya jalan nafas.

2. Kolaps dari lobus akibat retraksi brochial.

3. Bronkiektasis (peleburan bronkus setempat) dan fibrosis

(pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada

paru.

4. Pneumotorak (adanya udara di dalam rongga pleura) spontan: kolaps

spontan karena kerusakan jaringan paru.

5. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian,

ginjal dan sebagainya.

6. Mal nutrisi.

7. Efusi pleura.

8. Gangguan gastrointestinal (sebagai efek samping obat-obatan).


13

H. Penatalaksanaan Klinis TBC


Petalaksanaan pasien dengan Tuberkulosis paru dibagi menjadi 2 yaitu
farmakologis dan non farmakologis, sebagia berikut:
1. Medis ( Farmakologi )
a. Tujuan pengobatan Tuberkulosis adalah:
1) Menyembuhkan pasien dan memperbaiki produktivitas serta
kualitas hidup.
2) Mencegah terjadinya kematian oleh karena Tuberkulosis Paru
atau dampak buruk selanjudnya.
3) Mencegah terjadinya kekambuhan Tuberkulosis Paru.
4) Menurunkan penularan Tuberkulosis Paru.
5) Mencegah terjadinya dan penularan Tuberkulosis Paru
resistant.

b. Prinsip pengobatan Tuberkulosis Paru.


Obat Anti Tuberculosis (OAT) adalah komponen penting dalam
pengobatan TB. Pengobatan TB Paru adalah merupakan salah satu
upaya penting efisien untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dari
kuman Micobacterium Tuberculosa. Pengobatan yang adekuat
harus memahami prinsip (Kesehatan R., 2014) :
1) Pengobatan diberikan dalam bentuk panduan OAT yang tepat
mengandung minimal 4 macam oabat untuk mencegah
terjadinya resistensi.
2) Diberikan dalam dosis yang tepat.
3) Ditelan secara teratur dan diawasi seraca langsung oleh POM
(Pengawas Menelan Obat) sampai selesai
pengobatanPengobatan diberikan dalam jangka waktu yang
cukup lama terbagi dalam tahap awal serta tahap lanjud untuk
mencegah kekambuhan.
14

c. Pengobatan tuberculosis.
Terbagi menjadi 2 fase:fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan 4
atau 7 bulan. Jenis obat anti tuberculosis :
1) Jenis obat utama yang digunakan adalah :
a) Rifampisin
b) INH
c) Pirazinamid
d) Steptomisin
e) Etambutol
2) Kombinasi dosis tetap
Kombinasi dosis tetap ini terdiri dari 4 obat antituberkulosis
yaitu rifamsinin, INH, pirazinamid dan etambutol dan 3 obat
antituberkulosis, yaitu rifampisin, INH dan pirazinamid.
3) Jenis obat tambahan lainnya.
a) Kanamisin
b) Kuinolon
c) Obat lain masih dalam penelitian : makrolid, amaksilin,
asam klavulanat
d) Deviyat rimfampisin dan INH

2. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Penerapan batuk efektif dan fisioterapi dada pada pasien TB paru
yang mengalami ketidakefektifan bersihan jalan nafas mampu
meningkatkan pengeluaran sekret. Disarankan untuk menerapkan
latihan batuk efektif dan fisioterapi dada bagi pasien TB Paru
dengan masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas
sebagai tindakan mandiri keperawatan(Sitorus, Lubis, & dkk,
2018).
15

b. Pemberian posisi semi fowler pada pasien TB paru telah dilakukan


sebagai salah satu cara untuk membantu mengurangi sesak napas.
Posisi yang tepat bagi pasien dengan penyekit kardiopulmonari
adalah diberikan posisi semi fowler denagn derajat kemiringan 30-
45º. Tujuan untuk diketahui pengaruh pemberian posisi semi
fowler terhadap kestabilan pola napas pada pasien TB paru.
(Majampoh, et al., 2013).

c. Pemberian terapi Vitamin A dan Vitamin D diteliti berfungsi


sebagai imunomodulator yang terlibat dalam aktivasi makrofag
melawan patogen. Metabolit aktif akan memodulasi respon pejamu
terhadap infeksi mikrobakteria sehingga terjadi pengeluaran
cathelicidin yang berfungsi sebagai antimikroba untuk
menginduksi autofagi. Defisiensi vitamin D merupakan salah satu
faktor risiko terpapar TB dan berhubungan erat dengan sistem
imun yang menurun. Penelitian sebelumnya menyatakan vitamin D
mampu meningkatkan respon inflamasi penderita TB sehingga
terjadi perbaikan klinis yang cukup signifikan (Sugiarti,
Ramadhian, & dkk, 2018). Menurut (Greenhalgh & Butler,
2017)terapi sinar matahari / vitamin D dimulai pada musim panas
antara pukul 05.00- 06.00 pagi sampai tengah hari. Klien di
perkenankan untuk berjemur selama 15 hari. Pada hari pertama
kaki terkena sinar matahari selama 5 menit, pada hari kedua 10
menit dan kaki bagian bawah selama selama 5 menit. Dengan
demikian turus berlanjut selama 15 hari secara bertahap. Vitamin D
telah terbukti dalam meningkatkan kekebalan orang-orang yang
berhubungan dengan TB. Pengobatan TB akan tampak bahwa
vitamin D bukan obat tetapi tambahan berharga untuk
menghilangkan patogen oleh sistem kekebalan tubuh dan
antibiotik.
16

d. Penatalaksaan diet makanan Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP).


Tingkat kecukupan energi responden tuberkulosis mayoritas berada
pada kategori kurang, baik tuberkulosis dengan sputum BTA (+)
maupun sputum BTA (-). Hal ini disebabkan karena mayoritas
responden tuberkulosis tidak menjalankan diet tepat yaitu Tinggi
Kalori Tinggi Protein (TKTP). Asupan energi diperoleh dari
konsumsi makanan seseorang sehari-hari untuk menutupi
pengeluaran energi, baik orang sakit maupun orang sehat,
konsumsi pangan harus mengandung energi yang cukup sesuai
dengan kebutuhannya. Kebutuhan energi mengalami penurunan
5% setiap 10 tahun (Lauzilfa, Wirjatmadi, & dkk, 2016).

e. Serta dukungan utama keluarga dapat mengembangkan respon


koping yang efektif untuk beradaptasi dengan baik dalam
menangani stresor yang dihadapi terkait penyakitnya baik fisik,
psikologis maupun sosial. Pengawas Menelan Obat (PMO) untuk
pasien TB paru terbanyak adalah keluarga (Suami, istri, orangtua,
anak, menantu) yaitu sebanyak 93%, sebanyak 4,7% petugas
kesehatan. Secara fungsional dukungan mencakup emosional
berupa adanya ungkapan perasaan, memberi nasihat atau
informasi, dan pemberian bantuan material. Dukungan juga terdiri
atas pemberian informasi secara verbal atau non verbal, bantuan
nyata atau tindakan yang diberikan oleh keakraban sosial atau
didapat karena kehadiran keluarga mempunyai manfaat emosional
atau efek perilaku bagi pihak penerima(Hasanah, Makhfudli, &
dkk, 2018).
17

I. Pengkajian Keperawatan
1. Identitas
Penyakit tuberculosis dapat menyerang manusia mulai dari usia
anak sampai dewasa dengan perbandingan yang hampir sama antara
laki-laki dan perempuan. Penyakit ini biasanya banyak ditemukan pada
pasien yang tinggal di daerah dengan tingkat kepadatan tinggi,
sehingga masuknya cahaya matahari ke dalam rumah sangat minim
(Wahid & Suprapto, 2013).

2. Keluhan Utama
Tuberkulosis dijuluki the great imitator, suatu penyakit
yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang
juga memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. Pada
sejumlah pasien yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan
kadang-kadang asimptomatik (Muttaqin, 2008)
Keluhan yang sering menyebabkan pasien dengan TB paru
meminta pertolongan dari tim kesehatan dapat dibagi menjadi dua
golongan, yaitu (Muttaqin, 2008):
a. Keluhan Respiratori, meliputi :
1) Batuk
Keluhan batuk, timbul paling awal dan merupakan
gangguan yang paling sering dikeluhkan. Perawat harus
menanyakan apakah keluhan batuk bersifat
nonproduktif/produktif atau sputum bercampur darah
(Muttaqin, 2008).
2) Batuk Darah
Keluhan batuk darah pada klien dengan TB paru selalu
menjadi alasan utama klien untuk meminta pertolongan
kesehatan. Hal ini disebabkan rasa takut klien pada darah
yang keluar dari jalan napas. Perawat harus menanyakan
seberapa banyak darah yang keluar atau hanya berupa
18

blood streak, berupa garis, atau bercak-bercak darah


(Muttaqin, 2008).
3) Sesak Napas
Keluhan ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah
luas atau karena hal-hal yang menyertai seperti efusi
pleura, pneumothoraks, anemia, dan lain-lain (Muttaqin,
2008).
4) Nyeri Dada
Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri ringan. Gejala ini
timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena TB
(Muttaqin, 2008).

b. Keluhan Sistemis, meliputi:


1) Demam
Keluhan yang sering dijumpai dan biasanya timbul pada
sore atau malam hari mirip demam influenza, hilang
timbul, dan semakin lama semakin panjang serangannya,
sedangkan masa bebas serangan semakin pendek
(Muttaqin, 2008).
2) Keluhan Sistemis lain
Keluhan yang biasa timbul ialah keringat malam,
anoreksia, penurunan berat badan, dan malaise. Timbulnya
keluhan biasanya bersifat bersifat gradual muncul dalam
beberapa minggu bulan. Akan tetapi penanmpilan akut
dengan batuk, panas, dan sesak napas walaupun jarang
dapat juga timbul menyerupai gejala pneumonia (Muttaqin,
2008).
19

3. Riwayat Kesehatan Sekarang


Pengkajian ini dialkukan untuk mendukung keluhan utama.
Pengkajian yang ringkas dengan PQRST dapat memudahkan perawat
untuk melengkapi data pengkajian. Apabila, keluhan utama klien
adalah sesak napas, maka perawat perlu mengarahkan atau
menegaskan pertanyaan untuk membedakan antara sesak napas yang
disebabkan oleh gangguan pada sistem pernapasan dan kardiovaskular.
Sesak napas yang ditimbulkan oleh TB paru, biasanya akan ditemukan
gejala jika tingkat kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada
hal-hal yang menyertainya seperti efusi pleura, pneumothoraks,
anemia, dan lain- lain. Pengkajian ringkas dengan menggunakan
PQRST yaitu, Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi
faktor penyebab sesak napas, apakah sesak napas berkurang apabila
istirahat. Quality of Pain: seperti apa rasa sesak napas yang dirasakan
atau digambarkan klien, apakah rasa sesaknya seperti tercekik atau
susah dalam melakukan pernapasan. Region: dimana rasa berat dalam
melakukan pernapasan. Severity of Pain: seberapa jauh rasa sesak yang
dirasakan klien, bisa berdasarkan skala sesak sesuai klasifikasi sesak
napas dan klien menerangkan seberapa jauh sesak napas memengaruhi
aktivitas sehari-hari. Time: berapa lama rasa nyeri berlangsung, kapan,
apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari, sifat mula
timbulnya (onset), tentukan apakah gejala timbul mendadak, perlahan-
lahan atau seketika itu juga, apakah gejala timbul secara terus menerus
atau hilang timbul (intermitten), apa yang sedang dilakukan klien pada
saat gejala timbul, lama timbulnya (durasi), kapan gejala tersebut
pertama kali muncul, dan apakah pasien pernah menderita penyakit
yang sama sebelumnya (Muttaqin, 2008).
20

4. Riwayat Kesehatan Sebelumnya


Menurut (Muttaqin, 2008) pengkajian yang mendukung adalah
dengan mengkaji apakah sebelumnya klien pernah menderita TB paru,
keluhan batuk lama pada masa kecil, tuberkulosis dari organ lain,
pembesaran getah bening, dan penyakit lain yang memperberat TB
paru seperti diabetes melitus.
Tanyakan mengenai obat-obat yang biasa diminum oleh klien pada
masa yang lalu yang masih relevan, obat-obat ini meliputi obat OAT
dan antitusif. Catat adanya efek samping yang terjadi dimasa lalu.
Adanya alergi obat juga harus ditanyakan serta reaksi alergi yang
timbul. Sering kali klien mengacaukan suatu alergi dengan efek
samping obat. Kaji lebih dalam tentang seberapa jauh penurunan berat
badan (BB) dalam enam bulan terakhir. Penurunan BB pada klien
dengan TB paru berhubungan erat dengan proses penyembuhan
penyakit serta adanya anoreksia dan mual yang disebabkan karena
meminum OAT (Muttaqin, 2008).

5. Riwayat Kesehatan Keluarga


Menurut (Muttaqin, 2008) secara patologi TB paru tidak
diturunkan, tetapi perawat menanykan apakah penyakit ini pernah
dialami oleh anggota keluarga lainnya sebagai faktor predisposisi
penularan didalam rumah.

6. Riwayat Psikososial Spiritual


Pengkajian psikologis pasien meliputi beberapa dimensi yang
memungkinkan perawat untuk memperoleh presepsi yang jelas
mengenai status emosi, kognitif dan perilaku pasien. Perawat
mengumpulkan data hasil pemeriksaan awal pasien tentang kapasitas
fisik dan intelektual saat ini. Data ini penting untuk menentukan
tingkat perlunya pengkajian psiko-sosio-spritual yang seksama. Pada
kondisi klinis, pasien dengan Tuberkulosis sering mengalami
21

kecemasan bertingkat sesuai dengan keluhan yang dialaminya. Perawat


juga perlu menanyakan kondisi pemukiman pasien bertempat tinggal.
Hal ini penting, mengngat TB paru sangat rentan dialami oleh mereka
yang bertempat tinggal dipemukiman padat dan kumuh karena
populasi bakteri TB paru lebih mudah hidup ditempat kumuh dengan
ventilasi dan pencahayaan sinar matahari yang kurang. TB paru
merupakan penyakit yang pada umumnya menyerang masyarakat
miskin karena tidak sanggup meningkatkan daya tahan tubuh
nonspesifik dan mengonsumsi makanan yang kurang bergizi, dan juga
tidak mampu untuk membeli obat, ditambah lagi kemiskinan membuat
pasien diharuskan bekerja bekerja secara fisik sehingga mempersulit
penyembuhan penyakitnya. Pasien TB kebanyakan berpendidikan
rendah, akibatnya mereka sering kali tidak menyadari bahwa
penyembuhan penyakit dan kesehatan merupakan hal yang penting.
Padahal, taraf hidup yang baik amat dibutuhkan untuk penjagaan
kesehatan pada umumnya dan dalam menghadapi infeksi pada
khususnya (Muttaqin, 2008).

7. Pemeriksaan Fisik Persistem


a. Keadaan Umum dan Tanda – Tanda Vital
Keadaan umum pada pasien TB dapat dilakukan secraa
selintas pandang dengan menilai keadaan fisik tiap bagian tubuh.
Selain itu, perlu dinilai secara umum tentang kesadaran pasien
yang terdiri atas compas mentis, apatis, somnolen, sopor,
soporokoma, atau koma. Seorang perlu mempunyai pengalaman
dan pengetahuan tentang konsep anatomi dan fisiologi umum
sehingga dengan cepat dapat menilai keadaan umum, kesadaran,
dan pengukuran GCS bila kesadaran pasien menurun yang
memerlukan kecepatan dan ketepatan penilaian.
Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital pada pasien TB perlu
biasanya didapatkan peningkatan suhu tubuh secara signifikan,
22

frekuensi napas, meningkatkan apabila disertai sesak napas, denyut


nadi biasanya meningkat seirama dengan peningkatan suhu tubuh
dan frekuensi pernapasan. tekanan darah biasanya sesuai dengan
adanya penyakit seperti hipertensi (Muttaqin, 2008).

b. Pemeriksaan Fisik
1) Head To Toe
a) Kepala
Kaji kulit kepala bersih atau tidak, ada benjolan atau tidak,
simetris atau tidak. (Muttaqin, 2008).
b) Rambut
Kaji pertumbuhan rata/tidak, rontok, warna rambut
(Muttaqin, 2008).
c) Wajah
Kaji warna kulit, struktur wajah simetris/tidak (Muttaqin,
2008).
d) Sistem Penglihatan
Kaji kesimetrisan mata, conjungtiva anemis/tidak, sclera
ikterik/tidak (Muttaqin, 2008).
e) Wicara dan THT
- Wicara
Kaji fungsi wicara, perubahan suara, afasia, dysfonia
- THT
 Inspeksi hidung : Kaji adanya obtruksi/tidak,
simetris/tidak, ada secret/tidak.
 Telinga : Kaji telinga luar bersih/tidak,
membran tympani, ada secret/tidak
 Palpasi : Kaji THT ada/tidak nyeri tekan lokasi
dan penjalaran.
23

2) Persistem
a) Sistem Pernafasan B1 (Breathing)
Pemeriksaan fisik pada pasien TB paru merupakan
pemeriksaan fokus yang terdiri atas inspeksi, palpasi,
perkusi, auskultasi (Muttaqin, 2008) :
- Palpasi
Palpasi trakea. Adanya pergeseran trakea
menunjukkan- meskipuntetapi tidak spesifik-penyakit
dari lobus atas paru. Pada Tb paru disertai adanya efusi
pleura masif dan pneumothoraks akan mendorong
posisi trakea ke arah berlawanan dari sisi sakit.
Gerakan dinding thorak anterior/ekskrusi
pernapasan. TB paru tanpa komplikasi pada saat
dilakukan palpasi, gerakan dada saat bernapas biasanya
normal dan seimbang antara bagian kanan dan kiri.
Adanya penurunan gerakan dinding pernapasan
biasanya ditemukan pada klien TB paru dengan
kerusakan parenkim paru yang luas.
Gertaran suara (fremitus vokal). Getaran yang terasa
ketika perawat meletakkan tangannya di dada pasien
saat pasien berbicara adalah bunyi yang dibangkitkan
oleh penjalaran dalam laring arah distal sepanjang
pohon bronkial untuk membuat dinding dada dalam
gerakan resonan, terutama pada bunyi konsonan.
Kapasitas untuk merasakan bunyi pada dinding dada
disebut taktil fremitus. Adanya penurunan taktil
fremitus pada pasien dengan TB paru biasanya
ditemukan pada pasien yang disertai komplikasi efusi
pleura masif, sehingga hantaran suara menurun karena
transmisi getaran suara harus melewati cairan yang
berakumulasi di rongga pleura (Muttaqin, 2008).
24

- Perkusi
Pada pasien dengan TB paru minimal tanpa
komplikasi, biasanya akan didapatkan bunyi resonan
atau sonor pada seluruh lapang paru. Pada pasien
dengan TB paru yang disertai komplikasi seperti efusi
pleura akan di dapatkan bunyi redup sampai pekak
pada sisi yang sakit sesuai banyaknya akumulasi cairan
dirongga pleura. Apabila disertai pneumothoraks, maka
di dapatkan bunyi hiperresonan terutama jika
pneumothoraks ventil yang mendorong posisi paru ke
sisi yang sehat (Muttaqin, 2008).
- Auskultasi
Pada pasiien dengan TB paru didapatkan bunyi
napas tambahan (ronchi) pada sisi yang sakit. Penting
bagi perawat pemeriksa untuk mendokumentasikan
hasil auskultasi di daerah mana di dapatkan bunyi
ronchi. Bunyi yang terdengar melalaui stetoskop ketika
klien berbicara disebut sebagai resonan vokal. Pasien
dengan TB paru yang disertai komplikasi seperti efusi
pleura dan pneumothoraks akan didapatkan penurunan
resonan vokal pada sisi yang sakit (Muttaqin, 2008).
b) Sistem Kardiovaskular B2 (Blood)
Pada pasien dengan TB paru pengkajian yang didapat
meliputi:
- Inspeksi : Inspeksi adanya parut dan kelemahan fisik.
- Palpasi : Denyut nadi perifer melemah.
- Perkusi : Batas jantung mengalami pergeseran pada
TB paru dengan efusi pleura massif mendorong ke sisi
sehat.
25

- Auskultasi : Tekanan darah biasanya normal. Bunyi


jantung tambahan biasanya tidak didapatkan (Muttaqin,
2008).
c) Sistem Persyarafan B3 (Brain)
Kesadaran biasanya compos mentis, ditemukan
adanya sianosis perifer apabila gangguan perfusi jaringat
berat. Pada pengkajian objektif, pasien tampak dengan
wajah meringis, menangis, merintih, meregang dan
menggeliat. Saat dilakukan pengkajian pada mata, biasanya
didapatkan adanya konjungtiva anemis pada TB paru
dengan hemoptoe masif dan kronis, dan sklera ikterik pada
TB paru dengan gangguan fungsi hati (Muttaqin, 2008).
d) Sistem Genitourinaria B4 (Bladder)
Pengukuran volume output urine berhubungan
dengan intake cairan. Oleh karena itu, perawat perlu
memonitor adanya oliguria karena hal tersebut merupakan
tanda awal dari syok. Pasien diinformasikan agar terbiasa
dengan urine yang berwarna jingga pekat dan berbau yang
menandakan fungsi ginjal masih normal sebagai ekskresi
karena meminum OAT terutaman Rifampisin (Muttaqin,
2008).
e) Sistem Pencernaan B5 (Bowel))
Kaji pasien biasanya mengalami mual, muntah,
penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan
(Muttaqin, 2008).
f) Sistem Muskuloskeletal B6 (Bone)
Aktivitas sehari-hari berkuarang banyak pada klien
TB paru. Gejala yang muncul antara lain kelemahan,
kelelahan, insomnia, pola hidup menetep dan jadwal
olahraga menjadi tak teratur (Muttaqin, 2008).
26

- Inspeksi
Kaji warna kulit, edema/tidak, eritmea.
- Palpasi
Kaji CRT normal/tidak, perubahan akral, turgor kulit,
nyeri tekan, clubbing finger.
g) Sistem Endokrin
Kaji terjadinya pembesaran kelenjar thyroid, palpitasi,
exopthalmmus, neuropati, retinopati (Muttaqin, 2008).

J. Analisa Data

NO DATA ETIOLOGI MASALAH

1. DS : Mycrobacterium Bersihan jalan nafas


- Pasien mengatakan tubercylosis tidak efektif
sesak atau sulit
bernafas Droplet
(Dispnea).
- Pasien mengatakan Menetap diudara
sulit bicara.
- Pasien mengatakan Terhirup
sesak jika
berbaring lurus Menempel dijalan napas
ditempat tidur
(ortopnea). Terhirup bronkus
DO:
- Batuk tidak Iritasi pada bronkus
efektif.
- Tidak mampu Produksi Sputum
batuk.
- Sputum berlebih.
27

- Terdapat bunyi Batuk


napas wheezhing
atau mengi, atau Bersihan jalan nafas tidak
ronkhi kering. efektif
- Terlihat pasien
gelisah karena
tidak nyaman
akibat batuk terus
menerus.
- Sianosis
- Frekuensi nafas
berubah
- Pola nafas
berubah
2. DS : Mycrobacterium Pola nafas tidak
- Dispnea tubercylosis efektif
saat/setelah
aktivitas. Droplet
- Ortopnea
DO: Menetap di udara
- Penggunaan otot
bantu napas. Terhirup
- Fase ekspirasi
inspirasi Menempel di jalan napas
memanjang.
- Pernapasan Iritasi pada pleura
cunging hidung.
- Diameter thorakx Cairan dalam pleura
anterior-posterior
meningkat. Menekan paru-paru
- Eksursi dada
28

nerubah Ekspansi paru menurun

Sesak napas

Pola napas tidak efektif


3. DS : Merangsang aktivitas Defisit Nutrisi
- Pasien simpatis
mengatakan tidak
napsu makan Efek pada GI
- Pasien
mengatakan Pergerakan makanan
tidak mau menjadi lambat
makan
- Pasien Makanan tertahan
mengatakan dilambung
cepat kenyang
setelah makan Reflek regang
Do: di lambung
- Berat Badan
Pasien menurun Perasaan mual muntah
minimal 10%
dibawah rentang Perasaan mual muntah
ideal
- Bising Usus Anoreksia
Hiperaktif
- Otot pengunyah Nutrisi kurang dari
Lemah kebutuhan
- Otot menelan
lemah Defisit nutrisi
- Membran
mukosa pucat
29

- Sariawan
- Serum albumin
turun
- Rambut Rontok
Berlebihan
- Diare
4. Ds : Mycrobacterium Hipertermi
Do : Tuberculosis
- Suhu Tubuh
diatas nilai Droplet
Normal
- Terlihat kulit Menetap di udara
merah
- Takikardi Terhirup
- Takipnea
- Kulit terasa Menempel di jalan napas
hangat
Inflamasi

Merangsang hipotalamus
sehingga suhu tubuh
meningkat

hipertermi

5. DS : Hemaptoe Intoleransi Aktivitas


- Mengeluh
lelah Anemia
- Dispnea saat
atau setelah BB menurun
aktivitas
30

- Merasa tidak Suplai O2 kejaringan


nyaman menurun
setelah
beraktivitas Kelelahan
- Merasa lemah
Intoleransi aktifitas
DO :
- Frekuensi
jantung
meningkat
lebih dari 20%
dari kondisi
istirahat
- Tekanan darah
berubah lebih
dari 20% dari
kondisi
istirahat
- Gambaran
EKG
menunjukkan
aritmia saat
atau setelah
aktivitas
- Gambaran
EKG
menunjukkan
iskemia
- Sianosis
- Anemia
31

6. Ds : Peradangan Pada Pleura Gangguan Istirahat


- mengeluh sulit Tidur
tidur Merangsang pengeluaran
- mengeluh sering mediator kimia (serotania,
terjaga histamin, prostaglandin,
- mengeluh tidak bradikinin)
puas tidur
- mengeluh pola Merangsang Ujung-ujung
tidur berubah saraf bebas
- mengeluh
istirahat tidak Impuls
cukup
- mengeluh Ditransfer ke medula
aktivitas menurun spinalis melalui radik
dorsalis
Do :
- nyeri atau kolik Thalamus
- hipertiroidisme
- kecemasan Kortek serebri
- penyakit paru
obstructive kronis Persepsi nyeri
- kehamilan
- periode pasca Merangsang RAS
operasi
Pusat Jaga Aktif

Tidur Terganggu

Gangguan Istirahat Tidur


(SDKI, 2017)
32

K. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan adalah keputusan klinis mengenai
seseorang, keluarga, atau, masyarakat sebagai akibat dari masalah
kesehatan atau proses kehidupan yang aktual atau potensial. Diagnosa
keperawatan merupakan dasar dalam penyusunan rencana tindakan asuhan
keperawatan. Diagnosis keperawatan sejalan dengan diagnosa medis sebab
dalam mengumpulkan data –data saat melakukan pengkajian keperawatan
yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosa keperawatan ditinjau dari
keadaan penyakit dalam diagnosa medis.
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, diagnosa yang termuat
dalam standar ini diurutkan sesuai dengan kategori dan subkategori
diagnosis keperawatan. Diagnosis-diagnosis keperawatan yang berada
dalam satu subkategori diurutkan secara alfabetis untuk memudahkan
pencarian diagnosis keperawatan dalam satu subkategori yang akan
dirujuk. Terdapat 5 Kategori dan 14 Subkategori Diagnosis Keperawatan,
Fisiologis, Psikologis, Prilaku, Relasional, Lingkungan.
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi
jalan napas (D.0149)
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas
(mis. Nyeri saat bernafas, kelemahan otot pernafasan). (D.0005)
3. Defisit nutrisi berhubungan dengan Kurangnya Peningkatan
kebutuhan metabolisme. (D.0019)
4. Hipertemi berhubungan dengan proses penyakit (mis. Infesi, kanker)
ditandai dengan suhu tubuh diatas nilai normal. (D.0130)
5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan imobilitas. (D.0056)
6. Gangguan Pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan
(misalnya lingkungan / Tindakan). ( D. 0055)
33

L. Perencanaan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan TUJUAN Intervensi
No
(SDKI) (SLKI) (SIKI)
1. Bersihan jalan nafas tidak Setelah dilakukan intervensi selama ....x, Latihan batuk efektif
efektif berhubungan dengan maka bersihan jalan napas meningkat Tindakan :
hipersekresi nafas Dengan kriteria hasil : 1. Observasi :
 Batuk efektif meningkat(5) - Identifikasi kemampuan batuk.
 Produksi sputum menurun (5) - Monitor adanya retensi sputum.
 Mengi menurun (5) - Monitor tanda dan gejala.
 Wheezing menurun (5) - infeksi saluran nafas.
 Dispnea menurun (5) - Monitor input dan aoutput
 Ortopnea menurun (5) cairan, (mis. Jumlah dan
 Sulit bicara menurun (5) karakteristik).
 Sianosis menurun (5) 2. Terapeutik
 Gelisah menurun (5) - Atur posisi semi fowler atau
 Frekuensi nafas membaik(5) fowler.
 Pola nafas membaik (5) - Pasang perlak dan bengkok di
pangkuan pasien.
34

- Buang sekret pada tempat


sputum.
3. Edukasi
- Jelaskan tujuan dan posedur
batuk efektif.
- Anjurkan tarik nafas dalam
melalui hidung selama 4detik
ditahan selama 2detik,
kemudian keluarkan dari mulut
dengan bibir mencucu
(dibulatkan) selama 8detik.
- Anjurkan mengulangi tarik
nafas dalam hingga 3x.
- Anjurkan batuk dengan kuat
langsung setelah tarik nafas
dalam yang ketiga.
4. Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian mukolitik
atau ekspektoran jika perlu.
35

2. Pola nafas tidak efektif Setelah dilakukan intervensi selama ....x, Manajemen jalan napas
berhubungan dengan maka pola napas membaik Dengan 1. Observasi :
hambatan upaya nafas (mis. kriteria hasil : - Monitor pola napas (frekuensi,
Nyeri saat bernafas,  Ventilasi semenit meningkat (5) kedalaman, usaha napas)
kelemahan otot pernafasan)  Kapasitas vital meningkat (5) - Monitor bunyi napas tambahan
(D.0005)  Diameter thoraks anterior-posterior (mis. Gurgling, mengi, wheezing,
meningkat (5) ronkhi, kering)
 Tekanan ekspirasi meningkat (5) - Monitor sputum (jumlah, warna,
 Tekaranan inspirasi memingkat (5) aroma).
 Dispnea menurun (5) 2. Terapeutik :
 Penggunaan otot bantu napas - Pertahankan kepatenan jalan napas
menurun (5) dengan head-titt dan chin-lift (jaw-
 Pemanjangan fase ekspirasi menurun trust jika curiga trauma servikal)
(5) - Posisikan semi fowler
 Ortopnea menurun (5) - Berikan minum hangat
 Pernapasan persed-lip menurun (5) - Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
 Pernapasan cuping hidung menurun - Lakukan penghisapan lendir
(5) kurang dari 15 detik.
 Frekuensi napas membaik (5) - Lakukan hiperoksigenasi sebelum
36

 Kedalaman napas membaik (5) penghisapan endotrakeal


 Ekskursi dada membaik (5) - Keluarkan sumbatan benda padat
dengan forcep McGill.
- Berika oksigen, jika perlu.
3. Edukasi
- Anjurkan asupan cairan
2000ml/hari, jika tidak
kontraindikasi.
- Ajarkan teknik batuk efektif
4. Kolaborasi
kolaborasi pemberian bronkodilator,
ekspektoran, mukolitik, jika perlu
3. Defisit nutrisi berhubungan Setelah dilakukan intervensi selama ....x, Managemen Nutrisi
dengan Kurangnya maka status nutrisi, membaik. Dengan 1. Observasi
Peningkatan kebutuhan kriteria hasil : - Identifikasi status nutrisi.
metabolisme (D.0019)  Porsi makanan yang dihabiskan - Identifikasi alergi dan intoleransi
meningkat(5) makanan.
 Kekuatan otot mengunyah - Identifikasi makanan yang
meningkat(5) disukai.
37

 Kekuatan otot menelan meningkat(5) - Identifikasi kebutuhan kalori dan


 Serum albumin meningkat(5) jenis nutrien.
 Verbalisasi keinginan untuk - Identifikasi perlunya penggunaan
meningkatkan nutrisi meningkat(5) selang nasogastrik
 Pengetahuan ttg pilihan makanan yg - monitor asupan makanan
sehat meningkat(5) - monitor bebrat badan
 Pengetahuan tentang pilihan - monitor hasil pemeriksaan
minuman yang sehat meningkat(5) labolatorium
 Pengetahuan ttg standar nutrisi yg 2. Teurapetik
tepat meningkat(5) - Lakukan oral hygine sebelum
 Penyiapan dan penyimpanan makan, jika perlu.
makanan yg aman meningkatt(5) - Fasilitasi menentukan pedoman
 Penyiapan dan penyimpanan diet(mis, piramida makanan).
minuman yang aman meningkat(5) - Sajika makanan secara menarik
 Sikap terhadap makanan/minuman dan suhu yang sesuai.
sesuai dengan kesehatan - Berikan makanan tinggi serat
meningkat(5) untuk mencegah konstripasi.
 Perasaan cepat kenyang menurun(5) - Berikan makanan tinggi kalori
 Nyeri abdomen menurun(5) dan tinggi protein.
38

 Sariawan menurun(5) - Berikan suplemen makanan , jika


 Rambut rontok menurun(5) perlu.
 Diare menurun(5) - Hentikan pemberian makan
 BB membaik (5) melalui selang nasogatrik.
 Indeks massa tubuh (IMT) 3. Kolaborasi
membaik(5) - Kolaborasi pemberian medikasi
 Frekuensi makan membaik(5) sebelum makan(mis, pereda
 Nafsu makan membaik(5) nyeri, anti emetik) jika perlu.
 Bising usus membaik(5) - Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
 Tibal lipatan kulit trisep membaik(5) menentukan jumlah kalori dan
 Membran mukosa membaik(5) jenis nutrien yang di butuhkan,
jika perlu.
4. Hipertemi berhubungan Setelah dilakukan intervensi selama ....x, Managemen hipertermia
dengan proses penyakit maka termoregulasi dapat membaik, 1. Observasi
(mis. Infesi, kanker) Dengan kriteria hasil : - Identifikasi penyebab hipertermia
ditandai dengan suhu tubuh  Menggigil menurun (1) (mis, dehidrasi, terpapar
diatas nilai normal.  Kulit merah menurun (1) lingkungan panas, penggunaan
(D.0130)  Kejang menurun (1) ingkubator).
 Akrosianosis menurun (1) - Monitor suhu tubuh.
39

 Konsumsi oksigen meningkat (5) - Monitor kadar elektrolit.


- Monitor haluaran urin.
- Monitor komplikasi akibat
hipertermia
2. Terapeutik
- Sediakan lingkungan yang dingin
- Longgarkan atau lepaskan
pakaian
- basahi dan kipasi permukaan
tubuh
- berikan cairan oral
- ganti linen setiap hari atau lebih
sering jika mengalami hyper
hidrosis (keringat berlebih)
- lakukan pendinginan eksternal
(mis,. Selimut ‘hepotermia atau
kompres dingin pada dahi, leher,
abdomen, axila).
40

- hindari pemberian antipiretik atau


aspirin
- berikan oksigen jika perlu
3. Edukasi
Anjurkan tirah baring
4. Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian cairan dan
elektrolit intravena jika perlu.
5. Intoleransi aktifitas Setelah dilakukan intervensi selama ....x, Managemen Energi
berhubungan dengan maka intoleransi aktifitas dapat 1. Observasi
imobilitas (D.0056) meningkat, Dengan kriteria hasil : - Identifikasi gangguan fungsi
 Saturasi oktigen meningkat (5) tubuh yang mengakibatkan
 Kemudahan dalam melakukan kelelahan.
aktifitas sehari hari-hari - Monitor kelelahan fisik dan
meningkat(5) emosional.
 Kecepatan berjalan meningkat(5) - Mopnitor pola dan jam tidur.
 Jarak berjalan meningkat(5) - Monitor lokasi dan ketidak
 Kekuatan tubuh bagian atas nyamanan selama melakukan
meningkat(5) aktifitas.
41

 Kekuatan tubuh bagian bawah 2. Teurapetik


meningkat(5) - Sediakan lingkungan nyaman
 Toleransi dalam menaiki tangga dan rendah stimulus (mis,.
meningkat(5) Cahaya, suara, lingkungan)
- Lakukan latihan rentan gerak
pasif dan atau aktifitas
- Berikan aktifitas distraksi yang
menenangkan
- Fasilitasi duduk disisi tempat
tidur, jika tidak dapat berpindah
atau berjalan.
3. Edukasi
- Anjurkan tirah baring.
- Anjurkan melakukan aktifitas
secara bertahap.
- Anjurkan menghubungi perawat
jika tanda dan gejala kelelahan
tidak berkurang.
42

- Ajarkan strategi koping untuk


mengurangi kelelahan
4. Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli gizi tentang
cara meningkatkan asupan
makanan.
6. Gangguan Pola tidur Setelah dilakukan intervensi selama ....x, Dukungan Tidur
berhubungan dengan maka gangguan pola tidur dapat Tindakan
hambatan lingkungan meningkat, Dengan kriteria hasil : 1. Observasi
(misalnya lingkungan /  Keluhan sulit tidur menurun (1) - Identifikasi pola aktivitas dan
Tindakan)  Keluhan sering Terjaga menurun tidur.
(D.0055) (1) - Identifikasi faktor penggangu
 Keluhan tidak puas tidur menurun tidur (Fisik/Psikologis).
(1) - Identifikasi makanan dan
 Keluhan pola tidur berubah minuman yang mengganggu
menurun (1) tidur (mis. Kopi, Alkohol,
 Keluhan Istirahat tidak cukup Makan mendekati sebelum
menurun (1) tidur, minum mendekati
 Kemampuan beraktivitas sebelum tidur.
43

meningkat (1) - Klasifikasi obat tidur yang


dikonsumsi
2. Teurapetik
- Modifikasi lingkungan (MLS
pencahayaan, bising, suhu,
matras, tempat tidur).
- Batasi waktu siang jika perlu.
- Fasilitas menghilangkan stress
sebelum tidur.
- Tetapkan jadwal tidur rutin.
- Lakukan prosedur untuk
melakukan kenyamanan (Pijat,
pengaturan posisi, terapi
akunputur).
- Sesuaikan jadwal pemberian
obat atau menunjang siklus
tidur terjaga.
44

3. Edukasi
- Jelaskan pentingnya waktu tidur
selama sakit.
- Anjurkan menetapi kebiasaan
waktu tidur.
- Anjurkan menghindari makanan
atau minuman yang mengganggu
waktu tidur.
- Anjurkan penggunaan obat tidur
yang tidak mengandung supressor
terhadap tidur REM.
- Ajarkan faktor-faktor yang
berkontribusi terhadap gangguan
pola tidur (mis. Psikologis, gaya
hidup, sering berubah shift
bekerja)
- Ajarkan relaksasi otot autogenik
atau cara nonfarmakologi lainnya.
45

M. Implementasi
Implementasi adalah pelaksanaan dari rencana keperawatan untuk
mencapai tujuan yang spesifik. Tahap implementasi dimulai setelah
rencana keperawatan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk
membantu pasien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu,
rencana keperawatan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan pasien. Tujuan dari
implementasi adalah membantu pasien dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit,
pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping. Perencanaan keperawatan
lain dapat dilaksanakan dengan baik jika pasien mempunyai keinginan
untuk berpartisispasi dalam implementasi keperawatan (Nursalam, 2009).

N. Evaluasi
Evaluasi merupakan suatu proses kontinu yang terjadi saat anda
melakukan kontak dengan pasien. Setelah melaksanakan intervensi,
kumpulkan data subjektif dan objektif dari pasien, keluarga, dan anggota
tim kesehatan. Selain itu, anda juga meninjau ulang pengetahuan tentang
status terbaru dari kondisi, terapi, sumber daya pemulihan, dan hasil yang
diharapkan. Anda dapat mengevaluasi pasien secara lebih baik. Jika hasil
telah dipenuhi, berarti tujuan untuk pasien juga telah terpenuhi.
Bandingkan perilaku dan respon pasien sebelum dan setelah dilakukan
asuhan keperawatan. Bisa disimpulkan bahwa langkah- langkah evaluasi
sebagai berikut:
1. Daftar tujuan pasien.
2. Lakukan pengkajian apakah pasien dapat melakukan sesuatu.
3. Bandingkan antara tujuan dan kemampuan pasien.
4. Diskusikan dengan pasien atau keluarga, apakah tujuan dapat tercapai
atau tidak.
46

BAB III
TINJAUAN KASUS

Seorang laki-laki berusia 54 tahun dirawat diruang penyakit dalam


dengan keluhan sesak napas dan batuk. Pasien mengalami batuk berdahak sejak
kurang lebih 2bulan yang lalu dan sudah berobat jalan. Saat pasien sedang
melakukan aktivitas disore hari, tiba-tiba pasien merasa sesak seperti tidak bias
nafas. Pasien mengatakan seperti ada dahak yang menghalangi jalan napasnya.
Pada malam harinya pasien mengalami demam tinggi dan membeli obat warung
untuk menurunkan panasnya. Pada esok harinya karena makin merasa sesak,
pasien di bawa ke puskesmas, tetapi pihak puskesmas tidak memiliki alat
pemeriksaan akhirnya pasien dirujuk ke RS untuk dilakukan pemeriksaan. Setelah
dilakukan pemeriksaan oleh dokter UGD, pasien diputuskan untuk dirawat inap.
Hasil pengkajian saat ini didapatkan: tekanan darah 130/80mmHg. Nadi
68x/menit, RR 28x/mnt, S 36,70c, pernafasan cuping hidung(+), retraksi
intercostal(+), pasien terpasang WSD di dada sebelah kanan yaitu bagian basal
paru postero lateral interkosta ke 8-9, nafas dangkal, taktil fremitus kanan dan kiri
tidak sama, hipersonan, capillary rime>3detik, turgor kulit jelek, akral teraba
dingin, penurunan nafsu makan(+), pergerakan terbatas karena sesak nafas, tidak
bias tidur nyenyak dan sering terbangun. Pasien diberikan terapi oksigen
5liter/mnt, injeksi ketorolac 1x30mg, ranitidine 1x50mg, dan ceftriaxone
1x2gram. Pasien memiliki riwayat penyakit asma sejak 10 tahun lalu dan pernah
dirawat dirumah sakit tahun 1982 karena kecelakaan. Pasien juga perokok aktif,
sudah lama menderita batuk berdahak dan melakukan rawat jalan. Pada
pemeriksaan penunjang didapatkan data leukosit klien 10.710mm3, HB 12,7gr%,
LED 1 jam 20 mm/jam, LED 2 jam 55mm/jam, pada pemeriksaan BTA positif
adanya bacteri.
47

A. Pengkajian
1. Identitas Pasien
- Nama pasien : Tn. L
- Umur : 54 tahun
- Jenis Kelamin : Laki-Laki

2. Riwayat Kesehatan
a. Alasan masuk rumah sakit
Pasien sehari sebelumnya sedang melakukan aktivitas di
sore hari, tiba-tiba pasien merasakan sesak nafas seperti tidak biasa
bernafas seperti ada dahak yang menghalangi jalan nafasnya. Pada
malam harinya pasien mengalami demam tinggi dan membeli obat
warung untuk menurunkan panasnya. Karena makin sesak pasien
dibawa ke PKM, dan PKM tidak memiliki alat pemeriksaan
akhirnya di rujuk ke RS.

b. Keluhan Utama
Sesak

c. Riwayat Kesehatan sekarang


Pasien mengeluh sesak , sesak dirasakan bertambah berat
ketika beraktivitas, sesak dirasakan seperti ada dahak yang
menghalangi jalan nafasnya sesak dirasakan 1 hari yang lalu dan
terjadi secara tiba-tiba

d. Riwayat Kesehatan Dahulu


Pasien mengatakan memiliki riwayat penyakit asma sejak
10 tahun yang lalu dan pernah dirawat dirumah sakit pada tahun
1982 karena kecelakaan.
48

e. Riwayat Kesehatan Keluarga


Pasien mengatakan keluarganya tidak ada yang mempunyai
riwayat penyakit keturunan.

3. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
- Penampilan : Pasien tampak sesak
- Kesehatan : Composmetis
- GCS : 15, E = 4 , V=5, M=6

b. Tanda – Tanda Vital


- TD : 130/80 mmhg
- N : 68 x/menit
- R : 28 x/menit
- S : 36,7oC

c. Sistem Pernafasan
Bentuk hidung proposional, lubang hidung simetris,
terdapat pernafasan cuping hidung (+), retraksi intercostal (+),
pasien terpasang WSD di dada sebelah kanan yaitu bagian basal
paru posteolateral intercosta 8-9, nafas dangkal, traktil fremitus
kanan dan kiri tidak sama, hipersonal.

d. Sistem Pencernaan
Penurunan nafsu makan (+)

e. Sistem Kardiovaskuler
Akral terasa dingin , CRT >3 detik, TD 130/80 mmhg , N : 68
x/menit.
49

f. Sistem Integumen
Turgor kulit jelek

g. Sistem Perkemihan
Tidak ada keluhan

h. Sistem Muskuloskeletal
Pergerakan Terbatas (+)

4. Data Penunjang
a. Data Penunjang Lab
No Nama Test Hasil Unit Nilai Nomal
1. Hematologi
- Hemoglobin 12,7 g/dl 13.0~16.0
- Leucosit 10.710 /mm3 4,000~10,000
- LED 1 Jam 20 mm/jam 0~15
- LED 2 Jam 55 mm/jam 0~15
2. BTA Positif Negative
Bakteri
(+)

b. Data Penunjang Terapi Medis


No Nama Obat Dosis Cara Pemberian
1. Keterolac 1 x 30 mg IV
2. Ranitidin 1 x 50 mg IV
3. Ceftriaxone 1 x 2 gr IV
50

B. Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
1. Ds : Mycrobacterium Pola napas tidak
tubercylosis efektif
Pasien mengeluh sesak
Droplet

Do : Menetap di udara
- Terdapat Terhirup
pernafasan cuping
Menempel di jalan
hidung (+) napas
- Retraksi Intercostal
Iritasi pada pleura
(+)
Cairan dalam pleura
- Pasien terpasang
WSD di dada Menekan paru-paru

sebelah kanan yaitu Ekspansi paru


menurun
bagian basal paru
postero lateral Sesak napas

intracosta 8-9 Pola napas tidak


efektif
- Nafas dangkal
- Traktil fremitus
kanan kiri tidak
sama
- Hipersonan
- TD : 130/80 mmhg
- R : 28 x/menit
2. Ds : Hemaptoe Intoleransi
aktifitas
Pasien mengatakan Anemia
Pergerakan Terbatas
BB menurun

Suplai O2 kejaringan
Do :
menurun
- Sesak
Kelelahan
- Terpasang wsd
51

- Pergerakan terbatas Intoleransi aktifitas


3. Ds : Peradangan Pada Gangguan
Istirahat Tidur
Pasien mengatakan tidak Pleura
bisa tidur
Merangsang
Do : pengeluaran
- Sesak mediator kimia
- Sering terbangun (serotania, histamin,
- Terpasang WSD prostaglandin,
- RR : 28 x/m bradikinin)
- TD : 130/80 mmhg
Merangsang Ujung-
ujung saraf bebas

Impuls

Ditransfer ke
medula spinalis
melalui radik
dorsalis

Thalamus

Kortek serebri

Persepsi nyeri

Merangsang RAS

Pusat Jaga Aktif


52

Tidur Terganggu

Gangguan Istirahat
Tidur

C. Diagnosa Keperawatan
1. Pola Nafas Tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas.
2. Risiko intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan pernafasan.
3. Gangguan Pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan
(misalnya lingkungan / Tindakan).
53

D. Perencanaan
Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi
No
(SDKI) (SLKI) (SIKI)
1. Pola nafas tidak efektif Setelah dilakukan intervensi selama 3 Manajemen jalan napas
berhubungan dengan hambatan x 24 Jam, maka pola napas membaik 1. Observasi :
upaya nafas (mis. Nyeri saat Dengan kriteria hasil : - Monitor pola napas (frekuensi,
bernafas, kelemahan otot  Ventilasi semenit meningkat (5) kedalaman, usaha napas)
pernafasan)  Kapasitas vital meningkat (5) - Monitor bunyi napas tambahan (mis.
(D.0005)  Diameter thoraks anterior- Gurgling, mengi, wheezing, ronkhi,
posterior meningkat (5) kering)
 Tekanan ekspirasi meningkat (5) - Monitor sputum (jumlah, warna,
 Tekaranan inspirasi memingkat aroma).
(5) 2. Terapeutik :
 Dispnea menurun (5) - Pertahankan kepatenan jalan napas
 Penggunaan otot bantu napas dengan head-titt dan chin-lift (jaw-
menurun (5) trust jika curiga trauma servikal)
 Pemanjangan fase ekspirasi - Posisikan semi fowler
menurun (5) - Berikan minum hangat
 Ortopnea menurun (5) - Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
54

 Pernapasan persed-lip menurun - Lakukan penghisapan lendir kurang


(5) dari 15 detik.
 Pernapasan cuping hidung - Lakukan hiperoksigenasi sebelum
menurun (5) penghisapan endotrakeal
 Frekuensi napas membaik (5) - Keluarkan sumbatan benda padat
 Kedalaman napas membaik (5) dengan forcep McGill.
 Ekskursi dada membaik (5) - Berika oksigen, jika perlu.
3. Edukasi
- Anjurkan asupan cairan 2000ml/hari,
jika tidak kontraindikasi.
- Ajarkan teknik batuk efektif
4. Kolaborasi
kolaborasi pemberian bronkodilator,
ekspektoran, mukolitik, jika perlu
2. Intoleransi aktifitas berhubungan Setelah dilakukan intervensi selama 3 Managemen Energi
dengan imobilitas x 24 jam, maka intoleransi aktifitas 1. Observasi
(D.0056) dapat meningkat, Dengan kriteria - Identifikasi gangguan fungsi
hasil : tubuh yang mengakibatkan
 Saturasi oktigen meningkat (5) kelelahan.
55

 Kemudahan dalam melakukan - Monitor kelelahan fisik dan


aktifitas sehari hari-hari emosional.
meningkat(5) - Mopnitor pola dan jam tidur.
 Kecepatan berjalan meningkat(5) - Monitor lokasi dan ketidak
 Jarak berjalan meningkat(5) nyamanan selama melakukan
 Kekuatan tubuh bagian atas aktifitas.
meningkat(5) 2. Teurapetik
 Kekuatan tubuh bagian bawah - Sediakan lingkungan nyaman dan
meningkat(5) rendah stimulus (mis,. Cahaya,
 Toleransi dalam menaiki tangga suara, lingkungan)
meningkat(5) - Lakukan latihan rentan gerak pasif
dan atau aktifitas
- Berikan aktifitas distraksi yang
menenangkan
- Fasilitasi duduk disisi tempat
tidur, jika tidak dapat berpindah
atau berjalan.
56

3. Edukasi
- Anjurkan tirah baring.
- Anjurkan melakukan aktifitas
secara bertahap.
- Anjurkan menghubungi perawat
jika tanda dan gejala kelelahan
tidak berkurang.
- Ajarkan strategi koping untuk
mengurangi kelelahan
4. Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli gizi tentang
cara meningkatkan asupan makanan.
3. Gangguan Pola tidur Setelah dilakukan intervensi selama 3 Dukungan Tidur
berhubungan dengan hambatan x 24 jam, maka gangguan pola tidur Tindakan
lingkungan (misalnya dapat meningkat, Dengan kriteria 1. Observasi
lingkungan / Tindakan) hasil : - Identifikasi pola aktivitas dan
(D.0055)  Keluhan sulit tidur menurun tidur.
(1) - Identifikasi faktor penggangu
 Keluhan sering Terjaga tidur (Fisik/Psikologis).
57

menurun (1) - Identifikasi makanan dan


 Keluhan tidak puas tidur minuman yang mengganggu tidur
menurun (1) (mis. Kopi, Alkohol, Makan
 Keluhan pola tidur berubah mendekati sebelum tidur, minum
menurun (1) mendekati sebelum tidur.
 Keluhan Istirahat tidak cukup - Klasifikasi obat tidur yang
menurun (1) dikonsumsi
 Kemampuan beraktivitas 2. Teurapetik
meningkat (1) - Modifikasi lingkungan (MLS
pencahayaan, bising, suhu,
matras, tempat tidur).
- Batasi waktu siang jika perlu.
- Fasilitas menghilangkan stress
sebelum tidur.
- Tetapkan jadwal tidur rutin.
- Lakukan prosedur untuk
melakukan kenyamanan (Pijat,
pengaturan posisi, terapi
akunputur).
58

- Sesuaikan jadwal pemberian


obat atau menunjang siklus tidur
terjaga.
3. Edukasi
- Jelaskan pentingnya waktu tidur
selama sakit.
- Anjurkan menetapi kebiasaan
waktu tidur.
- Anjurkan menghindari makanan
atau minuman yang mengganggu
waktu tidur.
- Anjurkan penggunaan obat tidur
yang tidak mengandung supressor
terhadap tidur REM.
- Ajarkan faktor-faktor yang
berkontribusi terhadap gangguan
pola tidur (mis. Psikologis, gaya
hidup, sering berubah shift bekerja)
59

- Ajarkan relaksasi otot autogenik


atau cara nonfarmakologi lainnya.
60

BAB IV
PEMBAHASAN

Penulis melakukan Asuhan Keperawatan pada “Tn. L” dengan


Tuberculosis Paru dari skenario 4 yang diberikan oleh dosen. Penulis berusaha
menerapkan asuhan keperawatan secara teoritis dan sistematis sesuai dengan teori
yang menjelaskan bahwa tahap proses keperawatan dibagi menjadi 5 tahap yaitu
pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.
Dalam proses penerapan proses keperawatan tersebut memperoleh
berupa kesenjangan dan kesamaan antara teori dan kasus skenario 4. Pada
pembahasan ini penulis akan memaparkan beberapa kesenjangan yang ditemukan
pada saat mengerjakan asuhan keperawatan dengan membandingan antara teori
dan kasus, dan penulis akan membahas tahap demi tahap dari proses keperawatan
yang diberikan kepada klien yaitu :

A. Pengkajian Keperawatan
Pada tahap pengkajian penulis mengacu pada format yang telah
disediakan tidak jauh berbeda dengan format yang ada ditinjauan teoritis.
Dalam pengumpulan data, penulis melakukan pengkajian secara
komperehensif yang mengacu pada tinjauan teoritis dan melihat dari kondisi
pasien. Data hasil pengkajian penulis mendapatkan dari kasus yang ada,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, status kesehatan pasien yang
dipaparkan dalam contoh kasus.
Dari hasil pengkajian yang diperoleh penyebab pasien menderita TB
Paru dari Mycobacterium Tuberculosis hal ini dibuktikan dengan adanya
pasien mengalami batuk produktif sudah ± 2 bulan, hasil pemeriksaan
labolatorium, leukocyte pasien 10,710 ditandai adanya infeksi, dan hasil BTA
positip adanya bakteri. Dimana faktor usia juga pasien merupakan kelompok
lansia yang rentan secara imun sehingga mudah terkena infeksi. Data ini telah
mendukung untuk ditegakkan diagnose TB Paru. Hal ini ini dijelaskan, bahwa
61

salah satu penyebab klien menderita penyakit TB Paru adalah batuk produktif
yang dialami klien selama ± 2 bulan.
Manifestasi klinis yang ditemukan pada pasien diantaranya adalah batuk
produktif. Batuk produkrif ± 2 bulan, mengalami demam dimalam hari,
adanya penurunan nafsu makan juga bisa terjadi karena produksi sekret yang
banyak. Pada pengkajian pasien tidak ditemukan demam, secara
berkelanjutan dikarenakan TB merupakan jenis infeksi kronis sehingga
adanya sesak, demam tidak terjadi secara terus menerus.
Hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang didapatkan data
objektif : tekanan darah 130/80mmHg. Nadi 68x/menit, RR 28x/mnt, S
36,70c, pernafasan cuping hidung(+), retraksi intercostal(+), pasien terpasang
WSD di dada sebelah kanan yaitu bagian basal paru postero lateral interkosta
ke 8-9, nafas dangkal, taktil fremitus kanan dan kiri tidak sama, hipersonan,
capillary rime>3detik, turgor kulit jelek, akral teraba dingin, penurunan nafsu
makan(+), pergerakan terbatas karena sesak nafas. Pada pemeriksaan
penunjang Pada pemeriksaan penunjang didapatkan data leukosit klien
10.710 mm3, HB 12,7g/dl, LED 1 jam 20 mm/jam, LED 2 jam 55 mm/jam,
pada pemeriksaan BTA positif adanya bacteri.

B. Diagnosa keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien
dengan TBC Paru sebagai berikut :
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi jalan
napas (D.0149).
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas (mis.
Nyeri saat bernafas, kelemahan otot pernafasan). (D.0005).
3. Defisit nutrisi berhubungan dengan Kurangnya Peningkatan kebutuhan
metabolisme. (D.0019).
4. Hipertemi berhubungan dengan proses penyakit (mis. Infesi, kanker)
ditandai dengan suhu tubuh diatas nilai normal. (D.0130).
5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan imobilitas. (D.0056).
62

6. Gangguan Pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan


(misalnya lingkungan / Tindakan). ( D. 0055)
Sedangkan pada saat penulis melakukan pengkajian diagnosa
keperawatan yang muncul pada klien adalah sebagai berikut :
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas (mis.
Nyeri saat bernafas, kelemahan otot pernafasan). (D.0005).
Diagnosa ini muncul karena dari hasil pengkajian ditemukan data
yang mendukung, seperti pasien mengatakan nafas terasa sesak, Terdapat
pernafasan cuping hidung (+), Retraksi Intercostal (+), Pasien terpasang
WSD di dada sebelah kanan yaitu bagian basal paru postero lateral
intracosta 8-9, Nafas dangkal, Traktil fremitus kanan kiri tidak sama,
Hipersonan, TD : 130/80 mmhg, R : 28 x/menit. Sesuai dengan tinjauan
teori dalam buku (Mutaqin. 2008).

2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan imobilitas. (D.0056).


Diagnosa ini muncul karena dari hasil pengkajian ditemukan data
yang mendukung, seperti pasien mengeluh pergerakan terbatas dan
terpasang wsd. Sesuai dengan tinjauan teori dalam buku (Mutaqin. 2008).

3. Gangguan Pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan (misalnya


lingkungan / Tindakan). ( D. 0055).
Diagnosa ini muncul karena dari hasil pengkajian ditemukan data
yang mendukung, seperti pasien mengeluh sulit tidur, nafas sesak, sering
terbangun, terpasang WSD, RR : 28 x/m, TD : 130/80 mmhg. Sesuai
dengan tinjauan teori dalam buku (Mutaqin. 2008).
63

C. Intervensi Keperawatan
Tahap ini penulis menyusun rencana tindakan sesuai dengan
permasalahan yang muncul pada pasien. Adapun intervensi tersebut dapat
dipaparkan sebagai berikut :
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas (mis.
Nyeri saat bernafas, kelemahan otot pernafasan). (D.0005) :
 Manajemen jalan napas
a. Observasi :
- Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas).
- Monitor bunyi napas tambahan (mis. Gurgling, mengi,
wheezing, ronkhi, kering).
- Monitor sputum (jumlah, warna, aroma).
b. Terapeutik :
- Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-titt dan chin-
lift (jaw-trust jika curiga trauma servikal).
- Posisikan semi fowler.
- Berikan minum hangat.
- Lakukan fisioterapi dada, jika perlu.
- Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik.
- Lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan endotrakeal.
- Keluarkan sumbatan benda padat dengan forcep McGill.
- Berika oksigen, jika perlu.
c. Edukasi
- Anjurkan asupan cairan 2000ml/hari, jika tidak
kontraindikasi.
- Ajarkan teknik batuk efektif.
d. Kolaborasi
Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika
perlu.
64

2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan imobilitas. (D.0056) :


 Managemen Energi
a. Observasi
- Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan
kelelahan.
- Monitor kelelahan fisik dan emosional.
- Mopnitor pola dan jam tidur.
- Monitor lokasi dan ketidak nyamanan selama melakukan
aktifitas.
b. Teurapetik
- Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis,.
Cahaya, suara, lingkungan)
- Lakukan latihan rentan gerak pasif dan atau aktifitas
- Berikan aktifitas distraksi yang menenangkan
- Fasilitasi duduk disisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah
atau berjalan.
c. Edukasi
- Anjurkan tirah baring.
- Anjurkan melakukan aktifitas secara bertahap.
- Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala
kelelahan tidak berkurang.
- Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan.
d. Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan
makanan.

3. Gangguan Pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan


(misalnya lingkungan / Tindakan). ( D. 0055) :
 Dukungan Tidur
Tindakan
a. Observasi
- Identifikasi pola aktivitas dan tidur.
- Identifikasi faktor penggangu tidur (Fisik/Psikologis).
- Identifikasi makanan dan minuman yang mengganggu tidur
(mis. Kopi, Alkohol, Makan mendekati sebelum tidur,
minum mendekati sebelum tidur.
- Klasifikasi obat tidur yang dikonsumsi.
65

b. Teurapetik
- Modifikasi lingkungan (MLS pencahayaan, bising, suhu,
matras, tempat tidur).
- Batasi waktu siang jika perlu.
- Fasilitas menghilangkan stress sebelum tidur.
- Tetapkan jadwal tidur rutin.
- Lakukan prosedur untuk melakukan kenyamanan (Pijat,
pengaturan posisi, terapi akunputur).
- Sesuaikan jadwal pemberian obat atau menunjang siklus tidur
terjaga.
c. Edukasi
- Jelaskan pentingnya waktu tidur selama sakit.
- Anjurkan menetapi kebiasaan waktu tidur.
- Anjurkan menghindari makanan atau minuman yang
mengganggu waktu tidur.
- Anjurkan penggunaan obat tidur yang tidak mengandung
supressor terhadap tidur REM.
- Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan
pola tidur (mis. Psikologis, gaya hidup, sering berubah shift
bekerja).
- Ajarkan relaksasi otot autogenik atau cara nonfarmakologi
lainnya.
66

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Asuhan keperawatan pada pasien dengan sistem pernapasan : TB
Paru (TBC) melalui proses pengkajian dengan menggunakan format
pengkajian, pemeriksaan fisik, observasi, dan wawancara dilakukan
kepada klien dan keluarga.
Dari pengkajian pada pasien dengan gangguan sistem pernafasan:
Tuberkulosis Paru (TBC) dilakukan secara bio, psiko, sosio, spiritual, pada
laporan kasus pasien dengan TB Paru perlu dikaji riwayat kesehatan
keluarga, riwayat kesehatan masa lalu, pola kebiasaan sehari-hari dan
dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik klien secara menyeluruh. Dari kasus
yang ada pengkajian didapatkan data bahwa pasien mengalami TB Paru
yang dibuktikan dengan adanya pemeriksaan BTA positif adanya bakteri.
Gejala yang muncul pada penderita diantaranya adalah batuk seperti ada
yang menghalangin jalan napas, yang disertai dengan pernafasan cuping
hidung serta dari hasil observasi tercacat RR 28x/mnt. Dalam membuat
laporan kasus ini penulis mengalami kendala untuk menentukan diagnosa
dan perencanaan yang sangat mendekati dengan kondisi pasien, karena
disisi lain pada kasus yang muncul terdapat kondisi pasien terpasang
WSD, yang kelompok kami anggap sebagai komplikasi TB Paru ke efusi
pleura.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan dari seluruh proses asuhan keperawatan
seperti yang tertera diatas, maka penulis ingin menyampaikan saran-saran
untuk memperbaiki serta meningkatkan mutu pelayanan asuhan
67

keperawatan pada klien dengan gangguan sistem pernafasan: TB Paru,


yaitu:
1. Bagi mahasiswa sebaiknya sebelum melakukan asuhan keperawatan
terhadap klien, hendaknya memahami konsep dasar terkait kasus yang
akan ditangani sehingga dalam melakukan asuhan keperawatan lebih
komprehensif dan sesuai dengan teori.
2. Bagi perawat yang sudah terjun langsung ke pasien hendaknya
meningkatkan kualitas pendokumentasian terutama respon tindakan
dan evaluasi akhir (SOAP) dapat dilakukan pada setiap diagnosa
keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA

Black, Joyce M. Dan Jane H. H. (2014). Kepertawatan Medikal Bedah:


Manajemen Klinis untuk Hasil yang Diharapkan. Edisi 8 buku 3. Alih
Bahasa: dr. Joko Mulyanto, dkk. Jakarta: ELSEVIER.

Donges, Marlyn E.(2012). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih Bahasa : I
Kariasa dan Sumarati. Jakarta : EGC.

Hidayat, A. Aziz Alimul.(20014). Pengantar Konsep Dasar Keperawatan.


Penerbit Salemba Madika, Jakarta.

Kementrian Kesehatan RI. (2014). Pedoman Nasional Pelayanan Keperawatan


Tuberkulosis. Jakarta.

Kemenkes RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar.


Jakarta:http//www.depkes.go.id/reseorces/download/general/Hasil%20Ris
kesdas%202 013.pdf.diperoleh 12 maret 2017

Muttaqin Arif. (2009). Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem


Pernafasan. Penerbit Salemba Medika, Jakarta

Naga S. Sholeh.(2014).Paduan Lengkap Ilmu Penyakit Dalam. Penerbit Diva


Press, yogyakarta

Smeltzer& Bare. (2016). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth. Edisi 12.Alih bahasa: Yulianti, D. Kimin, A. Jakarta:EGC
Somantri, Irman. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan
Sistem Pernapasan. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika

Zulkifli, Amin & Asril Bahar. (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5.
Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta

Anda mungkin juga menyukai