Anda di halaman 1dari 67

i

UNIVERSITAS ESA UNGGUL

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU


TIDAK AMAN PADA PEKERJA BAGIAN PRODUKSI DI
PT CALPIS INDONESIA TAHUN 2020

PROPOSAL SKRIPSI

FIRDAYANI MUFLIHATIN

20180301174

FAKULTAS ILMU-ILMUKESEHATAN
PROGRAM STUDIKESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS ESA UNGGUL
JAKARTA
2020
ii

LEMBAR PERSETUJUAN

Proposal skripsi ini diajukan oleh:

Nama : Firdayani Muflihatin

NIM : 20180301174

Fakultas : Ilmu-ilmu Kesehatan

Program Studi : Kesehatan Masyarakat

Peminatan : K3

Judul Proposal :Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku

Tidak Aman Pada Pekerja Bagian Produksi Di PT

Calpis Indonesia Tahun 2020

Proposal skripsi ini telah disetujui dan diperiksa oleh Dosen Pembimbing Skripsi

Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Program Studi Kesehatan Masyarakat dan diterima

untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana

Kesehatan Masyarakat Pada Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-

Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul.

Jakarta, September 2020

Menyetujui,

Dosen Pembimbing

Cut Alia Keumala Muda, SKM., M.K.K.K.


iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena atas hidayahNya lah,

penulis dapat menyelesaikan dan menyusun Proposal Penelitian yang berjudul

“Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Tidak Aman Pada Pekerja

Bagian Produksi Di PT Calpis Indonesia Tahun 2020” dapat diselesaikan dengan

sebaik-baiknya dan dalam tepat waktu.

Dalam penulisan dan penyusunan Proposal Penelitian ini penulis tidak lepas

dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan

ini penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada :

1. Dr. Ir. Arif Kusuma Among Praja, MBA. Selaku Rektor Universitas Esa

Unggul Jakarta

2. Dr. Aprilita Rina Yanti Eff, M. Biomed, Apt selaku Dekan Fakultas Ilmu –

ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul

3. Ibu Putri Handayani, S.KM, M.KKK selaku Ketua Program Studi Kesehatan

Masyarakat

4. Ibu Cut Alia Keumala Muda, S.K.M, M.K.K.K.selaku Dosen pembimbing

yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya

dalam penyusunan Proposal Penelitian ini

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Proposal Penelitian ini masih

terdapat kekurangan, mengingat penulis dalam taraf belajar sehingga masih

terdapat keterbatasan ilmu dan pengalaman. Oleh sebab itu, penulis


iv

mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan

Proposal Penelitian ini

Demikian Proposal Penelitian ini penulis buat, semoga dapat bermanfaat bagi

penulis khusunya dan bagi para pembaca umumnya

Jakarta, 11 September 2020

Firdayani Muflihatin
v

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
LEMBAR PERSETUJUAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI v
DAFTARGAMBAR vi
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR LAMPIRAN .viii

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Perumusan Masalah 7
1.3. Pertanyaan Penelitian 8
1.4. Tujuan 9
1.5. Manfaat Penelitian 9
1.6. Ruang Lingkup 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 12


2.1. Landasan Teori 12
2.2. Kerangka Konsep 31
2.3. Penelitian Terkait 32

BAB III METODE PENELITIAN 35


3.1. Kerangka Konsep 35
3.2. Definisi Operasional 39
3.3. Hipotesis Penelitian 39
3.4. Tempat dan Waktu Penelitian 40
3.5. Jenis Penelitian 42
3.6. Populasi dan Sampel 44
3.7. Pengumpulan Data 44
3.8. Instrumen Penelitian 46
3.9. Uji Validitas Dan Realiabilitas Kuesioner 46
3.10. Uji Normalitas 49
3.11. Analisis data 49

DAFTAR PUSTAKA 50
vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Teori...............................................................................31

Gambar 2.2 Kerangka Konsep...........................................................................35


vii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Penelitian Terkait.................................................................................32

Tabel 3.1 Definisi Operasional.............................................................................35


viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1Informed Consent

Lampiran 2 Kuesioner
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

ILO memperkirakan bahwa sekitar 2,3 juta perempuan dan laki-

laki di seluruh dunia meninggal karena kecelakaan atau penyakit terkait

pekerjaan setiap tahun yang mana sama dengan lebih dari 6000 kematian

setiap hari. Di seluruh dunia, ada sekitar 340 juta kecelakaan kerja dan 160

juta korban penyakit terkait pekerjaan setiap tahunnya. ILO memperbarui

perkiraan ini secara berkala, dan pembaruan menunjukkan peningkatan

kecelakaan dan kesehatan yang buruk. Perkiraan kecelakaan kerja yang

fatal di negara-negara CIS (Commonwealth of Indenpendent States) lebih

dari 11.000 kasus, dibandingkan dengan 5.850 kasus yang dilaporkan

(kurang informasi dari 2 negara) (ILO, 2020).Kecelakaan kerja disebabkan

oleh tindakan tidak aman atau kondisi tidak aman atau kombinasi

keduanya. Penelitian telah menunjukkan bahwa tidak ada kecelakaan yang

memiliki penyebab tunggal. International Loss Control Institute

mengajukan teori penyebab kecelakaan yang menyarankan beberapa

penyebab kecelakaan seperti kurangnya pengendalian manajemen, yaitu

kurangnya Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan; dan penyebab

tidak langsung (akar penyebab) (ILO, 2018)

Suma’mur menjelaskan dampakyang ditimbulkan dari perilaku

tidak aman yaitu akibat langsung diantaranya kecelakaan kerja yang dapat

menyebabkan cedera sampai dengan kematian, sedangkan akibat tidak

langsung antara lain penyakit akibat kerja yang dapat memberikan


2

kerugian diantaranya kerusakan lingkungan tempat kerja dan kerusakan

organ tubuh yang mengalami penyakit akibat kerja. selain itu jam kerja

hilang, kerugian produksi, kerugian sosial serta citra perusahaan dan

kepercayaan konsumen pun akan menurun (Suma’mur, 2015). Sedangkan

dampak dari perilaku tidak aman yang dilakukan karyawan PT. Caplis

adalah terjadinya kecelakaan kerja yang mengakibatkan minor dan mayor

injury, sehingga menyebabkan karyawan harus istirahat bekerja dan secara

tidak langsung menimbulkan kerugian pada perusahaan.

Beberapa faktor yang berhubungan dengan perilaku tidak aman

pada pekerja menurut Green dalam Notoatmojo diantaranya yaitu

pengetahuan, sikap, motivasi, masa kerja dan pengawasan (Notoadmodjo,

2017). Pengetahuan yang kurang akan keselamatan dan Kesehatan Kerja

(K3) di lingkungan kerja menyebabkan seseorang sulit untuk mengetahui

potensi bahaya yang ada disekitarnya, sehingga sulit untukmenentukan

tindakan dalam mengendalikan potensi bahaya tersebut. Oleh sebab itu

seseorang akan menjadi kurang waspada terhadap risiko yang dapat timbul

dari perilakunya selama bekerja.

Berdasarkan hasil penelitian Tulaeka tahun 2018 menyebutkan

adanya hubungan antara pengetahuan dengan perilaku tidak aman pada

pekerja (Tulaeka, 2018). Selain itu, hasil penelitian Sangaji ditemukan

adanya hubungan antara sikap dengan perilaku tidak aman pada pekerja

(Sangaji, 2018).

Pengawasan juga merupakan salah satu tugas mutlak

diselenggarakan dalam mengendalikan kegiatan-kegiatan teknis yang


3

dilakukan oleh pekerja. Bila fungsi pengawasan tidak dilaksanakan maka

penyebab dasar dari suatu insiden akan timbul yang dapat mengganggu

kegiatan perusahaan (Handoko, 2016). Listyandini dalam penelitiannya

menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara pengawasan dengan

kecelakaan kerja (Listyandini, 2019).

ILO memperkirakan setiap tahun ada 2,78 juta pekerja yang tewas

karena kecelakaan di tempat kerja atau penyakit terkait pekerjaan dan

lebih dari 374 juta orang yang cedera atau luka atau jatuh sakit tiap tahun

akibat kecelakaan terkait kerja. Dampaknya pada ekonomi dunia karena

hilangnya hari kerja mendekati 4% dari GDP global. Di Amerika, 85%

kecelakaan kerja diakibatkan oleh tindakan tidak aman (unsafe act) dan

15% oleh kondisi tidak aman (unsafe condition) (Uda, 2015).

Menurut Suma’mur dalam Sucipto, 80-85% kecelakaan disebabkan

oleh kelalaian (unsafe human act) dan kesalahan manusia (human error).

Kecelakaan dan kesalahan manusia tersebut meliputi faktor usia, jenis

kelamin, pengalaman kerja dan pendidikan. Kesalahan akan meningkat

ketika pekerja mengalami stress pada beban pekerjaan yang tidak normal

atau ketika kapasitas kerja menurun akibat kelelahan(Sucipto,

2015).Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) RI

dalam Fitriana (2016) menyebutkan pada tahun 2010 terdapat 54.398

kasus kecelakaan kerja karena 96% unsafe action dan 4 % karena unsafe

condition (Fitriana, 2016). Kabupaten Bekasi sendiri ditemukan 38.429

kasus kecelakaan tenaga kerja, sementara itu Cikarang sendiri ditemukan

5.523 total kasus (BPJS Ketenagakerjaan, 2020).


4

PT Calpis Indonesia berdiri pada september 1994 dan mulai

beroperasi tahun 1995. PT Calpis Indonesiamerupakan salah satu

perusahaan terkemuka yang memproduksi susu fermentasi merek

CALPICO terbesar di Indonesia yang memiliki pusat di di kawasan Ejip

Cikarang. Adapun proses produksi susu Calpico di PT Calpis Indonesia

yaitu mulai dari blending (pencampuran), bottle supply, unscramble

(pencucian botol), filling (pengisian), retort pasteurization (pemasakan),

pelabelan (best before printing), lalu di visual check untuk memastikan

produks sesuai standar, kemudian produk tersebut jalan ke mesin case

packer dan masuk ke proses pemalettan.

Menurut laporan bulanan P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan dan

Kesehatan Kerja) PT Calpis Indonesiapada tahun 2017, 2018, dan 2020

telah terdapat 6 perilaku tidak aman yang menjadi penyebab kecelakaan

kerja yaitu tahun2017 telah terjadi Kecelakaan yang menyebabkan

minorinjurysehingga membutuhkan pertolongan pertama sebanyak 3 kali

yaitu saat memindahkan karton setelah packing manual, pekerja

mengangkat beban karton bertumpuk sehingga menutupi pandangannya

lalu menabrak karton yang ada didepannya hingga terjatuh dan kakinya

tertimpa karton tersebut hingga memar. Kejadian ini membuat karyawan

harus mendapatkan pertolongan pertama berupa kompres dingin di

kakinya. Kejadian serupa terjadi pada pekerja lain, karena ingin cepat

selesai sehingga pekerja melakukan short cut. Kecelakaan minor ketiga

saat pekerja tangan terjepit mesin case packer karena tidak fokus saat

bekerja namun hanya menimbulkan luka memar pada telunjuk. Pada


5

tahun 2018 terjadi 1 kasus kecelakaan kerja mayor yang menyebabkan

pekerja harus absen bekerja yaitu, tangan terjepit mesin case

packerdikarenakan kehilangan konsentrasi saat bekerjadan menyebabkan

robekan kecil sehingga mendapat 2 jahitan dan pada tahun 2019 terjadi 2

kasus kecelakaan kerja yang mengakibatkan mayor injury dimana pada

kecelakaan ini keryawan harus mendapatkan perawatan medis dan

kehilangan waktu kerja yaitu terjatuh di platformsehingga pekerja

mengalami terkilir pada kaki kanannya sehingga harus absen kerja selama

2 bulan dankasus kecelakaan kerja berikutnya pekerja terjepit di mesin

pallete sehingga mengalami luka robek di bagian jempol dan mendapat 2

jahitan.Upaya yang sudah dilakukan perusahaan terhadap kasus

kecelakaan kerja yang terjadi yaitu dengan mengadakan safety talk setiap

sebelum memulai pekerjaan,sosialisasi dan penyuluhan mengenai

keselamatan dan kesehatan kerja terhadap seluruh pekerja secara rutin

setiap bulan.Hasil dariupaya yang telah dilakukandidapatkan perubahan

perilaku karyawan dari berperilaku tidak aman menjadi perilaku aman

salah satunya yaitu tidak ada lagi karyawan yang melakukan

shortcutseperti mengangkat karton melebihi batas keamananan supaya

pekerjaan lebih cepat selesai serta angka kecelakaan kerja yang menurun

setelah tindakan yang perusahaan tersebut.

Studi pendahuluan terhadap seluruh karyawan produksi PT Calpis

Indonesia yang berjumlah 150 orang dengan cara melakukan wawancara

dengan HSE Officer PT Calpis Indonesia, selama bulan januari hingga

april, ada 7 Unsafe action yang dilakukan oleh 12 atau 8% dari karyawan
6

produksi PT Calpis Indonesia diantaranya adalah 2 membersihkan mesin

saat keadaan menyala, 1 menggunakan mesin yang rusak, 2 tidak

konsentrasi (melamun, mengobrol, bercanda), 1 mencoba membetulkan

mesin sendiri, menggunakan mesin atau alat orang lain, dan 6 memakai

APD dengan tidak tepat seperti menggunakan masker tidak sesuai

prosedur dimana masker tidak digunakan dalam posisi yang tepat misalnya

hanya menutupi mulut saja.

Berdasarkan latar belakang peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian tentang “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku

Tidak Aman pada Pekerja Bagian Produksi di PT Calpis Indonesia Tahun

2020”.

1.2 Perumusan Masalah

Pada tahun 2018, terjadi 1 kasus kecelakaan kerja mayor di PT

Calpis Indonesia yang menyebabkan pekerja harus absen bekerja yaitu,

tangan terjepit mesin case packer dikarenakan kehilangan konsentrasi saat

bekerja dan menyebabkan robekan kecil. Pada tahun 2019 angka

kecalakaan kerja meningkat menjadi 2 kasus kecelakaan kerja dikarenakan

kehilangan konsentrasi saat bekerja yang mengakibatkan mayor injury.

Study pendahuluan dengan melakukan wawancara dengan HSE OfficerPT

Calpis Indonesia, selama bulan januari hingga april 2020, ada 7 Unsafe

action yang dilakukan oleh karyawan PT Calpis Indonesia diantaranya

adalah membersihkan mesin saat keadaan menyala, menggunakan mesin

yang rusak, tidak konsentrasi (melamun, mengobrol, bercanda), mencoba

membetulkan mesin sendiri, menggunakan mesin atau alat orang lain, dan
7

memakai APD dengan tidak tepat.Berdasarkan latar belakang di atas

sebelumnya belum pernah dilakukan penelitian mengenai faktor-faktor

yang berhubungan dengan perilaku tidak aman di PT Calpis Indonesia

maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Faktor-

faktor yang berhubungan dengan perilaku tidak aman pada pekerja bagian

produksi di PT Calpis Indonesia Tahun 2020”.

1.3 Pertanyaan Penelitian

1. Apa saja faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku tidak aman

pada pekerja bagian produksi di PT Calpis Indonesia?

2. Bagaimana gambaran perilaku tidak aman pada pekerja bagian

produksi di PT Calpis Indonesia Tahun 2020?

3. Bagaimana gambaran pengetahuan pada pekerja bagian produksi di

PT Calpis Indonesia?

4. Bagaimana gambaran sikap pada pekerja bagian produksi di PT Calpis

Indonesia Tahun 2020?

5. Bagaimana gambaran pengawasan pada pekerja bagian produksi di PT

Calpis Indonesia Tahun 2020 ?

6. Adakah hubungan antarapengetahuan dengan perilaku tidak aman

pada pekerja bagian produksi di PT Calpis Indonesia Tahun 2020 ?

7. Adakah hubungan antara sikap dengan perilaku tidak aman pada

pekerja bagian produksi di PT Calpis Indonesia Tahun 2020 ?

8. Adakah hubungan antara pengawsan dengan perilaku tidak aman pada

pekerja bagian produksi di PT Calpis Indonesia Tahun 2020 ?


8

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum

Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku tidak

aman pada pekerja bagian produksi di PT Calpis Indonesia.

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui gambaran perilaku tidak aman pada pekerja bagian

produksi di PT Calpis Indonesia Tahun 2020.

2. Mengetahui gambaran pengetahuan pada pekerja bagian produksi

di PT Calpis Indonesia Tahun 2020.

3. Mengetahui gambaran sikap pada pekerja bagian produksi di PT

Calpis Indonesia Tahun 2020.

4. Mengetahui gambaran pengawasan pada pekerja bagian produksi di

PT Calpis Indonesia Tahun 2020.

5. Mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan perilaku tidak

aman pada pekerja bagian produksi di PT Calpis Indonesia Tahun

2020 ?

6. Mengetahui hubungan antara sikap dengan perilaku tidak aman

pada pekerja bagian produksi di PT Calpis Indonesia Tahun 2020 ?

7. Mengetahui hubungan antara pengawsan dengan perilaku tidak

aman pada pekerja bagian produksi di PT Calpis Indonesia Tahun

2020 ?
9

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat Bagi Universitas

Diharapkan dapat digunakan sebagai bahan referensi faktor-faktor

yang berhubungan dengan perilaku tidak aman pada pekerja dan dapat

dijadikan acuan untuk penelitian selanjtnya.

1.5.2 Manfaat Bagi Peneliti

Diharapkan dapat menjadi sarana untuk menambah wawasan dan

pengetahuan serta mengaplikasikan berbagai teori dan konsep yang

diperoleh selama kuliah ke dalam pola pikir dalam bentuk penelitian.

1.5.3 Manfaat Bagi Instansi

Diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dalam upaya untuk

melakukan strategi pencegahan dan pengendalian agar kecelakaan dapat

di minimalisir sehingga kualitas sumber daya manusia meningkat.

1.6 Ruang Lingkup

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang

berhubungan dengan perilaku tidak aman pada pekerja bagian produksi di

PT Calpis Indonesia. Penelitian ini akan dilakukan PT Calpis

Indonesiayang beralamat di Sukaresmi, Cikarang Selatan, Bekasi, Jawa

barat. Penelitian ini dimulai dari bulan September sampai Desember2020.

Subjek yang diteliti seluruh pekerja yang ada di bagian produksi di PT

Calpis Indonesiatahun 2020 dengan tehnik pengambilan sampel yaitu

Simple Random sampling. Penelitian ini dilakukan karena berdasarkan


10

survey pendahuluan didapatkan hasil wawancara dengan HSE OfficerPT

Calpis Indonesia, selama bulan januari hingga april, ada 7 Unsafe action

yang dilakukan oleh karyawan PT Calpis Indonesia diantaranya adalah

membersihkan mesin saat keadaan menyala, menggunakan mesin yang

rusak, tidak konsentrasi (melamun, mengobrol, bercanda), mencoba

membetulkan mesin sendiri, menggunakan mesin atau alat orang lain,

gagal mengamankan, dan memakai APD yang tidak layak. Metode

penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan teknik penelitian cross

sectional.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

1. Pengertian Perilaku Tidak Aman

Skinner dalam Notoatmodjo (2014) seorang ahli psikologi,

merumuskanbahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang

terhadap stimulus(rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku itu terjadi

melalui proses adanyastimulus terhadap organisme, dan kemudian

organisme tersebut merespon, makateori ini disebut teori S-O-R atau

Stimulus-Organisme-Response. Perilaku manusiaadalah aktivitas yang

timbul karena adanya stimulus dan respons serta dapatdiamati secara

langsung maupun tidak langsung(Notoatmodjo, 2014).

Perilaku tidak aman merupakan salah satu hal penyebab terjadinya

kecelakaan kerja akibat kelalaian pekerja saat bekerja. (Pratama,

2015)mengatakan bahwa perilaku tidak aman adalah tindakan yang

dilakukan pada saat bekerja yang dapat memicu terjadinya kecelakaan

kerja. Perilaku yang dilakukan oleh para pekerja yang dapat menyebabkan

kecelakaan sehingga merugikan perusahaan dan juga pekerja itu sendiri

(Maulidhasari, 2016)

Berdasarkan pendapat para ahli dapat diketahui bahwa perilaku

tidak aman dalam bekerja adalah perilaku berbahaya yang dilakukan para

pekerja mungkin memicu atau mendorong faktor-faktor untuk terjadinya

kecalakaan atau masalah. Perilaku berbahaya termasuk tindakan ceroboh


13

dan disengaja yang disebabkan oleh ketidakmampuan mengenali dan

memutuskan menghindari bahaya secara benar.

2. Aspek-Aspek Perilaku Tidak Aman

(Lawton, 2018) memberikan pandangan bahwa perilaku tidak aman

dapat terbentuk antara kesalahan dan pelanggaran.

a. Kesalahan (Errors).

Kesalahan mungkin didefinisikan sebagai tindakan terencana yang

gagal untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kesalahan dapat

dibedakan menjadi 2, yaitu slips dan lapes di satu sisi dan mistakes di

sisi lainnya.

1) Slips dan lapes memiliki kesamaan yaitu keduanya merupakan

kegagalan dalam pelaksanaan pekerjaan. Slips adalah suatu

kesalahan tanpa disadari karena tidak sessuai dengan kebiasaan.

Contohnya: menjalankan pekerjaan dan mengoperasikan peralatan

tanpa wewenang dan tidak sesuai keahlian pekerjaan, posisi yang

salah dalam bekerja, membetulkan mesin dalam keadaan

menyala, dan sebaginya. Lapes adalah kesalahan lupa melakukan

suatu pekerjaan. Contohnya: tidak memberi peringatan bahaya,

tidak menggunakan APD yang benar, tidak menemppatkan alat

kerja sesudah selesai bekerja, tidak mengunci peralatan, dan

sebagainya.

2) Mistakes adalah kegagalan dalam memformulasikan maksud-

maksud yang benar, di mana dapat dihasilkan dari kelemahan atau

kekurangan dalam persepsi, memori, dan kognisi. Mistakes ini


14

dibagi 2, yaitu: knowledge-based mistakes dan rule-based

mistakes. Knowledge based mistakes dihasilkan dari keterbatasan

sumber daya atau karena pengetahuan yang tidak benar atau tidak

lengkap. Rule based mistakes berhubungan dengan salah persepsi

pada tuntutan-tuntutan situasional, atau ingatan yang salah pada

prosedur-prosedur kerja yang seesuai.

b. Pelanggaran (Violations).

Pelanggaran adalah kesalahan yang terjadi karena seseorang

mengetahui apa yang harus dikerjakan tetapi memutuskan untuk tidak

melakukan seperti apa yang diketahuinya itu. Melakukan pelanggaran

seringkali seseorang percaya bahwa pelanggar peraturan adalah

perrbuatan yang sah atau dibolehkan, pada sisi lain pelanggaran sangat

mudah utuk dilakukan. Operator mungkin memutuskan tidak memakai

pakaian pengaman atau manajer memutuskan membiarkan saja

meskipun ada kebocoran.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa aspek-

aspek perilaku tidak aman ada dua. Kedua aspek perilaku tidak aman

yaitu kesalahan (errors) dan pelanggaran (violations).

3. PenyebabPerilaku Tidak Aman

Menurut (Ramli, 2017)perilaku tidak aman merupakan kesalahan

manusia dalam suatu pengambilan sikap dan tindakan.Kesalahan manusia

tersebut antara lain :


15

a. Kesalahan dikarenakan lupa.

Kesalahan yang dilakukan dikarenakan lupa, akan tetapi sebenarnya

orang tersebut mengetahui, mampu, dan berniat mengerjakan suatu hal

secara benar dan aman dan telah biasa melakukannya. Misalnya

menekan tombol yang salah.

b. Kesalahan dikarenakan tidak tahu.

Kesalahan yang terjadi dikarenakan tidak mengetahui cara

mengerjakan pekerjaan secara benar dan aman atau terjadi

perhitungan yang salah. Kesalahan ini biasanya dikarenakan

kurangnya pelatihan, kesalahan instruksi, informasi yang berubah

tidak diberitahukan.

c. Kesalahan dikarenakan tidak mampu.

Kesalahan yang terjadi dikarenakan orang tersebut tidak mampu

melakukan pekerjaannya. Misalnya, pekerjaan terlalu sulit, beban fisik

dan mental yang terlalu berat akan pekerjaan tersebut, tugas yang

terlalu banyak.

d. Kesalahan yang dikarenakan kurang motivasi.

Kesalahan dikarenakan kurangnya motivasi dapat terjadi dikarenakan,

antara lain:

1) Dorongan pribadi Terburu-buru karena ingin cepat selesai,

melalui jalan pintas, ingin merasa nyaman, malas untuk memakai

APD, menarik perhatian dengan mengambil resiko yang

berlebihan.
16

2) Dorongan lingkungan Lingkungan fisik, sistem manajemen,

(contoh : dari pemimpin, dll).

e. Kesalahan dikarenakan aturan:

Kesalahan yang dikarenakan pekerja tidak melakukan pekerjaan yang

seharusnya dilakukan/melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan

standar dan prosedur yang telah diterapkan, misalnyapekerja yang

tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan instruksi kerja yang telah

dibuat.

4. Akibat yang ditimbulkan dari Tindakan Tidak Aman

(Suma’mur, 2015)menjelaskan akibat yang ditimbulkan dari

tindakan tidak aman yaitu:

a. Akibat langsung (direct lost).

Akibat yang dialami pekerja apabila melakukan tindakan tidak

aman secara langsung antara lain kecelakaan kerja yang dapat

menyebabkan cedera sampai dengan kematian, dan kerugian yang

harus dikeluarkan perusahaan untuk biaya pengobatan dan perbaikan

sarana produksi yang rusak yang ditimbulkan kecelakaan kerja.

b. Akibat tidak langsung (indirect los)

Akibat yang dialami pekerja apabila melakukan tindakan tidak

aman secara tidak langsung biasanya akan dirasakan dalam kurun

waktu yang relatif lama, antara lain penyakit akibat kerja yang dapat

memberikan kerugian diantaranya kerusakan lingkungan tempat kerja

dan kerusakan organ tubuh yang mengalami penyakit akibat kerja.


17

selain itu jam kerja hilang, kerugian produksi, kerugian sosial serta

citra perusahaan dan kepercayaan konsumen pun akan menurun.

5. Indikator Perilaku Tidak Aman

Menurut (DNV Modern Safety Management., 2016) yang termasuk

perilaku tidak aman adalah sebagai berikut:

a. Menjalankan peralatan tanpa wewenang

b. Tidak memberi peringatan

c. Tidak mengunci peralatan

d. Menjalankan mesin pada kecepatan yang tidak semestinya

e. Membuat alat keselamatan tidak dapat dioperasikan

f. Menggunakan peralatan yang cacat

g. Menggunakan peralatan tidak sebagaimana mestinya

h. Menggunakan peralatan pelindung diri secara tidak benar

i. Pemuatan yan tidak benar

j. Penempatan yang tidak benar

k. Pengangkatan yang tidak benar

l. Membetulkan mesin dalam keadaan masih nyala

m. Bercanda

n. Dipengaruhi rokok, alkohol dan atau obat obatan

o. Tidak mengikuti prosedur

p. Tidak melakukan pengidentifikasian bahaya

q. Tidak melakukan pengecekan/pemantauan

r. Tidak melakukan tindakan ulang/pembetulan


18

s. Tidak melakukan komunikasi/koordinasi

6. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku

Menurut Green dalam (Notoatmojo, 2010), perubahan perilaku itu

sendiri dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu:

a. Faktor Predisposisi (Presdisposing factor)

Faktor predisposisi yaitu merupakan faktor personal yang mendasari

terjadinya perilaku seseorang. Faktor tersebut yaitu pengetahuan,

sikap, motivasi, nilai-nilai dan budaya, kepercayaan, persepsi,

pelatihan dan karakteristik pekerja (umur, pendidikan, jenis kelamin

dan masa kerja) yang terdapat dalam diri atau kelompok.

b. Faktor Pendukung/Pemungkin (Enabling factor)

Faktor pemungkin berupa ketersediaan sarana dan prasarana atau

fasilitas yang mendukung terwujudnya suatu perilaku. Dalam hal ini

seperti peraturan keselamatan dan APD.

c. Faktor Penguat/pendorong (Reinforcing)

Faktor penguat/pendorong yaitu berupa pendapat, dukungan, kritik

baik dari keluarga, teman-teman kerja atau lingkugan bahkan juga

dapat berasal dari petugas seperti pengawasan.

7. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Tidak Aman

a. Pengetahuan

Pengetahuan sangat penting diberikansebelum individu

melakukan suatu Tindakan. Tindakan akan sesuai dengan

pengetahuanapabila individu menerima isyarat yang cukupkuat untuk

memotivasi dia bertindak sesuaidengan pengetahuannya (Shiddiq,


19

2016). Menurut Notoatmojo, pengetahuan merupakan hasil dari tahu,

terjadi setelah orang melakukan proses penginderaan terhadap objek

yang diamatinya, melalui penginderaan, pengetahuan diperoleh

dengan cara membaca, melihat, dan mendengar. Pengetahuan

merupakan salah satu faktor manusia terkait penyebab dasar terjadinya

kecelakaan kerja. Pengetahuan merupakan landasan seseorang untuk

melakukan sebuah tindakan. Selain melalui pendidikan formal,

pengetahuan dapat diperoleh melalui cara coba-coba, pengalaman

sendiri, maupun pengalaman orang lain (Notoatmojo, 2010).

Pengetahuan yang kurang akanKeselamatan dan Kesehatan

Kerja (K3) di lingkungan kerja menyebabkan seseorang sulit untuk

mengetahui potensi bahaya yang ada disekitarnya, sehingga sulit

untuk menentukan tindakan dalam mengendalikan potensi bahaya

tersebut. Oleh sebab itu seseorang akan menjadi kurang waspada

terhadap risiko yang dapat timbul dari perilakunya selama bekerja

(Sangaji, 2018).Semakin rendah pengetahuan seseorang maka akan

semakin tinggi risiko kecelakaan kerja sebaliknya semakin tinggi

pengetahuan seseorang maka akan semakin rendah risiko terjadinya

kecelakaan kerja, selanjutnya pekerja yang memiliki pengetahuan

tinggiakan mampu membedakan dan mengetahui bahayadisekitarnya

serta dapat melakukan pekerjaan sesuai dengan prosedur yang ada

karena mereka sadar akanrisiko yang diterimanya, sehingga

kecelakaan kerjadapat dihindari (Siregar, 2011). Hasil penelitian


20

(Tulaeka, 2018) ditemukan adanya hubungan antara pengetahuan

dengan perilaku tidak aman pada pekerjadi Departemen Rolling Mill.

b. Sikap

Sikap adalah respon yang tidak teramati secara langsung, yang masih

tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek (Notoatmojo, 2010).

Sikap menurut (Azwar, 2018) adalah kecenderungan individu untuk

memahami, merasakan, bereaksi dan berperilaku terhadap suatu objek

yang merupakan hasil dari interaksi komponen kognitif. Sikap merupakan

faktor predisposisi terhadap suatu perilaku. Seseorang yang bekerja pada

tempat berbahaya akan terlebih dahulu memahami risiko yang ada

sehingga sikap terhadap bahaya akan berpengaruh pula terhadap

pegambilan keputusan dalam berperilaku atau bertindak (Widarti, 2015).

Sikap terhadap kondisi kerja, kecelakaan dan praktikkerja yang aman

bisa menjadi hal yang pentingkarena ternyata lebih banyak persoalan yang

disebabkan oleh pekerja yang ceroboh dibandingkandengan mesin-mesin

atau karena ketidakpedulian karyawan (Endroyono, 2016). Pembentukan

sikap dapat dipengaruhi olehpengalaman pribadi, pengaruh orang lain

yang dianggap penting, pengaruh kebudayaandan mediainformasi, oleh

karena itu upaya yang dapat dilakukan perusahaan guna mengurangi

kecelakaan adalah membuat pemodelan dengan menghadirkanbeberapa

pekerja yang berprestasi sebagai modelyang patut ditiru oleh pekerja lain.

Adanyapemodelan tersebut diharapkan dapatmempengaruhi sikap positif

pekerja. Selain itu melaksanakan safety talk dan penyuluhan keselamatan

sebagai salah satu media informasi bagipekerja (Azwar, 2018).


21

Sikap pekerjaterbentuk dari pemahamanataupun pengetahuannya

mengenaiperilaku tidak aman. Pengetahuanyang kurang baik, akan

membentukpemikiran yang kurang baik, kemudian pemikiran yang kurang

baikakan membentuk sikap yang kurangbaik juga. Sikap yang kurang

baikakan tidak menerapkan perilaku amandalam bekerja(Listyandini, 2019).

Selain itu untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perilaku atau tindakan

maka diperlukan faktor pendukung sepertifasilitas dan lainnya

(Notoatmojo, 2010).

Hasil penelitian (Sangaji, 2018) ditemukan adanya hubungan antara

sikap dengan perilaku tidak aman pada pekerja. Sejalan dengan Hasil

penelitian Selva Pada Karyawan Factory 5 Di Pt.X Serpong-Banten 2016

(Karyawan bagian produksi divisi 5) didapatkan adanya hubungan antara sikap

dengan perilaku tidak aman pada pekerja (Prasanti, 2016).

c. Motivasi

Motivasi adalah bagian dari psikologi yang mengharapkan seseorang

untuk melaksanakan tingkah laku atau tindakan yang diinginkan. Para pekerja

harus diberikan motivasi untuk menggerakkan implementasi K3 secara nyata

di lapangan. Perlu disosialisasikan bahwa tanggung jawab K3 bukan hanya

untuk diri sendiri tetapi juga terhadap pekerja lainnya. Pekerja harus di

motivasi untuk menghentikan pekerjaan orang lain yang berperilaku tidak

aman (Konradus, 2016).

(Gunawan, 2015) menjelaskan bahwa cara untuk memotivasi pekerja untuk

berperilaku aman, yaitu:


22

1) Memberikan hadiah (reward) bagi perilaku aman melalui bonus,

promosi, tambahan tanggung jawab, skema intensif tertentu dan

penghargaan lain-lain

2) Mendorong keterlibatan dalam kegiatan seperti konsultasi, penyusunan

sistem kerja aman dan lain-lain

3) Menyediakan pelatihan dan membuat lingkungan kerja dengan kondisi

aman Menjelaskan dampak dari perilaku tidak aman dalam pertemuan-

pertemuan K3.

4) Menerapkan disiplin secara konsisten

Motivasi karyawan untuk bekerja merupakan hal yang rumit

karena melibatkan faktor-faktor individual maupun faktor-faktor

organisasi.Salah satu upaya untuk meningkatkan motivasi karyawan yaitu

dengan memberikan perlindungan pada karyawan selama masa kerja

(Tarwaka, 2018). Perlindungan ini diberikan dengan maksud agar

karyawan merasa aman dan nyaman bekerja di lingkungan kerjanya.

Perlindungan kepada karyawan selama menjalankan pekerjaan dengan

mengikutsertakan karyawan dalam program Jaminan Sosial Tenaga Kerja

menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perusahaan (Wanodya,

2014). Menurut penelitian Wanodya motivasi kerja merupakan kondisi

yang mempengaruhi, membangkitkan, mengarahkan dan memelihara

perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja (Wanodya, 2014).

d. Masa Kerja

Menurut (Siagian, 2015) menyatakan bahwa masa kerjamerupakan

keseluruhan pelajaran yang diperoleh oleh seseorang dari peristiwa-

peristiwa yang dilalui dalam perjalanan hidupnya. Masa kerja adalah


23

jangka waktu atau lamanya seseorang bekerja pada instansi, kantor, dan

sebagainya. Masa kerja seseorang dapat dikaitkan dengan pengalaman

yang didapatkan di tempat kerja. Semakin lama seseorang bekerjas emakin

banyak pengalaman dan semakin tinggi pengetahuan dan keterampilannya.

Masa kerja seseorang jika dikaitkan dengan pengalaman kerja dapat

mempengaruhi kecelakaan kerja, terutama pengalaman dalam hal

menggunakan berbagai macam alat kerja. Semakin lama masa kerja

seseorang maka pengalaman yang diperoleh akan lebih banyak dan

memungkinkan pekerja dapat bekerja lebih aman (Dirgagunarsa, 2015).

Berdasarkan hasil studi ILO yang dikutip oleh (Dirgagunarsa, 2015), di

Amerika menunjukan bahwa kecelakaan kerja yang terjadi selain karena

factor manusia, disebabkan juga karena masih baru dan kurang

pengalaman. Pengalaman merupakan keseluruhan yang didapat seseorang

dari peristiwa yang dilaluinya, artinya bahwa pengalaman seseorang dapat

mempengaruhi perilakunya dalam kehidupan organisasinya. Semakin

lamamasa kerja seseorang maka pengalaman yang diperolehnya semakin

banyak yang memungkinkan pekerja dapat bekerja lebih aman. (Geller,

2015) menyebutkan faktor pengalaman pada tugas yang sama dan

lingkungan sudah dikenal dapatmempengaruhi orang tersebut berperilaku

tidak aman dan terus berlaku karena menyenangkan, nyamandan

menghemat waktu dan perilaku ini cenderungberulang.

Pengalaman untuk kewaspadaan terhadap kecelakaan bertambah

baiksesuai dengan usia, masa kerja diperusahaan dan lamanya bekerja di

tempat kerjayang bersangkutan. Tenaga kerja baru biasanya belum


24

mengetahui secara mendalam seluk beluk pekerjaan dan keselamatannya.

Dalam hal ini, pekerja yang berpengalaman dapat lebih menekankan

keselamatan dalam melakukan pekerjaannya dikarenakan ia telah

mengetahui secara mendalam seluk beluk pekerjaan dan keselamatannya.

Sedangkan pekerja yang belum berpengalaman atau masih baru belum

mengenali seluk beluk pekerjaan dan keselamatannya (Suma’mur, 2015).

Menurut penelitian Sholihin pada karyawan di Bagian Produksi Unit IV

PT. Semen Tonasa, terdapat hubungan antara masa kerja dengan perilaku

tidak aman. Karyawan baru memerlukan perhatian lebih,pelatihan,

pengawasan, dan bimbingan daripada karyawan lama yang memiliki

pengalaman (Shiddiq, 2016).

e. Pengawasan

Pengawasan merupakan suatu pekerjaan yang berarti mengarahkan yaitu

memberikan tugas, menyediakan instruksi, pelatihan dan nasihat kepada

individu juga termasuk mendengarkan dan memecahkan masalah yang

berhubungan dengan pekerjaan serta menanggapi keluhan bawahan.

Pengawasan kerja merupakan proses pengamatan dari seluruh kegiatan

organisasi guna lebih menjamin bahwa semua pekerjaan yang sedang

dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya

(Siagian, 2015).

(Handoko, 2016) berpendapat bahwa terdapat beberapa tipe pengawasan

kerja, diantaranya adalah :

1) Pengawasan Pendahuluan (Freed Forward Control)


25

Bentuk pengawasan pra kerja ini dirancang untuk mengantisipasi

masalah-masalah atau penyimpangan dari standar atau tujuan dan

memungkinkan korelasi dibuat sebelum tahap tertentu diselesaikan.

Pendekatan pengawasan ini lebih aktif dan agresif, dengan mendeteksi

masalah-masalah dan mengambil tindakan yang diperlukan sebelum

suatu masalah terjadi.

2) Pengawasan selama kegiatan berlangsung (Concurrent Control)

Pengawasan dilakukan selama suatu kegiatan berlangsung.

Pengawasan ini merupakan suatu proses dimana aspek tertentu dari

suatu prosedur disetujui terlebih dahulu sebelum kegiatan-kegiatan

dilanjutkan atau menjadi semacam peralatan Double Chek yang lebih

menjamin ketepatan pelaksanaan suatukegiatan.

3) Pengawasan Umpan Balik (Feedback Control)

Bentuk pengawasan ini untuk mengukur hasil-hasil dari suatu

kegiatan yangtelah diselesaikan, sebab-sebab penyimpangan dari

rencana atau standar yang telah ditentukan, dan penemuan-penemuan

diterapkan untuk kegiatan-kegiatan serupa dimasa yang akan datang.

Pengawasan ini bersifat historis, pengukuran dilakukan setelah

kegiatan terjadi.

(Sutrisno, 2017) menjelaskan beberapa hal yang diidentifikasi saat

melakukan pengawasan diantaranya yaitu:

1) Masalah keselamatan kerja (bahaya kebakaran, desain yang tidak

aman, penataanlokasi kerja yang tidak baik).

2) Keadaan peralatan dan mesin yang digunakan tidak layak atau rusak.
26

3) Letak peralatan pengaman.

4) Kegiatan pekerja yang tidak aman (cara kerja yang salah, penggunaan

alat yangtidak aman, kesalahan dalam menggunakan APD).

5) Memastikan kemungkinan masih adanya kondisi bahaya.

6) Memastikan lorong dan jalan yang dilalui aman.

7) Penataan material ecara baik dan benar.

8) Memastikan apakah pekerja mengikuti peraturan yang ada.

9) Pengawasan dilakukan sesering mungkin sehingga segera dapat

diketahui dansegera diperbaiki saat terdapat kondisi berbahaya atau

tindakan tidak aman.

Menurut (Geller, 2015), pengetahuan dari sisi personal datang dari ilmu

kognitif sedangkan pelaksanaan pengawasan dan safety meeting datang

dari faktor eksternal yaitu pengenalan terhadap cara kerja aman,

komunikasi dan perhatian. Pengawasan bertujuan untuk mengetahui

bahaya-bahaya yang mungkin terjadi selama proses bekerja. Ia

menyebutkan bahwa adanya peran pengawas dalam perilaku kerja,

keduanya berhubungan langsung dengan target individu yang sedang

berlangsung. Ia juga menyatakan bahwa pengawasan bertujuan untuk

mengetahui bahaya-bahaya yang mungkin terjadi selama proses bekerja.

Pengawas memiliki peran dalam mempengaruhi pengetahuan,

sikap keterampilan, dankebiasaan akan keselamatan setiap pekerja dalam

suatu areatanggung jawabnya. Pengawas lebih mengetahui secara

baiktentang para pekerjanya, catatan cuti, kebiasaan bekerja, perbuatandan

keterampilan dalam bekerja. Pengawasan merupakan salah satu tugas


27

mutlakdiselenggarakan dalam mengendalikan kegiatan-kegiatan

teknisyang dilakukan oleh pekerja.Bila fungsi pengawasan tidak

dilaksanakan makapenyebab dasar dari suatu insiden akan timbul yang

dapatmengganggu kegiatan perusahaan (Handoko, 2016). Menurut

penelitian Listyandini pada Pekerja di Pabrik Pupuk NPK, terdapat

hubungan antara pengawasandengan perilaku tidak aman (Listyandini,

2019).

f. Peraturan Keselamatan

Peraturan merupakan dokumen tertulis yang mendokumentasikan standar,

norma, dan kebijakan untuk perilaku yang diharapkan (Geller, 2015).

Peraturan memiliki peran besar dalam menentukan perilaku aman yang

mana dapat diterima dan tidak dapat diterima. Pelanggaran disisi lain

mengacu pada niat untuk mengabaikan petunjuk atau aturan yang telah

ditetapkan untuk melakukan tugas tertentu.

Notoatmodjo menyebutkan salah satu strategi perubahan perilaku adalah

dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaan misalnya peraturan-

peraturan dan perundang-undangan yang harus dipatuhi oleh anggota

masyarakat. Cara ini menghasilkan perubahan perilaku yang cepat, akan

tetapi perubahan tersebut belum tentu akan berlangsung lama karena

perubahan perilaku yang terjadi tidak atau belum didasari oleh kesadaran

sendiri (Notoadmodjo, 2017).

Suma’mur menyatakan bahwa suatu perusahaan harus memiliki aturan

yang jelas tentang penerapan keselamatan dan kesehatan kerja dan aturan

tersebut harus diketahui oleh setiap perusahaan (Suma’mur, 2015). Salah


28

satu aturan yang ada diperusahaan adalah SOP. Menurut Utommi,

Standard Operating Procedure (SOP) adalah ukuran layanan tertentu yang

dipakai sebagai patok oleh petugas dalam melaksanakan tugasnya.

Pengusaha wajib menyediakan prosedur operasi tertulis yang berisi tentang

proses operasi secara aman, termasuk langkah-langkah untuk tahapan

operasi, batas operasi, pertimbangan Keselamatan dan sistem keselamatan.

Prosedur harus tersedia bagi karyawan yang memerlukan, di mutkahirkan

secara berkala dan juga mencakup keadaan-keadaaan khusus seperti cara

masuk ke ruang tertutup untuk memperbaiki area tersebut melalui sistem

lockout dan tagout yaitu hanya yang mengunci yang berwewenang untuk

membuka pengaman pada ruang tertutup tersebut (Utommi, 2017).

g. Ketersediaan APD

Menurut Notoatmojo, perilaku dapat dibentuk oleh 3 faktor, salah satunya

adalah faktor pemungkin (enabling) yaitu ketersediaan fasilitas dan sarana

kesehatan. Ketersediaan APD dalam hal ini merupakan salah satu bentuk

dari faktor pendukung perilaku, dimana suatu perilaku otomatis belum

terwujud dalam suatu tindakan jika terdapat fasilitas yang mendukung

terbentuknya perilaku tersebut (Notoadmodjo, 2017). Ketersediaan Sarana

dan prasaran yang mendukung tindakan pekerja berperilaku selamat dalam

bekerja (Suma’mur, 2015)

Penggunaan APD merupakan alternatif yang paling terakhir dalam

Hierarki pengendalian bahaya. Lebih baik mendahulukan tempat kerja

yang aman, daripada pekerjaan yang safety karena tempat kerja yang

memenuhi standar keselamatan lebih menjamin terselenggaranya


29

perlindungan bagi tenaga kerja. Pada pengguanaan APD harus

dipertimbangkan berbagai hal, seperti pemilihan dan penetapan jenis

pelindung diri, standarisasi, pelatihan cara pemakaian dan perawatan APD,

efektivitas penggunaan, pengawasan pemakaian, pemeliharaan dan

penyimpanan (Suma’mur, 2015).

Beberapa pekerja mungkin menolak untuk menggunakan APD karena

APD tersebut menimbulkan ketidaknyamanan dan menambah beban stress

pada tubuh. Stress ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman atau kesulitan

untuk bekerja. Berdasarkan penelitian Hendrabuwana terdapat hubungan

yang bermakna antara ketersediaan APD dengan perilaku aman

(Hendrabuwana, 2017).

h. Peran Rekan Kerja

Dengan semakin meningkatnya kekompleksitasan akan tuntutan

pencapaian hasil oleh klien dari suatu projek tentunya hal ini akan

melibatkan banyak tenaga ahli didalamnya sehingga membutuhkan suatu

upaya kerja kolektif (team work) dan komunikasi daripada suatu upaya

yang bersifat individual dalam penyelesaian suatu tugas ataupun proyek.

Seringkali pekerja berperilaku tidak aman karena rekannya yang lain juga

berperilaku demikian. Geller juga menyebutkan tekanan rekan kerja

semakin meningkat saat semakin banyak orang terlibat dalam perilaku

tertentu dan saat anggota grup yang berperilaku tertentu terlihat relatif

kompeten atau berpengalaman(Geller, 2015). Selanjutnya, pada penelitian

Karyani terhadap 113 pekerja di Schlumberger Indonesia tahun 2005

diperoleh bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku aman


30

setelah peran pengawas/supervisor adalah peran dari rekan kerja. Peran

rekan kerja yang tinggi menujukan peluang pekerja untuk berperilaku

aman sebesar 6,314 kali dibandingkan pekerja yang mempunyai peran

rekan kerja yang rendah (Karyani, 2015).

2.2 Kerangka Teori

Berdasarkan uraian pada landasan teori di atas, maka kerangka

teori dapat dijelaskan bagan kerangka teori di bawah ini.

Faktor Predisposisi/Predisposing Factors


Pengetahuan
Sikap
Motivasi
Faktor Pemungkin/ Enablings Factors Perilaku Tidak Aman
Ketersediaan APD
Peraturan Keselamatan
Faktor Penguat/ Reinforcing Factors
Pengawasan
Rekan Kerja

Gambar 2.1 Kerangka Teori

Sumber Modifikasi(Notoatmodjo, 2014), Suma’mur (2016), Heinrich (2016),

DNV Modern Safety Management (2016), (Tulaeka, 2018), (Listyandini, 2019),

(Shiddiq, 2016), (Hendrabuwana, 2017), (Karyani, 2015)


31

2.3 Penelitian Terkait

Berikut penelitian terkait mengenai faktor yang berhubungan dengan perilaku

tidak aman:

Tabel 2.1Penelitian Terkait


No Nama Judul Variabel Metode penelitian Hasil penelitian
penelitian penelitian penelitian
1 Selva Faktor-Faktor Pengetahua, Jenis penelitian ini 56,1% responden berperilaku
Prasanti Yang Sikap, adalah penelitian aman, 56,1%32 responden
(2016) Berhubungan persepsi kuantitatif dengan memiliki pengetahuan
Dengan Perilaku tentang pendekatan cross tentang risiko, bahaya dan
Tidak Aman kondisi sectional unsafe action yang baik,
(Unsafe Action) APD, peran 67,1% responden memiliki
Dalam Bekerja pengawas sikap positif terhadap
Pada Karyawan perilaku aman dalam bekerja,
Factory 5 Di 57,3% responden memiliki
Pt.X Serpong- persepsi positif terhadap
Banten 2016 perilaku aman tentang
( Karyawan kondisi APD, 69,5%
bagian produksi responden menyatakan peran
divisi 5) pengawas mendukung
terjadinya perilaku aman
dalam bekerja. Hasil uji
statistik, variabel sikap (P
value = 0,000), persepsi (P
value = 0,000), dan peran
pengawas (P value = 0,000)
berhubungan dengan perilaku
tidak aman dalam bekerja.
Pengetahuan tidak
berhubungan dengan perilaku
tidak aman dalam bekerja (P
value = 0,558
2 Andini Faktor-Faktor Pengetahuan Jenis penelitian ini Hasil penelitian 54,3%
Puspasari Yang , Sikap, adalah penelitian karyawan berperilaku tidak
(2018) Berhubungan Pengawasan kuantitatif dengan aman, 65,2% memiliki
Dengan Perilaku pendekatan cross pengetahuan tinggi, 56,5%
Tidak Aman sectional memiliki sikap positif, 63%
(Unsafe Action) menyatakan tidak adanya
Pada Karyawan pengawasan yang dilakukan
Di Unit di unit produksi. Hasil uji
Produksi 2 Pt statistik variabel sikap (P
Panata Jaya value= 0,030), Pengawasan
Mandiri (P value= 0,022)
Tangerang- berhubungan dengan perilaku
Banten Tahun tidak aman. Pengetahuan
2018 tidak berhubungan dengan
perilaku tidak aman (P
value= 0,262).
3. Alqia Nur Pengaruh Motivasi Jenis penelitian ini Hasil menunjukan terdapat
Affidah, Motivasi dan adalah survei hubungan antara
Vivien Tindakan Tidak analitik dengan motivasidengan perilaku
Dwi Aman Terhadap pendekatan waktu tidak aman.Variabel motivasi
Purnama Kecelakaan penelitian dengan berpengaruh terhadap
Sari Kerja pada cara cross- terjadinya kecelakaan kerja
Karyawan sectional. pada karyawan bagian
Bagian Produksi produksi dalam masa giling
Dalam Masa shift 3.
Giling Shift 3
Pg X Kediri
4. Sholihin Hubugan Masa kerja Jenis penelitian ini Hasil menunjukan terdapat
Shiddiq, Persepsi K3 adalah survei hubungan antara masa
(2014) Karyawan analitik dengan kerjadengan perilaku tidak
dengan Perilaku pendekatan cross- aman. Karyawan baru
Tidak Aman di sectional memerlukan perhatian
Bagian Produksi lebih,pelatihan, pengawasan,
Unit IV PT. dan bimbingan
Semen Tonasa daripadakaryawan lama yang
memiliki pengalaman.
5. Abdul Hubungan Pengetahuan Jenis penelitian ini Hasil menunjukan terdapat
Rohim Safety adalah penelitian hubungan antara
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep Penelitian

Kerangka konsep penelitian atau kerangka berfikir merupakan suatu uraian

antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya, uraian tersebut sesuai dengan tujuan

penelitian maka peneliti membuat kerangka konsep penelitian sebagai berikut:

Variabel Independen Variabel Dependen

Pengetahuan
Sikap Perilaku tidak aman
Pengawasan

Gambar 3.1 Kerangka Konsep

3.2 Definisi Operasional

Definisi operasional dari variabel yang digunakan dalam penelitian ini dengan

menggunakan cara ukur, alat ukur dan hasil ukur akan dijabarkan dalam tabel di

bawah ini :

No Variabel Definisi Cara Alat Ukur Hasil Ukur Skala


Operasional Ukur Ukur
Dependen
1. Perilaku Tindakan dilakukan Pengisian Kuesioner 0 = Tidak Ordinal
tidak aman responden/pekerja Kuesioner Aman,jika skor
yang tidak sesuai < mean/
dengan prosedur median
kerja yang berlaku 1 = Aman, jika
yaitu skor≥
1. Tidak membaca mean/median
dan mengenali
prosedur /proses
kerja dalam
melaksanakan
pekerjaan
2. Menjalankan
34

No Variabel Definisi Cara Alat Ukur Hasil Ukur Skala


Operasional Ukur Ukur
Dependen
peralatan atau
mesin tanpa
perintah dan
wewenang
3. Menggunakan
APD tidak
secara lengkap
saat berkerja
4. Menggunakan
peralatan tidak
sesuai fungsinya
5. Memperbaiki
atau melakukan
perawatan
terhadap
peralatan kerja
(mesin) yang
sedang
beroperasi
6. Mengangkat
beban dengan
posisi
membungkuk
7. Mengobrol
dengan teman
saat sedang
bekerja
Melakukan
pekerjaan
dengan cepat
dan terburu-buru
demi
menyelesaikan
pekerjaan dalam
waktu singkat
Independen
1. Pengetahuan Banyaknya Pengisian Kuesioner 0 = Kurang Ordinal
informasi yang Kuesioner baik,jika skor <
dimiliki oleh mean/ median
pekerja/responden 1 = Baik, jika skor
mengenai bahaya, ≥ mean/median
resiko, dan perilaku
tidak aman
diantaranya
1. Program
kesehatan dan
35

No Variabel Definisi Cara Alat Ukur Hasil Ukur Skala


Operasional Ukur Ukur
Dependen
keselamatan
kerja (k3) di
area produksi
2. Pengertian
bahaya, insiden
dan risiko
3. Pengertian
perilaku tidak
aman (Unsafe
action)
4. Penyebab dasar
timbulnya
perilaku tidak
aman
5. Jenis bahaya
yang ada di area
produksi
6. Cara mencegah
bahaya agar
tidak
menimbulkan
kecelakaan kerja
pada karyawan
di area produksi
tersebut
7. Safety Lifting
1.
2. Sikap Kecenderungan Pengisian Kuesioner 1 = Negatif,jika Ordinal
responden untuk Kuesioner skor < mean/
berfikir dan median
bertindak saat 2 = Positif, jika
bekerja agar dapat skor ≥
melakukan perilaku mean/median
aman dalam bekerja (Puspasari, 2018)
seperti
3. Pengawasan Kegiatan Pengisian Kuesioner 0 = Rendah,jika Ordinal
pemantauan dan Kuesioner skor < mean/
pengarahan pada median
pekerja untuk selalu 1 = Tinggi, jika
berperilaku aman skor ≥
saat bekerja yaitu mean/median
1. Memeriksa
kelengkapan alat
pelindung diri
(APD) karyawan
sebelum
36

No Variabel Definisi Cara Alat Ukur Hasil Ukur Skala


Operasional Ukur Ukur
Dependen
memulai
pekerjaan
2. Mengingatkan
untuk bekerja
sesuai Standar
Prosedur kerja
3. Pengawas
(supervisor)
bertindak tegas
pada karyawan
yang berperilaku
tidak aman saat
bekerja
4. Penentuan
prosedur kerja di
perusahaan
sudah cukup
jelas dan mudah
dipahami
5. Prosedur kerja di
perusahaan
mampu
memudahkan
pegawai dalam
memperkecil
kesalahan
6. Penetapan
anggaran untuk
tugas pegawai
telah jelas dan
transparan
7. Tindakan atas
pelanggaran
yang dilakukan
oleh pegawai
sudah dilakukan
dengan objektif

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian


37

Tempat penelitian ini dilakukan diPT Calpis Indonesia yang berada di

kawasan Ejip Cikarang. Waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan September -

Desember 2020.

3.4 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan analitik kuantitatif,dimana peneliti ingin

mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat yang dilihat

berdasarkan hitungan atau angka. Adapun pendekatan yang digunakan dalam

penelitian dengan cara cross sectional, dimana seluruh variabel yang diamati, diukur

dalam waktu bersamaan ketika penelitian berlangsung yang bertujuan untuk

mengetahui faktor-faktor (pengetahuan, sikap, motivasi, masa kerja dan pengawasan)

yang berhubungan dengan perilaku tidak aman pada pekerja bagian produksi di PT

Calpis Indonesia.

Jenis data yang dikumpulan dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder:

1. Data Primer

Data Primer diperoleh berdasarkan hasil kuesioner yang memuat beberapa

pertanyaan yang meliputi perilaku tidak aman, pengetahuan mengenai K3, sikap,

motivasi, masa kerja dan pengawasan atasan pada responden

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung. Data

sekunder pada penelitian ini diperoleh dari PT Calpis Indonesia mengenai

gambaran umum perusahaan, jumlah pekerja di perusahaan tersebut.

3.5 Populasi dan Sampel Penelitian

3.5.1 Populasi Penelitian


38

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja yang ada di bagian

produksi di PT Calpis Indonesia. Jumlah populasi dalam penelitian ini yaitu sebanyak

150 responden.

3.5.2 Sampel Penelitian

Besar sampel yang digunakan sesuai dengan rumus besar sampel yang sesuai

rancangan penelitian rumus sampel uji dua proporsi, yaitu :

2
(Z 1−∝/2 √ 2 P ( 1−P ) +Z 1−β √ P 1 ( 1−P 1 )+ P 2(1−P 2))
n=
( P 1−P 2)2

Keterangan :

N : Besar Sampel

Z1-α/ : Derajat Kemaknaan (95%)= 1,96

Z1-β : Kekuatan Uji pada 1-β= 80% = 0,84

P : Rata-Rata Proporsi pada Populasi = 0,3

P1 : Proporsi perilaku tidak aman dengan sikap kurang baik = 0,5 (Shiddiq, 2016)

P2 : Proporsi perilaku tidak aman dengan sikap baik = 0,1(Shiddiq, 2016)

Tabel 3.2 Besar proporsi yang digunakan untuk besar sampel penelitian

Variabel P1 P2 N Sumber
Sikap 0,5 0,1 13 (Shiddiq, 2016)
Pengetahuan 0,88 0,04 4 (Halimah, 2018)
Pengawasan 0,96 0,21 6 (Prasanti, 2016)
2
(Z 1−∝/2 √ 2 P ( 1−P ) +Z 1−β √ P 1 ( 1−P 1 )+ P 2(1−P 2))
n=
( P 1−P 2)2

2
(1,96 √ 2.0,3 ( 1−0,3 ) +0,84 √ 0,5 ( 1−0,5 )+ 0,1(1−0,1))
n=
( 0,5−0,1)2

2
(1,96 √ 0.6 ( 0,4 ) +0,84 √0,5 ( 0,5 )+ 0,1(0,9))
n=
(0,4 )2
39

2
(1,96 √ 0,24+0,84 √ 0,25+ 0,09)
n=
0,16

(1,96.0,49+0,84.0,58)2
n=
0,16

(0,96+0,49)2
n=
0,16

2,1025
n=
0,16

n=13,14

Berdasarkan perhitungan sampel diatas diperoleh sampel minimal untuk penelitian ini

adalah 13. Kemudian jumlah sampel dikalikan dua sehingga menjadi 26. Untuk

menghindari dropout atau missing jawaban dari responden maka perlu ditambahkan

10% dari jumlah sampel sehingga didapatkan jumlah sampel keseluruhan sebanyak 29

orang.

Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan Simple random sampling, Simple

random sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang langsung dilakukan

pada unit sampling. Teknik simplerandom sampling memungkinkan setiap unit

sampling sebagai unsur populasi memperoleh peluang yang sama untuk menjadi

sampel(Margono, 2010). Pemilihan sampel dengan cara memberi nomor pada calon

responden 1 sampai 150 kemudian mengocok nomor tersebut sebanyak 29 kali.

3.5.3. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target

yang terjangkau yang akan diteliti (Nursalam, 2008).


40

1. Kriteria Inklusi yaitu semua karyawan yang bekerja di bagian produksi di PT Calpis

Indonesia

2. Kriteria Eksklusi yaitu Karyawan yang tidak hadir saat peneliti melakukan

pengambilan data sampel

3.6 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data

sebagai berikut:

1. Perilaku tidak aman

Instrumen yang digunakan dalam mengukur perilaku tidak aman

menggunakan kuesioner sebanyak 20 soal. Skala yang digunakan yaitu skala

likert yang terdiri dari 4 jawaban pilihan yang terdiri dari pernyataan positif

maupun pernyataan negatif. Pilihan jawaban tersebut yaitu Selalu (SL),

Sering(SR), Jarang (JR) dan Tidak Pernah (TP), dengan skor jawabandari item

pernyataan perilaku positif:

a. Selalu (SL) jika responden sangat setuju dengan pernyataan dan diberikan

melalui jawaban kuesioner skor empat

b. Sering (SR) jika responden setuju dengan pernyataan kuesioner dan

diberikan melalui jawaban kuesioner skor tiga

c. Jarang (JR) jika responden ragu-ragu dengan pernyataan kuesioner dan

diberikan melalui jawaban kuesione skor dua

d. Tidak pernah (TP) jika responden tidak setuju dengan pernyataan kuesioner

dan diberikan melalui jawaban kuesioner skor satu

Adapun untuk jawaban dari item pernyataan perilaku negatif yaitu:


41

a. Selalu (SL) jika responden sangat setuju dengan pernyataan kuesioner dan

diberikan melalui jawaban kuesioner skor satu

b. Sering (SR) jika responden setuju dengan pernyataan kuesioner dan

diberikan melalui jawaban kuesioner skor dua

c. Jarang (JR) jika responeden ragu-ragu dalam pernyataan kuesioner dan

diberikan melalui jawaban kuesioner skor tiga

d. Tidak pernah (TP) iika responden tidak setuju dengan pernyataan kuesioner

dan diberikan jawaban kuesioner skor empat

Perilaku dikatakan aman jika nilai ≥ mean/median, dan dikatakan tidak aman

jika nilai <mean/median.

2. Pengetahuan

Instrumen yang digunakan dalam mengukur pengetahuan tentang K3

menggunakan kuesioner sebanyak 10 soal dengan menggunakan jawaban Ya dan

Tidak. Jawaban responden jika benar diberi skor 1 dan jika salah diberi skor 0.

3. Sikap

Instrumen yang digunakan dalam mengukur sikap tentang K3

menggunakan kuesioner sebanyak 10 soal dengan menggunakan jawaban Ya dan

Tidak. Jawaban responden jika benar diberi skor 1 dan jika salah diberi skor 0.

Dikatakan sikap responden positif (jika nilai ≥ mean/median) dan dikatakan

negatif (jika nilai <mean/median).

4. Pengawasan

Instrumen yang digunakan dalam mengukur pengawasan menggunakan

kuesioner sebanyak 10 soal. Skala yang digunakan yaitu skala likert yang terdiri

dari 5 jawaban. Bentuk jawaban dalam skala ini yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju

(S), Kurang Setuju (KS), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS).
42

Pengawasan dikatakan tinggi jika nilai ≥ mean/median, dan dikatakan rendah jika

nilai <mean/median.

3.7 Teknik Pengolahan

Pengelohan data digunakan dengan perangkat lunak dengan menggunakan

program statistik, hasil penelitian diolah dengan tahapan sebagai berikut:

1. Editing

Sebelum data diolah data tersebuit dilakukan pengecekan dan perbaikan terhadap

isian kuesioner sehingga jika ada belum lengkap bisa dilengkapi.

2. Coding

Coding merupakan kegiatan memberikan kode pada jawaban yang ada

untukmempermudah dalam proses pengelompokan dan pengolahan

data.Pengkodean jawaban adalah memberi angka pada tiap-tiap jawaban.

Berdasarkan variabel dependen perilaku tidak aman diberi kode 1 jika aman dan 2

jika tidak aman. Variabel independen pengetahuan diberi kode 1 jika baik dan 2

jika kurang baik, sikap diberi kode 1 jika positif dan 2 jika negatif, serta

pengawasan diberi kode 1 jika tinggi dan 2 jika rendah.

3. Tabulating (Tabulasi)

Membuat tabulasi termasuk dalam kerja memproses data. Membuat tabulasi

merupakan langkah memasukkan data ke dalam tabel dengan berbagai kategori

atau kriteria, dalam penelitian ini peneliti membuat tabel induk yang memuat

susunan data penelitian berdasarkan klasifikasi yang sistematik yang berkaitan

dengan faktor yang berhubungan dengan perilaku tidak aman pada pekerja.

4. Entry Data
43

Entry data dalam penelitian ini dimana peneliti melakukan kegiatan

mengumpulkan data yang telah dikumpulkan ke dalam master tabel atau data

base computer selanjutnya dimasukkan ke dalam program SPSS IBM 25, lalu

membuat distribusi frekuensi sederhana atau membuat table kontigensi. Peneliti

melakukan pengecekan kembali data yang sudah dimasukan untuk melihat

kemungkinan adanya kesalahan kode ketidak lengkapan dan sebagainnya.

3.8 Uji Validitas Dan Realibilitas Kuesioner

3.8.1 Uji Validitas

Uji validitas dilakukan pada 30Karyawandi bagian produksi di PT Mayora Indah Tbk.

Variabel yang diuji adalah variabel independen yaitu variabel pengetahuan, sikap, dan

pengawasan, serta variabel dependen yaitu perilaku tidak aman.Teknik pelaksanaan

pada uji validitas pada kuesioner dalam format google formulir,dilakukan dengan

melihat r tabel dengan menggunakan df = n-2, maka tingkat kemaknaan 5% didapat

dari angka r tabel, kriteria pengujian adalah bila r dihitung > dari r tabel maka

instrumen atau item-item berkolerasi signitifikan terhadap skor, bila r hitung < r tabel

maka instrumen dan item-item pertanyaan tidak berkorelasi signitifikan terhadap skor

total (dinyatakan tidak valid).

3.8.2. Reabilitas

Uji ini dilakukan untuk menilai sejauh mana kuesioner dapat dipercaya dan diandalkan.

Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap

pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Pengukuran yang

memiliki realibilitas yang tinggi adalah pengukuran yang dapat menghasilkan data yang

reliabel. Pengujian realibilitas digunakan dengan rumus realibilitas α dengan Alpha

Cronbach, dengan interpretasi sebagai berikut:


44

a. Jika nilai α≥ 0.6 artinya variabel reliabel.

b. Jika α≤ 0.6 artinya variabel tidak reliabel

Jadi, semakin α mendekati angka 1 maka realibitas akan semakin tinggi. Angka

kesepatan secara umum dipakai oleh para peneliti adalah 0.6-0.095.

3.9 Uji Normalitas

Untuk mengetahui data terdistribusi normal atau tidak yaitu dengan melihat garis

normal pada grafik histogram atau dengan menggunakan Uji Kolmogorov Smiirmov

dalam pengambilan keputusan. Dengan melakukan Uji Kolmogorov Smiirnov (Uji

KS) data dikatakan normal, jika nilai signifikan (p-value) uji KS > 0,05. Jika nilai

signifikan (p-value) Uji KS < 0,05, maka data tidak terdistribusi normal. Uji

Normalitas digunakan untuk menentukan penggunaan mean atau median, dimana jika

data terdistribusi nomal menggunakan mean dan jika data tidak terdistribusi normal

menggunakan median.

3.10 Analisa Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu univariat dan bivariat

dengan penjelasan sebagai berikut:

3.10.1 Analisis Univariat

Analisi univariat dilakukan terhadap tiap variabel dan hasil penelitian. Pada

umumnya hasil analisis ini menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel.

Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

F
P= x 100%
N

Keterangan:
45

P = Persentase

F = Frekuensi

N = Jumlah responden

100% = Bilangan tetap

(Notoatmodjo, 2014)

3.10.2 Analisis Bivariat

Analisis bivariat digunakan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau

berkolerasi yaitu antara variabel bebas dan variabel terikat. Dalam analisis ini

menggunakan uji statistik chi-square, dimana merupakan teknik statistik yang

digunakan untuk menguji pengaruh antara 2 variabel apabila skala data variabel

penelitian berupa skala normal dan skala ordinal. Dalam penelitian kesehatan, uji

signitifikan dilakukan dengan menggunakan batas kemaknaan (Alpha>0,05) dan 95%

confidence interval.

Pada penelitian crosssectional nilai asosiasi yang digunakan adalah nilai

PrevalensRatio(PR) untuk mengetahui kelompok mana yang memiliki risiko lebih

besar dibandingkan kelompok lain antara masing-masing variabel independen yang

diteliti terhadap variabel dependen. PR dipakai jika prevalensi kasus besar>10%

Nilai prevelanceratio (PR) = 1 maka tidak ada hubungan antara variabel independen

dengan variabel dependen.

Nilai prevalenceratio (PR) < 1 maka variabel independen merupakan mengurangi

kejadian terhadap variabel dependen.

Nilai prevelanceratio (PR) > 1 maka variabel independen merupakan faktor risiko

terhadap variabel dependen..


DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S. (2018). Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Pustaka Pelajar.

BPJS Ketenagakerjaan. (2020). No Title. https://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/

Dirgagunarsa, D. (2015). Pengantar Psikologi. Mutiara Sumber.

DNV Modern Safety Management. (2016). Loss Control Managment Training

(Revised ed).

Endroyono, B. (2016). Keselamatan Kerja untuk Teknik Bangunan. IKIP

Semarang Press.

Fitriana, K. (2016). Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Kerja

Pada Pekerja Di Pt Dhl Supply Chain Indonesia Muf Cimanggis Tahun 2016.

Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Respati

Indonesia.

Geller, E. S. (2015). The Pshychologi Of Safety Handbook. Lewis Publiher.

Gunawan, I. (2015). Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik. Bumi

Aksara.

Halimah, S. (2018). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Aman Karyawan

di PT. Suzuki Indomobil motor Plant Tambun II Tahun 2018. Skripsi.

Jakarta: FKIK UIN.

Handoko, T. (2016). Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. BPFE.

Hendrabuwana, L. O. (2017). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku

Bekerja Selamat Bagi Pekerja Di Depatemen Cor PT Pindad Persero

Bandung Tahun 2017. Skripsi. Depok : FKM UI.

ILO. (2018). What is Occupational safety and health.

ILO. (2020). World Statistic:The enormous burden of poor working conditions.


47

https://www.ilo.org/moscow/areas-of-work/occupational-safety-and-

health/WCMS_249278/lang--en/index.htm

Karyani. (2015). Faktor-faktor yang berpengaruh pada perilaku aman (safe

behavior) di Schlumberger Indonesia tahun 2015. Tesis. FKM UI Depok.

Konradus, D. (2016). Keselamatan dan Kesehatan Kerja. PT Percetakan Penebar

Swadaya.

Lawton, R. (2018). Individual differences in accident liability: a review and

integrative approach. The Journal of the Human Factors and Ergonomics

Society, Volume 40 No 4.

Listyandini, R. (2019). Faktor Yang Berhubungan Dengan Tindakan Tidak Aman

Pada Pekerja Di Pabrik Pupuk Npk. Hearty, 7(1).

https://doi.org/10.32832/hearty.v7i1.2299

Margono, S. (2010). Metode Penelitian Pendidikan. Pustaka Setia.

Maulidhasari, D. (2016). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku

Berbahaya (Unsafe Action) Pada Bagian Unit Intake PT. Indonesia Power

Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Semarang. Jurnal Visikes, Volume 10 No

1. Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro.

Notoadmodjo. (2017). Pendidikan dan perilaku kesehatan.

Notoatmodjo, S. (2014). Metodelogi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta.

Notoatmojo, S. (2010). Promosi Kesehatan Ilmu Perilaku Kesehatan. Rineka

Cipta.

Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu

Keperawatan. Salemba Medika.

Prasanti, S. (2016). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Tidak


48

Aman (Unsafe Action) Dalam Bekerja Pada Karyawan Factory 5 Di Pt.X

Serpong-Banten 2016.

Pratama, A. K. (2015). Pekerja dengan Unsafe Action pada Tenaga Kerja

Bongkar Muat di PT. Terminal Petikemas Surabaya. The Indonesian Journal

of Occupational Safety and Health, Volume 4 No 1.Health Safety

Environment (HSE) PT. Petikemas Surabaya.

Puspasari, A. (2018). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Tidak

Aman (Unsafe Action) Pada Karyawan Di Unit Produksi 2 Pt Panata Jaya

Mandiri Tangerang- Banten Tahun 2018.

Ramli, S. (2017). Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja. Dian

Rakyat.

Sangaji, J. (2018). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan PerilakuTidak Aman

Pekerja Bagian Lambung Galangan KapalPT X. Jurnal Kesehatan

Masyarakat (e-Journal)Volume 6, Nomor 5. Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Diponegoro.

Shiddiq, S. (2016). Hubugan Persepsi K3 Karyawan dengan Perilaku Tidak

Aman di Bagian Produksi Unit IV PT. Semen Tonasa.

Siagian. (2015). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.

Siregar, R. . (2011). Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku

Berkendara Dengan Aman pada Civitas Akademika UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta Tahun 2010.

http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/3671

Sucipto, C. D. (2015). Keselamatan dan Kesehatan kerja. Yogyakarta: Gosyen

Publishing.
49

Suma’mur. (2015). Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. PT Toko

Gunung Agung.

Sutrisno. (2017). Manajemen SumberDaya manusia. (Kencana. (ed.)).

Tarwaka. (2018). Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Manajemen dan

Implementasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Tempat Kerja. Harapan

Press.

Tulaeka, K. I. (2018). Hubungan Safety Inspection dan Pengetahuan Dengan

Unsafe Action di Departemen Rolling Mill. Naskah Publikasi. Fakultas

Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga.

Uda, S. A. K. . (2015). Evaluasi Perilaku Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act) Dan

Kondisi Tidak Aman (Unsafe Condition) Pada Proyek Konstruksi Gedung

Ruko Bertingkat Di Palangka Raya. Jurnal Konferensi Nasional Teknik Sipil

7 (KoNTekS 7). Surakarta: UNS.

Utommi, S. (2017). Gambaran Tingkat Kepatuhan Pekerja Dalam Mengikuti

Prosedur Operasi pada Pekerja Operator Dump Truck di PT. Kaltim

Primacoal tahun 2017.

Wanodya, C. (2014). Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap

Motivasi Kerja Karyawan. Jurnal Administrasi Bisnis Malang 9(1).

Widarti, I. (2015). Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kecelakaan Kerja

pada Pekerja Maintenance Elektrikal dalam Menerapkan Work Permit di PT.

X Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Volume 3 Nomor 3. Universitas

Diponegoro.
LAMPIRAN 1

SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

INFORMED CONSENT

Dengan hormat, Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Firdayani Muflihatin

NIM : 20180301174

Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Esa Unggul

Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, akan melakukan penelitian dengan judul: “Faktor-

Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Tidak Aman pada Pekerja Bagian

Produksi di PT Calpis Indonesia Tahun 2020”.

Saya mohon partisipasi Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk bersedia

menjadi responden.Ketersediaan Bapak/Ibu/Saudara/Saudari adalah sukarela atau

tanpa paksaan. Data yang diambil dandisajikan bersifat rahasia, tanpa

menyebutkan nama Bapak/Ibu/Saudara/Saudari dan disajikan hanya

untukpengembangan ilmu kesehatan masyarakat. Apabila ibu berkenan menjadi

responden, sayamohon untuk menandatangani lembar persetujuan yang telah

disediakan. Atasperhatian dan partisipasi Bapak/Ibu/Saudara/Saudari dalam

penelitian ini saya ucapkan terima kasih.

Bekasi, September 2020

Hormat Saya

Firdayani Muflihatin
51

SURAT PERNYATAAN

BERSEDIA MENJADI RESPONDEN

Yang bertandatangan dibawah ini, saya :

Nama (Inisial) :

Menyatakan bersedia menjadi responden dalam penelitian yang berjudul

“Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Tidak Aman pada Pekerja

Bagian Produksi di PT Calpis Indonesia”.

Surat persetujuan ini dibuat dengan sadar tanpa ada paksaan dari pihak

manapun.

Bekasi, September 2020

Responden

( )
52

LAMPIRAN 2

KUESIONER

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Tidak Aman

pada Pekerja Bagian Produksi di PT Calpis Indonesia

Petunjuk Pengisian

1. Kuesioner ini terdiri dari: (I) identitas responden, (II) perilaku tidak aman saat

bekerja, (III) pengetahuan tentang K3, (IV)sikap, (V) pengawasan.

2. Setiap butir pertanyaan serta alternative jawaban dibaca teliti dan mohon

dijawab tanpa ada yang terlewatkan.

3. Untuk bagian (II) sampai (V), daftar pertanyaan diisi dengan cara memberikan

tanda Chec klist (√) pada salah satu alternatif jawaban sesuai dengan pendapat

Bapak/Ibu/Saudara/Saudari. Jika jawaban yang tersedia ada yang tidak sesuai

dimohon untuk memilih yang paling mendekati sesuai dengan pendapat

Bapak/Ibu/Saudara/Saudari.

I. Data Diri Responden

1. No responden :

2. Nama (inisial) :

3. Usia :...................... tahun

II. Kuesioner Perilaku Tidak Aman


53

Petunjuk Umum

1. Berilah tanda ceklist (√) pada kotak jawaban ang anda anggap paling sesuai

dengan pilihan sebagaiberikut :

SL = Selalu (dilakukan secara terus menerus dan setiap hari/tiap saat)

SR = Sering (dilakukan secara terus menerus namun tidak setiap hari/tiap

saat)

JR = Jarang (dilakukan tidak menentu dan terlihat hampir tidak melakukan)

TP = Tidak Pernah (tidak pernah dilakukan)

2. Bila pada pengisian kuesioner kurang jelas, Anda dapat bertanya pada

peneliti

Pernahkan anda melakukan hal – hal dibawah ini :

Jawaban
No Pertanyaan
SL SR JR TP

1. Apakah anda pernah membaca dan mengenali

prosedur /proses kerja dalam melaksanakan

pekerjaan?

2. Apakah anda pernah menjalankan peralatan atau

mesin tanpa perintah dan wewenang?

3. Apakah anda pernah menggunakan APD (sarung

tangan & masker) tidak secara lengkap karena

tidak nyaman saat berkerja?


54

Jawaban
No Pertanyaan
SL SR JR TP

4. Apakah anda pernah menggunakan peralatan sesuai

fungsinya ?

5. Apakah anda pernah memperbaiki atau melakukan

perawatan terhadap peralatan kerja (mesin) yang

sedang beroperasi?

6. Apakah anda pernah mengoperasikan mesin tidak

sesuai dengan Standar Operasional Prosedur?

7. Apakah anda pernah mengangkat beban dengan

posisi membungkuk ?

8. Apakah anda pernah mengobrol dengan teman saat

sedang bekerja supaya tidak bosan?

9. Apakah anda pernah memberikan peringatan pada

saat ada bahaya?

10. Apakah anda pernah melakukan pekerjaan dengan

cepat dan terburu-buru demi menyelesaikan

pekerjaan dalam waktu singkat?

11. Apakah anda pernah berkerja menggunakan

peralatan yang rusak?


12. Apakah anda berkerja mengoperasikan peralatan

yang memang sesuaiwewenang / hak anda?


13. Apakah anda pernah berkerja mengoperasikan alat
55

Jawaban
No Pertanyaan
SL SR JR TP

atau mesin denganperalatan safety pada mesin

yang baik?
14. Apakah anda pernah memperbaiki peralatan

dalam keadaan mesinmasih hidup?


15. Apakah anda pernah mengembalikan perkakas

atau perlengkapan kerjapada tempatnya setelah

bekerja?
16. Apakah anda pernah merapikan peralatan kerja

yang anda gunakansetelah memperbaiki mesin /

peralatan kerja lainnya?


17. Apakah anda pernah meletakan peralatan tidak

pada tempatnya?
18. Apakah anda pernah menjaga kerapian di area

tempat anda kerja?


19. Apakah anda pernah menjaga kebersihan di area

tempat anda kerja?


20. Apakah anda pernah membuat pencemaran

lingkungan di area kerjaseperti membuang

sampah organik dan non organik di

sembarangtempat?

III. Kuesioner Pengetahuan


56

PETUNJUK : Anda diminta untuk memilih salah satu jawaban dengan

memberi tanda (X) yang menurut anda paling tepat dari pertanyaan–

pertanyaan dibawah ini.

1) Program kesehatan dan keselamatan kerja (k3) di area produksi adalah:

a. Kegiatan pemantauan kegiatan kerja di area produksi

b. Upaya pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja

c. Upaya untuk menjamin kebersihan, ketertiban dan kerapihan lingkungan

kerja di area produksi

2) Apa yang dimaksud dengan bahaya ?

a. Bahaya adalah tingkat kemungkinan terjadinya kecelakaan

b. Bahaya adalah kondisi yang dapat merugikan

c. Bahaya adalah kejadian tidak terduga

3) Tingkat kemungkinan terjadinya kecelakaan merupakan definisi dari?

a. Insiden

b. Bahaya

c. Risiko

4) Apa yang dimaksud dengan perilaku tidak aman (Unsafe action) ?

a. Perilaku atau perbuatan dari seseorang atau beberapa orang karyawan yang

memperkecil kemungkinan terjadinya kecelakaan

b. Situasi yang berpotensi menimbulkan kecelakaan atau cidera pada

manusia, kerusakan atau gangguan pada manusia


57

c. Kegagalan mengikuti persyaratan dan prosedur-prosedur kerja yang

menyebabkan kecelakaan kerja

5) Penyebab dasar timbulnya perilaku tidak aman dibagi dua, kecuali:

a. Faktor Manajemen

b. Faktor Pekerjaan

c. Faktor Manusia

6) Apa saja bahaya yang ada di area produksi?

a. Jari terluka akibat peralatan/mesin dan alergi paper (material paper filter)

b. Alergi paper (material paper filter) dan ketulian akibat bising

c. Keracunan bahan kimia dan Sakit pinggang akibat (salah angkat beban)

7) Bagaimana cara mencegah bahaya agar tidak menimbulkan kecelakaan kerja

pada karyawan di area produksi tersebut ?

a. Modifikasi mesin dan peralatan agar tidak berbahaya

b. Menghilangkan bahan utama produksi yang berbahaya

c. Memakai alat pelindung diri sewaktu bekerja sesuai Sop

8) Bercanda, mengobrol saat bekerja, tidak memakai APD secara benar, dan

mengoperasikan mesin tidak sesuai prosedur kerja merupakan contoh ?

a. Unsafe action (perilaku tidak aman)

b. Insiden/ Kecelakaan

c. Unsafe condition (kondisi tidak aman)

9) Apa yang anda lakukan saat mesin tiba-tiba mengalami masalah saat bekerja?

a. Tetap melanjutkan pekerjaan dan mencoba memperbaiki mesin sendiri


58

b. Segera menghentikan pekerjaan dan melapor ke atasan

c. Meminta bantuan teman di sekitar untuk memperbaiki

10) Saat mengangkat angkut beban sebaiknya dilakukan dengan cara ?

a. Membungkukan badan saat mengambil beban

b. Mengangkat beban dengan posisi badan di miringkan

c. Mengambil beban dengan berlutut lalu posisikan tubuh untuk berjongkok

IV. Kuesioner Sikap

Berilah tanda cheklist (√) pada jawaban yang anda anggap paling sesuai!

Jawaban
No Pernyataan
Ya Tidak
1. Saya yakin tujuan K3 yaitu untuk mencegah terjadinya

kecelakaan kerja
2. Saya yakin perlu adanya pengetahuan tentang K3

3. Saya yakin kebisingan dapat merusak pendengaran saya.

4. Saya perlu penerangan yang cukup ketika praktik

5. Saya yakin cara kerja dan posisi kerja yang baik sangat

diperlukan ketika praktik.


6. Sampah – sampah hasil praktik sebaiknya dibuang pada

tempatnya
7. Saya yakin kondisi tubuh yang kurang sehat dapat

menimbulkan peluang untuk mengalami kecelakaan kerja


8. Saya yakin kelelahan membuat saya tidak fokus untuk

menyelesaikan pekerjaan.
9. Saya suka bekerja menggunakan APD (Alat Pelindung
59

Jawaban
No Pernyataan
Ya Tidak
APD).
10. Saya senang dengan adanya poster-poster K3 yang

ditempel di dinding bengkel.

V. Kuesioner Pengawasan

Berilah tanda checklist() pada jawaban yang sesuai dengan kondisi yang

dialami Bapak/Ibu/Saudara/Saudari dengan jawaban sebagai berikut:

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Kurang Setuju (KS)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

Jawaban
No Pernyataan
SS S KS TS STS

1. Pihak pengawas (supervisor) tidak memeriksa

kelengkapan alat pelindung diri (APD)

sebelum saya memulai pekerjaan

2. Sebelum saya bekerja, saya selalu diingatkan

untuk bekerja sesuai Standar Prosedur kerja

3. Pihak pengawas dari bagian safety (hse) jarang

melakukan pengawasan pada area produksi

4. Pengawas (supervisor) bertindak tegas pada


60

Jawaban
No Pernyataan
SS S KS TS STS

karyawan yang berperilaku tidak aman saat


bekerja
5. Menurut saya, pengawasan dari (supervisor)

pada saat bekerja masih kurang baik

6. Penentuan prosedur kerja di perusahaan sudah

cukup jelas dan mudah dipahami

7. Prosedur kerja di perusahaan mampu

memudahkan pegawai dalam memperkecil

kesalahan

8. Penetapan anggaran untuk tugas pegawai telah

jelas dan transparan.

9. Tindakan atas pelanggaran yang dilakukan

oleh pegawai sudah dilakukan dengan objektif

10. Pimpinan saya memberikan tindakan tegas

apabila saya melanggar aturan

Anda mungkin juga menyukai