Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

WAHAM

Muhamad Suhaerul

433131490120024

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGIILMUKESEHATAN

(STIKes) HORIZON KARAWANG

2020-2021
LAPORAN PENDAHULUAN WAHAM

A. Masalah Utama
Perubahan Proses Pikir : Waham.
B. Proses Terjadinya Masalah
1. Pengertian
 Waham adalah keyakinan terhadap sesuatu yang salah dan
secara kukuh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh
orang lain dan bertentangan dengan realita normal (Stuart
dan Sundeen, 1998).
 Waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan
kenyataan, tetapi dipertahankan dan tidak dapat diubah
secara logis oleh orang lain. Keyakinan ini berasal dari
pemikiran klien yabg sudah kehilangan kontrol (Depkes RI,
2000).
 Waham adalah sesuatu keyakinan yang berdasarkan
penilaian realitas yang salah, keyakinan yang tidak
konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang
budaya, ketidakmampuan merespon stimulus internal dan
eksternal melalui proses interaksi atau informasi secara
akurat (Keliat, 1999).
2. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala pada klien dengan perubahan proses pikir :
Waham adalah sebagai berikut .
 Menolak makan.
 Tidak ada perhatian pada perawatan diri.
 Ekspresi wajah sedih/gembira/ketakutan.
 Gerakan tidak terkontrol.
 Mudah tersinggung.
 Isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan.
 Menghindar dari orang lain.
 Mendominasi pembicaraan.
 Berbicara kasar.
 Menjalankankegiatan keagamaan secara berlebihan.

3. Rentang Respons
Respons Adaptif Respons Maladaptif

 Pikiran logis  Kadang proses pikir  Gangguan isi pikir


 Persepsi akurat terganggu halusinasi
 Emosi konsisten  Ilusi  Perubahan proses
dengan pengalaman  Emosi berlebihan emosi
 Perilaku sesuai  Berperilaku yang  Perilaku tidak
 Hubungan sosial tidak biasa terorganisasi
harmonis  Menarik diri  Isolasi sosial

Gambar 5.1. Rentang Respons Perubahan Proses Pikir Waham


Sumber : Keliat (1999)

4. Faktor Predisposisi
 Faktor Perkembangan
Hambatan perkembangan akan mengganggu hubungan
interpersonal seseorang. Hal ini dapat meningkatkan stres
dan ansietas yang berakhir dengan gangguan persepsi, klien
menekan perasaannya sehingga pematangan fungsi
intelektual dan emosi tidak efektif.
 Faktor Sosial Budaya
Seseorang yang merasa diasingkan dan kesepian dapat
menyebabkan timbulnya waham.
 Faktor Psikologis
Hubungan yang tidak harmonis, peran ganda/bertentangan,
dapat menimbulkan ansietas dan berakhir dengan
pengingkaran terhadap kenyataan.
 Faktor Biologis
Waham diyakini terjadi karena adanya atrofi otak,
pembesaran ventrikel di otak, atau perubahan pada sel
kortikal dan limbik.
 Faktor Genetik
5. Faktor Presipitasi
 Faktor Sosial Budaya
Waham dapat dipicu karena adanya perpisahan dengan rang
yang berarti atau diasingkan dari kelompok.
 Faktor Biokimia
Dopamin, norepineprin, dan zat halusinogen lainnya diduga
dapat menjadi penyebab waham pada seseorang.
 Faktor Psikologis
Kecemasan yang memanjang dan terbatasnya kemampuan
untuk mengatasi masalah sehingga klien mengembangkan
koping untuk menghindari kenyaaan yang menyenangkan.
6. Macam – macam Waham
 Waham Agama
Keyakiana terhadap suatu agama secara berlebihan,
diucapkan berulangulang tetapi tidak sesuai dengan
kenyataan.
Contoh:
“ Kalau saya mau masuk surga saya harus menggunakan
pakaian putih setiap hari,” atau klien mengatakan bahwa
dirinya adalah Tuhan yang dapat mengendalikan
makhluknya.
 Waham Kebesaran
Keyakinan secara berlebihan bahwa dirinya memiliki
kekuatan khusus atau kelebihan yang berbeda dengan orang
lain, diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan
kenyataan.
Contoh:
“Saya ini pejabat di Departemen Kesehatan lho...”
“Saya punya tambang emas!”
 Waham Curiga
Keyakinan bahwa seseorang atau sekelompok orang
berusaha merugikan atau mencederai dirinya, diucapkan
berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh:
“Saya tahu... semua saudara saya ingin menghancurkan
hidup saya karena mereka semua iri dengan kesuksesan
yang dialami saya.”
 Waham Somatik
Keyakinan seseorang bahwa tubuh atau bagian tubuhnya
terganggu atau terserang penyakit, diucapkan berulang-
ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh:
Klien selalu mengatakan bahwa dirinya sakit kanker,
namun setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium tidak
ditemukan adanya sel kanker pada tubuhnya.
 Waham Nihilistik
Keyakinan seseorang bahwa diriya sudah meninggal dunia,
diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan
kenyataan.
Contoh:
“Ini kan alam kubur ya, semua yang ada di sini adalah roh –
roh.”
 Waham tersangkut
Penderita percaya bahwa setiap kejadian di sekelilingnya
mempunyai hubungan pribadi seperti perintah atau pesan
khusus. Penderita percaya bahwa orang asing disekitarnya
memperhatikan dirinya, penyiar televisi dan broadcasting
mengirimkan pesan dengan bahasa sandi.
 Waham bizarre
Merupakan waham yang aneh. Termasuk dalam waham
bizarre, antara lain : waham sisip pikir/thought of insertion
(percaya bahwa seseorang telah menyisipkan pikirannya ke
kepala penderita); waham siar pikir/thought of broadcasting
(percaya bahwa pikiran penderita dapat diketahui orang
lain, orang lain seakan-akan dapat membaca pikiran
penderita); waham sedot pikir/thought of withdrawal
(percaya bahwa seseorang telah mengambil keluar
pikirannya); waham kendali pikir; waham hipokondri.
 Waham Hipokondri
Penderita percaya bahwa di dalam dirinya ada benda yang
harus dikeluarkan sebab dapat membahayakan dirinya.
 Waham Cemburu
Cemburu disini adalah cemburu yang bersifat patologis,
yaitu cemburu yang sudah abnormal.
 Waham Curiga
Curiga patologis sehingga curiganya sangat berlebihan.
 Waham Diancam
Kepercayaan bahwa dirinya selalu diikuti, diancam,
diganggu atau ada sekelompok orang yang selalu mengusik
hidupnya.
 Waham Berdosa
Percaya bahwa dirinya berdosa sehingga selalu mengurung
diri, murung, menghindar dari lingkungan.
 Waham Tak Berguna
Percaya bahwa dirinya tak berguna lagi sehingga sering
berpikir lebih baik mati (bunuh diri).
7. Status Mental
Berdandan dengan baik dan berpakaian rapi, mungkin terlihat
eksentrik dan aneh. Tidak jarang bersikap curiga atau bermusuhan
terhadap orang lain. Klien biasanya cerdik ketika dilakukan
pemeriksaan sehingga dapat memanipulasi data. Selain itu
perasaan hatinya konsisten dengan isi waham.
8. Sensori dan Kognisi
Tidak memiliki kelainan dalam orientasi kecuali klien waham
spesifik terhadap orang, tempat, dan waktu. Daya ingat atau
kognisi lainnya biasanya akurat. Pengendalian impuls pada klien
waham perlu diperhatikan bila terlihat adanya rencana untuk bunuh
diri, membunuh, atau melakukan kekerasan pada orang lain.
Gangguan proses pikir: waham biasanya diawali dengan adanya
riwayat penyakit berupa kerusakan pada bagian korteks dan limbik
otak. Bisa dikarenakan terjatuh atau didapat ketika lahir. Hal ini
mendukung terjadinya perubahan emosional seseorang yang tidak
stabil. Bila berkepanjangan akan menimbulkan perasaan rendah
diri, kemudian mengisolasi diri dari orang lain dan lingkungan.
Waham kebesaran akan timbul sebagai manifestasi
ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhannya. Bila
respons lingkungan kurang mendukung terhadap perilkunya
dimungkinkan akan timbul risiko perilaku kekerasan pada orang
lain.
C. Pohon Masalah
Effect Risiko Tinggi Perilaku Kekerasan

Core Problem Perubahan Sensori Waham

Causa Isolasi Sosial :Menarik Diri

Harga Diri Rendah Kronis

Gambar 5.2. Pohon Masalah Perubahan Proses Pikir : Waham

D. Masalah Keperawatan yang Mungkin Muncul


1. Resiko tinggi perilaku kekerasan.
2. Perubahan proses pikir : waham.
3. Isolasi sosial.
4. Harga diri rendah.

E. Data yang Perlu Dikaji

Masalah Keperawatan Data yang Perlu Dikaji


Perubahan proses pikir : Subjektif :
Waham kebesaran  Klien mengatakan bahwa dirinya adalah orang
yang paling hebat.
 Klien mengatakan bahwa ia memiliki kebesaran
atau kekuasaan khusus.

Objektif :
 Klien terus berbicara tentang kemampuan yang
dimilikinya.
 Pembicaraan klien cenderung berulang-ulang.
 Isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan.

F. Diagnosis Keperawatan
Perubahan proses pikir : waham kebesaran.
G. Rencana Tindakan Keperawatan
Pasien:
1. Tujuan Tindakan Keperawatan SP 1
a. Pasien mampu membina hubungan saling percaya
b. Pasien mampu berorientasi pada realita
c. Pasien mampu mendiskusikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
dan cara memenuhi kebutuhannya
d. Pasien mampu memenuhi kebutuhannya secara mandiri
e. Pasien dapat memasukkan ke dalam jadwal kegiatan hariannya
 Tindakan Keperawatan
a. Membina hubungan saling percaya
b. Membantu orientasi realita
c. Mendiskusikan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan cara
memenuhi kebutuhannya
d. Membantu pasien memenuhi kebutuhannya
e. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan
harian

2. Tujuan Tindakan Keperawatan SP 2


a. Pasien dapat mengevaluasi kegiatan hariannya
b. Pasien dapat berdiskusi tentang kemampuan yang dimilikinya
c. Pasien mampu melatih kemampuan yang dimilikinya
 Tindakan Keperawatan
a. Mengevaluasi kegiatan harian pasien
b. Mendiskusikan tentang kemampuan yang dimiliki pasien
c. Melatih kemampuan yang dimiliki

3. Tujuan Tindakan Keperawatan SP 3


a. Pasien dapat mengevaluasi kegiatan hariannya
b. Pasien dapat mengetahui tentang penggunaan obat secara teratur
c. Pasien dapat memasukkan ke dalam jadwal hariannya

 Tindakan Keperawatan
a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
b. Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan
obat secara teratur
c. Menganjurkan pasien memasukkan ke dalam jadwal
kegiatan harian

Keluarga:
1. Tujuan Tindakan Keperawatan SP 1
a. Klien dapat mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam
merawat pasien
b. Klien dapat mengerti dan menjelaskan pengertian, tanda dan gejala
waham, dan jenis masalah yang dialami pasien beserta proses
terjadinya
c. Klien dapat mengerti dan menjelaskan cara-cara merawat pasien
waham
 Tindakan Keperawatan
a. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam
merawat pasien
b. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala waham, dan jenis
masalah yang dialami pasien beserta proses terjadinya.
c. Menjelaskan cara-cara merawat pasien waham

2. Tujuan Tindakan Keperawatan SP 2


a. Klien dapat mempraktekkan cara merawat pasien dengan waham
b. Klien dapat melakukan cara merawat langsung kepada pasien
waham
 Tindakan Keperawatan
a. Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien
dengan waham
b. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung
kepada pasien waham

3. Tujuan Tindakan Keperawatan


a. Klien dapat membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum
obat (discharge planning)
b. Klien dapat mengerti follow up pasien setelah pulang
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2000. Keperawatan Jiwa: Teori dan Tindakan


Keperawatan Jiwa. Jakarta: Depkes RI.

Keliat, B.A. 1999. Proses Kesehatan Jiwa. Edisi 1. Jakarta: EGC.

Fontaine dan Cook. 2003. Menthal Health Nursing. New Jersey:


Practice Hall.

Stuart G.W dan Sundeen. 1995. Principles and Practice of


Psychiatric Nursing. 5Th ed. St. Louis Mosby Year Book.

Towsend, Marry C. 1998. Essentials of Psychiatric Mental Health


Nursing. 3sd edition. USA: FA Davis Company.

Anda mungkin juga menyukai