Anda di halaman 1dari 16

Naskah Surat Akta Jual Beli Tanah…(Nurhata) 33

NASKAH SURAT AKTA JUAL BELI TANAH SAWAH:


KEPEMILIKAN TANAH PADA AWAL ABAD KE-20
TITLE DEED TRANSACTIONS OF RICE FIELD:
LAND OWNERSHIP IN THE EARLY OF 20TH CENTURY

Nurhata
STKIP Pangeran Dharma Kusuma Segeran Juntinyuat Indramayu
Jl. KH. Hasyim Asyari, Ds. Segeran Kidul, Kec. Juntinyuat, Kab. Indramayu
e-mail: muhammadnurhata@gmail.com

Naskah Diterima: 16 September 2018 Naskah Direvisi:25 Desember 2018 Naskah Disetujui: 27 Maret 2019

DOI: 10.30959/patanjala.v11i1.441

Abstrak
Penelitian ini akan menguraikan salah satu naskah (manuscript) akta jual beli tanah sawah
yang ditemukan di Desa Srengseng, Indramayu. Akta yang menjadi objek penelitian ini adalah
yang paling tua, ditulis dengan menggunakan aksara Jawa, bahasa Jawa. Dilihat dari kandungan
isinya, surat tersebut tergolong surat penting. Tujuan penelitian ini adalah untuk melacak
kandungan isi surat sebagai representasi zamannya. Metode yang digunakan adalah filologi.
Beberapa pihak yang tercatat dalam surat adalah nama penjual dan pembeli, juru tulis, kuwu, dan
saksi-saksi, termasuk mengenai luas tanah dan lokasinya juga dijelaskan, sebagaimana surat jual
beli tanah pada umumnya, baik yang dikenal pada awal abad ke-20 atau pada saat ini. Adapun
kandungan isinya berupa keterangan bahwa Bapak Salinah membeli sebidang tanah sawah
kepada seorang mantan kuwu, Bapak Kadam, pada tanggal 10 November 1915, seharga 32
rupiah. Surat tersebut menegaskan bukti sah kepemilikan atas sebidang tanah sawah pada awal
abad ke-20.
Kata kunci: akta jual beli, sawah, Indramayu.
Abstract
This study describes one of the manuscripts about the deed of sale and purchase of rice
field that had been found in Srengseng Village, Indramayu. The deed that is finally used as the
data is the oldest one. The chosen manuscript is written in Javanese scripts. Referring to its
content, the letter is classified as an important letter. The purpose of this research is to investigate
the content of the old deed. Furthermore, the method which is applied is philology. As a research
of this research is there are some parties written in the old deed, namely seller`s and buyer`s
name, a clerk`s name, village chief, and a couple of witnesses or more. Beside that, some modern
deed elements such as the size of the area and the location, as commonly known nowadays, also
exist. Regarding the story of the content, the manuscripts tells about Mr. Salinah who purchased a
rice field from and ex village chief, named Mr. Kadam, at November 10th, 1915, for 32 Indonesian
rupiah. Finally this deed manuscript can be regarded as an ownership legitimisation of a rice
field in the early of 20th century.
Keywords: Deed of Sale and Purchase, rice field, Indramayu.

A. PENDAHULUAN sana, menuju lokasi penyimpanan.


Kabar keberadaan naskah Sesampainya di tujuan, semua surat saya
(manuscript) surat jual beli tanah sawah baca satu per satu. Semuanya dalam
atau akta tanah, semula disampaikan oleh kondisi lapuk, kusam, dan berdebu, tetapi
teman lama saya, Rahmatullah. Tidak lama masih jelas terbaca. Isinya tidak hanya
kemudian saya mendatangi tempat berupa akta jual beli tanah sawah, tetapi
penyimpanan surat itu. Kami bergegas ke juga akta jual beli tanah pekarangan, surat
34 Patanjala Vol. 11 No. 1 Maret 2019: 33 - 48

gadai, dan surat pajak. Sebagian besar Sementara itu, tanah perorangan diperoleh
surat ditulis dengan aksara Jawa, hanya dengan cara membuka lahan sendiri atau
beberapa saja yang ditulis dengan aksara membabat hutan untuk kepentingan
latin. keluarga sendiri (dalam Suhendar, 1995:
Semula saya menduga, sebelum 9).
menyaksikan langsung, catatan-catatan Selain itu, ada yang disebut dengan
lama itu berupa naskah kuna yang berisi tanah partikelir, yang sebetulnya tidak jauh
cerita-cerita babad, teks-teks keagamaan, berbeda dari tanah milik perorangan.
primbon, dan lain-lain (meskipun surat- Kemunculannya ketika memasuki era
surat itu juga dapat disebut dengan naskah kolonial Belanda. Di Indramayu, terutama
kuna). Temuan sebelumnya, sejak tahun di bagian barat, tanah partikelir menjadi
2013 sampai tahun 2016,1 Indramayu salah satu faktor penyebab atas meletupnya
(terutama di bagian barat) memang pemberontakan pada awal abad ke-19 dan
menjadi kantong penyimpanan naskah awal abad ke-20. Kisah pemberontakannya
dengan aneka macam genre. Ternyata, digambarkan begitu dramatis dalam naskah
semuanya berisi dokumen pribadi keluarga Babad Darmayu (koleksi Dalang Ahmadi)
yang dibuat pada era kolonial Belanda dan naskah Sedjarah Kuntjit. (koleksi Ki
pada awal abad ke-20. Masta).
Dokumen-dokumen itu adalah Persoalan kepemilikan tanah di
cerminan sejarah dan budaya suatu Hindia Belanda tidak dapat dilepaskan dari
kelompok masyarakat, yang tentunya Undang-undang Agraria (Agrarische Wet),
berguna bagi kajian agraria pada umumnya yang dibuat pada tahun 1870. Undang-
atau sejarah kepemilikan tanah pada undang tersebut bertujuan memberikan
khususnya. Di Indonesia, kajian penelitian ruang kepada swasta (pihak asing) supaya
agraria dimulai sejak Raffles, diuraikan bisa menyewa tanah. Pada saat yang
dalam dua jilid History of Java, lalu bersamaan, undang-undang itu juga
dimatangkan oleh bawahannya John memiliki tujuan melindungi tanah milik
Crawfurd dalam History of Indian penduduk pribumi. Namun demikian,
Archipelago (1820) sebanyak 3 jilid. tanah-tanah yang tidak memiliki surat
Penelitiannya menguraikan tata cara resmi, baik yang dimiliki secara komunal
bercocok tanam, tentang kehidupan maupun perorangan, akan dianggap
agraria, serta peran penting sektor agraria sebagai tanah milik negara (domein
bagi peningkatan pendapatan publik dan verklaring). Hal tersebut telah
perdagangan internasional (Farid, 2017: 1- mengakibatkan sejumlah penduduk
2). kehilangan tanah, diambil alih oleh
Berkenaan dengan kepemilikan pemerintah, dan menjadi tanah pemerintah
tanah khususnya di Jawa Barat, Boomgard, Hindia Belanda (Suhendar, 1995: 12).
secara tradisional, membaginya menjadi Undang-undang Agraria berdampak
dua yaitu tanah perorangan dan tanah serius bagi struktur sosial yang ada.
komunal. Tanah komunal muncul ketika Selama tiga per empat abad undang-
sekelompok orang membuka lahan hutan, undang itu telah menciptakan hierarki
yang kelak digunakan secara bersama- dalam penguasaan tanah, yaitu tuan tanah
sama atau digunakan secara bergilir. (pemilik tanah luas), pemilik tanah sedang,
Mereka hanya memiliki hak pakai. pemilik tanah kecil, dan petani tanpa tanah.
Tuan tanah ada yang mengerjakan
1
Dalam “Kearifan Lokal dalam Naskah-naskah tanahnya sendiri, menyewakannya kepada
Pesisir Indramayu: Pengembangan Budaya orang lain, atau membiarkannya kosong.
Pesisir melalui Knowledge Management Pemilik sawah sedang, sebagian ada yang
System” (Christomy, T dan Nurhata 2013) dan menggarapnya sendiri atau
Katalog Naskah Indramayu (Christomy, T dan menyewakannya kepada orang lain.
Nurhata, 2016).
Naskah Surat Akta Jual Beli Tanah…(Nurhata) 35

Sementara pemilik sawah kecil, biasanya 51% petani di Jawa Barat adalah keluarga
menggarap tanahnya sendiri sembari penggarap pertanian milik orang lain de-
mengerjakan tanah milik orang lain ngan cara bagi hasil (tunakisma). Dari
(maro). Sedangkan yang tidak memiliki jumlah tersebut, 67% di antaranya
tanah, akan menjadi buruh tani atau memiliki lahan kurang dari satu bau (0,7
sembari maro. Di samping itu, ada pula hektar), tetapi sebanyak 7% lainnya justru
yang hanya sebagai buruh tani totok berhasil menghimpun tanah dalam jumlah
(Hardjosudarmo, 1967, dalam Suhendar, besar hingga lebih dari 6 bau (4.2 hektar).
1995: 20-21). Bahkan di wilayah Priangan pada tahun
Para tuan tanah tentu saja mampu 1905, tanah seluas lebih dari 30 bau hanya
membeli tanah dalam jumlah besar kepada dikuasai oleh 559 keluarga, dan pada tahun
petani sedang atau petani kecil. Para petani 1925, yang memiliki tanah seluas itu
kecil yang tidak mampu mempertahankan meningkat menjadi 1226 keluarga (Mears,
tanahnya maka akan dijual kepada tuan dalam Suhendar 1995: vi).
tanah, terutama karena masalah himpitan Senada dengan penjelasan Mumuh
ekonomi. Pada awalnya menggadaikan (2011: 394-395), bahwa lahan di pedesaan
tanahnya ke petani besar, lambat laun Priangan yang sebagian besar berupa
menjualnya, seperti yang terjadi di persawahan memang dimiliki secara
Cirebon.2 Oleh karena mereka tidak pribadi. Sebanyak 101 desa dari 105 desa
memiliki tanah akhirnya hanya menjadi (96%), sebagian besar wilayahnya adalah
buruh tani atau sembari maro ‗bagi hasil‘. tanah sawah, yang mana itu menjadi hak
Hal ini telah menciptakan garis demarkasi milik perorangan. Sebagai tanah milik
antara tuan tanah dan buruh tani. perorangan maka pemiliknya dapat
Faktor lain yang memicu menggarapnya sendiri, memberikan ke
ketimpangan kepemilikan lahan yaitu anak keturunannya, atau menjualnya
karena adanya sistem waris ⎯sebidang kepada pihak lain.
tanah dipecah lalu dibagi kepada keluarga Di Indramayu bagian barat, selama
yang memiliki hak waris sehingga luas setengah abad (1885-1935), karena
lahan yang dimiliki oleh generasi tanahnya sangat subur dan produktivitas
berikutnya semakin sempit. Selain itu juga padi sangat tinggi, pemilik sawah enggan
adanya lahan guntai, yakni lahan yang melepaskan tanahnya. Namun keadaan
pemiliknya berasal dari luar desa atau justru terbalik, kemiskinan merajalela,
absente (Winarso, 2012: 143). karena masyarakat terlilit hutang kepada
Kondisi semacam itu umum terjadi para tengkulak (sejak tahun 1880an).
di Jawa Barat. Pada tahun 1905, dalam Penyebabnya gaya hidup masyarakat
Mindere Welvaart Onderzoek, sebanyak sangat konsumtif. Upaya pemerintah
kolonial mengalami kegagalan dalam
2
Wakil Inspektur Urusan Agraria (1918-1925), menyelesaikan masalah itu. Pemerintah
J.W. Meijer Ranneft, dalam arsip pribadinya tidak mampu membeli padi dengan harga
memberikan ulasan sewaktu melakukan normal kepada petani pada saat panen
perjalanan dinas ke wilayah utara Cirebon pada melimpah dan harganya sedang anjlok.
tahun 1919. Menurutnya, peningkatan jumlah Ketika panen berhasil, petani lebih
penduduk dan masalah hutang telah memilih menjualnya kepada tengkulak,
mengakibatkan perekonomian warga semakin
meskipun dengan harga murah. Semuanya
buruk. Tanah yang digadaikan tidak sanggup
melunasinya sehingga tidak sedikit yang
tidak dalam kendali pemerintah kolonial
diambil oleh pihak pemberi pinjaman. Masalah sehingga kondisi masyarakat dalam
itu, menurutnya dapat diatasi dengan keadaan memprihatinkan (Fernando,
mengembalikan tanah kepada penduduk, 2010).
mendaftar ulang, mencatat semua hutang, serta Keadaan itu berbeda dari Indramayu
membentuk aturan pelunasannya (Anrooij, bagian timur, khususnya wilayah
2014: 44).
36 Patanjala Vol. 11 No. 1 Maret 2019: 33 - 48

Krangkeng, yang kerap dilanda kekeringan Memasuki era kemerdekaan, negara


bahkan hingga saat ini. Itu sebabnya para mengatur sedemikian rupa tentang aturan
pemilik tanah tidak bersungguh-sungguh jual beli tanah. Pembuatan akta yang tidak
mempertahankan tanahnya, terburu-buru sesuai dengan ketentuan maka pihak yang
menjualnya ke orang lain. Tidak berwenang mengurus tanah (PPAT) akan
mengherankan bila pada awal abad k-20, diberhentikan dengan tidak hormat. Di
ada beberapa orang yang menguasai tanah samping itu, kekuatan hukumnya dapat
dalam jumlah besar, seperti Bapak Salinah, dianggap sebagai akta di bawah tangan,
dan ada banyak orang yang tidak memiliki yang mana sangat berisiko bagi si pemilik,
lahan pertanian atau hanya sedikit saja diklaim oleh pihak lain (Purwanti, 2016).
yang dimiliki. Format akta yang dibuat PPAT (Pejabat
Persoalan kepemilikan tanah Pembuat Akta Tanah) sudah disediakan,
diperlukan suatu legalitas dari pemerintah, diatur dalam pasal 1 Peraturan Pejabat
berupa akta, baik itu tanah yang diperoleh Pembuatan Akta Tanah Jo; pasal 96 ayat
dari hasil membabat suatu hutan atau tanah (2) Peraturan Menteri Negara
yang diperoleh dengan cara membeli, Agraria/Kepala BPN RI No. 3 Tahun 1997
termasuk tanah warisan. Akta itu menjadi tentang Ketentuan Pelaksanaan PP No. 24
bukti sah kepemilikan sebidang tanah Tahun 1997, tentang Pendaftaran Tanah.
sawah, tanah pekarangan, atau tanah yang Tata cara atau tahapannya harus diikuti,
di atasnya terdapat suatu bangunan. Surat sedikit pun tidak boleh ada perubahan. Jika
itu pula yang akan menjamin status keluar dari aturan pembuatan akta otentik
kepemilikan tanah. Tanpa bukti maka berakibat hukum, pembuktian akta
kepemilikan seperti akta atau sertifikat, tidak memiliki kekuatan hukum (Purwanti,
status kepemilikannya berpotensi 2016: 131).
dipersoalkan oleh orang lain atau dapat Kajian penelitian tentang naskah
mengakibatkan sengketa.3 akta surat jual beli tanah pada era kolonial
Belanda yang menggunakan metode
3
Persoalan sengketa sudah ada sejak era Jawa filologi setakat ini hanya dapat dilihat
Kuna. Dalam Prasasti Panggumulan II dalam ―Jejak Penjajahan pada Naskah
berangka tahun 903 M menyatakan Pu Palaka Sunda: Studi Kasus pada Surat Tanah‖
beserta istri dan tiga anaknya (Palaku, Pu (Ruhaliah, 2010). Struktur isi surat dalam
Gowinda, dan Dyah Wangi Tamuy) menebus penelitian ini tidak jauh berbeda dari akta
sebidang kebun yang terletak di Desa surat jual beli tanah yang ditemukan di
Sidhayoga dan sebidang sawah di Panilwan Indramayu. Perbedaaan yang paling
senilai 3 kati perak. Si penggadai bernama
mencolok yaitu dari segi bahasa, yang
Dapunta Prabu dan Dapunta Kaca, pejabat
Desa Panggumulan (Suhadi, 1996/1997: 30). sudah disesuaikan. Surat dari Indramayu
Dalam prasasti Bendosari dan Manah I Manuk berbahasa Jawa sedangkan surat dari
juga dikisahkan masalah sengketa tanah antara Priangan berbahasa Sunda.
Aki Santana, Mapanji Sarana, Ki karna, Penelitian ini akan menguraikan
Mapanji manakara, Ki Ajaran Reka, Ki Siran, naskah akta surat jual beli tanah sawah
dan Ki Jumput (dari desa Manah I Manuk) yang dibuat pada tahun 1915. Surat
berhadapan dengan Mapanji Anawung Harsa tersebut digulung bersama puluhan surat
dan kawan-kawan dari Desa Sima Tiga. lain, tersimpan dalam tabung kaleng
Masalahnya, tanah seluas 67 lirih yang tersebar
berkarat. Pilihan atas surat tersebut karena
di berbagai desa adalah milik Aki Santana dan
kawan-kawan, diperoleh turun-temurun dari
alasan filologis. Usia surat lebih tua bila
bapak, kaki, buyut, pitung, anggas, muning, dibandingkan dengan surat-surat lain yang
dan krepek (7 turunan nenek moyang ke atas), tersimpan dalam tempat yang sama.
yaitu sejak tahun 919 Saka (997 M). Warga
desa Sima Tiga kemudian menuntutnya sebagai kalitengah taker perak (dua setengah takar
tanah milik karena tanah tersebut pada mulanya perak) ketika Jawa belum mengenal pisis, yaitu
digadaikan oleh nenek moyangnya dengan nilai mata uang logam (Zoetmulder, 1983: 1371).
Naskah Surat Akta Jual Beli Tanah…(Nurhata) 37

Adapun tekstologi (text dan logos)


mengkaji persoalan seputar teks, seperti
sejarah teks, relasi antara satu teks dan teks
lain, dan persebaran suatu teks, termasuk
penurunan, penafsiran atau pemahaman
suatu teks (Karsono, 2008: 79; Baried,
1985: 57).
Untuk menghadapi suatu naskah,
bergantung pada kondisi naskah yang
dihadapi karena setiap naskah memiliki
keunikan, kekhasan, atau permasalahannya
sendiri. Ada tiga metode penyuntingan
naskah, yakni metode stemma, metode
Gambar 1. Tabung penyimpanan surat
Sumber: Nurhata, 2017. gabungan, dan metode landasan (Robson
(1994: 21-27). Karsono (2008: 104)
Ada dua pertanyaan yang ingin saya menyebutnya empat metode, yaitu intuitif,
kemukakan dalam artikel ini, (1) landasan, gabungan, dan stemma.
bagaimana surat-surat tanah sampai ke Sementara Baried, dkk (1985: 67-69)
tangan pemilik sekarang, dan (2) menambahkan satu metode lagi, yaitu
bagaimana kandungan isinya. Pertanyaan metode intuitif, metode stemma (objektif),
pertama, saya akan melakukan wawancara metode gabungan, metode landasan, dan
kepada pemilik surat. Sementara itu, untuk metode naskah tunggal.
menguraikan jawaban yang kedua, suatu Metode yang digunakan untuk
teks terlebih dahulu dideskripsikan, mengungkap informasi dari dalam naskah
dialihaksarakan, lalu diterjemahkan, akta surat jual beli tanah sawah yaitu
selanjutnya dianalisis satu per satu tentang metode landasan. Metode ini bertolak dari
unsur-unsur pokok yang disebutkan di alasan bahwa naskah yang dihadapi
dalamnya. memiliki kualitas lebih unggul dari yang
lain (dari satu versi atau satu varian), baik
B. METODE PENELITIAN dari sudut bahasa, sastra, maupun sejarah
Dalam ilmu filologi, surat jual beli (Baried, dkk, 1985: 68—69; Karsono,
tanah sawah dapat disebut dengan naskah 2008: 105). Dari segi usia, naskah tersebut
(manuscript). Sebagai naskah kuna maka paling tua di antara naskah-naskah lain
cara untuk mengkajinya pun sama dengan (dalam satu koleksi). Di samping itu,
naskah-naskah lain pada umumnya. tingkat keterbacaannya pun sangat jelas
Biasanya, masyarakat Indramayu terutama dan lengkap. Namun, sebelum naskah
yang berusia sepuh, untuk menyebut dianalisis dengan menggunakan metode
naskah adalah ―lontar‖, meskipun media filologi, terlebih dahulu akan dikaji secara
tulisnya bukan lontar. kodikologi, darimana asal-usul naskah
Terdapat dua cabang dari filologi, tersebut.
yaitu kodikologi dan tekstologi. Naskah akta surat jual beli sawah
Kodikologi berasal dari bahasa Latin adalah naskah tunggal. Ini tidak
codex, jika diterjemahkan ke dalam bahasa mengherankan karena kaitannya dengan
Indonesia berarti naskah (fisik). Ranah kepentingan pribadi seseorang atau
kodikologi meliputi sejarah atau asal-usul keluarga, bukan suatu teks yang dapat
naskah, koleksi naskah, tempat dikonsumsi oleh publik seperti naskah
penyimpanan naskah, penyusunan babad pada umumnya. Meskipun begitu,
katalogus naskah, perdagangan naskah, pada analisisnya, akan mengacu pada
dan pemanfaatan naskah (Mulyadi, 1994: naskah atau surat-surat lain sejenis, yang
1-3; Karsono, 2008: 79; Baried, 1985: 55). tersimpan dalam satu koleksi.
38 Patanjala Vol. 11 No. 1 Maret 2019: 33 - 48

C. HASIL DAN BAHASAN Pengarsipan di Indonesia yang


1. Arsip Desa di Indramayu dikenal dewasa ini mulai marak terutama
Dalam ilmu sejarah, naskah akta sejak bangsa-bangsa Eropa berkuasa atas
surat jual beli tanah dapat digolongkan seluruh Nusantara, dari tingkat pusat
sebagai arsip. Istilah arsip dalam Kamus sampai ke tingkat paling bawah (desa-
Oxford (2008: 53) berarti dokumen sejarah desa). Sebelumnya, pendokumentasian
atau rekaman yang memuat informasi berbagai persoalan atau informasi yang
tentang suatu tempat, institusi, atau dianggap penting masih menggunakan
kelompok manusia. Dalam KBBI (2008: cara-cara tradisional, yang hanya mudah
87), yang disebut dengan arsip adalah dipahami menurut masyarakat setempat.
dokumen masa lampau, baik tertulis (surat, Desa sebagai kesatuan wilayah yang
akta, dan sebagainya), lisan (pidato, memiliki sistem pemerintahan sendiri,
ceramah, dan sebagainya), maupun dalam perjalanannya telah meninggalkan
bergambar (foto, film, dan sebagainya), banyak arsip statis, dalam jumlah yang
yang disimpan dengan menggunakan melimpah. Tinggalan desa berupa arsip
media tulis (kertas) dan elektronik (pita statis, oleh pamong desa seringkali
kaset, pita video, disket komputer, dan dianggap tidak penting terutama karena
sebagainya). Biasanya, suatu dokumen persoalan bahasa dan aksara yang tidak
dikeluarkan oleh instansi resmi, disimpan, lagi dikenali di samping karena tidak
dan dirawat di tempat khusus sebagai memahami kegunaan atau manfaatnya,
sumber referensi. padahal di dalamnya terekam jelas
Berdasarkan jenisnya arsip terbagi aktivitas suatu kelompok masyarakat pada
menjadi dua yaitu arsip statis (tidak lagi masa lalu. Priyadi (2012) dalam
digunakan) dan arsip dinamis (masih pengantarnya, Sejarah Lokal: Konsep,
digunakan). Terutama arsip statis yang Metode, dan Tantangannya menegaskan,
dibuat pada era kolonial, tidak sedikit yang perihal penggalian atas sejarah nasional,
rusak dan jumlahnya terus berkurang, baik yang semestinya dimulai dari sejarah lokal.
disebabkan oleh faktor alam maupun Menurutnya, jika penulisan sejarah lokal
karena kesengajaan manusia. Merujuk dimulai dari sejarah nasional maka dapat
pada definisi arsip di atas dan membunuh nasionalisme lokal.
pembagiannya, maka surat jual beli sawah Naskah akta surat jual beli sawah
dapat disebut sebagai arsip statis, yang sebagai arsip statis kedudukannya dapat
memiliki kegunaan sebagai sumber diubah menjadi arsip dinamis. Caranya,
referensi, terutama yang bertalian dengan suatu arsip statis didigitalisasi dan dikelola
sejarah agraria. sedemikian rupa melalui metadata dengan
Di Indonesia, lembaga yang banyak aneka software, sehingga berubah menjadi
menyimpan arsip statis adalah kantor Arsip
Nasional Republik Indonesia (ANRI). 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,
Masalah kearsipan ini diatur dalam Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009, Kerja Lembaga Pemerintah Non Departeman
Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun sebagaimana telah enam kali diubah terakhir
2001, Keputusan Presiden Republik dengan Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun
Indonesia Nomor 27/M Tahun 2010, dan 2005; Keputusan Presiden Republik Indonesia
Nomor 27/M Tahun 2010 tentang
Peraturan Kepala Arsip Nasional Republik
Pengangkatan Kepala Arsip Nasional Republik
Indonesia Nomor 3 Tahun 2006.4 Indonesia; Peraturan Kepala Arsip Nasional
Republik Indonesia Nomor 03 Tahun 2006
4
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja Arsip
tentang Kearsipan (Lembaran Negara Republik Nasional Republik Indonesia sebagaimana
Indonesia Tahun 2009 Nomor 152, Tambahan telah dua kali diubah terakhir dengan Peraturan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia
5071); Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun Nomor 05 Tahun 2010.
Naskah Surat Akta Jual Beli Tanah…(Nurhata) 39

data. Jadi penggunaannya mengalami tingkat pemerintah daerah maupun


perubahan sesuai dengan kebutuhan pemerintah pusat. Kedua, mengelola,
penciptaanya atau tujuannya. Pada tahap menata, serta menyimpannya dengan
ini tidak lagi disebut sebagai arsip statis metode tertentu untuk mempermudah
atau pasif karena memiliki peran bagi pencarian. Ketiga, merawat, memelihara,
kehidupan manusia (Magetsari, 2008: 12- atau melakukan perbaikan. Keempat,
13). memberikan layanan untuk pengguna
Melalui arsip desa, seperti naskah (Krihanta, 2008: 73-76). Di tingkat daerah,
akta surat jual beli tanah, kajian atas pekerjaan semacam ini sangat menantang,
sejarah lokal tidak sepenuhnya bergantung membutuhkan perawatan yang serius,
pada penelitian terdahulu, tetapi langsung temperatur suhu ruangan yang stabil, serta
bersentuhan dengan sumber primer. tidak dapat diperlakukan sebagaimana
Menurut Taufik Abdullah (2010), salah buku teks pada umumnya, yang semuanya
satu problematika sejarah lokal di membawa implikasi bagi kesiapan
Indonesia karena masih bergantung pada pegawainya.
hasil penelitian-penelitian sebelumnya dan Setakat ini arsip-arsip statis yang
sumber yang dipakai pun masih sangat dibuat pada masa pemerintahan Hindia
terbatas, sudah begitu sulit diketahui Belanda, yang berisi aktivitas sosial
keberadaannya. 5 Paling tidak, dengan masyarakat Indramayu, yaitu berkenaan
memanfaatkan arsip, persoalan penelitian dengan jual beli sawah, jual beli
sejarah lokal di Indonesia bisa sedikit pekarangan, pajak kepala, pajak bumi, jual
terjawab. Arsip memang berbeda dari beli binatang ternak, surat nikah, nama-
historiografi tradisional yang dalam nama penduduk desa (sensus penduduk),
pemahamannya membutuhkan kecermatan nama-nama jabatan, dan jalur sungai
dan ketelitian. Jika tidak cermat maka akan Cimanuk dari hulu sampai ke hilir. Alas
tergelincir ke dalam lembah mitos, dan apa tulis yang dipakai yaitu lontar, kertas
yang diuraikannya tidak berbunyi suatu Eropa, dan kertas bergaris. Dilihat dari
kajian sejarah (kritis) melainkan legenda penanggalan yang tertera di dalamnya,
atau cerita babad, yang masih menganggap diperkirakan dibuat pada abad ke-19
faktor religio-magis sebagai variabel sampai awal abad ke-20.
tunggal atas suatu peristiwa tertentu. Arsip-arsip yang di dalamnya
Inventarisasi terhadap arsip-arsip menyinggung tentang Indramayu sebagian
yang tersebar di desa-desa, khususnya di sudah diregistrasi oleh Perpustakaan
Indramayu (lebih dari 300 desa) dapat Nasional RI, Arsip Nasional RI, dan
menambah khazanah kearsipan daerah, lembaga-lembaga lain terkait. Sebagian
atau dapat menambah daftar koleksi kantor lagi, masih belum diregistrasi dan masih
arsip dan perpustakaan daerah. Krihanta disimpan di rumah-rumah penduduk atau
menjelaskan tentang bagaimana proses di kantor desa. Arsip statis yang masih
pemanfaatan arsip statis yang masih berada di rumah-rumah penduduk, yang
tersebar atau masih menjadi koleksi dibuat pada era kolonial Belanda,
masyarakat. Pertama, arsip diakuisisi untuk jumlahnya sangat besar, hanya saja sulit
menambah khazanah kearsipan, baik di diketemukan, dan kondisinya pun rentan
rusak. Para pemilik cenderung masa bodoh
5 dan tidak menganggapnya sebagai sesuatu
Di Indonesia, kajian atas sejarah lokal mulai
bertumbuhan sejak tahun 1950. Kajiannya
yang penting.
bercorak pada: 1. studi peristiwa tertentu, 2. Contoh kasus di Indramayu, ketika
menekankan struktur, 3. studi tematis, kantor desa dibangun, direhab, atau
mengambil perkembangan pada aspek dan dibersihkan, arsip-arsip statis yang tidak
kurun waktu tertentu, 4. studi sejarah umum berfungsi turut hancur, musnah, atau
mengenai perkembangan suatu daerah dari pindah ke tangan orang-orang yang tidak
waktu ke waktu (Abdullah, 2010: 28).
40 Patanjala Vol. 11 No. 1 Maret 2019: 33 - 48

bertanggungjawab. Orang-orang sepuh tahun 1931, tepatnya dibuat pada masa


yang dahulu pernah menjadi pamong desa pemerintahan Kuwu Haji Marsiti (1915),
biasanya mengetahui di mana arsip-arsip Kuwu Haji Daklan (1916), Kuwu Haji
disimpan, dan pada umumnya tidak jauh Akmad (1917), Kuwu Haji Kusen (1920),
dari kantor desa. Jadi, tidak ada kata dan Kuwu Haji Saleh (1931). Haji Kusen
terlambat untuk menghimpun kembali, termasuk paling lama menjabat sebagai
yang jika diakumulasikan jumlahnya kepala Dusun Srengseng, sekitar 11 tahun,
sangat besar. sebagaimana terlihat dalam arsip-arsip lain
yang ditulis pada rentang masa itu.
2. Arsip Desa Srengseng Jika diperhatikan, betapa seorang
Desa Srengseng adalah salah satu haji memiliki kepercayaan lebih besar di
desa yang menyimpan banyak arsip statis, hati masyarakat dibandingkan dengan
antara lain koleksi Mas Johan, seorang meraka yang belum pernah
petani dari Desa Srengseng, Kecamatan menunaikannya. Seorang haji seakan
Krangkeng, Kabupaten Indramayu. menjadi syarat mutlak dan lebih layak
Jumlahnya mencapai puluhan, dan menempati jabatan kuwu. Sebelum tahun
sebagian besar berupa naskah surat akta 1915, di desa Srengseng, jabatan kuwu
jual beli sawah. Kertas yang dipakai pada juga diisi oleh seorang haji, yaitu Haji
surat berharga itu didisitribusikan dari Kadam (disebutkan dalam surat tertanggal
Priangan, melalui afdeling Indramayu. 09 Maret 1917).7
Dari Indramyu lalu ke Distrik Bila arsip-arsip dari Desa Srengseng
Karangampel, kemudian ke Onderdistrik saya telusuri lebih jauh, bisa saja
Krangkeng, dan terakhir ke Dusun jumlahnya lebih banyak lagi. Terlebih lagi,
Srengseng. Dusun Srengseng membawahi Srengseng tergolong desa tua yang
beberapa blok, yaitu Blok Glagarjuna, memiliki perjalanan sejarah cukup
Blok Dangklong, Blok Silawe, dan lain- panjang, yaitu sejak era Sunan Gunung
lain. Mengacu pada UU tentang Benda Jati, yang tidak menutup kemungkinan
Cagar Budaya, Bab I Pasal I, semua arsip menyimpan banyak benda cagar budaya
tersebut yang usianya lebih dari 50 tahun selain naskah. Masyarakat meyakini bahwa
itu termasuk benda cagar budaya, yang Ki Gede Srengseng sebagai pendiri desa
wajib dijaga kelestariannya.6 itu, sekitar abad ke-15.
Titimangsa yang terdapat dalam
setiap arsip menunjukkan waktu
pembuatannya. Adapun waktu
pembuatannya dari tahun 1915 sampai

6 7
Benda cagar budaya adalah: (a) benda buatan Bahwa haji lebih dari sekedar
manusia, bergerak atau tidak bergerak yang menyempurnakan rukun Islam, tetapi sekaligus
berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian- sebagai alat legitimasi politik, terlihat sejak
bagian atau sisa-sisanya, yang berumur masa awal perkembangan Islam. Hal ini
sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, tampak pada kisah perjalanan Walangsungsang
atau mewakili masa gaya yang khas dan beserta adiknya, Rarasantang, ke tanah suci
mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 pada abad ke-15. Sepulang dari sana, Pangeran
(lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai Walangsungsang menjadi kuwu (yang lebih
nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dikenal dengan Kuwu Sangkan atau Mbah
dan kebudayaan; (b) benda alam yang Kuwu), yang dengannya mendapatkan karpet
dianggap mempunyai nilai penting bagi merah dari masyarakat muslim pesisir, terlebih
sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. lagi Walangsungsang adalah putra mahkota
Situs adalah lokasi yang mengandung atau Pajajaran. Demikian pula Banten, dalam
diduga mengandung benda cagar budaya Sajarah Banten yang ditulis pada abad ke-17,
termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi status haji memiliki fungsi sebagai alat
pengamanannya. legitimasi politik (Bruinessen, 1995: 42).
Naskah Surat Akta Jual Beli Tanah…(Nurhata) 41

3. Surat Akta Jual Beli Sawah pada awal abad ke-20, surat jual beli tanah
a. Tentang Surat asal Desa Srengseng memiliki kemiripan,
Naskah akta jual beli sawah ditulis bahkan keduanya sama-sama
dengan aksara Jawa, menggunakan bahasa menggunakan aksara Jawa. Kandungan
Jawa. Alas tulis menggunakan kertas isinya sama-sama menjelaskan luas tanah,
bergaris. Tulisan sangat rapi sehingga teks batas tanah, harga sawah, yang
mudah dibaca. Pola penulisannya menggadaikan (atau yang menjual), nama
mengikuti garis. Teks beraksara latin pembeli, saksi-saksi, dan titimangsa.
hanya pada penulisan angka (nomor dan Hanya saja bahasa yang digunakan telah
penanggalan) serta nama seseorang disesuaikan. Surat dari Indramayu ditulis
(sekretaris I), selebihnya tertulis dengan dengan bahasa Jawa, sedangkan surat dari
aksara Jawa. Tinta yang digunakan Priangan ditulis dengan bahasa Sunda
berwarna hitam. Surat ini hanya satu (Ruhaliah, 2010: 57).
lembar; teks tertulis hanya pada satu sisi
halaman. Jumlah baris 22. Beberapa baris 2. Alih Aksara
terakhir ditulis menjorok ke tepi kanan. Format alih aksara atau transliterasi
pada surat jual beli sawah di bawah ini
tetap mempertahankan struktur atau pola,
agar memperoleh gambaran yang sedekat
mungkin dengan yang aslinya. Berkenaan
dengan konsonan h pada awal kata, juga
tetap dipertahankan, seperti kata hingkang,
hing, dan habdi.

No. 19 Sréngséng/
Katrangan/
Hingkang nandha hasta hing ngandhap
punika kahula nami/ Kadam Ramlah. Kula
sampun rumahos gadha yasa/ rupi sabin
dateng Blok Bédhéng, persil 87, klas/ IV.
Wiyaripun sabin 198 bata. Katrangan/
Gambar 2. Surat Jual Beli Sawah tangga sabin, wétan sabiné Sakar
tahun 1915 Dukujati,/ kidul sabiné8 Tariyah, kulon
Sumber: Nurhata, 2017. sabiné Sakar,/ helor sabiné Rasden.
Meskipun kondisi surat sudah lapuk Punika sabin kula wa/dé lepas, kaliyan
dan kusam, akan tetapi keseluruhan teks regi telung puluh roro f32/ rupiyah pérak.
masih terbaca. Surat-surat lainnya pun, Hingkang tumbas sabin puniki/ nami
yang tersimpan dalam satu koleksi, Salinah, saha bayar kontan dhuwit/ kang
kondisinya seperti itu. Penyebab umum telung puluh loro rupiyah.
yang melatarainya karena pemilik naskah Tandha hasta kahulah hingkang/ wadé
tidak memahami bagaiamana semestinya sabin
merawat atau memperlakukan naskah. kasebut/ hing ngigil punika wahu/ nami
Pemilik juga kurang berhati-hati ketika Kadam.
membukakan surat-surat yang tergulung
dalam tabung kaleng. Akibatnya, tepi Saksi Dhusun Sréngséng
halaman banyak yang rusak, tersobek Habdi Kuwu Sréngséng
menjadi serpihan kecil dan berjatuhan ke Kaji Marsiti
tanah.
Bila dibandingkan dengan surat
8
kepemilikan tanah di Priangan yang dibuat Dalam naskah tertulis sabané, seharusnya
sabiné.
42 Patanjala Vol. 11 No. 1 Maret 2019: 33 - 48

Panca Kaki, Rayem(?) 4. Isi Surat Keterangan Jual Beli Sawah


Jru Tulis, Ratna Ada tiga unsur utama dalam surat
Sréngséng kaping 10/ 11/ -15 akta jual beli sawah: struktur, isi, dan
konteks. Keseluruhan surat yang diperoleh
Keterangan: dari Desa Srengseng, termasuk yang
berasal dari Priangan, juga mengandung
é taling
tiga unsur itu. Adapun garis besar isi surat
e pepet adalah penjualan sebidang tanah sawah.
Tepatnya, pada tanggal 10 November
/ ganti baris 1915, sawah milik Bapak Kadam dan Ibu
Ramlah seluas 198 bata, yang berlokasi di
? kata sukar dibaca Blok Bedeng, dijual kepada Bapak Salinah
dengan harga 32 rupiah. Adapun sebagai
3. Terjemahan saksinya adalah Pancakaki yang bernama
Terjemahan surat di bawah ini, dari Rayem dan Juru Tulis I yang bernama
segi strukturnya, mengikuti alih aksara Ratna.
atau sumber aslinya. Berikut di bawah ini Beberapa unsur yang akan diuraikan
terjemahannya. berkenaan dengan isi surat yaitu luas
sawah, batas sawah (sebelah barat, timur,
Nomor 19 Srengseng utara, dan selatan), harga sawah, nama
Keterangan penjual, nama pembeli, saksi-saksi, dan
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya waktu transaksi (penanggalan). Di samping
(kami) bernama Kadam [dan] Ramlah. itu juga akan dijelaskan masalah tanda
Saya merasa memiliki sebidang tanah tangan cap jempol dan stempel, meskipun
berupa sawah di Blok Bedeng, persil tidak termuat di dalam surat yang menjadi
[nomor] 87, kelas IV. Luas sawah 198 obyek penelitian ini, karena kedua unsur
bata. Keterangan tetangga sawah: timur itu juga sangat penting.
sawah milik Sakar, Duku[h]jati; selatan
sawah milik Tariyah; barat sawah milik a. Luas dan Batas Sawah
Sakar; utara sawah milik Rasden. Sawah Ukuran luas menggunakan istilah
ini saya jual lepas dengan harga f32, tiga (ukuran) lama, yang biasa digunakan oleh
puluh dua rupiah perak. Yang membeli orang-orang terdahulu, yaitu bata. Sampai
sawah bernama Salinah. Dibayar tunai saat ini pun, sebagian orang-orang desa di
uang yang tiga puluh dua rupiah. Indramayu, masih menggunakan istilah
Tanda tangan saya yang menjual sawah bata ketika mengukur sebidang tanah. Satu
tersebut di atas bernama Kadam. bata sama dengan 14 m². Pendapat lain,
satu bata sama dengan 14,25 m², hanya
Saksi Dusun Srengseng selisih sedikit. Di atas bata yaitu patok dan
Abdi Kuwu Srengseng bau. Satu patok sama dengan setengah
Haji Marsiti bau, sekitar 3500 m². KBBI (2008: 1030)
Pancakaki, Rayem mengartikan satu patok sekitar 2300 m².
Juru Tulis, Ratna Sementara itu, satu bau sama dengan
Srengseng 10 November [19]15 (sekitar) 7000 m². Dengan demikian, 198
bata sama dengan 2772 m².
Keterangan: Di dalam surat terdapat keterangan
bagian sisi atau tetangga sawah. Letak
(...) keterangan tambahan sawah yang dijual berlokasi agak menjorok
ke dalam, tidak berbatasan dengan sungai
[...] tambahan kata atau huruf atau pekarangan.
Naskah Surat Akta Jual Beli Tanah…(Nurhata) 43

a. Sebelah timur berbatasan dengan b. Jenis dan Kelas


sawah milik Sakar (dari Dukuhjati, Sawah yang terletak di Blok Bedeng
Indramayu); adalah sawah bernomor persil 87, kelas IV.
b. Sebelah selatan berbatasan dengan Dalam kamus Bausastra Jawa (Widada
sawah milik Tariyah; dkk., 2001), tanah persil adalah tanah
c. Sebelah barat berbatasan dengan negara yang disewakan oleh seseorang
sawah milik Sakar; selama 75 tahun. Tanah persil juga berarti
d. Sebelah utara berbatasan dengan suatu tanah yang dipakai untuk dijadikan
sawah milik Rasden. sebagai ladang perkebunan, pertanian, atau
Keterangan tersebut, secara untuk perumahan. Konteks jual beli sawah
substansial tidak jauh berbeda dari surat yang dimaksud dalam surat tersebut
pernyataan penguasaan fisik bidang tanah merujuk pada definisi yang kedua. Dengan
atau surat pernyataan kepemilikan tanah kalimat lain, sebagai tanah persawahan
pada masa kini. Ini bisa dibandingkan yang dijual kepada pihak lain.
dengan surat akta tanah yang dibuat pada Sementara itu, dilihat dari jenis
tahun 1991, milik Ibu Farikhah, Indramyu. kelasnya, tanah tersebut termasuk lahan
Hanya saja, surat penguasaan tanah yang produktif dan subur. Pengelolaan yang
dibuat belakangan, dilengkapi dengan baik terhadap tanah kelas IV dapat
denah lokasi. Selain itu juga memuat tanda memperoleh hasil melimpah sesuai dengan
tangan penjual, pembeli, saksi-saksi, tujuannya, misalnya untuk penanaman
termasuk kepala desa dan camat. tanaman pertanian, tanaman musiman
Pemberian batas biasanya diberi (biasanya sekali dalam setahun), rumput
penanda tonggak berupa kayu atau benda untuk pakan ternak, padang rumput, atau
keras lainnya, yang diletakkan di empat hutan.
sudut, membentuk garis persegi. Penanda
itu sebagai pengingat batas luas tanah, baik c. Harga Sawah
oleh pemilik sawah sendiri maupun Harga sawah seluas 198 bata atau
tetangga sebelahnya. Ketika tanah dijual 2772 m² adalah 32 rupiah perak. Nilai itu
setengahnya, atau dibagi menjadi dua, terbilang besar pada masanya. Bapak
maka diberi tonggak lagi, dan seterusnya, Salinah membelinya secara tunai. Kedua
misalnya karena pembagian waris. nilai uang disebutkan: rupiah dan perak.
Dalam percakapan sehari-hari, terutama
Selatan, masyarakat Cirebon dan Indramayu, istilah
Sawah milik perak kerap dipakai untuk menunjukkan
Tariyah bahwa nominal uang yang dimaksud
sangat kecil, misalnya séwu pérak “1000
rupiah”.
Timur, Sawah yang Barat,
Sawah milik djual, luas Sawah milik d. Nama Penjual
Sakar 198 bata Sakar Disebutkan nama orang yang
atau 2772 menjual sawah, yaitu Kadam Ramlah,
m² pemilik sah dari sawah yang dijual.
Tampaknya mereka adalah pasangan
suami-istri: Bapak Kadam dan Ibu Ramlah.
Utara, Tentang asal si penjual tidak disebutkan,
Sawah milik hanya terdapat keterangan letak sawah dan
Rasden batas sawah. Menurut surat tanah yang
dibuat pada tanggal 3 Maret 1917, Bapak
Kadam adalah seorang mantan kuwu.
Gambar 3. Ilustrasi batas sawah Besar kemungkinan ia berasal dari Desa
44 Patanjala Vol. 11 No. 1 Maret 2019: 33 - 48

Srengseng juga. Ia juga memiliki sawah di Redisan seluas 342 bata dengah
Blok Glagarjuna Srengseng, berbatasan harga 80 rupiah.
dengan sawah milik Bapak Mursid.9 2. Tanggal 4 Agustus 1920, Bapak
Banyak faktor yang melatari me- Salinah membeli sawah milik Ibu
ngapa Bapak Kadam dan Ibu Ramlah Wader seluas 282 bata dengan harga
menjual sawahnya, ditengarai karena 80 rupiah.
masalah kebutuhan ekonomi. Hal ini 3. Tanggal 7 November 1923, Bapak
dipertegas dengan adanya sebuah laporan Salinah membeli sawah seluas 198
seorang Wakil Inspektur Urusan Agraria bata milik Bapak Kaswi dan Ibu
(1918-1925), J.W. Meijer Ranneft sewaktu Murtala dengan harga 50 rupiah.
melakukan perjalanan dinas ke wilayah 4. Tanggal 31 Oktober 1924, Bapak
utara Cirebon serta penelitian Armando Salinah membeli sawah seluas 260
(2010) di Indramayu bagian berat (1885- ru atau sekitar setengah bau lebih
1935). (500 ru = 1 bau) milik Ibu Salmi
Pada surat tersebut, hanya seharga 210 rupiah.
disebutkan nama Bapak Kadam: Tandha 5. Tanggal 3 Agustus 1931, Bapak
hasta kahulah hingkang wadé sabin Salinah membeli sawah milik Ibu
kasebut hing ngigil punika wahu nami Sanip seluas 262 bata dengan harga
Kadam “Tanda tangan saya yang menjual 65 rupiah.
sawah tersebut di atas bernama Kadam”. Jadi, total luas sawah yang dimiliki
Nama Ibu Ramlah tidak tertera. Tanda Bapak Salinah 2600 bata atau sekitar 3.66
tangan penjual juga tidak ada, hanya ada hektar.10 Jumlah ini belum termasuk tanah
tanda yang menyerupai huruf “XXX” yang pekarangan, yang jika diakumulasikan
mungkin maksudnya dikosongkan. Bahkan lebih luas lagi ukurannya.
tanda tangan kuwu, saksi, dan stempel pun Sejumlah surat akta jual beli tanah
tidak tertera. Belum dapat dipastikan, milik Bapak Salinah seakan menegaskan
apakah surat semacam itu pada masanya bahwa ia adalah seorang tuan tanah.
dianggap lazim dan memiliki kekuatan Sawahnya tersebar luas di Dusun
hukum atau memang masih dalam proses Srengseng. Hampir setiap dua tahun ia
(belum selesai). membeli sawah yang berada di area desa
itu. Informasi ini senada dengan yang
e. Nama Pembeli disampaikan oleh pemilik surat, Mas
Pada mulanya saya menduga, Johan, bahwa Bapak Salinah memang
pembeli sawah yang bernama Salinah betul adalah tuan tanah.11 Kepemilikan
adalah perempuan, tetapi ternyata laki-laki. tanah perorangan dalam jumlah besar ini
Ini dinyatakan dalam surat lain yang ditulis adalah salah satu dampak dari Undang-
sesudahnya. Menurut pemilik naskah pun undang Agraria (Agrarische Wet)
seperti itu, bahwa Salinah adalah seorang sebagaimana telah disebutkan di atas.
laki-laki yang memiliki banyak sawah.
Boleh dibilang pemerolehan tanah didapat f. Tanda Tangan
dengan cara membeli. Berikut di bawah ini Di dalam surat yang dialihkasarakan
tanggal pembeliannya: sebagaimana diuraikan di atas, tidak
1. Tanggal 11 September 1918, Bapak memuat tanda tangan cap jempol dan
Salinah membeli sawah dari Ibu
10
Ini data sementara. Dari dua gulungan yang
dimasukkan dalam dua kaleng, hanya sebagian
9
Keterangan tetangga sawah milik Kasni yang surat yang saya baca, masih banyak surat yang
djual ke Bapak Mursid pada tanggal 3 Maret belum dibaca. Jika diakumualasikan jumlahnya
1917: timur, sawahnya Haji Hartiyah; selatan, lebih besar lagi, bisa mencapai dua kali lipat.
11
tetangga Ibu Masijem; barat, Kaji Kadam, Wawancara dengan pemilik arsip, Mas Johan
mantan kuwu; utara, tetangga salon. (40).
Naskah Surat Akta Jual Beli Tanah…(Nurhata) 45

stempel. Akan tetapi, merujuk pada


beberapa surat yang dibuat setelahnya,
terdapat tanda tangan penjual, berupa cap
jempol, seperti surat yang dibuat pada 4
Agustus 1920, perihal penjualan sawah
milik Ibu Wader kepada Bapak Salinah,
seluas 282 bata, dengan harga 80 rupiah.
Surat-surat lainnya, tentang pembelian
sebidang sawah, yang memuat tanda
tangan, yaitu tertanggal 4 Oktober 1923; 7
November 1923; 31 Oktober 1924; 3
Agustus 1931.

Gambar 5. Stempel
Sumber: Nurhata, 2017.

h. Saksi-saksi
Orang-orang yang terlibat dalam
penjualan sawah adalah Kuwu Dusun
Gambar 4. Cap Jempol dan Stempel
Srengseng Haji Marsiti, sebagai pihak
Sumber: Nurhata, 2017.
yang mengetahui. Di bawahnya disebutkan
dua orang saksi, yakni Pancakaki yang
g. Stempel
bernama Rayem dan Juru Tulis yang
Surat berstempel sebetulnya hanya
bernama Ratna (Juru Tulis I). Biasanya,
ada dua: tertanggal 3 September 1917 dan
juru tulis yang bertugas membuat surat
tertanggal 4 Oktober 1923. Dalam stempel
penting seperti akta jual beli. Keterlibatan
tertulis serangkaian huruf melingkar,
pihak desa sangat penting, untuk
berupa huruf kapital aksara latin:
mengantisipasi timbulnya perselisihan di
“SRENGSENG NO. 19. DIST.
antara kedua belah pihak.
KARANGAMPEL”. Pada bagian tengah
Ratna termasuk orang yang
lingkaran terdapat gambar mahkota. Di
berpengalaman dalam urusan administrasi
bagian bawah mahkota terdapat gambar
desa. Pada masa kuwu H. Marsiti, Ratna
dua ekor singa dengan posisi berdiri, tetapi
menduduki jabatan juru tulis atau
tidak begitu jelas. Stempel dengan gambar
sekretaris I, nama sekretaris II tidak
semacam itu biasa dipakai untuk urusan
disebutkan. Masa kuwu H. Daklan, Ratna
yang berkaitan dengan administrai
juga menjabat sekretaris I, bersama
pemerintah Hindia Belanda pada awal
Mustarah sebagai sekretaris II. Masa Kuwu
abad ke-20.
H. Kusen, Ratna masih menjadi sebagai
Ini menginformasikan kedudukan
sekretaris I, sedangkan yang menjadi
Dusun Srengseng kala itu sebagai wilayah
sekretaris II adalah Klawud. Namun,
yang berada di bawah Distrik
periode pemerintahan Kuwu H. Kusen,
Karangampel, melalui Onderdistrik
jabatan sekreteris I dan II diganti:
Krangkeng. Berbeda dari hierarki
sekretaris I diganti menjadi H. Yahya
pemerintahan saat ini, Karangampel dan
sementara sekreteris II diganti menjadi
Krangkeng memiliki kedudukan sejajar,
Kasmirah.
keduanya sebagai kecamatan yang berada
Adapun nama-nama jabatan yang
di bawah Pemerintahan Kabupaten
ada di Dusun Srengseng, menurut
Indramayu.
46 Patanjala Vol. 11 No. 1 Maret 2019: 33 - 48

keseluruhan surat (yang terhimpun dalam sawah. Ia mengamanatkan seluruh surat


satu koleksi), sebagai berikut: berharga itu kepada anak cucunya, supaya
1. Kuwu: kepala desa; dirawat dengan baik.
2. Juru tulis: sekretaris desa. Dalam Naskah surat akta jual beli sawah
naskah biasanya ditulis (disingkat) yang dibuat pada tahun 1915 adalah bukti
jru; sah kepemilikan atas sebidang sawah. Di
3. Keliwon: Kedudukannya di bawah dalamnya menyatakan bahwa sawah
lurah desa. Kamus KBBI (2008: berukuran luas 198 bata (2772 m²), milik
657), mengartikan keliwon sebagai Bapak Kadam dan Ibu Ramlah, dibeli oleh
pamong desa yang kedudukannya Bapak Salinah dengan harga 32 rupiah,
berada di bawah kuwu; dibayar tunai. Dilihat dari jenis dan kelas
4. Malang: perangkat desa yang tanahnya menunjukkan, sawah tersebut
bertugas menjamin keamanan desa, tergolong lahan subur dan produktif.
seperti polisi desa. Kedudukannya di Adapun jumlah keseluruhan tanah
atas lurah desa; sawah yang dimiliki Bapak Salinah, hingga
5. Raksabumi: perangkat desa yang tahun 1931, seluas 2600 bata atau sekitar
bertugas mengawasi masalah 3,66 hektar. Semua sawah dibeli pada
pengairan dalam satu desa; rentang waktu yang berbeda. Ia
6. Lurah: di sini, yang disebut lurah membelinya secara bertahap, selama 16
adalah kepala dusun, bukan kepala tahun (1915-1931). Lokasi antara satu
desa atau kuwu. Lurah desa juga di- sawah dan sawah lain berjauhan, tetapi
sebut dengan penggedhé desa. Di masih dalam satu desa.
Indramayu, kira-kira satu lurah
membawahi tiga atau empat RW UCAPAN TERIMA KASIH
(Rukun Warga); Penelitian ini selesai disusun dalam
7. Kebayan: perangkat desa yang wujud artikel, karena ketersediaan arsip
bertugas menjadi suruhan pamong koleksi Mas Johan. Oleh karena itu saya
desa. Dalam KBBI (2008: 642), mengucapkan terima kasih kepada Mas
kebayan berarti pamong desa yang Johan yang telah mempersilahkan seluruh
bekerja menyampaikan perintah arsip pribadinya untuk saya jadikan bahan
sekaligus menjaga keamanan di kajian penelitian. Terima kasih pula saya
desa; sampaikan kepada Rahmatullah, yang telah
8. Lebe: perangkat desa yang biasanya meluangkan waktu dan tenaganya,
bertugas menikahkan seseorang mengantarkan saya ke rumah pemilik
dengan pasangannya dan mengurusi arsip.
jenazah;
9. Pancakaki: orang yang dituakan DAFTAR SUMBER
(sesepuh desa)
1. Naskah atau Arsip
10. Bekel: kepala yang membawahi Akta Tanah, dibuat pada tahun 1991, milik Ibu
beberapa blok. Kira-kira, tiga blok Farikhah (48 tahun).
dibawah satu bekel. Jadi, satu desa
terdiri atas beberapa bekel. Naskah Sedjarah Kuntjit, ditulis pada tahun
1918, koleksi Ki Masta (alm.).
D. PENUTUP Naskah Babad Darmayu, tt. koleksi Dalang
Berdasarkan jenisnya, naskah surat Ahmadi.
akta jual beli sawah koleksi Mas Johan, Naskah Akta Surat Jual Beli Sawah, dibuat
Srengseng Indramayu, termasuk surat tahun 1915, koleksi Mas Johan (40
penting. Asal surat, warisan dari buyutnya, tahun).
Bapak Salinah. Bapak Salinah adalah
pemilik pertama sekaligus sebagai pembeli
Naskah Surat Akta Jual Beli Tanah…(Nurhata) 47

Naskah Akta Surat Jual Beli Sawah, dibuat 21. Depok: Fakultas Sastra Universitas
tahun 1916, koleksi Mas Johan (40 Indonesia.
tahun).
Purwanti, Sri. ―Akibat Hukum dari Pembuatan
Naskah AktaSurat Jual Beli Sawah, dibuat Akta Jual Beli Tanah yang tidak Sesuai
tahun 1917, koleksi Mas Johan (40 dengan Tata Cara Pembuatan Akta
tahun). PPAT‖ dalam Repertorium Vol. 3 No.
2. Juli-Desember 2016.
Naskah AktaSurat Jual Beli Sawah, dibuat
tahun 1920, koleksi Mas Johan (40 Ruhaliah. "Jejak Penjajahan pada Naskah
tahun). Sunda: Studi Kasus pada Surat Tanah"
dalam Jumantara Vol. 1 No. 1. Tahun
Naskah AktaSurat Jual Beli Sawah, dibuat
2010.
tahun 1923, koleksi Mas Johan (40
tahun). Winarso, Bambang. ―Dinamika Pola
Penguasaan Lahan Sawah di Wilayah
Naskah AktaSurat Jual Beli Sawah, dibuat
Pedesaan di Indonesia" dalam Jurnal
tahun 192, koleksi Mas Johan (40
Penelitian Pertanian Terapan Vol. 12
tahun).
No. 3. Tahun 2012.
Naskah Akta Surat Jual Beli Sawah, dibuat
tahun 1931, koleksi Mas Johan (40 3. Buku
tahun). Abdullah, Taufik. 2010.
Sejarah Lokal di Indonesia. Yogyakarta:
Naskah Akta Surat pernyataaan penguasaan
UGM Press.
fisik bidang tanah, 1991, arsip pribadi
(40 tahun). Baried, Siti Baroroh dkk. 1985.
Pengantar Teori Filologi. Pusat
2. Jurnal dan Laporan Penelitian Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,
Christmoy, Tommy dan Nurhata. 2016. Departemen Pendidikan dan
―Kearifan Lokal dalam Naskah-naskah Kebudayaan, Jakarta.
Pesisir Indramayu: Pengembangan Christmoy, Tommy dan Nurhata. 2016.
Budaya Pesisir melalui Knowledge Katalog Naskah Indramayu. Jakarta:
Management System‖. DRPM. UI. WWS.
Fernando, M.R. ―The Worst of Both Worlds: Departemen Pendidikan Nasional. 2008.
Commercial Rice Production in West Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi
Indramayu, 1885–1935‖ dalam of IV. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Southeast Asian Studies, Vol. 41 / Issue
03 / October 2010, pp 421 - 448. Farid, Hilmar. 2017.
“Prolog: Menuju Sejarah/ Geografi
Krihanta. ―Akreditasi Lembaga Kearsipan Agraria”. dalam Sejarah/Geografi
Provinsi dalam Rangka Meningkatkan Agraria Indonesia. Sleman: STPN
Layanan kepada Masyarakat‖ dalam Press.
ANRI Jurnal Kearsipan Vol. 3 No.1.
Desember Tahun 2008. Hornby, A. S. 2000.
Oxford Advanced Learner’s Dictionary.
Magetsari, Nurhadi. ―Organisasi dan Layanan Oxford: Oxford University Press.
Kearsipan‖ dalam ANRI Jurnal
Kearsipan Vol. 3 No.1. Desember Priyadi, Sugeng. 2012.
Tahun 2008. Sejarah Lokal: Konsep, Metode, dan
Tantangannya. Yogyakarta: Ombak.
Muhsin Z, Mumuh. 2011. ―Struktur Sosial,
Politi, dan Pemilikan Tanah di Priangan Saputra, Karsono, H. 2008.
Abad ke-19‖ dalam Patanjala Vol. 3 Pengantar Filologi Jawa. Jakarta:
No. 3. September 2011. WWS.
Mulyadi, Sri Wulan Rujiati. 1994. Suhendar, Endang. 1995.
―Kodikologi Melayu di Indonesia‖, Ketimpangan Penguasaan Tanah di
dalam Lembaran Sastra edisi khusus. Jawa Barat. Akatiga: Bandung.
48 Patanjala Vol. 11 No. 1 Maret 2019: 33 - 48

Van Bruinessen, Martin. 1995.


Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat.
Bandung: Mizan.
Van Anrooij, Francien. 2014.
De Koloniale Staat (Negara Kolonial)
1854-1942. Panduan Archief van het
Ministerie van Kolonien (Arsip
Kementrian Urusan Tanah Jajahan
Kepulauan Nusantara. Penerjemah
Nurhayu W. Santoso dan Susi
Moeimam. Leiden.
Widada, dkk., 2001.
Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa).
Yogyakarta: Kanisius.
Zoetmulder, P.J. 1983.
Kalangwan: Sastra Jawa Kuno
Selayang Pandang. Jakarta: Jambatan.

4. Undang-undang dan Peraturan


Pemerintah
Undang-undang Republik Indonesia, Nomor 5
Tahun 1992, tentang Benda Cagar
Budaya.
Peraturan Kepala Arsip Nasional Republik
Indonesia Nomor 22 Tahun 2011
tentang Pedoman Penyelenggaraan
Sistem Informasi Kearsipan Nasional
(SIKN) dan Jaringan Informasi
Kearsipan Nasional (JIKN).
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 24 Tahun 1997, tentang
Pendaftaran Tanah, Presiden Republik
Indonesia.

5. Informan
Mas Johan (40 tahun). 2015.
Desa Srengseng, Kec. Krangkeng, Kab.
Indramayu. Wawancara, Indramayu 22
Januari 2015.