Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu proses yang sangat penting untuk

meningkatkan kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti,

memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebersamaan agar

dapat membangun diri sendiri dan bersama-sama membangun bangsa.

(Saptono, 2017:57)

Pendidikan adalah sesuatu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap

individu. Pendidikan tidak terlepas dari segala aktivitas yang dilakukan

manusia. Dalam kondisi apapun, manusia tidak dapat menolak efek dari

penerapan pendidikan dalam sehari-hari.

Pendidikan dalam pelaksanaannya dibagi menjadi tiga, yaitu pendidikan

formal, pendidikan informal, dan pendidikan non-formal. Pendidikan formal

terdiri dari SD hingga ke perguruan tinggi. Pendidikan informal adalah jenis

pendidikan atau pelatihan yang terdapat di dalam keluarga atau masyarkat

yang diselenggarakan tanpa ada organisasi tertentu. Pendidikan informal

misalnya pendidikan mengenai sopan santun oleh orangtua kepada anaknya.

Pendidikan sopan santun yang diajarkan oleh oarngtua tidak memerlukan

organisasi atau institusi pendidikan. Pendidikan non-formal adalah segala

bentuk pendidikan yang diberikan secara terorganisasi tetapi diluar wadah

pendidikan formal. Pendidikan nonformal misalnya pelatihan-pelatihan

1
2

yang diadakan oleh lembaga ketrampilan. Dalam hal ini ijazah tidak

menjadi tujuan utama tetapi ketrampilan menjadi tujuan yang harus dicapai.

Pada dasarnya, setiap kegiatan yang dilakukan manusia memiliki

dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif tentunya merupakan

sebuah harapan yang diinginkan oleh setiap manusia. Dan dampak negatif

adalah sesuatu yang dapat menimbulkan masalah bagi kehidupan manusia.

Jika dikaitkan dengan dunia pendidikan, penerapan pendidikan yang

berjalan secara tidak baik akan menimbulkan dampak negatif. Hal ini

merupakan penghambat bagi suatu proses kelancaran dalam proses belajar

mengajar. Dan peristiwa ini banyak terjadi di dalam dunia pendidikan

nonformal. Permasalahan pun muncul mulai dari aras input, proses, sampai

output. Ketiga aras ini sejatinya saling terkait satu sama lain. Input

mempengaruhi keberlanjutan dalam proses pembelajaran. Proses

pembelajaran pun turut mempengaruhi hasil output. Seterusnya, output akan

kembali berlanjut ke input dalam jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi

atau masuk ke dalam dunia kerja, dimana teori mulai dipraktekkan.

(Megawanti, 2012)

Menurut Penelitian Ryan (2021) selama beberapa dekade terakhir,

investasi pendidikan di negara berkembang telah menyebabkan jumlah

peminat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan dengan investasi

bersejarah ini, anak-anak duduk di ruang kelas setiap hari tanpa belajar.

Lebih dari krisis sekolah, kita menghadapi krisis belajar. Meskipun ada

kemajuan di negara-negara yang beragam jutaan anak meninggalkan


3

sekolah tanpa mengetahui cara membaca paragraf atau menyelesaikan

pengurangan dua digit sederhana. Hal ini dapat diartikan bahwa di negara

berkembang jumlah anak yang belajar di sekolah meningkat jumlahnya

tetapi secara kulaitas belum meningkat.

Sistem pendidikan sangat kompleks. Mereka harus memberikan

layanan yang berkualitas, setiap hari, kepada jutaan anak. Ini bukan tugas

yang mudah, terutama ketika bertujuan untuk mengatasi perbedaan budaya,

geografis dan sosial ekonomi, dan menyamakan peluang dengan

menawarkan layanan terbaik untuk semua. Tetapi sulit bukan berarti tidak

mungkin. Faktanya, banyak negara telah mencapainya: beberapa anggota

Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD)

membutuhkan beberapa dekade untuk memperbaiki sistem sekolah mereka,

sementara yang lain, seperti Korea, melakukannya dalam waktu kurang dari

20 tahun. Pada tahun 1945, Korea adalah negara miskin yang hancur akibat

perang, dimana hampir 80 persen penduduknya buta huruf. Pada akhir tahun

enam puluhan, sudah memiliki sistem yang sangat baik dengan tingkat buta

huruf kurang dari 15 persen (Berube, 2004:115).

Dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia, program

pemberdayaan dilaksanakan oleh berbagai instansi baik pemerintah maupun

swasta. Salah satunya adalah lembaga yang berada di tingkat lokal

masyarakat yaitu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) atau

community learning center. PKBM dimaksudkan sebagai sarana bagi

masyarakat untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki supaya


4

mampu memenuhi segala kebutuhan hidupnya dalam rangka mengikuti

perkembangan lingkungan (Unesco, 2007). Fokus PKBM ditekankan pada

pada pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan sesuai dengan

kebutuhan belajar dan potensi masyarakat dalam mencapai kemajuan

pendidikan, sosial, ekonomi, budaya dan politik. Hal ini menunjukkan

bahwa PKBM memiliki fungsi sebagai tempat membelajaran kepada warga

masyarakat, melakukan koordinasi dalam memanfaatkan potensi-potensi di

masyarakat, menyediakan informasi kepada anggota masyarakat yang

membutuhkan keterampilan fungsional atau kecakapan hidup (life-

skills), menjadi ajang pertukaran ilmu pengetahuan, nilai-nilai dan

keterampilan di antara anggota masyarakat, dan menjadi tempat

untuk upaya peningkatan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai

tertentu bagi warga masyarakat yang membutuhkan (Sudjana, 2011:25).

Secara historis Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat hadir di Indonesia di

tengah-tengah kondisi krisis sosial ekonomi nasional pada tahun 1998.

Kehadiran PKBM sebenarnya memiliki latar belakang yang cukup panjang.

Fakta menunjukkan bahwa pendidikan formal dan sistem persekolahan

ternyata tidak cukup untuk menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi

oleh masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari masih rendahnya tingkat

pendidikan masyarakat, tingginya tingkat buta aksara bagi orang dewasa,

tingginya tingkat pengangguran, tingginya tingkat kemiskinan dan

sebagainya.
5

Walaupun bukan faktor utama atau faktor tunggal dalam pemberantasan

buta huruf di Indonesia. Walaupun masih banyak program pemerintah yang

lain misalnya wajib belajar yang awalnya selama 6 tahun menjadi 9 tahun.

Tetapi dengan program PKBM memberikan manfaat mengurangi angka

buta huruf di Indonesia.

Tabel 3
Persentase Buta aksara
Propinsi Buta aksara
15 + 15-44 45+
2003 2004 2005 2003 2004 2005 2003 2004 2005
Aceh 3,72 4,31 - 1,28 1,39 - 10,80 12,60 -
Sumut 3,20 3,36 3,61 1,19 1,21 1,68 8,69 9,25 8,74
Sumbar 4,40 4,27 4,02 1,59 1,53 1,53 10,38 10,07 8,94
Riau 3,90 3,59 2,24 1,73 1,65 0,84 11,78 11,41 7,00
Jambi 4,83 4,24 5,46 2,05 1,41 2,22 13,34 12,91 15,39
Sumsel 4,81 4,31 4,37 1,86 1,66 1,79 13,18 11,99 11,45
Bengkulu 6,41 5,79 6,53 2,64 1,96 2,44 17,59 18,48 18,62
Lampung 8,35 6,92 7,15 2,76 1,89 2,13 22,95 20,20 19,29
Babel 8,52 6,49 4,56 4,80 2,97 2,31 18,48 15,96 10,77
Kep. Riau - - 4,03 - - 1,80 - - 13,08
DKI 1,59 1,69 1,68 0,49 0,47 0,65 5,20 5,40 5,00
Jabar 6,17 6,04 5,35 2,13 1,73 1,69 16,06 16,82 14,04
Jateng 14,21 13,28 12,59 4,24 3,35 2,92 34,09 32,76 30,43
DIY 14,25 14,22 13,28 2,46 2,21 2,10 35,07 34,51 31,28
Jatim 16,63 15,46 14,16 6,23 5,08 4,23 36,68 35,69 32,14
Banten 6,22 6,02 4,37 2,66 2,20 1,45 18,72 19,58 14,06
Bali 15,56 14,48 13,78 5,32 4,32 3,95 36,45 35,53 32,80
NTB 24,89 23,15 21,21 14,23 12,88 10,71 50,16 49,08 46,40
NTT 15,07 14,84 15,05 6,94 6,38 7,02 34,91 34,81 33,33
Kalbar 12,43 11,82 12,34 6,24 4,85 5,23 31,00 32,21 31,80
Kalteng 3,84 3,77 2,50 1,40 0,87 0,83 12,68 13,76 8,11
Kalsel 6,47 5,24 5,53 2,74 2,09 2,29 17,23 14,36 14,45
Kaltim 5,14 5,03 4,69 2,07 2,12 1,75 16,12 15,15 14,72
Kalut - - - - - - - - -
Sulut 1,05 0,85 1,13 0,72 0,41 0,57 1,74 1,82 2,23
Kalteng 6,37 5,59 6,07 3,43 2,58 3,01 15,07 14,74 15,24
Sulsel 16,60 15,51 15,40 7,61 6,90 7,17 37,81 35,60 34,64
Sultengg 9,53 9,27 10,01 4,00 3,26 3,92 27,21 27,43 28,55
Gorontalo 5,30 5,34 4,97 3,56 3,40 3,49 10,17 10,72 9,09
Sulbar - - - - - - - - -
Maluku 2,96 2,22 3,84 1,38 0,89 2,15 6,66 5,92 8,29
Malut 4,46 4,84 4,82 0,95 2,58 2,06 15,57 11,65 14,01
P. Barat - - - - - - - - -
6

Papua 25,54 25,78 28,42 22,33 22,96 26,59 39,21 38,03 37,11
Indonesia 10,21 9,62 9,09 3,88 3,30 3,09 25,43 24,87 22,83
Sumber = www.bps.go.id/indicator/28/102/6/

Jika dilihat kasus per daerah pada tabel di atas ada beberapa daerah

yang mengalami fluktuasi jumlah warga yang buta huruf. Tetapi rata-rata

nasional persentase mengalami penurunan misalnya tahun umur 15+ rata-

rata penurunan 0,455 % selama tiga tahun. Umur 15 – 45 tahun rata-rata

penurunannya 0,435 %. Umur 45+ penurunan rata-ratanya 3,14%. Dengan

menurunnya jumlah warga yang buta huruf membuka peluang untuk

meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Keberhasilan pembangunan suatu wilayah ditentukan oleh sumber daya

manusia yang berkualitas. Pendidikan merupakan salah satu cara

meningkatkan kualitas SDM tersebut. Oleh karena itu peningkatan mutu

pendidikan harus terus diupayakan, dimulai dengan membuka kesempatan

seluas-luasnya kepada penduduk untuk mengenyam pendidikan, hingga

pada peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pendidikan.

Untuk mengetahui seberapa banyak penduduk yang memanfaatkan fasilitas

pendidikan dapat dilihat dari persentase penduduk menurut partisipasi

sekolah. Untuk melihat partisipasi sekolah dalam suatu wilayah biasa

dikenal beberapa indikator untuk mengetahuinya, antara lain: Angka

Partisipasi Kasar (APK), serta Angka Partisipasi Murni (APM).

Tabel 1. Angka Partisipasi Kasar (APK)1

1
Nilai APK bisa lebih dari 100 persen karena populasi murid yang bersekolah pada suatu jenjang
pendidikan tertentu mencakup anak di luar batas usia sekolah pada jenjang pendidikan tersebut.
Penyebabnya adalah adanya pendaftaran siswa usia dini, pendaftaran siswa yang telat bersekolah,
atau pengulangan kelas.
7

Provinsi Angka Partisipasi Kasar (APK)


SD/MI/Paket A SMP/MTs/Paket B SMA/SMK/MA/
Paket C
2018 2019 2020 2018 2019 2020 2018 2019 2020
8

Aceh 113,8 109,9 108,7 99,3 97,4 97,79 84,8 90,1 90,9
Sumut 111,1 109,5 108,5 89,98 90,4 91,68 91,6 94,0, 94,7
Sumbar 110,9 109,3 108,7 90,92 91,4 92,33 83,97 88,88 90,0
1 1
Riau 106,9 106,8 105,8 94,18 93,9 94,89 83,87 84,17 84,6
2 1 9 5 1
Jambi 111,9 111,1 109,3 87,55 87,3 88,91 78,93 82,5 83,7
8 1 9 1 1
SulSel 114,1 113,3 111,5 86,51 86,9 88,78 77,4 80,85 81,7
4 8 7 3
Bengkulu 113,5 109,9 109,2 92,08 89,5 91,32 85,57 93,8 94,1
3 8 2 4
Lampung 110,1 107,3 105,9 94,18 91,1 92,56 81,56 85,73 85,8
1 6 3 1 4
Babel 111,1 108,4 107,4 85,93 85,3 88,19 82,21 87,11 87,1
5 4 3 4 5
Kep. Riau 107,3 107,6 106,3 92,44 92,8 93,97 90,99 86,69 87,5
4 1 2 3
DKI Jakarta 105,2 104,8 103,4 94,91 91,0 91,74 73,98 74,77 76,8
7 3 3 2 7
Jawa Barat 106,2 105,5 104,7 90,96 90,7 91,75 75,31 77,82 78,2
4 2 2 5 6
Jawa Tengah 108,1 107,7 106,3 91,96 91,7 93,21 84,15 86,76 86,8
8 4 2 3
DIYogyakart 105,8 106,1 105,9 96,98 95 95,44 87,43 89,07 89,3
a 4 8 6
Jawa Timur 106,6 105,5 104,3 94,93 94,2 96,40 79,11 84,8 85,2
9 6 5 4 4
Banten 109,5 107,9 107,2 91,71 91,6 92,76 71,7 72,92 73,3
3 4 1 5
Bali 103,0 103,5 102,8 96,14 97,2 97,40 87,74 87,96 88,6
2 2 7 6 7
NTB 108,8 108,5 107,0 93,83 92,0 93,59 89,64 90,86 91,7
2 2 7 7
NTT 116,5 114,9 113,4 88,51 87,8 89,85 77,81 84,63 84,7
8 5 2
KalBar 116,9 112,5 111,5 83,04 83,2 85,22 79,25 82,49 84,5
7 8 3 6 1
Kalteng 110,0 110,0 108,4 95,79 88,7 90,61 74,83 82,27 82,2
2 5 9 4 9
Kalsel 110,2 108,6 107,2 86,17 83,8 86,31 75,68 78,86 79,1
1 9 8 3
Kaltim 108,0 106,8 105,7 92,57 91,0 92,17 96,08 94,96 95,2
2 4 5 3 3
Kalut 102,3 101,1 100,5 102,9 98,2 101,4 89,23 97,91 98,3
1 7 4 5 5 7 1
Sulut 109,0 108,1 106,6 88,47 89,2 90,63 82,25 86,6 86,8
2 7 2 2 3
9

Sulateng 105,2 105,1 103,9 92,88 90,6 91,98 83,53 87,35 88,4
8 3 5 3 2
Sulsel 110,2 108,4 106,9 86,97 84,2 86,23 81,74 86,09 86,4
8 6 9 2 4
Sultengg 110,8 109,2 107,9 85,23 85,3 87,1 84,83 86,81 87,7
1 5 7 4 4
Gorontalo 111,9 110,8 109,4 80,17 78,9 79,25 84,25 88,64 88,6
5 8 8 5 5
Sulbar 108,5 107,3 106,0 82,36 82,7 84,67 84,48 84,1 84,3
6 2 5 1 6
Maluku 112,2 112,1 110,0 95,58 90,4 91,08 87,15 95,29 95,9
5 9 8 5
Maluku 113,7 109,7 108,7 91,1 86,5 88,28 88,04 93,17 93,4
Utara 4 3 1 3 4
Papua Barat 110,7 111,2 110,1 89,68 88,4 90,79 90,74 96,41 97,7
2 4 7 9 2
Papua 94,47 91,94 91,27 87,81 78,1 81,24 65,07 76,33 76,5
1 5
Indonesia 108,6 107,4 106,3 91,52 90,7 92,06 80,7 84,30 84,5
Sumber: www.bps.go.id/indikator/indikator/

Berdasarkan tabel di atas APK di Indonesia pada Tahun 2020 untuk jenjang

MTs/ SMP/Paket B tertinggi Kalimantan Utara sebesar 101,47% dan terendah

81,24%. Sedangkan SMK/MA/SMA tertinggi adalah Papua Barat sebesar 97,72

% dan terendah 73,35%.

Jika di analisis lebih mendalam terutama Enam (6) Propinsi di Pulau Jawa

untuk jenjang MTs/ SMP/Paket B Nilai APK di bawah rata-rata Nasional (84,5)

data Tahun 2020 adalah, DKI Jakarta (76,57%) dan Jabar (78,26%). Empat

Propinsi lain yaitu DIY (96,40%), Banten (92,76%) Jawa Timur (85,24%) dan

Jawa Tengah (86,83%) nilai APK di atas rata-rata Nasional.

Sedangkan jenjang MA/SMK/SMA/Paket C di bawah rata-rata nasional

(84,50%) adalah DKI Jakarta (78,26%) dan Jawa Timur (73,35%) serta Banten

(73,35%). Tiga propinsi lain di atas rata-rata nasional adalah Jawa Tengah
10

(89,30%), Jawa Barat (86,83%) dan DIY (85,24%). Hal ini menunjukkan bahwa

daerah di Pulau Jawa jika dilihat infrastrukturnya lebih lengkap ternyata ada

beberapa daerah yang APK lebih rendah jika dibanding rata-rata nasional. Untuk

itu diperlukan langkah-langkah strategis agar angka partisipasi kasar (APK) dapat

meningkat.

Nilai APK menunjukkan bahwa kemampuan sebuah wilayah mampu

menampung penduduk usia sekolah. Sehingga nilai APK yang tinggi

menunjukkan tingginya tingkat partisipasi sekolah, tanpa memperhatikan

ketepatan usia sekolah pada jenjang pendidikannya.

Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase siswa dengan usia yang

berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama.

APM menunjukkan partisipasi sekolah penduduk usia sekolah di tingkat

pendidikan tertentu. Seperti APK, APM juga merupakan indikator daya serap

penduduk usia sekolah di setiap jenjang pendidikan. Tetapi, jika dibandingkan

APK, APM merupakan indikator daya serap yang lebih baik karena APM melihat

partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai

dengan standar tersebut.

APM di suatu jenjang pendidikan didapat dengan membagi jumlah siswa atau

penduduk usia sekolah yang sedang bersekolah dengan jumlah penduduk

kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang sekolah tersebut


11

Untuk melihat parsipasi sekolah sesuai dengan ketepatan usia sekolah dapat

dilihat pada tabel berikut,

Tabel 2. Angka Partisipasi Murni (APM)

Provinsi Angka Partisipasi Murni (APM)


SD/MI/Paket A SMP/Mts/Paket B SM/SMK/MA/Paket C
2018 2019 2020 2018 2019 2020 2018 2019 2020

Aceh 97,6 97,67 97,7 79,25 80,26 80,5 67,27 67,53 68,00
3 3 6
Sumut 98,6 98,67 98,8 77,08 78,10 78,4 67,48 68,53 68,90
6 0 1
Sumbar 97,2 97,32 97,7 79,12 79,94 80,4 63,47 63,55 64,01
6 3 8
Riau 99,0 99,07 99,1 79,38 79,48 79,9 60,92 60,92 61,38
4 1 3
Jambi 97,8 97,91 97,9 76,91 77,58 77,9 59,87 59,92 60,45
5 1 7
SulSel 98,6 98,66 98,6 78,03 78,81 79,7 65,45 65,51 65,82
3 5 7
Bengkulu 99,2 99,24 99,1 80,23 80,40 81,1 59,18 59,41 59,58
1 6 7
Lampung 97,7 97,73 97,7 73,96 74,13 74,5 57,86 58,41 58,82
1 3 9
Babel 99,1 99,13 99,1 84,59 85,54 86,4 72,90 72,97 73,45
2 6 7
Kep. Riau 98,0 98,12 98,0 80,81 81,68 82,4 60,01 60,24 60,42
3 5 7
DKI Jakarta 98,2 98,27 98,3 81,01 81,26 82,0 57,33 57,53 57,90
5 7 6
Jawa Barat 97,7 97,77 97,9 79,31 79,84 80,5 59,31 59,35 59,74
5 0 3
Jawa Tengah 99,5 99,53 99,5 83,61 84,04 83,9 70,22 70,49 70,98
0 9 8
DIYogyakart 97,8 98,01 97,9 81,98 82,84 83,5 61,51 61,77 62,24
a 8 9 3
Jawa Timur 97,9 97,98 97,9 80,91 81,93 82,7 58,72 58,80 59,06
7 5 3
Banten 96,1 96,81 96,8 86,00 86,75 87,2 73,00 73,01 73,29
9 4 6
Bali 98,8 98,87 98,7 83,88 83,92 84,9 65,77 66,04 66,81
6 8 8
NTB 96,1 96,16 96,0 68,14 69,19 69,8 53,67 53,68 54,09
2 9 2
NTT 97,0 97,09 97,3 65,91 66,67 67,4 51,16 51,21 51,70
9 6 2
KalBar 99,0 99,14 99,1 76,70 77,71 78,4 53,67 53,82 54,08
8 1 5
12

Kalteng 98,8 98,81 98,7 73,84 74,84 75,5 57,78 57,82 58,25
0 6 1
Kalsel 98,4 98,41 98,4 79,68 80,42 81,2 68,43 68,55 69,00
0 4 8
Kaltim 92,7 93,15 93,4 78,20 78,42 79,0 64,05 64,39 64,75
2 6 9
Kalut 94,9 94,97 95,1 74,18 74,30 74,8 62,83 62,98 63,43
3 3 2
Sulut 92,8 93,17 93,2 73,20 73,82 74,4 64,25 64,66 65,02
2 4 2
Sulateng 98,0 98,06 97,9 75,13 75,82 76,1 60,03 60,14 60,32
3 8 7
Sulsel 97,5 97,53 97,7 76,64 76,95 77,6 62,87 62,92 63,41
1 0 4
Sultengg 98,3 98,41 98,5 69,33 70,28 70,6 57,38 57,52 57,86
9 0 8
Gorontalo 95,8 95,86 95,8 69,43 69,36 69,9 57,58 57,64 58,05
3 0 8
Sulbar 95,8 96,21 96,8 74,08 74,68 75,1 63,68 64,23 64,81
0 5 5
Maluku 97,0 97,09 97,2 76,31 76,20 76,9 63,88 63,95 64,25
9 1 0
Maluku Utara 93,6 93,76 93,8 69,11 69,92 70,5 63,11 63,15 63,62
6 8 1
Papua Barat 79,1 79,19 79,3 57,09 57,19 57,9 44,31 44,32 44,73
4 4 5
INDONESIA 97,5 97,64 97,6 78,84 79,40 80,1 60,67 60,84 61,25
8 9 2
Sumber: www.bps.go.id/indikator/indikator/

Berdasarkan tabel di atas data tahun 2020 nilai APM jenjang

SMP/MTs/paket B terendah Papua Barat (57,95) dan tertinggi Banten

(87,6%). Jenjang pendidikan SMA/SMK/MA/Paket C tertinggi tertinggi

Banten (73,9) dan terendah Papua Barat (44,73%).

Jika di analisis secara mendalam terutama enam Propinsi yang ada di

Pulau Jawa untuk jenjang MTs/ SMP/Paket B Nilai APM semua ada di atas

rata-rata Nasional (80,12%) data Tahun 2020 adalah Banten (73,75%), DKI

Jakarta (76,57%) dan Jabar (78,26). Dua Propinsi lain yaitu Jawa Timur

(85,24%) dan Jawa Tengah (86,83%) nilai APK di atas rata-rata Nasional.
13

Sedangakan jenjang MA/SMA/SMK/Paket C tiga propinsi berada di

bawah rata-rata Nasional (61,25%) adalah Jakarta (57,90%), Jawa Barat

(59,74%) dan Jawa Timur (59,06%). Tiga propinsi berada di atas rata-rata

nasional yaitu Jawa Tengah (70,98%) Jawa Timur dan Banten (73,29%) DI

Yogyakarta (62,24%)

Berdasarkan data-data di atas diperlukan langkah-langkah strategis agar

nilai-nilai APK dan APM sebagai salah satu indikator keberhasilan

pendidikan. Jika tidak cari solusinya maka prosentase APK dan APM dapat

menurun. APM dan APK memberikan gambaran tentang ketuntasan belajar

di masing-masing daerah tersebut.

Berdasarkan data-data tersebut diperlukan perubahan pendidikan di

Inonesia. Jika dikaitkan dengan data mengenai buta aksara di Indonesia

dimana persentase terbesar adalah kelompok umur 45+ sebesar 22,83%.

Maka kebutuhan terobosan pendidikan tersebut yang memungkinkan adalah

Pendidikan non formal. Karena untuk mengikuti pendidikan formal

terkendala dengan aturan batas umur. Salah satu bentuk pendidikan

nonformal adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Untuk itu

diperlukan PKBM yang berkualitas, agar dapat melengkapi kekurangan

pendidikan jalur formal.

Sejarah pendidikan dalam banyak aspek adalah sejarah gerakan dan ide

reformasi. Sejak Plato's Politeia setidaknya, 'pendidikan' dapat dianggap

sebagai penyebab atau landasan bagi perubahan masyarakat, budaya, dan

individu. Di kekaisaran Romawi akhir dan zaman Kristen awal, pendidikan


14

dipandang sebagai suara Tuhan dan dengan demikian sebagai suara misi; di

Abad Pertengahan itu juga menjadi kekuatan khusus untuk gerakan baru.

Setelah Reformasi, pendidikan dianggap sebagai penyebab kepercayaan

'batin' dan keselamatan pribadi. Pendidikan menjadi juru penyelamat setelah

dunia dibelenggu oleh kekuasaan raja (Fullan, 2010:120).

Menurut Rafael, et. All (2019:254) gerakan reformasi abad ke-19 dan

ke-20 mencampurkan semua motif ini dan menjadikannya kuat sebagai

reaksi terhadap model sekolah dan pendidikan yang dikembangkan oleh

kekuatan negara pada abad ke-19. Gerakan reformasi modern setidaknya

memiliki tiga kecenderungan yang berbeda. Ada gerakan reformasi institusi

pendidikan, bentuk kehidupan, dan masyarakat. Gerakan reformasi

pendidikan banyak percobaan dengan 'pendidikan baru' tetapi gagal, hanya

beberapa yang berhasil, seperti sekolah Rudolf Steiner, yang bertahan.

Sistem sekolah, di sisi lain, mengadopsi beberapa aspek pendidikan baru

tetapi tidak berubah secara radikal. Kritik terhadap sekolah 'birokrasi'

kembali dengan ekonomi neoliberal yang memperbaharui beberapa sisi

tetapi sisi lain sekolah sebagai ajang bisnis.

Menurut Penelitian Raihani (2011) ada beberapa kasus reformasi

pendidikan yang berdampak negatif misalnya Sekolah Montesorri yang

cukup berkembang di Indonesia, biaya untuk bersekolah di Montesori cukup

mahal. Padahal pada awal perkembangannya di Italia, Montesori justru

mengembangkan metodenya untuk anak-anak terlantar, dan yang dirawat di

rumah sakit. Montesori diusir keluar dari Italia oleh Musolini karena bentuk
15

pendidikannya mengajarkan bahwa setiap anak merupakan warga dunia,

berbeda dengan kondisi politik di Italia saat itu, yang menganggap

bangsanya adalah ras yang paling unggul. Contoh lain adalah berdirinya

beberapa sekolah Islam terpadu sisi lain ini merupakan sebuah reformasi di

bidang pendidikan tapi sisi lain sekolah ini ibarat “menara gading”.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat permasalahan

pendidikan Indonesia. Adapun masalah yang rumit dalam dunia pendidikan

seperti; pemerataan, mutu dan relevansi, dan efisiensi dan efektifitas. Setiap

masalah yang dihadapi disebabkan oleh faktor-faktor pendukungnya adapun

faktor-faktor yang menyebabkan berkembangnya masalah tersebut adalah

IPTEK, laju pertumbuhan penduduk, kelemahan tenaga pengajar dalam

menangani tugas yang dihadapinya, serta ketidakfokusan peserta didik

dalam menjalani proses pembelajaran.

Di lain sisi, kebijakan pemerintah dalam pembangunan pendidikan

sangat menitik beratkan pada pendidikan formal dan sistem persekolahan.

Adapun perhatian pada pendidikan non f ormal masih sangat terbatas. Hal

ini dapat dilihat dari alokasi anggaran dan fasilitas maupun berbagai

sumberdaya lainnya yang jauh lebih besar dicurahkan bagi pendidikan

formal dan sistem persekolahan (//ipabi.org/dana-pendidikan-non-formal)

Pendidikan non formal telah dikenal dalam peradaban manusia jauh

sebelum adanya pendidikan formal dan sistem persekolahan. Namun

pembinaan pendidikan nasional selama ini masih didominasi oleh

pendidikan formal. Pembinaan pendidikan non formal dilakukan oleh


16

pemerintah hanya melalui berbagai pendekatan proyek yang bersifat

sementara dan kadangkala tidak berkelanjutan. Cakupannya pun masih

sangat terbatas pada beberapa jenis kebutuhan pendidikan yang bersifat

nasional. Sementara pendidikan non formal yang diselenggarakan oleh

masyarakat masih bertumpu pada jenis-jenis pendidikan yang memiliki nilai

komersial sehingga dapat ditarik pembayaran dari masyarakat untuk

membiayai kegiatan pendidikan tersebut.

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat adalah pusat pelaksanaan

pembelajaran masyarakat yang berlokasi di kelurahan-kelurahan.

Pernyataan ini mengandung arti bahwa PKBM adalah merupakan

tempat untuk melaksanakan berbagai kegiatan pembelajaran masyarakat

terutama yang dilaksanakan oleh DIKMAS maupun yang dilaksanakan oleh

instansi-instansi lain. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat sebagai tempat

pembelajaran masyarakat terhadap berbagai macam pengetahuan

dan keterampilan dengan memanfaatkan sarana, prasarana, dan potensi yang

ada disekitar lingkungan agar masyarakat memiliki keterampilan yang dapat

dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup (Modul Depdiknas, 2007:12).

Pusat kegiatan Belajar Masyarakat bertujuan untuk memberdayakan

potensi dan fasilitas pendidikan yang ada dilingkungan sekitarnya sebagai

upaya membelajarkan mayarakat yang diarahkan untuk mendukung

pengentasan kemiskinan. Adapun prinsip dalam pengembangan PKBM ini

adalah dalam rangka mewujudkan demokrasi dibidang pendidikan. Hasil

yang diharapkan dengan berdirinya PKBM ini adalah untuk dapat


17

menunjang bahkan mempercepat terbentuknya manusia yang terampil dan

mandiri dengan ditandai makin banyaknya warga masyarakat yang berperan

aktif.

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dilaksanakan dengan cara

menggerakkan seluruh potensi yang tersedia dilingkungan sekitarnya baik

potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun prasarana yang

ada di masyarakat.

Menurut Sihombing (1999:47), strategi penyelenggaraan Pusat

Kegiatan Belajar Masyarakat diupayakan agar mampu mendinamisir sumber

daya yang ada yaitu: 1) Mendayagunakan seluruh sumber daya alam seperti

memberdayakan tanah kering/tanah basa menjadi produktif; 2)

Menggerakan sumber daya manusia yang ada dengan melibatkan semua

tokoh masyarakat dari berbagai kalangan. 3) Mendayagunakan sarana atau

prasarana yang telah ada di masyarakat dan belum dimanfaatkan secara

optimal. 4) Memadukan program yang dilaksanakan oleh berbagai instansi

terkait, LSM, dan lembaga kemasyarakatan lainnya menjadi program yang

efektif dalam rangka pengentasan kemiskinan.

Dalam penyelenggaraannya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat juga

menekankan pada pendidikan kecakapan hidup yaitu kemampuan dan

keberanian untuk menghadapi problema kehidupan, kemudian secara

proaktif dan kreatif, mencari dan menemukan solusi untuk mengatasinya.

Pengertian kecakapan hidup lebih luas dari keterampilan vokasional atau

keterampilan untuk bekerja. Orang yang tidak bekerja, misalnya ibu rumah
18

tangga atau orang yang sudah pensiun, tetap memerlukan kecakapan hidup.

Seperti halnya orang yang bekerja, mereka juga menghadapi berbagai

masalah yang harus dipecahkan. Orang yang sedang menempuh

pendidikanpun memerlukan kecakapan hidup, karena mereka tentu juga

memiliki permasalahannya sendiri. Dengan bekal kecakapan hidup yang

baik, diharapkan para lulusan akan mampu memecahkan problema

kehidupan yang dihadapi, termasuk mencari atau menciptakan pekerjaan

bagi mereka yang tidak melanjutkan pendidikannya (Sihombing, 1999:47).

Bertolak dari masalah tersebut, kiranya perlu dilakukan langkah-

langkah agar pendidikan dapat membekali peserta didik dengan kecakapan

hidup, yaitu kemampuan dan keberanian menghadapi problema kehidupan,

kemudian secara kreatif menemukan solusi serta mampu mengatasinya.

Pendidikan yang dapat mensinergikan berbagai mata pelajaran/mata

diklat/mata-kuliah menjadi kecakapan hidup yang diperlukan seseorang, di

manapun ia berada, bekerja atau tidak bekerja, apapun profesinya. Dengan

bekal kecakapan hidup yang baik, diharapkan para lulusan akan mampu

memecahkan problema kehidupan yang dihadapi, termasuk mencari atau

menciptakan pekerjaan bagi mereka yang tidak melanjutkan pendidikannya.

Melalui PKBM, pendidikan diharapkan menjadi tumpuan harapan

bangsa. Karena melalui dapat menciptakan manusia yang berilmu

pengetahuan dan berakhlak serta dapat mengejar ketertinggalan dalam

berbagai bidang di era yang serba modern ini. Dalam kerangka

pembangunan pendidikan setidaknya ada dua isu pokok. Pertama,


19

rendahnya pencapaian angka indeks pendidikan yang merupakan

komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Kedua, belum tuntasnya

program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun (dapat dilihat pada

tabel APK dan APM). Kedua isu tersebut merupakan bagian yang tak

terpisahkan dari konsep education for all. Seperti kita ketahui salah satu

penyebab rendahnya kualitas sumber daya manusia kita tidak terlepas dari

rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, terutama pada usia sekolah

(Sihombing, 1999:66).

PKBM juga dapat dianggap sebgai jawaban masih kurangnya

pendidikan formal di masyarakat. Walaupun demikian PKBM dianggap

sebagai sebelah mata oleh sebagian orang. Tetapi sekarang PKBM tahun

2006, Menteri Pendidikan Nasional membuat surat edaran yang

menegaskan bahwa ijazah Paket A/Paket B/Paket C setara secara hukum

dengan ijazah SD/SMP/SMA (Surat bernomor: 107/MPN/MS/2006). Pokok-

pokok isi dalam surat edaran Mendiknas:

a. Setiap orang yang lulus ujian kesetaraan Paket A, Paket B atau Paket C

masing-masing memiliki hak eligibilitas yang sama dan setara dengan

berturut-turut pemegang ijazah SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK

untuk dapat mendaftar pada satuan pendidikan yang lebih tinggi.

b. Status kelulusan program pendidikan kesetaraan Paket C memiliki hak

eligibilitas yang setara dengan pendidikan formal dalam memasuki

lapangan kerja.
20

c. Setiap lembaga diminta mematuhi ketentuan perundang-undangan

tersebut di atas agar tidak diindikasikan melanggar Hak Asasi Manusia.

Menindaklanjuti surat tersebut maka seharusnya PKBM harus

meroformasi lembaganya agar lulusannya yang diakui setara dengan

pendidikan formal dapat dipertanggung jawabkan.

Provinsi DKI Jakarta adalah salah satu kota metropolitan di Indonesia.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan predikat ‘sangat tinggi’ pada

2020, yakni mencapai 80,77. Angka tersebut melebihi rata-rata nasional 71,94

dan menduduki rangking tertinggi di Indonesia.

Secara lebih detail dapat dilihat pada infografis di bawah ini,

Berdasarkan data yang didapat dari Badan Pusat Statistik DKI Jakarta,

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di DKI Jakarta terus mengalami

kenaikan. IPM DKI Jakarta tahun 2019 sebesar 80,76. Sejak tahun 2017,
21

status IPM DKI Jakarta berada di kategori “Sangat Tinggi”, yaitu status IPM

dengan passing grade diatas 80,00. Pencapaian tersebut membuat DKI Jakarta

berada pada peringkat dengan nilai IPM tertinggi di Indonesia. Bahkan secara

total, nilai IPM DKI Jakarta berada jauh diatas IPM Nasional yaitu sebesar

71,92.

Semua Kota/Kabupaten di DKI Jakarta mengalami peningkatan IPM

setiap tahunnya. Pada tahun 2019 IPM terendah berada pada Kabupaten

Kepulauan Seribu dengan indeks sebesar 71,4. Sedangkan IPM tertinggi

berada pada Kota Jakarta Selatan dengan indeks sebesar 84,75. Pertumbuhan

IPM tertinggi (2018 ke 2019) berada pada Kota Jakarta Timur dengan

pertumbuhan sebesar 0,77%. Sedangkan pertumbuhan IPM terendah (2018 ke

2019) berada pada Kota Jakarta Pusat dengan pertumbuhan sebesar 0,28%.

IPM dibentuk oleh tiga dimensi dasar, yaitu umur panjang dan hidup

sehat (a long and healthy life) digambarkan oleh indikator Angka Harapan

Hidup (AHH). Pengetahuan (knowledge) digambarkan oleh indikator Rata-

Rata Lama Sekolah (RLS) serta Harapan Lama Sekolah (HLS). Standar hidup

layak (decent standard of living) digambarkan oleh indikator Pengeluaran Per

Kapita yang disesuaikan.

Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS)

adalah indikator yang mengukur dimensi pengetahuan. HLS dan RLS di DKI

Jakarta mengalami kenaikan setiap tahunnya. HLS DKI Jakarta tahun 2019

mencapai 12,97 tahun yang berarti bahwa anak-anak di DKI Jakarta memiliki

harapan untuk dapat menamatkan pendidikan hingga Diploma 1. RLS di DKI


22

Jakarta tahun 2019 mencapai 11,06 yang artinya rata-rata penduduk DKI

Jakarta usia 25 tahun ke atas telah menyelesaikan pendidikan selama 11,06

tahun atau masuk kelas XII. HLS dan RLS tertinggi berada pada Kota Jakarta

Timur dengan HLS sebesar 13,82 tahun dan RLS sebesar 11,65 tahun.

(statistik.jakarta.go.id/)

Walaupun demikian Jakarta terdapat permasalahan sosial. Permasalahan

yang di hadapi pemerintah daerah Jakarta juga sama seperti kota-kota besar di

Indonesia. Salah satau masalah sosial yang dihadapi adalah di bidang

pendidikan.

Dilansir dari data infografis yang dikeluarkan Dinas Pendidikan DKI Jakarta di

website disdik.jakarta.go.id, angka putus sekolah meningkat rata-rata di semua

jenjang pendidikan kecuali Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pada jenjang

Sekolah Dasar (SD) misalnya, angka putus sekolah di tahun 2018/2019 berada di

0,04 persen naik menjadi 0,18 persen di tahun 2019/2020. Untuk jenjang Sekolah

Menengah Pertama (SMP) meningkat dari tahun ajaran 2018/2019 hanya di angka

0,09 persen menjadi 0,27 persen di tahun 2019/2020. Sedangkan untuk jenjang

Sekolah Menengah Atas (SMA) meningkat dari tahun 2018/2019 di angka 0,03

persen menjadi 0,08 persen di tahun 2019/2020. Hanya jenjang SMK yang angka

putus sekolahnya justru turun dari 0,16 persen di tahun 2018/2019 menjadi 0,15

persen di tahun 2019/2020. Peningkatan juga terjadi di angka mengulang atau

jumlah siswa yang tidak naik kelas. Jenjang SMK misalnya, di tahun 2018/2019

angka mengulang berada di 0,23 persen kemudian naik 0,26 persen di tahun

2019/2020. Angka mengulang jenjang SMA juga naik dari tahun 2018/2019 di

angka 0,15 persen naik menjadi 0,16 persen di tahun 2019/2020. Lonjakan angka

mengulang terlihat di jenjang SMP, dari tahun ajaran 2018/2019 berada di angka
23

0,36 persen meningkat menjadi 0,43 persen di tahun berikutnya. Hanya jenjang SD

angka mengulang menurun dari 58 persen di tahun 2018/2019 menjadi 0,50 persen

di tahun berikutnya.

Selain angka putus sekolah di DKI Jakarta tingkat pengangguran yang

meningkat sebanyak 4,41 persen, Provinsi DKI Jakarta juga menjadi provinsi dengan

tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia (BPS DKI Jakarta). BPS melaporkan

pada periode Agustus 2020 pengangguran mengalami peningkatan sebanyak 2,67

juta orang sehingga jumlah keseluruhan pemangguran di Indonesia menjadi 9,77 juta

orang.

Berbagai krisis tersebut di atas berdampak negatif terhadap dunia

pendidikan dengan memunculkan keseimbangan baru pendidikan. Pada

keseimbangan baru ini, pelayanan pendidikan tidak dapat dilaksanakan

dengan menggunakan cara seperti biasa (bussines as ussual). Orientasi

pelayanan pendidikan dengan menggunakan cara berfikir lama tidak dapat

diterapkan dengan begitu saja, dan bahkan mungkin ndak dapat digunakan

untuk mengatasi permasalahan pendidikan pada keseirribangan baru ini.

Cara-cara berpikir baru dan terobosan-terobosan baru harus diperkenalkan

dan diciptakan untuk mengatasi permasalahan pendidikan pada saat ini dan di

masa mendatang. Dengan kata lain, reformasi pendidikan merupakan suatu

imperative action.2

Reformasi pendidikan adalah proses yang kompleks, berwajah majemuk

dan memiliki jalinan tali-temali yang amat interaktif, sehingga reformasi

2
Imperative adalah verb (kata kerja) yang digunakan untuk memberikan command (perintah),
warning (peringatan), advice (nasehat), instruction (instruksi/petunjuk), maupun request
(permintaan). Jadi maksud imperative action disini digunakan untuk perintah yang mendesak
untuk dilakukan/ lihat Djuharie, O. S. (2019). Essay Writing. Bandung: CV. Yrama Widya
24

pendidikan memerlukan upaya pemikiran yang maksimal dalam rentang

waktu yang cukup panjang. Betapa kompleksnya reformasi pendidikan dapat

difahami dengan tempo yang diperlukan amat panjang, jauh lebih panjang

apabila dibandingkan tempo yang diperlukan untuk melakukan reformasi

ekonomi, apalagi dibandingkan tempo yang diperlukan untuk reformasi

politik. Seminar reformasi di Jerman Timur yang diselenggarakan sehabis

tembok Berlin diruntuhkan mencatat bahwa untuk reformasi politik

diperlukan waktu cukup enam bulan. Untuk reformasi ekonomi diperlukan

waktu enam tahun, dan untuk reformasi pendidikan diperlukan waktu enam

puluh tahun. Sungguhpun demikian, hasil dan produk setiap fase atau periode

tertentu dari reformasi pendidikan harus dapat dipertanggungjawabkan.

Disamping itu yang lebih penting adalah reformasi pendidikan harus

memberikan peluang (room for manoeuvre) bagi siapapun yang aktif dalam

pendidikan untuk mengembangkan langkah-langkah baru yang

memungkinkan peningkatan mutu pendidikan.

Reformasi pendidikan pada dasarnya memiliki tujuan agar pendidikan

dapat berjalan lebih efektif dan efisien mencapai tujuan pendidikan nasional.

Untuk itu dua hal yang perlu dilakukan dalam reformasi: a) mengidentifikasi

berbagai problem yang menghambat terlaksananya pendidika, dan, b)

merumuskan refomasi yang bersifat strategik dan praktis sehingga dapat

diimplementasikan di lapangan. Oleh karena itu, kondisi yang diperlukan dan

program aksi yang harus diciptakan merupakan titik sentral yang perlu

diperhatikan dalam setiap reformasi pendidikan. Dengan kata lain, reformasi


25

pendidikan harus mendasarkan pada realitas sekolah yang ada, bukan

mendasarkan pada etalase atau jargon-jargon pendidikan semata. Reformasi

hendaknya didasarkan pada fakta dan hasil penelitian yang memadai dan

valid, sehingga dapat dikembangkan program reformasi yang utuh, jelas dan

realistis.

Reformasi pendidikan memakan tempo yang panjang dan tidak mungkin

dapat dicapai secara penuh. Namun, hasil dan produk setiap fase atau periode

tertentu harus dapt dipertanggung jawabkan. Disamping itu yang lebih pentig

adalah reformasi pendidikan memberikn peluang (room for manoeuvre) bagi

siapapun yang aktif datam pendidikan untuk mengembangkan langkah-

langkah baru yang memungkinkan peningkatan mutu pendiikan.

Apa syarat utama yang harus dipenuhi untuk dapat mencapai tujuan

reformasi yang memadai? Terdapat tuntutan yang merupakan keharusan

untuk dipenuhi agar reformasi dapat berjalan mencapi tujuan yaitu dengan

pendekatan sistemik yang mengisyaratkan agar dalam reformasi tidak ada

faktor yang tertinggal dan harus menekankan pada faktor kunci yang akan

mempengaruhi faktor-faktor lain secara simultan, sehingga reformasi akan

melibatkan seluruh faktor yang penting, dan menempatkan semua faktor

tersebut dalam suatu sistem yang bersifat organik.

Berdasarkan pada kenyataan di atas, dipandang perlu untuk melakukan

penelitian yang diarahkan pada reformasi pendidikan nonformal dimana

nantinya dapat diperoleh informasi yang dapat dijadikan masukan guna

dicapainya kinerja pendidikan non formal yang efektif dan efesien sehingga
26

menjadi profesional dan mampu menjadi lembaga yang mampu

membelajarkan masyarakat secara berkelanjutan

B. Identifikasi Masalah

Pada pembahasaan ini penulis menjelaskan permasalahan-permasalahan

yang lebih ringkas atau biasa disebut identifikasi masalah. Identifikasi

masalah merupakan titik temu yang memperlihatkan adanya masalah

penelitian oleh penulis ditinjau dari sisi keilmuan, bentuk, serta banyaknya

masalah yang dapat diidentifikasi oleh penulis. Menurut Kamus Besar Bahasa

Indonsesia (2014: 417), “Mengidentifikasi adalah menentukan atau

menetapkan identitas”. Identifikasi disini merupakan untuk pengerucutan

masalah penelitian yang akan dipaparkan. “Masalah penelitian dapat berasal

dari berbagai sumber, yaitu dari pengalaman bekerja sehari-hari, dari hasil

membaca atau menelaah buku-buku, atau dari yang dirasakan masalah oleh

orang lain” (Arikunto, 2013:80).

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, masalah penelitian yang diambil

oleh peneliti adalah reformasi pembelajaran yang yang berdasarkan kepada

bahwa pembelajaran harus senantiasa berubah sesuai dengan kebutuhan dan

perkembangan zaman. Selaras dengan pendapat Arikunto, Vismaia (2011:42)

mengatakan, “Penguasaan lapangan, pengertian terhadap segala fakta, serta

pemahaman terhadap buah pikiran para ahli, merupakan bantuan yang

memudahkan setiap orang melihat berbagai hal sebagai masalah penelitian”.

Fakta di lapangan dan teori para ahli merupakan bekal yang kuat untuk

penulis agar dapat mengidentifikasi suatu masalah yang terjadi di lapangan.


27

Identifikasi masalah yang baik, akan menguatkan landasan berfikir penulis

dalam melakukan penelitian, sehingga peneletian akan terlaksana dengan

baik. Identifikasi masalah akan merangkum semua permasalahan menjadi

lebih sederhana yang akan disampaikan secara garis besar. Selanjutnya, hasil

dari identifikasi masalah ini akan dijelaskan ke bagian yang lebih rinci lagi.

Berdasarkan pengamatan latar belakang masalah, penulis menemukan

masalah-masalah sebagai berikut,

1. Peningkatan jumlah anak yang bersekolah tetapi prestasi belajar belum

meningkat

2. Pelayanan pendidikan menghadapi tantangan terutama bertujuan untuk

mengatasi perbedaan budaya, geografis dan sosial ekonomi, dan

menyamakan peluang dengan menawarkan layanan terbaik untuk semua.

3. Terdapat beberapa permasalahan pendidikan Indonesia. Adapun masalah

terindikasi dari pemerataan, mutu dan relevansi, dan efisiensi dan

efektifitas.

4. Terindikasi masih didapati warga yang buta aksara.

5. Terdapat beberapa daerah yang nilai APK dan APM masih di bawah rata-

rata Nasional

6. Masih rendah tingkat pendidikan di masyarakat.

7. Sumber daya manusia (SDM) di masih rendah.

8. Terdapat beberapa hambatan dalam proses pembelajaran di PKBM

9. Diperlukan lulusan PKBM yang bermutu.


28

10. Terdapat beberapa permasalahan Sosial di DKI Jakarta yang berdampak

terhadap pendidikan.

11. Reformasi pendidikan nonformal terindikasi dapat menyelesaikan

permasalahan pendidikan di DKI Jakarta

C. Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah penelitian adalah sesuatu hal yang sangat penting

dalam mendekatkan pada pokok permasalahan yang akan dibahas. Hal ini

supaya tidak terjadi kerancuan ataupun kesimpangsiuran dalam

menginterpretasikan hasil penelitian. Ruang lingkup penelitian dimaksudkan

sebagai penegasan mengenai batasan-batasan objek.

Pembatasan masalah adalah ruang lingkup masalah atau upaya

membatasi ruang lingkup masalah yang terlalu luas atau lebar sehingga

penelitian itu lebih bisa fokus untuk dilakukan. Hal ini dilakukan agar

pembahasannya tidak terlalu luas kepada aspek-aspek yang jauh dari

relevansi sehingga penelitian itu bisa lebih fokus untuk dilakukan. Arti lain

dari pembatasan masalah adalah suatu batasan terhadap sebuah ruang lingkup

dari suatu permasalahan supaya pembahasan yang akan kita lakukan tidak

terlampau jauh dan melebar dengan tujuan agar pembahasan yang kita bahas

fokus pada satu penelitian saja.

Pembatasan masalah juga merupakan konsep yang digunakan untuk

mengkomunikasikan upaya-upaya peneliti untuk membatasi atau

mempersempit ruang lingkup masalah yang telah teridentifikasi dan masalah

tersebut diyakini akan diteliti.


29

Berdasarkan latar belakang di atas maka penelitian ini dibatasi pada

reformasi pendidikan nonformal melalui pembelajaran di Pusat Kegiatan

Belajar Mayarakat (PKBM).

Pemilihan pendidikan nonformal di PKBM karena selama ini ada asumsi

pembelajaran di PKBM hanya pelengkap pembelajaran formal atau hanya

untuk mendapatkan ijazah. Penelitian ini di batasi di PKBM di Jakarta.

Pemilihan tempat ini didasari Jakarta adalah sebagai miniatur pendidikan

nasional.

D. Perumusan Masalah

Sebuah penelitian akan mudah dan jelas jika permasalah penelitian

dirumuskan. Rumusan masalah adalah pertanyaan penelitian, yang umumnya

disusun dalam bentuk kalimat tanya, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi

arah kemana sebenarnya penelitian akan dibawa, dan apa saja sebenarnya yang ingin

dikaji / dicari tahu oleh si peneliti.

Masalah yang dipilih harus “researchable” dalam arti masalah tersebut dapat

diselidiki. Masalah perlu dirumuskan secara jelas, karena dengan perumusan yang

jelas, peneliti diharapkan dapat mengetahui variabel-variabel apa yang akan diukur

dan apakah ada alat-alat ukur yang sesuai untuk mencapai tujuan penelitian. Dengan

rumusan masalah yang jelas, akan dapat dijadikan penuntun bagi langkah-langkah

selanjutnya. Hal ini sesuai dengan pandangan yang dinyatakan oleh Jack R. Fraenkel

dan Norman E. Wallen (2012:23) bahwa salah satu karakteristik formulasi

pertanyaan penelitian yang baik yaitu pertanyaan penelitian harus clear. Artinya

pertanyaan penelitian yang diajukan hendaknya disusun dengan kalimat yang jelas,

tidak membingungkan. Dengan pertanyaan yang jelas akan mudah mengidentifikasi


30

variabel-variabel apa yang ada dalam pertanyaan penelitian tersebut, dan berikutnya

memudahkan dalam mendefenisikan istilah atau variabel dalam pertanyaan

penelitian. Dalam mendefenisikan istilah tersebut depat dengan (1) Constitutive

definition, yakni dengan pendekatan kamus (dictionary approach), (2), Contoh atau

by example dan (3) Operational definition, yakni mendefenisikan istilah atau

variabel penelitian secara spesifik, rinci dan operasional.

Berdasarkan pandangan di atas, maka perumusan masalah pada

penelitian ini adalah Bagaimana reformasi pendidikan nonformal melalui

pembelajaran di Pusat Kegiatan Belajar Mayarakat (PKBM).

E. Tujuan Penelitian

Tujuan yang jelas dalam penelitian merupakan kunci keberhasilan

kegiatan penelitian. Tujuan merupakan hasil pencapaian yang ingin dicapai

atau suatu harapan dari suatu penelitian. Tujuan penelitian ini tentunya

berdasarkan pada rumusan masalah yang telah dinyatakan oleh penulis.

Tujuan penelitian ini berdasarkan pada rumusan masalah yang telah

dinyatakan oleh penulis. Keterkaitan tersebut dapat dibuktikan dengan hasil

penelitian yang ingin dicapai berdasarkan rumusan masalah yang terdapat

pada penelitian.

Arikunto (2013: 97) mengatakan, “Tujuan penelitian adalah rumusan

kalimat yang menunjukan adanya sesuatu hal yang diperoleh setelah

penelitian selesai.” Penelitian dilakukan tentunya karena ada hal yang akan

dituju. Vismaia (2011:3) mengatakan, “Secara umum tujuan penelitian adalah

menjelaskan dunia sekitar kita melalui upaya yang sistematis”. Berdasarkan


31

pendapat tersebut, disimpulkan tujuan penelitian adalah mengupayakan

segala sesuatu dengan sistematis

Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan

menganalisis reformasi pendidikan nonformal melalui pembelajaran di Pusat

Kegiatan Belajar Mayarakat (PKBM).

F. Manfaat penelitian

Segala sesuatu yang diperbuat oleh manusia tentu diharapkan memiliki

manfaat bagi dirinya atau bagi lingkungan. Apabila suatu penelitian mampu

memberikan kemudahan bagi peneliti lain dan orang lain yang membutuhkan,

maka penelitian tersebut dapat dikatakan berhasil. Vismaia (2011:59)

mengatakan, “Kegiatan penelitian bertujuan menyumbangkan hasil penelitian

bagi kemajuan masyarakat dan ilmu pengetahuan.

Penelitian merupakan suatu pekerjaan yang membutuhkan tenaga, biaya,

dan waktu yang tidak sedikit. Oleh karena itu peneliti harus memberikan

manfaat yang nyata dan benar-benar dibutuhkan.” Kegiatan penelitian ini

tentu penulis harapkan dapat memberikan manfaat yang baik. Semoga

penelitian yang dilakukan menjadi langkah awal dalam berkarya, memacu

orang lain untuk melakukan penelitian yang lebih baik dan penelitian ini

bermanfaat bagi orang-orang yang memerlukan. Vismaia (2011:59)

mengatakan, “Penelitian pendidikan menuntut dua jenis manfaat teoritis dan

manfaat praktis”.

Arikunto (2013:83) mengatakan, “Sangat besar manfaatnya bagi para

calon ahli peneliti untuk menelusuri lebih jauh apa yang akan
32

dipermasalahkan”. Hal ini dapat penulis artikan bahwa jika penulis dapat

menelusuri lebih jauh suatu permasalahan, maka semakin terasa dan banyak

manfaatnya bagi setiap orang. Berdasarkan uraian tersebut, manfaat yang

dijelaskan merupakan salah satu pedoman penulis dalam melaksanakan

penelitian. Hasil akhir penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis, bagi

pendidik, peserta didik, bagi penulis lanjutan, dan bagi lembaga pendidikan.

Berdasaarkan uraian tersebut, peneliti akan memaparkan manfaat teoritis

dan manfaat praktis dengan rinci. Hasil penelitian ini, penulis berharap dapat

menjadi manfaat untuk pihak-pihak berikut,

1. Manfaat Teoretis

Manfaat teoretis dari hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu

mengembangkan pembelajaran di PKBM. Sehingga, dapat meningkatan

proses belajar peserta didik dalam pembelajaran dengan reformasi

pembelajaran.

2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu

mengembangkan kondisi pembelajaran di PKBM. Sehingga, dapat

meningkatan proses belajar peserta didik dalam pembelajaran.

Adapun pemanfaatan praktis pada penelitian tersebut adalah sebagai

berikut.
33

a. Bagi penulis

Dapat menambah pengetahuan dan wawasan, dan meningkatkan

kemampuan penulis dalam melaksanakan praktik penelitian di

lapangan mengenai Reformasi pendidikan.

b. Pengelola PKBM

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan atau pertimbangan

bagi pengelola PKBM dalam memilih metode dalam memajukan

lembaganya. Dengan demikian PKBM dapat berkembang dan

mempunyai andil dalam kemajuan pendidikan di Indonesia.

c. Bagi peserta didik

Hasil penelitian ini dapat memotivasi peserta didik untuk belajar di

PKBM. Karena dengan reformasi ini menjadikan PKBM menjadi

lembaga pendidikan non formal (PNF) yang dapat mengikuti

perkembangan zaman. Dengan reformasi ini dapat menyebabkan

metode pembelajaran yang bervariasi dapat memancing minat siswa

dalam belajar di PKBM.

d. Bagi Penulis Lanjutan

Bagi peneliti lanjutan bahwa hasil penelitian ini dapat mendorong

peneliti-peneliti lain untuk melakukan penelitian dengan variabel yang

lebih komplek. Penelitian ini juga mendorong peneliti untuk

melakukan penelitian yang lebih mendalam.

G. Penelitian Terdahulu
34

1. Penelitian Entoh Tohani, Strategi Pengembangan Kapasitas Pusat

Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sebagai Penyedia Layanan

Bidang Pendidikan

Penelitian ini dilakukan di 8 PKBM di Bantul Yogyakarta.

Community Learning Center (CLC) atau Pusat Kegiatan Belajar

Masyarakat (PKBM) sebagai penyedia layanan pendidikan idealnya dapat

menjalankan fungsinya secara optimal untuk mengembangkan dan

memediasi masyarakat terhadap lingkungannya. CLC harus melakukan

perbaikan pada aspek manajemen organisasi melalui penerapan berbagai

strategi pengembangan kapasitas. Karena itu, penelitian dilakukan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi strategi

pengembangan kapasitas pada program, proses pendidikan, fasilitas,

lingkungan eksternal, personel, dan kemitraan yang dilakukan oleh CLC

berada pada level standar atau pelaksana. Artinya, cara-cara strategi yang

kreatif, inovatif dan holistik belum optimal. Selain itu, ada kendala yang

dihadapi oleh CLC dalam mencapai tujuannya meliputi personel, posisi

geografis, dan persepsi pemerintah daerah terhadap CLC. Oleh karena itu,

untuk melanjutkan pengembangan CLC diperlukan suatu gagasan dan

tindakan yang menjamin perluasan CLC secara terpadu dan menyeluruh,

serta disertai perilaku profesional para personel.

Persamaan dengan penelitian ini adalah sama-sama bertujuan untuk

memajukan pendidikan di PKBM. Karena pendidikan di PKBM


35

merupakan salah satu yang menunjang keberhasilan tujuan pendidikan

nasional.

Perbedaan dengan penelitian ini adalah Entoh Tohari hanya pada

tahap kekurangan dalam pengelolaan PKBM dalam meningkatkan

kapasitas. Sedangkan yang penulis lakukan adalah selain mencari

kekurangan juga menawarkan alternatif jawaban untuk kekurangan

PKBM di Jakarta.

2. Abdul Muis Minhaj, Otonomi Dan Reformasi Pendidikan

Otonomi dan reformasi pendidikan merupakan upaya perbaikan di

bidang pendidikan. Reformasi pendidikan memiliki dua karakteristik

dasar: terprogram dan sistemik. Reformasi pendidikan terprogram

mengacu pada kurikulum atau program lembaga pendidikan. Termasuk

dalam reformasi pendidikan terprogram ini adalah inovasi.

Inovasi adalah pengenalan ide-ide baru, metode baru atau alat baru

untuk meningkatkan beberapa aspek dalam proses pendidikan. Ada tiga

pusat pendidikan yaitu bertanggung jawab atas terselenggaranya

pendidikan. Mereka adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam

proses pendidikan, sebelum mengenal lingkungan masyarakat yang lebih

luas dan sebelum mendapat bimbingan dari lingkungan sekolah, siswa

terlebih dahulu mendapat bimbingan dari lingkungan keluarga.

Penelitian ini membahasa reformasi yang berbentuk inovasi di tripusat

pendidikan yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat. Hasil penelitian

adalah tataran ideal pendidikan di ketiga lembaga tersebut.


36

Perbedaan dengan penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian

lapangan mengenai reformasi pendidikan PKBM di DKI Jakarta.

Selanjutnya di analisis kekurangan dan kelebihan reformasi tersebut.

Langkah berikutnya adalah mencari solusi untuk kekurangan reformasi

tersebut agar PKBM lebih efektif dan efesien.

3. Zamroni, Reformasi Pendidikan dalam Pondasi ke Aksi

Penelitian ini membahas mengenai pondasi reformasi pendidikan

yaitu pendekatan sistemik yang mengisyaratkan agar dalam reformasi

tidak ada faktor yang tertinggal dan harus menekankan pada faktor kunci

yang akan mempengaruhi faktor-faktor lain secara simultan, sehingga

reformasi akan melibatkan seluruh faktor yang penting, dan menempatkan

semua faktor tersebut dalam suatu sistem yang bersifat organik.

Implementasi reformasi pendidikan implementasi reformasi

pendidikan yang berada di antara kebijakan publik dan kebijakan yang

mendasarkan mekanisme pasar tersebut, memusatkan pada empat

dimensi: Dimensi Kultural-Fondasional, dimensi Politik-Kebijakan,

dimensi Teknis-Operasional, dan dimensi Kontekstual.

Persamaan dengan penelitian ini adalah menjadi pondasi untuk

penelitian yang penulis lakukan pada reformasi pendidikan non formal

melauli pembelajaran di PKBM di Jakarta. Penelitian ini akan menjadi

bahan pertimbangan bagaiman reformasi pendidikan di konsep dan

dilakukan.
37

Perbedaan penelitian ini Zamroni membahasa mengenai pondasi dan

implementasi reformasi pendidikan pada tataran teoritis. Sedangkan yang

penulis lakukan pada tataran lapangan untuk menganalisis reformasi yang

selanjutnya mencari kekurangan dan menawarkan solusinya.