Anda di halaman 1dari 8

NOMOR : PD/001/IX/2022

PANDUAN
DILEMA ETIK

PEMERINTAH KOTA SEMARANG


DINAS KESEHATAN
UPTD PUSKESMAS SEKARAN
A. DEFINISI
Etik adalah norma-norma yang menentukan baik buruknya tingkah
laku manusia, baik secara sendirian maupun bersama-sama dan mengatur
hidup ke arah. Etika juga berasal dari bahasa yunani, yaitu ethos berarti
“kebiasaan”. “model perilaku” atau standar yang diharapkan dan kriteria
tertentu untuk suatu tindakan. penggunaan istilah etika sekarang ini banyak
diartikan sebagai motif atau dorongan yang mempengaruhi perilaku.
Berdasarkan pernyataan tersebut, etika adalah ilmu tentang
kesusilaan yang menentukan bagaimana sepatutnya manusia hidup di dalam
masyarakat yang menyangkut dari pengertian diatas, etika adalah ilmu
tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana sepatutnya manusia hidup
didalam masyarakat yang menyangkut aturan-aturan atau prinsip-prinsip
yang menentukan tingkah laku yang benar, yaitu : baik dan burk serta
kewajiban dan tanggung jawab.
Etik juga dapat digunakan untuk mendeskripsikan suatu pola atau cara
hidup, sehingga etik merefleksikan sifat, prinsip dan standar seseorang yang
mempengaruhi perilaku profesional. berdasarkan uraian diatas, dapat
disimpulkan bahwa etik merupakan istilah yang digunakan untuk
merefleksikan bagaimana seharusnya manusia berperilaku, apa yang
seharusnya dilakukan seseorang terhadap orang lain. sehingga juga dapat
disimpulkan bahwa etika mengandung 3 pengertian pokok yaitu : nilai-nilai
atau norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok
dalam mengatur tingkah laku, kumpulan azas atau nilai moral, misalnya kode
etik dan ilmu tentang yang baik dan buruk.
Dilema etika adalah situasi yang dihadapi seseorang dimana
keputusan mengenai perilaku yang layak harus dibuat. untuk itu diperlukan
pengambilan keputusan untuk mengadapi dilema etika tersebut, yaitu :
1. Mendapatkan fakta-fakta yang relevan
2. Menentukan isu-isu etika dari fakta-fakta
3. Menentkan siap dan bagaimana orang atau kelompok yang dipengaruhi
dilema.
4. Menentukan alternatif yang tersedia dalam memecahkan dilema
5. Menentukan konsekwensi yang dari setiap alternative
6. Menetapkan tindakan yang tepat.
Tipe-tipe Etika
1. Bio-Etik
Bio-Etika merupakan studi filosofi yang mempelajari tentang
kontroversi dalam etik, menyangkut masalah biologi dan pengobatan.
Lebih lanjut, Bio-Etika di fokuskan pada pertanyaan etik yang muncul
tentang hubungan antara Ilmu Kehidupan , Bio-Tehnologi, Pengobatan,
Politik, Hukum dan Teknologi. Dalam lingkup yang lebih sempit, Bio-Etik
merupakan evaluasi etika pada Moralitas Treatment atau Inovasi
Teknologi dan waktu pelaksanaan pengobatan pada manusia.
Dalam lingkup yang lebih luas, Bio-Etik mengevaluasi pada semua
tindakan moral yang mungkin membantu atau bahkan membahayakan
kemampuan organisme terhadap perasaan takut dan nyeri, yang meliputi
semua tindakan yang berhubungan dengan pengobatan dan biologi. isu
dalam Bioetik antara lain : peningkatan mutu genetik, etika lingkungan
pemberian pelayanan kesehatan.
2. Clinical Ethics/ Etik Klinik
Etik klinik merupakan bagian dari Bio-Etik yang lebih memperhatikan
pada masalah etik selama pemberian pelayanan pada klien. contoh
Clinical Ethics : adanya persetujuan atau penolakan, dan bagaimana
seseorang sebaiknya merespon permintaan medis yang kurang
bermanfaat (sia-sia)
3. Nursing ethics/ Etik Perawatan
Bagian dari Bio-Etik, yang merupakan studi formal tentang isu etik
dan dikembangkan dalam tindakan keperawatan serta dianalisis untuk
mendapatkan keputusan etik. Etika Keperawatan dapat diartikan sebagai
filsafat yang mengarahkan tanggung jawab moral yang mendasari
pelaksanaan praktek keperawatan. Inti falsafah keperawatan adalah hak
dan martabat manusia, sedangkan fokus etika keperawatan adalah sifat
manusia yang unik.
B. RUANG LINGKUP
1. Otonomi (Autonomy)
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu
berfikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa
diangggap kompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan
memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang
lain. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang
menuntut pembedaan diri. Praktek profesional merefleksikan otonomi saat
perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang
perawatan dirinya;
2. Berbuat baik (Beneficience)
Beneficience artinya hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan,
memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan
kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang
lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara
prinsip tersebut dengan otonomi;
3. Keadilan (Justice)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk tercapai hak yang sama dan adil
terhadap orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan
kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam praktek profesional ketika
pelaksana layanan untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek
dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan
kesehatan;
4. Tidak merugikan (Nonmaleficience)
Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/ cedera fisik dan
psikologis pada pengguna layanan;
5. Kejujuran (Veracity)
Prinsip Veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan
oleh pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada
setiap pengguna layanan dan untuk meyakinkan bahwa pengguna layanan
sangat mengerti.
Prinsip Veracity berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk
mengatakan kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi akurat,
komprensensif dan obyektif untuk memfasilitasi pemahaman dan
penerimaan materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya kepada
pengguna layanan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan
keadaan dirinya selama pelayanan.

6. Menepati janji (Fidelity)


Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan
komitmennya terhadap orang lain. Pelaksana pelayanan selalu
berkomitmen terhadap tugas dan tanggungjawabnya serta dapat menjaga
rahasia pengguna layanan.
7. Kerahasiaan (Confidentiality)
Prinsip kerahasiaan yang dimaksud adalah informasi tentang
pengguna layanan harus dijaga kerahasiaannya. Segala sesuatu yang
terdapat dalam dokumen catatan kesehatan pengguna layanan hanya
boleh di akses dalam kaitannya dengan proses pemberian layanan
kesehatan, atau untuk kepentingan lain atas persetujuan pengguna
layanan dengan surat persetujuan jika mengenai riwayat kesehatan
individu.

C. TATA LAKSANA
Kelalaian dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan di Puskesmas bisa
menyangkut Puskesmas sebagai suatu organisasi (yang diwakili Kepala
Puskesmas) termasuk juga menyangkut bidang-bidang yang berkaitan dengan
policy dan manajemen. Di dalam lingkup tanggung jawab dan kewenangan
Puskesmas termasuk juga tindakan semua pelaksana pelayanan dan
pendukungnya (dokter, perawat, bidan, tenaga kesehatan, dan tenaga lainnya)
bisa sampai menimbulkan kerugian kepada pasien. Puskesmas sebagai
institusi juga mempunyai kewajiban dan tangggung jawab terhadap pemberian
pelayanan yang baik kepada pengguna layanan.
PENINGKATAN MASALAH ETIK PUSKESMAS
1. Informasi keluhan, pengaduan atau komplain dapat diterima oleh Tim
Penanganan Pengaduan Masyarakat (PPM), Humas, dan Komite Etik dari:
a) Media massa
b) Kotak saran
c) Keluhan pasien
d) Laporan secara langsung kepada petugas
e) Telepon pengaduan
f) Somasi pasien/ kuasa hukum
g) Tokoh masyarakat
h) LSM
i) Media Sosial
j) Aplikasi GO SAMBATS (Monggo Masukan dan Saran Membangun
buat Puskesmas Sekaran)
2. Satuan Kerja yang menerima keluhan komplain melakukan hal-hal :
a) Mencatat dan mengkaji informasi :
1) Identitas
2) Kondisi pasien/pengguna layanan
3) Peristiwa atau kejadian
4) Tuntutan pengguna layanan
b) Menanggapi keluhan :
1) Mengucapkan terimakasih dan laporan
2) Membuat penjelasan sementara
3) Menjamin keluhan akan ditindaklanjuti
4) Menenangkan pelapor
5) Membuat tanda terima laporan
c) Melaporkan kepada Penanggungjawab Upaya terkait dan Kepala
Puskesmas
d) Mengisi formulir sesuai keluhan :
1) Memberi pertimbangan
2) Meminta pengarahan tindak lanjut dari Kepala Puskesmas
3) Menindaklanjuti instruksi dari Kepala Puskesmas
4) Investigasi kasus
e) Membahas kebenaran informasi tentang :
1) Identitas pengguna layanan
2) Peristiwa
3) Rekam medis
f) Penetapan dokumen :
1) Dokumen informasi
2) Berkas Rekam Medis
3) Dokumen persetujuan tindakan medis
4) Second opinion
5) Resume medis
6) Pendapat organisasi profesi
7) Juklak, Juknis dan SOP pelayanan
g) Rapat dengan unit/ program terkait terkait bersama dengan Tim Mutu
dan Kepala Puskesmas
h) Analisis Kasus
i) Hasil rapat koordinasi menentukan atau memilih kategori kasus
j) Kasus etika ditangani oleh Kepala Puskesmas dan Tim Manajemen
k) Kasus administrasi ditangani Kepala Puskesmas dan Tim Mutu
Administrasi dan Manajemen (Tim Admen)
l) Kasus hukum ditangani Kepala Puskesmas, Tim Manajemen dan
Dinas Kesehatan
m) Kasus gabungan ditangani Kepala Puskesmas, Tim Manajemen,
Penanggungjawab Unit/ Program terkait dan Dinas Kesehatan
n) Telaah kasus:
1) Kebenaran identitas pengguna layanan
2) Kebenaran peristiwa
3) Barang bukti
4) Pertimbangan prosedur tindak lanjut
3. Penyimpulan posisi kasus ditinjau dari :
a) Kewenangan dan kompetensi
b) Indikasi dan kontrak indikasi
c) Persetujuan tindakan medis
d) Kesesuaian dengan tindakan SPO
e) Kerugian/ cidera dan sebab akibatnya
f) Hukum dan perundang-undangan
4. Putusan Kepala Puskesmas dan Tim Mutu tentang pilihan penyelesaian
kasus litigasi atau non litigasi

D. DOKUMENTASI
Dokumen Kasus
a. Seluruh dokumen yang terkait dengan kasus pelayanan ditata dan
diberikan pengkodean khusus
b. Dokumen disimpan oleh Sekretaris Mutu, Tim PPM dan Pelaksana Tata
Usaha sampai kasus dianggap selesai
c. Bila kasus telah selesai dokumen dikembalikan kepada unit/ program
terkait
Sebagaiman telah diuraikan diatas, tentang langkah atau tindakan yang
perlu dilaksanakan dalam menghadapi melakukan penanganan masalah
dilema etik Puskesmas Sekaran. Panduan ini perlu disosialisasikan kepada
semua petugas/ pelaksana layanan dan penunjang lainnya yang ada di
Puskesmas Sekaran. Secara berkala panduan ini akan di evaluasi, sehingga
bila diperlukan perubahan-perubahan sesuai perkembangan ilmu
pengetahuan, serta akan dilakukan revisi agar Panduan Dilema Etik ini
menjadi lebih sempurna sehingga penanganan dilema etik dapat lebih optimal
ditangani.

Anda mungkin juga menyukai