0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
314 tayangan8 halaman

Ajaran Sesat dalam Surat Galatia Paulus

Surat Galatia membahas masalah ajaran sesat yang menyesatkan jemaat di Galatia. Paulus menulis surat ini untuk memperingatkan jemaat akan bahaya ajaran palsu dan mengembalikan mereka ke kebenaran Injil. Paulus mengecam keras mereka yang mengajarkan ajaran selain Injil Yesus Kristus.

Diunggah oleh

kristantohendrico
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
314 tayangan8 halaman

Ajaran Sesat dalam Surat Galatia Paulus

Surat Galatia membahas masalah ajaran sesat yang menyesatkan jemaat di Galatia. Paulus menulis surat ini untuk memperingatkan jemaat akan bahaya ajaran palsu dan mengembalikan mereka ke kebenaran Injil. Paulus mengecam keras mereka yang mengajarkan ajaran selain Injil Yesus Kristus.

Diunggah oleh

kristantohendrico
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Penulis Surat Galatia ini sudah sangat terkenal, yaitu Paulus (Gal 1:1). Gereja mula-mula

juga dengan suara bulat mengaku Paulus sebagai penulis1. Dalam

Ensiklopedi Alkitab Praktis juga tertulis bahwa Surat Galatia adalah salah satu dari

surat-surat Paulus yang dialamatkan kepada jemaat-jemaat yang telah dibinanya dan surat ini

ditulis sekitar tahun 55-56 AD2.

Goncangan terhadap iman Kristen memang mudah memengaruhi kehidupan orang Kristen di

Galatia karena selain berlatarbelakang agama Yahudi3 tetapi juga dikelilingi oleh ajaran

Yudaisme yang tidak hanya berusaha memengaruhi orang Kristen Yahudi tetapi memengaruhi

orang Kristen non Yahudi. menjelaskan bahwa ada golongan yang seringkali menentang

pelayanan Paulus, yaitu the judaizers, orang-orang yang telah menerima Injil Yesus Kristus,

tetapi belum dibebaskan dari tradisi-tradisi Yahudi mereka.4 Hal yang sejajar juga dijelaskan

oleh Guthrie bahwa, pengacau jemaat adalah orang Kristen yang mau memaksakan tuntutan

ritual Yahudi kepada jemaat non Yahudi.5

Oleh sebab itu, sangat tepat Paulus menulis surat ini untuk menolong dan

mengarahkan jemaat mengenai masalah ajaran-ajaran Yahudi dari pengalamannya

1
Ola Tulluan, Introduksi Perjanjian Baru (Malang: Departemen Literatur YPPII, 1999), 155
2
la Tulluan, Introduksi Perjanjian Baru ..., 155
3
J.I. Packer, dkk., Ensiklopedi Fakta Alkitab (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 2001), 1041
4
Ola Tulluan, Eksposisi Surat Galatia (Batu, Malang: Departemen Literatur YPPII, 2001). 5-6
5
Donald Guthrie, Pengantar Perjanjian Baru Vol 2 (Surabaya: Momentum, 2010), 63
2

sendiri. Demikian juga Paulus menyatakan pembelaannya terhadap keunggulan Injil

dan kemerdekaan dalam Kristus.6

Paulus merupakan seorang rasul yang memiliki pemahaman serta memiliki pemikiran yang

sangat dalam tentang kebenaran atau injil. Sehingga pembahasan tentang pelayanan Paulus

yang tampak hidup dalam kehidupan orang Kristen sekarang ini7. Hasil pelayanan Paulus tentu

saja dapat dilihat dari berdirinya gereja-gereja di banyak tempat. Banyak orang (Yahudi atau

bukan Yahudi) yang menjadi percaya kepada Kristus.

Tulisan-tulisannya meneguhkan iman orang-orang percaya dan memberikan pemahaman

iman Kristen yang paling solid dan lengkap. Kelebihan Paulus dalam pelayanan, bukan semata-

mata karena kamampuannya, tetapi karena kasih karunia Tuhan yang telah melimpah dalam

hidupnya. Dialah Paulus, seorang penginjil yang hebat.

Terhadap surat Galatia 1:6-10 paulus ingin mengingatkan jemaat yang ada di Galatia

tentang ajaran sesat atau injil yang palsu yang sangat meresahkan Paulus. Perasaan ini jelas

terlihat dari tulisannya terhadap Jemaat di Galatia ada nuansa yang sangat genting dan

emosional yang harus segera ditangani. Dalam surat Galatia 1:6 terdapat Pemunculan kata

“heran” (thaumazō, 1:6) juga memperkuat nuansa emosional yang ada. Kata ini di tempat lain

hanya di 2 Tesalonika 1:10 (“dikagumi”). Berdasarkan hal ini kita sebaiknya menerjemahkan

“heran” (thaumazō) di 1:6 dengan “tidak habis pikir”. ereka berbalik dari kebenaran terlalu

cepat (LAI:TB “begitu lekas”, houtōs tacheōs)8. Kecepatan ini bisa berkaitan dengan jarak

pertobatan ke kesesatan, jarak kedatangan guru palsu ke kesesatan jemaat, atau merujuk pada

ketergesaan mereka dalam mengambil keputusan untuk meninggalkan Injil yang benar. Di

antara semua opsi ini, yang pertama tampaknya lebih tepat. Kesesatan mereka terjadi hanya

6
la Tulluan, Introduksi Perjanjian Baru ..., 160
7
“Galatians 2 - Catena Bible &Commentaries,” accessed July 22, 2022, https://catenabible.com/gal/2
8
https://rec.or.id/injil-yang-palsu-galatia-16-10/
3

sekitar setahun sesudah perjalanan misi Paulus ke daerah selatan Galatia. Apa yang terjadi ini

sangat mirip dengan kesesatan bangsa Israel dahulu. Baru saja mereka mengikat perjanjian

dengan TUHAN di Sinai, mereka sudah jatuh ke dalam penyembahan berhala (Kel. 32:8

“Segera juga mereka menyimpang”; Ul. 9:16 “telah segera menyimpang”).

Selain terkait dengan waktu, keheranan Paulus juga perlu dilihat dari kebodohan dari

kesesatan mereka. Kesesatan ini diungkapkan dalam bentuk “berbalik dari Allah” (LAI:TB)

atau “meninggalkan Allah” (NASB/NIV/ESV). Kata Yunani metatithēmi kadangkala muncul

dalam konteks seseorang meninggalkan suatu aliran filsafat tertentu atau bahkan meninggalkan

iman (2Mak. 7:24).

Secara tata bahasa, kata kerja metatithesthe di ayat 6 bisa berbentuk middle (sejenis

kata kerja aktif tetapi untuk diri sendiri, lihat mayoritas versi) atau pasif (KJV “you are so soon

removed”). Dalam hal ini pilihan mayoritas jauh lebih sesuai konteks. Paulus mengecam

tindakan jemaat Galatia. Jikalau metatithesthe dipahami secara pasif (mereka dipisahkan dari

Allah), dia mungkin akan bersedih, bukan mengecam.

Dengan mempercayai injil yang lain, mereka bukan hanya meninggalkan sebuah ajaran.

Mereka meninggalkan Allah sendiri (ayat 6 “kamu begitu lekas berbalik dari Dia”). Dari sini

terlihat bahwa antara ajaran yang benar dan Allah yang benar memang tidak terpisahkan.

Meninggalkan yang satu berarti meninggalkan yang lain. Kebodohan spiritual ini terlihat jelas

karena mereka lebih memilih injil yang palsu daripada anugerah Yesus Kristus. Dua hal ini

bersifat eksklusif. Yang satu meniadakan yang lain. Di 5:4 Paulus berkata: “Kamu lepas dari

Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih

karunia”.

Injil yang lain bukanlah injil sama sekali (ayat 7a “yang sebenarnya bukan injil”).

Pernyataan ini sangat tegas. Para pengajar sesat di Galatia tidak membuang injil. Mereka masih

mengakui nilai penting iman kepada Yesus Kristus dalam keselamatan. Hanya saja, mereka
4

ingin menambahkan ketaatan kepada Hukum Taurat sebagai penyempurna keselamatan (Gal.

5:3).

Di mata Paulus, tindakan ini bukan sekadar penambahan, melainkan pembuangan. Hal

ini bisa dimengerti. Keselamatan melalui iman bertentangan dengan keselamatan melalui

Hukum Taurat (Gal. 3:12). Melalui iman berarti anugerah. Melalui Taurat berarti perbuatan

baik. Keduanya tidak boleh dipegang secara bersamaan

Bagaimana kita membedakan ajaran yang benar dari yang sesat? Ada beberapa patokan yang

kita bisa gunakan.

Pertama, menimbulkan kekacauan (ayat 7b). Kata yang sama muncul lagi di 5:10.

Menariknya, kata yang sama juga digunakan dalam konteks kontroversi Yahudi – Yunani yang

dibahas dalam konsili gereja di Kisah Para Rasul 15:24. Ada orang-orang Yahudi Kristen

tertentu yang memaksa orang-orang Kristen non-Yahudi untuk bersunat memelihara Taurat

(15:1-2).

Ajaran yang benar seharusnya menghasilkan gaya hidup yang benar. Ortodoksi berujung pada

ortopraksi. Injil yang mendamaikan kita dengan Allah seyogyanya mendamaikan kita dengan

sesama. Apa yang dihasilkan oleh para pengajar sesat di Galatia hanyalah kekacauan.

Pertikaian dalam jemaat menjadi tidak terelakkan. Karena itu, Paulus memberikan nasihat:

“Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu

saling membinasakan” (Gal. 5:15).

Kedua, memutarbalikkan Injil Yesus Kristus (ayat 7b). Terjemahan LAI:TB

“memutarbalikkan” sangat tepat. Lebih tegas daripada versi-versi Inggris yang hanya memilih

“membelokkan” atau “menyelewengkan”. Kata “memutarbalikkan” (metastrephō) memang

menyiratkan kontras atau pertentangan, bukan hanya perbedaan. Misalnya, matahari yang

begitu terang berubah menjadi gelap (metastrephō, Kis. 2:20).


5

Ketiga, menyandarkan pada otoritas lain (ayat 8-10). Dalam bagian ini Paulus menyinggung

tentang sumber otoritas ajaran, baik dari para rasul maupun malaikat. Siapapun yang

memberitakan injil yang plasu, dia akan dikutuk oleh Allah. Pemunculan kata “terkutuklah”

(anathema) sebanyak dua kali menyiratkan sebuah penekanan.

Tidak terlalu jelas apa kaitan ajaran sesat ini dengan para rasul atau malaikat. Apakah mereka

menganggap diri mereka sebagai rasul? Apakah ini berhubungan dengan konsep mistisisme

Yahudi pada waktu itu yang mengaitkan para malaikat dengan pemberian Hukum Taurat? Kita

tidak bisa memastikan. Walaupun demikian, poin yang mau disampaikan mungkin bersentuhan

dengan isu otoritas. Mungkin para pengajar itu berniat menggunakan “sumber otoritas

tertentu”. Dengan gaya bahasa hiperbolis, Paulus mengantisipasi semua kemungkinan yang

ada. Bahkan sekalipun para rasul atau malaikat yang memberitakan ajaran sesat, ajaran itu tetap

saja sesat. Yang dipentingkan adalah konsep (apa), bukan pemberita (siapa).

Terakhir, menyenangkan manusia (ayat 10). Bagian ini merupakan upaya Paulus untuk

membela diri. Ajaran Paulus tentang keselamatan berdasarkan anugerah Allah sering

disalahmengerti. Mereka menganggap ajaran ini menawarkan kemudahan dan kenyamaman

bagi manusia. Tidak perlu berbuat baik. Hanya beriman belaka. Paulus bahkan pernah difitnah

mendorong orang berbuat dosa supaya memperoleh anugerah yang lebih besar (Rm. 3:8).

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi pokok masalah dalam

penyusunan skripsi ini adalah:

1. Apakah ajaran Rasul Paulus tentang Ajaran Sesat atau palsu berdasarkan Galatia pasal

1:6-10?
6

2. Mengapa jemaat di Galatia dengan mudah menerima ajaran-ajaran yang baru dan

berpaling dari ajaran Rasul Paulus ?

3. Apakah implikasi ajaran Rasul Paulus tentang Ajaran Sesat atau palsu terhadap Iman

Kristen masa kini?

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah , maka yang menjadi rumusan masalah dalam

penyusunan skripsi ini adalah:

1. Menjelaskan ajaran Paulus tentang Ajaran sesat atau palsu berdasarkan surat Galatia

pasal 1:6-10.

2. Menjelaskan Implikasi Ajaran Rasul Paulus tentang ajaran sesat atau palsu terhadap

iman Kristen masa kini.

1.4 Batasan Masalah

Dalam pembahasan di skripsi ini penulis hanya membatasi dan memfokuskan pembahasan

dalam surat Galatia 1:-10

1.5 Manfaat Penelitian

1. Agar melalui tulisan ini dapat menolong dan memberi pemahaman baru

bagi setiap orang Kristen tentang pengajaran palsu ata sesat.

2. untuk memenuhi salah satu persyaratan akademik untuk mencapai gelar

sarjana teologi di sekolah Tinggi Teologi Sumatera

1.6 Metode Penelitian

Adapun metode yang digunakan oleh penulis dalam penyusunan skripsi ini adalah:
7

1. Penelitian kualitatif melalui hermeneutik eksegesis. Dalam kamus Webster,

”hermeneutik sebagai ilmu menafsir, atau ilmu untuk menemukan arti dari perkataan

atau frasa dari seorang penulis, lalu menjelaskannya kepada orang-orang lain,

eksegesis9, terutama berlaku untuk penafsiran ayat-ayat Kitab Suci10. Sehingga metode

penelitian yang digunakan oleh penulis adalah penelitian kualitatif melalui metode

hermeneutik untuk meneliti nas tersebut.

2. Metode Penelitian Kepustakaan (Library Research)

1.6 Sistematika Penulisan

Dalam mempermudah pembahasan skripsi ini maka penulis membagikannya ke dalam

5 Bab yang dirangkai secara teratur dan sistematis:

Bab I berupa bab pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, indetifikasi masalah,

rumusan masalah, batasan masalah, manfaat penelitian metode penelitina dan sistematika

penulisan.

Bab II menguraikan berupa kerangka teoritis, kerangka berfikir, merupakan latar

belakang surat Galatia, yang terdiri dari gambaran surat Galatia, penulis surat Galatia, tempat

dan waktu penulisan surat Galatia, penerima surat Galatia, tujuan surat Galatia, keunikan surat

Galatia, garis besar surat Galatia.

Bab ketiga, merupakan eksegesis atau taftisan dari ajaran Paulus tentang pengajaran palsu atau

sesat berdasarkan Galatia 1:6-10, yang terdiri dari analisis konteks, analisis struktur dan analisis

teks.

9
Frederik, 69; Sugiono, 87
10
Kevin J. Corner, Interpreting The Scriptures (Malang: Gandum Mas, 2004), 1.
8

Bab keempat, merupakan implikasi dari ajaran Paulus tentang Ajaran palsu atau sesat

berdasarkan Galatia 1:6-10 dalam kehidupan orang kristen masa kini.

Bab kelima, merupakan penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

Anda mungkin juga menyukai