Anda di halaman 1dari 11

========================================================

STRUKTUR ALJABAR II 46
BAB V
RING FAKTOR DAN
TEOREMA-TEOREMA ISOMORFISMA


A. Ring Faktor

Dalam bagian ini akan diuraikan ring-ring faktor. Berdasarkan pada
uraian sebelumnya, jika A suatu ideal dari ring R, maka A adalah subgrup
dari grup penjumlahan R ( yang komutatif) dan merupakan grup normal.
Selanjutnya, akan diuraikan ring faktor R/A. Karena elemen-elemen R/A
adalah koset-koset dari A, elemen-elemen tersebut dapat ditulis dalam
bentuk I + r dengan r R. Dan R/A merupakan ring dijelaskan dalam
teorema berikut.
R/A = { r + A | r R } melambangkan himpunan kelas-kelas ekuivalensi
dari R modulo A dengan A ideal. Atau menunjukkan himpunan koset-koset
r + A. Beberapa sifat dari koset :
( i). u + A = v + A bila dan hanya bila u v A
(ii). (u + A) ( v + A ) bila dan hanya bila u + A = v +A.

Teorema a.1.
Diberikan A suatu ideal dari ring R.
Operasi-operasi penjumlahan dan perkalian didefinisikan pada himpunan
R/A dengan aturan
( u + A) + ( v + A ) = ( u+v) + A
( u + A ) ( v + A ) = uv + A
Terhadap operasi tersebut R/A adalah suatu ring dan disebut ring faktor.
Selanjutnya, pemetaan : R R/A didefinisikan oleh (u) = u + A adalah
homomorfisma dari R ke R/A.
Bukti :
Beberapa syarat yang berkaitan dengan ring harus dibuktikan.
========================================================
STRUKTUR ALJABAR II 47
Akan dibuktikan sifat tertutup.
Misalkan u + A = u
1
+ A dan v + A = v
1
+ A.
Harus ditunjukkan bahwa
uv + A = u
1
v
1
+ A dan ( u+v) + A = (u
1
+ v
1
) + A.
Karena u + A = u
1
+ A maka u u
1
A atau u u
1
(mod. A).
Dan v + A = v
1
+ A maka v v
1
A atau v v
1
( mod.A).
Menurut teorema a.1. pada bab III,
( u+v) (u
1
+ v
1
) (mod. A) dan uv u
1
v
1
(mod. A).
Maka ( u + v ) + A = ( u
1
+ v
1
) + A dan uv + A = u
1
v
1
+ A.
Akan dibuktikan satu dari aturan-aturan distributif.
Diberikan u,v,w R.
(u+A) [ (v+A) + ( w + A )] = ( u+A) [ ( u+w) + A ]
= ( u (v+w)) + A
= ( uv + uw ) + A
= (uv + A ) + ( uw + A)
= ( u+A) ( v+A) + ( u+A) ( w+A)
0+A = A adalah elemen identitas penjumlahan dari R/A
dengan 0 R.
Jika R mempunyai elemen identitas perkalian e, maka e + A adalah
identitas perkalian dari R/A. Jika ring R komutatif maka setiap ring
faktor R/A juga komutatif. Tetapi sebalikmya tidak benar.
Ring R/A dapat komutatif meskipun R tidak komutatif. g

Ring faktor R/A belum tentu merupakan daerah integral meskipun
R adalah daerah integral. Sebagai contoh, Z adalah daerah integral,
padahal Z
6
bukan daerah integral.

Teorema a.2.
Jika R suatu ring dan A adalah ideal dari R, maka pemetaan : R R/A
didefinisikan sebagai (u) = u + A; untuk setiap u R; adalah
homomorfisma dari R ke R/A dan Ker ( ) = A.
========================================================
STRUKTUR ALJABAR II 48
Bukti :
Diberikan u,v R maka
(uv ) = uv + A = (u+A)(v+A) = (u) (v)
( u+v) = ( u+v) + A = ( u+A) + (v+A) = (u) + (v)
Ambil u Ker ( ) maka u R dan (u) = 0 + A;
0+A elemen nol dari R/A.
(u ) = u+A = 0+A maka u A.
Ambil u A, maka u R.
Karena homomorfisma maka (u) = u+A. g

Contoh :
Diberikan : Z Z
n
didefinisikan sebagai (m) = r, dengan r adalah sisa
pembagian m jika dibagi dengan n( r) adalah suatu isomorfisma.
Karena Ker ( ) = nZ, dari teorema a.1. menunjukkan bahwa Z/nZ
merupakan suatu ring dengan operasi-operasi pada kelas residu dapat
dihitung dengan pemilihan dan pembentukan operasi korespondensi
dalam Z.
Dapat ditunjukkan pula bahwa ring Z/nZ isomorfik dengan Z
n
.


Soal Latihan

1. Didefinisikan : Z
12
Z
4
dengan ([a]
12
) = [a]
4
untuk setiap
[a]
12
Z
12

a. Buktikan tertutup
b. Buktikan homomorfisma
c. Susunlah tabel Cayley untuk operasi ring pada Z
12
/ ([4]).

2. a. Buktikan bahwa operasi perkalian bersifat asosiatif dalam setiap ring
faktor R/A.
b. Buktikan hukum distributif
========================================================
STRUKTUR ALJABAR II 49
[(A + u) + (A+v) ] (A+w) = (A+u)(A+w) + (A+v)(A+w)
untuk setiap ring faktor.

3. Buktikan bahwa jika R komutatif dan A suatu ideal dari R, maka
R/A komutatif.

4. Buktikan bahwa jika R mempunyai identitas e, maka A+e adalah
identitas untuk R/A.

5. Diberikan A dan B ideal dari ring R dengan A B. Buktikan bahwa
B/A, yaitu himpunan koset berbentuk b+A dengan b B, adalah ideal
dari ring R/A.

6. Diberikan A suatu ideal dari ring R. Buktikan R/A adalah ring komutatif
bila dan hanya bila rs sr A untuk setiap r,s R.

7. Diberikan R ring dari semua matriks berordo 2 berbentuk


) )) )
` `` `





( (( (

( (( (



= == = Z z , y , x
z y
0 x
) z , y , x ( r

Diberikan A himpunan bagian dari R yang terdiri dari semua elemen
r (0, y, 0), dengan y Z. Buktikan :
a. A ideal dari R
b. R tidak komutatif tetapi R/A komutatif






========================================================
STRUKTUR ALJABAR II 50
B. Teorema Isomorfisma Ring

Dalam bagian ini akan diberikan hubungan dasar antara ring-ring faktor
dan bayangan homomorfisma dari R.

Teorema b.1. Teorema Isomorfisma pertama
Diberikan suatu homomorfisma dari ring R ke ring S dengan kernel A.
Maka S adalah isomorfik dengan ring faktor R/A; dengan pemetaan
: R/A S didefinisikan sebagai (u+A) = (u) ; untuk setiap u+A R/A.

Bukti :
Sudah dibuktikan pada bab 3 dalam teorema b.2. bahwa
A = Ker adalah ideal dari R.
Maka dapat dibentuk ring faktor R/A.
Akan ditunjukkan pemetaan di atas tertutup (terdefinisi dengan
baik).
Ambil u+A, v+A R/A dengan u+A = v+A; u,v R.
Berarti u v A. Atau u = v + a; a A.
Maka diperoleh ( u) = ( v+a ) = (v) + (a) ;
karena homomorfisma.
Karena a A; dengan A = ker ; maka (a) = 0.
Sehingga (u) = (v).
Selanjutnya, akan ditunjukkan : R/A S isomorfisma.
Pertama, ditunjukkan bahwa homomorfisma.
((u+A)+(v+A)) = ((u+v) + A)
= (u+v)
= (u) + (v) ; karena homomorfisma
= (u+A) + ( v+A)
((u+A)(v+A)) = (uv + A )
= (uv )
========================================================
STRUKTUR ALJABAR II 51
= (u) (v) ; karena homomorfisma
= ( u+A) ( v+A )
Terbukti homomorfisma.
Kedua, akan dibuktikan pemetaan injektif.
Ambil u+A, v+A R/A dengan ( u+A ) = ( v+A ).
Ambil u+A Ker . Maka (u+A) = 0 = (u).
Dari bentuk tersebut, berarti u Ker = A, u A.
Sehingga diperoleh u+A = o+A = A, adalah identitas penjumlahan
dari ring R/A.
Maka Ker = {0}.
(u+A) = (v+A) (u+A) - (v+A) = 0
((u-v) + A) = 0; homomorfisma.
( u-v ) = 0 u v Ker
( u v ) + A Ker ( u v ) + A = 0 atau (u+A) (V+A) = 0
Akan dibuktikan surjektif.
Diberikan s S.
Diasumsikan bahwa surjektif, ada suatu r R dengan (r ) = s.
Maka ( r + A ) = ( r ) = s.
Terbukti surjektif. g

Teorema itu disebut Teorema Isomorfisma Pertama untuk ring karena
teorema tersebut merupakan aturan dasar dalam mempelajari
homomorfisma.
Teorema tersebut dapat diartikan (diinterpretasikan) dengan menyatakan
bahwa jika ring isomorfik tidak berbeda, maka hanya bayangan
homomorfik dari ring R adalah ring-ring faktor R/A, dengan A adalah suatu
ideal dari R.
Diberikan suatu penjelasan sebagai berikut dalam menggunakan
teorema ini. Misalkan F suatu field dan : F S adalah homomorfisma.
Untuk menentukan beberapa informasi tentang S, perlu diketahui suatu
========================================================
STRUKTUR ALJABAR II 52
hal tentang ideal dari F. Setiap elemen taknol F mempunyai invers, maka
suatu ideal taknol dari F memuat elemen identitas (satuan) dan oleh
karena itu memuat setiap elemen dari F. Maka F hanya mempunyai dua
ideal sederhana (trivial), sehingga hanya ada 2 kemungkinan untuk
A = Ker . Jika A = <0> maka menurut teorema b.2 (dalam bab III),
merupakan suatu isomorfisma yaitu S adalah field isomorfik dengan F.
Alternatif lain, yaitu A = F, di mana F/A = F/F adalah suatu ring dengan
hanya 1 elemen dengan setiap koset f + F = 0 + F. Maka dari teorema b.1
menyebabkan S adalah ring dengan 1 elemen. Dari uraian di atas dapat
dirumuskan definisi berikut ini.

Definisi b.1.
Diberikan R dan S suatu ring.
Suatu isomorfisma dari R pada S adalah pemetaan : R S yang
merupakan pemetaan satu-satu dan onto dan memenuhi
(a+b) = (a) + (b)
dan (ab ) = (a) (b)
untuk setiap a,b R. Jika ada isomorfisma dari R terhadap S, maka R dan
S disebut isomorfik dan ditulis R S. 1

Dalam keadaan (a+b) = (a) + (b) dan (ab) = (a) (b), operasi pada
ruas kiri dalam setiap persamaan adalah operasi pada R dan operasi
pada ruas kanan adalah dalam S.
Karena dari operasi penjumlahan maka ring isomorfisma juga merupakan
grup penjumlahan dari R ke S. Ini berarti (0) = 0 dan (-a) = -(a) untuk
setiap a R.
Contoh berikut menunjukkan bahwa suatu isomorfisma antara grup
penjumlahan dari dua ring tidak selalu merupakan ring isomorfisma.



========================================================
STRUKTUR ALJABAR II 53
Contoh :

1. Diberikan pemetaan dari ring bilangan bulat ke ring bilangan bulat
genap yang didefinisikan oleh (n ) = 2n untuk setiap n.
Pemetaan tersebut merupakan isomorfisma antara grup aditif, tetapi
bukan merupakan ring isomorfisma karena tidak memenuhi definisi
perkalian :
(mn) = 2mn padahal (m) (n) = ( 2m )( 2n ) = 4mn
Meskipun pemetaan ini bukan ring isomorfisma, dapat ditentukan
apakah beberapa pemetaan dari ring bilangan bulat ke ring bilangan
bulat genap dapat merupakan ring isomorfisma. Jawabannya adalah
tidak. Sebagai contoh, ring dari bilangan bulat mempunyai elemen
satuan tetapi ring dari bilangan bulat genap tidak mempunyai elemen
satuan.
Perlu diingat, meskipun bilangan bulat dan bilangan bulat genap tidak
berbeda sebagai grup tetapi berbeda sebagai ring.

2. Diberikan ring Z[ 2 ] melambangkan semua bilangan a+ b 2 dengan
a,b Z. Dan didefinisikan : Z[ 2 ] Z[ 2 ] oleh
( a + b 2 ) = a b 2 .
Pemetaan ini merupakan pemetaan satu-satu dan onto.
Dan diberikan operasi pada ring, untuk penjumlahan,
((a+b 2 ) + (c+d 2 )) = ((a+c) + (b+d 2 ))
= (a+c) ( b+d) 2
dan (a + b 2 ) + ( c+d 2 ) = ( a-b 2 ) + ( c d 2 )
= (a+c) ( b+d) 2
untuk perkalian,
((a+b 2 )(c+d 2 ) = ((ac + 2bd) + (bc + ad) 2 )
= (ac + 2 bd) (bc+ad) 2
dan juga,
========================================================
STRUKTUR ALJABAR II 54
(a+b 2 ) ( c+d 2 ) = (a b 2 ) (c- d 2 )
= (ac + 2bd) (bc + ad) 2
Maka adalah suatu isomorfisma dari Z [ 2 ] onto Z[ 2 ].
Isomorfisma seperti ini, dari ring ke dirinya sendiri, disebut
automorfisma.

3. Dapat dibuktikan bahwa Z
6
Z
2
X Z
3
menggunakan pemetaan
: Z
6
Z
2
XZ
3
yang didefinisikan oleh ([a]
6
) = ([a]
2
, [a]
3
).
Berikut ini, beberapa pernyataan yang ekuivalen yang menunjukkan
bahwa adalah terdefinisi dan injektif :
[a]
6
= [b]
6
6| (a-b)
2| (a-b) dan 3 | (a-b)
[a]
2
= [b]
2
dan [a]
3
= [b]
3

([a]
2
, [a]
3
) = ([b]
2
, [b]
3
)
Karena |Z
6
| = | Z
2
x Z
3
| , adalah surjektif (onto) jika injektif.
Selanjutnya, pada penjumlahan :
([a]
6
[b]
6
) = ( [a+b]
6
)
= ([a+b]
2
, [a+b]
3
)
= ([a]
2
[b]
2
, [a]
3
[b]
3
)
= ([a]
2
, [a]
3
) + ([b]
2
, [b]
3
)
= ([a]
6
) + ([b]
6
)

Searah dengan itu , menunjukkan perkalian.
Selanjutnya, Z
6
Z
2
X Z
3
, diasumsikan.

Jika satu dari dua grup isomorfik adalah Abelian, maka harus juga
merupakan Abelian. Dengan cara yang sama, jika satu dari dua ring
isomorfik adalah komutatif, maka harus juga merupakan komutatif. Atau,
jika R dan S ring-ring isomorfik dan R komutatif, maka S adalah komutatif.
========================================================
STRUKTUR ALJABAR II 55
Sifat lain dari ring isomorfik termasuk adanya elemen satuan, adanya
elemen pembagi nol, yang merupakan daerah integral dan yang
merupakan field. Metode umum yang terkenal untuk menunjukkan bahwa
dua ring tidak isomorfik yaitu menemukan beberapa cirri bahwa satu dari
ring-ring mempunyai cirri isomorfik tetapi yang lainnya tidak.
Konsep berikut akan membantu dalam menetukan apakah
ketunggalan dari ring bilangan bulat.
Jika n adalah bilangan bulat positif dan a adalah elemen ring, maka
na = a + a + a + + a ( n suku ).

Definisi b.2.
Diberikan R ring. Jika ada suatu bilangan bulat positif n sedemikian
sehingga na = 0 untuk setiap a, maka bilangan bulat terkecil disebut
karakteristik dari R.
Jika tidak ada bilangan bulat positif, maka R disebut mempunyai
karakteristik 0.

Jika suatu ring mempunyai sebuah elemen satuan e dan karakteristik
n 0 maka ne = 0.
Di lain pihak, jika ne = 0 dan a R, maka na = n(ea) = (ne) a = 0a = 0.
Maka, untuk suatu ring dengan satuan e, karakteristik dapat didefinisikan
sebagai bilangan bulat positif terkecil n sedemikian sehingga ne = 0, jika
ada suatu bilangan bulat maka ring mempunyai karakteristik 0.

Contoh :
1. Ring bilangan bulat mempunyai karakteristik 0, tidak ada bilangan
bulat positif n sedemikian sehingga n.1 = 0. Untuk alasan yang
sama, ring dari bilangan rasional dan ring bilangan real juga
mempunyai karakteristik 0. Karakteristik dari Z
n
adalah n, karena
n[1] = [n] = [0] padahal k[1] = [k] 0 untuk 0<k<n.
========================================================
STRUKTUR ALJABAR II 56
2. Ring Z
n
adalah daerah integral maka n adalah suatu prima. Jika
ring Z
n
adalah suatu daerah integral maka karakteristiknya adalah
suatu prima.


Soal Latihan
1. Suatu ideal P dari ring komutatif R adalah ideal prima jika P R dan
untuk setiap a,b R, ab P maka a P atau b P.
Buktikan bahwa jika n adalah bilangan bulat positif, maka <n> adalah
ideal prima dari Z bila dan hanya bila n adalah bilangan prima.

2. Diketahui R ring komutatif dengan elemen satuan dan P R adalah
ideal dari R. Buktikan bahwa P adalah ideal prima bila dan hanya bila
R/P adalah daerah integral.

3. Jika I dan J adalah ideal dari ring R, maka I + J didefinisikan sebagai
{ a+b | aI dan bJ }. Buktikan :
a. I + J adalah ideal dari R,
b. J adalah ideal dari I+J,
c. IJ adalah ideal dari I
d. I/(IJ) (I+J)/J.

4. Diketahui I dan J ideal dari ring R, dengan J I. Buktikan :
a. I/J adalah ideal dari R/J,
b. (R/J) / (I/J) R/I.