Anda di halaman 1dari 6

Tentang Wellsite Geologist

Setelah jadi mud logger, biasanya para 'lulusan' mud logger ada yg meneruskan jadi TDC atau pressure engineer. Pressure engineer ini lebih banyak bekerja / bertugas menganalisa data data teknis pemboran minyak, misalnya data hidrolika alat2 pemboran (pahat, pompa lumpur, sifat2 lumpur, dll), tekanan (pressure) formasi. Pressure engineer ini adalah satu posisi paling tinggi dalam suatu unit mud logging di lokasi sumur. Tidak sedikit juga, lulusan beberapa jebolan mud logger yg langsung lompat langsung jadi wellsite geologist. Profesi wellsite geologist bisa didapat dg banyak cara, yang menurut saya cara-cara ini bukan suatu patokan / pasti; jadi ini juga pengalaman dan cerita dari beberapa rekan senior.

Mikroskop untuk mengamati Drill Cutting Sample Pertama, Melalui OIL COMPANY - sesudah berpengalaman menjadi mud logger, ybs bisa langsung melamar ke Oil Company, kalo' diterima biasanya langsung dikirim ke wellsite (lokasi sumur pemboran) untuk menjadi wellsite geologist (sering disingkat WSG). Kedua, melalui SERVICE COMPANY - seorang mud logger yg berminat, bisa meminta kepada manajemen di Mud Logging untuk disertakan sebagai trainee WSG, untuk seterusnya dapat diikutkan sebagai calon WSG di kontrak WSG antara Mud logging Company dg Oil Company. Nah... jadi ybs masih menjadi pegawai mud logging, hanya saja dia mempunyai kemampuan untuk menjadi WSG. Ketiga, menjadi KONSULTAN LEPAS - untuk WSG konsultan lepas (freelance), memang tidak gampang; karena status konsultan ini biasanya ybs harus mencari pekerjaan bagi dirinya sendiri. WSG konsultan lepas biasanya dibayar berdasarkan banyaknya hari kerja mereka. WSG konsultan di Indonesia, berdasarkan pengamatan saya selama ini - biasanya datang dari geologist berpengalaman yg keluar dari Oil Company; ada juga yg dari mud logger langsung 'berani' jadi konsultan. Mereka bekerja sebagai konsultan di suatu Oil Company dg menggunakan perusahaan jasa konsultan yg sudah ditentukan oleh Oil Company nya.

Tanggung Jawab
Meneruskan tulisan sebelumnya, yaitu apa saja tugas dan tanggung jawab seorang WSG (wellsite geologist). Sekali lagi dan sekedar mengingatkan lagi, hal yang saya coba sharing ini bukanlah suatu patokan, melainkan hanya garis besar saja.

1. DESKRIPSI SAMPLE (CUTTING & CORE), tugas ini sifatnya mendasar - jadi tugas mendeskripsi cutting adalah skill dasar yang harus dipunyai oleh seorang WSG. Sebenarnya, skill ini seperti yg kita lakukan dan gabungan pada praktikum geologi dasar, paleontologi dan petrografi dibangku kuliah. Cutting sample setelah dicuci oleh sample catcher, lalu dideskripsikan lengkap mulai dari warna, kekerasan, tekstur, struktur, unsur tambahan (accessories, spt mineral tambahan, fosil, dll) serta perkiraan porositas secara kualitatif. Tidak lupa juga memeriksa adanya 'oil show' dibawah UV box. Banyak tip & trik dalam melakukan tugas ini, semakin berpengalaman WSG semakin banyak tip & trik nya melakukan tugas ini. 2. MEMBUAT LITHOLOGY LOG, sebelum mengenal komputer dulu, para senior membuatnya log ini diatas kalkir dan menggunakan pena gambar (rotring, etc). Tapi saat ini banyak software yg relatif mudah utk digunakan. Lithology log adalah penggambaran data2 pemboran secara vertikal dalam bentuk garis, simbol dan tulisan. Jadi log ini bentuknya seperti kita membuat MS (measured section) jaman mahasiswa, untuk menggambarkan posisi stratigrafi lubang bor. Jadi data2 ROP, pengukuran gas, gambar lithology dan deskripsi lithology dituangkan dalam log ini. 3. LAPORAN PAGI (morning report) ini mencakup laporan tertulis dan lisan, untuk tulisan biasanya dikirimkan melalui email dan ditujukan pada operation geologist di kantor pusat, setiap hari / pagi (jam tertentu mis: setiap hari jam 5 pagi atau 6 pagi). Bentuk laporan tertulis mencantumkan segala kegiatan geologi dalam 24 jam terakhir, misalnya kedalaman lubang bor, aktifitas, ringkasan formasi batuan, gas data, laju pemboran, rencana2 yg akan dilakukan. Sedangkan laporan lisan, WSG akan menelpon Operation Geologist dan mendiskusikan hal2 yg penting. 4. Mengetahui dan memperkirakan POSISI / LETAK GEOLOGI dari sumur bor baik vertikal maupun horizontal (ini yg agak susah dan membutuhkan kesabaran dan ketelitian), maksudnya secara 'vertikal' adalah, seorang WSG harus mengerti formasi batuan apa yg sudah dibor dan perkiraan yg akan dibor. Secara horizontal, yaitu mengetahui hubungan korelasi dg sumur2 sekitarnya. 5. Meng 'SUPERVISI GEOLOGI' para crew service company. Yaitu, memberi arahan dan pengawasan kepada crew yg berhubungan dengan operasi geologi dalam pemboran. Misalnya, mud logging, wireline logging, directional drilling. Bahkan sampai dengan mengatur mobilisasi peralatan, pertukaran crew dari dan ke rig site. 6. Dalam tugasnya sehari-hari seorang wellsite geologist adalah representatif dari perusahaan minyak yg bertanggung jawab terhadap pemboran sumur, dialah

satu-satunya orang yg mengerti tentang bawah permukaan sumur di lokasi rig; jadi betapa pentingnya dan besar tanggung jawab seorang WSG. Biasanya WSG ada yg bekerja dengan status '24 hours on call' artinya kapanpun dibutuhkan dia harus siap, atau bisa juga dalam satu pemboran ada 2 orang WSG dan ini tergantung dari perusahaan minyak itu sendiri.

Tentang Wireline Log


Dalam tulisan ini saya tidak akan menyinggung mengenai detil (Gamma Ray, Resistivity, density, dll) dan melainkan hanya dasar dan gambaran umum serta alasan mengapa dilakukan wireline logging. PENDAHULUAN Setidaknya ada tiga sumber informasi geologi yang dapat digunakan untuk penelitian geologi suatu daerah (Sedimentary environments from wireline logs - oleh O. Serra, 1989) yaitu: 1. Singkapan batuan: Jenis penelitian dari singkapan batuan masih merupakan sumber informasi geologi yang penting di permukaan baik yang bersifat alam ataupun buatan manusia misalnya: terowongan, tebing atau parit yang dibuat manusia dari pertambangan atau proyek jalan. Namun sejalan kemajuan teknologi dan majunya industri pemboran minyak, maka informasi ini banyak digantikan oleh data-data pemboran atau data seismik permukaan (gravimetry, survey seismik, magnetisme) atau geofisika lubang sumur yaitu well logging. Alasan lain adalah seringnya informasi geologi dari singkapan hasil ekstrapolasi bawah permukaan (subsurface extrapolation) sering meleset atau melenceng; yang lebih jauh lagi adalah timbulnya / adanya kerumitan bentuk-bentuk geologi bawah permukaan (stratigraphic traps, fluid permeability barrier) baik dari ukuran maupun kedalaman strukturnya. 2. Geofisika permukaan: Informasi jenis kedua ini, kerapkali dapat memberikan gambaran dua dimensi bahkan tiga dimensi bawah permukaan dan merupakan sumber informasi yang penting dan bersifat langsung. Baik bentuk-bentuk dan susunan lapisan batuan, bahkan dapat pula memberikan informasi petrofisik seperti kandungan fluida; seperti pada seismofacies, "bright spot"...). Sehingga hipotesa geologi yang dituangkan dalam interpretasi seismik ini darus diikuti dan dibuktikan oleh proses pemboran sumur. Interpretasi seismik ini akan memudahkan dan tentunya akan didukung oleh wireline logging. Dengan pengukuran "Vertical Seismic Profile" (VSP) dalam suatu sumur; kita akan dapat melihat lebih jelas bentuk-bentuk geologi bawah permukaan ini. 3. Pemboran: ada dua jenis sumber data / informasi geologi dalam pemboran yaitu (a) bersifat langsung - seperti drill cutting sample, core sample, sidewall core dan (b) tidak langsung - yaitu pengukuran sifat fisik batuan pada lubang bor dengan menggunakan alat wireline logging.

Core konvensional, jika menerus dan kualitas samplingnya baik, mempunyai data yang banyak sekali. Sayangnya, karena alasan biaya (ekonomi) dan teknis (waktu dan alat), coring jarang sekali dilakukan dalam suatu proses pemboran. Sehingga seringkali geologist menggunakan data cutting sample atau sidewall core dengan wireline. Ditambah lagi, semakin dalamnya lubang bor, maka semakin tinggi 'ketidak-pastian" dan ketidak-akuratan data kedalaman maupun kualitas sample nya, hal ini disebabkan proses 'campur-aduk' lumpur sebagai pembawa / media cutting ke permukaan, atau disebabkan adanya runtuhan ('caving') dan hilangnya beberapa kandungan karena adanya lost circulation. Sehingga, sebagai akibatnya, informasi yang sifatnya tidak langsung yaitu wireline logging menjadi penting - khususnya untuk kualitas, jenis peralatan dan metode interpretasi yang digunakan. Hal ini bukan saja untuk pembuktian dalam bentuk data dan informasi geologi tapi juga membantu dalam sintesis data-datanya.

ENGAPA HARUS WIRELINE LOGGING? Dari beberapa bahan bacaan saya ditambah dengan sedikit pengalaman, maka dapat saya ringkas mengapa wireline logging dilakukan? Disebabkan karena mereka: 1. Dapat memberikan data yang AKURAT, PRESISI, OBYEKTIF dan bersifat REPETITIVE (berulang). 2. Datanya bersifat MENERUS, tentu saja dg interval mulai dari 15cm, bahkan bisa sampai 3cm jika memang diperlukan. 3. Menghasilkan data-data dari SIFAT FISIK BATUAN, yang seterusnya dapat dilakukan analisa porositas, volumen batuan, dan analisa batuan lainnya yang dapat menguntungkan dan berguna bagi seorang geologist perminyakan. 4. Sifatnya PERMANEN; maksudnya disini data aslinya (Raw File) dapat digunakan kembali jika muncul ide atau metode interpretasi yang berbeda atau baru. 5. Dari segi waktu, data wireline logging CEPAT dan LANGSUNG tersedia di wellsite; dengan sedikit proses yang dilakukan dimana wireline engineer juga melibatkan wellsite geologist. Sehingga ada quality control dari WSG sebagai orang yang mewakili oil company; seperti proses shifting depth dan merge file, dll. 6. EKONOMIS, biaya sewa anjungan pemboran merupakan biaya yang tertinggi dalam suatu pemboran minyak (rig cost) jadi karena proses wireline logging relatif cepat maka relatif sangat menguntungkan bagi perusahaan minyak, dibandingkan dengan proses coring yg relatif lebih mahal dan lama. 7. Bergantung pada PARAMETER GEOLOGI, misalnya susunan formasi, sifat fisik batuan, bentuk-bentuk geologi bawah permukaan lainnya. Sehingga seorang geologist yang paham dengan kondisi daerahnya akan merasa diuntungkan dengan adanya wireline logging ini.

Misalnya: dia mengetahui adanya unconformity (ketidak-selarasan) dengan perkiraan kedalaman tertentu, maka dengan wireline logging dapat dianalisa lebih detil, atau fault (sesar) atau kondisikondisi geologi lainnya. HUBUNGAN WIRELINE LOG DENGAN GEOLOGI Ada tiga (3) parameter geologi yang mempengaruhi wireline logging yaitu komposisi, tekstur dan struktur dari batuan. Kandungan fluida (gas, minyak, atau air) juga dapat dilihat indikasinya, karena fluida tersebut berada dalam pori-pori batuan atau / dan fracture batuan; yang merupakan kesatuan dan tidak terpisah didalam lubang sumur minyak dan terukur oleh alat wireline logging.

Salah satu Wireline tool

Satu hal penting adalah wireline logs dapat memberikan 'gambar' batuan dibawah permukaan yang sudah dibor. Mereka dapat memberikan gambaran yang jelas, walaupun terkadang sebagian dan kurang lengkap seperti layaknya singkapan permukaan. "Gambar" tersebut sifatnya menerus dan selalu permanen, obyektif dan kuantitatif. Selanjutnya 'gambar-gambar' ini akan dapat terlihat lebih jelas saat kita melihat adanya perbedaan - perbedaan pengukuran yang menyolok, misalnya bagaimana 'gambar' log yang melewati lapisan batulempung dengan lapisan batupasir. Jadi dapat disimpulkan bahwa alat wireline logging ini dapat kita ibaratkan sebagai 'mata' dan instrumen geologi (palu, kaca pembesar, kompas) kita; yang kita biasa gunakan dalam penelitian singkapan batuan di permukaan.

Karena wireline log sangat bergantung pada sifat-sifat fisik batuan maka mereka betul-betul dapat dipakai sebagai penciri dari suatu lapisan batuan dan seharusnya wireline log diberlakukan sebagai data geologi, dengan interpretasinya juga sebagai interpretasi geologi. Di satu sisi, alat wireline logging yang sebetulnya mengukur ciri-khusus batuan bawah permukaan yang sudah dibor, baik itu sifat fisik, kimia dan biologi (yg sudah terendapkan pada kondisi iklim dan geografi terentu); sedangkan disisi lain evolusi (perubahan suatu formasi) adalah suatu pokok persoalan dalam sejarah geologinya itu sendiri. Yang penting disini adalah untuk meneliti, menjelaskan, menganalisa dan menginterpretasikan obyek wireline log, seharusnya juga seperti obyek geologi lainnya. Suatu interpretasi wireline log yang jelas, tidak hanya dapat didukung oleh analisa data log yang detil dan akurat, tapi juga harus didasarkan pada pengetahuan peralatan logging yang cukup dan konsep geologi yang benar; sebetulanya interpretasi log sendiri adalah merupakan 'terjemahan' dari data/parameter LOG ke data GEOLOGI yang membutuhkan 'kamus' atau 'interpreter' yang paham dan mengerti kedua 'bahasa' tersebut. Kenyataan yang dihadapi, wireline log yang dapat memberikan informasi mengenai mineralogi, unsur komposisi, tekstur dan struktur sedimen bahkan tektonik, facies, stratigrafi, dll; maka hal pertama yang perlu kita pahami adalah istilah-istilah geologi tersebut. Baru setelah itu, kita bisa menentukan bagaimana dan bagian parameter geologi mana yang berpengaruh pada alat wireline logging. Dengan alasan inilah maka kita dapat menjadi parameter geologi sebagai berikut:

Suatu lingkungan pengendapan akan dicirikan oleh suatu kumpulan facies tertentu. Facies itu sendiri, ditentukan oleh komposisi, tekstur, warna, kandungan fosil, struktur dan geometri batuan nya.

Rasanya terlalu awal untuk menunjukkan bagaimana hubungan wireline log dengan parameterparameter tersebut; selain itu dibutuhkan penjelasan-penjelasan secara visual seperti gambargambar dan contoh-contoh log berupa electrofacies model suatu lingkungan pengendapan tertentu.