0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
321 tayangan34 halaman

Makna Kerajaan Allah dalam Injil Matius

Teks tersebut merupakan ringkasan dari injil Matius yang membahas tentang kerajaan Allah dan paradigmanya. Ringkasannya adalah (1) injil Matius ditujukan untuk orang Kristen Yahudi di luar Yerusalem setelah kehancuran kota itu, (2) injil ini menjelaskan Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan dan mengajak orang Yahudi menerimanya, (3) kerajaan Allah diartikan sebagai panggilan untuk bertobat dan men

Diunggah oleh

Richard Patty
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
321 tayangan34 halaman

Makna Kerajaan Allah dalam Injil Matius

Teks tersebut merupakan ringkasan dari injil Matius yang membahas tentang kerajaan Allah dan paradigmanya. Ringkasannya adalah (1) injil Matius ditujukan untuk orang Kristen Yahudi di luar Yerusalem setelah kehancuran kota itu, (2) injil ini menjelaskan Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan dan mengajak orang Yahudi menerimanya, (3) kerajaan Allah diartikan sebagai panggilan untuk bertobat dan men

Diunggah oleh

Richard Patty
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KERAJAAN ALLAH & PARADIGMANYA YUNG SUTRISNO JUSUF

MIT FF UNPAR 8122001001

Ricki Johannes Tampubolon


8122001002
Kerajaan Allah dan Paradigmanya

Injil Matius
Kerajaan Allah dan paradigmanya
1. Pengantar
Dalam tradisi Gereja katolik, injil Matius ditempatkan sebagai injil yang
pertama dalam perjanjian baru. Namun jika dilihat dari segi histori dan tahun
penulisan injil. Injil Matius bukanlah injil paling tua dari antara semua injil yang
sudah di kanonisasikan. Namun secara mendasar dari segi teks atau awal setiap injil
kita akan menemukan banyak spasi dengan perjanjian lama. Yang dalam artian tidak
memiliki keterkaitan yang sangat konkret dengan perjanjian lama kecuali Injil Matius.
Padahal perjanjian baru adalah pengenapan dari semua warta keselamatan yang di
sampaikan para nabi. Oleh karenanya, dengan adanya silsilah Yesus di awal injil
Matius, para penafsir kitab suci melihat bahwa warta keselamatan yang disampaikan
para nabi tidak terputus sama sekali melainkan hadir dalam Diri Yesus sendiri dan
tergenapi dalam diriNya (bdk Matius 1:1-17). Atas dasar inilah injil Matius
ditempatkan dibagian pertama dalam perjanjian baru. Melalui silsilah Yesus, pesan
kerajaan Allah itu hadir di dunia.
Akan tetapi, Matius menyadari bahwa pesan kerajaan Allah yang disampaikan
oleh Yesus memiliki makna baru yang lebih radikal dari kisah-kisah para nabi dan
bangsa Israel dalam perjanjian lama. Hal ini tampak dalam bagian akhir dari injil
Matius yang berkata seperti ini “kepadaKu telah diberikan segala kuasa di surga dan
di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah
mereka dalam nama bapa….” (Mat. 28:18-20). Bagian Awal dan bagian akhir dari
injil Matius ini menjadi titik berangkat saya untuk menjelaskan makna kerajaan Allah
dan paragdimannya. Karena bagi Matius sendiri kerajaan Allah adalah sebuah
keluarga, yang mana Allah sendiri memerintah di dalamNya 1. Hal ini juga tidak lepas
dari cara Yesus memanggilnya (bdk Mat 9:9:10) disana bukan saja memanggil Matius
melainkan Yesus makan bersama para pemungut cukai. Dan sebelum kita sampai
pada penjelasan tersebut. Penting bagi kita untuk mengetahui sosok Matius sendiri
sebagai penulis injil. Karena bagaimana pun latar belakang penulis sangat
mempengaruhi isi tulisan dari penulis.

1
John Fuellenbach, SVD The Kingdom of God; The Central Massege of Jesus Teaching in The
Light of The Modern World (Satprakashan Sanchar kendra; Indore, India, 1994) terj: Kerajaan
Allah: Pesan inti Ajaran Yesus bagi Dunia Modern. Oleh: Rm. Eduard Jebarus, Pr.
(Nusa Indah: Ende, 2006)

1
2. Sosok Matius
Nama Matius di ambil dari Bahasa ibrani Matthai kependekan dari
Matthanaja yang dapat diartikan sebagai “anugerah Allah”2. Matius sendiri adalah
seorang pemungut cukai, sebuah pekerjaan yang paling banyak mendapat hujatan dari
orang-orang sekitarnya atau se bangsa sendiri karena pekerjaan ini dianggap adanya
persekongkolan dengan orang Roma. Selain itu, arti dan makna dari namanya itu
sendiri menjadi sangat bertentangan. Anugerah Allah tentunya membawa dampak
kepada orang lain secara signifikat namun pada kenyatannya Matius tidak bertindak
seperti apa yang disematkan dalam namannya tersebut. Akan tetapi, gambaran orang-
orang tentang sisi buruk pemungut cukai tidak membuat Yesus mengabaikan sisi
lainnya dari Matius dan memilihnya menjadi salah satu muridNya (lih Matius 9:9).
Pemanggilan Yesus terhadap Matius menjadi sebuah symbol tersendiri dalam
pemuridanNya. Sebab jika kita melihat injil secara keseluruhan Matius tidak begitu
menonjol dari antara para murid ketika bersama dengan Yesus 3 dan juga ia seorang
pendosa. Bahkan jika kita membaca tasfiran kitab suci tentang Matius, kita tidak akan
banyak menemukan informasi selain latar belakang pekerjaannya dan sasaran
penulisan injilnya4. Dari latar belakang kita mengetahui bahwa ia seorang yang ulet
dan tekun dalam bekerja walaupun ia mendapat kan hinaan dari pekerjaan itu namun
ia tetap menjalankannya.
Selain itu, dari tulisannya kita mengetahui bahwa Matius memiliki
pengalaman religious dan menggereja yang mendalam. Hal ini tentunya tampak dari
bab pertama dari injil sampai bab terakhir. Disamping itu, ia juga berpikir jelas dan
teratur. Hal ini dapat kita lihat dari karyanya bukan sekedar suatu kumpulan bahan
saja melainkan sebuah komposisi yang dipikirkan dengan matang. 5 Mulai dari
kelahiran Yesus sampai perutusan para muridNya. Dengan ini menjadi jelas
pengalaman religious dan menggereja dalam diri Matius, yaitu: warta keselamatan
yang tidak hanya bergerak di dalam bangsa isreal saja melainkan keluar untuk orang
lain. Sehingga pemahaman tentang kerajaan Allah yang hadir tidak lagi di letakkan
pada atau hanya Israel saja melainkan bagi semua orang yang mau mendengarkan
sabda Allah dan tinggal di dalam Allah sebagai keluarga (lih Mat 28:16-20).
3. Waktu Penulisan
Injil matius di tulis antara tahun 70 M sebagai batas awal penulisan. 6 Injil ini
juga di dukung dengan sumber injil Markus yang penulisanya lebih awal dari Matius,
2
I. Suharyo, Pengantar Injil Sinoptik, (Kanisius: Yogyakarta, 1991), hlm.75-76
3
Bdk. Lembaga Biblika Indonesia, Tasfir Alkitab Perjanjian baru, (Kanisius, Yogjakarta, 2002)
ed:Dianne Bergant, CSA dan Robert J. Karris, OFM. Hlm. 31
4
Ibid. hlm: 32
5
Ibid. Pengantar Injil Sinoptik. Hlm: 77
6
Ibid. hlm: 77

PAGE \* MERGEFORMAT 1
yaitu sekitar 68 M. Namun menariknya dari injil Matius ini sudah di kutip oleh
Ignatius dari Antiokhia pada tahun 110 M dalam surat-suratnya misalnya, kepada
Gereja di Efesus, Magnesia, Tralli dan Roma. 7 Namun ketika melihat tahun penulisan
injil Matius ini. Situasi bangsa Israel lagi mengalami keterpuruhkan karena tentara
roma pada tahun-tahun itu menghancurkan Yerusalem sebagai symbol hidup religious
orang yahudi. Hal ini terdapat juga dalam injil Matius 22: 7 “Maka murkalah raja itu,
lalu menyuruh pasukannya kesana untuk …”. Data ini berdasarkan pada apa yang
muncul sebagai bagian penggambaran kejadian tahun 70 M 8. Banyak dari orang-orang
yahudi melarikan dari atau menyelamatkan diri dari bencana yang terjadi dan
membentuk kelompok-kelompok yahudi diluar dari Yerusalem. Atas kejadian ini juga
mengubah pandangan para murid terkhususnya Matius sendiri, tentang warta kerajaan
Allah berubah. Maka dari itu arah dari tulisannya juga berubah. Dikatakan bahwa
konteks penulisan Injil Matius ini untuk orang percaya Yahudi yang berada di luar
Yerusalem, maka Matius tidak menjelaskan adat istiadat Yahudi seperti membasuh
tangan sebelum makan (bdk. Mat. 15: 2; Mrk. 7: 2-4).9
4. Tujuan dari penulisan Injil Matius
Latar Belakang dari Injil Matius yang secara garis besar dipengaruhi oleh
kehancuran kota Yerusalem oleh bangsa Roma sehingga injil ini di tujukan bagi orang
yahudi Kristen yang percaya kepada Allah di luar Yerusalem. Mereka perlu dikuatkan
dalam iman yang pada saat itu mengalami krisis iman karena penghancuran
Yerusalem. Tulisan ini secara tidak langsung juga di tujukan kepada orang-orang
yahudi yang tetap mempertahankan hukum lama. Disamping itu, matius memiliki
caranya sendiri untuk mewartakan kabar gembira kepada bangsa Yahudi yang di luar
Yerusalem yaitu dengan menunjukkan kesalahan mereka dan mengajak mereka
menerima kristus sebagai Masias yang sejati. Tentunya hal tersebut tidak dapat
dilepaskan dari beberapa hal berikut ini.
1. Hal merunut garis silsilah Yesus, yang bertolak dari Abraham (Mat 1:1-17);
2. Yesus yang diperkenalkan dalam bahasa bangsa Yahudi dan disebutkan
berulang-ulang seperti Raja Keturuan Daud (Mat. 21: 5, 9), Raja orang Yahudi
yang menderita untuk bangsa-Nya (Mat. 27), keturunan Abraham (1: 1-2,
17)10;
3. Penggunaan gaya bahasa Ibrani atau Aram, seperti Kerajaan Surga (disebut
35kali), Bapa yang di surga (disebut 12 kali), tanah Israel (disebut 6 kali)11;
4. Menulis tentang berbagai kebiasaan Yahudi tanpa memberikan penjelasan apa
pun (berbeda dengan kitab-kitab Injil yang lain yang memberikan
penjelasan)12.

7
https://luxveritatis7.wordpress.com/2012/08/29/bapa-bapa-gereja-st-ignatius-antiokia/. Di akses
Senin, 5 April 2021. Pkl 20:00.
8
Ibid. Tasfir Alkitab Perjanjian baru. hlm: 33
9
Martin Harun, Matius, Injil Segala Bangsa. (Kanisius: Yogyakarta, 2017), hlm. 25
10
Ibid, hlm. 25
11
Ibid, hlm. 25
12
Ibid, hlm. 25

PAGE \* MERGEFORMAT 1
Sekalipun banyak ditemukan tulisan yang ditujukan untuk orang kristiani Yahudi,
Injil ini tidak semata-mata untuk orang Yahudi. Artinya Injil Matius sendiri bukanlah
Injil eksklusif untuk kristiani Yahudi. Pada akhir tulisannya (28: 19-20), Injil Matius
menunjukkan adanya suatu perutusan yang universal bagi bangsa-bangsa lain. Hal ini
berarti Injil Matius menunjukkan keterbukaan kepada orang kristiani non-Yahudi.
Dan pewartaan yang diberikan pun sekali lagi bukan sesuatu yang eksklusif hanya
kepada satu kelompok bangsa saja.
5. Apa itu Kerajaan Allah?
Kata “Kerajaan surga” dalam injil Matius terdapat sebanyak 35 kali pada 34
ayat. Sedangkan kata “kerajaan Allah“hanya di gunakan sebanyak 6 kali pada 6 ayat.
Di balik kedua kata tersebut Rasul Matius tidak membedakan keduanya atau tidak
memaknai secara berbeda. Walaupun di curigai tidak konsisten dalam penempatan
kata kerajan Surga dan kerajaan Allah 13. Akan tetapi jika kita melihat penafsirannya
kata ‘kerajaan Surga’ atau kata ‘kerajaan Allah’ selalu bernuasa pesan pertobatan
secara penuh dan mengubah hidup radikal kepada Allah (lih Mat 4:17 “bertobatlah,
sebab kerajaan Allah sudah dekat”)14. Selain itu juga, kata kerajaan Allah selalu
bernuasa menguatakan para umat beriman untuk terus bertekun memelihara iman
mereka. Hal itu tampak pada Matius 6 :33 “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan
kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” atau Matius 12:28
“Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya
Kerajaan Allah sudah datang kepadamu”.
Menurut John Fuellenbach tujuan kerajaan adalah membentuk suatu keluarga
besar, suatu umat di mana semua orang menemukan tempat tinggalnya di dalam
Allah15. Dimana semua diskrisminasi pribadi maupun kelompok akan berhenti.
Gambaran kerajaan Allah yang di bayangkan oleh Matius tentunya bukan tanpa dasar
melainkan hal ini di pengaruh oleh silsilah Yesus dan seluruh kehancuran kota
Yerusalem. Matius ingin menyatukan orang-orang Yahudi -kristen yang percaya
kepada Tuhan di tanah asing sebagai keluarga. Maka dari itu, kata “kerajaan Surga”
tidak dapat dilepaskan dan harus di pahami sebagai “pemerintahan rajawi Allah”.
Ungkapan ini mengacu pada waktu dan keadaan ketika Allah sepenuhnya akan
memerintah di dunia, khususnya di tengah umat manusia. Nuasa kekeluargaan di
dalam Allah menggerakkan para murid untuk melakukan tugas misioner di dunia
(bdk. Mat 28:16-20).
6. Siapa objek pewartaan Kerajaan Allah menurut Matius
Sasaran pewartaan injil Matius tidak dapat dilepaskan dari bagian awal dan
akhir injilnya serta cara Yesus memanggil Matius. Cara ini juga di gunakan oleh
Matius dalam mewartakan kerajaan Allah kepada semua orang. Yang mana orang
miskin dan tertindas menjadi sasaran pewartaannya (bdk Matius 5:1-12). Jemaah
Matius sebagian besar terdiri dari orang-orang sederhana (Mat 5;3-12). Orang-orang

13
Raymond E. Brow, SS Dkk, The New Jerome Biblical Commentary, Great Britain 1968. Pg. 639
14
Ibid. Tasfir Alkitab Perjanjian baru. Hlm: 34
15
Ibid. pg: 109

PAGE \* MERGEFORMAT 1
kaya, sepertinya pemuda kaya, tidak mau masuk ke dalamnya (Mat 19:22). Orang-
orang penting seperti zakeus dan Nikodemus tidak disebut-sebut. Khotbah-khotbah
mengenai orang miskin (5:3; 11:5; 28-30) dan orang-orang kecil (10:42; 18:1-5;
19:13-15) sering ditemukan. Orang-orang lemah adalah pewaris dan warga kerajaan
yang ideal. Orang yang tidak menerima mereka sama seperti dirinya dulu, dan lebih
lagi yang tidak mencontoh mereka akan tinggal di luar. Rupanya hidup dan perhatian
jemaah di pusatkan pada orang-orang kecil ini. para pemimpin harus memperhatikan
mereka secara khusus. Hal ini juga di banding dengan sikap orang-orang farisi dan
ahli Taurat yang adalah sombong. Sedangan ciri khas pengikut kristus adalah
kerendahan hati. Disamping itu berjalan waktu, hidup jemaat tidak atau belum ideal
namun orang-orang yang percaya tetaplah merupakan satu jemaah atau Gereja (lih
Mat 16:18) bahkan satu keluarga di mana setiap orang adalah saudara (lih Mat
12:50)16.

7. Kapan Kerajaan Allah hadir?


Dalam injil Matius bab 3 :2 “Kerajaan Surga sudah dekat” sangat jelas
dikatakan bahwa kerajaan Allah sudah dekat. Artinya Allah menuntut manusia untuk
bertobat secara radikal kepadaNya sebab akan memaklumkan KerajaanNya kepada
Yesus yang pada saat yang sama Yohanes pembaptis membaptisNya. Artinya,
Kerajaan itu dekat atau sangat dekat dan sudah hadir di tengah-tengah umat manusia
“Yesus memaklumkan kedatangannya)”, atau, “Kerajaan Allah sudah hadir dalam diri
Yesus ketika Roh Kudus turun atasNya(perutusanNya di mulai)”. Kerajaan itu sudah
hadir (Mat 12:28, “Kerajaan Allah sudah datang padamu”) tetapi kehadirannya dapat
dipahami dengan cara yang berbeda-beda yaitu entah sebagai Kerajaan yang sudah
terwujud, entah sudah terintegrasikan secara sembunyi (dalam diri dan kegiatan
Yesus) dan segera akan dinyatakan kepada semua orang.
Injil memang bicara tentang dekatnya Kerajaan Allah. Tapi melalui ungkapan ini
kuasa Allah sebagai penguasa alam semesta tidak diragukan sama sekali. Hal yang
ingin ditekankan adalah umat manusia yang tidak taat kepada Allah tidak dapat
mengalami kehadiran Kerajaan Allah yang hadir dalam Diri Yesus. Disamping itu,
Mat 7:21-23 “masuk ke dalam Kerajaan Surga..” menekan bahwa kerajaan Allah
tidak terbatas pada kehadiran Allah secara fisik melainkan melakukan kehendak Allah
dengan tekun dan setia. . Di sini Kerajaan Allah dipandang sebagai peristiwa masa
depan, sebagai hidup kekal bersama Allah.

8. Dimana Kerajaan Allah?


Dalam injil Matius ada dua hal yang menggambarkan dimana kerajaan Allah
berada pertama pada teks Mat 4:17, “….. Kerajaan Sorga sudah dekat”. Artinya
menuntut setiap manusia untuk bertobat dan mengubah hidupnya secara radikal sebab
Allah sudah hadir di tengah-tengah manusia. Kedua pada teks Mat 28:16-20 “Pergilah
16
Ibid. Pengantar Injil Sinoptik. Hlm: 83

PAGE \* MERGEFORMAT 1
dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat…”. Para ahli memberi komentar
tentang hal ini bahwa waktu atau “khairos” mempunyai arti lebih dari peristiwa yang
terjadi (khoronos). Kerajaan Allah sudah dekat berarti kita sudah mulai mengalami
dan merasakan kuasa Allah dalam hidup ini namun belum sepenuhnya. Kerajaan
Allah sudah menjadi kenyataan, tetapi belum sempurna. Janji ini mengandaikan
“zaman Gereja” antara pemakluman kerajaan Allah melalui Yesus dan kepenuhannya
pada akhir dunia.17

9. Mengapa Gereja itu Merupakan Perwujudan Kerajaan Allah?


Konsep Gereja sebagai perwujudan kerajaan Allah dapat di lihat dari Mat
21:33-46 tentang penggarao-pengarap kebun anggur. “Aku berkata kepadamu, bahwa
Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa
yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu….”. Yang dimaksud “mu” adalah Israel
lama. Bagi Matius, identitasnya tidak ditentukan oleh kesamaan etnis atau kesatuan
bangsa, melainkan merupakan kelompok spiritual yang tinggal dalam satu keluarga
dimana Allah menjadi tujuan hidup semua orang.18 Mereka adalah orang-orang yang
akan menghasilkan buah Kerajaan itu. Gagasan “berbuah” itulah yang digunakan oleh
Matius untuk berpikir tentang Gereja. Namun di tengah-tengah badai yang
mengancam, Gereja menyatakan kepercayaannya dengan berdoa. Hal ini tampak
dalam Matius 18:20 “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku
di situ Aku ada di tengah-tengah mereka”. Nuansa kerajaan Allah yang di gambarkan
injil Matius tidak lepas dari keluarga.19

10. Bagaimana Kerajaan Allah terwujud?


Kerajaan Allah sudah dekat berarti kita sudah mulai mengalami dan
merasakan kuasa Allah dalam hidup ini namun belum sepenuhnya. Kerajaan Allah
sudah menjadi kenyataan, tetapi belum sempurna. Artinya bahwa kehadiran kerajaan
Allah tidak semata-mata hanya di rasakan setelah kematian melainkan kerajaan Allah
sudah hadir apabila Allah menjadi tujuan hidup umat beriman (Bdk Matius 5:20-22
“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar…..”

11. Kesimpulan
Yesus mewartakan dekatnya Allah Abraham, Musa dan paraNabi, Allah yang
menentukan bahwa telah datang waktunya untuk membawa kepada umatnya
keselamatan yang sudah lama mereka nantikan, untuk memberi hidup dan membawa
keadilan dan damai dengan memihak pada orang miskin dan terbuang. Tujuan
kerajaan adalah membentuk satu keluarga besar, suatu umat dimana semua orang
menemukan tempat tinggalnya di dalam keluarga Allah. Di sini semua diskriminasi
17
Ibid. Raymond E. Brow, SS Dkk. Pg.605
18
Drs J.J De Heer, Tafsiran Alkitab: Injil Matius 2 (Gunung Mulia, Jakarta: 1985) hlm: 101
19
Ibid. John Fuellenbach, SVD. Hlm. 114

PAGE \* MERGEFORMAT 1
pribadi maupun kelompok akan berhenti. Inilah gambaran yang Yesus mau bawa dan
inilah warta kerajaan Allah. Yaitu tinggal dalam keluarga Allah.

KERAJAAN ALLAH MENURUT INJIL MARKUS


Oleh : Irvan Prasetya (8122001003)

Pengantar

Dalam agama katolik, kita mengenal apa itu alkitab. Dalam alkitab atau yang
biasa juga disebut dengan Kitab Suci, terdapat 4 injil yang terkenal, yakni: Matius,
Markus, Lukas, dan Yohanes. Keempat Injil tersebut, sama-sama hendak mengulas
kisah Yesus sang Mesias. Namun, didalam keempat injil tersebut juga ada satu hal
menarik yang memang diwartakan pula oleh Yesus sang Mesias. Hal tersebut tidak
lain adalah mengenai tentang Kerajaan Allah. Kerajaan Allah menjadi topik yang
menarik dan akan dibahas dalam tulisan ini. Istilah ini, mungkin saja memang tidak
asing di telinga kita sebagai umat Allah yang menyatakan diri mengimani
kepercayaan kita.

Bahkan Kerajaan Allah bisa dikatakan menjadi suatu tempat yang ingin kita gapai
setelah kita meninggalkan dunia ini. Namun, meskipun kita semua sudah tidak asing
dengan istilah Kerajaan Allah, ternyata kita pun belum paham dengan bai kapa yang
disebut atau dimaksud dengan Kerajaan Allah itu sendiri. Melalui 4 injil, kita dibawa
akan pemahaman yang lebih mendalam aka napa itu Kerajaan Allah. Tapi, disini, kita
akan dibawa secara khusus untuk memahami ap aitu Kerajaan Allah menurut salah
satu Injil, yaitu Injil Markus. Sebelum kita melihat Kerajaan Allah dalam Injil
Markus, ada baiknya kita memahami lebih baik dahulu Injil Markus itu sendiri
terlebih dahulu.

Sekilas tentang Injil Markus

PAGE \* MERGEFORMAT 1
Dalam bahasa Yunani Klasik, kata Injil (euanggelion) itu diartikan sebagai
hal-hal yang berhubungan dengan utusan yang baik. 20 Dalam hal ini, dapat dikatakan
pula bahwa Injil itu adalah suatu kabar baik yang dibawa oleh utusan. 21 Dalam
pembahasan mengenai Injil, disana dikatakan bahwa ada yang berpendapat bahwa
Markus adalah sosok penemu jenis sastra baru yang disebut Injil. 22 Secara umum,
dapat dikatakan bahwa Injil Markus adalah Injil yang paling pendek diantara keempat
Injil dalam Perjanjian Baru.23

Selain dapat dikatakan bahwa Injil Markus merupakan Injil terpendek, Injil
inipun merupakan injil yang dirasa dalam penyusunan dan penyampaiannya itu paling
sederhana dibandingkan dengan Injil lainnya. Artinya adalah bahwa Injil Markus ini
dinilai sebagai Injil yang bisa dipahami lebih mudah dari Injil lainnya. Dalam
memahami lebih baik asal usul atau gambaran umum atas Injil Markus, aka nada
beberapa poin yang akan kita dalami, yakni tentang pengarang Injil Markus, tempat
dan waktu penulisan, gaya penulisan, serta kerangka dasar Injil Markus. Aspek atau
hal pertama yang akan dibahas adalah mengenai pengarang dari Injil Markus. Untuk
memahami siapa sosok dibalik lahirnya tulisan atas Injil Markus ini, dapat kita lihat
terlebih dahulu bahwa pada dasarnya dalam kodeks Yunani kuno, Injil Markus ini
dicantumkan dengan istilah Injil menurut Markus.24

Pengarang Injil Markus ini, adalah murid Petrus dari Roma. 25 Hal ini,
dibuktikan melalui apa yang dituliskan dalam 1Ptr 5:13, disana ada tertulis “Markus,
anakku”. Namun, kembali lagi bahwa hal ini, sebenarnya belum terlalu jelas, karena
jika dilihat dalam awalan Injil Markus, disana tidak ada penjelasan mengenai
pengenalan akan sosok yang menulis Injil Markus itu. pada awal Injil Markus, disana
tanpa adanya pengenalan langsung saja diawali dengan kalimat “inilah permulaan injil
tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” (Mrk 1:1). Dapat dilihat pula bahwa dalam karya
yang ia (pengarang Injil Markus) tulis ini, dirinya sama sekali tidak menonjolkan
diri.26 Bahkan tidak ada sama sekali dalam karyanya ini, sosok pengarang itu
menuliskan siapa identitasnya itu. namun, seturut apa yang sudah diusahakan oleh

20
I. Suharyo, Pengantar Injil Sinoptik (Yogyakarta: Kanisius, 1989), 13.
21
Ibid., I. Suharyo. hal. 13.
22
Ibid., hal. 15.
23
Ibid., hal. 49.
24
Lembaga Biblika Indonesia, Injil Markus (Yogyakarta: Kanisius, 1982, 9.
25
Ibid.
26
Ibid., hal. 10.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
mereka yang menelusuri rekam jejak sosok yang dianggap sebagai penulis Injil
Markus ini, merujuk pada sosok Markus yang diketahui merupakan murid dari Petrus.

Hal selanjutnya yang akan di dalami adalah mengenai tempat dan waktu
penulisan dari Injil Markus. Dalam hal ini, tempat penulisan tidak susah untuk
dijelaskan dan bahkan dapat diaktakan bahwa tempat penulisan Injil ini bisa
dibuktikan melalui beberapa kesaksian yang valid. Tidak seperti permasalahan akan
sosok penulis Injil, pencarian akan tempat penulisan Injil lebih membuahakan hasil
yang lebih bisa dipercaya, walaupun memang dari sisi sosok penulis atau pengarang
juga bisa saja dipercaya. Selain dari sosok bernama Papias Uskup yerusalem, adapula
dari beberapa kesaksian lain yang mengatakan dengan jelas bahwa tempat penulisan
Injil ini tidak lain adalah di Roma.27 Kepastian bahwa Roma menjadi tempat penulisan
dari Injil Markus, tidak lepas dari apa yang dituliskan dalam prolog Anti Marcion
pada tahun 160—180 M. disana tertulis bahwa Roma merupakan tempat dimana Injil
Markus ini dituliskan.28 Jika hendak melihat dari sisi waktu penulisan Injil Markus,
dapat dilihat bahwa waktu penulisan Injil ini tentunya sesudah wafat Petrus. Wafat
Petrus sendiri adalah pada saat pemerintahan Nero di tahun 64 atau 67 M. Maka,
diperkirakan bahwa penulisan Injil Markus itu ada dalam rentang waktu 65 dan 70
M.29

Setelah mengulik tentang penulis Injil, kemudian kita beralih ke tempat serta
waktu penulisan Injil, selanjutnya adalah tentang gaya penulisan Injil. Bila melihat
Injil Markus, tentu ada beberapa pendapat mengenai gaya penulisan yang terdapat
dalam Injil ini. Ada beberapa pembaca yang merasa bahwa Injil Markus memiliki
gaya penulisan yang khas.30 Dalam penulisan Injil tersebut, ada daya atau kekuatan
dalam setiap kata-kata yang tertulis dan menimbulkan suatu gaya yang khas dalam
Injil ini. Pengulangan akan peristiwa yang sama, tatabahasa yang dianggap tidak jelas,
dan pemotongan sebuah kalimat yang dirasa sering tiba-tiba, kerapkali muncul dalam
Injil ini. Dalam penulisan Injilnya, Markus pun senang menggunakan gaya lisan. 31
Selain itu banyak juga dalan cara penulisannya, Markus menggunakan kata

27
Ibid., Lembaga Biblika Indonesia. hal. 11.
28
Ibid.
29
Ibid.
30
Ibid., hal. 12.
31
Ibid.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
penghubung. Seperti ‘dan’ ‘pula’ lalu ‘segera’. Kata penghubung ini sampai terlihat
sebanyak 11 kali dalam bab pertamanya saja.32

Cara bercerita yang digunakan oleh Markus dirasa tidak basa-basi dan
terkesan disampaikan secara langsung ke poinnya. Dalam penulisan Injilnya, markus
dianggap memiliki kesetiaan terhadap sumber-sumber yang dimilikinya, dimana akan
terdapat beberapa hal yang memang ditemui dan langsung dimasukan. 33 Injil Markus,
aslinya tertulis dalam bahasa Yunani kuno.34 Setelah memahami gaya penulisan
Markus, selanjtnya adalah kita akan memahami kerangka dasar dari Injil Markus ini.
Pada dasarnya, inti yang ditawarkan dalam injil Markus adalah tentang pewartaan. 35
Dalam penulisan kerangka dasar injil Markus ada beberapa bagian yakni:36

 I. Pendahuluan (1:1-13)
 II. Karya Yesus di Galilea (1: 14-7:23)
 III. Perjalanan ke Tirus dan Sidon (7:24-9:49)
 IV. Perjalanan ke Yerusalem lewat sebrang sungai Yordan (10:1-52)
 V. Karya Yesus di Yerusalem (11:1-13:37)
 VI. Sengsara dan Kebangkitan (14:1-16:8)
 VII. Penutup (16:9-20)

Selain menggunakan pembagian diatas, dapat pula dibagi menjadi berikut: 37


Pada bagian pertama, bab 1-8 diuraikan mengenai karya Yesus di Galilea. Disitu
diceritakan bagaimana karya-karya Yesus dan didalamnya juga diselipkan bagaimana
sifat-sifat Yesus, kekuatan kepribadianNya dimunculkan. Deretan peristiwa dalam
bagian pertama ini, menjadi suatu dasar yang wajar jika pada akhirnya muncul suatu
pertanyaan “menurut kamu siapakah Aku ini?” dan kemudian, Petrus pun menjawab
“Engkau adalah Kristus” (Mrk 8: 29).
Dalam bagian kedua, hendak menekankan suatu segi yang baru, yakni
mengenai Anak Manusia harus menderita dan mati. Dalam bagian ini, Yesus pun
menubuatkan kematiannya hingga 3 kali. Seluruh bagian ini, hendak mempersiapkan

32
Ibid.
33
Ibid., Lembaga Biblika Indonesia. hal. 12.
34
Ibid.
35
Ibid., hal. 13.
36
Ibid., hal. 14.
37
Ibid., hal. 13.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
kisah sengsara, yang dimana kisah tersebut adalah kisah yang vital dalam keseluruhan
Injil ini. Injil ini, ditutup dengan kisah penampakan Kristus yang bangkit dan
menguatkan iman para pengikutNya. Secara umum, dapat dikatakan bahwa Markus
hendak menunjukan kepribadian Yesus sebagai Anak Allah. 38 Maka, disini sangat
jelas bahwa Markus setidaknya ingin memperlihatkan bahwa Yesus yang diimaninya
itu adalah Anak Allah. Perlu disadari pula bahwa dalam Markus, penyebutan yesus
sebagai Mesias itu sangat dihindari. Karena pada zaman itu, banyak pribadi yang
mengaku dirinya adalah Mesias.
Setidaknya, inilah yang bisa dituliskan sebagai bagian dalam memahami Injil
Markus. Pada dasarnya, bisa dikatakan bahwa Markus hendak menunjukan diri
Kristus sebagai Anak Allah. Namun, dalam Injil ini, beberapa ayat yang memang
menujukan bagaimana Yesus mewartakan dan mengumandangkan tentang Kerajaan
Allah. Hal inilah yang akan dibahas, apa itu Kerajaan Allah, kapan Kerajaan Allah
terwujudkan? Bagaimana Kerajaan Allah itu diwujudkan? Dan lain sebagainya. Untuk
mendalaminya, maka kita akan memulai untuk memahami apa itu Kerajaan Allah
secara luas yang tentu saja dalam pemahaman iman Kristiani.

Kerajaan Allah

Dalam buku Kerajaan Allah yang ditulis oleh John Fuellenbach, SVD, disana
terdapat 3 pendekatan dalam memahami apa itu Kerajaan Allah. Tiga pendekatan itu
adalah: Kerajaan Allah sebagai suatu konsep, Kerajaan Allah sebagai symbol, dan
Kerajaan Allah sebagai pembebasan.39 Dalam pendekatan yang pertama tentang
Kerajaan Allah, di dalam buku tersebut adalah Kerajaan Allah sebagai suatu konsep.
Artinya adalah ada suatu pengandaian bahwa pemahaman akan Kerajaan Allah itu
harus terarah pada suatu gagasan yang jekas dan konsisten. Contoh: misalnya
Kerajaan Allah adalah suatu intervensi Allah yang final, eskatologis dan yang
menentukan dalam sejarah Bangsa Israel dengan maksud memenuhi janji yang telah
diadakan dengan para nabi.
Walaupun, jika diperhatikan lagi secara lebi baik, Yesus sendiri pun tidak
pernah merumuskan Kerajaan itu dengan konsep-konsep yang spesifik. Dalam
pendektan Kerajaan Allah sebagai suatu konsep inipun ada 3 interpretasi konseptual
38
Ibid., Lembaga Biblika Indonesia. hal. 15.
39
Lih. John Feullenbach, Kerajaan Allah: Pesan Inti Ajaran Yesus Bagi Dunia Modern (Ende: Nusa
Indah, 2006), 76.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
yang bisa di pahami sebagai suatu bnetuk pendukung atas pendekatan pemahaman
Kerajaan Allah.40 Pertama, Kerajaan Allah dapat dilihat sebagai konsep teologi
spekulatif yang berusaha melihat apa yang dimaksudkan Yesus di balik ungkapan itu.
kedua, Kerajaan sebagai konsep apokaliptis, dengan maksud Yesus yang sudah jelas
dan pasti. Pandangan ketiga melihat Kerajaan sebagai konsep biblis dengan
ketegangan ‘kini-yang akan datang’ dalam ajaran Yesus tentang kerajaan.
Dalam pandangan filsuf lain seperti Kant, Lessing, Hegel, Hobbes, dan Locke,
41
semuanya juga memberikan interpretasi yang beraneka macam. Dikatakan bahwa
‘konsep’ ini bagaikan tempayan kosong yang secara bebas dapat diisi dengan isi dan
keyakinan menurut pilihan tiap orang. Dalam hal ini, bagi saya dapat dikatakan bahwa
pendekatan Kerajaan Allah sebagai suatu konsep ingin mengatakan bahwa Kerajaan
Allah itu adalah suatu konsep dimana didalamnya harus terdapat suatu gagasan yang
konkrit dan umat Allah dapat memaknaainya secara bebas seturut apa yang
diyakininya, namun, tentu saja tidak keluar dari apa yang sudah diajarkan Gereja dan
Yesus. Walaupun Yesus tidak pernah secara detail dalam menyampaikan pemaknaan
apa itu Kerajaan Allah. Yeus sering kali akan menggunakan perumpamaan.
Pendekatan yang kedua ialah Kerajaan Allah sebagai simbol. 42 Pendekatan ini
bisa dikatakan sebagai suatu pendekatan yang dianggap oleh para ahli sebagai
pendekatan yang lebih pas dalam pemahaman akan Kerajaan Allah. Para ahli pun
mengatakan bahwa ungkapan Kerajaan Allah itu lebih condong mengarah pada suatu
symbol daripada sebuah konsep. Kerajaan Allah sebagai suatu konsep itu dianggap
masih sempit, karena pada dasarnya simbol menurut definisinya, mendatangkan atau
menghadirkan keseluruhan wilayah suatu gagasan atau konsep. Kenyataan bahwa
Yesus sendiri seringkali mengungkapkan pemahaman akan Kerajaan Allah melalui
suatu perumpamaan dapat diartikan pula bahwa itu bagian dari suatu usaha
pemaknaan Kerajaan Allah melalui simbol.
Pendekatan yang ketiga adalah Kerajaan Allah sebagai pembebasan. 43
Pemahaman ini, hadir dalam kerangka pemikiran teologi pembebasan. Maka, daripada
dikatakan bahwa Kerajaan Allah itu suatu konsep ataupun suatu symbol, disini lebih
mengartikan bahwa Kerajaan Allah itu soal pembebasan historis. Dalam kehidupan
manusia, rentang waktu yang sudah berlalu tentu akan disebut sebagai sejarah.

40
Ibid.
41
Ibid., John Feullenbach, 76.
42
Ibid., hal. 77
43
Ibid.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
Berbicara mengenai sejarah, dalam sudut pandang Kristiani, sejarah dilihat sebagai
suatu aliansi antara Allah dengan manusia. 44 Allah diibaratkan sebagai tuan atas
sejarah, sedangkan manusia adalah pelaku dalam sejarah itu. seorang tokoh bernama
Berndyaev, mengatakan bahwa sejarah tidak boleh dikatakan sebagai suatu prestasi
yang murni manusiawi atau murni Ilahi. Sejarah itu terwujud karena adanya kerja
sama antara Allah dengan manusia. Dari prespektif inilah sejarah dilihat sebagai
‘Kerajaan Allah’ dimana ada intervensi Allah dan kehendak bebas manusia dalam
menjalankan perannya. Oleh karena inilah, Teologi pembebasan pun melihat bahwa
sejarah pembebasan yang terjadi dalam kehidupan manusia adalah suatu ‘Kerajaan
Allah’ pula. Seorang teolog, bernama Leonardo Boff, berpendapat bahwa Kerajaan
Allah itu menyiratkan suatu revolusi damai bagi manusia. Maka, melalui inilah ada
pendekatan Kerajaan Allah sebagai suatu pembebasan. Setelah melihat secara sekilas
beberapa pendekatan dalam memahami apa itu Kerajaan Allah, maka mari kita lihat
apa makna Kerajaan Allah yang dituliskan oleh penginjil Markus dalam Injil Markus
yang dituliskannya itu.

Kerajaan Allah Menurut Injil Markus

Secara umum, penyematan kata ‘Kerajaan Allah’ dalam Injil Markus ini
tidaklah banyak. Namun, bukan berarti pemaknaan atau keberadaan unsur Kerajaan
Allah dalam Injil ini tidak penting. Meskipun tidak banyak dikeluarkan, namun, ada
banyak pemaknaan akan Kerajaan Allah dalam Injil ini. Secara eksplisit, bisa kita
lihat bahwa istilah Kerajaan Allah itu muncul dalam Mrk1:14-15. Kata ini mucul saat
Yesus sedang berada di Galilea untuk melakukan pewartaan. Dari ayat ini, kita bisa
melihat makna dibalik Kerajaan Allah yang hendak diwartakan oleh Injil Markus.
Melalui ayat ini, dan ayat lainnya dalam Markus, mari kita lihat lebih dalam lagoi apa
iti Kerajaan Allah seturut dengan rumusan 5W+1H.

What: Apa makna Kerajaan Allah dalam Injil Markus

Pemaknaan Kerajaan Allah dalam Injil Markus, dapat dilihat dari Mrk 1:14-
15. Dalam ayat tersebut, tersimpan suatu pemaknaan akan Kerajaan Allah, yakni
Kerajaan Allah adalah suatu keselamatan yang diselenggarakan Allah bagi umatnya.
44
Ibid., hal. 78

PAGE \* MERGEFORMAT 1
Bagi saya secara pribadi, keselamatan ini, bisa juga diibaratkan sebagai suatu keadaan
yang setara bagi setiap orang, dimana di dalamnya akan ada kasih kepada sesama dan
kepedulian terhadap yang lain juga. Selain bermakna keselamatan yang diwujudkan
dalam diri Kristus melalui penebusan akan dosa manusia, supaya manusia selamat,
keadaan keselamatan ini juga dapat diartikan bahwa semua orang bisa merasakan
suatu keadaan yang damai dan terbebas dari segala penindasan dalam hal ini, saya
rasa bisa mengenai system kasta natara si kaya dan si miskin.
Pemaknaan keselamatan yang tidak hanya sekedar penebusan Kristus di kayu
salib, dapat ditemukan melalui ayat yang memunculkan kata Kerajaan Allah dalam
Injil Markus, tepatnya pada Mrk 10:23-25. Orang kaya yang sulit masuk kerajaan
Allah, disini ingin ditegaskan bahwa Kerajaan Allah dalam arti keselamatan itu akan
ada saat orang mau melepaskan diir dari keduniawian dan mau berbagi kepada
mereka yang membutuhkan, disini bagi saya ada sikap kasih yang harus berperan.
Maka, pemaknaan Kerajaan Allah dalam Injil Markus ingin memperlihatkan
bagaiaman Allah memberikan keselamatan dalam diri Kristus dan juga Allah ingin
agar keselamatan itu hadi dari kasih antara kita dan kepedulian kita pula terhadap
yang lain.

Who : Mengacu kepada siapakah Kerajaan Allah itu?

Dalam Mrk 1: 14-15, dalam ayat tersebut, diperlihatkan bahwa Yesus


mewartakan Kerajaan Allah di Gelilea, disana ingin diperlihatkan pula bahwa
Kerajaan Allah sudah datang dalam diri Yesus. Disana, Yesus berkata bahwa
Kerajaan Allah sudah dekat. Kata-kata tersebut, ingin menunjukan bahwa Kerajaan
Allah itu ada dalam diri-Nya sendiri dan telah datang dalam diri-Nya. Secara umum,
memang Kerajaan Allah itu mengacu pada diri Kristus yang hadir kedunia untuk
mnyempurnakan keselamatan yang dirancang oleh Allah.
Namun, dalam pandangan saya, selain mnegacu kepada Yesus, Kerajaan Allah
yang dimaknai sebagai keselamatan bagi semuanya, juga bisa mengacu pada kita
sebagai manusia. Kerajaan Allah dapat terwujud dalam diri kita yang bersikap kasih
dan peka terhadap sesama. Sehingga keselamatan dalam arti kesetaraan dan rasa aman
dapat hadir.

Where: Dimana Kerajaan Allah itu terwujud?


PAGE \* MERGEFORMAT 1
Dalam penjelasan mengenai makna Kerajaan Allah, dapat dilihat bahwa
keselamatan yang menjadi makna Kerajaan Allah itu ditujukan untuk manusia. Mrk
1:14-15, dan Mrk 10: 23-25 menjadi suatu gambaran bahwa sejatinya dunia dapat
dikatakan sebagai tempat dimana Kerajaan Allah itu terwujud. Perkataan Yesus yang
mengatakan “Kerajaan Allah sudah dekat” hendak memperlihatkan bahwa dirinya
yang ada;ah gambaran Kerajaan Allah sebagai tanda keselamatan telah hadir di dunia.
Sedangkan dalam Mrk 10:23-25, disana dikatakan bahwa orang kaya akan
sukar masuk Kerajaan Allah, disini ingin dinyatakan bahwa keselamatan tidak akan
dirasakan oleh si kaya karena dirinya tidak menampakan kasih bagi sesamanya yang
membutuhkan. Karena pada dasarnya keselamtan yang menunjukan Kerajaan Allah
tidak hanya sebatas kehadiran Yesus yang membawa penebusan.

When: Kapan Kerajaan Allah terealisasi?

Keberadaan kata Kerajaan Allah bukanlah baru muncul saat di Perjanjian


Baru. Dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam kitab nabi-nabi, Kerajaan Allah
sudah diwartakan. Disini, bisa dikatakan bahwa, Kerajaan Allah memang sudah genap
di dalam Perjanjian Lama. Namun, meskipun dapat dikatakan telah genap di
Perjanjian Lama, kegenapan itu belumlah utuh dan lengkap. Dalam Perjanjian Baru,
khususnya dalam diri Yesus;ah kepenuhan akan Kerajaan Allah itu tercipta.
Oleh karena itulah mengapa dalam Mrk 1:14-15, Yesus mengatakan bahwa
Waktunya sudah dekat. Karena DiriNya itu telah hadir dan akan menjadi suatu
penebusan demi terciptanya keselamatan yang tak lain juga dapat dikatakan
keselamaytan itu adalah Kerajaan Allah. Pada dasarnya, kegeapan akan Kerajaan
Allah sudah terealisasi pada saat kehadiran Kristus.

Why: Kenapa Injil Markus memiliki peran penting dalam pemaknaan akan
Kerajaan Allah?

Dalam penjelasan singkat mengenai Injil Markus, disana telah dikatakan


bahwa unsur penting dalam Injil Markus adalah mengenai Diri yesus sebagai sosok
central dan tentang pewartaan yang dilakukan oeh Yesus. Injil ini menjadi penting
dalam pemaknaan Kerajaan Allah karena pada dasarnya telah dikatakan bahwa
PAGE \* MERGEFORMAT 1
Kerajaan Allah itu mengacu pada sosok Yesus, dimana didalamnya Yesus ingin
mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan itu tidak lain adalah pemenuhan
DiriNya yang akan memberikan keselamatan sesuai dengan pemaknaan Kerajaan
Allah yang adalah keselamatan.
Kerajaan Allah yang ada dalam diri Yesus disampaikan begitu baik dalam Injil
Markus, sehingga melalui Injil inilah kita pun setidaknyabisa memahami pribadi
Yesus dan pemaknaan aka napa itu Kerajaan Allah yang adalah keselamatan.

How: Bagaimana Kerajaan Allah terealisasi?

Jika ditanya bagaimana Kerajaan Allah terealisasi, maka itu dapat kita lihat
dari Mrk 1:14-15 dan juga Mrk 10:23-25. Dalam Mrk 1:14-15, disana terdapat
pernyataan “sudah dekat” pernyataan ini mengandaikan bahwa memang sudah datang
tetapi belum sepenuhnya terpenuhi. Supaya Kerajaan Allah ini terpenuhi maka aka
nada dua syarat yang menyertainya. Dua syarat itu adalah pertobatan dan percaya
kepada Yesus Sang Sabda yang telah datang untuk memberikan Diri untuk penebusan
yang menyelamatkan manusia. Selain itu, Kerajaan Allah pun hadir jika diantara kita
mampu mencontoh keteladanan Yesus yang menolong dan memberikan kasih kepada
sesama yang membutuhkannya.
Disitulah Kerajaan Allah akan sungguh hadir dan Allah meraja bagi kita di
dunia. Ada beberapa contoh bagiaman Kerajaan Allah hadir dalam keteladanan sosok
Yesus di Injil Markus ini, antara lain adalah

1. “Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya,


katanya: "Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa.
Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya” (Mrk
1:27) Kerajaan Allah hadir dalam Kuasa Yesus atas Roh-roh jahat.
2. “Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia
membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu
melayani mereka.” (Mrk 1:31) Kerajaan Allah hadir dalam kuasa Yesus
menyembuhkan penyakit.
3. “Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai
laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama
mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi
PAGE \* MERGEFORMAT 1
waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu
itulah mereka akan berpuasa” (Mrk 2 19-20) Kerajaan Allah hadir dalam
sosok mempelai laki-laki, dan itu adalah Yesus sendiri
4. “Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-
Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan” (Mrk
3:14-15) Kerajaan Allah hadir dalam pemilihan, perutusan dan pemberian
kuasa mengusir setan kepada para rasul.
5. “Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, x
tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam
perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap,
sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan
berbalik dan mendapat ampun.” (Mrk 4:11-12) Kerajaan Allah hadir
dalam perumpamaan yang dikatakan yesus, sebagai suatu rahasia.
6. “Lalu kata Yesus: "Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang
yang menaburkan benih di tanah. lalu pada malam hari ia tidur dan pada
siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu
makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.” (Mrk
4 :26-27) Kerajaan Allah hadir secara diam-diam, seperti cara kerja Allah.
7. “Kata-Nya lagi: "Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan
Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita
menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang
ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala
jenis benih yang ada di bumi.” (Mrk 4:30-31) Kerajaan Allah itu seperti
biji sesawi, kecil tapi akan menjadi besar.
8. Ia bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"
Maka jawab Petrus: "Engkau adalah Mesias! (Mrk 8:29) Kerajaan Allah
hadir melalui pernyataan agung petrus atas pribadi Yesus.
9. “Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di
tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak
Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam
kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus." (Mrk 8:38)
Kehadiran Kerajaan Allah hadir kelak saat Yesus datang dalam kemulian-
Nya.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
10. Kata-Nya lagi kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di
antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka
melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa (Mrk 9:1)
Kerajaan Allah hadir dengan kuasa. Mereka yang menerima Yesus akan
melihatnya.
11. "Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya
ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya
lalu ia dibuang ke dalam laut. Dan jika tanganmu menyesatkan engkau,
penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan
tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam
neraka ke dalam api yang tak terpadamkan; (di tempat itu ulatnya tidak
akan mati, dan apinya tidak akan padam.) Dan jika kakimu menyesatkan
engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup
dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke
dalam neraka; (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak
akan padam.) Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena
lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu
dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, (Mrk 9:42-
47) Kerajaan Allah tidak akan hadir pada mereka yang meyesatkan
sesamanya.
12. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka:
"Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi
mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan
Allah Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak
menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil , ia tidak akan
masuk ke dalamnya." (Mrk 10:14-15) Kerajaan Allah hadir dalam
penyambutan seorang anak kecil.
13. …"Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah …
ss” (Mrk 10:17-30) Kerajaan Allah tidak hadir pada orang kaya yang
masih terikat dengan duniawi.
14. … “Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku
tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang
bagi siapa itu telah disediakan." (Mrk 10: 37-40) Kerajaan Allah tersedia
bagi mereka yang memenuhi syarat-syaratnya
PAGE \* MERGEFORMAT 1
15. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk
melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak
orang. (Mrk 10:45) Kerajaan Allah hadir dalam tindakan melayani.
16. Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang mengikuti dari
belakang berseru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama
Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud,
hosana di tempat yang maha tinggi! (Mrk 11:9-10) Kerajaan Allah hadir
seperti pujian kepada kerajaan Daud.
17. Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata
kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah! " Dan seorangpun
tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:34)
Kerajaan Allah hadir seperti kasih yang dipahami seorang guru.
18. Pilatus bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi? " Jawab
Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." (Mrk 15:2.9.12.18.26.32)
Kerajaan Allah hadir dalam Kristus yang tersalib.
19. Sementara itu hari mulai malam, dan hari itu adalah hari persiapan, yaitu
hari menjelang Sabat. Karena itu Yusuf, orang Arimatea, seorang anggota
Majelis Besar yang terkemuka, yang juga menanti-nantikan Kerajaan
Allah, memberanikan diri menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus.
(Mrk 15:42-43) kerajaan Allah dinantikan Yususf dari Arimatea yang
menunjukan sikap tepat dalam menanti Kerajaan Allah.

Simpulan

Kerajaan Allah bukanlah suatu pembahasan baru dalam kalangan Umat Allah.
Beberapa ahli pun telah mencoba menafsirkan ap aitu Kerajaan Allah. Tidak
terkecuali para Nabi dalam Perjanjian Lama dan para penginjil dalam Perjanjian Baru
pun turut memberikan pemaham dan pemaknaan tentang ap aitu Kerajaan Allah.
Dalam penulisan ini, telah dibahas mengenai ap aitu Kerajaan Allah menurut Injil
Markus dalam rumusan 5W+1H. melaluinya, kita dibawa pada suatu bentuk
pemahaman bahwa Kerajaan Allah menurut penginjil Markus adalah tentang
Keselamatan yang hadir dalam sosok Yesus yang juga merupakan inti dari penulisan
Injil Markus itu sendiri.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
Keselamatan yang merupakan pemaknaan akan Kerajaan Allah ini, memang
terutama tentang bagaimana Yesus yang rela mengorbankan nyawa demi menebus
dosa manusia, sehingga manusia mendapatkan keselamatan. Namun, disisi lain, juga
keselamatan dalam pemaknaan Kerajaan Allah disini pun tentang bagaimana kita
sebagai manusia mampu bersikap percaya kepada Kristus dan meneladaninya
sehingga dari situlah kita bisa membawa diri kita ini untuk mampu bersikap peka
kepada sekitar serta membawa kasih kepada sesama. Mengapa ini penting, karena
syarat agar terciptanya Kerajaan Allah yang adalah keselamatan itu adalah tentang
bagaimana kita bisa percaya dan menebarkan kasih kepada sesama. Inilah Kerajaan
Allah menurut penginjil Markus dalam Perjanjian Baru.

Nama: Eduardus Krisna Pamungkas


NPM: 8122001004
Tugas Mata Kuliah Kerajaan Allah Dan Paradigmanya

KERAJAAN ALLAH MENURUT INJIL LUKAS

A. Pengantar
Kerajaan Allah merupakan inti dari pewartaan yang disampaikan
Yesus kepada dunia. Oleh karena itu, Yesus selalu mengatakan bahwa
Kerajaan Allah sudah dekat. Artinya, bahwa kedatangan Yesus di dunia adalah
untuk menyampaikan bahwa Kerajaan Allah telah ada di dunia. Di dalam
Kitab Suci, mungkin tidak semua kitab menuliskan secara gamblang mengenai
Kerajaan Allah itu apa, siapa yang membawa dan memerintah, dan untuk apa
Kerajaan itu dibawa ke dunia. Salah satunya adalah Injil Lukas. Injil Lukas
tidak secara tegas dan gamblang menjelaskan mengenai Kerajaan Allah. Akan
tetapi, mungkin makna dan arti dari Kerajaan Allah ini tersematkan secara
implisit di dalam Injil Lukas. Paper ini hendak menggali bagaimana penginjil
Lukas mencoba menggambarkan dan memaknai Kerajaan Allah yang
diwartakan Yesus kepada manusia.

B. Seputar Injil Lukas

PAGE \* MERGEFORMAT 1
Injil Lukas merupakan salah satu dari ke empat injil, yang diletakkan
di antara Injil Markus dan Injil Yohanes. Injil Lukas adalah bagian pertama
dari suatu karya yang terdiri dari dua bagian, yakni Injil Lukas dan Kisah Para
Rasul. Korelasi keduanya nampak oleh karena “Keduanya mulai dengan
menyapa orang yang sama, Teofilus (Luk. 1:1; Kis. 1:1). 45 Akan tetapi,
sebelum masuk kepada isi dari Injil Lukas ini, perlu dipahami dan diketahui
siapakah pengarang injil ini dan latar belakang penulisan injil ini.
Berdasarkan dari tradisi Kristen kuno, Injil Lukas dan Kisah Para
Rasul ditulis oleh seorang tabib yang bernama Lukas. Injil Lukas dan Kisah
Para Rasul ditulis oleh Lukas, seorang tabib yang bukan keturunan Yahudi,
seorang teman seperjalanan Paulus (Kol. 4:14; Flm. 24; 2Tim. 4:11). 46 Dengan
demikian, Lukas, yang diyakini sebagai penulis Injil Lukas dan Kisah Para
Rasul, merupakan seorang tabib, bukan keturunan Yahudi, dan rekan kerja
Paulus. Dalam surat yang dikirim oleh Paulus kepada Filemon tertulis: Salam
kepadamu … dari Markus, Aristarkhus, Demas dan Lukas, teman-teman
sekerjaku (ay. 24).47 Dengan demikian, semakin tegas bahwa Lukas adalah
rekan kerja dari Paulus. Pada Kol 4:10-14 teman sekerja Paulus digolongkan
menjadi dua, yaitu mereka yang bersunat (at. 10-11) dan yang tidak bersunat,
termasuk Lukas (ay. 12-14).48 Akan tetapi, meskipun penulis Injil Lukas dan
Kisah Para Rasul ini diduga dan diyakini adalah seseorang yang benar-benar
bernama Lukas, masih ada kecurigaan bahwa tradisi itu dugaan belaka.49
Lebih dari itu, berdasarkan dari tulisan Injil Lukas dan Kisah Para
Rasul dapat dikatakan bahwa “Ia seorang Kristen, generasi kedua, yang mahir
dalam Alkitab Perjanjian Lama dan mempunyai minat besar terhadap tradisi
Kristen dari masa yang lampau”.50 Sebagai tabib pun telah menunjukkan
bahwa Lukas adalah seorang yang terpelajar dan melalui tulisannya juga dapat
disimpulkan bahwa Lukas itu tajam, teliti, dan terbuka. 51 Selain itu, jelas juga
bahwa dia telah menemani karya Paulus dalam pewartaan Kristus.

45
Martin Harun, OFM, Lukas: Injil Kaum Marginal (Yogyakarta: Kanisius, 2019) 11.
46
Ibid., 15
47
I. Suharyo, Pr, Pengantar Injil Sinoptik (Yogyakarta: Kanisius, 1989) 111.
48
Ibid., 110.
49
Dr. C. Groenen OFM, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 1984) 124.
50
Ibid., 125.
51
Lembaka Biblika Indonesia, Injil Lukas (Yogyakarta: Kanisius, 1981) 11.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
Terkait dengan waktu penulisan, setidaknya ada dua kemungkinan
bahwa Injil Lukas ini ditulis pada tahun 60-62 dan antara tahun 80-90.
Kemungkinan kedua, yakni antara tahun 80-90, lebih umum diterima
dikalangan para penafsir. Hal ini berdasarkan pada Luk. 19:43; 21:20.24.
apabila dibandingkan dengan Mrk. 13:14 (terkait Yesus menubuatkan
kehancuran Bait Allah), teks yang sejajar adalah dengan Luk. 21:20. “Teks
sejajar pada Luk. 21:20 berbunyi: Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung
oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat. Kemudian
ayat 24 menambahkan bahwa mereka akan tewas oleh mata pedang dan
dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak
oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman
bangsa-bangsa itu (bdk. Luk 19:43st)”52. Ini menggambarkan situasi yang
terjadi pada kehancuran Yerusalem pada tahun 70. Maka para penafsir
berpendapat bahwa teks ini hanya dapat ditulis sesudah peristiwa itu terjadi,
sebagai vatinicium ex eventu (= nubuat yang didasarkan pada peristiwa yang
sudah terjadi, untuk menunjukkan kepada pembaca bahwa nubuat Yesus
sungguh terpenuhi).53 Melalui gambaran ini, dapat ditarik suatu ide bahwa
penulisan dari Injil Lukas ini ditulis setelah kehancuran Yerusalem, dan
diperkirakan terjadi sekitar tahun 80-90.
Setiap tulisan dibuat pasti memiliki suatu tujuan. Tujuan penulisan Injil
Lukas terungkap di bagian awal atau pengantar injil. Telah diketahui bahwa
pada bagian awal injil ditemukan seorang bernama Teofilus. Di sana, ia
menulis bahwa Injil itu ditulis supaya engkau (Teofilus) dapat mengetahui
jaminan (kebenaran) atas apa yang diajarkan kepadamu. 54 Lebih jauh,
Fitzmyer menyatakan bahwa Lukas menulis dalam periode Gereja dan
bermaksud untuk meyakinkan Teofilus dan pembaca-pembaca yang lain
seperti dia bahwa apa yang diajarkan dan dipraktikkan oleh Gereja pada waktu
itu berakar pada periode Yesus, untuk meneguhkan mereka dalam kesetiaan
akan ajaran dan praktik Gereja.55 Oleh karena itu, jaminan yang akan diberikan
adalah jaminan doktrinal dan didaktik: untuk menjelaskan bagaimana

52
I. Suharyo, Pr, Pengantar Injil Sinoptik (Yogyakarta: Kanisius, 1989) 112.
53
Ibid., 113.
54
St. Eko Riyadi, Pr, Lukas: Sungguh, Orang Ini adalah Orang Benar (Yogyakarta: Kanisius, 2011)
16.
55
Ibid.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
keselamatan Allah yang pada awalnya ditawarkan kepada Israel dalam
pelayanan dan pribadi Yesus dari Nazaret telah tersebar sebagai Sabda Allah
bagi orang-orang non-Yahudi sampai ujung dunia. 56 Dengan demikian, penulis
Injil Lukas menuliskan injil ini dengan maksud untu membantu orang-orang
(seperti Teofilus) untuk bisa memahami dan yakin dengan kebenaran yang
diwartakan kepada mereka. Tulisannya dimaksudkan untuk membantu para
pembaca atau pendengar Kristen untuk berpegang pada pemahaman mereka
akan Yesus terutama ketika beredar banyak berita yang bermacam-macam
tentang Yesus.57
Dalam menuliskan injil, tidak dapat dipungkiri bahwa konteks dan situasi
yang sedang terjadi juga menjadi salah satu acuan akan seperti apa dan
ditujukan kepada siapa tulisan yang dibuat tersebut. Injil Lukas juga ditulis
berdasarkan situasi dan konteks yang sedang dialami oleh jemaat Kristen pada
waktu itu. Berdasarkan dari apa yang telah dijelaskan di dalam tujuan
penulisan, bahwa Injil Lukas ditulis untuk membantu orang-orang non-Yahudi
agar meyakini bahwa warta yang mereka dengar adalah benar. Dengan
demikian, sidang pembaca Luk adalah suatu jemaat yang berbahasa Yunani
dan mereka bukan keturunan Yahudi.58 Hal ini didasarkan pada tulisan Lukas
yang tidak terlalu memperhatikan tradisi Yahudi, menggunakan gaya sastra
Yunani, dan mengganti istilah-istilah Aram dengan bahasa yang mudah
dipahami oleh orang bukan Yahudi. Berdasarkan dari ketiga hal tersebut,
semua ini mengarah pada hipotesis bahwa Lukas menuliskan buku-bukunya
untuk orang-orang non-Yahudi di daerah non-Yahudi yang sudah menerima
warta Injil secara langsung atau tidak langsung dari pelayanan misi Paulus.59

C. Tema-tema Besar Injil Lukas


Meskipun setiap injil hendak mewartakan Kristus dan karya
penyelamatan yang Dia lakukan, tiap pengarang mengembangkan pandangan
lain karena didasarkan pula dari hasil refleksi pribadi para penulis. Dalam Injil
Lukas setidaknya terdapat beberapa tema besar. Pertama, keselamatan bagi

56
Ibid.
57
Ibid., 17.
58
Dr. C. Groenen OFM, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 1984) 122.
59
St. Eko Riyadi, Pr, Lukas: Sungguh, Orang Ini adalah Orang Benar (Yogyakarta: Kanisius, 2011)
23.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
semua orang. Apa yang hendak disampaikan di sini adalah bahwa Kristus
membuka rahmat keselamatan bagi semua orang. Memang, ada kisah di mana
karya pewartaan ditolak. Akan tetapi, Lukas tetap menekankan bahwa Yesus
tetap terbuka bagi orang Yahudi yang kembali kepada-Nya (Kis 3:17-20).60
Tema kedua adalah belas kasih dan pengampunan. Tema ini sudah
ditunjukkan sebagai sifat khas dari penggambaran Lukas mengenai Yesus. 61
Seringkali, dalam Injil Lukas akan ditemukan di mana Yesus memberikan
pengampunan dan membantu mereka yang miskin, tersisih, dan berdosa.
Misalnya, para gembala yang datang ketika Yesus lahir (2:8-18), Yesus
menyambut wanita yang bertobat diperjamuan orang Farisi (7:36-50),
kebaikan orang Samaria (10:30-37), kunjungan Yesus kepada pemungut cukai
(19:1-10), dan lain-lain. Tema yang ketiga adalah kegembiraan. Injil Lukas
menunjukkan kegembiraan atas karya keselamatan Allah di dunia.
Kegembiraan mengalir dari suatu kepercayaan terhadap kasih Allah dan belas
kasih-Nya seperti ditunjukkan dalam pengajaran dan tindakan Yesus.62
Tema yang keempat adalah perjalanan. Perutusan Yesus disajikan
sebagai kelanjutan dan puncak dari “jalan Tuhan”, yang dimulai ketika
Abraham meninggalkan tanah airnya, dan dilanjutkan dengan keluaran dari
Mesir yang dipimpin oleh Musa dan kelak kembali dari pembuangan Babel. 63
Maka, dalam penulisannya, Lukas menggunakan tema perjalanan untuk
menyusun bagian inti dari injilnya (lih. 9:51-19:44). Tema yang kelima adalah
kehidupan Kristen modern. Lukas membut ajaran Yesus dapat diterapkan
dalam kehidupan pembaca kelas menengah dalam suatu masyarakat
kosmopolit.64 Di sini, ingin dijelaskan bahwa seorang warga negara yang baik
selaras dengan apa yang diajarkan dalam kekristenan. Yesus sendiri pun
ditunjukkan sebagai warga negara yang baik dan taat.
Tema keenam adalah pemenuhan nubuat. Karya penyelamatan telah
sejak lama dinubuatkan oleh Allah melalui para abdi-Nya. Lukas mengikutip
banyak dari Perjanjaian Lama agar para pembacanya yang dari luar Yahudi
bisa memahami proses dari karya keselamatan Allah. Salib, yakni jalan

60
Lembaga Biblika Indonesia, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 2002) 114.
61
Ibid.
62
Ibid., 115.
63
Ibid.
64
Ibid.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
kesengsaraan, merupakan teka-teki bagi pembaca Yunani: betapa tidak masuk
akal bahwa Penebus, Anak Allah, dan Raja, diperlakukan dengan sangat
memalukan.65 Orang-orang Yunani melihat tindakan itu sebagai sesuatu yang
tidak logis. Akan tetapi, Lukas terus menegaskan bahwa pengorbanan itu
harus. Lukas kerap mengulangi bahwa kesengsaraan memang “harus”, itu
adalah jalan kepada kemuliaan (Luk 18:31-33;24:26). 66 Tema ketujuh adalah
kenaikan. Lukas memahami bahwa tujuan dari perutusan Yesus ke dunia
adalah kenaikan (naik dari dunia) (Luk 9:51; 24:51). Kenaikan menentukan
bagi tindakan penyelamatan Yesus, karena lewat pemuliaan-Nya ini Roh
Kudus dicurahkan kepada Gereja (Kis 2:33) dan keselamatan terbuka bagi
semua orang.

D. Kerajaan Allah Menurut Injil Lukas


Di dalam keempat injil, seringkali akan ditemukan pewartaan Yesus
mengenai Kerajaan Allah. Tiap-tiap kali, Yesus mengatakan bahwa umat
manusia harus selalu bersiap dan bertobat, karena Kerajaan Allah sudah dekat.
Penggunaan istilah kerajaan ini menjadi wajar karena dalam
perkembangannya, bangsa Israel menggunakan sistem pemerintahan kerajaan,
dan bahkan untuk menggambarkan kuasa Allah pun digunakan istilah Raja.
Bagi Israel Allah adalah satu-satunya raja, sedangkan raja di dunia ini adalah
wakil-Nya.67 Akan tetapi, dalam perjalanannya kerajaan Israel mengalami
keruntuhan. Namun, harapan mesianis dan nubuat bahwa Allah akan
menegakkan kerajaan-Nya tetap ada. Digambarkan, Allah akan menegakkan
kerajaan-Nya dengan perantaraan utusan-Nya, yaitu sang Mesias. 68 Umat
Israel menanti kedatangan mesias untuk membawa pembebasan bagi mereka.
Pembebasan yang diharapkan oleh bangsa Israel adalah kemerdekaan dari
bangsa lain dan penghancuran musuh. Tetapi, Kerajaan Allah yang kemudian
dihadirkan di dunia oleh Yesus sang Mesias ternyata memiliki makna yang
jauh lebih dalam. Oleh karena itu, Yesus hendak memaklumkan Kerajaan
Allah agar semakin dimengerti oleh seluruh umat.

65
Ibid.
66
Ibid.
67
I. Suharyo, Pr, Pengantar Injil Sinoptik (Yogyakarta: Kanisius, 1989) 135.
68
Ibid.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
Di dalam Injil Lukas, Yesus mewartakan Kerajaan Allah dengan tidak
gamblang. Yesus tidak mengajarkan dan memberitahukan kepada para murid
maupun orang banyak mengenai apa itu Kerajaan Allah, siapa yang
membangun dan memerintah, di manakah letaknya, dan lain sebagainya.
Apabila dibawa pada masa kini, setiap orang pun belum tentu bisa memahami
makna Kerajaan Allah yang ada di Injil Lukas. Oleh karena itu, penulis
hendak menganalisis melalui beberapa pertanyaan untuk bisa memahami
mengenai Kerajaan Allah yang tertuang di dalam Injil Lukas.

Apa itu Kerajaan Allah?


Ketika bertanya “apa”, tentu saja jawaban yang dicari adalah sesuatu
yang pasti, bersifat definitif dan memiliki bentuk nyata, yang bisa ditangkap
oleh indra manusia. Akan tetapi, ketika ditanyakan mengenai “Apa itu
Kerajaan Allah?” tidak ada jawaban memadai untuk menjelaskannya. Tetapi,
dapat dipastikan bahwa Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus ini
bukanlah kerajaan dalam bentuk fisik, melainkan kerajaan yang bersifat
spiritual.
Kehadiran Yesus Kristus di dunia, sebagai Mesias, dapat dikatakan
sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah di dunia. Bagi Lukas, gelar Mesias
menunjuk kepada Yesus sebagai utusan Allah yang membawa keselamatan
Kerajaan Allah dengan cara baru, sebagaimana diungkapkan Simeon:
keselamatan dan penyataan bagi bangsa-bangsa; dan juga dengan menjadi
tanda perbantahan yang menjatuhkan dan membangkitkan (2:26, 29-35).69
Penggunaan istilah “cara baru” dalam proyek keselamatan, artinya bahwa
kedatangan Yesus, yang juga membawa Kerajaan Allah, hendak menunjukkan
kuasa Allah dan hendak memberikan pembebasan yang bukan secara politis.
Jawaban Yesus atas permintaan orang jahat, “Yesus, ingatlah akan aku,
apabila Engkau datan sebagai Raja,” menunjukkan bahwa Lukas menampilkan
Yesus sebagai Raja Penyelamat dan bukan raja politis yang menentang Kaisar,
tuduhan yang diperiksa Pilatus (bdk. Juga Kis 17:7). 70 Seluruh sebutan untuk
Yesus sebagai Raja Mesias keturunan Daud dalam Lukas menunjuk kepada

69
Martin Harun, OFM, Lukas: Injil Kaum Marginal (Yogyakarta: Kanisius, 2019) 37.
70
Ibid., 38.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
peran Yesus dalam rencana penyelamatan Allah.71 Maka, di sini bisa dipahami
bahwa “apa itu Kerajaan Allah?”, menunjuk pada kedatangan Sang Mesias,
yakni Yesus Kristus yang datang ke dunia untuk memaklumkan Kerajaan
Allah dan dapat dipahami pula bahwa Kerajaan Allah ini menunjuk pada
proyek keselamatan yang diberikan Allah melalui diri Yesus. Yesus datang ke
dunia ini dengan satu tujuan, yakni untuk menegakkan Kerajaan Allah. Ketika
Allah telah meraja, berarti di situlah Kerajaan Allah ada. Misalnya, dalam Luk
4:31-44 Yesus melakukan penyembuhan dan pengusiran setan. Bahwa
pengusiran setan dan penyembuhan terjadi pada hari Sabat ini memiliki makna
penting: merajanya Allah terwujud secara jelas pada hari Tuhan, yaitu saat
ketika akhir zaman datang yang berpuncak pada pertempuran yang
menentukan antara Allah dengan kuasa jahat. 72 Sama halnya dalam Luk 9:37-
50 bahwa sekali lagi Yesus menampakkan kuasa Allah yang meraja atas diri
seorang laki-laki yang dirasuki roh. Dikatakan di situ “Maka takjublah semua
orang itu karena kebesaran Allah” (lih. 9:43a).

Di manakah Kerajaan Allah?


Sama halnya dengan apa yang telah disampaikan sebelumnya, bahwa
Kerajaan Allah tidak memiliki bentuk nyata. Kerajaan Allah hadir dalam
bentuk yang sama sekali di luar pemahaman diri manusia. Dalam Luk 17:20-
21 dituliskan:

“Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabilan Kerajaan Allah akan


datang, Yesus menjawab, kata-Nya: “Kerajaan Allah datang tanpa
tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia
ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah
ada di antara kamu.”
Dalam ayat-ayat ini, dapat diambil suatu pengertian bahwa Kerajaan
Allah tidak memiliki tanda-tanda lahiriah (bentuk nyata). Oleh karena itu,
manusia tidak bisa melihat, merasakan, dan memahaminya dengan indra.
Akan tetapi, yang menarik di sini adalah bahwa Yesus mengatakan di
manakah Kerajaan Allah itu berada. Dikatakan dalam ayat 21 “Sebab

71
Ibid.
72
Daniel Durken (Editor), Tafsir Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 2018) 382.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
susungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu”. Dapat dipahami bahwa
Kerajan Allah tersebut berada di sekitar dan dekat dengan kehidupan manusia.
Akan tetapi, seringkali manusia tidak memahami dan terus mencari bentuk
fisik dari Kerajaan Allah ini. Hal ini terwakilkan oleh orang-orang Farisi yang
masih bertanya kepada Yesus soal Kerajaan Allah. Padahal, orang Farisi
sendiri telah melihat karya Yesus yang menjadi tanda kehadiran Kerajaan
Allah di dunia. Tetapi, orang Farisi tidak melihatnya. “Karena itu Yesus
menanggapi pertanyaan mereka dengan tegas: Kerajaan Allah tidak dapat
ditangkap dengan mata jasmani! Sebab Kerajaan itu adalah perkara ilahi,
sehingga menuntut adanya iman, ‘mata khusus’! Kerajaan Allah sekarang
sudah ada di antara kamu, hai Farisi! Allah sekarang juga dengan penuh kuasa
berkarya di antara kamu”.73 Kehadiran Yesus adalah tanda kehadiran Kerajaan
Allah. Karya, tindakan, dan pelayanan yang dilakukan Yesus menunjukkan
bahwa Kerajaan Allah telah ada. Maka, dapat dikatakan bahwa “di manakah
Kerajaan Allah itu berada?”, Kerajaan Allah berada di dalam diri Yesus dan di
dalam setiap tindakan, karya, dan pelayanan yang Yesus lakukan. Yesus
berkata bahwa Kerajaan Allah “sudah ada” (Mat 12:28 / / Luk 11:20; lih. Luk
17:21), yakni dalam diri Yesus sendiri, khususnya dalam kekuasaan-Nya
mengusir setan.74 Itulah mengapa dikatakan Kerajaan Allah berada “di antara
kamu”. Artinya bahwa “Dalam sabda dan karya Yesus karya Allah yang
definitif dan terakhir mendatang manusia.75

Kapan kedatangan Kerajaan Allah itu terjadi?


Ketika bertanya mengenai kapan, jawaban yang diperlukan adalah
jawaban yang terkait soal waktu. Berbicara mengenai waktu berarti juga
berbicara mengenai kepastian dan ketepatan. Oleh karena itu, manusia
seringkali meminta kejelasan mengenai saat sesuatu akan berlangsung, terjadi,
dan lain sebagainya, untuk bisa berjaga dan bersiap. Akan tetapi, ini tidak
berlaku untuk waktu kedatangan Kerajaan Allah.
Sama halnya dengan injil-injil yang lain, Lukas juga menuliskan terkait
dengan kedatangan Yesus untuk menegakkan Kerajaan Allah. Terkait dengan
waktu, terdapat ketidaksesuaian yang terjadi karena Lukas menunjukkan
73
Stefan Leks, Yesus Kristus menurut Keempat Injil Jilid 6 (Yogyakarta: Kanisius, 1990) 213.
74
Dr. T. Jacobs S.Y, Siapa Yesus Kristus menurut Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 1982) 208.
75
Ibid.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
adanya dua masa, sekarang (akan segara datang) dan yang akan datang (tidak
akan segera datang). “Beberapa ucapan mengungkapkan bahwa Kerajaan
Allah itu akan segera datang (9,27; 10,9. 11; 21,31-32.36). Ucapan-ucapan
yang lain mengungkapkan bahwa Kerajaan Allah belum akan segera datang
(12,45; 18,7-8; 19,11)”.76
Terlepas dari kedua masa tersebut, kedatangan Kerajaan Allah tidak
dapat diprediksi dan dipastikan. Bisa kembali dilihat dalam Luk 17:20-21, di
mana orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus mengenai kapan Kerajaan
Allah itu akan datang. Yesus menekankan bahwa kedatangan Kerajaan Allah
itu tanpa tanda (ay. 20). Tetapi, Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah itu
sudah ada di antara kamu (ay. 21). Namun, dalam ayat-ayat berikutnya akan
ditemukan jawaban yang cukup berbeda. Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, Yesus menjawab bahwa Kerajaan Allah itu sudah ada, tetapi juga
nanti. Ketika Ia berjalan menuju Yerusalem, pertanyaan muncul, kapan
Kerajaan Allah itu akan datang? Yesus menjawab bahwa Kerajaan Allah
sudah hadir (ay. 20-21) dan kemudian berbicara mengenai pendirian Kerajaan
Allah yang definitif pada akhir zaman (ay. 22-37).77 Ada ketidaksesuaian yang
terjadi mengenai kapan Kerajaan Allah ini akan datang. Maka, Lukas berusaha
untuk menyeimbangkan antara Kerajaan Allah yang sudah ada dan yang akan
datang nanti. Dan Lukas ingin menciptakan keseimbangan pada harapan yang
berlebih-lebihan akan Parousia atau kedatangan Yesus yang kedua dengan
menekankan bahawa Kerajaan Allah sudah hadir.78
Dengan demikian jelas bahwa Yesus bukan bermaksud untuk
menjelaskan mengenai kapan tepatnya Kerajaan Allah itu akan datang. Yesus
lebih mengharapkan bahwa orang-orang dapat lebih melihat Kerajaan Allah
yang sudah hadir saat ini. Pelayanan Yesus adalah tanda jelas bahwa Kerajaan
Allah sudah mulai.79 Yesus mengajak agar orang-orang tidak perlu mencari
kepastian dan risau mengenai kapan saatnya atau waktunya akan tiba. Tidak
peduli betapa jelasnya Yesus mengatakan bahwa akhir zaman tidak dapat
dihitung (ay. 20; Mrk 13:32-33) dan bahwa saatnya bukanlah hal yang patut

76
St. Eko Riyadi, Pr, Lukas: Sungguh, Orang Ini adalah Orang Benar (Yogyakarta: Kanisius, 2011)
29.
77
Lembaga Biblika Indonesia, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 2002) 147.
78
Lembaka Biblika Indonesia, Injil Lukas (Yogyakarta: Kanisius, 1981) 183.
79
Lembaga Biblika Indonesia, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 2002) 147.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
digelisahkan (Kis 1:2-8).80 Yesus melihat ini sebagai kesia-siaan dan
membuang waktu. Yesus lebih meminta agar para murid menyadari bahwa
Kerajaan Allah sudah dimulai melalui diri Yesus dan selalu berjaga-jaga dan
bersiap-siap selalu kapan saatnya tiba. Waspadalah, Kerajaan Allah sudah ada
di tengah-tengah kamu; jika kamu tidak memperhatikan Kerajaan-Nya yang
sudah hadir, kamu tidak akan siap untuk kedatangan kembali Anak Manusia
jika hal itu terjadi.81

Siapa yang akan menerima Kerajaan Allah?


Ketika kita bertanya “siapa”, tentu saja jawabannya merujuk pada
seorang subjek. Kita telah menemukan bahwa siapa yang membawa Kerajaan
Allah itu adalah Yesus Kristus sendiri dan sekaligus pewartanya.
Pengembangan pertanyaannya adalah kepada siapakah Kerajaan Allah itu
diberikan? Siapakah yang akan menerima Kerajaan tersebut?
Kalau melihat bahwa Injil Lukas ini adalah injil kaum marginal, dapat
dikatakan bahwa mereka yang akan menerima atau yang akan masuk ke dalam
Kerajaan Allah adalah orang-orang kecil, miskin, tersingkir, dan berdosa. Ini
karena mereka inilah yang kemudian memiliki kesadaran untuk bertobat dan
mau mengikut Yesus dengan sepenuh hati. Apalagi, pewartaan Yesus dan
karya yang dilakukan Yesus seringkali ditujukan kepada mereka. Akan tetapi,
apakah hanya mereka yang bisa masuk ke dalam Kerajaan tersebut?
Tentu saja Kerajaan Allah ini terbuka bagi semua orang. Yesus tidak memilih-
milih siapa yang boleh masuk dan siapa yang tidak. Akan tetapi, ada suatu
kriteria yang mungkin bisa menjadi gambaran siapa saja yang bisa memasuki
Kerajaan Allah. Ini bisa dilihat dalam Luk 18:15-17, terutama dalam ayat 16-
17:

“Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: “Biarkanlah anak-anak itu


datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalangi mereka, sebab orang-
orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa meninggikan diri, ia akan
direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

80
Ibid.
81
Ibid.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
Orang-orang dewasa seringkali sulit untuk memahami bagaimana
mereka harus bisa menjadi anak kecil agar bisa menerima Kerajaan Allah.
Padahal yang dimaksud Yesus dengan “menyambut Kerajaan Allah seperti
seorang anak kecil” bukanlah dalam arti harafiah. Akan tetapi, “menyambut
Kerajaan Allah seperti anak-anak” berarti menerima Kerajaan Allah dengan
sebuah keterbukaan pada rahmat yang Allah tawarkan, kadangkala hal ini
membutuhkan sebuah kematangan yang sehat.82 Dengan kata lain, menjadi
anak kecil berarti terbuka pada rahmat dan karya Allah, menggantungkan
seluruh hidupnya kepada Allah. Keterbukaan dan ketergantungan inilah yang
patut diteladani dari anak-anak. Oleh karena itu, Yesus menegaskan bahwa
orang-orang seperti itulah yang “empunya Kerajaan Allah”.
Beranjak ke dalam kisah yang lain, akan ditemukan orang-orang
seperti apa yang justru sulit untuk memasuki Kerajaan Allah ini. Dalam Luk
18:18-27 dikisahkan sebuah perikop berjudul “Orang kaya sukar masuk
Kerajaan Allah”. Dapat dikatakan orang ini adalah orang yang saleh karena
telah mengikuti 10 perintah Allah dengan baik (ay. 21). Akan tetapi, Yesus
menunjukkan bahwa ada satu hal lagi yang harus dia lakukan agar bisa
memperoleh kehidupan kekal, yakni “…juallah segala yang kaumiliki dan
bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh
harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Ak” (ay. 22). Maka,
untuk mewarisi Kerajaan Allah dituntut untuk meninggalkan seluruh harta
yang dimiliki. Kekayaan dan kekuasaan seringkali membuat orang merasa
kuat dan tidak terbuka pada rahmat Allah dan merasa mampu meskipun tanpa
menggantungkan diri kepada Allah. Yesus pun menggunakan gambaran
bahwa seorang kaya sukar untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan
gambaran “Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari
pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (ay. 25). Ini bukan berarti
bahwa setiap orang kaya tidak bisa masuk ke Kerajaan Allah. Melalui
perkataan ini, Yesus “menekankan dengan tegas kepada para pendengar-Nya
mengenai pengaruh buruk dari kekayaan yang bahkan dapat mempengaruhi
mereka yang secara jujur menginginkan Kerajaan Allah”83.

82
Daniel Durken (Editor), Tafsir Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 2018) 468.
83
Lembaga Biblika Indonesia, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 2002) 149.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
Mengapa Kerajaan Allah ini ada?
Telah dipahami bahwa Kerajaan Allah ini sudah ada melalui kehadiran
Yesus sebagai Mesias dan melalui sabda dan tindakan Yesus untuk
memberikan penyembuhan, mukjizat, dan pengusiran setan, terutama bagi
mereka yang sangat tidak diperhitungkan (orang-orang kecil, miskin,
tersingkir, dan berdosa). Secara eskatologis, tentu saja keselamatan universal
yang akan diterima oleh seluruh umat manusia pada masa penghakiman akhir
nanti. Berdasarkan dari penjelasan tersebut, secara singkat dapat dikatakan
bahwa “mengapa Kerajaan Allah ini ada?” adalah untuk mewartakan kepada
banyak orang bahwa Allah haruslah meraja di dalam kehidupan setiap
manusia, meraja di dunia. “Kerajaan Allah adalah pusat dan isi pokok
pewartaan Yesus. Dan sekaligus juga keistimewaan-Nya.”84
Kehadiran Kerajaan Allah yang dibawa oleh Yesus menandakan
bahwa karya keselamatan Allah telah dimulai dan hadir di dunia. Melalui diri
Yesus orang berhadapan dengan tindakan keselamatan Allah sendiri. 85 Secara
sederhana dapat dikatakan bahwa dengan mengikuti Yesus dan mendengarkan
Dia, manusia telah berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah. Maka,
kesatuan pribadi Yesus dengan Allah berarti kedekatan Kerajaan Allah dalam
hidup manusia.86
Oleh karena itu, mengapa Kerajaan Allah ini ada atau harus ada, untuk
menunjukkan bahwa Allah-lah yang harus meraja di dalam kehidupan
manusia. Orang-orang Kristen hendaknya memperhatikan diri mereka dengan
melakukan apa yang dikehendaki Allah seperti Yesus yang telah memberikan
banyak contoh kepada para rasul-Nya; merawat orang miskin, hanya percaya
kepada Allah, dan mengampuni para musuh.87 Seperti yang telah tertulis
dalam Luk 17:20-37, bahwa orang-orang tidak perlu menafsirkan mengenai
saat Kerajaan Allah ini akan terpenuhi. Justru, Kerajaan Allah akan terwujud
dalam kehidupan di dalam Kristus. Kerajaan Allah ini ada sebagai inti
pewartaan yang hendak diwartakan oleh Yesus kepada dunia, sehingga
kehadiran Kerajaan Allah ini bisa dirasakan dan dialami oleh banyak orang.

84
Dr. T. Jacobs S.Y, Siapa Yesus Kristus menurut Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 1982) 206.
85
Ibid.
86
Ibid.
87
Daniel Durken (Editor), Tafsir Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 2018) 465.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
Bagaimana Kerajaan Allah ini terwujud?
Ketika mendapatkan pertanyaan dengan kata tanya “bagaimana”,
jawaban yang hendak dicari adalah proses atau tahap-tahap yang bisa
dilakukan untuk mencapai sesuatu atau mewujudkan sesuatu. Bagaimana
Kerajaan Allah terwujud? Jawaban dari pertanyaan ini adalah melalui sabda
dan tindakan Yesus, terutama kepada mereka yang kecil, lemah, miskin,
tersingkir, dan berdosa.
Pertama melalui sabda berarti melalui perkataan dan pewartaan yang
disampaikan oleh Yesus. Ada banyak perikop yang menunjukkan bagaimana
Yesus menghadirkan Kerajaan Allah melalui pewartaan-Nya. Seperti dalam
Luk 4:42-44 “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan
Allah sebab untuk itulah Aku diutus”; Ucapan Bahagia dan peringatan (Luk
6:20-26). Selain itu, warta mengenai Kerajaan Allah ini juga disampaikan
melalui perumpamaan-perumpamaan.
Perumpamaan adalah satu dari sekian banyak cerita di dalam Kitab
Suci yang pada mulanya kedengarannya seperti cerita menyenangkan, tetapi
tetap merahasiakan sesuatu, tiba-tiba muncul dan membuat Anda jatuh
tertiarap.88 Perumpamaan adalah suatu perbandingan yang ditarik dari alam
dan dari hidup sehari-hari, disusun untuk mengajarkan suatu kebenaran rohani,
dengan pengandaian bahwa apa saja yang absah di satu bidang – alam ataupun
hidup harian – juga absah di dalam dunia rohani.89 Melalui berbagai
perumpamaan, Yesus mewartakan dan menghadirkan Kerajaan Allah bagi
mereka yang terbuka dan mau mendengarkan pewartaan Yesus. Melalui
perumpamaan ini Yesus hendak menggambarkan nilai-nilai rohani dengan
menggunakan gambaran-gambaran duniawi. Misalnya seperti dalam
perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi (Luk 13:18-21); tentang pohon ara
yang tidak berbuah (Luk 13:6-9); tentang seorang penabur (Luk 8:4-15);
tentang pelita (Luk 8:19-21); Orang Samarian yang baik hati (Luk 10:25-37);
dan lain sebagainya.
Selain melalui sabda dan pewartaan, Kerajaan Allah diwujudkan
melalui berbagai tindakan Yesus. Bagi Yesus Kerajaan Allah adalah realitas

88
John Fuellenbach, SVD, Kerajaan Allah: Pesan Inti Ajaran Yesus Bagi Dunia Modern (Flores:
Nusa Indah, 2006) 100.
89
Ibid., 101.

PAGE \* MERGEFORMAT 1
keselamatan yang dilaksanakan oleh Allah sendiri.90 Karya keselamatan ini
hadir melalui tindakan Yesus. Seluruh hidup Yesus memperlihatkan sifat
rahmat Kerajaan.91 Dalam Luk 11:20 dikatakan “Tetapi jika Aku mengusir
setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya kerajaan Allah sudah datang
kepadamu”. Ini berarti bahwa melalui tindakan dan karya-Nya, Yesus juga
mewujudkan Kerajaan Allah secara langsung terutama kepada mereka yang
merasakan langsung karya yang dilakukan oleh Yesus. Ini dapat dilihat dalam
kisah-kisah di mana Yesus melakukan penyembuhan seperti orang kusta
datang kepada Yesus (Luk 5:12-16); penyembuhan orang lumpuh (Luk 5:17-
26); penyembuhan dihari sabat (Luk 6:6-11); penyembuhan hamba seorang
perwira di Kapernaum (Luk 7:1-10); dan lain sebagainya. Tindakan lain juga
seperti pengusiran roh jatah dalam pengusiran roh jahat dari orang Gerasa
(Luk 8:26-39); pengusiran roh dari anak yang sakit (Luk 9:37-43); kisah
mengenai Yesus dan Beelzebul (Luk 11:14-23); dan lain-lain.

E. Penutup
Kerajaan Allah adalah kerajaan yang bukan soal fisik, yang memiliki
bentuk megah dan besar layaknya kerajaan pada umumnya. Kerajaan Allah
yang dibawa oleh Yesus ini adalah karya keselamatan Allah yang diwartakan
oleh Yesus kepada setiap orang. Dibutuhkan sikap menerima, keterbukaan
pada karya Allah, dan pertobatan agar bisa memasuki dan menerima Kerajaan
Allah. Kerajaan Allah ini juga bukan sesuatu yang akan kita peroleh nanti.
Justru, Kerajaan Allah sudah dimulai melalui diri Yesus dan dilanjutkan oleh
para murid dan Gereja pada masa sekarang ini. Setiap manusia diajak untuk
mau menerima Kerajaan Allah sehingga mereka sungguh bisa menunjukkan
kemuliaan Allah yang besar dan membuat Allah merajadi manusia dan seluruh
dunia.

90
Dr. T. Jacobs S.Y, Siapa Yesus Kristus menurut Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 1982) 209.
91
Ibid., 212.

PAGE \* MERGEFORMAT 1

Anda mungkin juga menyukai