Anda di halaman 1dari 11

efek lokal obat (anestetika lokal)

I. Tujuan percobaan 1. Mampu terampil dalam melakukan pengujian aktivitas suatu obat yang bekerja lokal. 2. Mampu terampil dalam melakukan pengujian aktivitas anestetika lokal suatu obat. 3. Mampu mengetahui gejala gejala terjadinya anesthesia local ya ng ditimbulkan oleh anestetika local permukaan. II. Teori dasar Istilah Anestetika lokal dikemukakan pertama kali oleh O. W Holmes yang artinya tidak ada rasa sakit. Anestetika dibagi menjadi dua kelompok yaitu : Anestetika umum yaitu rasa sakit hilang disertai dengan kehilangan kesadaran. Anestetika lokal menghilangkan rasa sakit tanpa disertai hilang kesadaran. Anestetik lokal ialah obat yang menghasilkan blokade konduksi atau blokade lorong natrium pada dinding saraf secara sementara terhadap rangsang transmisi sepanjang saraf, jika digunakan pada saraf sentral atau perifer. Anestetik lokal setelah keluar dari saraf diikuti oleh pulihnya konduksi saraf secara spontan dan lengkap tanpa diikuti oleh kerusakan struktur saraf. (Sari, 2009) Obat ini dapat menyebabkan hilangnya sensasi panas, dingin, sentuh, dan nyeri tanpa menghilangkan kesadaran umum. Anestetik lokal menghilangkan penghantaran saraf ketika digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan konsentrasi tepat. Bekerja pada sebagian Sistem Saraf Pusat (SSP) dan setiap serabut saraf. Kerja anestetik lokal pada ujung saraf sensorik tidak spesifik. Hanya kepekaan berbagai struktur yang dapat dirangsang berbeda. Serabut saraf motorik mempunyai diameter yang lebih besar daripada serabut sensorik. Oleh karena itu, efek anestetika lokal menurun dengan kenaikan diameter serabut saraf, maka mula-mula serabut saraf sensorik dihambat dan baru pada dosis lebih besar serabut saraf motorik dihambat (Rochmawati dkk, 2009)

Rute pemberian anestetika lokal berhubungan erat dengan efek anestesi local yang dihasilkan. Sebagai contoh anestetika lokal yang diberikan pada permukaan tubuh (topikal) dapat mencapai ujung saraf sensoris dan bekerja menghambat penghantaran impuls nyeri pada serabut saraf tersebut, sehingga terjadilah anestesia permukaan. Anestetika local juga dapat diberikan secara injeksi ke dalam jaringan sehingga menyebabkan hilangnya sensasi pada struktur disekitarnya. Efek yang dihasilkan disebut anestesia infiltrasi. Salah satu obat anestetika local yang digunakan adalah lidokain. Pada percobaan akan diamati efek anesthesia permukaan dari obat tersebut dengan metode yang sederhana. III. Alat dan bahan Alat Bahan 1. Peniti 1.Salep Lidokain 2.Bulu sikat 2.Air Panas 3.Air Es 4.Kapas

IV. Prosedur 1. Pada lengan bagian ventral kiri dan kanan dibuat gambar seperti dibawah ini :

2. Luas area disesuaikan dengan luas lengan 3. Pada area lengan kanan diolesi dengan salep lidokain dan area lengan kiri diolesi dengan air, 4. Disetiap kotak pada area lengan yang telah digambar dan diolesi oleh air dan salep lidokain diberikan stimulus berupa sensasi sentuh dengan bulu sikat, sensasi panas dengan bagian

peniti tumpul yang direndam dalam air panas, sensasi dingin dengan bagian tumpul peniti yang diremdam dalam air es, dan sensasi nyeri dengan bagian tajam dari peniti, 5. Sensasi yang diberikan dicatat dan dijumlahkan dengan memberikan tanda S untuk sakit, P untuk panas, D untung dingin, dan N untuk nyeri. 6. Berdasarkan jumlah sensasi dari setiap stimulus banding kepekaan terhadap lengan kiri dan lengan kanan.

V. Data pengamatan Tangan Kanan (Diolesi Salep Lidokain) S :+ N :++ P :+ D :- S :+ N :+ P :+ D :- S :+ N :+ P :D :+ S :+ N :+ P :D :S :+ N :+ P :D :- S :+ N :+ P :+ D :- S :+

N :+ P :D :- S :+ N :+ P :D :S :+ N :+ P :D :- S :+ N :++ P :D :- S :+ N :+ P :D :+ S :+ N :+ P :D :S :+ N :+ P :D :- S :+ N :++ P :D :+ S :+ N :++ P :D :- S :+ N :++ P :D :Tangan Kiri (Diolesi Air) S :++ N :++ P :+ D :+ S :++

N :++ P :+ D :+ S :++ N :++ P :+ D :+ S :++ N :+++ P :+ D :+ S :++ N :++ P :+ D :+ S :++ N :++ P :+ D :+ S :++ N :++ P :+ D :+ S :++ N :++ P :+ D :+ S :++ N :++ P :+ D :+ S :++ N :+++ P :+ D :+ S :++ N :++ P :+ D :+ S :++ N :++ P :+ D :+ S :++ N :+++ P :+

D :+ S :++ N :+++ P :+ D :+ S :++ N :+++ P :+ D :+ S :++ N :+++ P :+ D :+ Keterangan: S : Sentuh (-) : Tidak terasa N : Nyeri (+) : Sedikit terasa P : Panas (++) : Terasa D : Dingin (+++) : Sangat terasa 1. Salep Lidokain 2. Air S : 16 S : 32 N : 21 N : 38 P : 3 P : 16 D : 3 + D : 16 + Jumlah 37 Jumlah 102 Keterangan : Lengan kanan yang diolesi oleh salep lidokain memberikan hasil stimulus yang diterima hanya sebagian dengan jumlah yang sedikit. salep lidokain yang merupakan obat Anestetika lokal memberikan efek terhadap kulit dengan membuat terhambatnya penghantaran impuls saraf dengan kontak langsung yang dilakukan dengan memberikan stimulus berupa sensasi nyeri, sensasi sentuh, sensasi panas dan sensasi dingin, tetapi yang hanya dapat diterima dengan kategori terasa yang berupa sensasi nyeri dan sensasi sentuh. Dengan cara kerja Salep lidokain yang menutup permukaan kulit sehingga stimulus yang diterima sedikit atau berkurang dan Lidokain juga memberikan cara kerja yang cepat sehingga stimulus yang diterima sedikit kecil dibandingkan dengan stimulus yang diterima oleh lengan yang diolesi air, karena air

tidak berfungsi sebagai anestetika lokal sehingga tidak akan menghambat penghantaran impuls saraf. VI. Pembahasan Anestetik lokal ialah obat yang menghasilkan blokade konduksi atau blokade lorong natrium pada dinding saraf secara sementara terhadap rangsang transmisi sepanjang saraf, jika digunakan pada saraf sentral atau perifer. Anestetik lokal setelah keluar dari saraf diikuti oleh pulihnya konduksi saraf secara spontan dan lengkap tanpa diikuti oleh kerusakan struktur saraf. (Sari, 2009)

Dalam hal ini anestetika lokal memiliki sifat dan terbagi ke dalam golongan adalah sebagai berikut : Sifat Anestetik Lokal yang Ideal 1. Poten dan bersifat sementara (reversibel) 2. Sebaiknya tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen (kebanyakan anestetik lokal memenuhi syarat ini). 3. Batas keamanan harus lebar, sebab anestetik lokal akan diserap dari tempat suntikan. 4. Mula kerja harus sesingkat mungkin. 5. Masa kerja harus cukup lama, sehingga cukup waktu untuk melakukan tindakan operasi, tetapi tidak sedemikian lama sampai memperpanjang masa pemulihan. 6. Zat anestetik lokal juga harus larut dalam air, stabil dalam larutan, dan dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan. 7. Harganya murah (Rochmawati dkk, 2009) Mekanisme Kerja, Bekerja langsung pada sel saraf & menghambat kemampuan sel saraf mentransmisikan impuls melalui aksonnya. Target anestetika lokal adalah saluran Na+ yangada pada semua neuron. Saluran Na+ bertanggung jawab menimbulkan potensial aksi sepanjang akson dan membawa pesan dari badan sel ke terminal saraf . Anestetika lokal berikatan secara selektif pada sal. Na+, sehingga mencegah

terbukanya sal. Obat anestetika lokal yang pertama dikenal adalah kokain yang diperoleh dari Erythrixylon coca yang dapat memberikan rasa nyaman dan mempertinggi daya tahan tubuh. Pada awalnya didunia kdokteran digunakan untuk menghilangkan nyeri setempat oleh kedokteran gigi dan mata. Karena kemampuannya untuk merintangi transmisi ke batang otak kemudian dipakai sebagai anestesi blockade saraf pada pembedahan maupun dalam anestesi spinal/umum. Barulah kemudian dibuat anestetika lokal sintetis sperti prokain dan derivatnya sperti lidokain, prilokain, dan bupivikain. Anestetika lokal umumnya digunakan secara parenteral misalnya pembedahan kecil dimana pemakaian anestetika umum tidak dibutuhkan. Anestetika lokal dibagi menjadi 3 jenis : 1. Anestetika permukaan, digunakan seccara lokal untuk melawan rasa nyeri dan gatal, misalnya larutan atau tablet hisap untuk menghilangkan rasa nyeri di mulut atau leher, tetes mata untuk mengukur tekanan okuler mata atau mengeluarkan benda asing di mata, salep untuk menghilangkan rasa nyeri akibat luka bakar dan suppositoria untuk penderita ambeian / wasir. 2. Anestetika filtarsi yaitu suntikan yang diberikan ditempat yang dibius ujung ujung sarafnya, misalnya pada daerah kulit dan gusi (pencabutan gigi). 3. Anestetika blok atau penyaluran saraf, yaitu dengan penyuntikan di suatu tempat dimana banyak saraf terkumpul sehingga mencapai derah anestesi yang luas, misalnya pada pergelangan tangan atau kaki. Anonim. Farmakologi jilid II Anestetik lokal dibagi menjadi dua golongan : 1. Golongan ester (-COOC-) Kokain, benzokain (amerikain), ametocaine, prokain (nevocaine), tetrakain (pontocaine), kloroprokain (nesacaine). 2. Golongan amida (-NHCO-) Lidokain (xylocaine, lignocaine), mepivakain (carbocaine), prilokain (citanest), bupivakain

(marcaine), etidokain (duranest), dibukain (nupercaine), ropivakain (naropin), levobupivacaine (chirocaine). (Sari, 2009) Lidokain (Xilokain) adalah anestetik local yang kuat yang digunakan secara luas dengan pemberian topikal dan suntikan. Anestesi terjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih lama dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan oleh prokain. Lidokain merupakan aminoetilamid. Lidokain dapat menghambat sinyal nyeri sel saraf dengan mengeblok kanal Natrium dalam sel sehingga dapat menginaktivasi sel saraf. Pada praktikum anestetika lokal digunakan obat anestetika yaitu lidokain. Menurut literature yang didapatkan Lidokain mempunyai mekanisme kerja obat yaitu Obat bekerja pada reseptor spesifik pada saluran natrium (sodium channel), mencegah peningkatan permeabilitas sel saraf terhadap ion natrium dan kalium, sehingga terjadi depolarisasi pada selaput saraf dan hasilnya tak terjadi konduksi saraf. Mekanisme utama aksi anestetik lokal adalah memblokade voltage-gated sodium channels. Membran akson saraf, membran otot jantung, dan badan sel saraf memiliki potensial istirahat -90 hingga -60 mV. Selama eksitasi, lorong sodium terbuka, dan secara cepat berdepolarisasi hingga tercapai potensial equilibrium sodium (+40 mV). Akibat dari depolarisasi,, lorong sodium menutup (inaktif) dan lorong potassium terbuka. Aliran sebelah luar dari repolarisasi potassium mencapai potensial equilibrium potassium (kira-kira -95 mV). Repolarisasi mengembalikan lorong sodium ke fase istirahat. Gradient ionic transmembran dipelihara oleh pompa sodium. Fluks ionic ini sama halnya pada otot jantung, dan dan anestetik local memiliki efek yang sama di dalam jaringan tersebut (Rochmawati dkk, 2009) Pada data pengamatan yang didapatkan pada praktikum yang telah diujikan adalah pada area lengan kiri yang telah diolesi air stimulus yang diterima berupa sensasi sentuh, panas, dingin, dan nyeri yang diterima hampir semua dapat dirasakan tetapi jumlah sensasi yang sangat terasa adalah sensasi nyeri (6 dari 16 stimulus) dengan jarum tajam. Dapat dikatakan demikian

karena air yang mengolesi area lengan kiri tidak menghambat penghantaran impuls saraf karena air tidak berfungsi sebagai anestetika local dimana anestetika lokal bekerja menghambat penghantaran impuls saraf. Sehingga kulit dapat merasakan secara keseluruhan stimulus yang diberikan sangat terasa ( ++ + ). Sedangkan pada area lengan kanan yang diolesi oleh salep lidokain hanya sebagian yang dapat merasakan stimulus yang telah diberikan yaitu berupa sensasi sentuh, dan sensai nyeri sedang sensasi panas dan dingin hanya (3 dari 16 stimulus) dan sisanya tidak terasa. Untuk hasil yang dapat dikatakan bahwa kerja dari salep lidokain adalah dapat menghambat sinyal nyeri sel saraf dengan mengeblok kanal Natrium dalam sel sehingga dapat menginaktivasi sel saraf. Lidokain juga merupakan obat anestetika lokal yang dapat diberikan secara topikal maupun suntikan dengan memberikan potensi anestesi yang cukup kuat, dengan kerja yang cepat dan juga sebagai obat anestetika lokal yang sering digunakan. Dalam percobaan sensasi yang ditimbulkan berupa sensasi nyeri dengan jumlah 21 (5 dari 16 stimulus) dengan kategori terasa (++). VII. Kesimpulan 1. Lidokain merupakan obat anestetika lokal dengan mekanisme kerja menghambat penghantaran impuls saraf, menghambat sinyal nyeri sel saraf dengan mengeblok kanal Natrium dalam sel sehingga dapat menginaktivasi sel saraf. 2. Aktivitas obat anestesi lokal menyebabkan analgesi sementara namun analgesi yang dapat dirasakan/diterima impuls saraf hanya pada bagian-bagian tertentu dari tubuh. 3. Anestesi permukaan digunakan secara lokal dimana berfungsi untuk melawan rasa nyeri dan gatal, seperti pada penggunaan larutan atau dengan tablet hisap yang dapat menghilangkan rasa nyeri dimulut dan leher, dan seperti pada salep untuk menghilangkan rasa nyeri akibat luka bakar.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2004, Farmakologi Jilid II, Anestetika Lokal. Departemen Kesehatan RI (hal : 120-121) Rochmawati, Anis. 2009. Makalah Tugas Farmakologi Sari, Irma P. S. 2009. Anestetika Lokal. http://www.scribd.com/doc/19566098/. (tanggal akses 6 Oktober 2010) Anonim.http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/59_14_Perbandi nganMulaKerjadanMasaKerja.pdf/59_14_PerbandinganMulaKe rjadanMasaKerja.html, (tanggal akses : 6 - Oktober 2010) Anonim.http://www.scribd.com/doc/31395584/Anestesi-LokalFinal-Punya-Kelompokny-Ariasc (tanggal akses : 6 Oktober 2010)