Anda di halaman 1dari 16

Pencapaian MDGs Sabtu, 05 September 2009 Kepala Negara/Pemerintahan dari berbagai negara telah mengukuhkan komitmen internasional dalam

memberantas kemiskinan dan kelaparan diseluruh dunia yang dituangkan dalam Millennium Development Goals (MDGs) pada KTT millennium PBB yang diadakan di New York pada tahun 2000 lalu. MDGs memuat sejumlah target berikut tolok ukurnya sebagai acuan internasional dalam mencapai target pemberantasan kemiskinan dan kelaparan yang diharapkan bisa dicapai pada tahun 2015. Target MDGs mencakup: 1. Pemberantasan kemiskinan dan kelaparan ekstrem 2. Pencapaian pendidikan dasar yang universal 3. Promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan 4. Pengurangan tingkat mortalitas anak 5. Peningkatan kesehatan ibu 6. Pemberantasan HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya 7. Pencapaian keberlangsungan lingkungan hidup 8. Pengembangan kemitraan global untuk pembangunan Krisis ekonomi global pada tahun 2008 telah mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia sehingga angka pengangguran dan kemiskinan di seluruh dunia bertambah. Hal ini berimbas pada pencapaian sasaran MDGs yang terancam tidak dapat terpenuhi menjelang tenggat waktu tahun 2015. Bahkan, pencapaian MDGs terancam mengalami kemunduran sehingga kemajuan yang telah diraih sebelumnya akan menjadi sia-sia. Krisis ekonomi berdampak lebih lanjut pada turunnya pendapatan riil masyarakat sehingga alokasi dana rumah tangga untuk menyekolahkan anak, memenuhi pasokan gizi yang cukup bagi keluarga, serta menjamin pelayanan dan akses kesehatan yang memadai bagi anggota keluarga yang hamil atau sakit. Pada beberapa segmen masyarakat, dampak kemiskinan juga dapat menyebabkan terhambatnya upaya penyetaraan gender, sebagai contoh, dalam beberapa segmen masyarakat dunia, orangtua cenderung lebih memilih tidak menyekolahkan anak perempuan dari anak lelaki dan memilih mengawinkan anak perempuannya untuk alasan ekonomi. Di sisi lain, dampak krisis juga telah memberikan tekanan budgeter terhadap kemampuan pemerintah untuk dapat menjamin tersedianya akses bagi penduduk atas pekerjaan, pendidikan dan pelayanan kesehatan. Lebih jauh lagi, dampak krisis dapat mempengaruhi kelancaran pendanaan luar negeri untuk pembangunan karena umumnya negara maju masih memusatkan upayanya pada pemulihan ekonomi nasional masing-masing. Oleh sebab itu, diperlukan

penekanan kembali komitmen, khususnya dari negara maju, untuk mendukung upaya pencapaian target-target MDGs. Pada International Conference on Financing for Development di Doha tahun 2008, sebuah kesepakatan global telah berhasil dicapai untuk tetap mengedepankan upaya global bagi pencapaian MDGs, khususnya komitmen pendanaan negara maju yaitu 0.7% dari GDP, sesuai dengan kesepakatan Monterrey Consensus. Indonesia tercatat on track dalam pencapaian MDGs, kecuali untuk pencapaian MDG 4 (mengurangi tingkat kematian ibu). Sementara bagi banyak negara terutama di Afrika, Asia Selatan dan Pasifik, pencapaian MDGs terutama MDG kesehatan masih tercatat off-track. Selain dapat memberikan gambaran yang buruk bagi midterm review pencapaian MDGs tahun 2010, krisis yang berkelanjutan juga dikhawatirkan menghambat pencapaian MDGs pada tahun 2015. Beberapa tantangan utama di tahun 2010 yang dihadapi oleh kemitraan global dalam mencapai MDGs adalah sebagai berikut: (i) lambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, sebagai dampak berkelanjutan dari krisis ekonomi, hal ini diprediksikan dapat mengancam keberhasilan pencapaian yang telah dicapai dan keberlangsungan pencapaian MDGs ke depan; (ii) adanya disparity gap, dimana masih terjadi ketimpangan dalam pencapaian MDGs khususnya terkait dengan MDGs kesehatan. Kesenjangan pencapaian juga terjadi antara negara maju dan negara berkembang; (iii) masih adanya financial and capacity gap, di mana keterbatasan sumber-sumber pendanaan pembangunan publik dan kapasitas, terutama kapasitas pemerintah di level daerah, tetap menjadi masalah bersama yang dihadapi oleh negara-negara berkembang. Menghadapi berbagai tantangan tersebut, diplomasi pembangunan Indonesia untuk mendukung pencapaian MDGs di sepanjang tahun 2010 ditujukan untuk menjaga momentum pertumbuhan dan penciptaan perekonomian dunia yang lebih kuat, berimbang dan berkelanjutan serta membangun platform bagi mobilisasi dan realisasi berbagai komitmen pendanaan dan pengembangan kapasitas pembangunan, baik melalui kerangka internasional PBB, G-20 dan Kerjasama Selatan-Selatan maupun melalui kemitraan multilateral publik dan swasta (public private partnership). Sebagai bagian dari pengembangan kemitraan multilateral untuk menjamin keberlangsungan pendanaan pembangunan, diplomasi pembangunan juga ditujukan untuk penjajakan berbagai finance engineering atau innovative financing,termasuk wacana debt swap for MDG Projects, dengan lembaga keuangan multilateral seperti Bank Dunia dan IMF. Sejalan dengan hal tersebut, melalui proses G-20, Indonesia juga mendorong adanya general capital increase pada Bank Dunia sehingga meningkatkan kemampuan lembaga tersebut untuk memberikan pinjaman, termasuk untuk pendanan pembangunan. Selanjutnya, untuk mengamankan komitmen para Leaders terhadap pembangunan global dan memanfaatkan efektifitas serta practicality dari forum G-20, Indonesia juga telah mendorong dimasukkannya isu

pembangunan dalam agenda pembahasan G-20 dan membuka jalan bagi dibentuknya Kelompok Kerja Pembangunan (Working Group on Development) pada KTT G-20 yang diselenggarakan di Toronto pada 1920 Juli 2010 untuk mengelaborasi berbagai isu pembangunan dan menyusun agenda pembangunan serta multi-year action planuntuk diadopsi pada KTT G-20 tanggal 11-12 November 2010 di Seoul. Momentum ini menjadi sangat penting bagi Indonesia dalam mencapai kepentingan nasionalnya, yakni mendorong terjadinya pembangunan nasional itu sendiri, sebagaimana menjadi kepentingan bagi seluruh negara berkembang di dunia.Selain itu, dalam rangka merevitalisasi komitmen dan memperkuat upaya negara Asia dan Pasifik terhadap pencapaian MDGs di tahun 2015 dan way forward,Indonesia juga telah menyelenggaraan Special Ministerial Meeting for MDGs Review in Asia and the Pacific: Run Up to 2015 (SMM MDGs) pada tanggal 3-4 Agustus 2010 di Jakarta. Dalam memobilisasi kemitraan global untuk mendorong peningkatan pencapaian MDGs kesehatan, terutama dalam meningkatkan angka hidup dan kesehatan ibu hamil dan balita, sejak awal tahun 2010 Pemri berpartisipasi aktif dalam proses inisiasi The Global Strategy for Womens and Childrens Health. Dalam rangkaoutreach Strategi ini demi memobilisasi dukungan, Indonesia juga memanfaatkan kerangka Network of Global Leaders for Maternal and Children Health. Outreachyang dilakukan telah mendorong lahirnya komitmen tertinggi yang pernah dicatat dunia untuk pendanaan MDG 4 dan 5 dimana pada penyelenggaraan UN High Level Plenary on MDGs di sela SMU PBB ke-65, tercatat komiten pendanaan sebesar US$ 40 milyar untuk lima tahun ke depan. Indonesia juga mendorong greater coherence and coordination antara badan PBB dan dalam pelaksanaan operasional PBB untuk pembangunan yang efektif, efisien dan transparan. Selain itu Indonesia mendukung dan melaksanakan health diplomacy karena kesehatan merupakan pondasi dasar dari pencapaian sasaran-sasaran MDGs lainnya. SUMBER : http://www.kemlu.go.id/Pages/IIssueDisplay.aspx?IDP=8&l=id

Siapa yang tidak mengenal singkatan MDG? Tiga huruf ini mendunia, di semua negara. Merupakan kependekan dari Millenium Development Goals, atau Tujuan Pembangunan Milenium, MDGs dideklarasikan pada tahun 2000 oleh sebanyak 189 anggota PBB. Setiap negara deklarator mempunyai kewajiban melaporkan progres pencapaian MDG setiap tahun. Hampir sebagian besar indikator untuk mengevaluasi pencapaian tujuan MDG ini dapat diperoleh dari data-data Badan Pusat Statistik (BPS), namun tidak dapat dipungkiri, bahwa data dari berbagai sumber lain tetap sangat diperlukan.

MDG mempunyai 8 (delapan) tujuan dengan 18 target, mulai dari mengurangi kemiskinan, penuntasan pendidikan dasar baik untuk anak laki-laki maupun anak perempuan, menurunkan angka kematian balita, meningkatkan kesehatan ibu serta memastikan kelestarian lingkungan hidup. Setiap negara yang mendeklarasikan MDG ini wajib membuat laporan tahunan. Pengurangan maupun penuntasan berbagai kondisi tadi menggunakan landasan tahun 1990 sebagai tahun pijakan dan tahun 2015 sebagai tahun akhir tercapainya semua tujuan tadi. Bagaimana lengkapnya tujuan pembangunan millenium ini? Apa saja target yang ingin dicapai? Apa alat ukur keberhasilan bahwa target ini dicapai? Berbicara alat ukur, maka kita tidak dapat mengesampingkannya dengan tersedianya data. Beberapa indikator yang digunakan untuk melihat keberhasilan pencapaian tujuan pembangunan millenium dibangun dari data-data pembentuk indikator itu. Walaupun laporan tahunan MDG adalah laporan negara (baca:

nasional), namun tidak dapat dipungkiri bahwa ketersediaan data nasional sangat tergantung sekali tersedianya data pada level di bawahnya: provinsi dan kabupaten/kota. Tersediakah? Goal-1 MDG adalah menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, dengan target menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di bawah $1 perhari menjadi setengahnya antara tahun 1990-2015 serta dan menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya antara tahun 1990-2015. Untuk menjawab keberhasilan MDG pada tujuan pertama ini, maka diperlukan data proporsi penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan, kesenjangan kemiskinan, prevalensi balita kurang gizi, dan proporsi penduduk yang berada dibawah garis konsumsi minimum (2,100 kkal/kapita/hari). Data kemiskinan, dapat dihitung berdasarkan data yang dikumpulkan oleh BPS melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) melalui modul konsumsi dan pengeluaran rumahtangga. Dari data pengeluaran (sebagai proksi data pendapatan) yang dihasilkan survei ini, diperoleh garis kemiskinan (batas minimum pengeluaran penduduk dalam memenuhi kebutuhan makanan maupun non makanan); sekaligus dapat pula dihitung kesenjangan kemiskinan yang terjadi. Bagaimana dengan target MDG yang menggunakan satuan dollar ($) dalam mengukur keberhasilan itu? Tidak ada masalah. Kalaupun garis kemiskinan yang dihitung BPS mempunyai basis rupiah dan nilainya berbeda antar provinsi, maka hal yang sama juga dapat dihitung jumlah penduduk dengan pengeluaran di bawah satu dollar per hari. Bagaimana dengan ketersediaan data prevalensi balita kurang gizi dan penduduk yang berada di bawah garis konsumsi minimum? Ini juga dapat diolah dari data yang bersumber dari Susenas tadi, khususnya data konsumsi makanan setiap rumahtangga. Tentunya, penghitungan haruslah menggunakan konsep-konsep gizi yang mengacu kepada standar yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, mengingat perlunya proses konversi konsumsi makanan ke besaran kalori. Goal-2 MDG adalah mencapai pendidikan dasar Untuk semua. Targetnya adalah memastikan bahwa semua anak pada tahun 2015 dimanapun, laki-laki maupun perempuan, dapat menyelesaikan pendidikan dasar. Tentunya harus dijamin, bahwa tidak ada lagi anak lagi yang tidak sekolah atau putus sekolah pada saat usianya 715 tahun. Datanya tersedia, juga dari BPS melalui Susenas, dengan mengkombinasikan data tentang status dan jenjang pendidikan sekolah penduduk. Goal-3 MDG adalah mempromosikan kesetaraan gender, dengan target menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005 dan di semua jenjang pendidikan sebelum tahun 2015. Dalam bahasa sederhana, jangan sampai terjadi situasi dimana 100 dari 100 anak laki-laki tercatat bersekolah di SD dan SLTP, sementara dari 100 anak perempuan masih ada sebagian yang tidak sekolah SD dan SLTP. Untuk situasi sekarang, sepertinya harapan itu hampir tercapai mengingat kesenjangan partisipasi anak laki-laki dan perempuan sudah semakin kecil. Data ini juga dapat diperoleh dari Susenas karena survei ini selalu mengumpulkan data jenis kelamin. Goal-4 MDG adalah menurunkan angka kematian balita. Targetnya adalah bahwa pada tahun tahun 2015, angka kematian balita tahun 1990 sudah turun dua pertiganyanya. Angka kematian balita ini dapat dihitung secara tidak langsung

berdasarkan teknik-teknik demografi melalui data struktur umur penduduk dari dua sensus. Dengan sudah dilaksanakannya Sensus Penduduk 2010 oleh BPS dan tersedianya data Sensus Penduduk 2000, maka angka ini dapat diperkirakan lebih akurat, mengingat penghitungan angka kematian balita melalui angka-angka survei relatif memberikan angka yang kasar. Oleh sebab itu, beberapa data lain juga digunakan sebagai proksi angka kematian balita ini, yaitu proporsi anak yang telah diimunisasi campak, dengan asumsi bahwa anak yang sudah mendapatkan imunisasi campak mempunyai kekebalan yang mengurangi resiko kematian anak. Dan data tentang imunisasi campak ini juga dapat diperoleh dari Susenas. Goal-5 MDG adalah meningkatkan derajat kesehatan ibu. Targetnya adalah menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya antara tahun 1990 hingga 2015. Seperti halnya angka kematian balita, maka angka kematian ibu ini dapat dihitung berdasarkan data yang dihasilkan dari Sensus Penduduk 2010, melalui teknik demografi. Tentunya, untuk evaluasi kasar, peningkatan derajat kesehatan ibu ini dapat saja dilihat dari sejauh mana pertolongan persalinan dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih, dengan asumsi bahwa pertolongan persalinan yang ditolong oleh tenaga terlatih ini relatif lebih nyaman dibandingkan kalu pertolongan persalinan dilakukan oleh dukun yang masih terjadi banyak di wilayah Indonesia. Termasuk juga dapat dilakukan pendekatan dengan banyaknya pemakaian kontrasepsi pada perempuan menikah berusia 15-49 tahun, dengan asumsi bahwa mereka akan lebih aman dibandingkan bila tidak menggunakan kontrasepsi. Goal-6 MDG adalah memerangi HIV/ AIDS, malaria, dan penyakit lain.Terdapat dua target, yaitu mengendalikan penyebaran HIV/ AIDs dan mulai menurunnya jumlah kasus baru pada tahun 2015; serta mengendalikan dan menurunkan penyakit malaria dan penyakit lainnya. Data tentang HIV/AIDs memang sulit diperkirakan, sifatnya bersinggungan dengan privasi seks seseorang dan kepastian tertularnya melalui periode yang panjang. Oleh sebab itu, BPS pernah bekerja sama dengan Bank Dunia melakukan survei tentang perilaku seks kepada kelompok-kelompok yang diduga berisiko, seperti pria-wanita dari sebuah rumahtangga, pekerja seks komersial/terselubung, para supir truk (yang cenderung melepaskan lelah dari perjalanan daratnya yang panjang di dekat lokalisasi seks), pengguna napza suntik, gay dan waria, bahkan pelajar di kota-kota besar. Oleh sebab itu, beberapa indikator dijadikan sebagai ukuran, antara lain adalah prevalensi HIV/AIDS dikalangan ibu hamil yang berusia antara 15-24 tahun, pemakaian kontrasepsi kondom pada perempuan menikah usia 15-49 tahun, tingkat pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS, serta anak yatim/piatu karena HIV/AIDS. Sementara, khusus data penderita malaria, Departemen Kesehatan secara khusus mengumpulkan datanya melalui Survei Kesehatan dengan lokus wilayah-wilayah endemi malaria, khususnya di kawasan timur Indonesia. Goal-7 MDG berhubungan dengan lingkungan hidup, yaitu memastikan kelestarian lingkungan hidup, melalui target memadukan prinsip- prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional, menurunkan separuh penduduk yang tidak punya akses terhadap sumber air minum yang aman dan fasilitas sanitasi dasar pada tahun 2015, serta memperbaiki kehidupan penduduk

miskin di kawasan kumuh. Beberapa indikator penting untuk mengevaluasi pencapaian target tentang lingkungan hidup antara lain data mengenai luas lahan yang tertutup hutan, luas kawasan lindung, emisi CO2 (kg Per kapita), serta konsumsi zat perusak ozon CFCs (ODP metric ton). Goal-8 yang merupakan goal terakhir dari MDG adalah mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. Tentunya, keberhasilan dari pencapaian tujuan MDG terakhir ini sangat bergantung kepada sejauh mana peran pemerintah di tingkat internasional melakukan upaya-upaya kerjasama khususnya terkait dengan pembangunan di Indonesia. Beberapa ratifikasi internasional yang sudah diadopsi tentunya harus jga sesuai dengan iklim di Indonesia. Melihat gambaran bahwa data-data yang digunakan dalam mengevaluasi MDG ini sebagian besar bersumber dari BPS, tidak dapat dipungkiri bahwa peran BPS menjadi sangat penting dalam rangka menyusun laporan tahunan MDG. Namun harus dimaklumi, bahwa data tersebut sebagiann besar merupakan hasil survei yang bersifat estimasi. Akan sangat lebih baik lagi, kalau sekiranya sistim statistik nasional yang merupakan 'kolaborasi' dari data dasar yang dikumpulkan oleh BPS, data sektoral oleh dinas/instansi, serta data khusus dari berbagai pihak penyelenggara statistik lainnya dapat diwujudkan, sehingga gambaran evaluasi pencapaian MDG ini benar-benar menghasilkan gambaran yang objektif. Terlebihlebih di daerah, dalam lingkup wilayah yang lebih kecil, 'kolaborasi' data terutama yang terkait dengan kebutuhan pembangunan harus dilakukan. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? SUMBER: http://malut.bps.go.id/index.php? option=com_content&view=article&id=453:mdg-dan-datapengukur&catid=106:artikel&Itemid=528 BPS MALUKU UTARA

Peran Mahasiswa Kesehatan Dalam Pencapaian Millenium Development Goals (MDGs)

Tuesday, 31 May 2011 09:48 lpm

http://mc-indonesia.blogspot.com Saat ini kita berada di tahun 2011. Sebuah tahun yang sangat dekat dengan tahun 2015. Tahun 2015 adalah tahun dimana seluruh masyarakat dunia mendukung atas pencapaian suatu tujuan ambisius. Tujuan ini dinamakan Millenium Development Goals (MDGs). Pada September 2000, tujuan ini dideklarasikan pada Konferensi Tingkat Tinggi Millenium yang dihadiri oleh pimpinan 189 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.1 Millenium Development Goals merupakan sebuah paket berisi delapan tujuan utama yang mempunyai batas waktu tahun 2015 dan target yang sangat terukur.2 Delapan tujuan itu adalah memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrem, mewujudkan pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan Ibu, memerangi HIV & AIDS, malaria serta penyakit lainnya, memastikan kelestarian linkungan, dan membangun kemitraan global untuk pembangunan.1 Seiring dengan berjalannya waktu tak terasa MDGs sudah memasuki kuartal terakhir. Hanya tinggal empat tahun lagi seharusnya kita bisa menyaksikan perubahan-perubahan besar yang ditargetkan. Namun sayang sekali, berdasarkan data-data yang ada mengenai perkembangan MDGs khususnya di Indonesia dan Negara-negara berkembang lainnya, kita tidak akan mencapai tujuan ambisius tersebut. Begitu banyak hal yang terjadi termasuk krisis pangan dan keuangan serta begitu luasnya Indonesia menjadi kendala tercapainya MDGs. Memang saat ini kita menyaksikan banyak kemajuan dalam berbagai bidang jika dibandingkan dengan Indonesia tahun 1990. Pembangunan diberbagai bidang yang luar biasa telah cukup meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia. Namun masih cukup jauh jika kita merujuk pada tujuan spesifik dari MDGs. Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dr. dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, M.PH pada Januari 2011 lalu berikut adalah kemajuan MDGs bidang kesehatan yang dicapai Indonesia3 :

Target MDG 1 terkait memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrem. Target paling menentukan adalah prevalensi gizi kurang dan gizi buruk. Prevalensi Gizi Kurang telah menurun secara signifikan, dari 31.0 % pada tahun 1989 menjadi 17.9 % pada tahun 2010. Dalam pada itu prevalensi gizi buruk turun dari 12.8% pada tahun 1995 menjadi 4.9 % pada tahun 2010. Target MDG 4 terkait dengan penurunan kematian balita. Angka Kematian Balita, Bayi, dan Neonatal terus mengalami penurunan. Data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menunjukkan Angka Kematian Balita sebesar 44/1000, Angka Kematian Bayi 34/1000, dan Angka Kematian Neonatal 19/1000. Sedangkan inilah target MDGs bidang kesehatan yang cukup sulit dicapai beberapa tahun kedepan : Target MDG 5 terkait dengan penurunan angka kematian ibu (AKI). Indikator AKI merupakan salah satu indikator yang diramalkan sulit dicapai. Tidak hanya di Indonesia akan tetapi di banyak negara berkembang di dunia. Data terakhir pada 2007 menunjukkan AKI sebesar 228/100.000 kelahiran hidup, masih jauh dari target MDGs sebesar 102/100.000 kelahiran hidup. Target MDG 6 yang terkait dengan penyakit HIV. Jumlah kasus HIV yang masuk perawatan mengalami peningkatan, tahun 2010 sebanyak 15.275 orang. Sedangkan jumlah kasus AIDS pada tahun 2010 sebanyak 4.158 orang. Setidaknya masih ada empat tahun untuk mengejar tujuan-tujuan mulia dari MDGs. Tentunya dalam mencapai tujuan tersebut kita harus sepakat bahwa MDGs merupakan tugas seluruh elemen masyarakat, termasuk bagi mahasiswa. Mahasiswa bisa dimasukan dalam anggota tertentu dalam masyarakat. Mahasiswa berbeda dengan anggota masyarakat lainnya. Mahasiswa yang secara umum memiliki cara pemikiran yang luas dan cenderung idealis bisa menjadi sebuah kekuatan yang sangat mendukung terwujudnya MDGs. Kembali pada kandungan dari MDGs. Jika kita perhatikan dari kedelapan MDGs, empat diantaranya merupakan MDG yang berada dalam ruang lingkup kesehatan. Suatu hal yang menarik, hal ini menjadi bukti bahwa kesehatan merupakan komponen utama yang sangat diperhatikan oleh masyarakat dunia. Dan bisa kita simpulkan bahwa segala yang terkait dengan peningkatan faktor kesehatan masyarakat merupakan komponen penting dalam percepatan terwujudnya MDGs. Segala hal yang terkait misalnya fasilitas pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas, kemudian pelayan kesehatan itu sendiri

seperti dokter, perawat, bidan, sampai dengan komponen kesehatan lainnya seperti mahasiswa bidang kesehatan, baik itu mahasiswa jurusan kesehatan masyarakat, keperawatan, farmasi, dan juga pendidikan dokter merupakan elemen masyarakat yang perlu dimaksimalkan perannya. Mahasiswa kesehatan diyakini memiliki peran yang sangat penting dalam menyambung tali kesehatan masyarakat Indonesia di masa yang akan datang. Dan potensi peran yang besar ini bisa dijadikan semacam cambuk untuk bisa berperan sejak masih kuliah. MDGs bisa menjadi trigger sehingga seorang mahasiswa kesehatan bisa memberikan kontribusi positif bagi percepatan pencapaian target MDGs. Setidaknya ada 3 peran kontributif yang bisa dimainkan seorang mahasiswa kesehatan demi tercapainya MDGs. Pertama, sebagai agent of health. Apabila kita langsung kaitan dengan MDGs maka seorang agent of health merupakan garda terdepan dalam membina hubungan yang baik kepada masyarakat. Tentunya dengan tujuan agar masyarakat menjadi lebih peduli dengan kesehatan mereka dan pada akhirnya mereka faham bahwa kesehatan adalah suatu hal yang mahal. Misalnya dengan akses nya yang lebih leluasa dalam bidang kesehatan maka mahasiswa akan lebih mudah melakukan berbagai kegiatan yang merangsang masyarakat akan pentingnya kesehatan. Kedua, sebagai agent of change. Tentunya kita mengharapkan kualita kesehatan masyarakat Indonesia terus meningkat dan mencapai MDGs empat tahun yang akan datang. Mahasiswa bisa menjadi penggerak perubahan tersebut. Misalnya, dengan pengetahuannya akan bahaya merokok seorang mahasiswa kesehatan mengadakan seminar, kampanye bebas rokok, sampai dengan aksi long march di Hari Tanpa Tembakau sedunia yang jatuh pada 31 Mei. Ketiga, sebagai agent of development. Peran ini bersinergi dengan peran agent of change. Setiap usaha yang dilakukan demi menuju perubahan yang lebih baik, utamanya menuju MDGs, bisa terus dipertahankan dan dikembangkan pada masa yang akan datang. Tentunya MDGs bukanlah tujuan akhir dari setiap tujuannnya. Mahasiswa kesehatan baik saat ini dan seterusnya mempunyai tanggung jawab meneruskan cita-cita MDGs. Diluar semakin dekatnya akhir dari program ambisius Millenium Development Goals pada tahun 2015, saat ini mahasiswa memiliki peranan penting yang setidaknya dapat membantu mempercepat terwujudnya MDGs. Secara khusus bagi mahasiswa kesehatan, ia memiliki peran yang besar terkait dengan peranannya sebagai agent of health, agent of change, dan agent of development. Dari setiap perannya tersebut maka bukan tidak mungkin program MDGs bisa terus bergulir walaupun telah melewati tahun 2015 dan akan muncul MDGs-MDGs dalam rentang tahun selanjutnya. Maka Indonesia yang sehat akan segera

hadir dihadapan masyarakat Indonesia, tentunya dihadirkan oleh seorang mahasiswa kesehatan Indonesia.

Pradipta Suarsyaf Mahasiswa FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta SUMBER : http://www.lpminstitut.com/nasional/opini/50-peran-mahasiswakesehatan-dalam-pencapaian-millenium-development-goals-mdgs

Sasaran Pembangunan Milenium Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Artikel ini perlu diwikifikasi agar memenuhi standar kualitas Wikipedia. Anda dapat memberikan bantuan berupa penambahan pranala dalam, atau dengan merapikan tata letak dari artikel ini. Untuk keterangan lebih lanjut, klik [tampilkan] di bagian kanan. [tampilkan]

Sasaran Pembangunan Milenium dalam lambang Sasaran Pembangunan Milenium (bahasa Inggris : Millennium Development Goals atau disingkat dalam bahasa Inggris MDGs) adalah Deklarasi Milenium hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsabangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada September 2000, berupa delapan butir tujuan untuk dicapai pada tahun 2015. Targetnya adalah tercapai kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada 2015. Target ini merupakan tantangan utama dalam pembangunan di seluruh dunia yang terurai dalam Deklarasi Milenium, dan diadopsi oleh 189 negara serta ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York pada bulan September 2000 tersebut. [1] Pemerintah Indonesia turut menghadiri Pertemuan Puncak Milenium di New York tersebut dan menandatangani Deklarasi Milenium itu. Deklarasi berisi komitmen negara masingmasing dan komunitas internasional untuk mencapai 8 buah sasaran pembangunan dalam Milenium ini (MDG), sebagai satu paket tujuan yang terukur untuk pembangunan dan pengentasan kemiskinan. [2] Penandatanganan deklarasi ini merupakan komitmen dari pemimpin-pemimpin dunia untuk mengurangi lebih dari separuh orang-orang yang menderita akibat kelaparan, menjamin semua anak untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya, mengentaskan kesenjangan jender pada semua tingkat pendidikan, mengurangi kematian anak balita hingga 2/3 , dan mengurangi hingga separuh jumlah orang yang tidak memiliki akses air bersih pada tahun 2015. Daftar isi [sembunyikan]

1 Sasaran

o o o

1.1 Memberantas kemiskinan dan kelaparan 1.2 Mencapai pendidikan untuk semua 1.3 Mendorong kesetaraan jender dan pemberdayaan 1.4 Menurunkan angka kematian anak 1.5 Meningkatkan kesehatan ibu 1.6 Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit 1.7 Memastikan kelestarian lingkungan hidup 1.8 Mengembangkan kemitraan global untuk 2 Sasaran Pembangunan Milenium Indonesia 3 Kontroversi 4 Lihat pula 5 Referensi 6 Pranala luar

perempuan
o o o

menular lainnya
o o

pembangunan

[sunting]Sasaran Deklarasi Millennium PBB yang ditandatangani pada September 2000 menyetujui agar semua negara: [sunting]Memberantas kemiskinan dan kelaparan

Pendapatan populasi dunia sehari $1. Menurunkan angka kemiskinan.

[sunting]Mencapai pendidikan untuk semua

Setiap penduduk dunia mendapatkan pendidikan dasar.

[sunting]Mendorong kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan Target 2005 dan 2015: Mengurangi perbedaan dan diskriminasi gender dalam pendidikan dasar dan menengah terutama untuk tahun 2005 dan untuk semua tingkatan pada tahun 2015.

[sunting]Menurunkan angka kematian anak Target untuk 2015 adalah mengurangi dua per tiga tingkat kematian anakanak usia di bawah 5 tahun.

[sunting]Meningkatkan kesehatan ibu Target untuk 2015 adalah Mengurangi dua per tiga rasio kematian ibu dalam proses melahirkan.

[sunting]Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya Target untuk 2015 adalah menghentikan dan memulai pencegahan penyebaran HIV/AIDS, malaria dan penyakit berat lainnya.

[sunting]Memastikan kelestarian lingkungan hidup Mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam kebijakan setiap negara dan program serta mengurangi hilangnya sumber daya lingkungan.

Pada tahun 2015 mendatang diharapkan mengurangi setengah dari jumlah orang yang tidak memiliki akses air minum yang sehat.

Pada tahun 2020 mendatang diharapkan dapat mencapai pengembangan yang signifikan dalam kehidupan untuk sedikitnya 100 juta orang yang tinggal di daerah kumuh.

[sunting]Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan Mengembangkan lebih jauh lagi perdagangan terbuka dan sistem keuangan yang berdasarkan aturan, dapat diterka dan tidak ada diskriminasi. Termasuk komitmen terhadap pemerintahan yang baik, pembangungan dan pengurangan tingkat kemiskinan secara nasional dan internasional.

Membantu kebutuhan-kebutuhan khusus negara-negara kurang berkembang, dan kebutuhan khusus dari negara-negara terpencil dan kepulauan-kepulauan kecil. Ini termasuk pembebasan-tarif dan -kuota untuk ekspor mereka; meningkatkan pembebasan hutang untuk negara miskin yang berhutang besar; pembatalan hutang bilateral resmi; dan menambah bantuan pembangunan resmi untuk negara yang berkomitmen untuk mengurangi kemiskinan.

Secara komprehensif mengusahakan persetujuan mengenai masalah utang negara-negara berkembang.

Menghadapi secara komprehensif dengan negara berkembang dengan masalah hutang melalui pertimbangan nasional dan internasional untuk membuat hutang lebih dapat ditanggung dalam jangka panjang.

Mengembangkan usaha produktif yang layak dijalankan untuk kaum muda.

Dalam kerja sama dengan pihak "pharmaceutical", menyediakan akses obat penting yang terjangkau dalam negara berkembang Dalam kerjasama dengan pihak swasta, membangun adanya penyerapan keuntungan dari teknologi-teknologi baru, terutama teknologi informasi dan komunikasi.

[sunting]Sasaran Pembangunan Milenium Indonesia Setiap negara yang berkomitmen dan menandatangani perjanjian diharapkan membuat laporan MDGs. Pemerintah Indonesia melaksanakannya dibawah koordinasi Bappenas dibantu dengan Kelompok Kerja PBB dan telah menyelesaikan laporan MDG pertamanya yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk menunjukkan rasa kepemilikan pemerintah Indonesia atas laporan tersebut. Laporan Sasaran Pembangunan Milenium ini menjabarkan upaya awal pemerintah untuk menginventarisasi situasi pembangunan manusia yang terkait dengan pencapaian sasaran MDGs, mengukur, dan menganalisa kemajuan seiring dengan upaya menjadikan pencapaianpencapaian ini menjadi kenyataan, sekaligus mengidenifikasi dan meninjau kembali kebijakan-kebijakan dan program-program pemerintah yang dibutuhkan untuk memenuhi sasaran-sasaran ini. Dengan tujuan utama mengurangi jumlah orang dengan pendapatan dibawah upah minimum regional antara tahun 1990 dan 2015, Laporan ini menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam jalur untuk mencapai tujuan tersebut. Namun, pencapaiannya lintas provinsi tidak seimbang.[2] Kini MDGs telah menjadi referensi penting pembangunan di Indonesia, mulai dari tahap perencanaan seperti yang tercantum pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) hingga pelaksanaannya. Walaupun mengalamai kendala, namun pemerintah memiliki komitmen untuk mencapai sasaran-sasaran ini dan dibutuhkan kerja keras serta kerjasama dengan seluruh pihak, termasuk masyarakat madani, pihak swasta, dan lembaga donor. Pencapaian MDGs di Indonesia akan dijadikan dasar untuk perjanjian kerjasama dan implementasinya di masa depan. Hal ini termasuk kampanye untuk perjanjian tukar guling hutang untuk negara berkembang sejalan dengan Deklarasi Jakarta mengenai MDGs di daerah Asia dan Pasifik. [3] [4]

[sunting]Kontroversi Upaya Pemerintah Indonesia merealisasikan Sasaran Pembangunan Milenium pada tahun 2015 akan sulit karena pada saat yang sama pemerintah juga harus menanggung beban pembayaran utang yang sangat besar. ProgramprogramMDGs seperti pendidikan, kemiskinan, kelaparan, kesehatan, lingkungan hidup, kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan membutuhkan biaya yang cukup besar. Merujuk data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan, per 31 Agustus 2008, beban pembayaran utang Indonesia terbesar akan terjadi pada tahun 2009-2015 dengan jumlah berkisar dari Rp97,7 triliun (2009) hingga Rp81,54 triliun (2015) rentang waktu yang sama untuk pencapaianMDGs. Jumlah pembayaran utang Indonesia, baru menurun drastis (2016) menjadi Rp66,70 triliun. tanpa upaya negosiasi pengurangan jumlah pembayaran utang Luar Negeri, Indonesia akan gagal mencapai tujuan MDGs. Menurut Direktur Eksekutif International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) Don K Marut Pemerintah Indonesia perlu menggalang solidaritas negaranegara Selatan untuk mendesak negara-negara Utara meningkatkan bantuan pembangunan bukan utang, tanpa syarat dan berkualitas minimal 0,7 persen dan menolak ODA (official development assistance) yang tidak bermanfaat untuk Indonesia [5]. Menanggapi pendapat tentang kemungkinan Indonesia gagal mencapai tujuan MDGs apabila beban mengatasi kemiskinan dan mencapai tujuan pencapaian MDG di tahun 2015 serta beban pembayaran utang diambil dari APBN di tahun 2009-2015, Sekretaris Utama Menneg PPN/Kepala Bappenas Syahrial Loetan berpendapat apabila bisa dibuktikan MDGs tidak tercapai di 2015, sebagian utang bisa dikonversi untuk bantu itu. Pada tahun 2010 hingga 2012 pemerintah dapat mengajukan renegosiasi utang. Beberapa negara maju telah berjanji dalam konsesus pembiayaan (monetary consensus) untuk memberikan bantuan. Hasil kesepakatan yang didapat adalah untuk negara maju menyisihkan sekitar 0,7 persen dari GDP mereka untuk membantu negara miskin atau negara yang pencapaiannya masih di bawah. Namun konsensus ini belum dipenuhi banyak negara, hanya sekitar 5-6 negara yang memenuhi sebagian besar ada di Skandinavia atau Belanda yang sudah sampai 0,7 persen. [6]

SUMBER:

http://id.wikipedia.org/wiki/Sasaran_Pembangunan_Milenium