Anda di halaman 1dari 5

Membolos dan Akar-Akarnya

JAKARTA-- Pemandangan anak-anak yang membolos dari sekolah pada jam pelajaran tampaknya tak asing lagi. Seperti terlihat di sebuah warung internet (warnet) pada pukul 10.00 di kawasan timur Jakarta yang penuh dengan anak-anak usia sekolah dasar (SD) dan menengah pertama(SMP). Sebagian anak melepaskan seragam sekolah mereka, tampak asyik bermain game online. Tangan dan mata mereka tidak lepas-lepas dari layar dan keyboard komputer.

"Habis bete di sekolah. Tidak enak," kata Evin. Bahkan ketika ditanya tidak takut dimarahi orang tua karena membolos, dengan entengnya mereka menjawab, "Kan tidak ketahuan". (Sumber : Kompas) Kasus di atas merupakan cerminan pendidikan di Indonesia saat ini. Tidak hanya di kota-kota besar saja siswa yang terlihat sering membolos, bahkan di beberapa daerah pun banyak siswa yang gemar membolos. Tentu saja hal ini termasuk suatu permasalahan yang dapat mengganggu situasi pembelajaran. Membolos dapat diartikan sebagai perilaku siswa yang tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak tepat. Atau bisa juga dikatakan ketidak hadiran tanpa alasan yang jelas. Membolos merupakan salah satu bentuk dari kenakalan siswa, yang dapat menimbulkan dampak yang parah jika tidak diselesaikan atau dicarikan solusinya. Kegiatan membolos tentu saja berdampak pada pribadi anak itu sendiri. . Anak yang sering membolos, akan mengalami ketinggalan dalam pelajaran sehingga kegagalan dalam pelajaran. Selain itu, siswa tersebut juga akan mengalami marginalisasi atau perasaan tersisihkan oleh teman-temannya. Hal ini kadang terjadi manakala siswa tersebut sudah begitu parah keadaannya sehingga anggapan teman-temannya ia anak nakal dan perlu menjaga jarak dengannya. Hal yang tidak mungkin terlewatkan ketika siswa membolos ialah

hilangnya rasa disiplin, ketaatan terhadap peraturan sekolah berkurang. Bila diteruskan, siswa akan acuh tak acuh pada urusan sekolahnya. Dan yang lebih parah siswa dapat dikeluarkan dari sekolah. Lembaga pendidikan tempat dia seharusnya memperoleh ilmu pun ikut tercoreng nama baiknya akibat siswanya membolos. Ada beberapa faktor yang menyebabkan seorang siswa membolos. Yang pertama adalah faktor keluarga. Keluarga terutama orang tua mempunyai andil yang besar dalam menentukan perilaku seorang anak. Orang tua yang tidak peduli dengan pendidikan

merupakan salah satu indikasi anak membolos. Jika orang tua menganggap bahwa sekolah itu tidak penting dan hanya membuang-buang waktu saja, atau jika mereka menanamkan perasaan pada anak bahwa ia tidak akan berhasil, anak ini akan berkurang semangatnya untuk masuk sekolah. Biasanya sikap orang tua yang menganggap bahwa pendidikan itu tidak penting karena mereka sendiri orang yang kurang berpendidikan. Akibatnya penghargaan terhadap pendidikan hanya dipandang sebelah mata. Bahkan mereka menuntut agar anakanaknya untuk bekerja saja mencari uang. Ironisnya mereka juga menuntut agar anaknya memperoleh hasil yang lebih besar dari kemampuan anak tersebut. Orang tua seperti ini tidak memiliki pandangan jauh ke depan, sebagai imbasnya masa depan anaklah yang menjadi korban. Uang saku pun dalam hal ini dapat berbicara. Meskipun tidak semua anak menginginkan uang saku yang banyak dari orang tua, namun tidak sedikit pula anak-anak yang merasa kurang percaya diri jika uang saku mereka sedikit dibanding dengan temantemannya. Sehingga akibatnya pada anak tersebut ialah ia menjadi malas untuk masuk sekolah. Di zaman sekarang ini uang selalu menjadi nomor satu, tak terkecuali pada bidang pendidikan. Banyak sekolah-sekolah yang mengharuskan siswa-siswanya untuk membeli LKS, buku wajib, dan segala dan kebutuhan lain demi kepentingan proses belajar. Untuk barang-barang tersebut kadang orang tua tidak mau mengeluarkan uang untuk membelinya. Maka siswa yang tidak membeli akan malu pada siswa lain yang membeli. Dan siswa yang tidak membeli akan malas untuk berangkat ke sekolah. Yang kedua adalah faktor personal. Kurangnya rasa percaya diri pada seorang anak bisa menjadi penghambat segala aktifitas. Faktor utama penghalang kesuksesan ialah kurangnya rasa percaya diri. Ia mematikan kreatifitas siswa. Meskipun begitu banyak ide dan kecerdasan yang dimiliki siswa, tetapi jika tidak berani atau merasa tidak mampu untuk melakukannya sama saja percuma. Perasaan diri tidak mampu dan takut akan selalu gagal

membuat siswa tidak percaya diri dengan segala yang dilakukannya. Ia tidak ingin malu, merasa tidak berharga, serta dicemooh sebagai akibat dari kegagalan tersebut. Perasan kurang percaya diri tidak selalu muncul pada setiap mata pelajaran. Terkadang ia merasa tidak mampu dengan mata pelajaran matematika, tetapi ia mampu pada mata pelajaran biologi. Pada mata pelajaran yang ia tidak suka, ia cenderung berusaha untuk menghindarinya, sehingga ia akan pilih-pilih jika akan masuk sekolah. Sementara itu siswa tidak menyadari bahwa dengan tidak masuk sekolah justru membuat dirinya ketinggalan materi pelajaran. Melarikan diri dari masalah malah akan menambah masalah tersebut. Perasaan termarginalkan atau perasaan tersisihkan tentu tidak diinginkan semua orang. Hal ini juga bisa jadi pemicu anak membolos. Seringkali anak dibuat merasa bahwa ia tidak diinginkan atau diterima di kelasnya. Perasaan ini bisa berasal dari teman sekelas atau mungkin gurunya sendiri dengan sindiran atau ucapan. Siswa yang ditolak oleh teman-teman sekelasnya, tentu akan merasa lebih aman berada di luar sekolah. Ada siswa yang tidak masuk sekolah karena takut oleh ancaman temannya. Ada juga yang diacuhkan oleh temantemannya, ia tidak diajak bermain, atau mengobrol bersama. Penolakan siswa terhadap siswa lain dapat disebabkan oleh faktor tertentu, misalnya faktor SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan). Menurunnya motivasi atau hilangnya minat akademik siswa, kondisi ketinggalan pelajaran, atau karena kenakalan remaja seperti konsumsi alkohol dan minuman keras, dan faktor kematangan (readiness) juga sisi personal siswa yang menjadi alasan siswa membolos. Faktor yang ketiga adalah faktor sekolah itu sendiri. Sekolah merupakan tempat terjadinya proses belajar mengajar. Belajar akan lebih berhasil bila bahan yang dipelajari menarik perhatian anak. Karena itu bahan harus dipilih yang sesuai dengan minat anak atau yang di dalamnya nampak dengan jelas adanya tujuan yang sesuai dengan tujuan anak melakukan aktivitas belajar. Jadi suasana kelas sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Selain itu, tujuan pembelajaran yang jelas juga akan memudahkan siswa dalam pemahamannya. Sehingga siswa tidak akan bosan dan mudah mengikuti kegiatan pembelajaran. Di samping itu kebijakan mengenai pembolosan yang tidak konsisten, interaksi yang minim antara orang tua siswa dengan pihak sekolah, guru-guru yang tidak suportif, atau tugas-tugas sekolah yang kurang menantang bagi siswa menjadi pendorong siswa membolos. Tanpa disadari, pihak sekolah bisa jadi menyebabkan perilaku membolos pada siswa, karena sekolah kurang memiliki kepedulian terhadap apa yang terjadi pada siswa. Awalnya

barangkali siswa membolos karena faktor personal atau permasalahan dalam keluarganya. Kemudian masalah muncul karena sekolah tidak memberikan tindakan yang konsisten, kadang menghukum kadang menghiraukannya. Ketidakkonsistenan ini akan berakibat pada kebingungan siswa dalam berperilaku sehingga tak jarang mereka mencoba-coba membolos lagi. Jika penyebab banyaknya perilaku membolos adalah faktor tersebut, maka penanganan dapat dilakukan dengan melakukan penegakan disiplin sekolah. Tugas pihak sekolah dalam membantu menurunkan perilaku membolos adalah mengusahakan kondisi sekolah hingga nyaman bagi siswa-siswanya. Dalam menghadapi siswa yang sering membolos, pendekatan individual juga perlu dilakukan oleh pendidik (guru). Masalah apakah yang menyebabkan mereka membolos. Apakah dari personal siswa atau keluarga. Apabila siswa masih bersikap tertutup, tidak mau menceritakan permasalahan mengapa ia membolos, maka guru menggunakan cara lain yaitu menanyakan pada teman dekatnya. Kemudian guru langsung mengambil tindakan. Tindakan yang dilakukan tidak harus melalui hukuman. Memberi nasehat dan arahan yang baik akan lebih mengena dari pada membentak dan memarahinya. Perhatian dari guru juga penting dalam meminimalisir tindakan membolos. Jika guru tidak memperhatikan siswanya dengan baik dan hanya berorientasi pada selesainya penyampaian materi pelajaran di kelas, peluang perilaku membolos pada siswa semakin besar karena siswa tidak merasakan menariknya pergi ke sekolah. Teori pembelajaran humanistik juga sudah seharusnya diterapkan. Menurut Sugihartono dkk (2004) menyatakan bahwa teori humanistik adalah suatu teori yang bertujuan memanusiakan manusia. Tujuan utama pendidik (guru) adalah membantu siswa untuk mengembangkan diirnya, yaitu membantu masingmasing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai individu yang unik dan membantu mewujudkan potensi yang ada pada diri mereka sendiri. Apabila guru mampu mengembangkan potensi, minat dan bakat yang ada pada diri siswa, kepercayaan diri siswa pun akan terbangun dengan sendirinya, siswa pun akan merasa tertarik dengan pembelajaran karena percaya bahwa mereka bisa. Sehingga tindakan membolos dapat dikurangi. Peran sekolah tidaklah cukup dalam mengatasi tindakan membolos. Keluarga juga harus turut andil dalam hal ini. Keluarga harus mempunyai pandangan yang luas tentang pendidikan, dan juga memberikan motivasi belajar kepada anak.

Dengan adanya kerjasama yang baik antara pihak sekolah dan orang tua siswa, permasalahan membolos siswa diharapkan dapat diselesaikan sehingga tidak menjalar kepada siswa lainnya.