Anda di halaman 1dari 2

Esai Pengaruh Agama dan Budaya dalam Hubungan Dokter Pasien Shela Putri Sundawa, 0806324500 Dalam era

a global yang terjadi saat ini, dokter merupakan salah satu profesi yang mendapatkan banyak sorotan masyarakat. Masyarakat banyak yang menyoroti profesi dokter, baik melalui media cetak, media elektronik ataupun yang disampaikan secara langsung ke Ikatan Dokter Indonesia sebagai induk organisasi para dokter. Sebenarnya sorotan masyarakat terhadap profesi dokter merupakan satu pertanda bahwa saat ini sebagian masyarakat belum puas terhadap pelayanan medis dan pengabdian profesi dokter di masyarakat. Ketidakpuasaan merupakan suatu konsekuensi tidak bertemunya harapan dan kenyataan. Hubungan dokter dan pasien memiliki perjalanan yang cukup panjang jika hendak ditilik lagi. Hubungan ini telah terjadi sejak dahulu, jaman Yunani kuno. Dokter adalah seorang yang memberikan pengobatan terhadap orang yang membutuhkannya. Hubungan ini merupakan hubungan yang sangat pribadi karena didasarkan atas kepercayaan dari pasien terhadap dokter yang disebut dengan transaksi terapeutik1. Hubungan yang sangat pribadi itu oleh Wilson2 digambarkan seperti halnya hubungan antara pendeta dengan jemaah yang sedang mengutarakan perasaannya. Pengakuan pribadi itu sangat penting bagi eksplorasi diri, membutuhkan kondisi yang terlindung dalam ruang konsultasi. Hubungan hukum antara dokter dengan pasien ini berawal dari pola hubungan vertikal paternalistik seperti antara bapak dengan anak yang bertolak dari prinsip father knows best yang melahirkan hubungan yang bersifat paternalistik3. Dalam hubungan ini kedudukan dokter lebih tinggi daripada pasien karena dokter dianggap mengetahui tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan penyakit dan penyembuhannya. Sedangkan pasien tidak tahu apa-apa tentang hal itu sehingga pasien menyerahkan nasibnya sepenuhnya di tangan dokter. Namun seiring dengan kemajuan zaman, pola hubungan dokter - pasien ini mulai bergeser dari yang bersifat vertikal paternalistik menjadi horizontal kontraktual sehingga keduanya saat ini dalam posisi yang sederajat. Dengan begitu dalam pola interaksinya menimbulkan hak dan kewajiban bagi dokter dan pasien.4 Manusia adalah makhluk sosial yang selalu ingin mengembangkan fungsi sosialnya. Dengan latar belakang setiap orang yang berbeda, interaksi antar setiap manusia akan memiliki corak hubungan yang berbeda pula. Latar belakang yang dimaksudkan di sini adalah kondisi, keadaan atau kepercayaan yang mendasari seseorang untuk melakukan suatu tindakan yang dia anggap baik dan benar. Untuk lebih menyederhanakan, latar belakang adalah norma yang dianut oleh seseorang. Hubungan dokter - pasien seperti layaknya hubungan lain antar manusia juga didasari oleh norma yang dipegang oleh keduanya. Kekhasan dari suatu hubungan akan muncul tanpa disadari karena sikap yang mereka tunjukkan dalam interaksi tersebut merupakan hasil dari interaksi antara norma-norma yang melatari sikap keduanya. Per definisi menurut Kamus Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh pusat bahasa departemen pendidikan nasional, norma adalah peraturan atau ketentuan yang mengikat

semua atau sebagian warga masyarakat. Yang termasuk dalam norma antara lain norma agama, norma hukum dan norma budaya. Norma hukum dalam hal ini memiliki bentuk interaksi yang paling berbeda dibanding dengan norma agama dan budaya. Oleh karena itu untuk selanjutnya tidak akan dibahas lebih lanjut. Norma agama dan budaya diakui ataupun tidak adalah landasan yang memengaruhi interaksi hubungan setiap manusia, tidak terkecuali hubungan dokter - pasien. Norma inilah yang nantinya akan membantu munculnya suatu dasar dari hubungan antar keduanya, kepercayaan. Seorang dokter yang kaku dan maladaptif dalam menerapkan norma yang ia pegang terhadap suatu kondisi yang dipaparkan oleh pasiennya, tidak akan berhasil dalam membangun kepercayaan dalam hubungan tersebut. Terlepas dari berhasil atau tidaknya pengobatan yang dilakukan oleh dokter tersebut kepada pasien, tidak adanya kepercayaan ini akan menghancurkan hubungan yang terjadi antara dokter dan pasien. Kemudian akan timbul rasa ketidakpuasaan dari pasien terhadap dokternya dan tidak menutup kemungkinan pasien akan membawa kekecewaannya ini hingga ke meja hijau. To cure sometimes, to relieve often, to comfort always seperti yang dikatakan oleh Dr. Edward Trudeau pada tahun 1800an ketika mendirikan sanatorium tuberculosis, hendaknya patut selalu diingat oleh setiap dokter. Akhir dari tujuan sebuah hubungan dokter - pasien bukanlah sembuh semua penyakit dari pasien tersebut tapi rasa nyaman yang dapat dirasakan oleh pasien ketika berhadapan dengan kondisi medis yang terdapat dalam dirinya. Norma agama dan budaya juga merupakan modal cara berinteraksi dokter dengan pasien. Menjalin hubungan dengan pasien yang berasal dari Batak dan beragama Kristen tentunya tidak sama dengan pasien yang berasal dari Jawa dan beragama Islam. Sejak lama hal ini telah disadari oleh dokter pendahulu, sehingga dalam identitas di awal anamnesis pun telah diberikan kolom untuk suku dan agama. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa budaya dan agama memiliki pengaruh yang sangat besar dalam terbinanya hubungan dokter - pasien. Kekeliruan dalam penerapan norma budaya dan agama dalam hubungan ini akan berakhir pada ketidakpuasan salah satu pihak dan kegagalan hubungan terapeutik dokter - pasien.

DAFTAR PUSTAKA 1. Achadiat C. M. Pernik-Pernik Hukum Kedokteran , Melindungi Pasien dan Dokter. 1996. Jakarta: Widya Medika. 2. Adji US. Profesi Dokter Etika Profesional dan Hukum Pertangungjawaban Pidana Dokter. 1991. Jakarta: Erlangga. 3. Waitzkin HB & Waterman B. Sosiologi Kesehatan. 1993. Jakarta: Prima Aksara. 4. Astuti EK. Hubungan Hukum antara Dokter dengan Pasien dalam upaya Pelayanan Medis. 2005.