Sejarah

Anggota:
Hestu Kanugroho Fachri Kurnia Riyan Pratama ( ) ( 08 ) ( 22 )

nyiyanl sa(ng)h yang talaga rena mahawijaya. Ia menginjak. yang telah memperindah kedaton Surawisesa. kabupaten Ciamis. prebu ratu purane pun. Kampung Tugu. ia tetap. yang memakmurkan seluruh pemukiman. Dalam naskah-naskah kuno nusantara.gya par bu raja wastu mangad g di kuta ka. Isi teks Teks di bagian muka: nihan tapa kawa. Kecamatan Bogor Selatan. penguasa Sunda yang bertahta di Kawali. Adapun secara keseluruhan. ini tanda peringatan Prabu Ratu almarhum Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana. Hal ini karena pemerintahan Kerajaan Pajajaran merupakan kelanjutan dari kerajaan.li nu sang hyang mulia tapa bha. Kota Bogor. membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam (tahun) Saka "Panca Pandawa Mengemban Bumi"[2].wali nu mahayuna kadatuan sura wisesa nu marigi sa. terdapat perbedaan urutan antara naskah-naskah Babad Pajajaran. atau berdasarkan nama ibukotanya yaitu Pakuan Pajajaran. terutama pada prasasti "utama" yang bertulisan paling banyak (Prasasti Kawali I). terdapat enam prasasti. prasasti ini diperkirakan berasal dari paruh kedua abad ke-14 berdasarkan nama raja. Kompleks Prasasti Batutulis memiliki luas 17 x 15 meter. Jakarta Taman perburuan. ia roboh. Selain naskah-naskah babad. o o i saka. panca pandawa e(m) ban bumi Terjemahan Terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini Semoga selamat. Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Pada batu ini berukir kalimat-kalimat dengan huruf Sunda Kuno. ya siya. Pasundan. dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.kuliling day h. Catatan kaki ^ Lokasi hutan samida ini konon yang sekarang dipakai sebagai Kebun Raya Bogor.Kerajaan Pajajaran adalah sebuah kerajaan Hindu yang diperkirakan beribukotanya di Pakuan (Bogor) di Jawa Barat. Meskipun tidak berisi candrasangkala. Tugu Perjanjian Portugis (padraõ). diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana di wastu diya wingaran sri baduga maharaja ratu hajj di pakwan pajajaran seri sang ratu dewata pun ya nu nyusuk na pakwan diva anak rahyang dewa niskala sa(ng) sida mokta dimguna tiga i(n) cu rahyang niskalaniskala wastu ka(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarang ya siya ni nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida. membuat undakan untuk hutan Samida[1]. Daftar raja Pajajaran Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521) Sri Baduga Maharaja 2 . yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor. cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusa Larang. dan Carita Waruga Guru. yang membuat parit pertahanan di sekeliling wilayah kerajaan. Jawa Barat. Sejarah Sejarah kerajaan ini tidak dapat terlepas dari kerajaan-kerajaan pendahulunya di daerah Jawa Barat. dapat disimpulkan bahwa Prasasti Kawali I ini merupakan sakakala atau tugu peringatan untuk mengenang kejayaan Prabu Niskala Wastu Kancana. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan. putra Prabu Linggabuana yang gugur di Bubat. seperti yang disebutkan dalam prasasti Sanghyang Tapak. Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak peninggalan dari masa lalu. Isi Prasasti Wangna pun ini sakakala. ^ Ini adalah sangkala yang artinya adalah 5 5 4 1 atau kalau dibalik adalah 1455 Saka (1533 Masehi) 2. Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga. Berdasarkan perbandingan dengan peninggalan sejarah lainnya seperti naskah Carita Parahyangan dan Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara. Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan. yaitu Kerajaan Tarumanagara. Prasasti Sanghyang Tapak. Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini didirikan tahun 923 oleh Sri Jayabhupati. Teks di bagian tepi tebal: Jangan dimusnahkan! Jangang semena-mena! Ia dihormati. dan Kawali. Mengenai raja-raja Kerajaan Pajajaran. nu najur sakala desa aja manu panderi pak na gawe ring hayu pak n hebel ja ya dina buana Teks di bagian tepi tebal: hayua diponah-ponah hayua dicawuh-cawuh inya neker inya angger inya ninycak inya rempag Alihbahasa Teks di bagian muka: Inilah jejak (tapak) (di) Kawali (dari) tapa beliau Yang Mulia Prabu Raja Wastu (yang) mendirikan pertahanan (bertahta di) Kawali. Batu Prasasti dan benda-benda lain peninggalan kerajaan Sunda terdapat dalam komplek ini. A. kerajaan ini sering pula disebut dengan nama Negeri Sunda. Carita Parahiangan. Kepada yang akan datang. Sukabumi Prasasti Astana Gede atau Prasasti Kawali merujuk pada beberapa prasasti yang ditemukan di kawasan Kabuyutan Kawali. seperti: 1.kerajaan tersebut. Dari catatancatatan sejarah yang ada. antara lain mengenai ibukota Pajajaran yaitu Pakuan. prasasti Batutulis terletak di jalan Batutulis. Kesemua prasasti ini menggunakan bahasa dan aksara Sunda (Kaganga). hendaknya menerapkan keselamatan sebagai landasan kemenangan hidup di dunia. dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini. Kelurahan Batutulis.

Kebijakan Sri Baduga dan Kehidupan Sosial Tindakan pertama yang diambil oleh Sri Baduga setelah resmi dinobatkan jadi raja adalah menunaikan amanat dari kakeknya (Wastu Kancana) yang disampaikan melalui ayahnya (Ningrat Kancana) ketika ia 3 . Mengapa Dewa Niskala (ayah Sri Baduga) dilewat? Ini disebabkan Dewa Niskala hanya menjadi penguasa Galuh. Dengan peristiwa ini. Jadi nama itu bukan nama pribadinya. Tentang hal itu. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam Kropak 630 sebagai lakon pantun. ia bersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa. orang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehingga menganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana (Prabu Anggalarang). Pangeran Wangsakerta. sedangkan Jayadewata bergelar Maharaja (sama seperti kakeknya Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi. angkatan perang dan rakyat Jawa Barat. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda". Dan keturunannya lalu disebut dengan nama Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi Di Jawa Barat Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. sedangkan penggantinya ("silih"nya) bukan Sri Baduga melainkan Wastu Kancana (kakek Sri Baduga. yaitu yang pertama ketika Jayadewata menerima Galuh dari ayahnya (Prabu Dewa Niskala) yang kemudian bergelar Prabu Guru Dewapranata. Indonesia: Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. B. Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 mengungkapkan bahwa orang Sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti Prabu Wangi. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Kemashurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain. tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain. Menurut Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara II/4. menganggap bahwa tokoh Prabu Wangi adalah Maharaja Linggabuana yang gugur di Bubat. yang memerintah selama 39 tahun (1482-1521).1 Carita Parahiyangan 4. penanggung jawab penyusunan Sejarah Nusantara. sebagai silih yang telah hilang. Menurut tradisi lama. Pada masa inilah Pakuan mencapai puncak perkembangannya. Perang Bubat Kesenjangan antara pendapat orang Sunda dengan kenyataan sejarah seperti yang diungkapkan di atas mudah dijajagi. Biografi Masa muda Waktu mudanya Sri Baduga terkenal sebagai kesatria pemberani dan tangkas bahkan satu-satunya yang pernah mengalahkan Ratu Japura (Amuk Murugul) waktu bersaing memperbutkan Subanglarang (istri kedua Prabu Siliwangi yang beragama Islam). Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga. Untuk menuliskan situasi kepindahan keluarga kerajaan dapat dilihat pada Pindahnya Ratu Pajajaran 1 Prabu Siliwangi 2 Biografi 2. setelah "sepi" selama 149 tahun. "Silih" dalam pengertian kekuasaan ini oleh para pujangga babad yang kemudian ditanggapi sebagai pergantian generasi langsung dari ayah kepada anak sehingga Prabu Siliwangi dianggap putera Wastu Kancana. Naskahnya berisi sebagai berikut (artinya saja): "Di medan perang Bubat ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda). Susuktunggal.Galuh). Dengan demikian. Oleh karena itu nama Prabu Maharaja mewangi. maka juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi. Oleh karena itu. menteri-menteri kerajaan. ia menjadi penguasa Sunda-Galuh dan dinobatkan dengar gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. seperti diutarakan Amir Sutaarga (1965). Yang kedua ketika ia menerima Tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya.Sri Baduga Maharaja (Ratu Jayadewata) mengawali pemerintahan zaman Pajajaran. Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi. Dalam berbagai hal. orang sejamannya teringat kepada kebesaran mendiang buyutnya (Prabu Maharaja Lingga Buana) yang gugur di Bubat yang digelari Prabu Wangi. Tetapi dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Niskala Wastu Kancana itu adalah "seuweu" Prabu Wangi.2 Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 2. Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Jawa Barat.2 Perang Bubat 3 Kebijakan Sri Baduga dan Kehidupan Sosial 4 Peristiwa-peristiwa di masa pemerintahannya 4. Jadi sekali lagi dan untuk terakhir kalinya. Nah. Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sang Patih Gajah Mada yang jumlahnya tidak terhitung. yang menurut naskah Wastu Kancana disebut juga Prabu Wangisutah).1 Masa muda 2. Dalam hubungan ini tokoh Sri Baduga memang penerus "langsung" dari Wastu Kancana. ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal) hanya bergelar Prabu. Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali. Sri Baduga itu dianggap sebagai "silih" (pengganti) Prabu Wangi Wastu Kancana (oleh Pangeran Wangsakerta disebut Prabu Wangisutah). ia menulis: "Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Jawa Barat kembali menyaksikan iring-iringan rombongan raja yang berpindah tempat dari timur ke barat. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira". Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda.

Kapas termasuk upeti. Jadi tidak dikenakan kepada rakyat secara perorangan. Dari sinilah orang Sunda mempunyai peribahasa "puraga tamba kadengda" (bekerja sekedar untuk menghindari hukuman atau dendaan). menjadi hak raja atau penguasa setempat (tohaan). jalan. Piagam-piagam Sri Baduga lainnya berupa "piteket" karena langsung merupakan perintahnya. Isi pesan ini bisa ditemukan pada salah satu prasasti peninggalan Sri Baduga di Kebantenan. Reuma adalah bekas ladang. Dondang harus selalu digotong. Dalam Pustaka Jawadwipa disebut karyabhakti dan sudah dikenal pada masa Tarumanagara dalam abad ke-5. Penduduk kedua dayeuh ini dibebaskan dari 4 macam pajak. Jadi "gotong royong tradisional berupa bekerja untuk kepentingan umum atas perintah kepala desa". Bentuk dasa pada dasarnya tetap berlangsung. Oleh karena itu. Pajak yang benar-benar hanyalah pajak tenaga dalam bentuk "dasa" dan "calagra" (Di Majapahit disebut "walaghara = pasukan kerja bakti). "Preangerstelsel" dan "Cultuurstelsel" yang keduanya berupa sistem tanam paksa memanfaatkan tradisi pajak tenaga ini. melainkan kepada penguasa setempat.masih menjadi mangkubumi di Kawali. Tugas. Garut) harus membawa "kapas sapuluh carangka" (10 carangka = 10 pikul = 1 timbang atau menurut Coolsma. Maka diperintahkan kepada para petugas muara agar jangan memungut bea. Samadullah Surawisesa Mundinglayadikusumah/SRI PADUKA MAHARAJA PRABU GURU GANTANGAN SANG SRI JAYA DEWATA /KEBO 4 . Turun kepada Rahyang Ningrat Kancana. Panggeres adalah hasil lebih atau hasil cuma-cuma tanpa usaha. Harus menitipkan ibukota di Jayagiri dan ibukota di Sunda Sembawa. 1 caeng timbang) sebagai upeti ke Pakuan tiap tahun. "upeti". Semoga ada yang mengurusnya. Dongdang adalah alat pikul seperti "tempat tidur" persegi empat yang diberi tali atau tangkai berlubang untuk memasukan pikulan. dan "pare dongdang". menurut sejarahnya bukanlah gotong royong. berburu. Bentuk dasa diubah menjadi "Heerendiensten" (bekerja di tanah milik penguasa atau pembesar). padi yang tumbuh terlambat (turiang) di bekas ladang setelah dipanen dan kemudian ditinggalkan karena petani membuka ladang baru. "Pare dondang" disebut "panggeres reuma". Karena bertali atau bertangkai. Mundinglayadikusumah / Rd.menjadi wali sang kakak Linggabuana/Jayanagara I/Maharaja Prabu Diwastu ayah dari Hayam Wuruk /Hyang Warok /Rd. Gelar "Sripaduka" ( Sri Baduga ) pada zaman Pajajaran Nagara disandang oleh 3 tokoh : 1. Di desa ada kewajiban "gebagan" yaitu bekerja di sawah bengkok dan ti tingkat kabupaten bekerja untuk menggarap tanah para pembesar setempat. sedangkan jenis kedua dilakuan dengan imbalan dan makan. Belanda yang di negaranya tidak mengenal sistem semacam ini memanfaatkanna untuk "rodi". "panggeureus reuma". "pare dongdang" atau "penggeres reuma" ini lebih bersifat barang antaran. Dalam akhir abad ke-19 bentuknya berubah menjadi "lakon gawe" dan berlaku untuk tingkat desa. Jenis pertama dilakukan tanpa imbalan apa-apa. Kalagemet /Jayanagara II / Raja Sundayana di Galuh /Ratu Galuh di Panjalu / Maharaja Prabu Wangi dan merangkap Wali Nagari Hujung Galuh ( Majapahit-Pajajaran Wetan / Jawa Pawatan / Galuh . "kapas timbang" (kapas 10 pikul) dan "pare dondang" (padi 1 gotongan). Merekalah yang tegas mengamalkan peraturan dewa. Dalam kropak 630. tetapi ide dasarnya adalah pajak dalam bentuk tenaga. Sistem dasa dan calagara ini terus berlanjut setelah jaman kerajaan. urutan pajak tersebut adalah dasa. memelihara saluran air (ngikis). bekerja di ladang atau di "serang ageung" (ladang kerajaan yang hasil padinya di peruntukkan bagi upacara resmi).dengan cara dibokong dan di keroyok !!! 2. Memang tradisional. "calagra". Isinya sebagai berikut (artinya saja): Semoga selamat. rumah jada dan keamanan. ada sangsi untuk mereka yang melalaikannya. maka selanjutnya kepada Susuhunan sekarang di Pakuan Pajajaran. Dengan tegas di sini disebut "dayeuhan" (ibukota) di Jayagiri dan Sunda Sembawa. seperti pemeliharaan saluran air. waktu digotong selalu berayun sehingga disebut "dondang" (berayun). yaitu "dasa" (pajak tenaga perorangan). Ini tanda peringatan bagi Rahyang Niskala Wastu Kancana. "kapas timbang". Karena bersifat pajak. Inu Kertapati /Susuk Tunggal /Prabumulih /Prabu Seda Keling /Sang Haliwungan /Pangeran Boros Ngora/RaHyang Kancana )gugur pada "PERANG BUBAT" dalam pertempuran yang tidak "FAIR" atas "REKAYASA" Gajah Mada / Guan Eng Cu dan Nangganan /Ki Ageng Muntalarasa /Syekh BEN TONG!!!!. "calagra" (pajak tenaga kolektif). Karena merekalah yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepada ajaran-ajaran. Calagara diubah menjadi "Algemeenediensten" (dinas umum) atau "Campongdiesnten" (dinas Kampung) yang menyangkut kepentingan umum. desa bebas pajak. Dalam kropak 630 disebutkan "wwang tani bakti di wado" (petani tunduk kepada wado). Jangan memberatkannya dengan "dasa".tugas yang harus dilaksanakan untuk kepentingan raja diantaranya : menangkap ikan. Pitara Wangisuta / SRI PADUKA MAHARAJA PRABU GURU DEWATA PURANA RATU HAJI DI PAKUAN PAJAJARAN SANG RATU KARANTEN ( KARA ANTEN ) RAKEYAN LAYARAN WANGI /SUNAN RUMENGGONG (RAMA HYANG AGUNG ) adik dari Dyah Pitaloka Citraresmi anak dari Rd. Jadi. Dalam koropak 406 disebutkan bahwa dari daerah Kandang Wesi (sekarang Bungbulang. Dondang pun khusus dipakai untuk membawa barang antaran pada selamatan atau arak-arakan. Wastukancana / Rd. Wado atau wadwa ialah prajurit kerajaan yang memimpin calagara. Isinya tidak hanya pembebasan pajak tetapi juga penetapan batas-batas "kabuyutan" di Sunda Sembawa dan Gunung Samaya yang dinyatakan sebagai "lurah kwikuan" yang disebut juga desa perdikan. calagra.

KUMETIR /KI AGENG PAMANAH RASA / SUNAN PAGULINGAN anak dari LINGGA HYANG / LINGGA WESI / HYANG BUNI SWARA /SRI SANGGRAMAWIJAYA TUGGAWARMAN /MAHAPATI ANAPAKEN ( MENAK PAKUAN )/ RD. RAKEYAN MUNDINGSARI/MUNDINGKAWATI/TUMENGGUNG CAKRABUWANA WANGSA GOPA PRANA SANG PRABU WALANGSUNGSANG/DALEM MARTASINGA /SYEKH RACHMAT SYARIF HIDAYATULLAH SUNAN GUNUNG JATI I /KEBO ANABRANG ? SILIWANGI III /SUNAN RACHMAT adalah anak dari Hyang Warok / Susuk Tunggal /Sang Haliwungan Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 2. pemerintahan Sri Baduga dilukiskan demikian : "Purbatisi purbajati. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. memperkuat angkatan perang. Pajajaran memiliki kira-kira 100. Dari Naskah ini dapat diketahui. Tan kreta ja lakibi dina urang reya. Jagabaya tak berdaya menghadapi pasukan gabungan Cirebon-Demak yang jumlahnya sangat besar. bahwa pada tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka. 5 . Setelah berunding. Kumetir / Layang Kumetir Rakeyan Mundingwangi SILIWANGI II Rd. Syarif Hidayat menghentikan pengiriman upeti yang seharusnya di bawa setiap tahun ke Pakuan Pajajaran. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama). di seluruh kerajaan. maka alasan pembatalan penyerangan itu bisa diterima oleh penguasa Pajajaran]. Akan tetapi pengiriman pasukan itu dapat dicegah oleh Purohita (pendeta tertinggi) keraton Ki Purwa Galih. [Syarif Hidayat masih cucu Sri Baduga dari Lara Santang. Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa). [Pajajaran adalah negara yang kuat di darat. Pasukan besar segera disiapkan untuk menyerang Cirebon. Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun. tetapi lemah di laut. mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. yaitu : Pangeran Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi). H. Senang sejahtera di utara. Menurut sumber Portugis. Demikianlah situasi yang dihadapi Sri Baduga pada awal masa pemerintahannya. bahwa pasukan Angkatan Laut Demak yang kuat berada di Pelabuhan Cirebon untuk menjada kemungkinan datangnya serangan Pajajaran. Di laut. akhirnya Jagabaya menghamba dan masuk Islam. Pajajaran hanya memiliki enam buah Kapal Jung 150 ton dan beberaa lankaras (?) untuk kepentingan perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun)]. pembuatan parit pertahanan. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor.KENONGO /ARYA KUMETIR /RD. Ada empat pasangan yang dijodohkan. MUNDINGWANGI/ SRI PADUKA MAHARAJA PRABU GURU DEWATAPRANA SANG PRABU GURU RATU DEWATA anak dari Wastukancana. ja loba di sanghiyang siksa". [Cirebon adalah daerah warisan Cakrabuana (Walangsungsang) dari mertuanya (Ki Danusela) dan daerah sekitarnya diwarisi dari kakeknya Ki Gedeng Tapa (Ayah Subanglarang). Sebagai Senapati Sarjawala. tidak mengetahui kehadiran pasukan Demak di sana.Salalangu Layakusumah Sri Paduka Maharaja Prabu Guru Dewata Prana Sang Prabu Guru Ratu Dewata / Kebo Anabrang ? Rakeyan Mundingsari /Mundingkawati SILIWANGI III Tumenggung Cakrabuana Wangsa Gopa Prana Sang Prabu Walangsungsang Dalem Martasinga Syekh Rachmat Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati I Ki Ageng Pamanahan / Kebo Mundaran ? Peristiwa-peristiwa di masa pemerintahannya Beberapa peristiwa menurut sumber-sumber sejarah: Carita Parahiyangan Dalam sumber sejarah ini. panglima angkatan laut. Kerajaan Demak. bahwa pada saat itu telah banyak Rakyat Pajajaran yang beralih agama (Islam) dengan meninggalkan agama lama. Rakeyan Mundinglaya SILIWANGI I Rd. membuat jalan dan menyusun PAGELARAN (formasi tempur). Samadullah Surawisesa Mundinglayadikusumah Sri Paduka Maharaja Prabu Guru Gantangan Sang Sri Jaya Dewata / Ki Ageng Pamanah Rasa / Sunan Pagulingan / Kebo Kenongo / Rd. Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor. Peristiwa itu membangkitkan kemarahan Sri Baduga. Ia dijadikan raja oleh uanya (Pangeran Cakrabuana) dan menjadi raja merdeka di Pajajaran di Bumi Sunda (Jawa Barat)] Ketika itu Sri Baduga baru saja menempati istana Sang Bhima (sebelumnya di Surawisesa). Tumenggung Jagabaya beserta 60 anggota pasukannya yang dikirimkan dari Pakuan ke Cirebon. baik berupa laskar maupun penyakit batin.000 prajurit. barat dan timur. (Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh. PURWA ANDAYANINGRAT / SUNAN GIRI /HYANG TWAH / BATARA GURU NISKALAWASTU DI JAMPANG 3. Sabrang Lor untuk sementara berada di Cirebon. Cakrabuana sendiri dinobatkan oleh Sri Baduga (sebelum menjadi Susuhunan) sebagai penguasa Cirebon dengan gelar Sri Mangana. Naskah ini menceritakan. Keadaan makin tegang ketika hubungan Demak-Cirebon makin dikukuhkan dengan perkawinan puteraputeri dari kedua belah pihak. Karena Syarif Hidayat dinobatkan oleh Cakrabuana dan juga masih cucu Sri Baduga. Kemudian diberitakan. Dapat dimaklumi kenapa ia mencurahkan perhatian kepada pembinaan agama. Perkawinan Pangeran Sabrang Lor alias Yunus Abdul Kadir dengan Ratu Ayu terjadi 1511.

berarti mengkilap atau berseri. Demikianlah pemerintahan Sri Baduga dilukiskan sebagai jaman kesejahteraan (Carita Parahiyangan). Naskah Kitab Waruga Jagat dari Sumedang dan Pancakaki Masalah karuhun Kabeh dari Ciamis yang ditulis dalam abad ke-18 dalam bahasa Jawa dan huruf Arab-pegon masih menyebut masa pemerintahan Sri Baduga ini dengan masa gemuh Pakuan (kemakmuran Pakuan) sehingga tak mengherankan bila hanya Sri Baduga yang kemudian diabadikan kebesarannya oleh raja penggantinya dalam jaman Pajajaran. bukan terhadap Kerajaan Cirebon. they are true men" (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil. Pangeran Cakrabuana dan Susuhunan Jati (Syarif Hidayat) tetap menghormati Sri Baduga karena masing-masing sebagai ayah dan kakek. Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan di Banten. 6 . Juga diberitakan kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai ke kepulauan Maladewa (Maladiven). Berakhirnya jaman Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja). Lara Santang. dan Raja Sangara -.1521). Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi yang dalam Prasasti Tembaga Kebantenan disebut Susuhuna di Pakuan Pajajaran. memerintah selama 39 tahun (1482 . Sebaliknya upaya Pajajaran ini telah pula meresahkan pihak Demak. Oleh karena itu permusuhan antara Pajajaran dengan Cirebon tidak berkembang ke arah ketegangan yang melumpuhkan sektor-sektor pemerintahan. Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru. Jumlah merica bisa mencapai 1000 bahar (1 bahar = 3 pikul) setahun. bahkan hasil tammarin (asem) dikatakannya cukup untuk mengisi muatan 1000 kapal.diizinkan sejak kecil mengikuti agama ibunya (Islam). Terhadap Islam. Saat itu diperkirakan terdapat sejumlah punggawa istana yang meninggalkan kraton lalu menetap di daerah Lebak. Keruntuhan Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya. Tome Pires ikut mencatat kemajuan jaman Sri Baduga dengan komentar "The Kingdom of Sunda is justly governed. Ia disebut secara anumerta Sang Lumahing (Sang Mokteng) Rancamaya karena ia dipusarakan di Rancamaya. mereka adalah orang-orang jujur). Surawisesa (1521 – 1535) Ratu Dewata (1535 – 1543) Ratu Sakti (1543 – 1551) Raga Mulya (1567 – 1579) C. maka masing masing pihak dapat mengembangkan keadaan dalam negerinya. Tahun 1512.Walangsungsang alias Cakrabuana. dan menandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Pajajaran yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja. Orang Banten menyebutnya Watu Gigilang. Sri Baduga hanya tidak senang hubungan Cirebon-Demak yang terlalu akrab. dan sekarang mereka dikenal sebagai orang Baduy. ia mengutus putera mahkota Surawisesa menghubungi Panglima Portugis Alfonso d'Albuquerque di Malaka (ketika itu baru saja gagal merebut Pelabuhan Pasai atau Samudra Pasai). sama artinya dengan kata Sriman. Karena permusuhan tidak berlanjut ke arah pertumpahan darah. ia sendiri tidak membencinya karena salah seorang permaisurinya. Mereka menerapkan tata cara kehidupan lama yang ketat. adalah seorang muslimah dan ketiga anaknya -.Persekutuan Cirebon-Demak inilah yang sangat mencemaskan Sri Baduga di Pakuan. Subanglarang. yaitu Kesultanan Banten. dari Pakuan ke Surasowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful