0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan3 halaman

RMK Bab3 Hal12-22

Dokumen ini membahas makna dan definisi Corporate Social Responsibility (CSR), yang mencakup dimensi ekonomi, legal, etis, dan filantropi, serta pandangan dunia yang beragam terhadap CSR. Selain itu, dokumen ini juga mengaitkan CSR dengan gagasan keberlanjutan, menyoroti tantangan dalam memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungan untuk generasi mendatang. Berbagai ideologi dan perspektif, termasuk kapitalisme, sosialisme, dan ekologisme, menunjukkan kompleksitas dalam memahami CSR dan keberlanjutan.

Diunggah oleh

El Prof
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan3 halaman

RMK Bab3 Hal12-22

Dokumen ini membahas makna dan definisi Corporate Social Responsibility (CSR), yang mencakup dimensi ekonomi, legal, etis, dan filantropi, serta pandangan dunia yang beragam terhadap CSR. Selain itu, dokumen ini juga mengaitkan CSR dengan gagasan keberlanjutan, menyoroti tantangan dalam memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungan untuk generasi mendatang. Berbagai ideologi dan perspektif, termasuk kapitalisme, sosialisme, dan ekologisme, menunjukkan kompleksitas dalam memahami CSR dan keberlanjutan.

Diunggah oleh

El Prof
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RMK Bab 3 (Hal.

12–22)

1. Makna dan Definisi CSR


CSR sudah lama diperdebatkan dan menjadi salah satu topik sentral dalam memahami
makna keberadaan korporasi. Archie Carroll memperkenalkan Piramida Tanggung Jawab
Sosial yang membagi tanggung jawab organisasi ke dalam empat dimensi:
- Ekonomi (profit sebagai dasar utama keberlangsungan),
- Legal (kepatuhan pada hukum),
- Etis (bertindak sesuai norma dan etika masyarakat),
- Filantropi (memberikan kontribusi sukarela pada masyarakat).

Meskipun sederhana, model ini tidak mampu menjawab isu yang lebih mendasar, seperti
pertanyaan tentang apakah bisnis boleh bertindak ilegal demi keuntungan, atau mengapa
laba selalu ditempatkan sebagai prioritas utama.

Frederick kemudian menawarkan periodisasi CSR dalam tiga tahap:


- CSR1 menekankan kewajiban sosial normatif, agar perusahaan ikut serta menyelesaikan
masalah sosial.
- CSR2 menekankan responsivitas sosial, yaitu bagaimana perusahaan merespons tekanan
sosial dengan manajemen pemangku kepentingan.
- CSR3 berfokus pada keadilan sosial dan dasar moral tindakan organisasi.

Namun, berbagai konsep tersebut tetap dianggap kabur. Selama lebih dari 50 tahun,
literatur CSR berputar-putar dari etika bisnis, filantropi, stakeholder model, triple bottom
line, sampai kewarganegaraan korporat, tetapi tetap belum memberikan definisi final yang
diterima bersama. Kebingungan ini muncul karena CSR berusaha menyatukan kepentingan
bisnis yang mencari laba dengan tuntutan masyarakat akan keadilan sosial dan
keberlanjutan.

2. Pandangan Dunia terhadap CSR


Pemahaman terhadap tanggung jawab sosial organisasi tidak terlepas dari pandangan
dunia (worldview) yang dianut. Beberapa pandangan yang menonjol:

- Kapitalis murni (Friedman, Henderson): perusahaan hanya bertanggung jawab


menghasilkan laba sambil menaati hukum. CSR dianggap justru menghambat persaingan
dan menurunkan efisiensi ekonomi.
- Kepentingan diri yang tercerahkan: menerima tanggung jawab sosial minimal sebagai
syarat keberlangsungan jangka panjang, menjaga reputasi, serta menambah legitimasi
bisnis.
- Kontrak sosial (Shocker & Sethi, Dahl): perusahaan ada karena kehendak masyarakat,
sehingga harus memenuhi tujuan sosial dan mendistribusikan manfaat ekonomi maupun
sosial.
- Ekolog sosial: menyoroti dampak serius industri modern terhadap lingkungan dan
menekankan perlunya perubahan perilaku bisnis agar tidak menimbulkan krisis ekologi.
- Sosialis: menolak dominasi modal, mengkritik kapitalisme, dan menuntut perubahan
struktur kepemilikan serta distribusi kekuasaan.
- Feminisme radikal: mengkritik sistem ekonomi dan akuntansi sebagai konstruksi
maskulin yang menekankan agresi, persaingan, dan individualisme, sambil mengabaikan
nilai-nilai kasih sayang, kerja sama, dan kepedulian.
- Ekolog mendalam: menolak antroposentrisme dan menegaskan bahwa manusia tidak
memiliki hak eksistensi lebih tinggi dibanding spesies lain. Sistem ekonomi saat ini
dianggap tidak bermoral karena mengorbankan kehidupan lain demi pertumbuhan
ekonomi.
- Postmodernisme: menolak narasi besar seperti kapitalisme maupun sosialisme, serta
mengkritik kegagalan modernitas. Perspektif ini menambah keragaman tetapi tidak
menawarkan dasar yang jelas untuk akuntansi sosial.

Dari berbagai pandangan tersebut terlihat bahwa CSR tidak bisa dilepaskan dari perdebatan
ideologi dan politik yang lebih luas.

3. Tanggung Jawab dan Keberlanjutan


Selain CSR, muncul juga gagasan keberlanjutan (sustainability), terutama setelah Laporan
Brundtland (PBB, 1987) yang mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai
pemenuhan kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi
mendatang.

Keberlanjutan menekankan bahwa pola konsumsi dan produksi saat ini, khususnya di dunia
Barat, tidak dapat dipertahankan. Hal ini menimbulkan dua implikasi:
- Pertama, isu keberlanjutan masuk dalam agenda politik dan bisnis global karena terkait
dengan eksternalitas yang dihasilkan ekonomi modern.
- Kedua, keberlanjutan diakui hampir secara universal sebagai prinsip normatif, tetapi
implementasinya diperdebatkan karena menyentuh isu keadilan antar generasi, distribusi
kekayaan, dan konsumsi berlebihan di negara maju.

Banyak kalangan, terutama ekolog mendalam, justru menilai konsep keberlanjutan terlalu
berpusat pada kepentingan manusia. Menurut mereka, fokusnya masih pada kelangsungan
hidup spesies manusia, bukan pada ekosistem secara keseluruhan.

Dengan demikian, hubungan antara tanggung jawab sosial dan keberlanjutan semakin
memperumit wacana CSR. Akuntabilitas perusahaan dituntut tidak hanya menjawab
kepentingan pemangku kepentingan saat ini, tetapi juga menjawab tanggung jawab
terhadap generasi mendatang dan kelestarian planet.

Anda mungkin juga menyukai