Anda di halaman 1dari 34

PENGUJIAN DAN ANALISA TAHANAN ELEKTRODA PENTANAHAN DENGAN METODE 3 KUTUB PADA GTT BENGKEL LISTRIK, POLITEKNIK NEGERI

MALANG
Digunakan untuk memenuhi tugas akhir mata pelajaran Bahasa Indonesia semester 5

Disusun oleh : FAHRIZA AVIANTI D4-3B / 07 / 0941150021

POLITEKNIK NEGERI MALANG JURUSAN TEKNIK ELEKTRO PROGRAM STUDI SISTEM KELISTRIKAN 2012

KATA PENGANTAR

Saya bersyukur kehadirat ALLAH SWT atas rahmat dan hidayah-Nya, yang telah memberikan kemudahan bagi saya untuk menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul Pengujian dan Analisa Tahanan Elektroda Pentanahan dengan Metode 3 Kutub pada GTT Bengkel Listrik, Politeknik Negeri Malang ini sehingga dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Penyusunan laporan ini digunakan untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia untuk semester 5 pada tingkat 3 ini. Dalam menyusun laporan ini, saya mendapat banyak dukungan, arahan, dan semangat dari beberapa pihak dan pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak tersebut, yaitu : 1. Bapak Supriatna Adhisuwignjo, ST., MT. selaku Ketua Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Malang. 2. Bapak Gatot Joelianto, Ir., MMT. selaku Ketua Program Studi Teknik Listrik Politeknik Negeri Malang.

3. Ibu Nurdjizah, Dra. selaku Dosen Pengajar mata kuliah Bahasa Indonesia yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan atas penyusunan laporan ini. 4. Orang tua dan keluarga yang telah memberikan doa serta dukungan kepada saya. 5. Pihak pihak lain yang telah membantu pada proses penyusunan laporan ini hingga selesai tepat waktunya. Saya berharap laporan yang saya tulis ini dapat bermanfaat bagi saya pribadi maupun orang lain.

Malang, 27 Januari 2012

Fahriza Avianti

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................... KATA PENGANTAR..................................................................................... DAFTAR ISI................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah.................................................................... 1.2 Rumusan Masalah............................................................................. 1.3 Tujuan Penelitian.............................................................................. 1.4 Manfaat Penelitian............................................................................ BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................... BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian........................................................... 3.2 Metode Penelitian.............................................................................. 3.3 Instrumen Penelitian..........................................................................

i ii iii

01 02 03 03 04

17 17 19

BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Jabaran Variabel Penelitian............................................................... 4.2 Hasil Penelitian................................................................................. 4.3 Analisa Hasil Penelitian................................................................... BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan....................................................................................... 5.2 Saran................................................................................................ DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 27 28 29 20 21 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sistem pentanahan mulai dikenal pada tahun 1900. Sebelumnya sistemsistem tenaga listrik tidak diketanahkan karena ukurannya masih kecil dan tidak membahayakan. Namun setelah sistem-sistem tenaga listrik berkembang semakin besar dengan tegangan yang semakin tinggi dan jarak jangkauan semakin jauh, baru diperlukan sistem pentanahan. Kalau tidak, hal ini bisa menimbulkan potensi bahaya listrik yang sangat tinggi, baik bagi manusia, peralatan dan sistem pelayanannya sendiri. Sistem pentanahan adalah sistem hubungan penghantar yang menghubungkan sistem, badan peralatan dan instalasi dengan bumi/tanah sehingga dapat mengamankan manusia dari sengatan listrik, dan mengamankan

komponen-komponen instalasi dari bahaya tegangan/arus abnormal. Oleh karena itu, sistem pentanahan menjadi bagian esensial dari sistem tenaga listrik. Pentanahan tidak terbatas pada sistem tenaga saja, namun mencakup juga sistem peralatan elektronik, seperti telekomunikasi, komputer, dll. Secara umum, tujuan sistem pentanahan adalah menjamin keselamatan orang dari sengatan listrik baik dalam keadaan normal atau tidak dari tegangan sentuh dan tegangan langkah, menjamin kerja peralatan listrik/elektronik, mencegah kerusakan peralatan listrik/elektronik, dan menyalurkan energi serangan petir ke tanah. Tahanan pentanahan yang baik adalah tahanan pentanahan yang memenuhi stansart. Jika tahanan pentanahan tidak sesuai dengan standart yang ada, maka elektroda pentanahan tidak akan bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, diperlukan pengujian tahanan elektroda pentanahan untuk mengetahui apakah tahanan elektroda pentanahan telah sesuai dengan standart atau belum.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan sistem pentanahan? 2. Mengapa pengujian tahanan elektroda pentanahan diperlukan? 3. Apa sajakah faktor yang dapat mempengaruhi besarnya nilai tahanan pentanahan ? 4. Apakah tahanan elektroda pentanahan di GTT Bengkel Listrik sesuai/memenuhi standart yang ada?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Mengetahui maksud dan tujuan dari sistem pentanahan. 2. Mengetahui pentingnya dilakukan pengujian tahanan elektroda pentanahan. 3. Mengetahui faktor faktor yang dapat mempengaruhi besarnya nilai tahanan pentanahan. 4. Mengetahui hasil dari pengujian tahanan elektroda pentanahan di GTT Bengkel Listrik.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Mengetahui maksud dan tujuan dari sistem pentanahan. 2. Mengetahui pentingnya dilakukan pengujian tahanan elektroda pentanahan. 3. Mengetahui faktor faktor yang dapat mempengaruhi besarnya nilai tahanan pentanahan. 4. Mengetahui hasil dari pengujian tahanan elektroda pentanahan di GTT Bengkel Listrik.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Sistem pentanahan adalah sistem hubungan penghantar yang menghubungkan sistem, badan peralatan dan instalasi dengan bumi/tanah sehingga dapat mengamankan manusia dari sengatan listrik, dan mengamankan komponen-komponen instalasi dari bahaya tegangan/arus abnormal. Oleh karena itu, sistem pentanahan menjadi bagian esensial dari sistem tenaga listrik. Pentanahan tidak terbatas pada sistem tenaga saja, namun mencakup juga sistem peralatan elektronik, seperti telekomunikasi, komputer, dll. Secara umum, tujuan sistem pentanahan adalah menjamin keselamatan orang dari sengatan listrik baik dalam keadaan normal atau tidak dari tegangan sentuh dan tegangan langkah, menjamin kerja peralatan listrik/elektronik, mencegah kerusakan peralatan listrik/elektronik, dan menyalurkan energi serangan petir ke tanah.

Tahanan pentanahan harus sekecil mungkin untuk menghindari bahayabahaya yang ditimbulkan oleh adanya arus gangguan tanah. Hantaran netral harus diketanahkan di dekat sumber listrik atau transformator, pada saluran udara setiap 200 m dan di setiap konsumen. Tahanan pentanahan satu elektroda di dekat sumber listrik, transformator atau jaringan saluran udara dengan jarak 200 m maksimum adalah 10 Ohm dan tahanan pentanahan dalam suatu sistem tidak boleh lebih dari 5 Ohm. Seperti yang telah disampaikan di atas bahwa tahanan pentanahan diharapkan bisa sekecil mungkin. Namun dalam prakteknya tidaklah selalu mudah untuk mendapatkannya karena banyak faktor yang mempengaruhi tahanan pentanahan. Faktor-faktor yang mempengaruhi besar tahanan pentanahan adalah : 1. Bentuk elektroda. Pada prinsipnya jenis elektroda dipilih yang mempuntai kontak sangat baik terhadap tanah. Berikut ini akan dibahas jenis-jenis elektroda pentanahan dan rumus-rumus perhitungan tahanan pentanahannya. Pada dasarnya ada 3 (tiga) jenis elektroda yang digunakan pada sistem pentanahan yaitu :

1. 2. 3.

Elektroda Batang Elektroda Pelat Elektroda Pita

Elektroda elektroda ini dapat digunakan secara tunggal maupun multiple dan juga secara gabungan dari ketiga jenis dalam suatu sistem.

ELEKTRODA BATANG

Elektroda batang ialah elektroda dari pipa atau besi baja profil yang dipancangkan ke dalam tanah. Elektroda ini merupakan elektroda yang pertama kali digunakan dan teori-teori berawal dari elektroda jenis ini. Elektroda ini banyak digunakan di gardu induk-gardu induk. Secara teknis, elektroda batang ini mudah pemasangannya, yaitu tinggal memancangkannya ke dalam tanah. Disamping itu, elektroda ini tidak memerlukan lahan yang luas. Elektroda batang ini mampu menyalurkan arus discharge petir maupun untuk pemakaian pentanahan yang lain.

Gambar 2.1 Elektroda Batang

Contoh rumus tahanan pentanahan untuk elektroda Batang Tunggal:

ELEKTRODA PELAT

Elektroda pelat ialah elektroda dari bahan pelat logam (utuh atau berlubang) atau dari kawat kasa. Pada umumnya elektroda ini ditanam dalam. Elektroda ini digunakan bila diinginkan tahanan pentanahan yang kecil dan sulit diperoleh dengan menggunakan jenis-jenis elektroda yang lain.

Gambar 2.2 Elektroda Pelat

Contoh rumus perhitungan tahanan pentanahan elektroda pelat tunggal:

ELEKTRODA PITA

Elektroda pita ialah elektroda yang terbuat dari hantaran berbentuk pita atau berpenampang bulat atau hantaran pilin yang pada umumnya ditanam secara dangkal. Kalau pada elektroda jenis batang, pada umumnya ditanam secara dalam. Pemancangan ini akan bermasalah apabila mendapati lapisan-lapisan tanah yang berbatu, disamping sulit pemancangannya, untuk mendapatkan nilai tahanan yang rendah juga bermasalah. Ternyata sebagai pengganti pemancangan secara vertikal ke dalam tanah, dapat dilakukan dengan menanam batang hantaran secara mendatar (horisontal) dan dangkal. Di samping kesederhanaannya itu, ternyata tahanan pentanahan yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh bentuk konfigurasi elektrodanya, seperti dalam bentuk melingkar, radial atau kombinasi antar keduanya.

Gambar 2.3 Elektroda Pelat

2. Jenis bahan dan ukuran elektroda. Sebagai konsekwensi peletakannya di dalam tanah, maka elektroda dipilih dari bahan-bahan tertentu yang memiliki konduktivitas sangat baik dan tahan terhadap sifat-sifat yang merusak dari tanah, seperti korosi. Ukuran elektroda dipilih yang mempunyai kontak paling efektif dengan tanah. Tabel berikut ini dapat digunakan sebagai acuan kasar harga tahanan pentanahan pada tanah dengan tahanan jenis tanah tipikal berdasarkan jenis dan ukuran elektroda.

Tabel 2.1 Tahanan pentanahan pada jenis tanah dengan tahanan jenis 1=100 Ohm-meter

Untuk tahanan jenis tanah yang lain, nilai tahanan pentanahan adalah nilai pentanahan dalam tabel dikalikan dengan faktor:

Ukuran elektroda pentanahan akan menentukan besar tahanan pentanahan. Berikut ini adalah tabel yang memuat ukuran-ukuran elektroda pentanahan yang umum digunakan dalam sistem pentanahan. Tabel ini dapat digunakan sebagai petunjuk tentang pemilihan jenis, bahan dan luas penampang elektroda pentanahan.

Tabel 2.2 Luas Penampang Minimum Elektroda Pentanahan

3. Jumlah/konfigurasi elektroda. Untuk mendapatkan tahanan pentanahan yang dikehendaki dan bila tidak cukup dengan satu elektroda, bisa digunakan lebih banyak elektroda dengan bermacam-macam konfigurasi pemancangannya di dalam tanah;

4. Kedalaman pemancangan/penanaman di dalam tanah. Pemancangan ini tergantung dari jenis dan sifat-sifat tanah. Ada yang lebih efektif ditanam secara dalam, namun ada pula yang cukup ditanam secara dangkal.

5. Faktor-faktor alam (tahanan jenis tanah)

Dari rumus untuk menentukan tahanan tanah dari statu elektroda yang hemispherical R = /2r terlihat bahwa tahanan pentanahan berbanding lurus dengan besarnya . Untuk berbagai tempat harga ini tidak sama dan tergantung pada beberapa faktor :

a. b. c. d. e.

Sifat geologi tanah Komposisi zat kimia dalam tanah Kandungan air tanah Temperatur tanah Selain itu faktor perubahan musim juga mempengaruhinya.

Sifat Geologi Tanah

Ini merupakan faktor utama yang menentukan tahanan jenis tanah. Bahan dasar dari pada tanah relatif bersifat bukan penghantar. Tanah liat umumnya mempunyai tahanan jenis terendah, sedang batu-batuan dan

quartz bersifat sebagai insulator. Tabel dibawah ini menunjukkan hargaharga ( ) dari berbagai jenis tanah.

Tabel 2.3 Nilai Tahanan Jenis Tanah untuk Berbagai Macam Tanah

TAHANAN JENIS No. JENIS TANAH TANAH( ohm.meter ) 1. Tanah yang mengandung air garam 56

2.

Rawa

30

3.

Tanah liat

100

4.

Pasir Basah

200

5.

Batu-batu kerikil basah

500

6.

Pasir dan batu krikil kering

1000

7.

Batu

3000

Komposisi Zat-Zat Kimia di Dalam Tanah Kandungan zat zat kimia dalam tanah terutama sejumlah zat organik maupun anorganik yang dapat larut perlu untuk diperhatikan pula.

Didaerah yang mempunyai tingkat curah hujan tinggi biasanya mempunyai tahanan jenis tanah yang tinggi disebabkan garam yang terkandung pada lapisan atas larut. Pada daerah yang demikian ini untuk memperoleh pentanahan yang efektif yaitu dengan menanam elektroda pada kedalaman yang lebih dalam dimana larutan garam masih terdapat.

Kandungan Air Tanah

Kandungan air tanah sangat berpengaruh terhadap perubahan tahanan jenis tanah ( ) terutama kandungan air tanah sampai dengan 20%.

Dalam salah satu test laboratorium untuk tanah merah penurunan kandungan air tanah dari 20% ke 10% menyebabkan tahanan jenis tanah naik samapai 30 kali. Kenaikan kandungan air tanah diatas 20% pengaruhnya sedikit sekali.

Temperatur Tanah

Temperatur bumi pada kedalaman 5 feet (= 1,5 m) biasanya stabil terhadap perubahan temperatur permukaan.

Bagi Indonesia daerah tropic perbedaan temperatur selama setahun tidak banyak, sehingga faktor temperatur boleh dikatan tidak ada pengaruhnya.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Hari, Tanggal : Rabu, 4 Januari 2012 Waktu Tempat : 13.30 14.30 WIB : GTT Bengkel listrik, Politeknik Negeri Malang

3.2 Metode Penelitian

Metode yang digunakan pada pengujian tahanan elektroda pentanahan ini adalah metode 3 kutub dengan menggunakan sebuah alat, Earth Tester. Berikut merupakan langkah pengujian tahanan elektroda pentanahan :

1. Siapkan alat ukur tahanan pentanahan beserta kelengkapannya (patokpatok dan kabel). 2. Pastikan baterai alat ukur masih dalam kondisi baik. Jika tidak, ganti dengan baterai yang baru. 3. Pasang rangkaian pengukuran seperti pada gambar di bawah ini :

Gambar 3.1 Earth Tester

E : Warna hijau disambung dengan pentanahan panel P : Warna kuning disambungkan dengan elektroda pentanahan yang ditanahkan dengan jarak 5 meter. C : Warna merah disambung dengan elektroda pentanahan lainnya yang ditanahkan dengan jarak 10 meter (2x jarak elektroda pertama dengan posisi sejajar). 4. Pindahkan saklar (switch) ke posisi ohm dan tekan tombol switch SW sambil mengatur skala ohm. 5. Apabila Galvanometer sudah menunjuk nol, lepas tombol switch SW.

6. Baca skala Ohm dan catata hasilnya. 7. Analisa hasil pengukuran tersebut, jika tahanan pentanahan 5 ohm, maka pentanahan di GTT tersebut dinyatakan baik. 8. Jika hasil pengukuran tidak baik, lakukan langkah-langkah berikut : Kencangkan baut-baut sambungan pentanahan. Bersihkan kontak-kontak sambungan. Lakukan pengukuran ulang.

3.3 Instrumen Penelitian

Alat yang dibutuhkan pada pengujian tahanan elektroda pentanahan hanyalah Earth tester sebagai alat pengukur tahanan elektrodanya dan alat tulis untuk mencatat hasil pengujian.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Jabaran Variabel Penelitian Pada pengujian tahanan elektroda pentanahan ini, dilakukan 2 kali percobaan. Percobaan pertama adalah konfigurasi 1:2 dan percobaan kedua adalah konfigurasi 1:1. Tiap tiap percobaan dilakukan 3 kali ulangan.

Konfigurasi 1:2 Yang dimaksud dengan percobaan konfigurasi 1:2 adalah perbandingan jarak elektroda P dibanding C terhadap elektroda E adalah 1:2. Pada percobaan ini jarak elektroda P terhadap elektroda E adalah 5 meter, sedangkan jarak elektroda C terhadap elektroda E adalah 10 meter.

Konfigurasi 1:1 Yang dimaksud dengan percobaan konfigurasi 1:1 adalah perbandingan jarak elektroda P dibanding C terhadap elektroda E adalah 1:1. Pada percobaan ini jarak elektroda P terhadap elektroda E adalah 5 meter dan jarak elektroda C terhadap elektroda E adalah 5 meter juga.

4.2 Hasil Penelitian

Berikut merupakan tabel hasil pngujian tahanan elektroda pentanahan :

Tabel 4.1 Hasil Pengujian Tahanan Elektroda Pentanahan Ulangan 1 2 3 Konfigurasi 1:2 (ohm) 8,39 8,19 7,77 Konfigurasi 1:1 (ohm) 9,29 8,23 7,6

4.3 Analisa Hasil Penelitian

Dari tabel 4.2 Hasil Pengujian Tahanan Elektroda Pentanahan pada percobaan pertama, yaitu konfigurasi 1:2, didapatkan 3 nilai tahanan

elektroda pentanahan. 8,39 ohm untuk ulangan pertama, 8,19 ohm untuk ulangan kedua, dan 7,77 ohm untuk ulangan ketiga. Apabila ketiga nilai tersebut dirata-rata, maka didapatkan nilai tahanan elektroda pentanahan sebesar 8,12 ohm. Untuk perhitungannya dapat dilihat pada perhitungan di bawah ini.

Untuk percobaan kedua, yaitu konfigurasi 1:1 juga didapatkan 3 nilai tahanan elektroda pentanahan seperti yang terdapat pada tabel 4.2 Hasil Pengujian Tahanan Elektroda Pentanahan. 9,29 ohm untuk ulangan pertama, 8,23 ohm untuk ulangan kedua, dan 7,6 ohm untuk ulangan ketiga. Apabila ketiga nilai tersebut dirata-rata, maka didapatkan nilai tahanan elektroda pentanahan sebesar 8,37 ohm. Untuk perhitungannya dapat dilihat pada perhitungan di bawah ini.

Baik untuk percobaan pertama maupun percobaan kedua, nilai tahanan elektroda pentanahan yang didapatkan dari hasil percobaan lebih besar dari 5 ohm. Nilai tahanan elektroda pentanahan dari percobaan pertama adalah 8,12 ohm, sedangkan untuk nilai tahanan elektroda pentanahan dari percobaan kedua adalah 8,37 ohm. Kedua nilai tersebut menunjukkan bahwa nilai tahanan elektroda pentanahan tidak sesuai dengan standart atau tidak memenuhi standart. Seperti yang telah tercantum dalam dasar teori bahwa tahanan elektroda pentanahan dalam suatu sistem tidak boleh lebih dari 5 Ohm. Sehingga, kita dapat mengatakan bahwa tahanan elektroda pentahanan yang ada di bengkel listrik tidak baik karena nilai tahanan elektroda pentahanannya masih di atas nilai 5 ohm. Saya mengemukakan dua hipotesis awal untuk nilai tahanan elektroda pentanahan yang belum memenuhi standart atau dengan kata lain nilainya masih lebih besar dari 5 ohm. Dua hipotesis ini mengacu pada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi besarnya nilai tahanan elektroda pentanahan. Seperti yang telah dijelaskan pada dasar teori di atas, bahwa salah satu faktor yang dapat mempengaruhi besarnya nilai tahanan elektroda adalah bentuk elektroda yang digunakan. Pada sistem pentanahan yang ada di GTT bengkel listrik ini, elektroda yang digunakan adalah elektroda berbentuk batang, maka untuk perhitungan nilai tahanannya menggunakan rumus di bawah ini :

Berdasarkan rumus di atas, maka nilai tahanan elektroda dapat dipengaruhi oleh tiga hal utama, yaitu (tahanan jenis tanah), LR (panjang elektroda), dan AR (diameter elektroda). Nilai tahanan elektroda yang besar dapat dihasilkan apabila nilai (tahanan jenis tanah) besar, dan nilai yang kecil untuk nilai LR (panjang elektroda). Berkaitan dengan nilai (tahanan jenis tanah) yang dapat mempengaruhi besarnya nilai tahanan, maka dasar teori di atas menyatakan bahwa daerah yang mempunyai tingkat curah hujan tinggi biasanya mempunyai tahanan jenis tanah yang tinggi disebabkan garam yang terkandung pada lapisan atas larut. Pada daerah yang demikian ini untuk memperoleh pentanahan yang efektif yaitu dengan menanam elektroda pada kedalaman yang lebih dalam dimana larutan garam masih tersedia.

Kota Malang merupakan kota yang termasuk dalam kategori kota dengan curah hujan yang tinggi. Berarti, tahanan jenis tanah pada kota Malang ini relatif tinggi. Oleh karena itu, penanaman elektroda pentanahan

dianjurkan pada kedalaman yang lebih dalam agar didapatkan nilai tahanan jenis tanah yang rendah. Namun, melihat nilai tahanan elektroda pentanahan yang masih besar, maka hipotesis saya yang pertama adalah penanaman elektroda pentanahannya kurang dalam sehingga nilai tahanan jenis tanahnya masih tinggi.

Hipotesis yang kedua adalah mengenai pengaruh panjang elektroda terhadap nilai tahanan elektroda pentanahan. Di bawah ini merupakan tabel nilai tahanan pentanahan pada jenis tanah dengan tahanan jenis tanah sebesar 100 ohm-meter.

Tabel 4.1 Tahanan pentanahan pada jenis tanah dengan tahanan jenis 1=100 Ohm-meter

Dapat dilihat pada tabel di atas, bahwa nilai tahanan elektroda pentanahan akan bernilai 5 ohm untuk jenis elektroda pita atau hantaran pilin

jika panjang elektroda sebesar 50 meter. Namun, berdasarkan hasil percobaan, nilai tahanan elektroda pentanahan yang dihasilkan sebesar 8 ohm. Maka berdasarkan tabel di atas, nilai tahanan elektroda pentanahan sebesar 8 ohm akan dihasilkan jika panjang elektroda lebih besar dari 25 meter namun kurang dari 50 meter. Jadi, hipotesis kedua saya adalah ukuran elektroda pentanahan yang kurang panjang sehingga tahanan elektroda pentanahan yang dihasilkan lebih besar dari 5 ohm.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Ada beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari percobaan ini, yaitu: 1. Sistem pentanahan adalah sistem hubungan penghantar yang menghubungkan sistem, badan peralatan dan instalasi dengan bumi/tanah sehingga dapat mengamankan manusia dari sengatan listrik, dan mengamankan komponen-komponen instalasi dari bahaya tegangan/arus abnormal. 2. Sistem pentanahan sangatlah penting di dalam sebuah sistem kelistrikan karena fungsi utamanya yang menjamin keselamatan manusia dan

makhluk hidup lain terhadap tegangan sentuh langsung maupun tidak langsung. 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi besar tahanan pentanahan adalah : a. b. c. d. e. Bentuk elektroda Jenis dan bahan elektroda Jumlah / konfigurasi elektroda Kedalaman / pemancangan penanaman di dalam tanah Faktor-faktor alam

4. Hasil percobaan tahanan pentanahan menyatakan bahwa sistem pentanahan GTT di bengkel listrik tidak memenuhi standart. Dua hipotesis awal penulis mengenai sistem pentanahan GTT di bengkel tidak memenuhi standart adalah penanaman elektroda pentanahan yang kurang dalam dan ukuran elektroda pentanahan yang kurang panjang.

5.2 Saran

1. Hipotesis yang dikemukakan penulis hanyalah hipotesis awal yang belum ada penelitian lanjutan mengenai sistem pentanahan GTT di bengkel listrik yang tidak memenuhi standart. 2. Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui solusi mengenai sistem pentanahan yang tidak memenuhi standart.

DAFTAR PUSTAKA

Ronilaya, Ferdian. 2010. Praktikum Laboratorium Sistem Tenaga I. Malang: Politeknik Negeri Malang. Sumardjati, Prih dkk. 2008. Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik. Jakarta: PT. Multimedia. Ak4037. 2008. Tahanan Pentanahan . www.ak4037`s blog.com, Diakses Pada Tanggal 18 Januari 2012 Pukul 16.02 WIB. Listrik, Dunia. 2008. Sistem Pentanahan . www.dunia listrik.com, Diakses Pada Tanggal 18 Januari 2012 Pukul 16.02 WIB. Akin-Akin. 2011. Pengukuran Tahanan Pentanahan . www.akin-akin blog.com, Diakses Pada Tanggal 18 Januari 2012 Pukul 16.02 WIB. Indonesia, Elektro. 1998. Elektroda Batang Mereduksi Nilai Tahanan Pentanahan . www.elektro indonesia.com, Diakses Pada Tanggal 18 Januari 2012 Pukul 16.02 WIB.