Anda di halaman 1dari 15

HUKUM OHM George Simon Ohm adalah seorang ahli fisika jerman.

Beliau melakukan serangkaian pekerjaan dalam bidang listrik dan menemukan hubungan antara arus dan tegangan yang dilewatkan pada suatu tahanan. Apabila dalam suatu rangkaian listrik dihubungkan tegangan listrik sebesar 1 Volt dan dipasang tahanan listrik 1 maka dalam rangkaian tersebut akan mengalir arus listrik sebesar 1 Ampere yang dinyatakan dalam persamaamatematis sebagai berikut.

TAHANAN LISTRIK Dalam hokum Ohm merupakan salah satu parameter yang menen tukan besarnya tegangan dan arus. Rumus Hukum Ohm: V = I R Di mana : V = Tegangan (volt) I = Arus (ampere) R= Tahanan (ohm)

Contoh Suatu beban yang mempunyai tahanan R = 22 dihubungkan ke sumber tegangan (V) yang besarnya 220 Volt. Berapa besar arus ( I ) dan daya ( P ) yang akan mengalir pada rangkaian tersebut ?

Jawab HUKUM Ohm : V=IR I =V / R = 220 / 22 = 10 Ampere

P=VI = 220 10 ( V.A) = 2.200 VA

Contoh aplikasi hokum Ohm dijaringan PLN

Diketahui konduktor suatu jaringan listrik panjangnya 2 km dengan penampang 70 mm terbuat dari almunium,besar tahanan konduktor sebesar 0,386 /km. Bila tegangan sumber sebesar 220 Volt, kemudian konduktor dialiri arus sebesar 10 ampere. Berapa besar jatuh tegangan ,dan tegangan ujung jaringan? R =2 O,386 = 0,772 Jatuh tegangan (V drop) = I R = (10 0,772)Volt = 7,72 Volt Besar tegangan ujung jaringan = 220 V 7,72 Volt = 212,28 V Sedangkan R merupakan suatu hambatan dari penghantar listrik / konduktor. Didalam ilmu listrik hambatan hambatan suatu konduktor dapat dirumuskan sebagai berikut: f . L R = -----A Di mana : f = tahanan jenis mm/ m A= penampang mm L= Panjang (m)

Selain hambatan dari suatu konduktor yang dipengaruhi oleh panjang, penampang dan bahan. Konduktor juga sangat dipengaruhi oleh panas / suhu. Sehingga rumus tahanan dapat ditulis sbb: Rt = Ro ( 1 + a t ) Di mana : Rt = Nilai tahanan sesudah temperature berubah Ro = Nilai tahanan sebelum temperature berubah a = Koefisien temperature t = Perubahan temperature

PENGARUH PANAS PADA TAHANAN LISTRIK

Aliran listrik menimbulkan panas di konduktor yang dipengaruhi oleh adanya tahanan pada konduktor tersebut. Akibatnya nilai tahanan listrik akan mengalami perubahan yang besarnya dinyatakan dengan rumus:
Rt = Ro ( 1 + t) = koeffisien temperature konduktor = ( Tt To )

Dimana : t

Rt > Ro Semakin tinggi panas,maka nilai tahan akan semakin besar

Contoh aplikasi hukum Ohm di jaringan PLN

Diketahui konduktor suatu jaringan listrik panjangnya 1 km dengan penampang 70 mm2 terbuat dari aluminium ( = 0,027mm2/m). Bila konduktor dialiri arus sebesar 10 ampere, berapa jatuh tegangan pada konduktor tersebut ?

1.2 PENGERTIAN HUKUM KIRCHOFF DAN PEMAKAIANYA Hukum Kirchoof I : Pada setiap rangkaian listrik , jumlah aljabar dari arus-arus yang bertemu disatu titik adalah nol.

Hukum Kirchoof II : Jumlah aljabar dari hasil arus dan tahanan pada setiap konduktor dalam suatu rangkaian tertutup( mesh ), sama dengan jumlah aljabar dari ggl.

DAYA PADA ARUS BOLAK BALIK Pada system arus searah hanya mengenal beban resistan ( R ), Tetapi pada system arus bolak balik beban merupakan Impedansi ( Z ) yang bisa dibentuk dari unsur : R , L , C . Contoh beban : R ( hambatan murni ) L ( hambatan induktif ) C ( hambatan kapasitif )

: lampu pijar, setrika listrik, heater : Reaktor, kumparan : kapasitor

Sifat hambatan L ( XL ) dengan C ( XC ) : Saling bertentangan / meniadakan. l XL dan XC merupakan bagian imajiner dari impedansi Z. XL = 2.F.L, dan XC = 2 .f.c

Hubungan dari ketiga beban / hambatan dapat digambarkan sebagai berikut : Z = R + j XL Z = R - j XC Karena beban Z mempunyai / membentuk pergeseran sudut terhadap V ( sebagai referensi ) maka arus beban Ib yang mengalirpun membentuk sudut yang sama searah dengan sudut dari Z sebesar . Hal ini berakibat timbulnya 3 macam daya : 1. Daya aktif : P ( watt ) 2. Daya reaktif : Q ( VAR ) 3. Daya semu : S ( VA )

Hubungan dari ketiga macam daya tersebut kita sebagai segitiga daya .

Beban bersifat induktif Beban bersifat kapasitas

Macam Daya :

Daya Semu ( S ) Daya Aktif ( P ) Daya Re aktif ( Q )

Segi tiga daya

Rumus Daya : S = P =

E. I ( VA ) E. I . Cos ( Watt )

Q = E. I . Sin ( VAR )

ARUS BOLAK BALIK 3 FASA Pada arus bolak balik 3 fasa secara teknis adalah identik dengan tiga buah karakter listrik mono phase, yang diformasikan secara simetris antara satu dengan yang lainnya. Karakter arus bolak balik 3 fasa dapat berubah ubah kondisinya sangat tergantung kepada kondisi pembebanan masing masing fasanya, bila pada masing masing fasa terdapat beban yang sama besarnya maka hal tersebut biasa dinamakan : Arus bolak balik beban seimbang.

Arus Bolak Balik 3 fasa Hubungan Bintang dan hubungan Segi Tiga

Disebut arus bolak balik 3 fasa beban seimbang apabila besar arus : Dan pada saat itu arus pada kawat netral ( In ) = nol,

Ir = Is = It

Daya pada beban seimbang dan tak seimbang Ir = Is = It dan Urn = Usn = Utn Maka jaringan tersebut adalah arus bolak balik 3 fasa : Beban seimbang . Untuk menghitung daya semu pada beban seimbang adalah sebagai berikut : S3 = Sr + Ss + St S3 = Ir . Urn + Is . Usn + It . Utn (beban seimbang & teg. simetris) S3 = 3. (I . Ufn) S3 = 3 . ( I .Uff / 3 ) S3 = 3 . ( I . Uff / 3) S3 = I . Uff . 3 (I . U masing masing fasa sama) (Ufn = Uff . / 3)

Jadi : S3 = I . Uff . 3

Sehingga rumus untuk Daya untuk Beban seimbang adalah :

S3 = I . Uff . 3 (VA) P3 = I . Uff . 3 . Cos (W) Q3 = I . Uff . 3 . Sin (VAr)


Dan Daya untuk beban tak seimbang adalah :

S3 = ( I/3 ) . Uff . 3 ( VA ) P3 = ( I/3 ) . Uff . 3 . Cos ( W ) Q3 = ( I/3 ) . Uff . 3 . Sin ( Var )