Anda di halaman 1dari 25

KERATITIS HERPES SIMPLEX

Disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe 1 maupun tipe 2. Dapat bersifat primer dan kambuhan. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan cairan dan jaringan mata, rongga hidung, mulut, alat kelamin yang mengandung virus Infeksi primer ditandai oleh adanya demam, malaise, limfadenopati preaurikuler, konjungtivitis folikutans, blefaritis, dan 2/3 kasus terjadi keratitis epitelial.

PATOFISIOLOGI
Pada epitelial : kerusakan terjadi akibat pembiakan virus intraepitelial mengakibatkan kerusakan sel epitel dan membentuk tukak kornea superfisial. Pada stromal : terjadi reaksi imunologik tubuh terhadap virus yang menyerang yaitu reaksi antigen-antibodi yang menarik sel radang ke dalam stroma. Sel radang ini mengeluarkan bahan proteolitik untuk merusak virus tetapi juga akan merusak stroma di sekitarnya.

Pada dasarnya infeksi primer ini dapat sembuh sendiri, akan tetapi pada keadaan tertentu di mana daya tahan tubuh sangat lemah akan menjadi parah dan menyerang stroma

GEJALA KLINIK
Gejala-gejala subyektif keratitis epitelial meliputi: fotofobia, injeksi perikorneal, dan penglihatan kabur. Berat ringannya gejala-gejala iritasi tidak sebanding dengan luasnya lesi epitel, berhubung adanya hipestesi atau insensibilitas kornea. Pada keratitis herpes simpleks ringan tidak terdapat fotofobia

Lesi dendritik merupakan gambaran lesi yang memiliki percabangan linear dengan tepian kabur dan memiliki bulbus terminalis pada ujungnya. Lesi geografik yaitu lesi dendritik menahun dengan lesi berbentuk lebih lebar. Hal ini terjadi akibat bentukan ulkus bercabang yang melebar dan bentuknya menjadi ovoid. Dengan demikian gambaran ulkus menjadi seperti peta geografi dengan kaki cabang mengelilingi ulkus. Tepian ulkus tidak kabur.

KERATITIS DISIFORMIS
Keratitis diskiformis adalah bentuk penyakit stroma paling umum pada infeksi HSV. Stroma yang edema berbentuk cakram, tanpa infiltrasi berarti, dan tanpa vaskularisasi. Edemanya dapat berat dan membentuk lipatanlipatan di membran Descement. Endapan keratik ditemukan tepat dibawah lesi diskiformis. Edema adalah tanda terpenting dan penyembuhan dapat terjadi dengan parut dan vaskularisasi minimal

Penatalaksanaan Debridement - Debridement epithelial perlu dilakukan karena virus berlokasi didalam epithelial - Mengurangi beban antigenic virus pada stroma kornea. - Epitel sehat melekat erat pada kornea namun epitel yang terinfeksi mudah dilepaskan. Debridement dilakukan dengan aplikator berujung kapas khusus. Obat siklopegik seperti atropine 1% atau homatropin 5% diteteskan kedalam sakus konjungtiva, dan ditutup dengan sedikit tekanan. Pasien harus diperiksa setiap hari dan diganti penutupnya sampai defek korneanya sembuh umumnya dalam 72 jam.

Terapi Obat - IDU (Idoxuridine) analog pirimidin (terdapat dalam larutan 1% dan diberikan setiap jam, salep 0,5% diberikan setiap 4 jam) - Vibrabin: sama dengan IDU tetapi hanya terdapat dalam bentuk salep - Trifluorotimetidin (TFT): sama dengan IDU, diberikan 1% setiap 4 jam - Asiklovir (salep 3%), diberikan setiap 4 jam. - Asiklovir oral dapat bermanfaat untuk herpes mata berat, khususnya pada orang atopi yang rentan terhadap penyakit herpes mata dan kulit agresif. Terapi Bedah -Keratoplasti penetrans mungkin diindikasikan untuk rehabilitasi penglihatan pasien yang mempunyai parut kornea yang berat, namun hendaknya dilakukan beberapa bulan setelah penyakit herpes non aktif.

KERATITIS ALERGI
Etiologi Reaksi hipersensitivitas tipe I yang mengenai kedua mata, biasanya penderita sering menunjukkan gejala alergi terhadap tepung sari rumput-rumputan. Manifestasi Klinis Bentuk palpebra: cobble stone (pertumbuhan papil yang besar), diliputi sekret mukoid. Bentuk limbus: tantras dot (penonjolan berwarna abu-abu, seperti lilin) Gatal Fotofobia Sensasi benda asing Mata berair dan blefarospasme

Terapi Biasa sembuh sendiri Steroid topikal dan sistemik Kompres dingin Obat vasokonstriktor Cromolyn sodium topikal Koagulasi cryo CO2. Pembedahan kecil (eksisi). Antihistamin umumnya tidak efektif Kontraindikasi untuk pemasangan lensa kontak

KERATITIS FLIKTEN
Flikten merupakan benjolan berdiameter 1-3 mm berwarna abu-abu pada lapisan superfisial kornea. Epitel diatasnya mudah pecah dan membentuk ulkus. Ulkus dapat sembuh tanpa meninggalkan sikatrik. Ataupun menjalar dari pinggir ke tengah, dengan pinggir meninggalkan sikatrik sedangkan bagian tengah nya masih aktif, yang disebut wander phlyctaen. Bersifat kambuhan dapat menyebabkan kelainan kornea berbentuk bercak-bercak sikatrik, menyerupai pulau-pulau yang disertai geographic pattern.

Berhubungan dengan:
TB paru Gizi kurang Lingkungan yang padat

Lokasi flikten : limbus kornea

TERAPI
Kortikosteroid lokal Tetes mata atropin 1% Salep mata antibiotik Perbaikan gizi dan lingkungan Obati TB paru

KERATITIS SIKA
Merupakan peradangan konjungtiva dan kornea akibat keringnya permukaan kornea dan konjungtiva. Penyebab keringnya permukaan konjungtiva dan kornea, yaitu: Berkurangnya komponen lemak, seperti pada blefaritis Berkurangnya airmata, seperti pada syndrome syrogen, setelah memakai obat diuretik, atropin atau dijumpai pada usia tua. Berkurangnya komponen musin, dijumpai pada keadaan avitaminosis A, penyakit-penyakit yang menyebabkan cacatnya konjungtiva, seperti trauma kimia, Sindrom Steven Johnson, trakoma. Penguapan yang berlebihan seperti pada kehidupan gurun pasir, lagoftalmus, keratitis neuroparalitika. Adanya sikatrik pada kornea.

Gambaran Klinis mata terasa gatal terasa seperti ada pasir Fotopobia visus menurun secret lengket mata terasa kering.

Permukaan kornea kasar dan ireguler Rasa nyeri berulang-ulang karena erosi yang multipel Berlangsung lama penebalan epitel pada seluruh kornea Terdapat infiltrat-infiltrat kecil,letak epiteleal,tes fluoresen (+). Terdapat juga benang-benang (filamen) yang sebenarnya sekret yang menempel, karena itu, disebut juga keratitis filamentosa.

Pengobatan Tidak ada yang spesifik Air mata buatan

KERATITIS NUMULARIS
Diduga dari virus Pada klinis tanda-tanda radang tidak jelas Terdapat infiltrat bulat-bulat subepitelial di kornea, dimana tengahnya lebih jernih, disebut halo (diduga terjadi karena resorpsi dari infiltrat yang dimulai di tengah) Tes fluoresen (-) Keratitis ini kalau sembuh meninggalkan sikatrik yang ringan.

Gambaran Klinis: Mata merah Fotofobia Mata unilateral yang terserang Lakrimasi Pengobatan: Kortikosteroid lokal

KERATITIS NEUROPARALITIK
Gangguan pada N.V karena infeksi herpes zooster, tumor pada fossa posterior cranium,dll yang menyebabkan gangguan pada syaraf tsb, maka kornea menjadi tdk sensitif lagi dan metabolisme kornea menjadi terganggu mata mudah erkena trauma dan infeksi

Gambaran Klinis Mata merah, injeksi perikornea, tak sakit Terdapat kerusakan superfisial di seluruh kornea Tes fluoresin (+), fotofobia, lakrimasi

Pengobatan: untuk mencegah infeksi sekunder, alat pelindung mata