Anda di halaman 1dari 44

1

HUKUM KEPAILITAN
Prof. Dr. Nindyo Pramono,SH.MS
Sulistiowati,SH.MHum.
2
HUKUM KEPAILITAN
Apakah Kepailitan itu?
Sita umum atas semua kekayaan Debitur Pailit yang
pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator
di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang ini. Seseorang debitur
baru dapat dikatakan berada dalam keadaan pailit, jika
ia mempunyai dua atau lebih Kreditur dan tidak
membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh
waktu dan dapat ditagih dan dinyatakan pailit dg putusan
Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun
atas permohonan satu atau lebih krediturnya.
3
HUKUM KEPAILITAN (lanjutan)
Yang berhak mengajukan pailit?
1. debitur sendiri;
2. seorang kreditur atau lebih;
3. kejaksaan untuk kepentingan umum;
4. Bank Indonesia, jika debiturnya bank;
5. Bapepam, jika debiturnya perusahaan efek,
bursa efek, LKP & LPP;
6. Menkeu, jika debiturnya Persh. Asuransi,
Persh. Reasuransi, Dana Pensiun, atau BUMN
yang bergerak di bidang kepentingan publik.

4
TUJUAN KEPAILITAN
Kepailitan: Lembaga Hukum Perdata
Eropa, realisasi dua asas pokok Ps 1131
dan 1132 KUHPerdata.
5
TUJUAN KEPAILITAN (lanjutan)
Asas yang terkandung dalam kedua Ps tersebut:
1. Apabila debitur tidak membayar utangnya dengan
sukarela walaupun telah ada putusan pengadilan yang
menghukumnya supaya melunasi utangnya, atau
karena tidak mampu untuk membayar seluruh
hutangnya, maka seluruh harta bendanya disita untuk
dijual dan hasil penjualan itu dibagi-bagikan kepada
semua krediturnya menurut besar kecilnya piutang
masing-masing, kecuali ada alasan-alasan yang sah
untuk didahulukan;
2. Semua kreditur mempunyai hak yang sama;
3. Tidak ada nomor urut dari para kreditur yang
didasarkan atas timbulnya piutang mereka.
6
TUJUAN KEPAILITAN (lanjutan)
Pernyataan pailit bertujuan : (1) untuk
mendapatkan penyitaan umum atas
kekayaan si berutang, yaitu segala harta
benda si debitur disita atau dibekukan
untuk kepentingan semua krediturnya.
7
TUJUAN KEPAILITAN (lanjutan)
(2) untuk menghindarkan kreditur pada waktu
bersamaan meminta pembayaran kembali piutangnya
dari si debitur; (3). Menghindari adanya kreditur yang
ingin mendapatkan hak istimewa yang menuntut hak-
haknya dengan cara menjual sendiri barang milik
debitur, tanpa memperhatikan kepentingan kreditur
lainnya; (4). Menghindarkan kecurangan-kecurangan
yang dilakukan oleh si debitur sendiri, misalnya debitur
melarikan atau menghilangkan semua harta
kekayaannya dengan maksud melepaskan tanggung
jawabnya terhadap para kreditur, debitur
menyembunyikan harta kekayaannya, sehingga para
kreditur tidak akan mendapatkan apa-apa.
8
TUJUAN KEPAILITAN (lanjutan)
Di Amerika Serikat, Bankruptcy Law dirancang
untuk memaksa agar debitur tidak dapat
menggelapkan harta kekayaannya.
Historically the bankruptcy law was not
concerned with benefiting the debtor as much as
it was its benefiting the debtors creditor. In its
origin, the law was designed to compel
fraudulent debtors to bring their property into
court and to pay it to their creditor, thus
preventing them from concealing their property
or from paying it to only some of their creditor.
9
TUJUAN KEPAILITAN (lanjutan)
The Bankruptcy Act has several major purpose. One is
to assure that the debtors property is fairly distributed to
the creditors and that some of the creditors do not obtain
unfair advantage over the others. At the same time, the
act is designed to protect all of the creditors against
action by the debtor that would unreasonably diminish
the debtors assets to which they are entitled. The Act
also provides the honest debtor with a measure of
protection against the demands for payment by creditor.
Under some circumstances the debtor is given additional
time to pay the creditors free of pressure that the
creditors might otherwise exert. If a debtor makes a full
and honest accounting of his or her assets and liabilities
and deals fairly with the creditors the debtor may have
most. If not all, of the debts discharge and thus have a
fresh start.
10
SYARAT KEPAILITAN
Pailit ( failliet = Belanda ; to fail = Inggris; bankrupt,
bankruptcy = Inggris ) berarti pemogokan pembayaran
atau kemacetan pembayaran.
Syarat untuk dinyatakan pailit : debitur dalam keadaan
berhenti membayar. Dengan putusan hakim, ia akan
dinyatakan pailit.
Putusan pailit akan diucapkan hakim, bila secara sumir
terbukti adanya peristiwa atau keadaan yang
menunjukkan adanya keadaan berhenti membayar dari
debitur.
Sumir terbukti berarti untuk pembuktian tidak berlaku
peraturan pembuktian yang biasa (Buku IV
KUHPerdata).
11
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Apa yang menjadi ukuran atau norma bagi keadaan
berhenti membayar itu?
Pedoman yang disepakati : Untuk pernyataan kepailitan tidak
perlu ditunjukkan bahwa debitur tidak mampu untuk
membayar hutangnya dan tidak peduli apakah berhenti
membayar itu sebagai akibat dari tidak dapat atau tidak mau
membayar.
Dalam yurisprudensi :membayar tidak selalu berarti
menyerahkan sejumlah uang. Membayar berarti memenuhi
suatu perikatan artinya dapat berujud menyerahkan barang.
Berhenti membayar tidak harus diartikan near de letter.
Yakni debitur berhenti sama sekali untuk membayar hutang-
hutangnya, melainkan bahwa debitur pada waktu diajukan
permohonan pailit berada dalam keadaan tidak membayar
utang-utangnya ( Putusan Pengadilan Tinggi Bandung No.
171/1973/Perd/PTB, Tgl : 31 Juli 1973 ).
12
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Dalam yurisprudensi Belanda seperti HR. 22
Maret 1946, HR 26 Januari 1940, HR 17
Februari 1961, banyak keadaan yang dapat
dikategorikan sebagai keadaan berhenti
membayar :
1. Keadaan berhenti membayar tidak sama
dengan keadaan bahwa kekayaan debitur tidak
cukup untuk membayar hutang-hutangnya yang
sudah dapat ditagih, melainkan bahwa debitur
tidak membayar hutang-hutang itu.
13
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
2. Juga pernah terjadi adanya hutang-hutang yang
belum dapat ditagih, tetapi dapat dianggap
debitur dalam keadaan berhenti membayar, asal
pada saat ditagih atau diminta debitur tidak
membayar hutang itu.
3. Bilamana debitur tidak membayar bukan karena
keadaan memaksa, melainkan berdasarkan
keberatan yang oleh hakim tidak segera
dianggap tidak beralasan, maka hakim dapat
menganggap bahwa keadaan berhenti
membayar itu tidak ada.
14
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
4. Keadaan berhenti membayar dapat terjadi,
bilamana kredit-kredit yang lain tidak mendesak
dibayar atau memiliki eksekusi diluar kepailitan.
5. Keadaan aktiva boedel kemudian terbukti cukup
untuk membayar semua hutangnya, itu tidak
menghalangi bahwa debitur sekarang dalam
keadaan berhenti membayar.
6. Tidak membayar hutang-hutang yang sudah dapat
ditagih dan disamping itu ada hutang-hutang yang
lain yang terbukti dari laporan kurator, membuktikan
adanya keadaan berhenti membayar.
15
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Secara ekonomis seseorang atau suatu
perusahaan dikatakan bangkrut jika keadaan
dalam neraca menunjukkan bahwa posisi
pasivanya lebih rendah atau tidak sebanding
dengan posisi aktiva. Dengan kata lain rugi,
sehingga ada sementara pandapat yang
tidak setuju jika istilah pailit itu
diterjemahkan dengan bangkrut.
16
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Istilah bangkrut adalah istilah yang tidak resmi
digunakan diluar undang-undang. Bangkrut juga harus
diartikan bahwa debitur berada dalam keadaan berhenti
membayar, tidak peduli karena ia tidak mampu atau
tidak mau. Bangkrut tidak selalu harus ditunjukkan oleh
keadaan perusahaan yang merugi. Memang bisa terjadi
perusahaan rugi terus, kemudian ia tidak mampu
membayar hutang-hutangnya. Pada keadaan seperti ini
ia belum tentu bangkrut, ia baru dapat dikatakan
bangkrut jika memang sudah diputus demikian oleh
hakim.
17
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Bankruptcy atau kebangkrutan ( Inggris ) itu berarti
keadaan tidak solven dari perorangan atau organisasi
atau perusahaan, yaitu keadaan tidak mampu
membayar hutang.
Bankrupt : The state or condition of a person (individual,
partnership, corporation, municipality) who is unable to
pay its debts as they are, or become, due. The condition
of one whose circumstances are such that he is entitled
to take the benefit of the federal bankruptcy laws. The
term includes a person againts whom an involuntary
petition has been filed, or who has filed a voluntary
petition, or who has been adjudged a bankrupt. The
woed bankrupt is not used in the federal bankruptcy
code. Debtor is now the term used.
18
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Di bawah UU US ada dua jenis kebangkrutan :tidak sukarela
( unvoluntary ) dan sukarela ( voluntary ). Bangkrut secara
tidak sukarela terjadi bila satu atau lebih kreditur memohon
kepada pengadilan untuk menyatakan debitor tidak solven,
sedangkan sukarela terjadi bila debitur sendiri yang
memohonnya. Dalam kedua kasus tersebut, tujuannya
adalah penyelesaian yang teratur dan adil dari semua
kewajiban.
Di US, sejak debitur dinyatakan bangkrut, pengadilan
menunjuk wali sementara ( sama dengan kurator sementara
Indonesia ) dengan kekuasaan luas dan wewenang untuk
membuat perubahan manajemen, mengatur pendanaan
tanpa jaminan dan mengoperasikan bisnis debitor pada
umumnya sedemikian rupa untuk menghindari kerugian.
Hanya dengan menyerahkan sesuatu jaminan yang
memadai, debitur dapat mengambil alih kendali dari wali.
19
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Berkenaan dengan reorganisasi, Debitur tetap memiliki
bisnis dan mengendalikannya, kecuali pengadilan
menentukan lain. Debitur dan kreditur diberi cukup
banyak kelonggaran untuk bekerjasama.
Jadi : pailit atau bankrupt adalah soal debitur
berada dalam keadaan berhenti membayar (insolvency),
bukan soal rugi .

Syarat untuk mempailitkan debitur ?
1. debitur mempunyai dua atau lebih kreditur;
2. tidak membayar satu utang yang telah jatuh tempo dan
dapat ditagih.
20
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Siapa yang dapat dipailitkan ?
1. Orang perorangan : pria dan wanita; menikah atau
belum menikah. Jadi pemohon adalah debitur
perorangan yang telah menikah, maka permohonan
hanya dapat diajukan atas persetujuan suami atau
isterinya, kecuali tidak ada percampuran harta.
2. Perserikatan atau perkumpulan tidak berbadan hukum
lainnya. Jika pemohon berbentuk Firma harus memuat
nama dan tempat kediaman masimh-masing persero
yang secara tanggung renteng terikat untuk seluruh
utang Firma.
3. Perseroan, perkumpulan, koperasi, yayasan yang
berbadan hukum.
4. Harta warisan.
21
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Pengadilan mana yang berwenang?
1. Pengadilan daerah hukum tempat kedudukan debitur;
2. Dalam hal debitur telah meninggalkan Indonesia, maka
pengadilan daerah hukum tempat kedudukdan terakhir
debitur;
3. Dalam hal debitur pesero firma, pengadilan tempat
kedudukan hukum firma;
4. Dalam hal debitur tidak berkedudukan di wilayah
Indonesia tetepi menjalankan profesi atau usahanya di
Indonesia, Pengadilan tempat kedudukan atau kantor
pusat debitur menjalankan profesi atau usahanya di
wilayah RI;
5. Dalam hal debitur badan hukum, Pengadilan tempat
kedudukan hukum badan hukum sesuai anggaran
dasarnya.
22
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Setiap permohonan pernyataan pailit, baik yang
diajukan oleh debitur maupun pihak ketiga di luar debitur
harus diajukan melalui seorang pengacara yang
memiliki izin beracara di Pengadilan, diajukan ke
Pengadilan Niaga melalui panitera (Pasal 7 ayat (1) UU
No. 37 Tahun 2004 Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang.
Ketentuan ayat (1) tersebut di atas tidak berlaku dalam
hal permohonan diajukan oleh Kejaksaan, Bank
Indonesia, Bapepam, dan Menteri Keuangan.
23
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Upaya hukum yang dimungkinkan ?
Putusan pailit, hanya terbuka upaya hukum
Kasasi dan PK. Apa reasosing ketentuan ini ?.
Mengapa meniadakan upaya banding ?.
Upaya PK harus memenuhi 2 ( dua ) syarat :
1. Terdapat bukti tertulis baru yang penting, yang
bila diketahui dipersidangan sebelumnya akan
menghasilkan putusan yang berbeda ;
2. Dalam putusan hakim yang bersangkutan
terdapat kekeliruan yang nyata.

24
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Uit voorbaar bij voorraad ?
Semua penetapan mengenai pengurusan dan/atau pemberesan harta pailit
yang ditetapkan oleh hakim dapat dilaksanakan terlebih dahulu, kecuali
undang-undang menentukan lain.
Dengan dijatuhkannya putusan pailit, serta merta Kurator dapat melaksanakan
tugas dan kewenangannya untuk mengurus dan/atau membereskan harta pailit
terhitung sejak putusan pailit diucapkan, meskipun ada kasasi atau PK. Dalam
hal putusan pernyataan pailit dibatalkan sebagai akibat adanya kasasi atau PK
maka segala perbuatan yang telah dilakukan oleh Kurator sebelum atau pada
tanggal kurator menerima pemberitahuan tentang putusan pembatalan tetap
sah dan mengikat Debitur.
Pada perkara perdata pada umumnya dengan diadakannya upaya hukum
perlawanan, banding atau kasasi terhadap putusan hakim mengakibatkan
penundaan pelaksanaan putusan. Bila hakim memutuskan, uit voorbaar bij
voorraad terhadap putusannya, maka penundaan tidak diadakan. Dalam
praktek hakim dimungkinkan mewajibkan penuntut atau penggugat untuk
memberikan borg, agar si tergugat bila keadaan berbalik, dapat dijamin
pembayaran kembali atau ganti ruginya.
25
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Pemeriksaan cuma-cuma
UUPK memungkinkan adanya pemeriksaan secara
gratis, dengan akibat biaya kepaniteraanpun juga gratis.

Putusan Pencabutan pernyataan pailit
Putusan tersebut diumumkan oleh Panitera Pengadilan
di dalam BNRI & dua surat kabar harian.
Terhadap putusan pencabutan pernyataan pailit dapat
dicabut diajukan kasasi dan/atau PK.
Dalam hal setelah pencabutan pernyataan pailit
diucapkan diajukan lagi permohonan pernyataan pailit,
maka debitur atau pemohon wajib membuktikan adanya
cukup harta untuk membayar biaya kepailitan.
26
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Penyitaan oleh Kreditur selama sidang berlangsung ?
Sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan, setiap kreditur atau
kejaksaan dapat mengajukan permohonan ke Pengadilan untuk :
1. meletakkan sita jaminan terhadap sebagian atau seluruh kekayaan
debitur;
2. menunjuk kurator sementara untuk : (1). Mengawasi pengelolaan
usaha debitur; (2). Mengawasi pembayaran kepada kreditur,
pengalihan atau pengagunan kekayaan debitur yang dalam rangka
kepailitan memerlukan persetujuan kurator.
Biasanya permohonan penyitaan akan dikabulkan, jika kepentingan
kreditur perlu dilindungi. Di samping itu untuk melindungi dan
menjaga kepentingan debitur dan pihak ketiga lain yang
berkepentingan, maka Pengadilan dapat menetapkan agar kreditur
pemohon memberikan jaminan dalam jumlah yang wajar.
27
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Meliputi apa saja kepailitan itu dijatuhkan ?
Kepailitan meliputi seluruh harta kekayaan debitur yang
ada pada saat pernyataan pailit itu dijatuhkan dan yang
diperoleh selama kepailitan berlangsung.
Bagi debitur perorangan yang pailit, maka akibat
kepailitan di atas berlaku pula bagi suami atau isteri
yang menikah dalam persatuan harta, baik yang ada
saat dijatuhkan kepailitan maupun yang diperoleh selam
kepailitan.
28
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Dapatkah Bank Rekapitalisasi dan Bank BTO
menjadi pemohon pailit ?
Putusan MA No. 04 K/N/1998.
Dalam praktek permohonan pernyataan pailit
sebagian besar dilakukan oleh bank terhadap
debitur kreditnya yang macet.
29
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Pertama, dalam kasus kepailitan yang diajukan oleh PT Bank
PDFCI sebagai Pemohon pailit terhadap PT. Sarana Kemas
Utama selaku Termohon Pailit. Permohonan pailit dikabulkan
hakim pengadilan niaga. Persoalan muncul dalam kasasi karena
Pemohon Kasasi keberatan atas status Termohon
Kasasi/Pemohon Pailit sebagai Bank BTO pada saat
permohonan pailit diajukan. Menurut Pemohon Kasasi atau
termohon pailit, sejak tanggal 3 April 1998 status Termohon
Kasasi adalah bank BTO dan manajemen telah diambil alih atau
dikuasai oleh dan berada di bawah BPPN. Oleh karena itu surat
kuasa Termohon Kasasi atau Pemohon Pailit harus dengan
sepengetahuan atau setidak-tidaknya diketahui oleh BPPN.
Kebertaan ini sebenarnya pernah diajukan pada sidang
pengadilan niaga, namun judex factie sama sekali tidak
mempertimbangkan keberatan tersebut dalam putusannya.
Karena itu judex factie telah melakukan kesalahan dalam
penerapan hukum.
30
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Majelis Hakim Kasasi memandang bahwa Termohon
Kasasi atau Pemohon Pailit dalam status Bank BTO
tetap sah sebagai Pemohon Pailit, karena pernyataan
BTO sama sekali tidak menghapuskan status Termohon
Kasasi atau Pemohon Pailit sebagai badan hukum yang
dapat bertindak sebagai pihak dalam proses perkara
dan dengan demikian pembuatan surat kuasapun tetap
sah dan tidak perlu sepengetahuan dan atau ijin
pemerintah c.q. BPPN. Karena itu Majelis Hakim Kasasi
membenarkan putusan Judex facxtie. Atas putusan ini
Pemohon Kasasi atau Termohon Pailit mengajukan PK.
31
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Dalam permohonan PK, Permohon PK atau Pemohon Kasasi
atau Termohon Pailit kembali mempersoalkan kewenangan
hukum atau legal capacity Pemohon Pailit dalam hal ini Bank
PDFCI yang telah dikenakan status Bank BTO pada saat
mengajukan permohonan pernyataan pailit. Menurut
Pemohon PK atau Pemohon Kasasi atau Termohon Pailit,
Majelis Hakim Kasasi dan Judex Facxtie telah melakukan
kesalahan berat dalam menerapkan hukum mengenai
kewenangan hukum Bank BTO. Dikatakan bahwa Termohon
PK atau Termohon Kasasi atau Pemohon Pailit sejak tanggal
3 April 1998 telah menjadi Bank BTO sehingga manajemen
dan operasional telah diambil alih oleh BPPN sesuai
dengan ketentuan Pasal 37 Ayat (1) UU No.10 Thn 1998.
Pada hal permohonan pailit yang diajukan Termohon PK atau
Pemohon Pailit dilakukan pada tanggal 30 September 1998
yaitu pada saat Termohon PK atau Pemohon Pailit sudah
berstatus Bank BTO tanpa persetujuan kuasa dari BPPN.
32
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
Majelis Hakim PK dalam perkara ini membenarkan pendapat
yang diajukan Pemohon PK atau Termohon Pailit atau Pemohon
Kasasi, karena menurut Majelis terdapat kesalahan berat
dalam menerapkan hukum tentang status dan kewenangan
Bank BTO sebab Direksi Bank PDFCI Tbk yang telah
dinyatakan dalam status BTO sejak 3 April 1998 tidak lagi
memiliki kewenangan untuk melakukan suatu perbuatan hukum (
legal capacity ) termasuk mengajukan gugatan atau permohonan
pailit di muka pengadilan untuk kepentingan bank tersebut.
Karena manajemen dan operasionalnya telah diambilalih atau
dikuasai oleh dan berada di bawah pengawasan BPPN, maka
surat kuasa yang dibuat Direksi yang menjadi dasar
permohonan pailit terhadap Pemohon PK atau Termohon Pailit
adalah tidak sah. Berdasarkan pertimbangan tersebut, menurut
MA terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan PK
yang diajukan PT Sarana Kemas Utama selaku Termohon Pailit
atau Pemohon Kasasi atau Pemohon PK dan membatalkan
Putusan MA 14 Desember 1998 No.04 K/N/1998.
33
APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN
UTANG MENURUT UU No. 37 Tahun 2004
UU No.37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU
menentukan tentang apa yang dimaksud dengan
utang. Pasal 1 angka 6 menyebutkan utang adalah
kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan
dalam jumlah uang baik dalam mata uang Indonesia
atau mata uang asing, baik secara langsung maupun
yang akan timbul di kemudian hari, yang timbul karena
perjanjian atau UU dan yang wajib dipenuhi oleh debitur
dan bila tidak dipenuhi memberi hak kepada Kreditur
untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan
Debitur.
34
APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN
UTANG (lanjutan)
Ada istilah lain di dalam hukum perdata yang erat sekali
dengan persoalan hutang, yaitu schuld yang sering
diterjemahkan hutang dan haftung yang sering
diterjemahkan harta kekayaan. Dalam diri debitur itu
terdapat dua unsur, yaitu schuld dan haftung. Schuld
adalah hutang debitur kepada kreditur, sedangkan
haftung adalah harta kekayaan debitur yang
dipertanggungjawabkan bagi pelunasan hutang
tersebut. Rumusan normatif haftung seperti yang
dirumuskan di dalam Pasal 1331 KUHPerdata.
35
KEPAILITAN BADAN HUKUM
Jika yang pailit adalah PT misalnya, maka
penyelesaiannya harus mengacu ke UUPT. tahap-tahap
penyelesaianya sama dengan kepailitan individu, yang
membedakan hanya soal tanggung jawab si pailit.
Bagi PT, pertama yang bertanggung jawab untuk
membayar kreditur adalah PT. bila kekayaan tidak
mencukupi, maka menurut UUPT, lebih lanjut harus
diselidiki apakah terdapat cukup alasan untuk menuntut
tanggung jawab para pengurusnya.
Ps 97 ayat (1) & (2) UUPT : Direksi bertanggung jawab
penuh atas pengurusan perseroan untu kepentingan
dan tujuan PT baik di dalam maupun di luar pengadilan.
36
KEPAILITAN BADAN HUKUM
(lanjutan)
Ps 97 ayat (2) UUPT : Anggota Direksi wajib dengan itikad baik
dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas untuk
kepentingan dan usaha perseroan. Bila anggota Direksi lalai
dalam menjalankan tugasnya menurut Ps 97 ayat (3) UUPT:
Setiap anggota Direksi bertanggung jawab penuh secara
pribadi bila ybs bersalah atau lalai dalam menjalankan
tugasnya. Ayat (6)nya menyatakan : Pemegang saham yang
mewakili paling sedikit 1/10 bagian dari jumlah seluruh saham
dengan hak suara yang sah dapat mengajukan gugatan ke PN
terhadapa anggota Direksi yang karena kesalahan atau
kelalaiannya menimbulkan kerugian pada perseroan.
PT yang terus rugi dengan putusan hakim dapat dinyatakan
pailit. Kepailitan yang terjadi karena kesalahan atau kelalaian
direksi, menurut Ps 104 ayat (2) UUPT, bila kekayaan PT tidak
mencukupi untuk menutup kerugian akibat kepailitan tsb, maka
setiap anggota direksi secara tanggung renteng bertanggung
jawab atas kerugian itu.
37
KEPAILITAN BADAN HUKUM
(lanjutan)
Beberapa ristriksi thd tanggung jawab direksi dalam hal PT
pailit :
1. Direktur ikut bertanggung jawab, jika PT dinyatakan
pailit;
2. Harus ada unsur kesalahan atau kelalaian dari direktur
tsb;
3. Tanggung jawab direktur bersifat residual. Dia baru
bertanggung jawab secara material setelah seluruh aset
PT diambil dan tidak mencukupi;
4. Disamping PT, yang ikut ditarik untuk bertanggung
jawab hanya direksi, komisaris dan pemegang saham
tidak ikut bertanggung jawab, kecuali mereka
melakukan kesalahan lain;
38
KEPAILITAN BADAN HUKUM
(lanjutan)
5. Tanggung jawab secara renteng, jadi walaupun seorang
direktur yang salah, tetapi yang lain juga dipresumsi
untuk bertanggung;
6. Adanya presumsi bersalah dengan beban pembuktian
terbalik. Maksudnya jika direksi bersalah, maka seluruh
anggota direksi dianggap bersalah, kecuali jika anggota
direksi ybs dapat membuktikan bahwa sebenarnya ia
tidak bersalah;
7. Prinsip special treatment, untuk PT pailit, pengaturan
dan restriksi tentang tanggung jawab direksi hanya
berlaku dalam hal perusahaan pailit saja. Dalam hal lain
prinsip ini tidak berlaku, dan direktur bertanggung jawab
seperti biasanya dalam kasus-kasus biasa.
39
PERDAMAIAN
Debitur pailit berhak untuk menawarkan suatu
perdamaian kepada semua Kreditur.
Jika pengesahan perdamaian telah memperoleh
kekuatan hukum tetap, kepailitan berakhir.
Kurator wajib mengumumkan perdamaian tersebut
dalam Berita Negara Republik Indonesia dan paling
sedikit 2 surat kabar harian.
Jika tidak ditentukan lain, Kurator wajib mengembalikan
kepada Debitur semua benda, uang, buku dan dokumen
yang termasuk harta pailit dg tanda terima yang sah.
40
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
(PKPU)
PKPU diajukan oleh Debitur yang mempunyai
lebih dari satu kreditur atau oleh Kreditur.
Debitur yg tdk akan dpt melanjutkan membayar
utang2nya yg sdh jatuh waktu & dpt ditagih, dpt
memohon PKPU, dg maksud untuk mengajukan
rencana perdamaian yg meliputi tawaran
pembayaran sebagian atau seluruh utang kpd
Kreditur.
41
Dua tahap PKPU
PKPU Sementara
Pengadilan Niaga wajib mengabulkan,
diberikan untuk jangka waktu 45 hari.
PKPU Tetap
PKPU tetap diberikan untuk jangka waktu
270 hari, jika pada hari ke- 45 atau hari
rapat kreditur tersebut belum dapat
memebrikan suara mereka terhadap
rencana tersebut.
42
PKPU (lanjutan)
Selama PKPU, Debitur tanpa persetujuan pengurus
tidak dapat melakukan tindakan kepengurusan atau
kepemilikan atas seluruh atau sebagian hartanya.
Selama PKPU, Debitur tidak dapat dipaksa membayar
utang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 245 dan
semua tindakan eksekusi yang telah dimulai untuk
pelunasan utang, harus ditangguhkan.
PKPU tidak menghentikan perkara yang sudah dimulai
oleh Pengadilan atau menghalangi diajukannya perkara
baru.

43
Berakhirnya PKPU
Atas permintaan hakim pengawas, satu atau lebih kreditur
atau prakarsa Pengadilan, PKPU dapat diakhiri dalam
hal:
a. Debitur, selama PKPU, bertindak dg itikad buruk
dalam megurus hartanya;
b. Debitur telah merugikan atau telah mencoba
merugikan krediturnya;
c. Debitur melanggar ketentuan Pasal 240 ayat (1);
d. Debitur lalai melaksanakan tindakan2 yg diwajibkan
oleh Pengadilan saat atau setelah PKPU diberikan,
atau lalai melkukan tindakan2 yg disyaratkan oleh
pengurus demi kepentingan harta Debitur;
44
Berakhirnya PKPU (lanjutan)
Selama PKPU, keadaan harta Debitur
ternyata tidak lagi memungkinkan
dilanjutkan PKPU atau;
Keadaan Debitur tidak dapat diharapkan
untuk memenuhi kewajibannya terhadap
Kreditur pada waktunya.
Jika PKPU diakhiri, Debitur harus
dinyatakan pailit dalam putusan yang
sama.