Anda di halaman 1dari 16

BAB 5

INSOLVENSI DALAM KEPAILITAN

5.1 HUBUNGAN KEPAILITAN DENGAN INSOLVENSI


Menurut Credit Counselling Society, dua istilah tersebut, yaitu kepailitan dan
insolvensi, sering membingungkan apabila tidak kita pahami dengan baik
masing-masing pengertiannya. Kedua istilah tersebut memiliki arti yang berbeda
tetapi terkait satu sama lain. Kedua istilah tersebut berjalan bebarengan. Insolvensi
tidak harus berakhir beruppa Debitur menjadi pailit, tteapi sebalinknya semua badan
hukum dan orang perorangan yang dinyatakan pailit pasti insolven. Seorang Debitur
yang tidak melunasi utangnya kepada salah satu Krediturnya tidak selalu karena
Debtur tidak dapat membayar utangnya, tetapi dapat juga karena Debitur memang
dengan sengaja tidak mau membayar utangnya karena alasan yang berupa bukan
karena Debitur tidak mampu membayarnya.

5.2 SEBAB-SEBAB TERJADINYA KEPAILITAN


Kepailitan merupakan akibat dari adanya hal-hal salah satunya adalah suatu
permohonan yang diajukan kepada Pengadilan Kepailitan yang berwenang oleh suatu
badan hukum atau seorang pribadi untuk menyatakan dirinya secara sukarela pailit
(voluntarily declared bankrupt).

5.3 INSOLVENSI
5.3.1 Pengertian Insolvensi
Dalam tulisan yang dibuat oleh Australian Securities & Investments
Commission (ASIC) dengan tegas dikemukakan bahwa;
A company is insolvent if it is unable to pay all its debts when they are due.

Dengan demikian, sesuai dengan keterangan tersebut diatas, Debitur yang


insolven adalah Debitur yang tidak daat membayar utang kepada semua Krediturnya.
Jumlah keseluruhan utang-utang Debitur tidak membeda-bedakan jenis para
Kreditur.

5.3.2 Jenis Insolvensi


Terapat dua jenis insolvensi, yaitu balance sheetinsolvency dan cash flow
insolvency. Keadaan keuangan disebut balance sheet iinsolvency (insovensi neraca)
apabila utang perusahaan atau perorangan sudah melebihi nilai asetnya. Sementara
cash flow insolvency (insolvensi arus kas) adalah apabila suatu perusahaan atau
perorangan yang sebenarnya masih memiliki aset yang lebih besar dari jumlah
hutanya, tetapi tidak dapat memenuhi pelunasan utang-utangnya pada saat
utang-utang tersebut jatuh tempo.

5.3.3 Berbagai Sebab Terjadinya Cash Flow Insolvency


Pengelolaan arus kas sangat penting. Produksi arus kas harus dilakukan dan
cermat, sehingga sejak jauh hari sudah dapat diketahui saaat kapan terjadi arus kas
keluar lebih besar daripada arus kas masuk (cash inflow).
Arus kas merupakan darah bagi suatu bisnis. Problem arus kas menimbulkan
masalah yang disebut dengan defisit arus kas. Terjadi defisit arus kas apabila arus kas
keluar lebih besar daripada arus kas masuk. Problem arus kas dapat terjadi karena
beberapa sebab. Penjualan barang atau jasa menurun adalah salah satu penyebabnya.
Misalnya karena mesin pabrik rusak, pemesanan bahan baku terlambat diterima, atau
karena faktor saingan dari perusahaan sejenis yang menjadi pesaingnya.

5.3.4 Hanya Debitur yang Mengalami Balance Sheet Insolvency yang Dapat
Dipailitkan
Debitur dapat dimohonkan pernyataan pailit kepada pengadilan hanya apabila
Debitur mengalami balance sheet insolvency.

5.4 PENENTUAN INSOLVENSI


Untuk menentukan apakah Debitur telah dalam keadaan insolvensi, aset (harta
kekayaan) Debitur harus dinilai bukan nilai pasar (market price) tetapi berdasarkan
nilai likuidasi (likuidation price).
Nilai likuidasi adalah nilai dari aset tersebut ketika dijual (dilikuidasi). nilai
likuidasi lebih rendah daripada nilai pasarnya. Untuk menghindarkan tolok ukur yang
tidak objektif dalam menilai apakah nilai aset Debitur masih lebih besar atau lebih
kecil daripada utang-utang Debiturnya.

5.5 SYARAT INSOLVENSI DALAM UUK-PKPU


Menurut Pasal 1 ayat (1) Fv, terhadap seorang Debitur dapat diajukan
permohonan pernyataan pailit hanya apabila Debitur hanya membayar utangnya.
Keadaan berhenti membayar haruslah merupakan keadaan yang objektif, yaitu karena
keadaan keuangan Debitur telah mengalami ketidakmampuan membayar
utang-utangnya (in distressed).
Syarat keppailitan ditentukan sebelumnya dalam Pasal 1 ayat (1) Fv. Syarat
kepailitan yang ditentukan dalam Pasal 1 ayat (1) Fv ternyata kemudian telah diubah.
Perubahan tersebut pertama-tama dilakukan melalui Perpu No 1 Tahun 1998 yang
kemudian telah diundangkan sebagai UU No. 4 Tahun 1998. Terakhir perubahaan
tersebut terjadi dengan diberlakukannya UU No. 37 Tahun 2004 (UUK-PKPU).
Syarat kepailitan ditentukan dalam Pasal 2 ayat (1) UUK-PKPU.
Dari ketentuan Pasal 2 ayat (1) UUK-PKPU, dapat disimpulkan bahwa
permohonan pernyataan pailit terhadap seseorang Debitur hanya dapat diajukan
apabila memenuhi salah satu syaratnya adalah Debitur, terhadap siapa permohonan
pernyataan pailit itu diajukan, harus paling sedikit mempunyai dua Kreditur; Dengan
kata lain, harus memiliki lebih dari satu Kreditur. Maksudnya adalah yang
menentukan Dbitur harus paling sedikit memiliki dua Kreditur, sudah sesuai dengan
asas concursus creditorum pada kepailitan. Mengenai syarat pertama, dapat timbul
masalah mengenai jenis Krediturnya yang dapat mengajukan permohonan pailit.
Maka syarat kepailitan menurut Pasal 2 ayat (1) UUK-PKPU menjadi tidak pasti.
Dengan kata lain, dapat menimbulkan kekisruhan dalam menafsirkan pengertian
Kreditur.

BAB 6
KEPAILITAN DAN REORGANISASI

6.1 REORGANISASI MERUPAKAN PREMIUM REMEDIUM


Dalam Investopedia, reorganisai didefinisikan dan dijelaskan sebagai berikut;
A process designed to revive a financially troubled or bankrupt firm. A reorganization
involves the restatement of assets and liabilities, as well as holding talks with creditors in
order to make arrangements for maintaining repayments. Reorganization is an attempt to
extend the life of a company facing bankruptcy through special arrangements and
restructuring in order to minimize the possibility of past situations reoccuriring.

Apabila Debitur dan para Kreditur tidak menghendaki dilakukan


Reorganisasi terhadap utang-utang perusahaan Debitur, atau upaya negoisasi
untuk memperoleh perdamaian dalam rangka Reorganisasi tidak tercapai, atau
pelaksanaan reorganisasi mengalami ke gagalan di tengah jalan, maka baru
pengadilan berwenang dan sekaligus wajib memeriksa permohonan pailit dan
memberikan keputusannya.

6.2 PENDIRIAN UUK-PKPU TENTANG REORGANISASI


Menurut UUK-PKPU maupun UU No. 4 Tahun 1998, PKPU dapat diajukan
baik sebelum permohonan pernyataan pailit diajukan terhadap Debitur maupun ketika
berlangsung proses pemeriksaan pengadilan terhadap permohonan pernyataan pailit.
UU No. 4 Tahun 1998 maupun UUK-PKPU bahkan memungkinkan dilakukannya
perdamaian antara Debitur dan para Krediturnya setelah ada putusan pernyataan pailit
dari pengadilan.

6.3 PUTUSAN PAILIT MERUGIKAN BANYAK PIHAK


Kepailitan juga menimbulkan kerugian bagi pekerja atau pegawai dari Debitur
dan bagi negara. Dengan dinyatakan pailit, Debitur berada di bawah pengampuan
untuk dapat mengurus harta kekayaan. Selanjutnya harta kekayaan itu dikelola oleh
Kurator (trustee atau administrator) yang ujung-ujungnya bertugas melakukan
likuidasi terhadap harta kekayaan Debitur itu. Para Kreditur juga tidak akan
diuntungkan dengan dilakukannya kepailitan (likuidasi aset Debitur). Apabila Debitur
dipailitkan, para Kreditur tidak akan memperoleh pembayaran yang penuh terhadap
piutangnya.

6.4 DAMPAK NEGATIF DALAM HAL DEBITUR BANK DIPAILITKAN


Sebelum bank memberikan kredit kepada nasabah Debiturnya, bank harus
menganalisis dengan baik beberapa faktor agar nantinya kredit yang akan diberokan
itu tidak mengalami kemacetan. Apabila menurut perhitungan bank nasabah tidak
akan berkembang baik setelah kredit diberikan, maka bank akan menolak
permohonan kredit nasabah. Faktor tersebut disebut dengan first way out (bagi
penyelesaian kreditur bank).
Apabila nasabah bank dinyatakan pailit dan dilikuidasi asetnya, maka bank akan
selalu terpukul. Hampir tidak pernah terjadi bank akan memperoleh pelunasan atas
seluruh kredit bank dari hasil likuidasi harta kekayaan perusahaan Debitur. Sebabnya
adalah karena seluruh nilai harta likuidasi sering tidak cukup untuk dibagikan kepada
seluruh Kreditur, termasuk bank-bank. Di samping itu, harga penjualan harta itu
sering tercapai (jauh) lebih rendah daripada harga pasar yang sebenarnya. Belum lagi
pelaksanaan penjualan atau likuidasi harta Debitur tidak mudah dan memakan waktu.

6.5 MEMAHAMI SELUK-BELUK REORGANISASI


Restrukturisasi Kredit dalam dunia perbankan Indonesia dilakukan
sepenuhnya berdasarkan kesepakatan antara bank dan nasabah Debitur
tanpa campur tangan atau putusan pengadilan. Kesepakatan tersebut
dituangkan dalam perjanjian bilateral antara bank dan nasabah Debitur.
Sepenuhnya diserahkan kepada mekanisma asas kebebasan berkontrak.
Restrukturisasi Kredit dapat berlangsung dengan menempuh cara-cara
sebagai berikut;
1. Memperpanjang jangka waktu pelunasan kredit yang telah jatuh
tempo
2. Melakukan penjadwalan kembali
3. Rescheduling

6.6 REORGANISAI DALAM US BANKRUPTCY CODE


Reorganisasi dalam US Bankruptcy Code diatur dalam Chapter 11. Pada
umumnya, digunakan oleh perusahaan (corporation) atau kemitraan (partnership).
Chapter 11 tersedia bukan saja untuk perusahaan dan kemitraan tetapi dapat pula
digunakan oleh perorangan. Suatu reorganisasi berdasarkar Chapter 11 merupakan
kasus bankruptcy yang paling kompleks di antara kasus-kasus bankruptcy yang lain
dan pada umumnya yang paling mahal. Namun, Chapter 11 merupakan yang paling
luwes (flexible) di antara Chapter yang lain. Pada Chapter 11, Debitur tetap memiliki
asetnya dan mengoperasikan bisnisnya di bawah supervisi pengadilan dan untuk
kepentingan para Kreditur.
Menurut Chapter 11 US Bankrutcy Code, reorganisasi bukan hanya dapat
diajukan oleh Debitur, tetapi juga oleh Kreditur. Tegasnya menurut Chapter 11 US
Bankruptcy Code, reorganisasi bukan hanya hak Debitur untuk mengajukannya,
tetapi juga Kreditur berhak mengajukannya.

6.7 REORGANISASI DALAM UNDANG-UNDANG KEPAILITAN PERANCIS


Diakui bahwa undang-undang sebelumnya yang diundangnkan pada 1967, telah
gagal untuk melakukan terobosan dalam mengatasi sejumlah halangan hukum dan
halangan sikap yang tekah menghalangi para Debitur untuk mencapai reorganisasi
yang relistis. Di Pernacis, sistem mengenai reorganisasi tersebut berlaku untuk semua
perusahaan.

6.8 PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG (PKPU) ADALAH


KETENTUAN MENGENAI REORGANISASI MENURUT UUK-PKPU
Dalam UUK-PKPU, terdapat lembaga Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang (PKPU) yang harus diputuskan berdasarkan putusan Pengadilan Niaga. Dalam
praktik perbankan, apabila kredit Debitur bank mengalami masalah, sebelum bank
akan melakukan upaya penyelesaian kredit dengan cara mengeksekusi agunan kredit
dan penjaminan (guarantee) oleh pinjaman, bank akan mempertimbangkan
kemungkinan untuk melakukan upaya penyelamatan kredit.

BAB 7
PENGERTIAN UTANG, KREDITUR, DAN DEBITUR DALAM
KEPAILITAN

7.1 PENGERTIAN UTANG


7.1.1 Pengetian Utang Menurut UU No. 4 Tahun 1998
Pengertian utang tersebut sebelumnya tidak terdapat dalam UU No. 4 Tahun
1998, yaitu undang-undang sebelum berlakunya UU No. 37 Tahun 2004.
Undang-undang tersebut tidak memberikan definisi atau pengertian mengenai apa
yang dimaksudkan dengan “utang”. Penjelasan Pasal 1 ayat (1) UU No.4
Tahun 1998 hanya menyebutkan bahwa “Utang yang tidak dibayar oeh Debitur
sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini, adalah utang pokok atau bunganya.”
Oleh karena undang-undang tersebut tidak mendefinisikan apa yang dimaksud
dengan utang. Selain UU No. 4 Tahun 1998 tidak memberikan pengertian
mengenai apa yang dimaksudkan dengan utang, undang-undang itu juga tidak
memberikan definis dari Kreditur dan Debitur. Ada puutusan yang mengartikan
utang dalm arti sempit, ada putusan yang memberikan pengertian utang
dalam arti luas. Utang dalam arti sempit adalah utang yang timbul dari
perjanjian kredit saja. Sementara itu, yang dimaksud utang dalam arti luas adalah
semua kewajiban Debitur yang harus dipenuhi terhadap Krediturnya.

7.1.2 Pengertian Utang dalam UU No. 4 Tahun 1998 Menurut Pengadilan


A. Putusan MA No. 03K/N/1998
Majelis Hakim Kasasi, dalam Putusan MA No. 03K/N/1998 tanggal 2
Desember 1998, tidak sependapat dengan Majelis Hakim Pengadilan Niaga Judex
Factie), khususnya pendapat dan sikap Judex Factie yang telah mengartikan utang
secara luas. Menurut Majelis Hakim Kasasi, pengertian utang yang dimaksdukan
dengan Pasal 1 ayat (1) UU No. 4 Tahun 1998, tidak boleh terlepas dari
konteksnya. Dikatakan bahwa pengertian utang yang dimaksudkan itu harus diartikan
dalam konteks pemikiran konsiderans tentang maksud diterbitkannya UU No. 4
Tahun 1998 dan tidak dapat dilepaskan kaitan itu darinya yang pada dasarnya
menekankan pinjaman swasta sehingga dengan demikian pengertian utang tidak
meliputi bentuk wanprestasi lain yang tidak berawal pada konstruksi hukum
pinjam-meminjam uang.

B. Putusan MA No. 02K/N/1999


Dalam perkara lain, Putusan MA No. 02K/N/1999, yaitu dalam kasus
permohonan pernyataan pailit yang diajukan oleh Hakim Sutiono dan PT Inti
Utama Selaku Kreditur dan selaku pemohon pailit terhadap PT Kutai
Kartanegara Prima Coal selaku Debitur dan termohon pailit, menarik pula untuk
diketahui telah terjadinya selisih pendapat mengenai pengertian utang.

C. Putusan MA No. 03K/N/1999


Dalam Putusan MA No. 03K/N/1999, Majelis Hakim Kasasi berpendirian;
“Bahwa dari ketentuan Pasal 1 ayat (1) UU No. 4 Tahun 1998 ditentukan tentang
objek kepailitan adalah hubungan hukum utang piutang”.

D. Putusan MA No. 04K/N/1999


Sebagaimana dalam Putusan MA No. 05PK/N/1999 dapat membenarkan
dalil-dalil yang dikemukakan oleh pemohon PK, baik Majelis Hakim Pengadilan
Niaga maupun Majelis Hakim Kasasi telah melakukan beberapa kesalahan berat
dalam pendapat hukum dalam memeriksa permohon pernyataan kepailitan ini.

E. Putusan MA No. 05K/N/1999


Majelis Hakim Kasasi dalam pertimbangan hukumnya menyatakan bahwa
keberatan yang diajukan pemohon kasasi, terutama yang berkaitan dengan pengertian
utang dan objek perkara kepailitan. Alasannya karena pada hakikatnya hubungan
hukum yang terjadi antara PT Surya Tata Internusa dengan PT Abdi Persada
Nusantara adalah antara pemborong (penerima kerja) dengan pemberi kerja akibat
adanya perjanjian kerja di mana tidak adanya pembayaran atau masih kurangnya
pembayaran dalam hal ini bukanlah sebagai yang dimaksud dengan utang.
Majelis Hakim PK mengartikan utang yang dimaksudkan dalam Pasal 1 ayat (1)
UU No. 4 Tahun 1998 adalah utang dalam pengertian luas, yaitu tidak terbatas pada
utang yang timbul dari perjanjian utang piutang.
F. Putusan MA No. 20K/N/1999
Pengadilan Niaga telah mengabulkan permohonan pernyataan pailit yang
diajukan oleh PT Intercon Interprises terhadap Helena Melindo Sujotomo. Terhadap
putusan Pengadilan Niaga tersebut kemudian Helena Melindo Sujotomo telah
mengajukan permohonan kasasi. Majelis Hakim Kasasi menerima permohonan
Helena dan membatalkan putusan Judex Factie. Lalu, PT Intercon Interprises atau
Kreditur mengajukan upaya hukum PK. Menurut Majelis Hakim PK, setelah 90 hari
termohon tidak menyerahkan tanah tsb dan juga tidak menyerahkan uang muka, maka
uang tsb menjadi utang.

G. Putusan MA No. 27K/N/1999


Perkara yang diuraikan antara SsangyongEngineering and Conatruction Co.
Ltd. melawan PT Citra Jimbaran Indah Hotel mengenai hubungan kontrak
pekerjaan bangunan.
Pengertian utang dalam Pasal 1 ayat (1) UU No. 4 Tahun 1998 tidak dapat
ditafsirkan lain dengan pengertian utang dalam pasal-pasal lain dalam undang-undang
yang sama.

H. Putusan MA No. 30K/N/1999


Perkara yang diuraikan ini adalah antara PT Surya Citra Televisi melawan PT
Gebyar Cipta Kreasi.

7.1.3 Pengertian Utang Menurut Pakar Hukum Perdata Indonesia


Utang diberi arti luas oleh Jerry Hoff dalam bukunya “Indonesian Bankruptcy
Law”, baik dalam arti kewajiban membayar sejumlah uang tertentu yang timbul
karena adanya perjanjian utang piutang (di mana Debitur telah menerima sejumlah
uang tertentu dari Krediturnya), maupun kewajiban pembayaran sejumlah uang
tertentu dari perjanjian atau kontrak lain yang menyebabkan Debitur harus membayar
sejumlah uang tertentu. Dengan kata lain, yang dimaksud dengan utang bukan hanya
kewajiban untuk membayar sejumlah uang tertentu yang disebabkan karena Debitur
telah menerima sejumlah uang tertentu karena perjanjian kredit, tetapi juga kewajiban
membayar Debitur yang timbul dari penjanjian lain.

7.1.4 Pengertian Utang Menurut UU No. 37 Tahun 2004


Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah
uang baik dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing baik secara langsung
maupun yang akan timbul di kemudian hari (kontijen), yang timbul karena perjanjian
atau undang-undang dan yang wajib dipenuhi oleh Debitur dadn bila tidak dipenuhi
memberikan hak kepada Kreditur untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan
Debitur.

7.1.5 Penulis: Pengertia Utang Dalam UUK-PKPU


Dilihat dari oersoektif Kreditur, kewajiban membayar Debitur tsb merupakan
“hak untuk memperoleh pembayaran sejumlah uang” atau “right to payment”.
Dapat dikatakan bahwa utang yang dimaksudkan dalam UU No. 4 Tahun 1998 itu
adalah bukan setiap kewajiban apapun dari Debitur kepada reditu karena adanya
perikatan antara mereka.

7.1.6 Pengertian Claim Menurut US Bankruptcy Code


Menurut US Bankruptcy Code, claim yang dimaksud tidak perlu lagi ‘proved’
seperti Bankruptcy Act sebelumnya, tetapi tetap ahrus “allowed”. Suatu claim
dianggap allowed apabila claim tersebut telah diakui validitasnya oleh pengadilan
menurut jumlah tersebut (has been recognized by the court as valid in the amount
claim).

7.2 PENGERTIAN DEBITUR DAN KREDITUR


7.2.1 Pengertian Debitur dan Kreditur Menurut UUK-PKPU
Menurut Pasal 1 angka 1 UUK-PKPU; “Debitur adalah orang yang
mempunyai utang karena perjanjian atau undang-undang yang pelunasannya
dapat ditagih di muka pengadilan”.
Menurut Pasal 1 angka 2 UUK-PKPU; “Kreditur adalah orang yang
mempunya piutang karena perjanjian atau undang-undang yang dapat ditagih
di muka pengadilan”.

7.2.2 Pengertian Debitur Menurut US Bankruptcy Code


Apabila Debitur tergolong ke dalam Debitur yang berupa “person”, maka
kepailitannya diatur menurut ketentuan Chapter 7.

7.3 DEBITUR YANG DAPAT DINYATAKAN PAILIT


7.3.1 Kepailitan Perorangan dan Badan Hukum
Debitur yang merupakan badan hukum maupun orang perorangan (individu).
ruang lingkup UUK-PKPU yang meliputi baik Debitur badan hukum maupun
Debitur perorangan memang tidak tegas-tegas ditentukan dalam undang-undang
tersebut, tetapi hal itu dalam disimpulkan dari bunyi pasal-pasalnya.

7.3.2 Kepailitan Holding Company


Dapatkah permohonan pernyataan pailit diajukan terhadap suatu holding
company? Permohonan itu, Menurut Penulis dapat saja diajukan, oleh karena
suatu holding company adalah suatu perusahaan yang berbadan hukum. Salah
satu contoh holding company ialah putusan Pengadilan Niaga dalam perkara
Ometraco, yaitu Putusan No. 3/Pailit/1998/PN.Niaga/Jkt.Pst dan No.
4/pailit/1998/PN.Niaga/Jkt.Pst yang menolak permohonan pernyataan pailit
terhadap holding company.
7.3.3 Kepailitan atas Beberapa Jenis Perusahaan
Undang-Undang Kepailitan membedakan antara Debitur yang berbentuk
bank, perusahaan efek, bursa efek, lembaga kliring, dan penjaminan yang
bergerak di bidang kepentingan publik serta Debitur yang bukan perusahaan.

7.3.4 Kepailitan Penjamin


Dengan Undang-Undang ni seorang penjamin atau penanggung yang
memberikan penjamin perorangan atau perusahaan yang memberikan penjaminan
perusahaan dapat dimohonkan untuk dinyatakan pailit. Menurut Pasal 24
UUK-PKPU, Debitur pailit demi hukum kehilangan hak untuk menguasau
kekayaannya dimasukkan dalam Harta Pailit terhitung sejak hari pernyataan pailit
diputuskan. Dengan demikian, seorang penjamin yang dinyatakan pailit oleh
pengadilan tidak lagi dapat melakukan bisnis untuk dan atas nama pribadi.
Sejalan dengan ketentuan Psal 1832 angka 1 KUHPerdata, pengajuan
permohonan pernyataan pailt terhadap seorang penjamin atau penanggung dapat
diajukan tanpa mengajukan permohonan pernyataan pailit pula kepada Debitur,
hanyalah apabila penjamin atau penanggung telah melepaskan Hak Istimewanya
untuk menuntut supaya benda-benda atau, harta kekayaan Debitur disita dan
dijual terlebih dahulu.

7.3.5 Kepailitan Orang Mati


Menurut Pasal 208 ayat 1 UUK-PKPU, permohonan sebagaimana dimaksid
dalam Pasal 207 UUK-PKPU harus diajukan kepada pengadilan yang daerah
hukumnya meliputi tempat tinggal terakhir Debitur yang meninggal. Ahli waris
harus dipanggil untuk didengar mengenai permohonan tsb dengan surat juru sita.
Hal itu sesuai dengan Pasal 208 ayat 2 UUK-PKPU. Menurut Pasal 209
UUK-PKPU, pernyataan pailit mengakibatkan harta kekayaan orang yang
meninggal dunia demi hukum dipisahkan dari harta kekayaan pribadi para ahli
warisnya.
BAB 8
PARA PEMOHON PAILIT DAN PENGADILAN KEPAILITAN

8.1 BERBAGAI PIHAK YANG DAPAT MENGAJUKAN PAILIT


Yang dapat tampil sebagai pemohon pernyataan pailit adalah;
A. Debitur sendiri
B. Seseorang atau lebih Kreditur
C. Kejaksaan
D. Bank Indonesia
E. Bapepam
F. Menteri Keuangan.

8.2 DEBITUR SEBAGAI PEMOHON PAILIT


Seorang Debitur dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap
dirinya hanya apabila terpenuhi syarat-syarat yang ada di Pasal 2 ayat 1 UUK-PKPU.
Dapat diartikan bahwa ketika Debitur mengajukan permohonan pernyataan pailit
terhadap dirinya mengemukakan dan membuktikan memiliki lebih dari satu Kreditur.
Ketentuan bahwa Debitur dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap
dirinya sendiri adalah ketentuan yang dianut pula di banyak negara. Dengan demikian,
hal itu merupakan ketentuan yang lazim. Namun, ketentuan tsb membuka
kemungkinan bagi Debitur yang nakal untuk melakukan rekayasa demi
kepentingannya.

8.3 KREDITUR SEBAGAI PEMOHON PAILIT


Kreditur sendiri dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap
seorang Debitur, dan hanya apabila dirinya terpenuhi syarat-syarat yang ada di Pasal
1 ayat 1 UUK-PKPU.

8.4 PESERTA KREDIT SINDIKASI SEBAGAI PEMOHON PAILIT


Apabila diinginkan agar pengajuan permohonan penyataan pailit terhadap
Debitur tidak harus bergantung kepada agent atau tidak perlu bergantung kepada
keputusan mayoritas para peserta tetapi dapat langsung dilakukan oleh setiap peserta
yang menginginkan diajukannya permohonan pernyataan pailit terhadap Debitur tsbm
hendaknya hak tsb diperjanjikan di dalam perjanjian kredit sindikasi. Menurut Pasal 2
ayat 1 UUK-PKPU, bilamana terhadap sindikasi Kreditur, maka masing-masing
Kreditur adalah Kreditur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2
UUK-PKPU.

8.5 KEJAKSAAN SEBAGAI PEMOHON PAILIT


Menurut Pasal 2 ayat 2 UUK-PKPU, permohonan pernyataan pailit dapat diajuka
pula oleh kejaksaan untuk kepentingan umum.

8.5.1 Pengertian Kepentingan Umum


Menurut Penjelasan Pasal 2 ayat 2 UUK-PKPU, yang dimaksudkan dengan
“kepentingan umum” adalah kepentingan bangsa dan negara dan atau kepentingan
masyarakat luas.
8.5.2 Pengertian Kepentingan Umum dalam Undang-Undang Lain
Ketentuan dari Pasal 5 ayat 2 Keppres tersebut, yaitu ketentuan yang menetukan,
kepentingan umum selain yang dimaksudkan dalam angka 1 adalah yang ditetapkan
dengan Keputusan Presiden, dapat membuka peluang untuk penafsiran subjektif dari
penguasa mengenai “kepentingan umum”. Penjelasan Pasal 4 ayat 3 huruf I UU No.
7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan menyebutkan pula tentang “kepentingan
umum”. Pasal tersebut memberikan pengertian mengenai apa yang dimaksud dengan
“Usaha yang semata-mata ditunjukan untuk kepentingan umum”. Pengertian
“kepentingan umum” juga disebut di dalam Pasal 57 UU No. 2 Tahun 1986 tentang
Peradilan Umum. Menurut Penjelasan Pasal tersebut “Yang berwenang
menentukan, suatu perkara menyangkut kepentingan umum adalah Ketua Pengadilan”.
Dengan demikian, pengertian “kepentingan umum” harus ditentukan secara kasus
demi kasus oleh hakim pada setiap terdapat perkara yang harus diadili.

8.5.3 Kewenangan Pengadilan Niaga untuk Menentukan Adanya Kepentingan


Umum
Sebaiknya penentuan ada atau tidak adanya unsur kepentingan umum, diserahkan
secara kasuistis kepada hakim Pengadilan Niaga yang memeriksa permohonan
pernyataan pailit. Hal ini sejalan semangat ketentuan Pasal 57 UU No. 2 Tahun 1986
tentang Peradilan Umum yang memberikan wewenang kepada ketua pengadilan
untuk menentukan suatu perkara menyangkut kepentingan umum.

8.5.4 Peranan Penasihat Hukum


Tidak seyogianya pula kejaksaan tidak dapat mewakili dirirnya untuk
mengajukan permohonan pernyataan pailit karena menurut Pasal 27 UU No. 5 Tahun
1991 tentang Kejaksaan Republik Indonesia, di bidang perdata dan tata usaha
negara, kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak di dalam maupun di luar
pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah.

8.6 OTORITAS JASA KEUNGAN SEBAGAI PEMOHON PAILIT


8.6.1 Kepailitan Bank
Setelah berlakunya UU No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan,
kewenangan untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit bagi kepailitan bank
tidak diambil alih oleh Otoritas Jasa Keuangan, sedangkan OJK menurut UU tersebut
telah mengambil ahli tugas dan wewenang Bank Indonesia untuk melakukan
pengaturan dan pengawasan terhadap bank.

8.6.2 Kepailitan Perusahaan Efek, Bursa Efek, Lembaga Kliring dan


Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian
Sesuai dengan ketentuan Pasal 6 ayat 4 UUK-PKPU, panitera yang bertugas
mendaftarkan permohonan pernyataan pailit wajib menolak pendaftaran permohonan
pernyataan pailit terhadap perusahaan efek, bursa efek, lembaga kliring, dan
penjaminan, lembaga penyimpanan dan penyelesaian, apabila permohonan pernyataan
pailit tersebut diajukan oleh pihak selain OJK (dahulu Bapepam.

8.6.3 Kepailitan Perusahaan Asuransi & Re-Asuransi


Penjelasan Pasal 2 ayat 5 UUK-PKPU mengemukakan bahwa kewenangan
untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit bagi perusahaan asuransi atau
perusahaan reasuransi sepenuhnya ada pada OJK (dahulu Menteri Keuangan).

8.6.4 Kepailitan Dana Pensiun


Menurut Penjelasan Pasal 2 ayat 5 UUK-PKPU, yang dimaksud dengan “Dana
Pensiun” adalah sebagaiaman dimaksud dalam UU yang mengatur mengenai dana
pensiun. Penjelasan Pasal 2 ayat 5 UUK-PKPU menegaskan bahwa kewenangan
untuk mengajukan pailit bagi dana pensiun, sepenuhnya ada pada OJK (dahulu
Menteri Keuangan).

8.6.5 Kepailitan BUMN yang Bergerak di Bidang Kepentingan Publik


Sesuai dengan ketentuan Pasal 6 ayat 3 UUK-PKPU, panitera yang bertugas
mendaftarkan permohonan pernyataan pailit wajib menolak pendaftaran permohonan
pernyataan pailit terhadap badan usaha milik negara yang bergerak di bidang
kepentingan publik apabila permohonan pernyataan pailit tersebut diajukan oleh pihak
selain OJK.

8.7 KURATOR SEBAGAI PEMOHON PAILIT PERSEROAN TERBATAS


YANG DIBUBARKAN
Menurut Pasal 149 ayat 2 UU Perseroan Terbatas ditentukan bahwa ;ikuidator
bukan sekadar “dapat” mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap perseroan
terbatas yang sedang mengalami likuidasi karena pembubaran, tetapi bahkan “wajib”
mengajukan permohonan pernyataan pailit bila menurut perkiraan llikuidator utang
perseroan lebih besar daripada kekayaan perseroan.
8.8 PENAHANAN DEBITUR PAILIT DALAM KEPAILITAN
8.8.1 Alasan Penahanan
Agar pelaksanaan lembaga penahanan Debitur pailit tersebut tidak
disalahgunakan dan menimbulkan praktik yang tidak sehat, seyogianya ditentukan
secara limitatif alasan apa saja yang dapat dijadikan pertimbangan untuk pengajuan
usul penahanan oleh Hakim Pengawas.

8.8.2 Penahanan Terhadap Anggota Pengurus Badan Hukum yang Pailit


Ketentuan Pasal 111 UUK-PKPU tersebut berlaku untuk badan hukum apapun
misalnya untuk pengurus dari Debitur yang berbentuk perseroan terbatas, yayasan,
dan koperasi dan masih banyak lagi. Namun perlu disepakati dengan jelas, siapa saja
yang dimaksudkan dengan pengurus.

8.8.3 Pihak-pihak yang Dapat Mengajukan Permohonan Penahanan


Menurut Pasal 93 ayat 1 UUK-PKPU salah satu yang dapat mengajukan
permohonan untuk menahan Debitur adalah Kreditur. Tetapi, UUK-PKPU tidak jelas
menentukan apakah permintaan penahanan itu dapat diajukan oleh Kreditur konkuren
maupun preferen atau hanya konkuren?

8.8.4 Tempat Penahanan


Menurut Pasal 93 ayat 1 UUK-PKPU menentukan penahanan tersebut dapat
ditempatkan di Rumah Tahanan Negara maupun di rumahnya sendiri.

8.8.5 Pelaksanaan Penahanan


Perintah penahanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93 ayat 1 UUK-PKPU,
menurut Pasal 93 ayat 2 UUK-PKPU dilaksanakan oleh jaksa yang ditunjuk oleh
Hakim Pengawas.

8.8.6 Jangka Waktu Penahanan


Pasal 93 ayat 3 UUK-PKPU menentukan, perintah penahanan itu beraku untuk
30 hari terhitung dari hari mulainya penahanan itu dilaksanakan. Masa penahanan
dapat berkepanjangan karena sekalipun setiap 30 hari masa penahanan itu berakhir
tetapi selalu saja dapat dimintakan perpanjangan untuk 30 hari lagi.

8.8.7 Beban Biaya Penahanan


Ada di Pasal 93 ayat 5 UUK-PKPU, dibebankan kepada Harta Pailit sebagai
utang harta pailit.

8.8.8 Jaminan Pihak Ketiga bagi Kepentingan Debitur


Menurut Pasal 94 ayat 1 UUK-PKPU, dengan jaminan uang dari pihak ketiga
bahwa Debitur pailit setiap waktu akan (wajib) menghadap pada panggilan pertama
pengadilan berwenang melepas pailit dari tahanan atas usul Hakim Pengawas atau
atas permohonan Debitur pailit.

8.8.9 Peraturan Mahkamah Agung RI tentang Paksa Badan


Menurut Pasal 2 Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2000 tentang
Paksa Badan, pelaksanaan paksa badan terhadap Debitur yang beriktikad tidal naol
dojalankan berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 209 sampai
dengan Pasal 224 HIR sampai dengan Pasal 258 RBg, kecuali dalam hal yang
diatur secara khusus dalam peraturan ini. Paksa badan, menurut Pasal 3 ayat 1
peraturan itu tidak dapat dikenakan terhadap Debitur yang beriktikad tidak baik yang
telah berusia 75 tahun.
Paksa badan, menurut Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2000 Pasal 3
ayat 2 dapat pula dikenakan terhadap ahli waris yang telah menerima warisan dari
Debitur yang beriktikad tidak baik.