Anda di halaman 1dari 32

Tambahan

4. CV. Polan (badan memiliki NPWP) membayar kepada PT.Cepat


yang merupakan perusahaan pelayaran sebesar Rp.
50.000.000,-. Atas sewa kapal (charter).
Siapa yang wajib memotong , menyetor dan melaporkan
pemotongan tersebut ?
Berapa PPh yang harus dibayar?
5. CV. Utama (badan) memiliki usaha perkapalan dan menerima
penghasilan atas sewa kapal selama sebulan dari perseorangan
(bukan pemotong) sebesar Rp.10.000.000,-.
Siapa yang wajib memotong , menyetor dan melaporkan
pemotongan tersebut ?
Berapa PPh yang harus dibayar?

Jawaban
4.. Yang wajib memotong,menyetor dan melaporkan atas sewa kapal (charter)
adalah CV. Polan. Besarnya PPh Pasal 15 yang harus dipotong oleh CV
Polan :Rp50.000.000,- x 1,2% = Rp600.000,5. Besarnya PPh Pasal 15 yang harus disetor sendiri dan dilaporkan oleh CV
Utama atas penghasilan yang diterimanya :Rp10.000.000,- x 1,2% =
Rp120.000,-

Soal
6. PT. Perahu Laju merupakan perusahaan pelayaran dalam negeri yang
melakukan usaha jasa pelayaran termasuk penyewaan kapal. Pada tanggal
7 Oktober 2013, PT. Perahu Laju melakukan kontrak dengan PT. Indo Kertas
dalam rangka pengangkutan bahan setengah jadi untuk pembuatan kertas
(pulp) dari Medan ke Jakarta sebesar Rp.350.000.000,- dan dibayarkan
pada tanggal 27 Oktober 2013. Pada tanggal 15 Oktober 2013 PT.Perahu
Laju melakukan kontrak dengan PT.Petro Oil berupa persewaan kapal yang
difungsikan sebagai kapal untuk penyimpanan minyak dalam jangka waktu
tertentu dan bersandar di rig, dengan nilai sewa sebesar Rp.3.750.000.000,dibayar pada tanggal 17 Oktober 2013.
-Bagaimana perlakuan PPhnya (dikenakan PPh apa?) atas transaksi
transaksi di atas dan berapa besarnya ?
-Siapa yang berkewajiban memotong atas PPh tersebut dan apa
kewajibannya sebagai pemotong?

Jawab :
6. Penghasilan yang menjadi obyek pengenaan PPh perusahaan pelayaran
dalam negeri meliputi penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib
Pajak dari pengangkutan orang dan/atau barang, termasuk penghasilan
penyewaan kapal yang dilakukan dari :
-Pelabuhan di Indonesia ke pelabuhan lainnya di Indonesia;
-Pelabuhan di Indonesia ke pelabuhan di luar Indonesia;
-Pelabuhan di luar Indonesia ke pelabuhan di Indonesia, dan
-Pelabuhan di luar Indonesia ke pelabuhan lainnya di luar Indonesia.
Dengan demikian atas penghasilan PT.Perahu Laju dari PT. Indo Kertas yaitu
untuk jasa pengangkutan bahan setengah jadi untuk pembuatan kertas (pulp)
dari Medan ke Jakarta terutang PPh Pasal 15 sebesar 1,2% (satu koma dua
persen) dari peredaran bruto dan bersifat final, PPh yang terutang tersebut
dipotong oleh PT.Indo Kertas, sehingga perhitungannya sbb:
1,2% x Rp.350.000.000,- = Rp.4.200.000,-.
Sedangkan atas penghasilan PT.Perahu Laju dari PT. Petro Oil dari penyewaan
kapal yang difungsikan sebagai kapal untuk penyimpanan minyak dalam
jangka waktu tertentu yakni satu tahun dan bersandar di rig (termasuk ka-

Tegori kapal FSO) tidak termasuk dalam pengertian penghasilan dari


penyewaan kapal yang dilakukan dari satu pelabuhan ke pelabuhan yang lain.
Dengan demikian atas penghasilan tersebut termasuk dalam pengertian sewa
dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta yang dikenai
pemotongan PPh Pasal 23 sebesar 2% dan dipotong oleh PT.Petro Oil dengan
penghitungan sebagai berikut :
2% x Rp.3.750.000.000 ,- = Rp.75.000.000,Kewajiban PT.Indo Kertas sebagai pemotong PPh Pasal 15 adalah :
1. Melakukan pemotongan PPh Pasal 15 atas pembayaran jasa pelayaran untuk
pengangkutan pulp tersebut sebesar Rp.4.200.000,- dan memberikan bukti
pemotongan kepada PT.Perahu Laju.
2. Menyetorkan PPh Pasal 15 yang telah dipotong ke Kas Negara melalui Kantor
Pos atau Bank yang ditunjuk Menkeu paling lama tanggal 10 Nopember 2013.
3. Menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 15 Masa Pajak Oktober 2013 paling lama
tanggal 21 Nopember 2013.
Kewajiban PT.Petro Oil sebagai pemotong PPh Pasal 23 adalah:
1. Melakukan pemotongan PPh Pasal 23 atas penyewaan kapal FSO tersebut
sebesar Rp.75.000.000,- dan memberikan bukti pemotongan tersebut
kepada PT.Perahu Laju.

2. Menyetorkan PPh Pasal 23 yang dipotong menggunakan SSP paling lama


tanggal 10 Nopember 2013.
3. Menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 23 Masa Pajak Oktober 2013 paling
lama tanggal 21 Nopember 2013.
Catatan :
FSO (Floating Storage & Offloading), merupakan suatu bangunan
terapung/kapal yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan crude oil.

Soal
7. PT. Ibu Pertiwi menyewa pesawat dari PT.Kalstar Airlines yang merupakan
perusahaan penerbangan dalam negeri, yang akan digunakan dalam
penerbangan Jakarta Papua. Dalam perjanjian sewa/carter tersebut,
telah disepakati harga dan cara pembayaran. Pada tanggal 5 Maret 2013
PT. Ibu Pertiwi telah membayar biaya carter sebesar Rp.750.000.000,-.
(tujuh ratus lima puluh ribu rupiah).
Siapa yang berkewajiban memotong atau memungut PPh atas transaksi
tersebut dan apa kewajibannya sebagai pemotong?
Berapa besar pajak yang harus dipotong atau dipungut dan bagaimana
sifatnya?

Jawab
7. Atas penghasilan yang diperoleh PT.Kalstar Airlines yaitu carter pesawat
yang akan digunakan untuk penerbangan Jakarta Papua merupakan
penghasilan berdasarkan perjanjian carter terutang PPh sebesar 1,8%
(satu koma delapan persen) dari peredaran bruto dan dipotong oleh
PT.Ibu Pertiwi. Perhitungan PPh nya sbb:
1,8% x Rp.750.000.000,- = Rp.13.500.000,PPh yang dipotong oleh PT. Ibu Pertiwi merupakan kredit pajak bagi
PT.Kalstar Airlines yang dapat dikreditkan terhadap PPh yang terhutang
dalam SPT Tahunan PPh untuk tahun pajak yang bersangkutan.
Kewajiban PT. Ibu Pertiwi sebagai pemotong PPh Pasal 15 atas sewa pesawat
tersebut adalah :
1. Melakukan pemotongan PPh Pasal 15 atas pembayaran jasa penyewaan
pesawat sebesar Rp.13.500.000,- dan memberikan bukti pemotongan
kepa PT. Kalstar Airlines.
2. Menyetorkan PPh Pasal 15 ke Bank paling lambat tanggal 10 April 2013
3. Menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 15 Masa Pajak Maret 2013 paling
lama tanggal 20 April 2013

SOAL
8. Bedu Abdullah, meninggal pada tanggal 20 Mei 2013. Bedu meninggalkan
seorang istri, Rubi Ayune dan 2 orang anak, Siswanto dan Siswaji. Harta warisan
yang ditinggalkan oleh Bedu adalah 3 unit rumah yang terletak di Surabaya,
Bogor, dan Serpong dengan nilai masing-masing Rp.800.000.000,-,
Rp.700.000.000,-, dan Rp.400.000.000,-.
Pembagian harta warisan berdasarakan Surat Keterangan Waris adalah sbb :
1. Rumah yang terletak di Surabaya diberikan kepada Rubi Ayune.
2.Rumah yang terletak di Bogor diberikan kepada Siswanto.
3.Rumah yang terletak di Serpong diberikan kepada Siswaji
Para ahli waris sepakat atas harta warisan tersebut kesemuanya akan diberikan
kepada anak yang termuda, Siswaji. Akta Hibah ditandatangani tanggal 20 Juni 2013
dihadapan PPAT Lita,S.H.,M.Kn.
Bagaiman kewajiban PPh atas serangkaian peristiwa pengalihan hak atas tanah
dan/atau bangunan tersebut?

Jawaban :
8.Penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan karena warisan
dikecualikan dari kewajiban pembayaran PPh.Mekanisme pengecualiannya
diberikan melalui penerbitan Surat Keterangan Bebas.
-Pengalihan hak atas rumah yang terletak di Surabaya dari Rubi Ayune kepada
Siswaji merupakan hibah yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis
keturunan lurus satu derajat yang dikecualikan dari kewajiban pembayaran
PPh final pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan, yang mekanismenya
melalui penerbitan Surat Keterangan Bebas. Rubi Ayune sebagai pihak yang
mengalihkan tanah dan/atau bangunan harus mengajukan permohonan Surat
Keterangan Bebas ke KPP tempat Rubi terdaftar dengan dilampiri surat
pernyataan hibah.
-Pengalihan hak atas tanah rumah yang terletak di Bogor dari Siswanto kepada
Siswaji merupakan hibah yang tidak dikecualikan dari kewajiban pembayaran
PPh atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan,
sehingga Siswanto sebagai pihak yang mengalihkan wajib membayar PPh
sebesar 5% x Rp.700.000.000,- = Rp.35.000.000,-

Dikecualikan dari kewajiban pembayaran atau pemungutan


Pajak Penghasilan atas penghasilan dari pengalihan hak
atas tanah dan/atau bangunan adalah :
1. Orang pribadi yang mempunyai penghasilan di bawah PTKP yang melakukan
pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dengan jumlah bruto
pengalihannya kurang dari Rp.60.000.000,- dan bukan merupakan jumlah yang
terpecah-pecah.
2. Orang pribadi atau Badan yang menerima atau memperoleh penghasilan dari
pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan kepada pemerintah guna
pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum yang memerlukan
persyaratan khusus.
3. Orang pribadi yang melakukan pengalihan tanah dan/atau bangunan dengan
cara hibah kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat,
dan kepada badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau
pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan Menkeu sepanjang hibah
tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha,pekerjaan, kepemilikan, atau
penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan.
4. Badan yang melakukan pengalihan tanah dan/atau bangunan dengan cara
hibah kepada badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial
atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan Menkeu sepanjang
hibah tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha,pekerjaan, kepemilikan,
atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan.
5. Pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan karena warisan.

TIDAK BOLEH
DIKURANGKAN
Biaya untuk
mendapatkan,menagih, dan
memelihara penghasilan
yang pengenaan pajaknya
bersifat final Tidak Boleh
dikurangkan dalam
menentukan besarnya
Penghasilan Kena Pajak

TIDAK PERLU DIGABUNG

PPh
Final

TIDAK DAPAT DIKREDITKAN

PPh Final yang telah


dipotong/dipungut Tidak
Dapat Dikreditkan dengan
PPh yang terutang
menurut SPT Thn PPh

Penghasilan yang telah


dikenai pemotongan
atau pemungutan PPh
yang bersifat final, Tidak
Perlu Digabung dengan
penghasilan lainnya
dalam penghitungan PPh
yang terutang dalam
pengisian SPT Tahunan
PPh

OBJEK PPh
PENGHASILAN YG
DITERIMA/DIPEROLEH

BADAN

ORANG PRIBADI
DARI PERSEWAAN
TANAH DAN/ATAU BANGUNAN
BERUPA

* TANAH
* RUMAH
* RUMAH SUSUN
* RUMAH TOKO
* APARTEMEN
* TOKO

* KONDOMINIUM
* GEDUNG PERKANTORAN/
PERTEMUAN/PERTOKOAN
TERMASUK BAGIANNYA
* RUMAH KANTOR
* GUDANG DAN BANGUNAN INDUSTRI

TIDAK TERMASUK OBJEK


PERSEWAAN TANAH DAN ATAU BANGUNAN
YG
MERUPAKAN

OBJEK PAJAK HOTEL DAN RESTORAN


(PAJAK DAERAH)
YAITU PELAYANAN YG DISEDIAKAN DGN PEMBAYARAN DI HOTEL ATAU RESTORAN, TERMASUK :
1.

FASILITAS PENGINAPAN ATAU FASILITAS TINGGAL JANGKA PENDEK;

2.

PELAYANAN PENUNJANG SBG KELENGKAPAN FASILITAS PENGINAPAN ATAU TINGGAL


JANGKA PENDEK YG SIFATNYA MEMBERIKAN KEMUDAHAN DAN KENYAMANAN

3.

JASA PERSEWAAN RUANG UNTUK KEGIATAN ACARA ATAU PERTEMUAN HOTEL

PELUNASAN PPh
PENYEWA

ORANG
PRIBADI

ORANG PRIBADI YANG


DITETAPKAN OLEH DIRJEN PAJAK (KEP-50/PJ/1996)

* BADAN PEMERINTAH

BUKAN
SUBJEK
PAJAK

PEMBAYARAN
SENDIRI

OLEH PIHAK YG
MENYEWAKAN

* SUBJEK PAJAK BADAN


DALAM NEGERI
* PENYELENGGARA KEGIATAN
* BENTUK USAHA TETAP
* KERJA SAMA OPERASI
* PERWAKILAN PERUSAHAAN
LUAR NEGERI LAINNYA

PEMOTONGAN

OLEH
PENYEWA

KEP-50/PJ./1996
Orang Pribadi yang ditunjuk sebagai pemotong Pajak
Penghasilan atas penghasilan dari persewaan tanah dan/atau
bangunan adalah :
a. Akuntan,arsitek,dokter,notaris,PPAT (Pejabat Pembuat Akta
Tanah) kecuali PPAT tersebut adalah Camat,pengacara, dan
konsultan, yang melakukan pekerjaan bebas.
b. Orang Pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan
pembukuan, yang telah terdaftar sbg WPDN.
c. Kepala KPP menerbitkan SK Penunjukan WP OP DN yg ditunjuk.

TARIF PPh FINAL PERSEWAAN TANAH dan/atau BANGUNAN


OBYEK PAJAK

Penghasilan dari Persewaan


Tanah dan/atau Bangunan

SUBYEK PAJAK

TARIF

Orang Pribadi atau


Badan

10 % dari jumlah Bruto


Nilai Persewaan Tanah
dan/atau Bangunan

Jumlah Bruto Nilai Persewaan adalah semua jumlah yang dibayarkan atau terutang
oleh penyewa dengan nama dan dalam bentuk apapun juga yang berkaitan dengan
tanah dan/atau bangunan yang disewa termasuk biaya perawatan, biaya
pemeliharaan, biaya keamanan, biaya fasilitas lainnya dan service charge baik yang
perjanjiannya dibuat secara terpisah maupun yang disatukan.

SUBJEK PAJAK
USAHA JASA KONSTRUKSI
SUBJEK PAJAK

WP Orang Pribadi

WP Badan
YANG BERGERAK DI BIDANG

- JASA PERENCANAAN KONSTRUKSI


- JASA PELAKSANAAN KONSTRUKSI
- JASA PENGAWASAN KONSTRUKSI

BUT

TARIF DAN DASAR PENGENAAN PPh


USAHA JASA KONSTRUKSI
IMBALAN JASA KONSTRUKSI

FINAL

JASA PERENCANAAN
& PENGAWASAN

JASA PELAKSANAAN

YG MEMILIKI
KUALIFIKASI USAHA
KECIL

2%

YG TIDAK MEMILIKI
KUALIFIKASI USAHA

4%

YG MEMILIKI KUALIFIKASI
USAHA MENENGAH ATAU
KUALIFIKASI BESAR

3%

YG MEMILIKI
KUALIFIKASI USAHA

4%

DARI JUMLAH PEMBAYARAN ATAU JUMLAH PENERIMAAN YG


MERUPAKAN BAGIAN NILAI KONTRAK TIDAK TERMASUK PPN

YG TIDAK MEMILIKI
KUALIFIKASI USAHA

6%

PELUNASAN PPh USAHA JASA KONSTRUKSI


PEMBERI HASIL

BADAN PEMERINTAH,
SUBJEK PAJAK BADAN DALAM NEGERI,
PENYELENGGARA KEGIATAN
BUT
KERJASAMA OPERASI
PERWAKILAN PERUSAHAAN LUAR NEGERI
LAINNYA
ORANG PRIBADI YANG DITETAPKAN OLEH
DIRJEN PAJAK

ORANG PRIBADI
BUKAN SUBJEK PAJAK

PELUNASAN PPh MELALUI


PEMOTONGAN OLEH
PEMBERI HASIL

PENYETORAN SENDIRI OLEH PEMBERI


JASA

KEKURANGAN PPh USAHA JASA KONSTRUKSI


PEMBERI HASIL

BADAN PEMERINTAH,
SUBJEK PAJAK BADAN DALAM NEGERI,
PENYELENGGARA KEGIATAN
BUT
KERJASAMA OPERASI
PERWAKILAN PERUSAHAAN LUAR NEGERI
LAINNYA
ORANG PRIBADI YANG DITETAPKAN OLEH
DIRJEN PAJAK

ORANG PRIBADI
BUKAN SUBJEK PAJAK

PELUNASAN PPh MELALUI

PENYETORAN SENDIRI OLEH PENYEDIA


JASA

NILAI KONTRAK TIDAK DIBAYAR SEPENUHNYA OLEH


PENGGUNA JASA
SELISIH PPh YG TIDAK DIBAYAR
PENGGUNA JASA

TIDAK TERUTANG PPh FINAL


SYARAT

DICATAT SEBAGAI PIUTANG YANG


NYATA-NYATA TIDAK DAPAT DITAGIH
(PASAL 6 AYAT (1) HURUF H UU PPh

DIKENAKAN
PPh FINAL
APABILA
PIUTANG TSB
DAPAT DITAGIH
KEMBALI

PENGHASILAN LAIN YANG DITERIMA WAJIB PAJAK YANG BERGERAK


DI BIDANG USAHA JASA KONSTRUKSI
PENGHASILAN DARI
LUAR NEGERI YG PAJAKNYA
TERUTANG DAN DIBAYAR
DI LUAR NEGERI

PENGHASILAN LAIN
DI LUAR USAHA JASA
KONSTRUKSI

DAPAT DIKREDITKAN
TERHADAP PAJAK YG
TERUTANG BERDASARKAN
UU PPh

DIKENAKAN TARIF
BERDASARKAN
UU PPh

WAJIB MELAKUKAN
PENCATATAN
YG TERPISAH
ATAS BIAYA YG TIMBUL

KEUNTUNGAN ATAU KERUGIAN SELISIH


KURS DARI KEGIATAN USAHA JASA
KONSTRUKSI TERMASUK DLM
PERHITUNGAN NILAI KONTRAK

DIKENAKAN PPh FINAL

SOAL
9. PT.Asia Elektrik merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha
perdagangan perlengkapan instalasi listrik beserta jasa pemasangannya. Pada
tahun 2013 PT. Asia Elektrik mendapatkan order pembelian perlengkapan listrik
dari PT. Tiga Roda Makmur beserta pemasangannya untuk mengganti instalasi
listrik digedung kantor pusat PT. Tiga Roda Makmur di Jalan Raya Cikarang. Nilai
kontrak pembelian material dan jasa instalasi listrik sebesar Rp.3.500.000.000,tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai dan dibayarkan pada tanggal 13
November 2013. PT.Asia Elektrik mempunyai sertifikasi dari Lembaga
Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) sebagai badan usaha jasa pelaksanaan
konstruksi bidang elektrikal sub bidang instalasi listrik gedung dan pabrik
dengan kualifikasi besar.
- Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh PT.Tiga Roda Makmur
terkait pembayaran kontrak kepada PT. Asia Elektrik?
- PPh apa yang dipotong atau dipungut,siapa yang memotong atau memungut?

Jawaban
9. Pekerjaan instalasi listrik selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang
lingkupnya di bidang konstruksi termasuk dalam jenis jasa lain sebagaimana
dimaksud dalam Perturan Menteri Keuangan Nomor 244/PMK.03/2008. Oleh
karena PT. Asia Elektrik mempunyai sertifikasi dari LPJK sebagai Badan Usaha
Jasa Pelaksanaan Konstruksi dan pekerjaan instalasi listrik gedung termasuk
dalam lingkup pekerjaan pelaksanaan konstruksi dalam Peraturan LPJK yaitu
bidang elektrikal sub bidang instalasi listrik gedung dan pabrik, maka terhadap
PT. Asia Elektrik tidak dikenakan pemotongan PPh Pasal 23 tetapi dikenakan
pemotongan PPh Final atas penghasilan dari usaha jasa konstruksi.
PPh Final dari usaha jasa konstruksi :
3% x Rp.3.500.000.000,- = Rp.105.000.000,Kewajiban PT.Tiga Roda Makmur sebagai pengguna jasa adalah :
1. Melakukan pemotongan PPh Final atas penghasilan dari usaha jasa konstruksi
kepada PT. Asia Elektrik.
2. Melakukan penyetoran selambat-lambatnya tanggal 10 Desember 2013
3. Melaporkan pemotongan PPh final dalam SPT Masa Pph final masa pajak
November 2013 paling lambat tanggal 20 Desember 2013.

Soal
10. Untuk perbaikan jaringan listrik di pabriknya PT.Makmur Sejahtera
menunjuk PT. Pancaran Elektrik untuk melakukan perbaikan jaringan listrik
dengan nilai kontrak Rp.750.000.000,-. Dalam nilai kontrak perbaikan
jaringan listrik senilai Rp.750.000.000,- yang diajukan oleh PT. Pancaran
Elektrik tersebut tidak dipisahkan antara harga material dengan jasa
perbaikan jaringan listrik yang dilakukan. Pembayaran pekerjaan perbaikan
jaringan listrik dilakukan setelah pekerjaan selesai, yaitu pada tanggal 15
September 2013. PT. Pancaran Elektrik tidak mempunyai sertifikasi dari LPJK
sebagai badan usaha jasa pelaksanaan konstruksi.
-Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh PT. Makmur
Sejahtera terkait pembayaran pekerjaan perbaikan jaringan listrik kepada
PT. Pancaran Elektrik?
-PPh apa yang dipotong atau dipungut,siapa yang memotong atau
memungut?

Jawaban
10. Pekerjaan instalasi listrik selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang
lingkupnya di bidang konstruksi termasuk dalam jenis jasa lain sebagaimana
dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 244/PMK.03/2008.
Oleh karena PT.Pancaran Elektrik tidak mempunyai sertifikasi dari LPJK
sebagai badan usaha penyedia jasa konstruksi maka atas jasa perbaikan
jaringan listrik yang dilakukan merupakan jenis jasa lain yang dikenai PPh
Pasal 23 dengan tarif 2% dari jumlah bruto. Oleh karena nilai kontrak
pekerjaan perbaikan jaringan listrik yang diajukan oleh PT. Pancaran Elektrik
tidak memisahkan nilai jasa perbaikan dan material yang digunakan, maka
jumlah bruto sebagai dasar pemotongan PPh Pasal 23 adalah sebesar nilai
kontrak pekerjaan perbaikan jaringan listrik tersebut, yaitu Rp.750.000.000,-.
Jadi PPh Pasal 23 nya : 2% x Rp.750.000.000,- = Rp.15.000.000,Kewajiban PT Makmur Sejahtera terkait pembayaran tsb adalah :
1. Melakukan pemotongan PPh Pasal 23 dan memberikan bukti potong PPh
Pasal 23 kepada PT. Pancaran Elektrik.
2. Melakukan penyetoran paling lambat tanggal 10 Oktober 2013.
3. Melaporkan pemotongan dalam SPT Masa PPh Pasal 23 dalam Masa Pajak
September paling lambat tanggal 20 Oktober 2013

11. PT.Muka Tembok Konstruksi sebagai Konsultan Pengawas pekerjaan


pembangunan unit kesehatan ibu dan anak Rumah Sakit Siti Maryam
dengan nilai kontrak Rp.750.000.000,-. PT. Muka Tembok Konstruksi
merupakan perusahaan yang mempunyai Sertifikat Badan Usaha Jasa
Pengawasan Konstruksi yang diterbitkan oleh Lembaga Pengembangan Jasa
Konstruksi (LPJK) sebagai badan usaha jasa pengawasan konstruksi layanan
jasa inspeksi teknis sub-layanan jasa enginering fase konstruksi dan instalasi
bangunan dengan kualifikasi besar. Atas pembayaran nilai kontrak sebesar
Rp.750.000.000,- yang dilakukan pada tanggal 16 September 2013, CV. Lali
Jiwo sebagai pemilik Rumah Sakit hanya memotong PPh yang bersifat final
atas penghasilan dari usaha jasa konstruksi sebesar Rp.20.000.000,-.
Atas kekurangan pemotongan PPh yang bersifat final atas penghasilan dari
usaha jasa konstruksi, siapakah yang wajib melunasinya? Berapa kekurangan
pemotongan PPh finalnya?

JAWAB :
11. Penghasilan dari usaha jasa konstruksi dipotong PPh yang bersifat final
oleh pengguna jasa.Dalam hal terdapat selisih kekurangan PPh atas
penghasilan yang terutang, selisih kekurangan tersebut disetor sendiri
oleh Penyedia Jasa.
PPh final atas penghasilan dari jasa konstruksi :
4% x Rp.750.000.000,=Rp.30.000.000,PPh final yang telah dipotong
=Rp.20.000.000,Kekurangan PPh final atas Jasa Konstruksi
=Rp. 10.000.000,-

Soal
12. Dalam rangka peningkatan pemahaman para pegawai tentang filosofi dan
budaya perusahaan, PT. Gajah Makmur mengadakan pelatihan tentang budaya
perusahaan yang diikuti oleh 50 orang pegawai dari bagian produksi selama
satu hari dengan menyewa meeting room Hotel Menara Jaya yang dimiliki
oleh PT.Tegal Arum dengan paket full board seharga Rp.300.000,- per paket.
Paket full board di Hotel Menara Jaya tersebut terdiri dari :
a. Room for 1 night
b. Meeting room
c. Overhead & Screen
d. Flip Chart
e. White Board & Marker Board
f. Note Book & Ballpoint
g. Sound System
h. Candies
i. 1x Brekfast
j. 2x Coffe Break
k. 1x Lunch
l. 1x Dinner
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh terkait transaksi
tersebut?

Jawaban
12. Jasa perhotelan meliputi :
a) Jasa Persewaan kamar termasuk tambahannya di hotel, rumah
penginapan, motel, losmen, hostel serta fasilitas yang terkait dengan
kegiatan perhotelan untuk tamu yang menginap; dan
b) Jasa Persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel,
rumah penginapan, motel, losmen, dan hostel;
Sehingga penyewaan ruangan hotel dengan pola paket full board
sebagaimana tersebut di atas termasuk dalam pengertian jasa
perhotelan.
Berdasarkan Pasal 1 ayat (2) PMK Nomor 244/PMK.03/2008, jasa
perhotelan tidak termasuk sebagai jenis jasa yang dikenai pemotongan
PPh Pasal 23, sehingga atas pembayaran sebesar Rp.15.000.000,- (50
orang x Rp.300.000,-) kepada PT.Tegal Arum tidak dilakukan pemotongan
PPh Pasal 23.