Anda di halaman 1dari 14

Rasio Perputaran

Persediaan
(Inventory Turn Over/
ITO)

Sylvia Winnie Melinda (135070301111040)


Gizi A1

Pengertian Rasio Perputaran


Persediaan (Inventory Turn Over/ ITO)
1. Rasio Perputaran Persediaan (Inventory Turn Over)
adalah salah satu dari rasio aktivitas yang mengukur
efisiensi pengelolaan investasi ke dalam persediaan yang
dilakukan perusahaan, dan tergambar dari jangka waktu
perputaran persediaan selama satu tahun. Dengan
demikian perusahaan yang perputaran persediaannya
tinggi, memberikan indikasi bahwa perusahaan tersebut
efisien dalam mengelola persediaan. (Lukviarman, 2006 :
308)

2. Rasio perputaran merupakan rasio dimana penjualan

dibagi dengan aset. Rasio perputaran persediaan


dinyatakan sebagai penjualan dibagi dengan persediaan
(Brigham dan Houston, 2010:136).
3. Inventory Turn Over merupakan rasio efisiensi yang
dihitung dengan membagi harga pokok barang yang
terjual (cost of good sold) dengan inventory (Ang,
1997:130).

4. Inventory Turn Over ratio menunjukkan seberapa


efisien perusahaan mengatur persediaannya, yaitu
dengan menunjukkan berapa kali turnover inventory
dalam satu tahun. Rasio ini sangat tergantung pada jenis
industri dimana perusahaan berada. Contohnya toko
penjual makanan akan mempunyai tingkat turnover yang
jauh lebih tinggi daripada pabrik pembuat pesawat
terbang. Sama seperti rasio-rasio lainnya, adalah penting
untuk membandingkan rasio ini dengan rasio dari
perusahaan-perusahaan yang lain dalam industri yang
sama (Ang, 1997:131).

Inventory Turn Over mengukur aktivitas persediaan


perusahaan, ditunjukkan dengan rumus :

Inventory Turn Over (ITO) =

Contoh Kasus Rasio Perputaran Persediaan


(Inventory Turn Over/ ITO) 1

Perhitungan ITO pada PT Ultra jaya Milk Tbk


dan PT Mayora Indah Tbk adalah
Tahun
2004

2005

2006

2007

2008

PT Ultra jaya Milk Tbk

PT Mayora Indah Tbk

Harga Pokok Penjualan = 371.960

Harga Pokok Penjualan = 1.035.628

Persediaan = 150.020

Persediaan = 184.595

ITO= 2,479 2,48

ITO= 5,610 5,61

Harga Pokok Penjualan = 495.807

Harga Pokok Penjualan = 1.329.238

Persediaan = 169.391

Persediaan =171.712

ITO= 2,926 2,93

ITO= 7,741 7,74

Harga Pokok Penjualan = 583.343

Harga Pokok Penjualan = 1.464.582

Persediaan = 147.845

Persediaan = 230.681

ITO= 3,945 3,95

ITO= 6,348 6,35

Harga Pokok Penjualan = 804.228

Harga Pokok Penjualan = 2.199.880

Persediaan = 291.483

Persediaan = 266.716

ITO= 2,759 2,76

ITO= 8,248 8,25

Harga Pokok Penjualan = 1.101.875

Harga Pokok Penjualan = 3.153.750

Persediaan = 284.292

Persediaan = 534.328

ITO= 3,875 3,88

ITO= 5,902 5,90

Interpretasi:
Semakin besar Harga Pokok Penjualan, maka nilai Inventory Turn

Over (ITO) semakin besar. Semakin besar persediaan, maka


semakin kecil nilai Inventory Turn Over.
Inventory Turn Over PT Ultra jaya Milk Tbk tahun 2004-2006
mengalami peningkatan, yaitu dari 2,48 kali menjadi 2,93 kali
menjadi 3,95 kali. Sedangkan pada tahun 2006-2007 diketahui ada
penurunan yaitu 3,95 kali menjadi 2,76 kali. Lalu pada tahun 2008,
meningkat kembali menjadi 3,88 kali.
Pada PT Mayora Indah, Inventory Turn Over tahun 2004-2005
mengalami peningkatan, yaitu dari 5,61 kali menjadi 7,74 kali. Pada
tahun 2005-2006 juga diketahui ada penurunan yaitu 7,74 kali
menjadi 6,35 kali. Lalu pada tahun 2007, meningkat kembali
menjadi 8,25 kali dan pada tahun 2008 menurun kembali menjadi
5,90.
Adanya perubahan Inventory Turn Over tahun 2004-2008 pada PT
Ultra jaya Milk Tbk dan PT Mayora Indah Tbk

Contoh Kasus Rasio Perputaran


Persediaan (Inventory Turn Over/ ITO) 2

Perhitungan ITO pada Alpha Products adalah


Alpha Products
Cost of Goods Sold = $ 3.600
2003

Inventories = $ 1.230
ITO=

= 2,926

2,93

Cost of Goods Sold = $ 3.534


2002

Inventories = $ 830
ITO=

= 4,257 4,26

Interpretasi:
Inventory Turn Over Alpha Products tahun 2003 adalah 2, 93 kali. Hal ini

menunjukkan bahwa persediaan berputar 2,93 kali atau perusahaan


melakukan produksi 2,93 kali dalam 1 tahun.
Inventory Turn Over Alpha Products tahun 2002 adalah 4,26 kali. Hal ini
menunjukkan bahwa persediaan berputar 4,26 kali atau perusahaan
melakukan produksi 4,26 kali dalam 1 tahun.
Makin tinggi ITO makin baik bagi perusahaan.
Nilai ITO akan lebih bermanfaat jika dibandingkan dengan perusahaan lain
dalam industri yang sama, misalnya pasar swalayan pasti mempunyai ITO
jauh lebih besar daripada perusahaan mobil.
Averge age of Inventory (AAI) tahun 2003 adalah 122, 8 hari. Hal ini
menunjukkan berapa lama persediaan mengendap sebelum dapat dijual.
Untuk Alpha Products, AAI yang dimiliki adalah 123 hari.
Averge age of Inventory (AAI) tahun 2002 adalah 84,5 hari. Hal ini
menunjukkan berapa lama persediaan mengendap sebelum dapat dijual.
Untuk Alpha Products, AAI yang dimiliki adalah 85 hari.

Daftar Pustaka
Putra, Rendy Syah. 2010. Analisis Rasio Total Asset Turnover, Return On

Investment (ROI), Inventory Turnover Dalam Memprediksi Pertumbuhan


Laba Pada Perusahaan Food And Beverages Yang Terdaftar Di Bursa
Efek Indonesia. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan
Nasional VeteranJawa Timur 2010.
LGH, AH, DKS. Laporan Keuangan dan Analisa Keuangan.2009.
https://ekonomiunair.files.wordpress.com/2009/04/modulfsa.pdf, diakses
pada tanggal 19 April 2015.
Priharyanto, Se, Akt, Budi. 2009. Analisis Pengaruh Current Ratio,
Inventory Turnover, Debt To Equity Ratio, Dan Size Terhadap
Profitabilitas (Studi Pada Perusahaan Food And Beverage Dan
Perusahaan Consumer Goods Yang Listed Di Bei Periode Tahun 20052007). Tesis Program Studi Magister Manajemen Program Pasca Sarjana
Universitas Diponegoro Semarang 2009.
Bab II Analisis Laporan Keuangan.
http://directory.umm.ac.id/sistem-pakar/ALK%20BAB%20II.pdf, diakses
pada tanggal 1 April 2015