0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
794 tayangan50 halaman

Afasia Global

Afasia adalah gangguan bahasa yang disebabkan oleh kerusakan otak. Dokumen ini membahas tentang definisi, penyebab, jenis, dan penatalaksanaan afasia berdasarkan studi kasus seorang pria yang mengalami gangguan bicara setelah mengalami trauma kepala dan stroke. Termasuk dijelaskan hasil pemeriksaan, diagnosis, dan terapi yang diberikan untuk memulihkan fungsi bahasanya.

Diunggah oleh

Yoce Kurniawan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • Pemeriksaan laboratorium,
  • Keterampilan komunikasi,
  • Keterampilan verbal,
  • Stimulasi magnetik transkrania…,
  • Kesehatan mental,
  • Gejala afasia,
  • Obat-obatan afasia,
  • Dominasi cerebral,
  • Komprehensi bahasa,
  • Pendidikan pasien
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
794 tayangan50 halaman

Afasia Global

Afasia adalah gangguan bahasa yang disebabkan oleh kerusakan otak. Dokumen ini membahas tentang definisi, penyebab, jenis, dan penatalaksanaan afasia berdasarkan studi kasus seorang pria yang mengalami gangguan bicara setelah mengalami trauma kepala dan stroke. Termasuk dijelaskan hasil pemeriksaan, diagnosis, dan terapi yang diberikan untuk memulihkan fungsi bahasanya.

Diunggah oleh

Yoce Kurniawan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • Pemeriksaan laboratorium,
  • Keterampilan komunikasi,
  • Keterampilan verbal,
  • Stimulasi magnetik transkrania…,
  • Kesehatan mental,
  • Gejala afasia,
  • Obat-obatan afasia,
  • Dominasi cerebral,
  • Komprehensi bahasa,
  • Pendidikan pasien

Afasia Global

Yoce Kurniawan
Moderator
: dr. Mieke, A.H.N.
Kembuan,Sp.S(K)
Narasumber : Dr. dr. Junita Maja Pertiwi,
Sp.S(K)

PENDAHULUAN
Afasia :
gangguan atau ketidakmampuan dalam
berbahasa
disebabkan oleh gangguan pada otak
ditandai oleh gangguan pemahaman serta
gangguan pengutaran bahasa, lisan maupun
tertulis
bukan merupakan penyakit yang herediter,
tidak disebabkan oleh gangguan pendengaran,
gangguan penglihatan/ kelemahan motorik.

PENDAHULUAN
Afasia terjadi pada 20% px stroke, cedera otak,
tumor terutama px neurodegeneratif
Penelitian di Afganistan 303.716 veteran
afasia (1.9/1000 ) & untuk kelancaran bahasa
(0.7/ 1000).
PR> afasia Wernicke & global, LK> afasia
Broca
klasifikasi berdasarkan kelancaran, meniru
&pemahaman,Tes afasia : Token, Tadir dll
Sulit komunikasi
salah dx

ILUSTRASI KASUS
Tn SA, 41 tahun, PNS, SMA, Islam,
alamat Pandu Mapanget, Manado
Rawat jalan di poliklinik saraf
subspesialis neurobehavior tgl 2
Agustus 2016 jam 09.30 WITA
dengan keluhan utama bicara tidak
lancar.

18 bln lalu

10 bln lalu

Bicara tidak lancar


dan terkadang tidak
nyambung tiba-tiba
pulang kerja, lemah
kanan, sakit kepala(-),
muntah (-)
MRS di RS Swasta
7hr (ct scan-),
semakin lama gejala
membaik

Saat ini

KLL motor sendiri,


pingsan 8 jam,
muntah(+), helm(-),
alkohol (-), darah
hidung & telinga(-)
Saat keluar RS,
bicara tidak ada
kata-kata dan tidak
mengerti
pembicaraan, lemah
kanan memberat

Bicara mulai keluar


kata-kata dan
terkadang tidak
nyambung
Lemah kanan
membaik dan sudah
mulai kaku

RPD

Curiga stroke iskemik &


hipertensi terkontrol
sejak 18 bl yl, trauma
kepala berat 10 bl yl

RPK

Orang tua dan saudara


kandung tidak ada yang
sakit seperti ini dan
tidak ada yang kidal

Riw
sosia

Bersifat terbuka,
merokok (-) , alkohol (-),

Pemeriksaan Fisik
KU : Sedang , Kesadaran ,compos mentis
Status antropometri, BB 61 kg, TB 165 cm.
Tanda vital : TD 130/80 mmHg, N
76x/menit regular isi cukup, N 20x/menit,
suhu 36,50C.
Kepala : jejas anemis (-) ikterik pada
sclera (-)
Leher : Pembesaran KGB (-),
trakea letak ditengah.

Pemeriksaan Fisik
Dada : ronkhi/whezzing (-), SI-II
reguler, bunyi jantung tambahan (-)
Abdomen datar, bising usus
normal,hepar dan lien tidak teraba
Ekstremitas edema (-),

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologis
GCS : E4M6Vafasia transkortikal campuran ,
PERRL +/+, 3 mm/ 3 mm
TRM : kaku kuduk (-), kernig (-), Laseg(-)
Nervus kranialis : kesan paresis VII dan XII
Dx
status motorik :
334
KO 4
334
4

555
5
555
5

TO

+++/++
RF
+/+++

++/++/
++

+++/++
+

++/+
+

RP

+ -

Pemeriksaan Fisik
Status sensorik: belum dievaluasi
Status autonom : hidrosis normal;
inkontinensia uri et alvi -/-

Pemeriksaan Fisik
Status neurobehavior :
Atensi : baik, MMSE/ InaMoca : 7/ 3
Bahasa : kelancaran dan komperhensi
terganggu, repetisi baik, Token stop
pertanyaan 9
Visuospasial : terganggu, CDT : 3
Memori visual baik
Fungsi eksekutif terganggu, TMT B
gagal

Laboratorium
10 November 2015

Hb 15,5
Hct 46,7
Leuko 19.600
Eri 5,17
Tromb.279.000
GDS 134
SGOT/SGPT 16/ 21

Ur 18
Cr 1
Na 140
K 3,4
Cl 102

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Gambaran EKG :
7 November 2015 :
Irama sinus

Gambar X Photo Thorak,


7 November 2015 : C/P
normal

PEMERIKSAAN PENUNJANG

PEMERIKSAAN PENUNJANG

CT Scan kepala, 7 Nov 2013 : gambaran fraktur linier os frontal


kanan dan kiri serta brain potongan axial tanpa kontras ditemukan
kontusio dan multipel intracereberal hematom regio

Diagnosis
Klinis

: Afasia global perbaikan, gangguan

fungsi

eksekutif, Paresis N VII sentral

kanan dan
Topis

disartria
: Os frontal, regio

frontotemporoparietal kiri
Etiologis

: Trauma kepala

Patologis

: Fraktur os frontal, perdarahan

intraserebral
subaraknoid

dan perdarahan

Penatalaksanaan
terapi wicara
piracetam 1200mg 2x2
aspilet 80mg 0-1-0
amlodipin 10mg 1-0-0
KIE pasien dan keluarga.

Follow up
9 Agustus 2016
S : bicara tidak lancar

16 Agustus 2016
S : bicara tidak lancar

dan kurang mengerti

dan kurang mengerti

O: MMSE/ InaMocca : 8/4 (membaik)


Token : stop
pertanyaan 9

O: : MMSE/ InaMocca : 9/5


Token : stop

A: Afasia transkortikal

pertanyaan 16

campuran post

A: Afasia transkortikal

concussion sindrom +

campuran post

post stroke + hipertensi

concussion sindrom +

terkontrol

post stroke + hipertensi


terkontrol

Prognosis

Quo
Quo
Quo

ad
ad
ad

vitam
functionam
sanationam

: Bonam
: Bonam
: Bonam

PEMBAHASAN
1861, Paul Broca, bedah saraf Perancis
Otopsi otak Px (seblmnya bisa
mendengar & mengerti, kata hanya
Tan)
lesi korteks frontalis inferior kiri
1871, Carl Wernicke, neurologis Jerman
Bicara tidak koheren
posterior
temporalis kiri
Hemisfer kiri
dominan f/ bahasa
manual

Dominasi Cerebral
Persentase

10%
25%
R
kinan
ambidekstr
al
kidal

25%
40%

Kaitannya dengan
bahasa :
Orang kidal >
mudah afasia
Progn orang kidal
afasia > baik
Gx afasia orang
kidal = anak

Jenis kelamin, Familial


Sinistraly/FS, Dominasi
serebral
Male
Male

AFASIA

Korelasi Neuroanatomi

M4 :
Kortikal

A
2

Lentrikulostri
ata, cab.M1
A
1

M3 :
Operkular
M1

M2 :
Insular

Area Brodmann

Ilustrasi Neuroanatomi yang Terlibat pada Sindrom Afasia,


l.a Afasia Global; l.b Afasia Transkortikal Campuran; l.c Afasia Broca; l.d
Afasia Transkortikal Motorik; l.e Afasia Wernicke; l.fAfasia Transkortikal
Sensorik; l.g Afasia Konduksi; dan l.h Afasia Anomik.

TOKEN DAN TADIR


Token modifikasi dari A Shortened
Version of the Token oleh Ennio De Renzi
(1979). merupakan pengertian bahasa
yang cukup sederhana,mudah dilakukan,
penilaian kuantitatif dan cukup peka
TADIR : Tes Afasia untuk Diagnosis,
informasi dan rehabilitasi, distandarisasi
di Indonesia sejak tahun 1995

TOKEN/ Test Keping-36


terdiri dari 36 tugas dalam bentuk kalimatkalimat yang secara hirarkis semakin
kompleks, terdiri VI bag.
Pada bag. I-V, bila respon > 5/ bila salah,
diulangi & bila salah berturut-turut, test
distop
Perintah bag. VI tidak boleh diulang
Skoring : benar nilai 1, bila diulang nilai ,
salah nilai 0, dibulatkan ke atas. Skor : 36-29
: normal, 28-25 : ringan, 24-17 : sedang,16-9
: berat, 8-0 : sangat berat

TOKEN/ Test Keping-36


Pada kasus ini pasien berhenti pada
pertanyaan 9 karena 2 kali
berturut-turut salah sehingga
tergolong gangguan pemahaman
berat.
Namun pada follow up terjadi
perbaikan yaitu berhenti pada
pertanyaan 16 sehingga tergolong
sedang

Test afasia untuk diagnosis dan


rehabilitasi (TADIR)

bertujuan untuk :
membuat diagnosis afasia/ bukan afasia
membuat diagnosis sindrom afasia
mana
memberikan informasi kepada pasien,
lingkungannya dan orang ketiga lain
menjadi titik tolak untuk penanganan
logopedi (rehabilitasi)

Afasia/ bukan afasia


Tes Menyebut :
sebutkan nama2 binatang dalam 1
menit
Skor1 : 0
nama binatang
2 : 1-2
3 : 3-4
4 : 5-9
5 : 10

Afasia/ bukan afasia


Tes Menamai :
sebutkan nama gambar yang ditunjukan satu2
(gelas,payung,panah,segi3,biru,kuning,9,17);
langsung benar : 1 poin, setelah 5 : poin,
sebagian/ tidak benar : 0 poin
Skor1 : 0poin
2 : 1-2
3 : 3-5
4 : 6-7
5:8

PEMBAHASAN
Tabel Diagnosis afasia/ bukan afasia
Test

Tergan
ggu
Menyebu 1-4
t
Menamai 1-4
tingkat
kata

Normal
5
5

Kasu
s
2
3

Afasia bila ke-2 test terganggu

Sumber : TADIR, FKUI, 2000

Skema diagnosis sindrom afasia


mana
PEMAHAMAN BAHASA LISAN (3-5)
(1)
(2-5)

Sumber : TADIR, FKUI, 2000

Kelancaran/ Fluency
Ceritakan kesibukan anda sehari-hari!
Tidak ada batas waktu, hitung jumlah
total kata (JTK) : setiap kata, yang
diulang, yang salah, yang tidak
relevan, tidak termasuk eh, ba.
Normal > 60 kata/menit
(JTK/ jumlah detik) x 60
Px hanya 5 kata/menit

Komprehensi
Pemahaman bahasa lisan tingkat kata (4poin):
Pasien diminta menunjukan gambar yang sesuai
yang ditunjuk oleh pemeriksa,
(kuda, gunting, 14, segi empat) setiap gambar 1
poin
Pemahaman bahasa lisan tingkat kalimat (3poin)
Skor1 : 0
2 : 1-2
3 : 3-4
4 : 5-6
5:7

poin

Repetisi
Mengulangi kata dan kalimat yang diucapkan pemeriksa :
1. minum
2. diarahkanlah
3. yang penting baginya adalah belajar & bekerja
4. saya mau ke pasar untuk membeli setengah kilo kopi
dan 3 kilo beras
Setiap item 1 poin
Skor1 : 0
2:1
3:2
4:3
5:4

poin

AFASIA

Non Fluent

Fluent

Komprehensi +

Komprehensi -

Rep +

Rep +

Rep -

konduksi

Komprehensi +

Rep -

Rep -

Transkortikal
sensorik

Normal/
anomia

Komprehensi -

Wernicke

Global

Rep +

Rep -

Transcortica
l motorik

Broca

Rep +

Mixed
transcortic
al

TATA LAKSANA
pelopor tx wicara (speechtherapy) Emil
Froeschest, seorang Austria (1909) tx wicara
terprogram.
klinik terapi wicara di Hospital St.
Bartholomew, London, oleh Courtland
McMahon (1911)
Pemulihan spontan : Periodenya masih
perdebatan, berhenti pada periode sisa 6
bln setelah onset, tetap setelah 3 bln onset,
cepat pada bulan 1 &
'Late changes in the nervom system : an
overview

Prinsip Terapi Afasia


1. Didaktik, afasia dapat diubah &
diperbaiki spt semula
2. Proses, peningkatan persepsi
& visual, f/ kortikal,
peran
3. auditori
Strategi Penanganan
Afasia yang
terarah
hemisfer
kanan (SPAK)/
pada komunikasi
Communicatiegerichte Afasie
Behandelstrategie (CAB),
mengembangkan kemampuan
komunikasi pasien

Dasar Terapi Afasia


1. Afasia adalah ggn bahasa bukan
komunikasi
2. Disesuaikan dengan ggn :
leksikosemantik (ant), morfosintaksis
(post), fonologi (perisilvian)
3. Peningkatan peran hemisfer kanan
4. Mencari alternatif komunikasi
5. Sesuai keparahan, Visual Action Therapy
(VAT), Melodic Intonation Therapy (MIT),
Auditory Comprehension Therapy (ACT)

Terapi Aksi Visual


Visual Action Therapy (VAT)
Helm-Estabrooks (1982) pada afasia
Wernicke, global. (hemisfer kanan masih
baik), nonverbal
hirarki kesulitan
kemampuan px satu
langkah hrs baik sebelum melanjutkan ke
langkah berikut
Menggunakan simbol gestural u/ komunikasi
dengan gambar2 dlm ukuran sebenarnya &
lebih < (gunting, sisir, sendok, kacamata,
gelas & arloji)
Terdiri dari 3 level dengan 12 step

Terapi Intonasi Melodik


Melodic Intonation Therapy (MIT)
Berlin, 1976 pada afasia Broca dengan
dasar menyalurkan stimulus melodik
dari hemisfer ki- ka
Stimulus auditorik diterima korteks
auditori primer hemisfer kiri korteks
auditori asosiasi (area Wernicke) Fasc.arcuatus Broca (rusak) - korteks
asosiasi homolog sisi kanan korpus
kalosum pre Rolandic hemisfer kiri
curah verbal melodik

Terapi Intonasi Melodik


Melodic Intonation Therapy (MIT)
Sebuah seri kalimat & frasa diucapkan
dengan intonasi (lagu)
px afasia
dituntun melalui langkah berurutan
dengan meningkatkan panjang unit
bahasa, mengurangi ketergantungan
pada klinikus & mengurangi
penggunaan intonasi
Menggunakan 3-4 nada, dalam 4 level &
15 step

Prognosis
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Tx intensif pada saat pemulihan spontan


Sedini mungkin
Usia muda
Etiol trauma kepala > vaskular
Derajat afasia ringan
Ggn sensori, ggn komunikasi & ggn kes lain (-)
Motivasi, aspirasi, ekstroversi & kesadaran diri
px
8. Tidak ada alasan untuk tidak mencoba &
kemajuannya bukan hny kemampuan berbahasa
tetapi perilaku, afek & moral dlm kontak sosial

Cara berbicara pada afasia


Tidak usah dengan suara & nada keras
karena px tidak tuli.
Pandanglah dia bila anda berbicara padanya
Bicaralah dengan kalimat pendek & lambat
agar ada waktu untuk mengerti & mengingatingat
Jangan berbicara dengan nada kekanakkanakan
Berilah waktu padanya, jangan terburu-buru,
bila tidak mengerti pembicaraan, cari cara
agar mengerti

Cara berbicara pada afasia


Bicaralah tentang hal sehari-hari/ mslh yg dulu ia sukai
Sblmnya menyampaikan yang akan dibicarakan, jangan
cepat beralih topik, ruangan tenang, orang yg ikut
tenang
kalimat pendek yang mempunyai satu arti, misalnya,
jangan memakai kalimat : Maukah anda secangkir kopi
dengan gula & susu ?, akan tetapi gunakanlah kalimat :
Maukah anda secangkir kopi ? Jawab pasien : ya/ tidak,
Pakai gula ? Jawab pasien : ya/ tidak, Maukah susu ?
Jawab pasien : ya/ tidak

Perhatian pada Tx Afasia


afasia dg depresi dukungan psikologis,
ketepatan dx, tx & dukungan emosional
penting
Tx farmaka u afasia masih eksperimental
dopaminergik, kolinergik & obat-obatan
stimulan belum ada hasil jelas. Namun tx
farmaka pendamping dari tx wicara
menunjukkan hasil yang baik, seperti
piracetam 4,8g/hr u/ 6-12 mgg
transkranial magnetik stimulasi (TMS)
hasil baik

TERI
MA
KASIH

Anda mungkin juga menyukai