Anda di halaman 1dari 9

Trauma Servikal

ANATOMI DAN FISIOLOGI


Tulang belakang servikal terbentuk dari 7 ruas vertebra pertama dari
tulang belakang, yang dipisahkan oleh diskus intervertebralis. Dimulai
dari bagian bawah skull dan berakhir pada bagian atas torak. Vertebra
servikal terdiri dari C1 sampai C7, sedangkan nervus servikalis terdiri
dari C1 sampai C8. Tulang servikal berbentuk C terbalik (lordotic view)
dan lebih mobile dari tulang belakang di daerah torakal dan lumbal.
Vertebra servikalis selain berfungsi melindungi medula spinalis dari
kerusakan, juga menyangga kepala, dan menggerakan kepala rotasi, ke
depan serta ke belakang. Berbeda dengan tulang belakang yang lain,
dalam tulang servikal berjalan arteri vertebralis yang mensuplai darah ke
otak, yang hanya melalui vertebra C1 sampai C6

DEFINISI
Trauma cervical adalah trauma cervical adalah trauma/injuri yang
terjadi akibat benturan dibagian leher yang menyebabkan respon
penurunan neurovaskuler secara tiba-tiba dan hilangnya fungsi
pernafasan, dan ditandai dengan konkusi, kontusio, laserasi, edema.
Penyebab dari trauma cervical adalah kecelakaan lalu lintas, olahraga
(tinju, karate, terjun payung, panjat tebing, dll), jatuh, pukulan benda
tumpul pada daerah leher.

DIAGNOSIS
Adanya trauma servikal dapat ditemukan dari
pemeriksaan fisik berupa : spinal shock (paresis
flaksid, areflexia, hilangnya tonus sfingter anus,
inkontinensia alvi, priapismus), neurogenic shock
(hipotensi, bradikardi paradoksikal, flushed, kering
dan hangat pada kulit), disfungsi otonom (ileus,
retensi urin, poikilotermi). Trauma servikal yang
mengenai medula spinalis dapat berupa lesi yang
komplit atau inkomplit

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pertama cedera servikal berdasarkan prinsip umum ATLS
(advanced trauma life support) yaitu evaluasi awal berdasarkan primary survey
ABCD (airway and C-spine control, breathing and ventilatory, circulation and
stop bleeding, disability and environment).
Bila airway tidak adekuat, perlu dilakukan intubasi tanpa menggerakkan kepala
(C-spine protection). Evaluasi dan assesmen berulang diperlukan pada pasien
dengan trauma kepala dan karena pasien dengan kesadaran menurun tidak dapat
mengetahui adanya nyeri pada leher. Bila stabil dilanjutkan ke secondary survey
(head to toe examination)

Stabilisasi tulang belakang, manajemen hemodinamik dan gangguan otonom


sangat penting pada trauma akut. Prinsip khusus penatalaksanaan cedera servikal
adalah reposisi/realignment, imobilisasi, dan fiksasi tulang belakang sesuai
indikasi. Semua pasien dengan cedera servikal atau yang potensial untuk cedera
servikal, harus dilakukan imobilisasi sampai dieksklusi adanya trauma servikal.
Bila terdapat kecurigaan trauma, stabilisasi kepala dan leher secara manual atau
dengan collar.

Beberapa alat yang direkomendasikan American College of Surgeons dapat


digunakan untuk imobilisasi pre-hospital adalah hard backboard, rigid cervical
collar, dan pita pengikat. Imobilisasi ini dapat mengurangi gerakan sehingga
menurunkan morbiditas, karena gerakan patologis (trauma) pada servikal
menyebabkan kerusakan pada medula spinalis atau radiks saraf. Teknik
imobilisasi dan penanganan pasien pre-hospital yaitu tulang belakang harus
dilindungi selama manajemen pasien dengan trauma multipel.

PENGOBATAN
Obat yang diberikan pada pasien cedera servikal adalah golongan kortikosteroid.
Steroid berfungsi memperbaiki cedera medula spinalis dan diberikan pada 8 jam
pertama setelah cedera. Methylprednisolon dapat menurunkan respon inflamasi
dengan menekan migrasi polymorphonuclear (PMN) dan menghambat
peningkatan permeabilitas vaskular. Dosis yang diberikan 30 mg/kgbb intravena
dalam 15 menit pertama diikuti 45 menit berikutnya dengan dosis 5,4
mg/kgbb/jam selama 23 jam