Anda di halaman 1dari 50

PARTUS PREMATURUS

IMINENS
I Gusti Agus Riska Saputra,
S.Ked
16710076
Definisi
Partus Prematurus Imminens
adalah persalinan yang
berlangsung pada umur
kehamilan 20 37 minggu
dihitung dari hari pertama haid
terakhir (HPHT).
Faktor predisposisi terjadinya
persalinan prematur

Perdarahan Penyakit pada ibu


trimester awal (DM, HT, ISK)
Perdarahan Riwayat persalinan
preterm/abortus
antepartum
berulang
Ketuban pecah Inkompetensi
dini (KPD) serviks (panjang
Kehamilan serviks kurang dari
ganda/gemeli 1 cm)
Polihidramnion Trauma
Perokok berat
Adanya faktor risiko tersebut tidak
selalu menyebabkan terjadinya
persalinan prematur, bahkan
sebagian persalinan prematur
yang terjadi spontan tidak
mempunyai faktor risiko yang
jelas.
Beberapa kriteria dapat dipakai sebagai
diagnosis ancaman PPI, yaitu :

1. Usia kehamilan antara 20 dan 37


minggu
2. Kontraksi uterus (his) teratur, yaitu
kontraksi yang berulang sedikitnya
2-3 kali dalam waktu 10 menit,
3. Merasakan gejala seperti rasa kaku
di perut menyerupai kaku
menstruasi, rasa tekanan intrapelvik
dan nyeri pada punggung bawah
4. Mengeluarkan lendir pervaginam,
mungkin bercampur darah,
5. Pemeriksaan dalam menunjukkan
bahwa serviks telah mendatar 50-
80%, atau telah terjadi
pembukaan sedikitnya 2 cm,
6. Selaput amnion seringkali telah
pecah,
7. Presentasi janin rendah, sampai
mencapai spina isiadika.
Pencegahan Persalinan
Preterm
1.Hindari kehamilan pada ibu terlalu
muda (kurang dari 17 tahun)
2.Hindari jarak kehamilan terlalu dekat
3.Menggunakan kesempatan periksa
hamil dan memperoleh pelayanan
antenatal yang baik
4.Anjuran tidak merokok maupun
mengonsumsi obat terlarang (narkotik)
5. Hindari kerja berat dan perlu
cukup istirahat
6. Obati penyakit yang dapat
menyebabkan persalinan
preterm
7. Kenali dan obati infeksi
genital/saluran kencing
8. Deteksi dan penanganan faktor
resiko terhadap persalinan
preterm
Penatalaksanaan Partus Prematurus
Imminens
1) Menghambat proses persalinan preterm
dengan pemberian tokolitik, yaitu :
Kalsium antagonis: nifedipin 10 mg/oral
diulang 2-3 kali/jam
Sulfas magnesium: dosis perinteral ialah 4-6
gr/iv
2) Akselerasi pematangan fungsi paru
janin dengan kortikosteroid
Betametason 2 x 12 mg i.m
Deksametason 4 x 6 mg i.m
3) Pencegahan terhadap infeksi
dengan menggunakan antibiotik.
eritromisin 3 x 500 mg selama 3 hari
ampisilin 3 x 500 mg selama 3 hari
LAPORAN KASUS
1. Identitas Pasien
Nama : Inilda Safitri
Umur : 29 tahun
Alamat : Dsn Tegal Juwet RT 019/005
Sumberbulu
Pekerjaan : TKI
Agama : Islam
Bangsa : Jawa
Masuk tanggal : 21 Agustus 2016
No. RM : 614137
2. Anamnesa
Keluhan Utama :
Perut mules
Riwayat Penyakit Sekarang :
Tanggal 21 Agustus 2016 pukul 13.20
WIB pasien mengeluh perut mules sejak
pukul 01.00 WIB. Pasien, tidak ada
keluhan BAB dan BAK, tidak sesak, tidak
pusing dan tidak ada keluar lendir darah.
Riwayat Penyakit Dahulu
Hipertensi (-), Diabetes Mellitus (-), Asma
(-)
Riwayat Penyakit Keluarga
Hipertensi (-), Diabetes Mellitus (-),
Asma (-)
Riwayat Pengobatan
Pasien ke bidan pukul 09.00 untuk
periksa kehamilan karena perut mules
seperti ingin BAB
Riwayat KB
Jenis pil selama 4 tahun
Riwayat Alergi
(-)
Anamnesis Umum :
Haid : Tidak teratur
2 bulan sekali, selama 3 hari
Menarche : 16 tahun
HPHT : 20-12-2015
TP : 27-09-2016
Fluor Albus : (+)
Anamnesis Obstetrik :
GIIIP0111
Bersuami : 1 kali, selama 6 tahun
Jumlah anak : 1

No UK JP P T UH UM BBL JK Penyul
it
1 7 bln Spt B Bidan RSU 5 th 2200 L

2 Abortus
2 bulan
3 Hamil
ini
UK : Umur kehamilan, JP: Jenis persalinan, P: penolong, T: Tempat,
UH: Umur hidup, UM: Umur mati, BBL: Berat badan lahir,
JK: Jenis kelamin.
3. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Cukup
Kesadaran : Composmentis
a/i/c/d : -/-/-/-
Tekanan Darah :110/80 mmHg
Suhu : 36,6 oC
Pernafasan : 20 x/menit
Nadi : 88 x/menit
Kepala
Bentuk : Simetris
Mata
Konjungtiva: anemis (-)
Sclera : ikterik (-)
Pupil : bulat dan isokor
Telinga dan Hidung : dalam batas normal
Mulut : dalam batas normal
Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar, tidak ada bendungan vena
Thorax
Jantung: S1, S2 tunggal
Paru : vesikuler +/+
Payudara : tidak ada masa, puting susu menonjol +/+
Abdomen : membesar (+)
Genitalia: -
Ekstremitas : oedema (-), simetris (+)
4. Status Obstetri
Abdomen
Inspeksi
Perut membesar (+)
Striae gravidarum (+)
Linea alba (+)
Palpasi
Leopold I
Kesan bagian lunak (bokong). TFU = 4 jari dibawah
prosesus xyphoideus (23cm)
Leopold II
Kesan bagian keras memanjang (punggung kanan).
Leopold III
Presentasi kepala
Leopold IV
Bagian terendah janin belum masuk PAP
Auskultasi
DJJ(+) : 140 x/menit
Genitalia Eksterna : fluor albus (+)
HIS : 2 x/10menit selama 15
Pemeriksaan dalam
Vaginal touch
Pembukaan : 3cm
Effacement : 25%
Bagian terendah janin : presentasi
kepala
5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium tanggal 21-08-2016

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan


HEMATOLOGI
Darah Lengkap
Hematokrit 28 % 36 ~ 46
Hemoglobin 9,4 g/dL 12 ~ 16
Leukosit 14.310 /mm3 4,000 ~ 11,000

Hitung jenis
Trombosit 294.000 /mm3 150.000 ~
Eritrosit 3,8 juta/ 350.000
Total eosinofil 10 / 4.1 ~ 5.1
50 ~ 300
IMUNOSEROLO
GI
Hepatitis Negatif (-)
Marker Negatif
HBsAg
Kualitatif
6. Diagnosis Kerja
GIIIP0111 UK 34 Minggu Dengan Partus
Prematurus Iminens + Riwayat
Obstetri Buruk, Inpartu Kala I Fase
Laten, Janin Tunggal Hidup Dengan
Presentasi Kepala

7. Terapi
Tab Nifedipin 20 mg
Inj Dexamethasone 2 amp
MgSO4 40%
8. Follow up
Observasi
21 Agustus 2016
13.20 WIB
Pasien tiba di Kamar Bersalin RSUD dr. Moh. Saleh
Keadaan umum : cukup
Tensi : 110/70 mmHg, Nadi : 88 x/menit, RR: 20 x/menit, Suhu :
36,6oC
DJJ : 140 x/menit, His : 2x/10menit selama 20 detik
Pervag : fluor albus (+)
VT : 3cm, Efficement 50%, Ketuban (+), Kepala Hodge I
Terapi : Infus RL, Inj Dexamethasone 2amp, Tab Nifedipin 20mg

14.00 WIB
Tensi : 110/80 mmHg, Nadi : 88 x/menit, RR : 19 x/menit,
Suhu : 36,6oC
DJJ : 146 x/menit, His : 2x/10menit selama 30 detik
16.00 WIB
DJJ : 142 x/menit, His : 2x/10menit selama 30 detik

18.00 WIB
DJJ : 136 x/menit, His : 2x/10menit selama 30 detik
Tensi : 130/80 mmHg, Nadi : 88 x/menit, RR: 20 x/menit,
Suhu : 36,5oC
Inf RL (+)
Lapor dr. Diah SpOG : Nifedipin 3x20 mg, Dexamethasone 2x2
amp

20.15 WIB
Lab : Hb = 9,4 g/dL, Leukosit = 14.310/mm3, HBsAg = Negatif

20.30 WIB
DJJ : 134 x/menit, His : 2 x/10menit selama 30 detik
Infus RL (+)
Pervaginam : Fluor Albus
21.00 WIB
Tab Nifedipine 20 mg
Gerak janin (+)
Kesadaran : CM, a/i/c/d : -/-/-/-
Tensi : 140/80 mmHg, Nadi : 80 x/menit
His : 2 x/10menit selama 20 detik, DJJ : 146 x/menit
GIIIP1-11 PTH + Inpartu (PPI)
Advis dokter :
Drip SM 40% 20 tpm
Nifedipine 3x20 mg per oral
Injeksi Dexamethasone 2x1 ampul
Nonemi tab 1x1
Injeksi cefotaxime 3x1gram

21.05 WIB
Pervaginam slym
Infuse ganti RL drip SM 40% 20 tpm
21.30 WIB
Injeksi cefotaxime 1 g/PZ 100 cc

21.45 WIB
Pasien minum nonemi 1 tab

22.00
DJJ : 140 x/menit, His : 2 x/10menit selama 40 detik

23.00
DJJ : 144 x/menit, His : 2 x/10menit selama 30 detik
22 Agustus 2016
07.00 WIB
Keadaan umum : cukup
Tensi : 130/70 mmHg, Suhu : 36 oC, Nadi : 88 x/menit,
RR : 20 x/menit
UC : Baik, TFU : 2 jari bawah pusat
Pervaginam : (-)
Infus RL drip synto 20 IU 20 tpm
P0212 PP Spt-B + Kala IV

07.55 WIB
2 jam post partum
Tensi : 130/70 mmHg, Suhu : 36,6 oC, Nadi : 84 x/menit,
RR : 20 x/menit
UC : Baik, TFU : 2 jari bawah pusat
Infus RL drip synto 20 IU 20 tpm
08.15 WIB
Pindah melati

09.00 WIB
Tensi : 120/70 mmHg, Suhu : 36,3 oC, Nadi : 96
x/menit, RR : 34 x/menit
UC : Baik, TFU : 2 jari bawah pusat

23 Agustus 2016
06.00 WIB
Tensi : 120/80 mmHg, Suhu : 36,2 oC, Nadi : 82
x/menit, RR : 26 x/menit
a/i/c/d : -/-/-/-
UC : Baik, TFU : 2 jari bawah pusat
Pervaginam : lochia rubra
08.00 WIB
Keadaan umum baik
UC : Baik, TFU : 2 jari bawah pusat
Pervaginam : lochea rubra

12.00 WIB
Pasien pulang (KRS)
PEMBAHASAN
Pada kasus partus prematurus
iminens, tujuan penanganannya
adalah untuk mencegah dan
menghentikan terjadinya kontraksi
uterus dengan obat-obatan tokolitik
sampai kehamilan seaterm mungkin
atau sampai janin mempunyai
maturitas paru yang dianggap
cukup
Syarat untuk memberikan terapi
tokolitik pada pasien ini yakni
janin normal dan sehat,
tidak ada kontraindikasi maternal
atau janin untuk memperpanjang
umur kehamilan,
dilatasi serviks kurang dari 5 cm,
ketuban masih utuh, tidak ada
pendarahan
0 1 2 3 4

Kontraksi Tidak ada Irregular Regular - -

Ketuban Tidak ada - Tinggi/tida - Rendah /


pecah k jelas pecah

Perdarahan Tidak ada Spotting Perdarahan - -

Pembukaan 1 cm 2 cm 3 cm 4 cm
Pemberian tokolitik diindikasikan
pada pasien dengan usia
kehamilan kurang dari 37
minggu
Kontraindikasi pemberian tokolitik
janin mati,
anomali kongenital,
janin non reaktif,
gawat janin,
IUGR berat,
korioamnionitis,
infeksi intrauterine,
Tokolitik yang digunakan pada pasien
ini yakni magnesium sulfat dan
calcium channel blocker berupa
nifedipin

Pada pasien ini, diberikan terapi


MgSO4 dengan dosis 2x2 ampul atau
sama dengan 2 gr/jam. Dosis
nifedipin yang diberikan pada pasien
ini yaitu 20 mg setiap 8 jam. Dosis
kedua obat ini merupakan dosis
terendah
Dapat dicurigai bahwa kurang optimalnya
pemberian MgSO4 dan nifedipin ini
menyebabkan tidak terjadi hambatan
kontraksi uterus yang optimal pula
sehingga terjadi kegagalan terapi
konservatif. Dikatakan terapi konservatif
gagal karena kontraksi uterus tidak
berhenti setelah 2 jam pemberian
tokolitik
Dari pemeriksaan, didapatkan nilai
bishop skornya 6 yang berarti
kematangan serviksnya sudah cukup
untuk dilahirkan secara pervaginam.
Pada pasien ini tidak dilakukan sectio
caesarea karena tidak didapatkan
indikasi untuk sectio caesarea
Berdasarkan data yang didapatkan
dari Memorial Hospital di California,
persentase kegagalan magnesium
sulfat sebagai tokolitik hanya 2 %
dari 355 pasien. Ini menunjukkan
angka keberhasilan magnesium
sulfat di daerah tersebut sangat
tinggi.
Di Indonesia, belum didapatkan
laporan mengenai seberapa besar
angka kegagalan pemberian tokolitik
pada ibu dengan partus prematurus
iminens

Hal ini menyebabkan tidak


diketahuinya efektivitas penggunaan
tokolitik pada masyarakat Indonesia
Dalam hal ini, pemerintah pusat
hendaknya meningkatkan pendataan
pada pemberian tokolitik di setiap
fasilitas kesehatan di tiap daerah,
sehingga terdapat gambaran
mengenai berhasil atau tidaknya
pemberian tokolitik pada masyarakat
Indonesia
Hal ini perlu dilakukan mengingat
besarnya dampak yang ditimbulkan
akibat kegagalan tokolitik yang
diberikan pada ibu dengan partus
prematur iminens
Kegagalan dalam terapi koservatif
menyebabkan terjadinya persalinan kurang
bulan sehingga lahir bayi yang premature.

Makin pendek masa kehamilannya makin


kurang pertumbuhan organ-organ dalam
tubuhnya, dengan akibat makin mudahnya
terjadi komplikasi dan makin tinggi angka
kematiannya.
Bayi lahir prematur akan bermasalah
secara akademis. Mereka cenderung
mengalami masalah ketidakmampuan
belajar dan membutuhkan lebih banyak
layanan di sekolah ketimbang anak-anak
yang dulunya lahir dengan normal.
Hal ini akan meningkatkan biaya yang
harus ditanggung oleh suatu Negara
dengan angka bayi premature yang
masih tinggi. Dikarenakan perlunya biaya
lebih untuk memenuhi sarana dan pra
sarana untuk menunjang perkembangan
anak yang lahir premature.
Untuk mencegah terulangnya
kejadian yang serupa, sebaiknya
dilakukan asuhan antenatal yang
lebih baik.
Perlu juga diadakan pelatihan rutin
kepada tenaga kesehatan untuk
meningkatkan pengetahuan dan
keahlian untuk melakukan asuhan
antenatal yang optimal
Pemerintahan daerah dan pusat dapat
memberi tunjangan kepada tenaga
kesehatan berupa gaji dan bonus yang
lebih agar dapat memotivasi tenaga
kesehatan untuk bekerja lebih baik
dari apa yang sudah dilakukan saat ini.
Disediakan juga alat dan fasilitas yang
memadai di tiap unit pelayanan
kesehatan agar pelayanan yang
dilakukan dapat mencapai tingkat
keberhasilan dan kepuasan yang baik
Selain peningkatan mutu dalam pelayanan
antenatal care, pemerintah pusat juga
sebaiknya mulai mengembangkan
laboratorium untuk melakukan riset terhadap
obat-obat yang dapat digunakan sebagai
tokolitik yang dapat teruji khasiatnya dengan
baik dan efek samping yang minimal.

Selain dapat digunakan untuk menekan


angka kematian pada bayi premature,
pengembangan laboratorium juga akan
meningkatkan perekonomian bangsa dengan
penyerapan tenaga kerja yang lebih banyak
dan mengurangi biaya untuk mendatangkan
obat-obat baru dari luar negeri
Kesimpulan
Tujuan penanganan persalinan prematur
adalah untuk mencegah dan
menghentikan terjadinya kontraksi uterus
dengan obat-obatan tokolitik sampai
kehamilan seaterm mungkin atau sampai
janin mempunyai maturitas paru yang
dinggap cukup.

Kegagalan dalam terapi koservatif


menyebabkan terjadinya persalinan kurang
bulan sehingga lahir bayi yang premature.
Bayi lahir prematur akan bermasalah
secara akademis dan akan
meningkatkan biaya yang harus
ditanggung oleh suatu Negara dengan
angka bayi premature yang masih tinggi

Untuk mencegah terulangnya kejadian


yang serupa, sebaiknya dilakukan
asuhan antenatal yang lebih baik.

Tenaga kesehatan perlu lebih aktif lagi


untuk melayani pasien dengan resiko
tinggi
Pemerintahan daerah dan pusat dapat
memberi tunjangan kepada tenaga
kesehatan berupa gaji dan bonus
yang lebih agar dapat memotivasi
tenaga kesehatan untuk bekerja lebih
baik dari apa yang sudah dilakukan
saat ini.
Selain peningkatan mutu dalam
pelayanan antenatal care, pemerintah
pusat juga sebaiknya mulai
mengembangkan laboratorium untuk
melakukan riset terhadap obat-obat
yang dapat digunakan sebagai
tokolitik
TERIMA
KASIH