Anda di halaman 1dari 32

SIFILIS STADIUM I & II

Disusun Oleh:
Karyati Afrina
2012730134

Pembimbing :
dr. Vita Nooraini AH, Sp.KK

KEPANITERAAN KLINIK STASE KULIT


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIANJUR
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
DEFINISI

- sangat kronik Penyakit infeksi


yang disebabkan
bersifat sistemik.
oleh Treponema
- dapat menyerang pallidum
hampir semua alat
tubuh
- mempunyai masa
laten
- dapat ditularkan dari
ibu ke janin.
Eropa - Abad ke 15 wabah
sifilis

Setelah 1860, perbaikan


sosioekonomi morbiditas
penyakit me

Selama PD II, insidens penyakit


me, mencapai puncak pd
tahun 1946.

Ditemukan penisilin insidens


penyakit me
Insidensi sifilis di berbagai negeri di seluruh dunia pada tahun 1996
0,04 0,52 %
Insidensi terendah : Cina
Insidensi tertinggi : Amerika Selatan

Indonesia 0,61 %
Stadium Laten (terbanyak)
Sifilis stadium I (jarang)
Sifilis stadium II (langka)
Treponema pallidum
ditemukan oleh Schaudinn dan
Hoffman pada tahun 1905 ETIOLOGI

Ciri-ciri:
Berbentuk spiral teratur
Panjang: 6 15 m, lebar 0,15 m
Terdiri dari 8 24 lekukan
Dapat bergerak berupa rotasi
sepanjang aksis
Berkembang biak dengan cara
membelah secara melintang, pada
stadium aktif berlangsung setiap
30 jam
Di luar tubuh cepat mati
Pada darah dapat hidup selama 72
jam
KLASIFIKASI
dini

kongenital lanjut

stigmata

sifilis
SI

klinis S II

S III
akuisita
Dini menular
epidemiologi
Lanjut tak
menular
PATOGENESIS
STADIUM DINI
T. Pallidum masuk Jaringan bereaksi
ke dalam kulit dengan membentuk
melalui mikrolesi Berkemban infiltrat yang terdiri
atau selaput g biak atas sel-sel limfosit
lendir dan sel-sel plasma
Di perivaskular, Treponema terletak di
pembuluh-pembuluh Menyebar
antara endotelium
darah kecil secara
kapiler dan jaringan
berproliferasi dikelilingi limfogen ke
perivaskular di
oleh T. pallidum dan sel- KGB regional
sekitarnya
sel radang
Enarteritis pembuluh darah
Terbentuk Sembuh kecil menyebabkan
eros
fibroblas perlahan SI perubahan hipertrofik
i
dan siktriks -lahan endotelium yang
menimbulkan obliterasi
lumen
PATOGENESIS
Multilipkasi +
Menyebar
Reaksi
secara Penjalaran
jaringan S II
limfogen ke hematogen
setelah 6-8
KGB regional
minggu S I S II
mengalami
regresi dan
Menimbulkan Bisa menghilang
kerusakan mencapai
perlahan- Kardiovaskula
lahan Stadium
r dan saraf
Laten

S III T. Pallidum
Imunitas <<
dorman
GEJALA KLINIS
SIFILIS AKUISITA
1. SIFILIS DINI
SIFILIS PRIMER (S I)
Masa tunas : 2-4 minggu
Kelainan kulit berupa papul
lentikular yang
permukaannya segera
menjadi erosi yang
kemudian menjadi ulkus
Ulkus biasanya bulat,
soliter, dengan dasar
jaringan granulasi
berwarna merah dan
bersih, di atasnya hanya
tampak serum, dindingnya
tak bergaung, indolen dan
terba indurasi (ulkus
durum)
Kulit di sekitarnya tidak
GEJALA KLINIS
Pada pria tempat yang sering
dikenai ialah sulkus korona,
sedangkan pada wanita di
labia minor dan mayor.
Selain itu juga dapat di
ekstragenital, misalnya di
lidah, tonsil, dan anus.
Pada pria selalu disertai
pembesaran kelenjar limfe
inguinal medial
unilateral/bilateral
Afek primer dapat sembuh
sendiri dalam 3-10 minggu
Seminggu setelah afek primer,
biasanya terdapat pembesaran
KGB regional di inguinalis
medialis kompleks primer
GEJALA KLINIS
Kelenjar tersebut solitar,
indolen, tidak lunak,
besamya biasanya
lentikular, tidak supuratif,
dan tidak terdapat
periadenitis.
Kulit di atasnya tidak
menunjukkan tanda- tanda
radang akut
Syphilis d'emblee jika
tidak terdapat afek primer.
Kuman masuk ke jaringan
yang lebih dalam, misalnya
pada transfuse darah atau
suntikan
GEJALA KLINIS
SIFILIS SEKUNDER (S II)
Timbul 6-8 sejak S I dan sejumlah 1/3 kasus masih
disertai S I.
Lama S II dapat sampai 9 bulan.
S II dapat disertai gejala konstitusi yang terjadi
sebelum atau selama S II anoreksia, turunnya
berat badan, malaise, nyeri kepala, demam yang
tidak tinggi, dan artralgia
Kelainan kulit dapat menyerupai berbagai
penyakit kulit the great imitator
S II dapat juga memberi kelainan pada mukosa,
kelenjar getah bening, mata, hepar, tulang, dan
saraf
GEJALA KLINIS
Kelainan kulit eksudatif
pada S II sangat menular
Kelainan kulit kering
kurang menular
Bentuk yang sangat
menular kondilomata
lata dan plaque
muqueuses
Kelainan kulit S II:
Tidak gatal
Limfadenitis generalisata
Pada S II dini juga terdapat
kelainan pada telapak tangan
dan kaki
GEJALA KLINIS
S II Dini S II Lanjut

Kelainan kulit Kelainan kulit


generalisata setempat
Simetris Tidak simteris
Lebih cepat Lebih lama
hilang (beberapa bertahan
hari hingga (beberapa
beberapa minggu hingga
minggu) beberapa bulan)
GEJALA KLINIS
Bentuk Lesi
Roseola
eritem makular, berbintik-
bintik atau berbercak-
bercak, warna merah
tembaga, bentuk bulat atau
lonjong
merupakan kelainan kulit
yang pertama terlihat pada
S II (roseola sifilitika)
S II dini generalisata
simetris, telapak tangan dan
kaki ikut dikenai, timbul
cepat dan menyeluruh
(eksantema)
Hilang dalam beberapa
minggu bulan, tanpa bekas
ataupun meniggalkan
bercak hipopigmentasi
(leukoderma sifilitikum)
Residif jumlah lebih
sedikit, lebih lama bertahan,
dapat anular, dan
bergerombol
GEJALA KLINIS
Papul
Bentuk bulat, dan dapat timbul
bersama-sama dengan roseola
Terdapat skuama di pinggir
papulo-skuamosa
Skuama dapat menutupi
permukaan papul mirip
psoriasis (psoriaformis)
Hilang bercak hipopigmentasi
(leukoderma sifilitikum)
Pada leher leukoderma koli
(Collar of Venus)
S II dini : papul generalisata dan
simetrik
S II lanjut : setempat, tersusun
teratur: arsinar, sirsinar,
polisiklik, dan korimbiformis
Pada dahi korona venerik
(menyerupai mahkota)
GEJALA KLINIS
Pustul
Lebih sering tampak pada
kulit berwarna dan jika
daya tahan tubuh menurun
Sering disertai demam
intermitten dan penderita
tampak sakit
Sifilis variseliformis
(mirip varisela)

Bentuk lain
Sifilis Impetiginosa
(mirip impetigo)
Ektima Sifilitikum
ulkus yang ditutupi krusta
Rupia Sifilitika krusta
tebal
Sifilis ostrasea ulkus
meluas ke perifer sehingga
berbentuk seperti kulit
kerang
GEJALA KLINIS
S II pada mukosa
Angina sifilitika eritematosa
makula eritem yang cepat
berkonfluensi sehingga membentuk
eritem difus dan berbatas tegas
Nyeri tenggorok, suara parau
Plak muqueuses pada selaput
lendir alat genital, erosif, tidak nyeri

S II pada rambut
Alopesia difusa
Alopesia areolaris kerontokan
setempat-setempat, ditumbuhi
rambut tipis sehingga tidak botak
seluruhnya
GEJALA KLINIS
S II pada kuku
Onikia sifilitika warna kuku
putih, kabur, rapuh, terdapat
alur transversal dan
longitudinal, bagian distal
kuku menjadi hiperkeratotik
sehingga kuku terangkat

S II pada alat lain


KGB seluruh KGB
superfisial membesar
Mata uveitis anterior
Hepar hepatitis
Tulang periostitis
Saraf TIK meninggi
GEJALA KLINIS
SIFILIS LATEN DINI
Tidak ada gejala klinis
Infeksi masih ada dan aktif
Serologik darah (+), tes LCS (-)

STADIUM REKUREN
Kelainan kulit mirip S II
Serologi (-) (+)
Pada sifilis dengan pengobatan tidak adekuat
Monorecidive relaps pada afek primer
PEMBANTU DIAGNOSIS
Pemeriksaan T. pallidum
Spesimen: serum dari lesi kulit
Pemeriksaan dilakukan 3 hari berturut-turut
treponema tampak berwarna putih pada
latar belakang gelap

Tes Serologik Sifilis (TSS)


S I : negatif (seronegatif) menjadi positif pada titer
rendah (seropositif) positif lemah
S II dini : positif agak kuat
S II lanjut : positif kuat
PEMBANTU DIAGNOSIS
Berdasarkan antigen yang dipakai:
Nontreponemal (tes reagin)
Tes fiksasi komplemen : Wasserman (WR), Kolmer
Tes Flokulasi: VDRL, Kahn, RPR, ART, dan RST

Treponemal
Tes imobilisasi : TPI
Tes fiksasi komplemen : RPCF
Tes imunofluoresen : FTA-Abs, FTA-Abs DS
Tes hemoglutisasi : TPHA, 19S Ig M SPHA, HATTS,
MHA-TP
PEMBANTU DIAGNOSIS
Pemeriksaan Lain
Sinar Rontgen melihat kelainan khas pada tulang
yang dapat terjadi pada S II, S III, dan sifilis
kongenital
Tes untuk LCS

Histopatologi
proliferasi sel-sel endotel terutama terdiri atas
infiltrat perivaskular tersusun oleh sel-sel limfoid dan
sel-sel plasma
pada S II juga terdapat infiltrat granulomatosa terdiri
atas epiteloid dan sel-sel raksasa
DIAGNOSIS BANDING
S I:
Herpes Simpleks
Ulkus Piogenik
Skabies
Balanitis
Limfogranuloma
venereum
Karsinoma sel balanitis
skuamosa Herpes
skabies
simpleks
Penyakit Behcet Penyakit
Ulkus
Karsinoma behcet
mole
sel skuamosa
Ulkus Mole
Limfogranuloma venereum
DIAGNOSIS BANDING
S II:
Erupsi Obat Alergik
Morbili
Pitiriasis Rosea
Psoriasis
Dermatitis
Seboroika Kondiloma
akiminata
Kondiloma Dermatitis
Seboroika
akiminata Pitiriasis
Erupsi morbili
Obat
psoriasis
Alopesia
rosea
Alergik
Alopesia areata areata
PENATALAKSANAAN
1. PENISILIN
dapat menembus plasenta sehingga
mencegah infeksi pada janin dan dapat
menyembuhkan janin yang terinfeksi
efektif juga untuk neurosifilis

. Penisilin G prokain dalam aqua kerja singkat


. Penisilin G prokain dalam minyak kerja
sedang
. Penisilin G Benzatin kerja lama
PENATALAKSANAAN
Diberikan secara Intramuskular
Kerja singkat setiap hari
Kerja sedang setiap tiga hari
Kerja lama setiap minggu
PENATALAKSANAAN
SIFILIS PENGOBATAN PEMANTAUAN
SEROLOGIK
SIFILIS PRIMER Penisilin G Benzatin Pada bulan I, III, VI,
dosis 4,8 juta unit IM dan XII dan setiap 6
Satu kali seminggu bulan pada tahun
Penisilin G prokain kedua
dalam aqua dosis
total 6 juta unit,
diberi 0,6 juta
unit/hari selama 10
hari
PAM (penisilin prokain
+ 2 % aluminium
monostearat)
Dosis total 4,8 juta
unit, diberikan 1,2
juta unit/kali
2 kali seminggu
PENATALAKSANAAN
Sifilis Kardiovaskular
Penisilin G Benzatin 9,6 juta unit
diberikan 3 x 2,4 juta unit dengan interval seminggu
Neurosifilis
Penisilin G Prokain dalam aqua 18-24 juta unit sehari
diberikan 3-4 juta unit IV setiap 4 jam selama 10-14
hari
Sifilis Kongenital
Penisilin G Prokain dalam Aqua 100.000-150.000
satuan/kgBB per hari
diberikan 50.000 unit/kgBB IM setiap hari selama 10
hari
PENATALAKSANAAN
Reaksi Jarish-Herxheimer
Hipersensitivitas akibat toksin yang dikeluarkan oleh banyak
T. pallidum yang mati
50-80 % pada sifilis dini
Gejala: demam tinggi, nyeri kepala, atralgia, malaise,
berkeringat, dan kemerahan pada wajah, afek primer pada
wajah menjadi bengkak karena udem dan infiltrasi sel, nyeri.
Pada sifilis lanjut: edem glotis, penyempitan arteri koroner
pada muaranya karena udem dan infiltrasi, dan trombosis
serebral
Pengobatan reaksi jarish-herxheimer
Kortikosteroid
prednison 20-40 mg sehari
PENATALAKSANAAN
Antibiotik Lain
Tetrasiklin: 4 x 500 mg/hari
Eritromisin : 4 x 500 mg/hari
Doksisiklin : 2 x 100 mg/hari

S I dan S II = 15 hari
Stadium Laten = 30 hari