Anda di halaman 1dari 27

Prof.

Muhammad Zilal Hamzah, PhD


mz.hamzah@stiebi.ac.id
Paper dipresentasikan pada Kongres Ekonomi Umat, ICMI, 22-24 April 2017, Hoel
Sahid Jaya, Jakarta.
Anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI)
DISKUSI

1. Pendahuluan
2. Permasalahan
3. Kesimpulan
PENDAHULUAN

Perjalanan perekonomian Indonesia sangat berliku. Diawali dengan perjalanan sulit di awal-
awal kemerdekaan dan mengalami pertumbuhan yang baik di era bonanza oil (era orde
baru);
Kembali menurun drastis pada tahun 1998. Krisis Moneter yang melanda Indonesia pada
tahun tersebut membalikkan kembali perekonomian Indonesia ke titik terendah. Nilai-nilai
tinggi yang diperoleh sebelumnya untuk subject Pertumbuhan Ekonomi, ternyata bukan
merupakan angka yang sebenarnya. Ini terbukti, angka-angka pertumbuhan yang semula
berkisar antara 7%-8% pertahun itu, anjlok mencapai kedalaman 13%.
Beban yang ditanggung oleh angka-angka tersebut telah mengakibatkan runtuhnya
perekonomian Indonesia dimata dunia dalam sesaat. Ini dibuktikan dengan tingginya angka
pengangguran dan jumlah penduduk miskin.
Meskipun demikian, ada hikmah yang diperoleh. Pelaksanaan kebijakan desentralisasi
merupakan hal yang luar biasa yang wujud dalam sistem pemerintahan Indonesia (lihat UU
No. 22 dan 25 tahun 1999 yang telah diperbaharui dengan UU No.32 dan 34 tahun 2004,
serta UU No.23 tahun 2014).
PENDAHULUAN

Tetapi setelah berjalan lebih kurang 15 tahun, angka-angka statistik tidak menunjukkan
perubahan yang baik. Untuk masalah pertumbuhan ekonomi, kita belum pernah lagi mencapai
pertumbuhan diatas angka 5%. Masalah pertumbuhan pengangguran Indonesia juga melebihi
angka 4%. Hal ini menyebabkan pemerintah Indonesia harus bekerja keras untuk menyediakan
lapangan pekerjaan. Apabila hal ini terus berlanjut, maka tingkat ketergantungan hidup akan
semakin tinggi, selanjutnya harapan pertumbuhan ekonomi dari konsumsi masyarakat akan
semakin menurun dan pada akhirnya kemakmuran masyarakat tak akan pernah tercapai.
Untuk masalah Hutang/Pinjaman, rasio hutang Indonesia terhadap PDBnya sampai tahun ini
masih dibawah 60%. Teorinya semakin besar hutang semakin besar pula akibatnya terhadap
ketahanan fiskal dan defisit anggaran (lihat juga:Artis and Marcelino (1998), Athanasios and
Sidiropoulos (1999), Baglioni and Cherubini (1993), Bohn (1995), Buiter and Patel (1992), Haug
(1991), Makrydakis, Tzavalis and Balfoussias (1999).
Pendapatan perkapita Indonesia masihlah rendah. Ini mencerminkan ketidaksesuaan antara
produksi atau output Indnesia dibandingkan jumlah penduduk Indonesia. Ini bisa bermakna
bahwa kebanyakan otput Indonesia dihasilkan oleh waga asing di dalam negeri. Disamping itu,
jumlah penduduk miskin masih belum berkurang.
PENDAHULUAN

Untuk mengatasi ini, maka pemerintah telah mencoba berbagai cara terutama dari sisi
penerapan sistem perekonomian, baik:

Sistim perekonomian yang sudah berjalan selama ini, maupun

Mengaplikasikan sistim ekonomi islam.

Kedua sistim ini diharapkan mampu memanfaatkan setiap peluang (peluang ketersediaan
Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Modal, dan Infrastruktur lainnya,
yang merupakan keunggulan Indonesia), sehingga akan mampu meningkatkan perekonomian
baik negara maupun umat secara merata.
PERMASALAHAN

Berbicara tentang ekonomi berarti berbicara tentang kegiatan ekonomi; baik Mikro maupun Makro.
Dalam konteks Mikro misalnya, pembahasan itu dapat tentang masalah Produksi Barang, Biaya
Penawaran dan Permintaan, Harga, pasar barang domestik atau internasional; promosi; dan produk
itu sendiri), keuntungan, serta sumbangan terhadap devisa negara yang akan berguna bagi negara
sebagai modal (investasi) bagi pembangunan selanjutnya. Dalam konteks makro pula, kita dapat
membahas secara umum tentang kebijakan fiskal dan kebijakan moneter suatu negara.
Dari kebijakan fiskal, dibahas tentang kebijakan penerimaan (perpajakan, hutang dan retribusi).
Tujuan adalah bagaimana mendapatkan penghasilan sendiri sebagai modal dan menggunakannya
(investasi) untuk pembangunan itu. Sehingga bisa terlepas dari jerat hutang. Dari kebijakan
Moneter pula, dibahas tentang kebijakan Perbankan dan Lembaga Keuangan lainnya oleh Bank
Indonesia, Kementrian Keuangan ataupun Otoritas Jasa Keuangan. Dimana tujuan akhirnya adalah
supaya daya beli uang dan inflasi dapat di tata dengan baik, dapat menurunkan hutang, dan lain-
lain.
Jadi kedua kebijakan ini harus dijalankan secara sinkron dan seimbang (lihat, Ghafar, Zilal, dan
Ritonga (2004). Jika tidak maka tujuan yang ingin dicapai sulit untuk direalisasikan.
Permasalahan Indonesia:
BEBERAPA PERMASALAHAN

Masalah Kondisi Perekonomian Indonesia


Indikator Tingkat Inflasi. Umumnya teori inflasi mengatakan tingkat inflasi antara 0% 10% pertahun dianggap
ringan, 11% - 30% pertahun dianggap sedang, 31% - 100% dianggap berat, dan diatas 100% dianggap sudah
parah;
Indikator Tingkat Pengangguran (Unemployment). Teori penganguran menyatakan, tingkat pengangguran yang
dinyatakan aman adalah apabila hanya terdapat 4% saja dari angkatan kerja (Labor Force)di suatu negara yang
menganggur;
Indikator Tingkat Pinjaman. Maastricht Agreement (kriteria untuk Konfergence Fiskal dari Maastricht
Agreement) menyatakan hutang sesuatu negara yang dianggap aman adalah apabila tidak lebih dari 60% dari
Gross Domestic Productnya (GDP).
Indikator Defisit dalam Anggaran. Teori Maastricht Agreement, juga menyatakan bahwa defisit yang dianggap
aman adalah tidak lebih dari 3% dari anggaran (budget).
Perekonomian Indonesia saat ini menghadapi ini semua itu (hanya defisit dan hutang yang masih menunjukkan
angka yang baik) dan ditambah dengan beberapa faktor diluar faktor ekonomi itu sendiri seperti situasi politik
dan keamanan serta situasi administrasi pemerintahan.
Periode 1966-1998, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup tinggi (6%-9%). Sehingga Indonesiapun pernah
dijuluki sebagai sebuah negara industri baru (New Industrial Countries) di Asia disamping Taiwan dan South
Korea. Meskipun ini rentan terhadap pi krisis ekonomi, sekarang ini, Indonesia tidak pernah lagi mencapai
pertumbuhan ekonomi diatas 5% per tahun.

Masalah Kebijakan Pemerintah Sebagai Kebijakan Publik
Kebijakan pemerintah adalah suatu bentuk kebijakan publik. Karena pemerintah adalah
lembaga negara yang diberikan kewenangan yang luas oleh konstitusi untuk membuat
kebijakan dalam menyelenggarakan negara sesuai dengan ketentuan peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku. (lihat: Carl J. Friedrick; Thomas R. Dye; James F.
Anderson, maupun Ibnu Khaldun). Kebijakan Publik dibuat dalam kerangka untuk
memecahkan masalah dan untuk mencapai tujuan serta sasaran tertentu yang diinginkan.
Dalam konteks kesejahteraan, tentu kebijakan publik yang dilakukan pemerintah untuk
mencapai tujuan serta sasaran dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat, dengan
indikator-indikator Kesejahteraan yang telah ditetapkan lebih dahulu. Kebijakan pemerintah
sebagai suatu keputusan yang mengikat publik, maka haruslah dibuat oleh otoritas politik,
yakni mereka yang menerima mandat dari publik atau orang banyak umumnya melalui suatu
proses pemilihan untuk bertindak atas nama rakyat banyak. Fokus utama kebijakan pemerintah
dalam negara modern adalah pelayanan publik yang merupakan segala sesuatu yang bisa
dilakukan oleh negara untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas kehidupan orang
banyak. Pemerintah karena ini adalah bagian dari pemerintah yang bertanggungjawab atas
tata kelola pemerintahan sehari-hari.
Sayangnya dalam sistim pemerintahan Indonesia yang masih muda, kita sudah dipaksa untuk
memilih sistim demokrasi yang sangat terbuka, sehingga pemerintah tidak leluasa untuk
melaksanakan program-program pembangunan yang dibuatnya.
Masalah Investasi dan Hutang Sebagai Kebijakan Publik
Dalam beberapa dekade belakangan, beberapa pemerintahan/Negara Islam merasa bahwa
peningkatan hutang yang terjadi sebagai sumber modal investasi telah menjadi masalah yang
serius di Negara mereka (diantaranya: Mesir, Iran, Malasia, dan Indonesia). Mereka kuatir
peningkatan hutang ini akan mengganggu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang
berkelanjutan.
Masalah hutang pada akhirnya bermuara kepada kesulitan dalam pengembaliannya. Ini juga terjadi
pada Negara-negara seperti: Jepang, Amerika Serikat, India dan lain-lain. Jangankan berusaha untuk
meningkatkan pertumbuhan yang ada, maka keberlanjutan lainnya seperti defisit anggaran akan
semakin membesar dan seterusnya keberlanjutan pembangunan ekonomi menjadi angan-angan
semata (lihat: Artis and Marcelino (1998), Athanasios and Sidiropoulos (1999), Baglioni and
Cherubini (1993), Bohn (1995), Buiter and Patel (1992), Haug (1991), Makrydakis, Tzavalis and
Balfoussias (1999) and Ghafar, Zilal, dan Ritonga (2004).
Dikaitkan dengan isu Negara demokratis, maka penggunaan hutang dan investasi luar negeri asing
bisa membahayakan pemerintahan Indonesia. Investasi besar-besaran dari Negara China pada
tahun-tahun terakhir ini, membuat keslitan yang baru dalam pemerintahan sekarang. Pemerintah
dalam hal ini harus secara terbuka dan terus menerus mensosialisasikan investasi dari 1 (satu)
pintu ini ke rakyat. Sebaiknya, untuk sebuah investasi mestilah berasal dari banyak Negara
sehingga tidak ada kepentingan-kepentingan besar bisa muncul secara bebas.
Masalah Organisasi Global untuk Ekonomi Global.
Hal lain yang tidak boleh dilupakan pada dekade sekarang ini masalah Globalisasi.
Global Ekonomi telah memasuki setiap Negara terutama sejak diberlakukannya Kebijakan Perdagangan
Bebas untuk setiap area (Eropah, Asia, Amerika, dan regional masing-masing). Meskipun Inggris telah
keluar dari zona Perdagangan Bebas Eropa, tidak berarti Negara-negara seperti Indonesia juga bisa keluar.
Indonesia sudah termasuk di dalamnya, tidak bisa ditolak, harus diikuti. Disinilah kita harus memilih;
apakah menjadi pemain atau hanya sebagai penonton. Untuk bisa menjadi pemain, maka kita harus
memahami benar bahwa kita sekarang: (i). Hidup dan Bekerja di area Global. Untuk itu kita harus
memahami startegi-strategi yang sedang berlangsung di pasar global tersebut; (ii). Harus memahami
kondisi Lingkungan dunia. Harus memhami kondisi Ekonomi, Kondisi Politik dan Hukum dan Kondisi Budaya;
(iii). Memahami perbedaan-perbendaan antara Negara. Kita harus mempelajari budaya-budaya yang
tercipta dan berkembang di setiap Negara; (iv). Memahami Model Organisasi Ekonomi Dunia. Kita harus
memandang bahwa dunia ini adalah pasar tunggal, operasional kegitan dikontrol secara terpusat; (v).
memahami proses Internasionalisasi Ekonomi.
Proses Internasionalisasi ini juga terdiri atas beberapa tahap diantaranya: Tahap pertama adalah Lisensi;
Tahap kedua adalah Ekspor; Tahap Ketiga adalah Produksi di Negara asal dan Penjualan; Tahap keempat
adalah produksi di Negara tujuan dan penjualan; Tahap Kelima adalah join Venture atau Partnership; dan
tahap Keenam adalah Investasi Lansung Asing.
Untuk dapat menjadi pemain dalam percaturan seperti tersebut diatas, maka diperlukan pengusaha-
pengusaha yang sangat faham tentang ini. Tetapi tentu saja diperlukan aturan pemerintah yang kuat untuk
menjaga serta mempersenjatai para pengusaha-pengusaha ini dalam menghadapi pesaing mereka.
Masalah Budaya
Satu hal yang krusial di dalam era Ekonomi Global Ekonomi adalah masalah Budaya.
Memahami masalah budaya setiap Negara dan masyarakatnya secara benar akan menolong
dalam mengelola organisasi di seluruh dunia.
Memahami budaya tidak hanya sekedar mengeahuinya, tetapi sekaligus juga membuat setiap
individu mampu saling berbagai terhadap semua nilai, pemahaman, asumsi, dan tujuan-tujuan
(nilai, kepercayaan dan norma/adat istiadat), memahami dan belajar dari generasi sebelumnya
serta mempelajari dengan baik budaya kini yang muncul.
Memahami budaya yang ada di dalam sebuah organisasi (Budaya Organisasi) akan mampu
mengikat anggota organisasi secara bersama dan sebaliknya apabila tidak memahami budaya
organisasi, akan muncul saling tidak memahami di dalam oranisasi tersebut. Misalnya budaya
yang informal, kreatif, terbuka; alkoholik, akan positif pada mata manajer Amerika, tetapi tidak
bagi manajer Timur Tengah. Budaya harus berpendidikan dan professional yang sempit,
menjadi negatif bagi manajer Amerika tetapi belum tentu bagi manajer China. Oleh sebab itu
mengapa banyak ekspatriat yang gagal, adalah karena: Culture shock, kinerja, homesickness
dan masalah personal lainnya.
Masalah Korupsi
Perlu dipahami bagaimana itu terjadi dan mengapa begitu sulit untuk melakukan sesuatu terhadap
korupsi.
Di Indonesia terdapat beberapa jenis Korupsi yaitu korupsi karena masalah gaji pokok, karena kekuasaan
monopoli Negara, karena Pejabat-pejabat yang masih junior, karena pemberian hak-hak istimewa, karena
pengadilan, karena unsure premanisme, karena politisi, karena skandal (seperti: Pertamina dan Bulog,
Perbankan, maupun BPPN.
Membasmi korupsi terutama korupsi struktural adalah sangat luar biasa sulitnya, karena korupsi berjalan
seperti sistem ekonomi dan sosial yang mengatur pada korupsi sendiri dan karena begitu banyak mata
pencaharian yang tergantung padanya. Korupsi yang berkembang luas membentuk suatu sistem ekonomi
dan sosial yang parasit; yaitu korupsi terdiri atas cara pencarian nafkah yang dapat disesuaikan dan
saling berhubungan, berbagai insentif tertentu, cara-cara yang khas untuk mengkaitkan orang lain, dan
berlangsung terus turun-temurun.
Salah satu negara yang secara baik memberantas korupsi di negaranya adalah China. 2 Februari 2004,
sebuah media pemerintah Cina melaporkan, Wang Huaizhong, mantan Wakil Gubernur Provinsi Anhui,
Kamis, menjalani eksekusi hukuman mati setelah diputus bersalah dalam kasus korupsi, dan kasasinya
ditolak. Wang, yang berusia 56 tahun dan membangun karirnya dari bawah sebagai petani itu, dinyatakan
meninggal dunia setelah disuntik mati karena kasasinya ditolak pada Januari lalu di Pengadilan Tinggi
Provinsi Shandong. Wakil Gubenur propinsi Shang-Xi ditembak mati karena terbukti korupsi US$ 650 ribu
(bandingkan dengan kasus dugaan korupsi di Indonesia). Hebatnya lagi, keluarga yang ditinggalkan masih
dibebani oleh biaya penembakan. Harga satu peluru adalah 30 sen. Biasanya dalam mayat terpidana bisa
ditemukan lebih dari satu peluru karena ditembaki oleh satu regu penembak.
Mereka yang bicara tentang rakyat yang telah menjadi perampok dan penjahat akan menemukan bahwa
semua itu terjadi lantaran orang-orang yang memerintah mereka juga memiliki perilaku yang sama
(Niccolo Machiavelli, The Discourses III (29).

Kekuatan Sekaligus Kelemahan Mekanisme Islam
Dalam islam, masalah pengentasan kemiskinan adalah kewajiban sosial dan kewajiban agama
itu sendiri. Tugas seperti itu sangat baik dalam dirinya sendiri namun pengentasan kemiskinan
tentu bukan obat untuk kemiskinan.
Selain itu, mekanisme Islam untuk meringankan kemiskinan memiliki karakteristik yang jelas;
uang yang ada akan diberikan begitu saja atau dipinjamkan dengan bebas bunga/riba. Jika
diberikan begitu saja, si pemberi akan kehilangan uangnya selamanya. Jika dipinjamkan bebas
bunga, pemberi pinjaman (seperti yang dilihat dalam praktik konvensional) sangat merugikan
nilai potensi riba/bunga. Singkatnya, prakteknya harus sedemikian rupa karena jumlah uang
yang tersedia pasti terbatas.
Kembali kepada kebijakan Fiskal dalam Islam. Sebagaimana konsensus yang dilaksanakan di
Islamabad tahun 1981, bahwa Kebijakan Fiskal dalam Islam: (i). Harus berorientasi ideologis
dengan memperhatikan kesejahteraan material dan spiritual; (ii). Harus mampu memenuhi
kebutuhan dasar semua orang; (iii). Harus bisa menyediakan infrastruktur yang diperlukan
untuk mendorong pertumbuhan ekonomi; dan (iv). Harus bisa mempromosikan tatanan
ekonomi dan sosial yang egaliter.
Sementara itu Kebijakan Moneter (Chapra, 1980): (i). Harus mampu menciptakan
Kesejahteraan ekonomi dengan lapangan kerja penuh dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang
optimal; dan (ii). Harus mampu menciptakan Keadilan sosial ekonomi dan pemerataan
pendapatan dan kekayaan, dan Stabilitas nilai uang.
Kerangka keuangan publik Islam adalah kerangka kerja yang juga sama seperti yang digunakan
oleh keuangan publik konvensional (Ibn Khaldun dan Smith).
Kerangka kerja ini adalah kerangka peraturan, kerangka kerja pendapatan dan pengeluaran,
dan lain-lain. Mungkin ada kerangka kerja yang berbeda atau tambahan, seperti standar
moneter dan akuntansi serta auditing. Karena itu, dalam yurisdiksi tertentu, perbankan syariah
dan keuangan mungkin diatur oleh berbagai peraturan yang terpisah atau tambahan.
Oleh karenanya muncul hal-hal yang harus dikerjakan dan ha-hal yang harus dihindarkan
seperti: keputusan kontrak haruslah dengan persetujuan bersama, menghindari riba,
menghindari gharar, menghindari transaksi (tax-spend) yang melibatkan maysir (perjudian)
maupun menghindari transaksi (pembelanjaan pajak) yang melibatkan aktivitas terlarang
(pasar gelap).
Maka secara umum akan muncullah nilai-nilai Ekonomi Dalam Islam (Khan, 1996); baik yang
positif (adil, ihsan, amanah/jujur, taawun/kerjasama, tawakkal/bertaqwa, al-tha/berkorban,
sabar dan al-qanaah) maupun yang negatif yang haus dihindari (zalim, rakus/hirs, menimbun
harta/iktinaz, pelit/syuhh, atau penindasan/zhulm.

Memperkuat Ekonomi Umat adalah satu
keharusan, karena ia menciptakan:
Kebebasan Ekonomi dan berdaya tahan,
tidak not economic hegemony!
Kebebasan Politik
Berintegrasi, Percaya diri dan
Menghargai
Keadilan Ekonomi terwujud dan harmonis
Menjaga Keberlansungan Hidup (SDGs)
atau Falah.
Sebagaimana tema dari seminar ini dan kaitannya dengan tulisan ini, maka pemberdayaan ekonomi umat di
Indonesia dapat dilaksanakan dengan tahapan-tahapan berikut ini.
1. Mengenali Indonesia
Indonesia adalah Negara Kesatuan dengan desentralisasi yaitu menyerahkan sebagian kekuasaannya baik
kepada perwakilan-perwakilannya di daerah ataupun kepada daerah berdasarkan hak otonomi.
Keunggulan yang diperoleh dengan sistim ini adalah unggul dalam kecepatan informasi dari bawah, mudah
mencari pertanggungjawaban daerah, terdapat kemungkinan-kemungkinan pembaharuan kebijakan di
daerah, dan terdapat kemungkinan untuk meningkatkan efisiensi seperti efisiensi dalam administrasi dan
alokasi. Meskipun terlihat bahwa sistem desentralisasi sangat sukses dijalankan oleh banyak negara di
dunia, sistem ini juga mempunyai kelemahan pada awalnya.
Beberapa kelemahan dari sistem Desentralisasi (Prudhomme, 1995; McLure, 1995; Sewell, 1996; Tanzi,
1996) antara lain adalah (i). desentralisasi dapat menyebabkan kebijakan stabilisasi MAKRO lebih sulit
dipraktekkan dan dapat membawa kearah tingkat dan komposisi yang tidak stabil terhadap keseluruhan
penerimaan, pengeluaran dan hutang publik. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena akan terjadi tumpang
tindih kebijakan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat; (ii). Pemerataan Pertumbuhan
Ekonomi akan sulit ditingkatkan karena perbedaan yang terjadi pada pemerintah daerah itu sendiri;
misalnya perbedaan mengenai sumber-sumber daya, preferensi dan sebagainya; (iii). Desentralisasi tidak
selalu menjadi effisien, khususnya dalam hal-hal yang sudah standar, rutin, atau kerjasama berdasarkan
pelayanan publik dan pemerintah pusat dapat saja kehilangan skala ekonomi akibat kehilangan
pengawasan terhadap sumber-sumber keuangan; (iv). Kapasitas tehnikal pada tingkat daerah: dapat
menyebabkan pelayanan menjadi berkurang dalam beberapa wilayah dari negara tersebut sehingga tidak
tercapai tujuan awal desentralisasi yaitu mendekatkan pusat pemerintahan dengan rakyat; dan (v). Dalam
hal koordinasi kebijakan nasional: desentralisasi kadang-kadang membuat koordinasi kebijakan nasional
lebih kompleks dan dapat menyebabkan elite daerah tidak mematuhinya.
KESIMPULAN

Ini yang terjadi saat ini di Indonesia.


Tidak adanya koordinasi yang kuat antar pemangku kepentingan; baik di daerah mapun di pusat.
Sehingga sepertinya mereka berjalan sendiri-sendiri. Keputusan yang diambil kebanyakan berasal
dari bawah, sehingga mereka akan berhadapan dengan peratuan-peraturan pusat yang belum
sempat disosialisasikan.
Akibatnya banyak kepala daerah yang dengan atau tanpa sengaja menjadi korban ketidak tahuan
atas peraturan ini.Sebaliknya keputusan yang bersifat top down, sering menjadi mubazir kaena
tidak sesuai dengan perencanaan daerah yang dibuat.
Demikian juga halnya dengan kegiatan ekonomi yang dilaksanakan oleh umat Islam, mereka
hanya berjalan mengikuti apa yang sudah dibuat atau dilaksanakan secara konvensional dan
mengadopsinya dalam bungkus ekonomi Islam. Baru sedikit kita menemukan terobosan-
terobosan baru dalam kegiatan ini.
Indonesia sebagai Negara dengan Muslim Terbanyak
Indonesia adalah Negara dengan penduduk Muslim terbanyak di
dunia (lihat tabel 3). Kondisi ini akan menguntungkan hanya jika
semua potensi penduduk ini bersatu dalam Islam. Sebaliknya,
ini akan menjadi ancaman, karena Indonesia dikenal dengan isu
angkatan kerja yang: (i). Tingkat pengangguran yang tinggi; (ii).
Tenaga kerja yang berpendidikan rendah; (iii). Banyak bekerja di No. Negara Estimasi Penduduk % Penduduk
Muslim Muslim*
luar negeri di sektor informal; (iv). Komunitas yang dianggap
miskin; (v). dan sebagainya. Kondisi ini mencerminkan adanya
sesuatu yang salah dengan politik ekonomi politik di Indonesia
1 Indonesia 212.867.000 88%
dan ini sudah sangat lama dan tidak mendapatkan perbaikan
dari pemerintah.
2 Pakistan 174.082.000 96%
Oleh sebab itu, layaklah bagi kaum muslim untuk menentukan
nasib sendiri. Tidak usah menunggu keberpihakan pemerintah. 3 India 177.945.000 13,4%
Bekerja sendiri dan menjadi pengusaha mikro menjadi pilihan.
Tetapi ini harus ditunjang dengan keberpihakan pemerintah 4 Bangladesh 145.312.000 Na
sebagai paying atas kehidupan bernegara di Negara ini. Tidak
ada Negara dengan penduduk muslim yang banyak, 5 Mesir 78.513.000 80%
kemampuan perekonomiannya melebihi kemampuan
perekonomian Negara dengan penduduk muslim yang kecil. 6 Nigeria 78.056.000 Na
Melihat dari table 3 dibawah, maka Negara-negara terbawahlah
yang perekonomiannya sangat baik. 7 Iran 73.777.000 94%

8 Turki 73.619.000 97%

9 Aljeria 34.199.000 Na

10 Maroko 31.993.000 Na

11 China 23.000.000 1,1%

12 Malaysia 17.300.000 60%

13 UEA 6.000.000 76%

14 Qatar 1.300.000 76%

15 Bahrain 1.100.000 90%


Potensi Ekonomi Islam sebagai sebuah solusi yang mendasar
Seperti yang telah dijelaskan diatas, masalah pendanaan adalah masalah fundamental dalam kegiatan
ekonomi, demikian juga dalam sistim ekonomi islam. Di kebanyakan negara bukan Islam, sebagian besar
jumlah uang beredar berasal dari sistem perbankan yang cukup hanya dengan menekan tombol
komputer, akan bisa menciptakan banyak uang yang dari sebelumnya tidak ada. Tetapi dalam islam, hal
seperti itu tidak begitu saja dapat dilakukan. Setiap penciptaan uang dalam islam harus ada
pelindungnya, kecuali ban slam bersedia mencetak uang baru, tanpa bunga (berbeda dari biaya
administrasi), tidak memerlukan agunan dan uang yang dipinjamkan nanti terus diarahkan ke bentuk
yang produktif. Jika hal tersebut bisa dilakukan, terbuka bagi bank nasional untuk menciptakan pinjaman
tanpa bunga yang diarahkan pada kapasitas produktif dan ekonomi riil.
Disini sudah terlihat bahwa sistim keuangan Islam itu sendiri sudah baik. Sumber penerimaan islam sudah
tersedia yaitu zakat, infak, sedekah, wakaf, pinjaman dan lainnya. Sumber ini sebenanya sudah cukup
dikaitkan dengan potensi penduduk yang besar di Indonesia. Tetapi satu permasalahan disini adalah
belum adanya aturan pemerintah yang mengikat pasti tentang sumber penerimaan ini di Indonesia.
Meskipun, sebagai contoh adalah Zakat, sumber ini sudah diatur, tetapi aturan yang ada belum mengikat.
Demikian juga halnya dengan wakaf. Lembaga sudah ada yaitu Badan Wakaf Indonesia (BWI),
kepengurusan sudah ada, tetapi kinerja yang harus ditingkatkan. Khusus BWI sendiri, BWI sedang
berupaya terus untuk meningkatkan perannya, yang tentunya sesuai dengan UU Badan Wakaf itu sendiri.
Wakaf
Zakat dan Wakaf adalah potensi keuangan Islam yang sangat nyata. Tidak ada keraguan.
Sebagaimana halnya dengan, meskipun bukan wajib, pelaksanaan Wakaf merupakan salah satu
ibadah yang ditegaskan oleh Allah SWT di dalam Al-Quranul Karim dalam sebutan sedekah dan
sedekah jariah.

Untuk itulah BWI ada di Indonesia, untuk mengatur dengan baik sistim perwakafan di Indonesia.
Kata wakaf itu sendiri adalah sebagai analogi dari BWI, sesuatu yang tak terpisahkan. Hal ini
mengakibakan BWI mempunyai tugas: (i). mendistribusikan manfaat dari harta wakaf untuk
masyarakat yang lebih luas serta mendistribusikan dari manfaat pribadi ke manfaat yang lebih
luas, tanpa menghilangkan wujudnya (menahan/al-habs); (ii). mengelola dan mengembangkan
harta benda wakaf berskala Nasional dan Internasional; (iii). merubah pola penggunaan harta
wakaf dari penggunaan yang bersifat sosial menjadi penggunaan yang bersifat produktif; (iv).
meningkatkan potensi jenis dan besaran harta wakaf Indonesia; (v). mengembangkan model-
model usaha wakaf sosial dan wakaf produktif. Untuk kegiatan itu semua hal yang pertama sekali
yang dilakukan oleh BWI adalah mengeluarkan izin persetujuan dan/atau izin atas perubahan
peruntukan dan status harta benda wakaf.
BWI sudah mengatur usaha-usaha atas harta wakaf yang dapat dilakukan, yang terdiri atas usaha-usaha sosial, usaha-usaha semi sosial, dan
usaha-usaha produktif.
Usaha-usaha ini secara rinci dapat dijabarkan sebagi berikut:
Berdasarkan bentuk manajemennya:
Wakaf yang dikelola oleh wakif pewakaf sendiri
Wakaf yang dikelola oleh orang lain yang ditunjuk oleh wakif
Wakaf yang dikelola oleh Pemerintah
Berdasarkan keadaan wakif:
Wakaf orang-orang kaya .
Wakaf tanah pemerintah berdasarkan keputusan penguasa atau
Wakaf yang dilakukan oleh wakif atas dasar wasiat.
Berdasarkan substansi ekonomi:
Wakaf langsung, wakaf untuk memberi pelayanan langsung ke yang berhak
Wakaf produktif, wakaf harta yang digunakan untuk kepentingan produksi; termasuk wakaf uang dan wakaf melalui uang.
Berdasarkan bentuk hukumnya:
Wakaf umum, Wakaf khusus dan Wakaf gabungan
Berdasarkan kelanjutannya:
Wakaf tetap dan Wakaf sementara
Berdasarkan tujuannya:
Wakaf air minum, Wakaf sumur dan sumber mata air, Wakaf jalan dan jembatan
Wakaf khusus bantuan fakir miskin dan orang-orang yang sedang bepergian
Wakaf pembinaan sosial bagi mereka yang membutuhkan.(termasuk: wakaf untuk pembinaan anak-anak seperti penyediaan susu bagi keluarga
yang membutuhkan untuk anak-anak mereka, penyediaan obat-obatan, dan lain-lain).
Wakaf sekolah dan universitas serta kegiatan ilmiah lainnya (dalam sejarah jenis wakaf ini termasuk tujuan wakaf paling mendapat perhatian besar
dari kaum muslimin). Wakaf kegiatan ilmiah tertentu seperti riset pengembangan teknologi, wakaf khusus untuk dokter, wakaf khusus
pengembangan obat-obatan, wakaf khusus untuk guru, wakaf khusus bagi pendalaman fikih dan ilmu Al-Quran.
Wakaf asrama pelajar dan mahasiswa.
Wakaf pelayanan kesehatan, meliputi pembangunan pusat kesehatan masyarakat dan rumah sakit.


Terkait dengan wakaf uang (aktivitas wakaf yang diyakini akan sangat mudah dilaksanakan),
Kementerian Agama Republik Indonesia telah menetapkan Kebijakan Pemerintah Tentang
Pengembangan Wakaf Di Indonesia, dimana di dalam kebijakan tersebut ditegaskan dua hal sangat
pokok, bahwa: (i). Wakaf merupakan potensi dan aset umat Islam cukup besar yang dapat
didayagunakan bagi upaya menyelamatkan nasib puluhan juta rakyat Indonesia yang masih hidup di
bawah garis kemiskinan dan belum dilindungi oleh system jaminan sosial yang terprogram dengan
baik; dan (ii). Potensi dana yang terkumpul dari wakaf uang merupakan sumber dana non-budgeter di
luar APBN yang secara bertahap dapat mengurangi ketergantungan pembiayaan domestik pada
hutang luar negeri dengan hitungan bunga yang terus bertambah. Dana yang terkumpul dari wakaf
tersebut merupakan modal akumulatif yang sangat besar artinya bagi pemenuhan hajat hidup orang
banyak yang tidak dapat dipenuhi oleh anggaran negara dari tahun ke tahun.

Potensi ini memang sangat besar. Berbagai skema perhitungan potensi wakaf uangpun telah
dilakukan. Ada yang membuat asumsi sebagai berikut: jika dari sekitar 190 juta penduduk muslim
Indonesia, diasumsikan minimal 5% dari jumlah tersebut berwakaf uang sebanyak Rp. 100.000 setiap
bulannya, maka akan terkumpul dana sebesar Rp. 950 milyar/bulan atau Rp. 11,4 triliun per tahun.
Nasution (2008) berpandangan bahwa intensifikasi pengumpulan wakaf-uang dapat mengurangi
beban hutang Negara. Nasution memaparkan ilustrasi atas hal tersebut dengan membuat perkiraan
hasil pelaksanaan wakaf-uang dari jumlah muslim kelas menengah Indonesia sebesar 10 juta jiwa
dengan rata-rata penghasilan per bulan Rp. 500.000 hingga Rp. 10.000.000. Apabila mereka
melaksanakan wakaf dengan nilai Rp. 5.000 hingga Rp. 10.000 (dengan menggunakan instrumen
Sertifikat Wakaf dalam nilai-nilai tersebut) sesuai dengan besaran distribusi penghasilan mereka, total
wakaf-uang yang terkumpul dalam satu tahun mencapai Rp. 3 triliun.
Tentu bisa bertambah dengan asumsi-asumsi yang disepakati lainnya.
Masjid (Mosque)
University and School
Donation of mosques coming
from waqf such : University of
/Madrasah in Indonesia
al-Azhar, Mosque of al-Husain
Indonesia Islamic University (IIU)
Mesir, Mosque of Umawi
Yogyakarta that founded
Suriah and mosque al-
educational system,
Qairawan Tunis, and other
microfinance and hospital based
on waqf,
Sultan Agung University has also
University and develop education institution and
School /Madrasah hospital based on waqf.
Gontor
Schools or madrasah,
universities, library and
Islamic center in: Damascus,
SUCCESS STORY OF
Memorial Park
WAQF
Baghdad and Cairo

Hospital , Hotel
and Shop
RS Unisma Malang
Siti Hotel by DQ
Ruko Yayasan Darul Hikam,Cirebon Why Waqf?
Waqf institution is intermediary that can offer a quick way to solve societal problems; support to needy,
poverty, training and human capital development. In short meaning, an intermediary is anybody or
institution whose function places it between two other people or institutions.
Waqf Institutions themselves are intermediaries; they stand between individual donors and final
grantees. It can be illustrated that waqf was early gifts, small and large dimes to poor children,
personal property to the educational institutions. Later, the educational system created a foundation,
then made grants, and most grantees are intermediaries as well.
Akhirnya, semoga dengan peran aktif harta wakaf,
perekonomian umat dapat lebih ditingkatkan dengan
pemerintah harus memastikan beberapa Kebijakan
Fundamental Islam, seperti: (i). Menciptakan stabilitas
ekonomi makro dan mikro melalui reformasi, deregulasi, dan
debirokratisasi di seluruh aspek kegiatan ekonomi; (ii).
Meningkatkan efektivitas sistem keuangan (fiskal dan
moneter) guna mendorong kenaikan tabungan pemerintah
dan swasta; serta (iii). Menjaga kondisi yang kondusif
(hukum dan peraturan), menjaga keunggulan daerah
(strategic position), birokrasi yang tidak berbelit-belit
(simple bureaucracy), sistem yang transparan, infrastruktur,
manajemen yang baik, dan kualitas lingkungan yang
terpelihara, tanpa korupsi dan intimidasi.
Perekonomia
n Indonesia:
-Fiskal dan
Moneter
- Ekonomi
Konvensional
dan Islam
-Globalisasi
-Budaya
-Korupsi

Source: Ascarya, November