Anda di halaman 1dari 45

Analisis Masalah

1. Sering terjadi keracunan di berbagai daerah

2. Keracunan makanan / minuman

3. Jenis toksikan yang bervariasi

4. Efek toksisitas akut atau kronis

5. Intoksikasi dengan gejala klinis yang tidak jelas

6. Diperlukan suatu analisis toksikologi klinik

7. Kurikulum inti pendidikan D-III TLM tahun 2014

8. Analisis dapat sebagai dasar menegakkan terapi


intoksikasi yang terarah
* I Made Agus G Wirasuta; dkk
Pentingnya Analisis
Toksikologi
Kasus Keracunan Makanan
Kasus Keracunan Minuman
Jenis Toksikan dalam Makanan

Pencemaran makanan oleh bahan kimia


Makanan terkontaminasi zat kimia ; Pestisida, logam2 berat
Penggunaan Zat aditif
Bahan makanan secara alami mengandung racun; HCN

Pencemaran makanan secara biologis


Makanan terkontaminasi bakteri (Clostridium botulinum)
Makanan terkontaminasi Jamur (aspergillus flavus)
Toksikan dalam minuman

Paling banyak disalah gunakan


Bahan Toxic ???
Efek Toksisitas
Akut
Efek cepat ( < 24 Jam )
bahan2 beracun dengan toksisitas yang
tinggi
Mudah diidentifikasi oleh masyarakat umum
Kronis
Efek toksisitas terlihat dlm waktu yang lama
(>3 bln)
Akumulatif
Tidak disadari dan tidak mendapat perhatian
Intoksikasi dengan Gejala Klinis
yang Tidak Jelas

Simptom akibat keracunan sering juga diakibatkan oleh


berbagai penyakit lain
Keluhan keracunan histamin (produk ikan tuna) :
pusing2, mual, muntah, cemas. Sama dng TD ???
Implikasi pada terapi
Keracunan narkotika opiat : depresi saluran pernafasan
sampai pingsan atau koma yang dibarengi dengan
udema paru paru.
Kematian terjadi akibat gagalnya pengambilan O2 akibat
udema paru2 shg otak kurang O2 .
Penanganan cepat dengan pemberian antidotum
Nalokson.
Toksikologi Klinik
Fungsi laboratorium toksikologi klinik sangat berguna
bila terdapat keraguan :
Dalam diagnosis pada uji rutin biokimia klinik dan
hematologi,
Pada pemberian antidotum atau agen protektif dalam
mempertimbangkan penggunaan terapi eliminasi aktif,
terutama pada kasus-kasus keracunan.
Upaya memberikan pelayanan terapi yang terarah.
Seorang ATLM dapat membagi tahapan analisis
toksikologi :
(a). Pra-analisis;
(b). Analisis;
(c). Pasca analisis
Tahapan Investigasi Analisis Toksikologi
Tes Biokimia dan Hematologi
(Pra Analisis)
Uji Biokimia

Glukosa darah
Hipoglikemia : Over dosis insulin, atau obat anti
diabetik lain. Keracunan garam besi, asam asetil
salisilat. Keracunan buah ackee yg blm masak di
jamaika yg menyebabkan penyakit muntah.

Elektrolit, gas dan pH darah


Over dosis obat hipnotik, opiat sering ditandai
dengan hipoksia dan asidosis respiratori dan akan
berubah menjadi gejala campuran antara gangguan
asam basa dan asidosis metabolik. Kecuali bila
diberi pengobatan yg sesuai
Uji Hematologi

Pembekuan darah
Protrombin time lebih lama : parasetamol
(kerusakan hati), Keracunan rodentisida, overdosis
heparin
Karboksihemoglobin dan methemoglobin
Keracunan CO, Diklorometan kronik,
Keracunan Nitrit, Klorat
Hematokrit; overdosis, garam besi, asam asetil
salisilat, Pb
Jumlah Leukosit ; etilen glikol, metanol
Uji Kualitatif Zat Racun (Tahap Analisis)
Uji Kualitatif
Uji Kualitatif (2)
KLT dengan Pereaksi Visualisasi
PEMERIKSAAN NAPZA

Warna zat
ORGANOLEPTIK
/PANCA INDERA Rasa

Bentuk

Pemeriksaan Reaksi kimia


Napza terjadi
perubahan
REAKSI warna
PENDAHULUAN
Reaksi
antigen
KONFIRMASI Antibodi
Pemeriksaan Pendukung Lainnya

Darah Rutin

Urin Rutin

Fungsi Hati (Hepatitis)

Fungsi Ginjal

HIV/AIDS

TBC
Alur Kegiatan Pemeriksaan Spesimen Narkoba

Pengambilan sampel/
spesimen

Penyerahan sampel di
laboratorium

Pemeriksaan/ pengujian
sampel di laboratorium

Pembuatan laporan hasil


pemeriksaan/ pengujian

Penyerahan hasil
pemeriksaan/ pengujian
PENGAMBILAN URINE DAN DARAH UNTUK RIKSA LABORATORIUM

URINE DARAH / SERUM


DUGAAN
PENGGUNAAN WAKTU WAKTU
PENGAMBILAN JUMLAH PENGAMBILAN JUMLAH SAMPLE
( HARI ) SAMPLE ( ML ) ( JAM ) ( ML )
GOLONGAN OPIAT :
MORFIN, HEROIN, 1 - 4 50 2 - 48 UNTUK SEMUA
CODEIN DAN JENIS
TEBAIN PENGGUNAAN
GANJA 2 - 7 50 6 72
GOL AMFETAMIN
METAMFETAMIN, 1 - 4 50 2 48 10 ( DARAH )
MDMA,MDEA,DOB 5 ( SERUM )
DLL
COCAIN DAN
DERIVATNYA 1 - 3 50 2 48
ECGONIN DAN
DERIVATNYA
GOL ONGAN
BENZODIAZEPIN : 2 - 3 50 6 72
NITRAZEPAM,
DIAZEPAM DLL
STANDAR CUT OFF DALAM URINE
Hasil Pemeriksaan Skrining maupun Konfirmasi dinyatakan
positif jika kadarnya lebih besar/sama dari batasan yang telah
ditetapkan oleh NATIONAL INSTITUTE ON DRUG ABUSE :

BATASAN CUT OFF BATASAN CUT OFF


ZAT UJI KONFIRMASI
UJI SKRINING
( GC MS )

Gol.Amphetamine 1000 ng/ml 500 ng/ml

Gol.Benzodiazepine 300 ng/ml 300 ng/ml

Cannabinoids (metabolit) 50 ng/ml 15 ng/ml

Cocaine (metabolit) 300 ng/ml 150 ng/ml

Morphine 300 ng/ml 300 ng/ml

Gol. Barbiturate 300 ng/ml 150 ng/ml


METODE PEMERIKSAAN
A. METODE SKRINING
Keuntungannya :
- Mempersempit / mengarahkan
- Efisiensi reagen
- Efisiensi tenaga
- Efisiensi biaya
Kerugiannya :
- Akurasinya rendah
- Positif palsu (Positif false)
- Negatif Palsu (Negative false)
B . METODE KONFIRMASI
- Spektrofotometer
- HPLC
- GC / GC-MS
TES SKRINING (UJI PENAPISAN)

Uji Penapisan (Screening Test / General unknown test)


bertujuan untuk menapis dan mengenali golongan analit
yang terdapat dalam sampel / spesimen
penggolongan dapat berdasarkan sifat kimia (struktur
dasar molekul) atau efek farmakologinya
Contoh: golongan opiat, kokain, kanabionoid,
amfetamin derivat, bezodiazepin derivat, asam
barbiturat, metadon, tri-siklik-anti depresiva

Uji penapisan diharapkan dapat mengidentifikasi golongan


analit dengan derajat reabilitas dan sensitifitas yang tinggi,
relatif murah dan pelaksanaannya relatif cepat
PELAKSANAAN SKRINING (UJI PENAPISAN)

Teknik yang sering dipakai pada uji penapisan:


Immunoassay
(paling umum digunakan pada analisis penyalahgunaan narkoba)
Berdasarkan interaksi antara anti-drug-antibody dengan antigent
target
enzyme linked immunoassay (ELISA), enzyme multiplied immunoassay
technique (EMIT), fluorescence polarization immunoassay (FPIA),
cloned enzyme-donor immunoassay (CEDIA), dan radio immunoassay
(RIA)
Single Test atau Multiple Test
Kromatografi Lapis Tipis
metode analitik yang relatif murah, namun KLT kurang sensitif dan
banyak variable (fase gerak/diam) yg mempengaruhi jika dibandingkan
dengan teknik immunoassay
HPLC DAD
Waktu tambat dan Spektrum UV-Vis analit (Data library dari
REMIDI)
Pengembangan isokratik
Prinsip Immuno assay

Reaksi anti-drug-antibody dg antigen target


Reagen terdiri dari substrat/antibody dan enzym serta
kontrol
Nilai positif ditunjukkan apabila kadar sample
terperiksa di atas cutoff sebagai kontrol
Sample diperlukan dalam reaksi hanya sedikit
Waktu analisa relatif (3-10 menit)
Auto-analisa dengan auto sample, shg lebih baik
untuk skrining massal (tray sample)
TES URINE CEPAT

Aliran urine

T C

HASIL : C

(+) (-) (-) (?) (?)


BAHAN/OBAT YANG MEMUNGKINKAN POSITIF/FALSE PADA RAPID
TEST/ALAT ETS-EMIT

JENIS ZAT YANG MEMBERIKAN HASIL POSITIF


ANALISA

RAPID TEST ALAT ETS - EMIT

AMPHETAMINE Golongan Amphetamine Golongan Amphetamine : (Sensitivitas = 400 ng/ml)


(Sensitivitas = 1000 ng/ml) D Amphetamine
Ampehetamine D,l Amphetamine
d,l-amphetamin sulfat D Methampetamine
methylenedioxyamphetamine Metilendioxyamphetamine (MDA)
-phenetylamine Metilondixymethamphetamine (MDMA)
Phentermine

Golongan Non-Amphetamine : Golongan Non Amphetamine :


3-OH Tyramine Klorokuin (Avloclor, Malarex, Mexaquin,
Tyramine Nivaquin, Resorchin, Riboquin)
Tryptamine Klorpromazin (Largactil, Thorazine, Ab chozepham,
Ephedrine, ppa, phentermine, Promactil)
phenmetrazine, isoxuprine, nylidrin, Methoxyphenamine (Orthoxical)
phenylethylamine Quinacrine
Phentermine (Mirapront, Adipex, Duromine, Panbesy)
Ranitidine (Zantac, Aldin, Conranin, Gastridin,
Kemoranin, Radin, Ranin, Uldinal, Ranitat, Wiacid,
Rantin, Zantadin, Renatac, Scanari, Zumaran, Ulceranin)
Procainamide & N-asetilprokainamide (Pronestyl, Procan,
Procamide, Biocoryl)
Immunoassay
TLC untuk Drugs Screening

Metode utama sampai tahun 80-an


Terdapat banyak variasi sistem (utamanya
dalam pemilihan fase gerak)
Usaha melakukan standarisasi sistem TLC
KETELITIAN HASIL PEMERIKSAAN :

Alat
Metoda Pemeriksaan
Volume spesimen / sampel
Waktu pengulangan
Penyimpangan yang Patut Diamati

Urine: seringkali ditukar atau diencerkan


Urine: ditambahi zat yang menyebabkan ikatan zat terurai
Urine: ditambahi zat yang membuat hasil pemeriksaan
menjadi positif
Urine: -Suhu
-Berat Jenis
-Warna &
-Bau
Sumber Kesalahan dalam Analisis
Imunokimia

Kesalahan Mutlak
Kesalahan Random/Acak (imprecision)
Kesalahan sistemik (inaccuracy)
Kesalahan acak
Pipeting : masalah desain pipet itu sendiri, cara menggunakan
dan hal teknis dalam penggunaan pipet (volume yang
dikeluarkan, dll)
Pemisahan padatan dari cairan : proses pembtkn endapan
yang tergantung pada waktu, kecepatan, suhu, dll, pencucian
yang tidak sempurna, dll.
Kondisi Reaksi Biokimia : konstanta kesetimbangan antibodi,
waktu, suhu
Jumlah radioaktif : untuk proses RIA
Intensitas fluoresensi yang terjadi : untuk proses IFA
Kesalahan spektrofotometrik
Stabilitas pereaksi
Kesalahan sistemik

Kesalahan mempipet : masalah kalibrasi alat, bentuk


pipet, dll

Interferensi dalam reaksi : terjadinya non-specific


binding, inhibisi enzim, pendaran cahaya, adanya
pengaruh enzim endogen, pengaruh obat lain yang
digunakan , pengaruh senyawa endogen lainnya
(bilirubin, dll)

Efek matriks
Analytical Toxicology Request
Toxicology Worksheet
Analytical Toxicology Report